Responsive image

Begini Laporan Amnesty Internasional atas Kejahatan Perang AS dan Irak di Mosul

Begini Laporan Amnesty Internasional atas Kejahatan Perang AS dan Irak di Mosul

IRAK (Jurnalislam.com) – Amnesty International mengatakan telah mengidentifikasi sebuah pola serangan oleh pasukan Irak dan koalisi militer pimpinan AS pendukung mereka yang melanggar hukum humaniter internasional dan telah melakukan kejahatan perang, lansir Aljazeera Selasa (11/7/2017).

Ia juga mengatakan bahwa pasukan kelompok Islamic State (IS) secara mencolok melanggar undang-undang yang sama dengan sengaja menempatkan warga sipil dalam bahaya demi melindungi pasukannya (sebagai tameng) dan menghalangi gerakan pasukan koalisi dan Irak.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan sehari setelah pasukan Irak mengumumkan kemenangan di Mosul, badan pengawas hak asasi manusia tersebut meminta penyelidikan menyeluruh mengenai apakah kejahatan perang dilakukan dalam pertempuran untuk merebut kota tersebut.

Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi secara resmi mengumumkan kemenangan di Mosul pada hari Senin, tiga tahun setelah kelompok IS merebut kota tersebut.

Dengan dukungan serangan udara dari koalisi agresor AS, pasukan Irak melancarkan pertempuran untuk Mosul pada bulan Oktober, merebut kembali bagian timur kota pada bulan Januari dan memulai operasi untuk bagian baratnya bulan depan.

Amnesti mengatakan pasukan Irak dan koalisi AS melakukan serangkaian serangan yang tidak sah di Mosul barat, dengan menggunakan Munisi Berbantuan Rocket Improvisasi (Improvised Rocket Assisted Munitions-IRAM), senjata peledak dengan kemampuan penargetan kasar yang mendatangkan malapetaka di daerah berpenduduk padat.

“Bahkan dalam serangan yang tampaknya mereka maksudkan mencapai sasaran militer, terlihat penggunaan senjata yang tidak sesuai atau kegagalan untuk melakukan tindakan pencegahan lain yang diperlukan sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa orang-orang sipil dan dalam beberapa kasus tampaknya merupakan serangan yang tidak proporsional,” kata laporan tersebut.

Amnesti juga mengecam IS atas sejumlah kejahatan yang telah didokumentasikan sebelumnya.

Menurut laporan tersebut, pasukan IS mengumpulkan penduduk di desa dan lingkungan yang diperebutkan dan memaksa mereka untuk pindah ke zona konflik di Mosul barat untuk digunakan sebagai tameng manusia. Saat bentrokan semakin dekat, mereka menjebak penduduk sipil di dalam rumah tanpa akses ke makanan atau perawatan medis, katanya.

Amnesty mengakui besarnya tantangan untuk melindungi warga sipil dengan adanya taktik IS seperti itu tapi menyalahkan pihak berwenang Irak dan koalisi pimpinan AS karena tidak mengambil tindakan pencegahan yang layak untuk melindungi warga sipil dari serangan udara. Dikatakan bahwa selebaran peringatan serangan menjadi tidak berguna karena IS sangat membatasi gerakan sipil.

Baik kementerian pertahanan maupun pejabat koalisi Irak tidak segera bersedia memberikan komentar atas laporan Amnesti tersebut.

Rekan Chatham House, Renad Mansour mengatakan kepada Al Jazeera bahwa walaupun “kejahatan perang telah pasti” dilakukan oleh semua pihak di Mosul, informasi lengkapnya sejauh ini masih terus dikumpulkan.

“Pertanyaannya adalah apakah pemerintah Irak akan bisa mengatasi pelanggaran HAM,” katanya dari London.

Juga pada hari Selasa, kepala hak asasi manusia PBB Zeid Ra’ad Al Hussein menyerukan pertanggungjawaban dan dialog untuk menyembuhkan trauma warga Mosul setelah pertempuran yang berlangsung hampir sembilan bulan tersebut.

“Wanita, anak-anak dan pria Mosul telah hidup di neraka bumi, bertahan dalam tingkat kebejatan dan kekejaman yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata,” punkas Al Hussein.

Komisaris tinggi PBB menuntut agar para pelaku kejahatan perang dibawa ke pengadilan dan semua pelanggaran diselidiki secara menyeluruh. Dia juga mendesak agar Irak untuk diseret dengan Pengadilan Pidana Internasional (the International Criminal Court-ICC).

Bagikan
Close X