Kehilangan Kaki Kiri, Simpati Terus Mengalir untuk Sarwanto

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Sarwanto (38), aktivis Islam Solo yang kehilangan kaki kirinya pasca kecelakaan lalu lintas di Banjar Patroman pekan lalu, akhirnya tiba di Rumah Sakit Karima Utama Kartosuro, Solo, Jawa Tengah, Jum'at (8/4/2016). Pria asal desa Badongan, Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo itu saat ini dirawat di bangsal CA 30 RS Karima Utama.

Kedatangan Sarwanto ke Sukoharjo disambut oleh aktivis Islam lain dari Warung Murah 2000 dan warga desa Badongan. Mereka membentangkan spanduk mendoakan Sarwanto. “Semoga lekas sembuh Mas Sarwanto, tetap istiqomah”.

"Kita pingin support  ke mas Sarwanto khususnya, juga istri dan anaknya, juga keluarganya agar lebih semangat ikhlas dan istiqomah, sekaligus silaturahmi kewarga sekitar yang ikut peduli dengan ujian musibah yang sedang dialami mas Sarwanto ini," ujar pimpinan Warung Murah 2000, Joko.

Sarwanto mengalami kecelakaan di Cisaga, Kota Banjar, Jawa Barat pada Selasa (29/3/2016). Ia harus mengikhlaskan kaki kirinya yang diamputasi hingga bagian paha. Operasi amputasi kaki kiri Sarwanto dilakukan di Rumah Sakit Kota Banjar pada Rabu (6/4/2016). Saat ini kondisinya terus membaik. Rencana, Sarwanto akan menggunakan kaki palsu yang disiapkan keluarga dan perusahaan tempat ia bekerja.

Reporter: Dyo | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

PP Persis: Upaya Muhammadiyah Kasus dalam Siyono Memulihkan Marwah Umat Islam dari Stigmatisasi Teroris

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Umat Islam selama ini didoktrin untuk tidak berfikir dan bertindak berdasarkan sentimen SARA, tetapi faktanya tindakan Densus 88 dalam penanganan terorisme sarat dengan hal tersebut.

Demikian ditegaskan Wakil Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), Dr Jeje Zaenudin kepada Jurnalislam, Sabtu (9/4/2016).

“Perlu ditanyakan kepada Densus, pernahkan mereka menangkap, menggeledah, menembak mati dengan keji terduga teroris dari pihak non Islam di Gereja, di Pura, di Kuil, di hari raya, di Sekolah Agama non Islam dan sebagainya? Pernahkah para separatis OPM yang banyak membunuh anggota POLRI, TNI, maupun rakyat sipil distigma sebagai teroris dan mereka dikejar ataupun digeladah sampai ke gereja-gereja dan sekolah-sekolah anak mereka?” katanya.

Menurutnya, apabila pemberantasan terorisme oleh Densus 88 dengan cara-cara seperti itu tidak dihentikan atau tidak dirubah pendekatannya maka akan lebih banyak pihak bersimpati kepada radikalisme dan terorisme daripada menghilangkannya.

Ustadz Jeje menilai, tindakan Densus 88 itu justru akan semakin mempertajam kecurigaan dan bahwa Densus 88 hanya jadi kaki tangan kepentingan pihak yang memusuhi umat Islam.

Oleh sebab itu, lanjut dia, upaya pencarian keadilan dan pembelaan Muhammadiyah terhadap keluarga Siyono sebagai korban kezaliman Densus 88 tidaklah boleh ditafsirkan sebagai pembelaan apalagi dukungan dan perlindungan terhadap para radikalis dan teroris.

“Pembelaan Muhammadiyah itu justru sebagai bentuk pembelaan terhadap hak-hak asasi manusia dan memulihkan marwah umat Islam yang terstigma dengan label teroris,” tegasnya.

Reporter: Muhammad Fajar | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

PP Persis Dukung Muhammadiyah Ungkap Kasus Siyono

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), Dr Jeje Zaenududin mengapresiasi upaya PP Muhammadiyah mengungkap misteri kematian Siyono serta memperjuangkan keadilan bagi keluarganya.

“Kami juga mendukung agar Muhammadiyah menjadi lokomotif ormas Islam dalam mengawal dan mengawasi operasi Densus 88 di kemudian hari agar tidak lagi kejadian-kejadian buruk seperti itu,” kata ustadz Jeje kepada Jurnalislam, Sabtu (9/4/2016).

Ustadz Jeje menjelaskan, pada prinsipnya, seluruh umat Islam Indonesia melalui ormas-ormas mainstream mendukung pemberantasan terorisme di Indonesia baik itu yang dilakukan oleh pihak Muslim maupun non Muslim.

“Namun dengan syarat, tidak ada diskriminasi dan pelanggaran HAM sebagaimana yang diamanatkan dalam Perpu No 1 tahun 2002 yang kemudian disahkan menjadi UU berdasarkan UU No. 13 tahun 2003 dan UU No.9 Tahun 2013,” jelasnya.

Sebab, penindakan tindak pidana terorisme dalam praktenya telah banyak menyimpang dari prosedur bakunya, bahkan berulang kali melanggar kaidah-kaidah HAM itu sendiri.

“Sehingga pemberantasan tindak pidana terorisme oleh Densus 88 lebih banyak menimbulkan antipati, kecurigaan dan kebencian di kalangan masyarakat muslim, terutama keluarga korban operasi Densus 88, daripada menumbuhkan simpati dan dukungan,” tandasnya.

Reporter: Muhammad Fajar | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

OMAH Ngaji Umar Bin Khotob Bagikan Sarapan 80 Porsi Soto Gratis

SEMARANG (Jurnalislam.com) – OMAH Ngaji Umar Bin Khotob menggelar Sarapan Soto Gratis untuk masyarakat kurang mampu di Jln. Kerapu Semarang Utara, Jum'at (8/4/2016). Sebanyak 80 porsi dibagikan kepada warga sekitar.

Program berbagi yang dilaksanakan rutin 2 kali dalam sebulan tersebut dalam rangka berbagi kebaikan kepada masyarakat dan dakwah.

"Program berbagi kebaikan ini kami laksanakan sebulan rutin 2 kali. Untuk sementara kami hanya membatasi sekitar 80 mangkok soto setiap acara," kata koordinator aksi, Muhammad Lutfi.

Lutfi mengatakan, Sarapan Gratis Soto untuk sementara diadakan di sekitar wilayah Kelurahan Kuningan namun ke depan akan melebar ke wilayah Barutikung.

Alasan Lutfi memilih lokasi tersebut karena kondisi masyarakat yang padat penduduk dan banyak warga miskin. Selain itu, wilayah ini menjadi basis dakwah teman-teman yang tergabung dalam OMAH Ngaji Umar Bin Khattab.

Dalam pelaksanaannya, Omah juga menggandeng tim Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) serta aktivis dari Jamaah Ansharus Syariah.

"Kami ingin berbagi dengan masyarakat dan berdakwah agar masyarakat bisa merasakan indahnya Islam," pungka Lutfi.

Reporter: Riyanto | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

Jika Densus 88 Dibentuk Untuk Membunuh, Apa Bedanya Dengan Teroris?

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN), Ahmad Yohan mengecam pernyataan Kadiv Humas Polri Irjen Anton Charliyan yang menuding Muhammadiyah sebagai kelompok pro teroris dalam pengusutan kematian Siyono.

Menurut Yohan, yang dilakukan Muhamadiyah adalah menuntut keadilan atas meninggalnya Siyono yang dianggap tidak wajar saat diperiksa Densus 88. Yohan menilai, kematian Siyono menunjukkan Polri khususnya Densus 88 tidak profesional dan menggunakan kekerasan dalam penanganan kasus terduga teroris.

“Olehnya itu, sebagai ormas Islam, Muhammadiyah patut mengusut penyebab kematian Siyono dan pihak-pihak yang terlibat dalam kematian Siyono termasuk Densus 88, harus diadili seadil-adilnya,” kata Yohan dalam Rapimnas BM PAN di Hotel Kartika Chandra, Jumat (8/4/2016).

Kematian Suyono saat dalam pemeriksaan Densus 88 adalah preseden buruk bagi prinsip-prinsip demokrasi dan kemanusian di tubuh Polri. Menurut Yohan, kalau Densus 88 dibentuk hanya untuk membunuh, apa bedanya Densus 88 dengan teroris. Oleh sebab itu, Yohan meminta Densus 88 sebaiknya dibubarkan jika tidak memiliki protap yang jelas dalam penanganan teroris.

Pernyataan Anton dinilainya berlebihan dan sangat tendensius. "Apa motifasi Anton menyebut Muhammadiyah mendukung teroris?" tanya Yohan.

Melalui Rapimnas BM PAN 8-9 April 2016, Yohan mengusulkan agar Kadiv Humas Polri Irjen Anton Charliyan diberhentikan dari jabatannya. Ia juga mengusulkan pembentukan komisi khusus untuk membahas dukungan BMPAN terhadap Muhammadiyah dalam pengusutan kematian Siyono. []

Reporter: Zul | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

⁠⁠⁠Komnas HAM: Terorisme Ibarat Petasan, Pemicunya Ketidakadilan dan Diskriminasi

JAKARTA (Jurnalislam) – Anggota Komnas HAM Divisi Pemantauan, Hafidz Abbas mengatakan, terorisme ibarat petasan yang suatu saat dapat meledak. Pemicunya diskriminasi dan yang meledakannya adalah ketidakadilan serta prilaku arogan negara yang menjatuhkan martabat manusia lain.

"Adanya ketidakadilan, adanya diskriminasi, adanya intoleransi dari mereka yang merasa dirinya super power," terang komisioner Komnas HAM dalam Kajian Bulana PP Muhammadiyah, Jum'at (8/4/2016) Menteng Jakarta Pusat.

Menurutnya, isu terorisme dikendalikan oleh kekuatan global yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negeri ‘para teroris’.

"Ada kekuatan global yang ingin Indonesia sebagai negara teroris. Mengalir bantuan pokoknya. Indonesia masuk (sebagai negara teroris-red). Kepentingannya untuk melindungi Israel, untuk menguasai ini dan itu," ungkap Hafidz.

Perang melawan terorisme, lanjutnya, dipimpin langsung oleh Amerika yang diawali oleh pidato Bush yang menyatakan “Kalau Anda tidak membantu saya, maka Anda adalah musuh saya”.

"Itu sebabnya Indonesia dipaksa jadi bagian kepentingan-kepentingan global untuk suatu agenda yang menjadi perhatian khusus bangsa yang berepentingan," terang Hafidz.

Reporter: Irfan | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

Taliban: 25 Pasukan Gabungan serta 2 Komandannya Tewas dan Terluka dalam Pertempuran di Sangin

HELMAND (Jurnalislam.com) – Sejumlah besar pasukan musuh yang tiba di wilayah Eid Gah dan Stasiun gurun di daerah Shakar Shela, distrik Sangin, untuk melakukan operasi pembersihan sekitar dua hari sebelumnya terlibat pertempuran sengit dengan Mujahidin Imarah Islam (Taliban) dengan senjata berat dan ringan hinnga pukul 09:00 tadi malam waktu setempat, Al Emarah News melaporkan Jumat (08/04/2016).

Serangan dari beberapa sumbu pasukan musuh berlangsung selama sekitar satu jam di mana 25 orang sewaan termasuk 2 komandan tewas dan terluka sebelum sisanya melarikan diri ke markas.

Para pejabat mengatakan bahwa musuh telah meninggalkan mayat beberapa orang bersenjata sedangkan Mujahidin juga telah menyita sebuah peluncur RPG, 6 senapan mesin AS, peluncur granat MK19, senapan AS dan sejumlah besar peralatan lainnya.

Segala puji bagi Allah saja, tidak ada Mujahidin yang dirugikan dalam pertempuran.

Kemudian laporan di ibukota provinsi Samangan sedikitnya empat pasukan Afghanistan National Army (ANA) tewas dan dua lainnya luka-luka ketika Mujahidin merebut dan menguasai sebuah pos pemeriksaan kemarin malam.

Sebuah kendaraan militer hancur dalam operasi semalam, sementara Mujahidin merebut tiga Kalashnikov dari musuh, tambahnya.

Lalu pada hari Kamis (07/04/2016) memberitakan pejuang Taliban menyerang konvoi dengan banyak persediaan di distrik Sarobi provinsi Kabul hari Kamis pagi, menghancurkan 6 kendaraan militer.

Sedikitnya lima pasukan ANA dan 11 lainnya terluka dalam baku tembak.

 

Deddy | Alemarah | Jurnalislam

Operasi Militer Turki Bersihkan Milisi PKK di Wilayah Kurdi

Diyarbakir (Jurnalislam.com) – Pasukan keamanan Turki tetap fokus membersihkan milisi PKK dari daerah perumahan dalam operasi kontra-terorisme di Turki tenggara, Anadolu Agency melaporkan, Jumat (08/04/2016).

Operasi anti-PKK dimulai setelah kelompok milisi memulai serangan pada bulan Juli tahun lalu di Turki.

Pada tahun 2013, Turki pernah meluncurkan "proses solusi" untuk mengakhiri konflik puluhan tahun dengan PKK, konflik yang telah merenggut nyawa lebih dari 40.000 orang selama lebih dari 30 tahun, namun kembali rusak pada 2015.

Sebelum proses berakhir, PKK menyatakan gencatan senjata dan berjanji untuk meletakkan senjata serta menasihati militan mereka untuk meninggalkan Turki.

Namun, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Ahmet Davutoglu menganggap PKK mengeksploitasi proses solusi untuk mengumpulkan lebih banyak senjata dan amunisi, dan mendistribusikan ke kota-kota.

PKK yang – terdaftar sebagai organisasi teroris komunis Internasional- melanjutkan operasi bersenjata 30 tahun terhadap negara Turki bulan Juli 2015.

Sejak itu, lebih dari 350 personil Turki telah tewas dan ribuan milisi  PKK tewas dalam operasi di seluruh Turki dan Irak utara.

Terlepas dari pembersihan PPK dari daerah pemukiman kurdi, Angkatan Bersenjata Turki dan operasi pasukan polisi khusus anti-teror berhasil melepaskan barikade, menutup parit, dan menghancurkan bahan peledak. Baru-baru ini, operasi tersebut berhasil diselesaikan di kabupaten Sur dan Silvan Diyarbakir serta di kabupaten Cizre, Silopi dan Idil Sirnak.

Operasi terus berlanjut di distrik pusat Sirnak, yaitu di kabupaten Nusaybin di Hakkari dan Yuksekova di Mardin, di mana jam malam telah diberlakukan.

Sejauh ini, 476 milisi telah tewas di Sirnak, Nusaybin dan Yuksekova.

Pasukan keamanan Turki telah membersihkan 473 barikade dan selokan, dan menghancurkan 1.015 perangkap berisi bahan peledak di rumah, pekarangan dan jalan-jalan di tiga kecamatan.

Selama operasi anti-teror di provinsi Sirnak, yang dimulai pada tanggal 14 Maret, 156 teroris komunis tewas, 89 barikade dihapus, 12 parit ditutup dan 398 perangkap dengan bahan peledak hancur.

Pasukan keamanan Turki telah melumpuhkan 185 milisi di Sirnak sejak jam malam terakhir dinyatakan pada 14 Maret. Sebanyak 20 ton bahan peledak hancur selama operasi. Sekitar 130 barikade juga robohkan dan 420 alat peledak improvisasi hancur.

Pasukan keamanan telah mengevakuasi 900 keluarga dari rumah mereka dengan alasan masalah keamanan.

Sumber-sumber keamanan mengatakan 150 barikade dan 400 perangkap berisi bahan peledak belum dihancurkan di Sirnak.

Di Yuksekova, 135 milisi PKK tewas, 149 barikade dihancurkan, 94 parit ditutup dan 197 alat peledak improvisasi hancur sejak operasi dimulai 13 Maret.

Sekitar 200.000 orang telah meninggalkan rumah mereka di Sirnak, Nusaybin dan Yuksekova karena situasi keamanan, banyak dari mereka pindah ke rumah kerabat mereka di Mardin, Batman, Midyat, Van, Istanbul, Izmir, Mersin dan Adana.

Pasukan keamanan Turki telah berhasil menyelesaikan operasi anti-teror di lima kabupaten, menetralkan 1.220 teroris komunis PKK, termasuk 274 di Sur dan 15 di kabupaten Silvan provinsi Diyarbakir, 145 di Silopi, 666 di Cizre dan 120 di kabupaten Idil provinsi Sirnak. Mereka juga telah membersihkan 2287 barikade dan parit di lima kabupaten tersebut, dan menghancurkan 3.105 perangkap berisi bahan peledak.

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

Saudi dan Mesir Setuju Bangun Jembatan Penghubung di Atas Laut Merah

MESIR (Jurnalislam.com) – Raja Saudi Salman mengumumkan perjanjian dengan Mesir pada hari Jumat (08/04/2016) untuk membangun jembatan di atas Laut Merah yang menghubungkan kedua negara, pada hari kedua kunjungannya ke Kairo, lansir Al Arabiya News Channel, Jumat.

Raja membuat pengumuman tersebut dalam komentar yang disiarkan televisi setelah bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, dan sebelum perwakilan dari kedua negara mulai menandatangani penawaran investasi.

"Saya setuju dengan saudara saya, Abdel Fattah el-Sisi untuk membangun jembatan yang menghubungkan kedua negara," kata Salman.

"Langkah bersejarah untuk menghubungkan dua benua, Afrika dan Asia ini, adalah transformasi kualitatif yang akan meningkatkan perdagangan antara dua benua ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," tambahnya.

Sisi dengan berseri-seri menyarankan nama jembatan tersebut "Jembatan Raja Salman bin Abdel Aziz" beberapa menit sebelum menyajikan raja dengan seremonial Nile Collar.

Menyusul pengumuman itu, perwakilan dari kedua negara menandatangani 17 kesepakatan investasi dan nota kesepahaman.

Seorang pejabat pemerintah mengatakan penawaran yang disetujui bersama Arab Saudi selama kunjungan Salman akan berjumlah sekitar $ 1.700.000.000 (1,5 miliar Euro = Rp 2.235.000.000.000).

Penawaran tersebut termasuk kesepakatan untuk mendirikan sebuah universitas dan perumahan di Sinai Selatan, serta pembangkit listrik.

Deddy | Alarabiya | Jurnalislam

 

Sekjen PBB Akui Mayoritas Korban Kekerasan di Dunia adalah Umat Islam

UN-Secretary-General-Ban-Ki-moonJENEWA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengakui bahwa sebagian besar (mayoritas) korban kekerasan di seluruh dunia adalah kaum Muslim saat ia mengumumkan rencana pembuatan badan baru PBB dengan sistem tindakan menyeluruh untuk mengatasi ancaman kekerasan, World Bulletin melaporkan, Jumat (08/04/2016).

Dalam sebuah konferensi di Jenewa Jumat, Ban mengatakan, “bahwa fenomena ekstremisme kekerasan yang kondusif tidak berakar atau terbatas pada agama, wilayah, Negara, kebangsaan atau kelompok etnis.

“Mari kita mengakui juga bahwa saat ini, sebagian besar korban di seluruh dunia adalah Muslim.”

Ban menegaskan bahwa jutaan penduduk melarikan diri dari rumah, dari negaranya, karena merasakan kengerian dan ketakutan dan putus asa dalam pencarian untuk keselamatan keluarga mereka, katanya: “Semua tantangan ini lebih penting karena ancaman yang berkembang adalah bahwa bahan nuklir kimia, biologi, atau bahkan radiologi bisa diperoleh dan digunakan. ini adalah bahaya yang jelas dan nyata, dan PBB bekerja untuk mencegah situasi darurat yang kompleks itu.

“Ekstremisme kekerasan jelas merupakan ancaman transnasional yang membutuhkan kerja sama internasional yang mendesak,” katanya, sambil menambahkan: “Saya berencana untuk membuat sebuah kelompok aksi tingkat tinggi untuk mencegah kekerasan ekstremisme (High-Level Preventing Violent Extremism Action Group).”

Ban bersama dengan menteri dari 32 negara juga menghadiri konferensi Jenewa tingkat tinggi tentang pencegahan kekerasan ekstremisme hari Jumat di Kantor PBB di Jenewa.

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam