Astaghfirullah, Pemukim Yahudi Bakar 250 Pohon Zaitun di Hebron, Palestina

HEBRON (Jurnalislam.com) –  Para pemukim pendatang Yahudi “Beit Ain” di utara Hebron, membakar lahan yang diperkirakan luasnya 25 hektar pada hari Senin (18/05/2015)  kemarin. Aksi para pemukim Yahudi ini mengakibatkan sekitar 250 pohon zaitun musnah. Sementara itu pihak penjajah Zionis Israel menolak mendatangkan mobil pemadam kebakaran untuk memadamkan apa yang membakar lahan tersebut.

Jurubicara Komite Rakyat Anti Tembok Pemisah Rasial dan Permukiman Yahudi di Beit Amr, Hebron, Muhammad Iyad, menyebutkan bahwa sebanyak 5 orang pemukim pendatang Yahudi mengenakan pakaian putih usianya antara 16-20 tahun, membakar lahan seluas sekitar 25 hektar yang ditanami pohon zaitun.

Dia menambahkan bahwa lahan yang dibakar tersebut ditanami pohon Zaitun yang di antaranya sudah berumur 39 tahun. Pasukan penjajah Zionis dan polisinya datang ke lokasi, para pemilik lahan memita mereka agar mendatangkan mobil pemadam kebakaran untuk memadamkan api, namun mereka tidak mau.

Menurut Muhammad Iyad, para warga berusaha melakukan upaya besar untuk mengurangi kobaran api di tengah-tengah udara yang sangat panas dan mereka berhasil menghentikan kobaran api merembet ke wilayah lainnya.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

 

Muslim Krimea Tatar Peringati Tahun ke 71 Kejahatan Berat Rezim Soviet

ISTANBUL (Jurnalislam.com)  – Muslim Tatar Krimea di Istanbul berkumpul di luar Konsulat Rusia di Turki untuk menghormati mereka yang meninggal saat deportasi paksa Tatar Krimea tahun 1944, setelah sebelumnya mereka dilarang memperingati peristiwa tersebut melalui  demonstrasi peringatan tradisional mereka.

"Siapapun yang memiliki hati nurani tidak akan pernah melupakan rasa sakit dan kekejaman yang disebabkan oleh pembuangan tersebut," kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (18/05/2015) menandai ulang tahun ke-71 deportasi massal Tatar Krimea oleh pemerintahan Soviet, Anadolu Agency melaporkan.

"Turki akan terus berdiri memperjuangkan rakyat muslim  Krimea Tatar agar bisa hidup sejahtera dan aman di tanah air mereka," tambah Erdogan.

Di luar Konsulat Rusia di Turki, ratusan berkumpul untuk menandai ulang tahun yang menyedihkan itu.

"Praktis tidak ada kompensasi kerusakan moral dan materi yang telah diberikan kepada Tatar Krimea sehubungan dengan genosida tahun 1944, juga belum ada upaya pemulihan hak nasional mereka di tanah air," anggota dari Asosiasi Kebudayaan dan Gotong Royong Tatar Krimea (Crimean Tatar Association of Culture and Mutual Aid ) membaca pernyataan sehubungan dengan ulang tahun ke-71 deportasi Krimea Tatar, Badan Berita Crimean (QHA) melaporkan pada Senin (18/05/2015).

Pernyataan itu juga menunjukkan tekanan yang diberikan pada muslim Tatar Krimea, termasuk pembunuhan, pemukulan, penangkapan dan larangan masuk ke semenanjung bagi aktivis Krimea Tatar.

Mei ini memperingati  tahun ke-71 dari salah satu kejahatan paling berat yang dilakukan oleh rezim Soviet, Forbes melaporkan.

Pada tahun 1944, dengan tuduhan palsu pengkhianatan negara, pemimpin Soviet Joseph Stalin memerintahkan 238.500 rakyat Tatar secara paksa dideportasi dari tanah air mereka di Krimea sebagai bentuk hukuman kolektif untuk dugaan kolaborasi mereka dengan Nazi.

Seluruh muslim penduduk Krimea Tatar, sekitar seperlima dari total penduduk Semenanjung Krimea, serta sejumlah kecil etnis Yunani dan Bulgaria, diambil dari rumah mereka dan sebagian besar diangkut ke Uzbekistan.

Antara Juli 1944 dan Januari 1947, hampir 110.000, atau 46% dari rakyat yang dideportasi, meninggal karena kelaparan dan penyakit.

Soviet menyita rumah mereka, menghancurkan masjid-masjid dan mengubahnya menjadi gudang. Sebuah masjid diubah menjadi Museum of Atheism.

Kesengsaraan ini dihidupkan kembali akibat kebijakan Rusia yang menekan muslim Tatar Krimea baru-baru ini.

"Mereka yang dideportasi oleh Stalin Uni Soviet mengalami penderitaan yang tak terkatakan, kelaparan, kematian, dan penyakit selama perjalanan panjang mereka ke Ural, Asia Tengah, dan Siberia, diikuti oleh puluhan penganiayaan dan tuduhan palsu oleh pemerintah Soviet," kata Departemen Luar Negeri AS dalam siaran pers yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei.

"Sementara kakek-nenek mereka dipaksa untuk hidup di pengasingan dan penindasan, serta banyak dari keturunan mereka tidak pernah kembali, hari ini Tatar Krimea juga menghadapi represi dan diskriminasi di wilayah Krimea yang diduduki Rusia, tanpa perwakilan dan tidak memiliki jalan lain.

"Kami bergabung dengan Tatar Krimea dan semua orang Ukraina dalam memperingati ulang tahun yang khusyuk ini, dan kita mengingat orang-orang yang kehilangan nyawa mereka atau yang menderita di bawah penindasan, baik pada tahun 1944 maupun tahun 2015.”

"Kami mengutuk upaya ilegal Rusia untuk mencaplok Crimea, dan menyerukan diakhirinya pendudukan Rusia. Kami juga menegaskan kembali dukungan kami untuk kedaulatan Ukraina dan integritas teritorial dan komitmen kami untuk hak asasi manusia semua orang Ukraina, termasuk di Krimea, "tambah mereka.

300.000 minoritas Muslim yang kuat merupakan 15% dari populasi Crimea yang berjumlah 2 juta dan sejauh ini sangat menentang aneksasi Rusia terhadap semenanjung.

Langkah Rusia mencaplok Crimea mengikuti keputusan sebelumnya pada bulan Maret mengenai masa depan semenanjung.

Referendum yang disetujui oleh 96% suara, diikuti oleh beberapa langkah parlemen pro-Moskow Krimea, mengeluarkan undang-undang yang memungkinkan aneksasi Rusia terhadap semenanjung yang disengketakan.

Referendum yang diselenggarakan dengan terburu-buru pada 16 Maret diboikot oleh Tatar yang menolak karena diadakan di bawah todongan senjata dan di bawah tatapan tentara Rusia.

Setelah aneksasi Rusia terhadap Krimea, kekhawatiran Muslim Tatar meningkat dua kali lipat, menyuarakan kekhawatiran merekan atas kehilangan kebebasan dan menghidupkan kembali kenangan pengasingan dan penuntutan yang mereka hadapi di tahun 1940-an.

 

Deddy | On Muslim | Jurniscom

 

Jabhah Nusrah Rilis Photo Hari Kelulusan Anggota Baru di Idlib, Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Jabhah Nusrah, cabang resmi Al Qaeda di Suriah, mempublikasikan serangkaian foto yang menunjukkan lebih dari 100 mujahidin yang baru lulus di Idlib. Pada akhir Maret, Jabhah Nusrah dan faksi Jihad lainnya menyerbu ibukota provinsi Idlib. Koalisi mereka, yang dinamakan Jaysh al Fateh (Tentara Penaklukan), terus melawan pasukan rezim Syiah Assad di sekitarnya selama minggu-minggu berikutnya.

Jabhah Nusrahmemulai serangan besar di Suriah utara akhir tahun lalu, melawan kelompok pemberontak yang didukung Barat (AS dan sekutunya) dan juga rezim Syiah Bashar al Assad.

Postingan foto Jabhah Nusrah yang direproduksi di bawah ini untuk tujuan publikasi. Gambar tersebut mendokumentasikan kemampuan Tandzim untuk menghasilkan banyak pasukan baru.

Keberhasilan para mujahidin di Suriah utara memberikan  kontribusi yang positip terhadap Jabhah Nusrah. Beberapa foto menunjukkan para lulusan baru melompat melalui cincin api.

Menurut laporan akhir Komisi 9/11, sekitar 10.000 hingga 20.000 pasukan yang direkrut dilatih di kamp-kamp Al Qaeda di Afghanistan antara tahun 1996 dan 2001. Al Qaeda memilih yang terbaik dan tercerdas untuk keanggotaan penuh, dan beberapa dari mereka untuk posisi kepemimpinan.

Kader yang direkrut juga dipilih untuk ambil bagian dalam merencanakan serangan al Qaeda dalam melawan kekuatan Barat dan sekutunya.

Al Qaeda mengulangi proses seleksi tersebut hari ini di Suriah, serta di lokasi-lokasi jihad lain dan terus berlangsung.

 

Deddy | The Long War Journal | Jurniscom

LSM: 94% Serangan Pemukim Yahudi terhadap Warga Palestina Tidak Dihukum

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Sebuah LSM Israel mengatakan pada hari Senin (18/05/2015) bahwa 94 persen penyelidikan Israel atas serangan pemukim ekstrimis Yahudi terhadap warga Palestina berakhir "tanpa dakwaan," dan terus  berlanjut menunjukkan "ketidakpedulian" polisi Israel mengenai serangan-serangan tersebut, Anadolu Agency melaporkan.

"Meskipun terikat kewajiban hukum, kenyataannya pasukan keamanan Israel di Tepi Barat malah sering berpartisipasi – atau berpangku tangan – saat kekerasan terhadap warga Palestina sedang terjadi," Yesh Din, sebuah LSM Israel yang melacak dan mendokumentasikan serangan pemukim Yahudi di Palestina, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

"Di balik ketidakpedulian ini ada budaya yang meresap yaitu impunitas yang ditanamkan oleh berbagai otoritas Israel yang beroperasi di Tepi Barat," kata LSM.

Yesh Din berpendapat serangan ini bukan merupakan "insiden yang terisolasi," namun terjadi untuk menegaskan bahwa "kekerasan ini merupakan bagian dari strategi canggih yang lebih luas yang dirancang untuk menegaskan dominasi teritorial atas Tepi Barat Palestina".

Penelitian yang dilakukan oleh LSM itu menemukan bahwa hampir 94 persen dari investigasi kriminal militer Israel terhadap tentara yang diduga melakukan tindak kekerasan terhadap warga Palestina dan properti mereka berakhir "tanpa dakwaan".

"Dalam kasus yang jarang terjadi, yaitu jika dakwaan dijatuhkan, keputusan akan mengarah untuk hukuman yang sangat ringan," Yesh Din mencatat.

Para pejabat polisi Israel tidak bisa dihubungi untuk memberikan komentar langsung pada pernyataan LSM tersebut.

Beberapa bulan terakhir terjadi peningkatan kekerasan di Israel dan wilayah Palestina, yang menyebabkan kematian dan cedera bagi kedua pihak.

Beberapa warga Israel telah tewas atau terluka dalam serangan Palestina yang semakin sering.

Sementara itu pasukan Israel juga terus melakukan razia di desa-desa Tepi Barat, dan seringkali menangkap sekelompok pemuda Palestina dengan alasan mereka "dicari" oleh pemerintah Israel.

Terlebih lagi, pasukan Israel biasanya menggunakan kekerasan untuk membubarkan unjuk rasa mingguan Palestina menentang negara Yahudi yang memproklamirkan diri sendiri mengenai puluhan tahun pendudukan, yang terkadang menyebabkan kematian di pihak demonstran.

Palestina juga mengutuk serangan yang sering dilakukan oleh pemukim Yahudi ekstremis terhadap masyarakat dan properti mereka di wilayah-wilayah pendudukan.

 

Deddy | Anadolu Agnecy | Jurniscom

Seorang Muslim Roma Selamatkan Wanita Yahudi dari Upaya Bunuh diri

ROMA (Jurnalislam.com) – Seorang pria Muslim tunawisma banyak dipuji sebagai pahlawan setelah ia dengan berani terjun ke dalam Sungai Tiber yang sangat tercemar untuk menyelamatkan seorang wanita yang melompat dari jembatan di pusat kota Roma, Haaretz melaporkan pada Sabtu (16/05/2015).

"Saya bukan pahlawan," kata Sobuj Khalifa, pria Bangladesh berusia 32 tahun itu, kepada televisi Italia TV2000.

"Allah menginginkan kita untuk membantu semua orang."

Cerita dibuka Selasa lalu ketika Khalifa melihat seorang wanita melompat dari jembatan Sungai Tiber tempat ia berteduh.

Mengambil keputusan dalam hitungan detik, ia melompat dengan cepat mengejar wanita yang telah lebih dulu menyelam ke dalam sungai, yang terbentang memotong pusat kota bersejarah dan terkenal sangat tercemar itu.

Video penyelamatan menunjukkan Khalifa memegang wanita tersebut dengan satu tangan dan berenang ke tepi sungai dengan tangan lainnya, saat tim penyelamat tiba di tempat kejadian. Kerumunan orang di atas jembatan bertepuk dan berteriak "bravo!"

"Saya melihat dia jatuh dari jembatan, aku pikir dia sudah mati," Khalifa mengatakan dalam satu video yang direkam oleh seorang pejalan kaki yang menunjukkan usaha penyelamatan itu.

"Tapi ketika aku tiba di dekatnya aku melihat matanya bergerak, saya pikir dia masih bisa hidup."

Pihak berwenang Italia mengatakan wanita Israel berusia 55 itu, melompat dari jembatan dalam upaya bunuh diri yang mungkin dipicu oleh kisah cintanya yang berakhir.

Wanita yang tidak disebutkan namanya itu dibawa ke rumah sakit dan dalam kondisi baik, juru bicara polisi Italia di Roma mengatakan kepada Haaretz.

Dilaporkan secara luas di Italia, aksi penyelamatan itu terjadi di tengah-tengah perdebatan mengenai badai imigrasi, saat ribuan orang berusaha melarikan diri dari daerah yang dilanda perang di Afrika Utara dan Timur Tengah dengan menyeberangi Laut Mediterania dengan menggunakan kapal reyot.

Pihak berwenang menghargai Khalifa dengan memberikan dia izin untuk tinggal dan bekerja di Italia. Dia selama ini tinggal secara ilegal di Italia selama delapan tahun dan telah kehilangan tempat tinggal selama empat tahun terakhir.

Walikota Roma Ignazio Marino menulis di halaman Facebook-nya bahwa ia telah berbicara dengan Khalifa untuk berterima kasih padanya atas tindakan "heroik dan manusiawi" yang ia lakukan.

Riccardo Pacifici, kepala Komunitas Yahudi Roma, mengatakan kepada Haaretz bahwa orang-orang Yahudi di kota ingin berterima kasih kepada Khalifa karena keberaniannya.

Italia memiliki populasi Muslim sekitar 1,7 juta, termasuk 20.000 mualaf, menurut angka yang dikeluarkan oleh Istat, lembaga statistik nasional.

 

Deddy | on Islam | Jurniscom

Syiah Houthi Serbu Markas Ikhwanul Muslimin di Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Houthi menyerbu markas  Al-Islah pada hari Sabtu, lengan politik Ikhwanul Muslimin, di Kraytar, sebuah distrik provinsi selatan Aden, seorang pejabat partai mengatakan, lansir World Bulletin Ahad (17/05/2015).

"Houthi dan sekutu militannya menyerbu markas partai saat ini," Khaled Heidan, seorang juru bicara media Al-Islah yang berlokasi di Aden, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Dia menambahkan bahwa Houthi menjarah isi markas tersebut. Para pejabat Al Islah tidak berada di tempat pada saat itu.

Yaman tetap dalam peperangan sejak September lalu, saat Houthi menyerbu ibukota Sanaa, dan berusaha untuk memperluas pengaruh mereka ke bagian lain negara tersebut.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Para Pejabat Pemerintah Turki Kutuk Keputusan Pengadilan Mesir

ANKARA (Jurnalislam.com) – Politisi Turki Senior mengecam keputusan pengadilan Mesir yang menjatuhkan hukuman mati pada Presiden Mesir pertama yang terpilih, Muhammad Mursi.

Wakil perdana menteri, anggota kabinet, dan kelompok-kelompok non-pemerintah menyatakan kemarahan atas semua keputusan terhadap Mursi dalam tuduhan keterlibatan pembobolan penjara massal selama revolusi Mesir 2011 dan spionase.

Wakil Perdana Menteri Turki Numan Kurtulmus pada hari Ahad (17/05/2015) mengatakan bahwa keputusan tersebut secara efektif membatalkan hak warga Mesir untuk memilih pemerintahan mereka sendiri, karena Mursi adalah presiden pertama dalam sejarah Mesir yang terpilih secara demokratis sebelum digulingkan pada Juli 2013 oleh kudeta militer yang dipimpin Presiden saat ini, Abdul Fattah al-Sisi.

Wakil Perdana Menteri Turki Bulent Arinc pada hari Ahad berdoa untuk Mursi dan pendukungnya, meminta Tuhan untuk membantu mereka, sementara Menteri Energi Turki Taner Yildiz dan Kementerian Pertahanan Turki Ismet Yilmaz juga mengatakan bahwa mereka percaya keputusan tersebut tidak akan dilaksanakan.

Menteri Kesehatan Turki Mehmet Muezzinoglu, mengatakan pada hari Ahad: "Putusan ini adalah sebuah pemahaman yang didukung oleh perencana kudeta dan kelompok fasis yang  berada di belakangnya. Setiap manusia yang benar-benar manusia akan berdiri untuk mengutuk hal ini," kata Muezzinoglu.

"Negara Barat mengatakan, 'kami menentang hukuman mati,' tetapi mereka hanya menonton, sambil mendukung mereka yang menempatkan orang-orang dalam hukuman mati."

Menteri Pemuda Turki Cagatay Kilic juga mengatakan pada hari Ahad: "Keputusan ini bencana, itu adalah titik hitam untuk masa depan Mesir. Kami berharap situasi ini diperbaiki secepat mungkin.."

Warga Turki turun ke jalan pada hari Ahad di Turki. Ratusan orang di Istanbul keluar untuk memprotes keputusan tersebut. Demonstrasi dipimpin oleh organisasi non-pemerintah Turki, termasuk Asosiasi Kebebasan Pemikiran dan Hak Pendidikan, atau Ozgur-Der dan Yayasan Bantuan Kemanusiaan (IHH).

Demonstrasi juga dilaporkan terjadi di Adiyaman, Adana, Kastamonu, Kocaeli, Izmir, Van, Antalya, Isparta, dan Bingol.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Mujahidin Al Shabaab Kuasai Drone AS

MOGADISHU (Jurnalislam.com) – Sebuah pesawat tanpa awak, drone AS jatuh di sebuah kota yang dikuasai oleh afiliasi Al Qaeda,  Al-Shabaab di wilayah barat daya Bay, warga setempat mengatakan Ahad (17/05/2015).

Warga di kota Burhakaba Somalia mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pesawat tak berawak jatuh di kota terdekat Bashir pada hari Ahad.

Mereka menambahkan bahwa kelompok mujahidin mengepung lokasi kejadian.

Radio pro Al-Shabaab Andalus, mengutip seorang pemimpin Al Shabaab yang mengatakan bahwa kelompoknya telah menyita sebuah drone AS saat melakukan misi pengintaian di atas wilayah yang dikuasai Al-Shabaab.

Al-Shabaab, yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah boneka Somalia, baru-baru ini mendapatkan beberapa serangan yang signifikan, oleh pasukan pemerintah Somalia dan Uni Afrika.

Namun demikian, afiliasi Al Qaeda ini terus melancarkan serangan mematikan terhadap pejabat pemerintah dan aparat militer.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Syiah Houthi Boikot Perundingan Yaman yang Ditengahi Arab Saudi

YAMAN (Jurnalislam.com) – Syiah Houthi memboikot konferensi dialog di ibukota Saudi saat presiden Yaman yang diasingkan membuka acara tiga hari yang bertujuan mengatasi krisis berkepanjangan di Yaman, kantor berita Aljazeera melaporkan.

Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi, Perdana Menteri Khaled Bahah dan sekitar 400 delegasi berkumpul di Riyadh pada hari Ahad (17/05/2015). Faksi-faksi terkemuka termasuk partai Sunni Islah, Sosialis dan anggota partai politik mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, Kongres Rakyat Umum (GPC), juga hadir.

Pemberontak Syiah Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman, menolak untuk menghadiri pembicaraan di Arab Saudi, atau di negara lain yang terlibat dalam pemboman Yaman, dan menuntut agar perundingan diadakan di Yaman.

Houthi telah lama mengeluhkan marjinalisasi dan telah berjuang dalam enam peperangan melawan pemerintah pusat antara tahun 2004 dan 2010. Tahun lalu, mereka meluncurkan serangan dari kubu mereka di utara, merebut ibu kota Sanaa pada bulan September, dan sejak itu mencoba untuk memperluas kendali mereka.

Berbicara di konferensi, Hadi mengeluarkan serangan terhadap pemberontak Houthi.

"Houthi merebut kekuasaan dengan menggunakan kekerasan," kata Hadi seraya mengatakan ia bermaksud kembali ke Sanaa dan menginginkan agar masyarakat internasional membantu mengakhiri pertempuran.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Keputusan Hukuman Mati Muhammad Mursi dan Syeikh Yusuf Qaradawi Timbulkan Aksi Protes di Mesir

KAIRO  (Jurnalislam.com) – Pendukung Presiden Mesir yang digulingkan Muhammad Mursi pada hari Sabtu (16/05/2015) mengecam hukuman mati yang dijatuhkan atas dirinya dan 121 terdakwa lain pada hari sebelumnya atas tuduhan pembobolan penjara massal pada 2011 dan tuduhan mata-mata faksi Palestina Hamas.

Sebaliknya, para penentang Mursi dan gerakan Ikhwanul Muslimin bertepuk tangan atas keputusan tersebut, dan mengatakan bahwa keputusan itu "membesarkan hati" mereka dan "membalaskan dendam pada Mursi dan gerakannya".

Sebelumnya pada hari Sabtu, pengadilan mengirimkan permintaan kepada otoritas agama Mesir tertinggi (grand mufti) untuk memberikan pendapat sebelum Mursi dan 121 orang lainnya – dari total 166 orang – dijatuhi hukuman mati.

Mursi dan terdakwa lainnya dituduh melakukan pembobolan penjara massal saat pemberontakan 2011 yang menggulingkan Presiden Hosni Mubarak dan menghadapi tuduhan spionase untuk faksi Palestina Hamas.

121 terdakwa lainnya termasuk pemimpin tertinggi Ikhwanul Muslimin Muhammad Badie dan wakilnya Khairat al-Shater, bersama dengan beberapa pemimpin tinggi Ikhwanul lainnya.

Pendapat grand mufti tidak mengikat, sedangkan putusan terhadap presiden terguling dan rekan-rekan terdakwa lainnya terbuka untuk banding.

Aliansi Nasional untuk Pertahanan Legitimasi (The National Alliance for the Defense of Legitimacy) – pendukung utama Mursi – mengecam putusan pengadilan itu dan menyerukan peningkatan oposisi terhadap pemerintah saat ini, terutama pada 3 Juli, hari dimana dua tahun lalu Mursi digulingkan oleh tentara setelah terjadi protes massa terhadap satu tahun pemerintahannya.

Pendakwah terkenal  Syeikh Yusuf al-Qaradawi – salah satu orang yang dihukum mati bersama dengan Mursi dan 120 terdakwa lainnya – juga mengkritik putusan itu.

"Vonis ini tidak berharga," kata al-Qaradawi dalam sebuah wawancara dengan saluran berita Qatar Al-Jazeera. "Hukuman ini tidak bisa dijalankan," tambahnya.

Dia membantah tuduhan yang dilontarkan terhadap dirinya bahwa ia terlibat dalam hasutan melawan Mesir.

"Merupakan hal yang biasa bagi orang untuk berbicara melawan ketidakadilan," kata Sheikh al-Qaradawi.

Terdakwa lain, Emad Shahin, juga mengecam putusan itu.

"Saya dijatuhi hukuman mati in absentia," Shahin, yang mengajar di sebuah universitas Amerika, mengatakan. "Saya tegaskan penolakan total saya terhadap semua tuduhan yang dilontarkan terhadap saya," tambahnya.

Juru bicara Ikhwanul Muslimin Muhammad Montasser, menggambarkan hukuman mati terhadap Mursi dan terdakwa lainnya sebagai salah satu tindakan melawan "upaya pertama untuk membawa demokrasi ke Mesir".

"Kami akan mempertahankan revolusi kita," kata Montasser kepada Anadolu Agency.

Aisha, putri dari wakil pemimpin tertinggi Ikhwanul Khairat al-Shater, mengatakan hukuman mati potensial yang dikeluarkan untuk ayahnya menunjukkan "ketidakadilan dan fasisme" dari sistem peradilan Mesir.

Dia mengatakan keluarganya tidak mengakui pengadilan dan keluarga mereka akan terus menentang otoritas saat ini bersama dengan "revolusioner lain yang memperjuangkan kebebasan, martabat dan keadilan".

Wartawan Mesir Gamal Sultan, mengatakan di Twitter bahwa sesungguhnya konflik di Mesir bernilai politik, bukan hukum.

"Sebenarnya pecundang terbesar dalam pelaksanaan hukuman bagi Mursi adalah al-Sisi [presiden Mesir] dan rezimnya," kata Sultan.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom