Israel Hancurkan 23 Rumah Palestina di Yerussalem Timur

YERUSALEM (Jurnalislam.com) –  Sebuah pengadilan Israel memerintahkan evakuasi dan penghancuran 23 bangunan di lingkungan Yerusalem utara bersamaan dengan pembongkaran sebuah situs Islam yang sudah berabad usianya oleh pasukan penjajah Israel di Nablus menjadi berita utama halaman depan di berbagai harian Palestina, lansir Palestines News Network Senin (11/05/2015).

Al-Quds melaporkan pada berita utama halaman depan bahwa pengadilan Israel mengeluarkan pemberitahuan evakuasi dan pembongkaran bagi 23 apartemen di kawasan Semiramis Yerusalem Timur, yang terletak di dekat pos pemeriksaan Qalandiya.

Lebih lanjut Al-Quds melaporkan bahwa kapal angkatan laut Israel terus menargetkan nelayan Palestina di lepas pantai Gaza dan bahwa pemukim Israel membuldoser tanah Palestina di distrik Salfit.

Al-Ayyam dan al-Hayat al-Jadida melaporkan bahwa pasukan penjajah  Israel menghancurkan situs Islam, Abu Kamel, di desa Nablus di Beit Dagan dan mengambil batu-batunya.

Di sisi lain, al-Ayyam melaporkan dalam halaman depannya bahwa pengadilan militer Israel Ofer memulihkan hukuman penjara lima mantan tahanan Palestina yang dibebaskan dalam pertukaran tahanan Gilad Shalit di tahun 2011.

Al-Quds melaporkan bahwa Dewan Nasional Palestina menyambut permintaan anggota parlemen Uni Eropa (UE) kepada Uni Eropa untuk menangguhkan perjanjian kemitraan dengan Israel.

Mengamati upaya tak kenal lelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengamankan koalisinya, al-Quds melaporkan bahwa kesepakatan baru koalisi antara Likud dan pihak Jewish Home akan menyebabkan pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat semakin intensif.

Al-Ayyam dan al-Hayat al-Jadida melaporkan bahwa Netanyahu telah meminta Knesset untuk mengizinkan dia meningkatkan jumlah menteri dalam pemerintahan barunya.

Al-Quds melaporkan bahwa puluhan warga dan keluarga Palestina yang dideportasi dari Betlehem ke Gaza pada tahun 2002 dan mengungsi ke Gereja Nativity, menggelar pawai solidaritas dengan penduduk yang dideportasi di Manager Square.

Al Quds mencetak foto menampilkan warga Palestina mengibarkan bendera Palestina dan spanduk yang menyerukan kebebasan bagi penduduk yang dideportasi dan kembali ke tanah air.

Al-Hayat al-Jadida melaporkan bahwa penduduk yang dideportasi sendiri yang menyerukan untuk mengakhiri pengasingan paksa mereka di Gaza dan mengizinkan mereka untuk kembali ke rumah keluarga mereka.

Al-Ayyam juga melaporkan bahwa warga Ethiopia Israel telah mengancam untuk kembali ke jalan-jalan jika pemerintah Israel tidak memenuhi tuntutan mereka dan membatalkan dakwaan terhadap demonstran yang ditangkap di Tel Aviv seminggu sebelumnya.

 

Deddy | PNN | Jurniscom

Houthi Tembak Jatuh Pesawat F 16 Maroko di Yaman

SANAA (Jurnalislam.com) – Seorang anggota terkemuka di kelompok Syiah Houthi mengatakan pada hari Senin (11/05/2015) bahwa pasukannya  telah menembak jatuh sebuah pesawat perang Maroko dari koalisi yang dipimpin Arab saat sedang melakukan serangan di provinsi Saada Yaman utara.

"Pesawat perang itu melakukan serangan sebagai bagian dari agresi koalisi yang dipimpin Arab terhadap Yaman, sebelum senjata anti-pesawat menembaknya jatuh," Deif al-Shami, anggota biro politik kelompok Syiah, mengatakan kepada Anadolu Agency.

"Reruntuhan pesawat saat ini kami miliki, tetapi tidak ada informasi tentang nasib pilot," tambahnya.

Sebelumnya pada hari itu, tentara Maroko mengatakan bahwa jet tempur F-16 Maroko yang tergabung dalam koalisi yang dipimpin Saudi di Yaman telah hilang.

Tentara mengatakan bahwa pesawat perang tersebut hilang pada pukul 6 waktu setempat (1700 GMT) pada hari Ahad (10/05/2015).

Menurut pernyataan itu, pilot pesawat lain di skuadron yang sama tidak bisa melihat apakah pilot berhasil mengeluarkan diri dengan kursi lontar.

Pernyataan yang dirilis juga tidak mengungkapkan rincian tentang lokasi pesawat saat kehilangan kontak, tapi menyatakan bahwa penyelidikan telah dilakukan untuk insiden itu.

Sejak akhir Maret, Arab Saudi dan beberapa sekutu Arabnya, termasuk Maroko, telah menggempur posisi Houthi di Yaman. Kerajaan Afrika Utara telah memberikan kontribusi enam jet tempur F-16 untuk menyerang Houthi.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

 

Rincian Pembebasan Distrik Jwand dalam Operasi Azm

BADGHIS (Jurnalislam.com) – Mujahidin Imarah Islam di provinsi Badghis melancarkan operasi besar-besaran di kabupaten Jwand dengan menduduki pusat kabupaten, bangunan markas polisi dan semua pos keamanan di sekitarnya serta memaksa musuh pengecut melarikan diri setelah menderita kerugian besar. El Emarah melaporkan Senin (11/05/2015).

Mujahidin kemudian melancarkan operasi pembersihan di daerah tersebut, berusaha untuk menyudutkan gubernur distrik dan kepala polisi di sebuah lembah, mendorong musuh memanggil 3 helikopter untuk mengevakuasi para penjahat.

Para pejabat mengatakan bahwa 8 truk pickup, 11 sepeda motor, 4 senapan mesin PKM, 2 peluncur RPG, 25 senapan dan 4 kendaraan dikemas dengan amunisi dan peralatan lainnya.

3 Mujahidin juga terluka dalam operasi ini dan seorang lainnya menemui kesyahidan (semoga Allah menerimanya).

Sementara itu dipusat kabupaten Charsada berada di bawah serangan berat dan pengepungan ketat sejak Ahad (10/05/2015) pagi saat Mujahidin menduduki beberapa pos pertahanan, menewaskan 9 orang bersenjata bayaran termasuk komandan Resimen ke-4 dan melukai 12 orang lainnya serta merebut senapan mesin berat DShK, peluncur RPG dan peralatan lainnya.

3 helikopter musuh tiba untuk membantu musuh di daerah tersebut dini hari tadi, menembaki Mujahidin dengan senjata berat. Sebagai akibatnya 1 helikopter ditembak sekitar pukul 10.30 pagi waktu setempat, terbakar di udara namun berhasil mendarat .

Dikatakan bahwa sebanyak 4 Mujahidin juga terluka dalam pertempuran yang sedang berlangsung dan 2 orang lainnya dihargai syahid (semoga Allah menerima mereka).
 

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Jelang Gencatan Senjata, Arab Saudi Siapkan "Kekuatan Besar" di Perbatasan Yaman

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Arab Saudi mengumpulkan kekuatan tambahan dalam skala besar di perbatasan dengan Yaman setelah terlibat pertempuran artileri berat dan roket dengan  pemberontak Houthi, sehari sebelum gencatan senjata yang diusulkan berlaku.

Reporter Al Jazeera Mohamed Vall, melaporkan dari Riyadh, kementerian pertahanan Arab Saudi mengumumkan pada hari Senin (11/05/2015) bahwa kekuatan "besar" telah tiba di Najran untuk mengambil posisi di garis depan berdekatan dengan wilayah Yaman, menyusul tembak-menembak yang terjadi sebelumnya.

Dia mengatakan kementerian tidak mengatakan seberapa besar kekuatan yang berkumpul tersebut tetapi menyatakan bahwa terdapat persenjataan canggih yang mampu bertempur di daerah pegunungan terjal.

Gambar-gambar yang ditayangkan di saluran televisi milik Saudi menunjukkan deretan tank dan kendaraan lapis baja diangkut pada kendaraan militer menuju Yaman.

Houthi mengatakan mereka menembakkan roket Katyusha dan mortir ke kota Jizan dan Najran Arab Saudi sebelumnya pada hari Senin, setelah pasukan Saudi menghantam provinsi Saada dan Hajjah dengan lebih dari 150 roket.

Departemen pertahanan sipil Arab Saudi mengatakan seorang tentara nasional Saudi tewas dalam penembakan di Najran, yang menargetkan sekolah dan penduduk yang tinggal berdekatan dengan pos militer.

Warga Saudi lainnya dan tiga ekspatriat juga terluka dalam tembakan, kata departemen itu.

Jet tempur koalisi Arab juga menyerang posisi  pemberontak Houthi, yang diyakini didukung oleh Iran, di pusat kota Taiz dan di provinsi Marib penghasil minyak di sebelah timur Sanaa.

Tidak ada rincian langsung mengenai korban.

Rerporter Al Jazeera Vall mengatakan bahwa "menjelang waktu gencatan senjata sekitar 24 jam ke depan, pertempuran bukannya berkurang, kita malah melihat adanya eskalasi".

"Houthi meningkatkan aktivitasnya di sepanjang perbatasan sehingga menyebabkan intensifikasi serangan udara," katanya.

Pertempuran perbatasan terjadi lagi hampir seminggu setelah Houthi melancarkan serangan mortir dan roket di Najran, yang dilaporkan menewaskan beberapa warga negara Saudi.

Pada saat itu, pemerintah Saudi mengatakan Houthi telah menyeberangi "garis merah" dengan melakukan serangan.

Koalisi Arab menawarkan gencatan senjata selama lima hari dimulai Selasa malam untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke negara itu, tetapi memperingatkan bahwa gencatan senjata tergantung pada kepatuhan Houthi terhadap kesepakatan.

Dewan politik Houthi mengatakan bahwa mereka menginginkan bantuan kemanusiaan dikirim ke penduduk Yaman sesegera mungkin.

Sebuah kelompok yang terdiri dari 17 badan bantuan internasional mengatakan pada hari Ahad bahwa lima hari tidak cukup untuk memberikan bantuan kepada negara, yang mengalami blokade udara dan laut berminggu-minggu dan menderita kekurangan pangan dan obat-obatan sangat parah.

Berbicara kepada Al Jazeera pada hari Senin, Riyad Yassin, menteri luar negeri Yaman, mengatakan dia yakin Houthi tidak punya keinginan untuk kesepakatan gencatan senjata.

“Houthi … mereka tidak akan mematuhi gencatan senjata apapun dan mereka tidak bersedia melakukan diskusi atau negosiasi apapun," kata Yassin dari Riyadh.

Lebih dari enam minggu serangan udara telah gagal untuk mengusir Houthi dan unit tentara yang setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh.

Pada hari Ahad (10/05) Saleh secara resmi mengumumkan aliansi nya dengan Houthi setelah rumahnya di Sanaa dibom. Rumahnya tersambar api koalisi Arab di hari kedua pada hari Senin, dan ia sekali lagi lolos tidak terluka.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Ratusan Pengungsi Rohingya Terdampar di Perairan Aceh Utara

ACEH (Jurnalislam.com) – Empat kapal yang mengangkut 500 pengungsi Rohingya terdampar di perairan Aceh utara, pada Ahad (10/5/2015) pagi waktu setempat. Ratusan penumpang yang berasal dari Bangladesh dan Myanmar itu hendak menuju Malaysia. 

Kabidhumas Polda Aceh, AKBP Teuku Saladin, mengatakan mereka tengah didata oleh pihak imigrasi dan kepolisian di Polres Aceh Utara.

“Namun, karena jumlah mereka banyak, mereka dievakuasi ke Gedung Olah Raga Lhoksukon di Aceh Utara,” ujar Kabidhumas Polda Aceh, AKBP Teuku Saladin, kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Menurut Darsa, komandan regu pencarian dan penyelamatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh Utara, empat kapal yang mengangkut ratusan orang Rohingya itu menyuruh mereka untuk menceburkan diri ke laut dan berenang hingga ke tepian pantai.

“Awak kapal memberitahu bahwa mereka telah mencapai perairan Malaysia sehingga mereka harus berenang ke pantai. Jarak dari titik mereka disuruh terjun ke laut hingga ke pantai mencapai sekitar 1.800 meter,” kata Darsa, yang memperoleh pengakuan dari seorang warga Rohingya yang bisa berbahasa Melayu.

Para pengungsi Rohingya dari Myanmar dibawa ke penampungan sementara di Aceh Besar, pada 2013 lalu.

Sementara itu, Deputi Direktur Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) di Jakarta, Steve Hamilton, mengatakan pihaknya belum bisa memastikan di mana ratusan orang etnik Rohingya itu akan ditampung.

“Kami harus memastikan keselamatan mereka terlebih dulu. Selanjutnya kami akan mendata apakah mereka pengungsi atau pencari suaka. Kami juga ingin menekankan bahwa ini adalah kewenangan pemerintah Indonesia, kami hanya membantu,” kata Hamilton.

Berdasarkan pemantauan lembaga Arakan Project, yang khusus memonitor pergerakan kaum Rohingya selama lebih dari sedekade, ada sekitar 7.000 hingga 8.000 orang Rohingya yang berada di kapal-kapal di Selat Malaka.

Mereka menunggu saat yang tepat untuk merapat ke Malaysia atau Indonesia guna mencari penghidupan yang lebih layak.

Hingga akhir November 2014, terdapat 40.070 pengungsi Rohingya yang terdaftar di UNHCR di Malaysia. Adapun di Indonesia terdapat 738 pengungsi Rohingya dari Myanmar hingga akhir Februari 2015.

Ally | BBC | Jurniscom

Pertempuran Sengit antara Mujahidin Suriah dengan Syiah Hizbullah Meletus di perbatasan Libanon

SURIAH (Jurnalislam.com) – Kelompok Syiah Lebanon Hizbullah telah mengirimkan tentaranya untuk melakukan serangan di sepanjang perbatasan timur Lebanon dengan Suriah, bergabung bersama pasukan rezim pemerintah Assad untuk memukul  mujahidin Suriah dari kubu mereka di daerah pegunungan.

Pertempuran meletus antara Syiah Hizbullah beserta tentara rezim Suriah melawan mujahidin Suriah  di kota strategis Qalamoun pada hari Ahad (10/05/2015).

Qalamoun adalah rute pasokan utama bagi Syiah Hizbullah dan rezim pemerintah Suriah.

Qalamoun juga penting bagi pemerintah karena ingin mengamankan jalan barat laut utama yang menghubungkan ibukota Damaskus ke Homs, dan kemudian ke kubu rezim al-Assad di Latakia di pantai barat.

Reporter Al Jazeera Omar Alsaleh, melaporkan dari Lembah Bekaa di Lebanon, mengatakan pertempuran bisa menjadi panjang dan bisa dengan mudah meluas ke Lebanon dan memperdalam pertarungan politik dan ketegangan sektarian di sana.

"Pegunungan Qalamoun itu luas dan kasar. Para mujahidin  Suriah mengadopsi taktik perang gerilya. Mereka menggunakan daerah pegunungan sebagai tempat persembunyian mereka," katanya.

"Akan sulit bagi jet pemerintah Suriah dan Hizbullah untuk sepenuhnya mengendalikan atau menguasai daerah itu. Meskipun diserang Hizbullah, mujahidin  Suriah tetap kuat di daerah itu."

Dalam perkembangan lain di Suriah, koalisi mujahidin Suriah menyerbu kompleks rumah sakit di provinsi Idlib barat laut pada hari Ahad dimana sekitar 250 loyalis rezim Syiah Assad telah terperangkap selama dua minggu, Syrian Observatory for Human Rights mengatakan.

Jaringan aktivis yang berbasis di Inggris mengatakan koalisi mujahidin Suriah yang tergabung dalam "Battle of Victory" yaitu Jabhah Nusrah, Ahrar al Sham, Ansar Sham, Jaish al Islam, Jabhat Ansar al Din memasuki fasilitas di Jisr al-Shughour,  yang  telah mereka kuasai hampir dua minggu yang lalu.

Jisr al-Shughour terletak di barat kota Idlib, ibukota provinsi Idlib, yang jatuh ke tangan koalisi mujahidin suriah  pada akhir Maret.

Observatorium Suriah mengatakan koalisi mujahidin suriah melakukan serangan di tepi barat daya Jisr al-Shughour dimana mereka terlibat dalam pertempuran sengit dengan pasukan rezim  pemerintah Assad yang bersembunyi di dalam kompleks.

Syrian State TV mengatakan pasukan rezim pemerintah telah menutup semua jalan menuju kota, yang dikuasai oleh koalisi mujahidin suriah akhir bulan lalu.

Ini adalah pertama kalinya koalisi mujahidin suriah berhasil menembus kompleks.

Menurut kelompok pemantau, 33 serangan udara diluncurkan di sekitar daerah tersebut pada hari Ahad pagi (10/05/2015).

Deddy |  Al Jazeera | Jurniscom

Ali Abdullah Saleh Akhirnya Akui Kerjasama dengan Houthi

YAMAN (Jurnalislam.com) – Mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, secara resmi mengumumkan aliansinya dengan Houthi untuk pertama kalinya, setelah koalisi Arab meluncurkan dua serangan udara di rumahnya di ibukota Sanaa.

Saleh, yang terpaksa mundur pada tahun 2012 setelah terjadi protes nasional mematikan menentang pemerintahannya yang telah berlangsung selama tiga dekade, lolos tanpa cedera setelah serangan di awal hari Ahad (10/05/2015).

Dia tidak berada di rumah saat pemboman terjadi, yang menewaskan tiga penjaga dan menghancurkan tiga bangunan.

Saleh, dituduh memihak pemberontak Houthi yang menggulingkan Presiden  Abd-Rabbu Mansour Hadi pada bulan Februari, kemudian menantang melawan koalisi Arab.

"Anda harus terus membawa senjata Anda, siap untuk mengorbankan hidup Anda dalam pertahanan terhadap serangan-serangan," kata Saleh, berkata kepada Houthi setelah serangan.

"Saya bisa menggambarkan agresi ini sebagai tindakan pengecut.

"Jika Anda cukup berani, datang dan hadapi kami di medan perang, datang dan kami akan menyambut Anda. Mengepung dengan roket dan pesawat tempur tidak akan memungkinkan Anda mencapai salah satu tujuan Anda."

Komentar Saleh datang setelah Houthi merilis pernyataan bahwa mereka akan merespon "positif" dengan segala upaya untuk mengangkat penderitaan rakyat Yaman.

Deklarasi itu dianggap sebagai tanda bahwa mereka bisa menerima gencatan senjata kemanusiaan lima hari yang diusulkan oleh Arab Saudi, yang memimpin koalisi.

Dewan politik Houthi mengatakan pada hari Ahad bahwa mereka ingin melihat bantuan kemanusiaan dikirim ke rakyat Yaman sesegera mungkin.

Pernyataan itu menambahkan bahwa Houthi menginginkan pembicaraan antara faksi-faksi politik yang akan diselenggarakan di bawah payung PBB.

Sumber Houthi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kelompok tidak akan pernah menerima perundingan yang diadakan di Riyadh, atau bangsa lain yang terlibat dalam koalisi Arab yang telah membom negara itu sejak 26 Maret.

Adel al-Jubeir, menteri luar negeri Arab, mengumumkan proposal gencatan senjata lima hari pada hari Kamis untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan bagi warga sipil, tetapi hanya dengan syarat bahwa Houthi juga menghentikan pertempuran.

Gencatan senjata yang diusulkan, jika disetujui, akan dimulai pada hari Selasa.

Reporter Al Jazeera Mohamed Vall, melaporkan dari Riyadh, mengatakan bahwa juru bicara urusan luar negeri Houthi telah menulis di media sosial bahwa mereka dapat menerima gencatan senjata jika itu "nyata dan serius".

"Kami masih menunggu konfirmasi lain dari sisi Houthi – konfirmasi resmi lagi," katanya.

"Untuk pertama kalinya sejak Saudi menawarkan gencatan senjata, ini adalah tanda-tanda bahwa [Houthi] mungkin berpikir untuk menerima gencatan senjata."

Serangan terbaru di ibukota datang setelah koordinator kemanusiaan PBB untuk Yaman mengatakan bahwa serangan udara koalisi di kota Saada di Yaman telah melanggar hukum internasional.

Konflik di Yaman telah menewaskan lebih dari 1.400 orang – banyak dari mereka warga sipil – sejak 19 Maret, menurut PBB.

Sementara itu, al-Jubeir mengumumkan bahwa Raja Arab Salman tidak akan menghadiri KTT Camp David AS dan para pemimpin sekutu Arab.

Dalam sebuah pernyataan, al-Jubeir mengatakan KTT pada hari Kamis bertepatan dengan gencatan senjata kemanusiaan.

Dia mengatakan Putra Mahkota Mohammed bin Nayef, yang juga menteri dalam negeri, akan memimpin delegasi Saudi dan anak raja lainnya, Deputi Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang menjabat menteri pertahanan, juga akan hadir.

Sekutu Arab juga merasa terancam oleh meningkatnya pengaruh Iran dan khawatir bahwa pakta nuklir antara AS, Iran dan negara-negara lain mungkin membuat Teheran menjadi berani mengganggu negara-negara di wilayah ini secara lebih agresif.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Lagi Mujahidin IIA Tembak Jatuh Helikopter Musuh di Ghazni dalam Operasi Azm

Ghazni (Jurnalislam.com) – Sebanyak 15 tentara boneka tewas saat Mujahidin Imarah Islam menembak jatuh satu helikopter tempur musuh di awal hari ini di Afghanistan selatan saat Mujahidin meningkatkan serangan "Operasi Azm" di seluruh negara, Al-Emarah News mengatakan Ahad (10/05/2015).

Laporan awal dari tempat kejadian menyatakan bahwa helikopter itu terlibat dalam misi untuk mengebom Mujahidin dalam pertempuran sengit yang telah berlangsung selama 6 hari terakhir antara mujahidin dan pasukan musuh di distrik Nawa provinsi Ghazni awal hari Ahad.

Mujahidin menggunakan senjata jenis baru untuk menjatuhan helikopter yang mulai terbakar sebelum jatuh dan jatuh berkeping-keping, tambahnya, seraya mengatakan bahwa banyak orang bisa melihat helicopter itu terbakar dari jauh.

Saksi di tempat kejadian melihat helikopter terbakar dan pecah berkeping-keping sebelum jatuh, menewaskan lebih dari 15 tentara boneka yang berada di dalamnya.

Menembak jatuh pesawat musuh adalah bentuk serangan terbaru dalam serangkaian serangan baru-baru ini. Ini adalah helikopter musuh kedua yang berhasil dijatuhkan dalam 4 hari terakhir.

Sedangkan di Kabul  sebuah serangan istisyhad menerjang bus pemerintah yang membawa staf kantor jaksa agung di pusat kota Kabul di hari yang sama, menewaskan 18 orang dan menyebabkan yang lainnya terluka parah, Al-Emarah News melaporkan.

Bus itu mengangkut karyawan Jaksa Agung kembali ke rumah mereka ketika diserang oleh Mullah Nimatullah Agha, yang berasal dari provinsi Kandahar, di jantung kota Kabul pada sekitar pukul 16:15 waktu setempat.

Serangan heroik itu terjadi di tengah berlangsungnya "Operasi Azam" seminggu setelah serangan serupa pada bus Mercedes Benz yang membawa staf umum pengacara ke kantor pada pagi harinya.

 

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Mujahidin Taliban Berhasil Kuasai Distrik Utama Afghanistan

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Mujahidin Taliban berhasil menguasai distrik utama di provinsi Badghis barat laut Afghanistan dalam pertempuran sengit dengan pasukan keamanan, kepala dewan lokal mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Ahad (10/05/2015).

Namun Kementerian Dalam Negeri Afghanistan membantah bahwa Jawand, distrik terbesar dan paling padat di Badghis, telah jatuh ke tangan Taliban.

Menurut kepala dewan provinsi Badghis, Haji Bahauddin Qadesi, sekitar 1.000 gerilyawan Taliban menyerang gedung pemerintah kabupaten dan bazaar utama.

"Taliban telah mempersiapkan serangan terkoordinasi selama dua hari terakhir. Mereka menyerbu kabupaten pada pukul 2 dini hari (waktu setempat) Ahad (10/05/2015), "kata Qadesi.

"Gubernur kabupaten dan kepala polisi telah mundur bersama dengan pasukan mereka ke daerah Deh Garm ketika mereka dikepung oleh pasukan  Taliban," tambahnya.

Kabupaten Jawand merupakan persimpangan penting untuk mengontrol kabupaten tetangga dan dapat digunakan oleh militan untuk membangun rute pasokan untuk provinsi utara Afghanistan.

Sediq Sediqi, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, membantah Taliban menyerbu distrik itu, tetapi mengatakan bahwa pasukan komando tentara Afghanistan telah dikirim ke daerah.

"Segera situasi akan berada di bawah kendali," kata Sediqi.

Sebelumnya pada Ahad pagi, sekelompok orang yang diduga mujahidin Taliban menyerbu sebuah bangunan milik badan intelijen Afghanistan di kota Kandahar, melukai empat pasukan Afghanistan, kata seorang pejabat lokal.

Juga di hari Ahad, serangan pesawat tak berawak AS dilaporkan  menggempur distrik bayangan Taliban di Afghanistan timur, kata polisi setempat.

Meskipun telah terjadi pembicaraan informal antara perwakilan pemerintah Afghanistan dan kelompok bersenjata di Qatar baru-baru, pertempuran di Afghanistan meningkat setelah Taliban meluncurkan serangan musim semi mereka pada bulan April.

Pada bulan April, ribuan mujahidin telah menyerbu kota Kunduz di Afghanistan utara dalam upaya merebut kendali atas provinsi dan kabupaten terpencilnya.

Pasukan internasional pimpinan AS secara resmi memulangkan misi tempur di Afghanistan pada akhir tahun lalu. Namun, hampir 13.000 pasukan keamanan internasional masih tetap berada di negara itu untuk "memberi dukungan" bagi pasukan Afghanistan bentukan AS.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Pasukan Malaysia Tiba di Arab Saudi untuk Bantu Koalisi Arab Lawan Houthi

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Pasukan Malaysia telah tiba hari Ahad (10/05/2015) di Arab Saudi untuk bergabung dengan pasukan koalisi melawan pemberontak Houthi di Yaman, kantor berita pemerintah Saudi melaporkan.

Menurut kantor berita tersebut, Malaysia menjadi negara ke-12 yang bergabung dalam koalisi, seminggu setelah Senegal juga mengumumkan bahwa 2.000 pasukannya akan bergabung dalam koalisi.

Pusat operasi koalisi sedang mempersiapkan rencana partisipasi pasukan Malaysia dan Senegal serta tugas yang harus diberikan kepada mereka, kata laporan itu.

Kantor berita itu juga tidak memberikan rincian tentang jumlah tentara Malaysia yang telah tiba atau apakah akan ada pasukan lain yang akan mengikuti dan juga tidak menjelaskan apakah mereka pasukan darat atau personel angkatan udara.

Koalisi yang dipimpin Saudi meluncurkan serangan udara terhadap milisi Syiah Houthi yang didukung Iran dan sekutu mereka sejak 26 Maret setelah pemberontak Houthi menguasai sebagian besar Yaman dan maju ke kota utama selatan, Aden.

Deddy  | World Bulletin | Jurniscom