Para Ahli: Inggris Mengambil 20.000 Pengungsi Suriah Hanya Simbolik

LONDON (Jurnalislam.com) – Para ahli Inggris meyakini bahwa keputusan Inggris untuk mengambil 20.000 pengungsi Suriah selama lima tahun ke depan hanyalah "simbolik".

Setelah membanjirnya curahan simpati untuk pengungsi yang mencari keselamatan di Eropa, pemerintah Inggris dikritik atas rencana menerima sekitar 4.000 pengungsi. Kemudian, Perdana Menteri David Cameron mengumumkan pada 7 September bahwa negaranya akan meningkatkan jumlah tersebut menjadi 20.000.

"Pemukiman bagi 20.000 pengungsi selama lima tahun tentu saja melegakan individu yang bersangkutan, namun jumlahnya terlalu kecil untuk menjadi bantuan yang signifikan dalam krisis pengungsi saat ini. Dengan demikian hampir dapat dianggap hanya simbolis saja," Franck Duvell, peneliti senior dan profesor di Pusat Migrasi, Kebijakan dan Masyarakat (Centre on Migration, Policy and Society), mengatakan kepada Anadolu Agency, Senin, 15 September 2015.

Durvell menambahkan bahwa ada 11 juta orang Suriah yang mengungsi, dan lebih dari empat juta lainnya ke negara-negara di benua lain. "Jadi pemukiman untuk 20.000 pengungsi hanya akan mewakili 0,5 persen dari seluruh pengungsi Suriah Internasional."

Dia mengkritik 5.000 pemukiman per tahun selama periode lima tahun, sebagaimana rencana pemerintah Inggris, dan mengatakan: "Pengungsi membutuhkan bantuan dan perspektif sekarang, tidak dalam lima tahun. Memberikan pengungsi cakrawala lima tahun sebelum mereka menerima bantuan sama juga dengan bersikap sinis…"

Durvell mendefinisikan inisiatif Inggris sebagai "tindakan solo" yang bukan bagian dari respon terkoordinasi Uni Eropa, "Inggris terus menolak solusi Eropa dan menegaskan dalam pendekatan nasional."

Ahli lain, Neil Quilliam, kepala program Timur Tengah dan Afrika Utara (the Middle East and North Africa program)  serta direktur proyek the Syria and Its Neighbours Policy Initiative at Chatham House mengatakan bahwa kunjungan Cameron ke Libanon bertujuan untuk menunjukkan bahwa Inggris telah membuat kontribusi terhadap krisis pengungsi.

Selama kunjungan, Cameron berpendapat bantuan dari negaranya sebesar $ 1,5 milyar untuk pengungsi Suriah sejak 2012 membantu mencegah ratusan ribu pengungsi untuk  "mempertaruhkan hidup mereka berusaha mencapai Eropa."

Quilliam mengatakan, "Hanya mengambil 20.000 pengungsi dan pada tahap yang sangat terlambat, sama sekali tidak memiliki nilai simbolis. Jadi, untuk memiliki nilai simbolik perlu meningkatkan angka-angka ini secara signifikan.."

Quilliam menambahkan. "Saya berada di Turki pekan lalu. Turki menampung dua juta pengungsi. Ini adalah angka fenomenal. 20.000 tidak bisa dibandingkan dengan dua juta."

PBB memperkirakan bahwa lebih dari 220.000 korban telah tewas sejak perang Suriah dimulai dan 10 juta telah mengungsi – 6 juta mengungsi secara internal.

Menurut PBB, pengungsi Suriah yang terdaftar di Turki saja ada sekitar 1,9 juta pada 25 Agustus 2015.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Laporan Lengkap Bentrokan Hari ke Tiga di Masjid Al Aqsha

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Bentrokan antara warga Palestina dan pasukan Israel di Masjid Al-Aqsha Yerusalem telah memasuki hari ketiga saat pasukan Israel terlihat di atap Masjid.

Suleiman Ahmad, presiden Departemen Urusan Yerusalem, yang berada di tempat kejadian, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa setidaknya 36 warga Palestina terluka dalam bentrokan pada hari Selasa (15/09/2015) pagi.

“Mereka menempatkan penembak jitu di atap dan menggunakan peluru karet,” kata Ahmad.

Masjid yang dihormati sebagai situs suci umat Muslim oleh orang Yahudi sering dijadikan lokasi tindak kekerasan.

Warga Palestina dari dalam Masjid Al-Aqsha melemparkan batu dan kembang api ke arah pasukan Israel dan mendirikan barikade untuk mencegah pasukan zionis menutup pintu masuk ke Masjid.

Pasukan polisi Israel akhirnya menutup pintu menuju Masjid dengan warga Palestina masih di dalam.

Polisi Israel berusaha mengizinkan aktivis Yahudi melakukan perjalanan wisata ke pelataran Masjid, yang telah menimbulkan reaksi marah umat Islam Palestina karena di kuatirkan Israel akan mengubah aturan untuk mengunjungi kompleks Al-Aqsha.

Yousef Mukhaimar, kepala gerakan pelindung Al-Aqsha, Murabitoun, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Muslim Palestina “dilarang memasuki Masjid untuk sholat, sementara pemukim Israel diperbolehkan untuk masuk Masjid dan berkeliaran di sekitar dengan bebas di bawah perlindungan polisi”.

“Sebagian besar area Masjid yang terhampar karpet telah terbakar akibat polisi Israel menembakkan bom, peluru dan gas airmata dalam kompleks masjid,” kata Mukhaimar.

“Strategi Netanyahu adalah memenuhi janji untuk kelompok sayap kanan dan ekstremis Yahudi pendukungnya yang  akhirnya menghancurkan Al-Aqsha kemudian membangun kuil mereka di tempat tersebut.”

Azzam Khatib, direktur wakaf dan urusan Masjid Al-Aqsa, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kekerasan di situs itu terburuk dibanding hari-hari sebelumnya.

“Karena warga Palestina berada di dalam masjid, polisi Israel menghadapi kesulitan menyerbu tempat itu sekitar pukul 7:30 pagi ini (selasa pagi). Polisi menggunakan gas air mata, peluru karet, dan granat setrum,” kata Khatib.

“Ada api kecil yang disebabkan oleh granat kejut, semua yang hadir di sini telah memadamkan api, yang terjadi di pintu masuk Masjid.”

Abdel Aziz al-Abasi, anggota Mourabitoun lainnya, mengatakan bahwa polisi Israel telah menutup kompleks Masjid.

“Masalah yang lebih besar di sini adalah bahwa Israel mencoba membangun preseden dengan membagi kompleks Masjid Al-Aqsa menjadi beberapa bagian dengan pengaturan waktu, sehingga mereka dapat memberikan akses bagi pemukim Israel ke Masjid kami,” kata Abasi kepada Al Jazeera.

“Kami tidak akan pernah setuju dengan rencana tersebut karena jelas Israel berusaha untuk mengambil alih sedikit demi sedikit.”

 

Sejak Pelantikan Abdul Fattah al Sisi Hubungan Mesir-Israel Menghangat

JERUSALEM (Jurnalislam.com) – Hubungan antara Mesir dan Israel telah terlihat membaik dalam beberapa bulan terakhir, terutama sejak pelantikan Presiden Mesir Abdul Fattah al Sisi tahun lalu, lansir Anadolu Agency, Senin (14/09/2015).

Namun hubungan hangat pemerintahan antara kedua Negara yang bertetangga tersebut belum diikuti oleh rakyat kedua negara.

Sebagai tanda meningkatnya ikatan antara dua negara, Israel membuka kembali kedutaan besarnya di Kairo pekan lalu, empat tahun setelah mengevakuasi misi diplomatiknya setelah demonstran merobohkan bendera Israel dan mengobrak-abrik gedung setelah pembunuhan lima penjaga perbatasan oleh tentara Israel di Sinai.

Berbicara kepada Anadolu Agency, juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Emmanuel Nahason, menyebut hubungan Israel dengan Mesir, negara yang paling padat penduduknya di dunia Arab, sebagai "hubungan yang baik dan strategis".

"Kami melihat peresmian kedutaan sebagai langkah yang sangat penting, yang merupakan bagian terbaik yang pernah ada dari hubungan [Israel] dengan Mesir," katanya. "Kami sekarang menunggu kedatangan duta besar Mesir untuk Israel."

Mesir adalah negara Arab pertama yang mengakui Israel setelah penandatanganan perjanjian perdamaian pada tahun 1979.

Israel membuka kedutaan besarnya di Kairo pada bulan Februari 1980. Mesir membuka kedutaan besarnya di Tel Aviv satu bulan kemudian. Pada tahun 1982, Israel menyelesaikan penarikan dari Semenanjung Sinai, yang diduduki selama perang Timur Tengah 1967.

Israel dan Mesir telah mengembangkan hubungan ekonomi menyusul penandatanganan perjanjian damai mereka.

Namun, volume perdagangan Israel-Mesir secara drastis menurun sejak tahun 2000, ketika pemberontakan Palestina pecah setelah kunjungan kontroversial politisi Ariel Sharon ke a Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, menurut Kementerian Luar Negeri Israel.

Pada tahun 2001, ekspor Israel ke Mesir sebesar $ 47.000.000, turun dari $ 58.000.000 pada tahun 2000. Sementara impor Israel dari Mesir mencapai $ 20 juta dalam tahun 2001, turun dari $ 20,7 di tahun sebelumnya.

Analis Israel Danny Rubinstein menjelaskan hubungan Israel saat ini dengan Mesir sebagai "ikatan terbaik yang pernah terjadi".

"Setelah 36 tahun penandatanganan perjanjian damai mereka, ada koordinasi yang lengkap antara Israel dan Mesir karena mereka menghadapi musuh bersama, yaitu terorisme," katanya kepada Anadolu Agency.

Dia berargumen bahwa hubungan Israel dengan Mesir selama era mantan Presiden Hosni Mubarak "terpengaruh oleh media".

"Tapi di bawah pimpinan Sisi ikatan ini benar-benar berbeda," katanya, mengutip pertemuan rutin antara pejabat Mesir dan Israel. "Pertemuan ini sangat membantu meningkatkan hubungan antara kedua belah pihak."

Pada tahun 2012, mantan Presiden Muhammad Mursi menarik duta Mesir dari Israel sebagai protes atas serangan Israel di Jalur Gaza yang diblokade.

Tapi pada bulan Juni setelah penggulingan Mursi oleh militer Mesir, Sisi memutuskan untuk mengirimkan duta besar baru untuk Israel.

Namun Rubinstein yakin bahwa hubungan antara masyarakat Mesir dan Israel belum sampai ke hubungan hangat antara pihak berwenang di kedua negara.

"Ada tuduhan konspirasi yang berulang terhadap Israel dan Yahudi," katanya, mengutip pengejaran pihak berwenang terhadap warga Mesir yang bepergian ke Israel.

Israel dipandang negatif oleh masyarakat Mesir akibat kekejamannya terhadap warga Palestina di wilayah penjajahannya.

Tapi Rubinstein juga mengutip sebuah "pergeseran" bagaimana Israel dipandang  media Mesir, mengutip sebuah serial TV baru-baru ini tentang kehidupan orang-orang Yahudi di Mesir selama tahun 1950-an.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Mujahidin IIA: Laporan lengkap Pembebasan Penjara di Ghazni

GHAZNI (Jurnalislam.com) – Sebanyak 450 narapidana, sebagian besar Mujahidin dengan beberapa komandan utama dibebaskan setelah penjara Ghazni diserang, membunuh lebih dari 40 personel keamanan, El Emarah News melaporkan, Senin (14/09/2015).

Larut malam kemarin Mujahidin Imarah Islam menyerbu penjara dengan keamanan maksimum yang berisi 450 narapidana di kota Ghazni, ibukota provinsi Ghazni dan membebaskan seluruh tahanan yang sedang menjalani hukuman.

Operasi dimulai tengah malam saat Mujahidin meluncurkan serangan pada pasukan keamanan, markas polisi dan badan intelijen.

Unit Jihad kota Ghazni bersama dengan ratusan Mujahidin dari seluruh kabupaten di provinsi Ghazni dan tim syahid yang dilengkapi dengan senjata berat dan ringan menyerbu penjara di tengah malam dan memaksa masuk dalam penjara dengan membersihkan semua pasukan keamanan dan pos-pos pemeriksaan.

Diawali ledakan oleh tim syahid di pintu masuk utama dan serangan penembakan langsung Mujahidin ke arah batalion musuh, Mujahidin membersihkan jalan mereka menuju penjara dan menguasai penuh penjara, serta membebaskan semua tahanan.

Seperti yang direncanakan, sekelompok Mujahidin memimpin untuk memastikan pemindahan narapidana berlangsung aman lalu mencoba memotong jalan mencapai sarana transportasi yang telah disiapkan untuk narapidana.

Secara bersamaan, kelompok kedua Mujahidin, sesuai rencana, berjaga-jaga di tempat sampai narapidana dipastikan keluar dari penjara dalam perjalanan yang aman.

Mujahidin juga beriap melakukan penyergapan di sepanjang jalan menuju penjara untuk mencegah datangnya kekuatan tambahan dan bala bantuan serta menggagalkan upaya mereka.

Sebanyak 40 pasukan keamanan termasuk ANA dan ANP tewas dan puluhan lainnya menderita luka yang mengancam nyawa dalam operasi itu. Sejumlah kendaraan militer juga hancur.

Menurut informasi, dari 450 narapidana, sebagian besar adalah komandan Jihad, Mujahidin atau kerabat dan simpatisan Mujahidin dengan pengecualian beberapa tahanan lain.

Karena musuh selalu menjaga Mujahidin terpisah dari tahanan lain, penjara Ghazni sebagian besar terdiri dari Mujahidin, keluarga mereka dan para pendukung ideologi Mujahidin.

Seluruh tahanan keluar penjara dengan aman selama operasi dan kemudian bergabung bersama keluarga terdekat dan kerabat mereka.

Musuh kehilangan semangat karena operasi Mujahidin dan diyakini dalam keadaan shock serta panik. Insiden ini menyebabkan hilangnya semangat dalam diri para tentara bayaran dan polisi boneka.

Akibat terkejut dan panik, musuh belum mampu mengunci pintu masuk penjara apalagi mengejar untuk Mujahidin.

Indikasi lain bahwa musuh patah semangat adalah penaklukan markas kunci oleh Mujahidin di distrik Dayak provinsi Ghazni tadi malam.

Bukannya melakukan perlawanan terhadap serangan Mujahidin atau mengirim bala bantuan untuk mereka yang diserang Mujahidin, musuh mengevakuasi seluruh personel militernya dari markas, meninggalkan sejumlah besar senjata dan amunisi yang akhirnya dikuasai Mujahidin.

Deddy | Shahamat | Jurniscom

 

Jerman Berencana Tampung Satu Juta Pengungsi Suriah Tahun Ini

JERMAN (Jurnalislam.com) – Satu juta orang kemungkinan akan tiba di Jerman mencari status pengungsi tahun ini, meningkat dari rekor 800.000 kedatangan yang telah diprediksi pemerintah sebelumnya, kata wakil rektor Sigmar Gabriel.

"Ada banyak tanda-tanda bahwa Jerman tahun ini akan mengambil bukan hanya 800.000 pengungsi, seperti diperkirakan oleh kementerian dalam negeri, tapi satu juta," tulisnya kepada anggota partai Demokrat Sosial kiri-tengah, Senin (14/09/2015).

Jerman pada hari Ahad memperkenalkan kembali pemeriksaan identitas terhadap orang-orang yang bepergian dalam zona bebas-paspor, Schengen, yang pada dasarnya memutarbalikkan kebijakan pintu terbuka untuk Suriah.

Kementerian Dalam Negeri Slovakia mengatakan pada hari Senin bahwa ia juga telah memperbarui pemeriksaan pada perbatasannya dengan Hungaria dan Austria. Dikatakan bahwa lebih dari 200 petugas tambahan telah dikerahkan di perlintasan perbatasan.

Gabriel menekankan bahwa "semua orang yang mencari suaka di tanah Jerman diperbolehkan untuk tinggal di sini sampai keputusan tercapai. Kami tidak mengubah kebijakan tersebut".

"Tujuannya tidak lain adalah untuk mempertahankan kontrol di perbatasan dalam situasi yang tidak terduga dan luar biasa serta perlahan-lahan kembali ke kebijakan penanganan pengungsi yang lebih tertib.

"Ini termasuk sinyal yang jelas bagi mitra Eropa kami, bahwa Jerman, bahkan jika kami siap melakukan usaha yang tidak proporsional, tidak bisa melakukannya sendiri dan menerima semua pengungsi."

Dia menambahkan: "Jerman adalah Negara kuat dan dapat melakukan banyak hal. Namun, dalam beberapa hari terakhir kita telah melihat bahwa, meskipun dengan niat terbaik, kemampuan kami untuk mengambil pengungsi akan mencapai batasnya – terutama dalam gelombang pengungsi yang mengalir cepat."

Pengungsi terus menyeberangi Mediterania dalam jumlah besar. Lebih dari 5.800 orang masuk Hongaria dalam satu hari, merupakan jumlah tertinggi sejauh ini, polisi Hungaria mengatakan pada hari Senin.

Polisi mengatakan mereka menahan 5.809 migran pada hari Ahad, lebih banyak dibandingkan hari Sabtu sebelumnya sejumlah 4.330.

Pada pukul 08:00 hari Senin, seorang polisi lain mengatakan bahwa 3.280 orang telah ditahan setelah melintasi perbatasan secara ilegal, sehingga total pengungsi di Hungaria tahun 2015 hampir 195.000.

Banyak pengungsi yang membanjiri Eropa bisa ditinggalkan dalam "limbo hukum" karena negara-negara  benua Eropa tersebut mengadopsi langkah-langkah yang berbeda untuk mengatasi situasi yang dihadapi, badan pengungsi PBB memperingatkan.

UNHCR memperingatkan bahwa "kombinasi tindakan individu yang berbeda mungkin menciptakan situasi di mana sejumlah besar pengungsi yang mencari perlindungan yang memang berhak mereka terima di Eropa sesuai dengan hukum internasional, akan menemukan diri mereka bergerak di dalam limbo hukum".

Badan ini bersikeras bahwa "pengumuman terbaru berturut-turut mengenai tindakan kontrol perbatasan yang berbeda oleh sejumlah negara Eropa yang terkena dampak krisis pengungsi dan migrasi hanya menggarisbawahi urgensi membangun respon Eropa yang komprehensif".

"Tanggapan ini harus didasarkan pada pembangunan pusat penerimaan yang efektif, dengan dukungan dari semua pihak termasuk UNHCR, untuk benar-benar membantu, mendaftar dan menyaring orang-orang yang tiba di Yunani, Italia dan Hungaria," katanya dalam sebuah pernyataan di hari Ahad.

"Orang-orang yang membutuhkan perlindungan internasional sesuai dengan hukum internasional harus direlokasi dalam semua negara Uni Eropa berdasarkan mekanisme distribusi yang adil."

Menteri dalam negeri Uni Eropa akan bertemu nanti pada hari Senin depan di Brussels untuk membahas distribusi 160.000 pengungsi dalam blok yang beranggotakan 28 negara tersebut.

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Presiden Turki Bertemu Pemimpin Hamas Bahas Kejahatan Israel di Al Aqsha

 

ANKARA (Jurnalislam.com) – Pemimpin Hamas, Khaled Meshal, pada hari Senin menjelaskan kepada Presiden Turki mengenai bentrokan antara warga Palestina dan pasukan Israel di Masjid Al-Aqsha, kata sumber kepresidenan, Anadolu Agency melaporkan, Senin (14/09/2015)

Recep Tayyip Erdogan bertemu Meshal, setelah kekerasan meletus pada hari Ahad dan berlanjut hingga Senin di sebuah lokasi di Yerusalem timur, Masjid Al Aqsha.

Erdogan mengutuk kekerasan yang menyebabkan puluhan terluka, kata sumber itu pada kondisi anonimitas. Meshal berterima kasih pada Erdogan atas sensitivitas dan dukungannya.

Pasukan penjajah Israel menarik diri dari kompleks itu pada hari Senin menyusul bentrokan sengit dengan warga Palestina, Sheikh Azzam al-Khatib, direktur jenderal urusan Al-Aqsha, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Polisi zionis yang ditempatkan di kompleks tersebut kemudian mulai mengizinkan warga Palestina kembali ke Al Aqsha.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Hamas Serukan Seluruh Rakyat Palestina Konfrontasi dengan Israel

GAZA (Jurnalislam.com) – Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengumukan siaga umum hari Jumat pekan ini untuk membela dan menolong Masjid Al-Aqsha dan menghadang keputusan pasukan 'Israel' membagi waktu dan tempat di masjid tersebut serta membela wanita-wanita dan para sekuritinya yang berjaga di sana, Infopalestina melaporkan, Senin (14/09/2015).

Dalam keterangannya Hamas menegaskan, pihaknya sudah menyerukan kepada seluruh rakyat Palestina dimanapun berada agar ikut aksi luas pada Jumat ini dan untuk menyalakan konfrontasi dengan penjajah 'Israel' yang berusaha menciptakan status quo baru di sana.

Hamas meminta kepada seluruh warga Palestina agar memenuhi seruan agama, seruan membela bumi Palestina dan seruan kota Al-Quds dan masjid Al-Aqsha. Aksi massa besar-besaran inilah yang akan menghalangi rencana 'Israel' dan berusaha membagi masjid tersebut.

Kota Al-Quds sejak beberapa hari lalu mengalami eskalasi kekerasan berbahaya dari 'Israel' yang berusaha membagi waktu di masjid Al-Aqsha untuk umat Islam dan Yahudi. Sejak dua hari terakhir halaman masjid Al-Aqsha sudah terjadi konfrontasi dan bentrokan setelah warga Palestina yang berjaga di sana menghadang serbuan warga Yahudi yang merangsek masuk ke masjid Al-Aqsha.

Deddy | Infolapestina | Jurnicom

Serangan Terkoordinasi Taliban Afghanistan Bebaskan 140 Mujahidin dari Penjara Ghazni

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Mujahidin Imarah Islam Afghanistan (Taliban Afghanistan) membebaskan lebih dari 140 mujahidin dan 200 tahanan lainnya dalam serangan istisyhad yang terkoordinasi di penjara provinsi Ghazni, Afghanistan tenggara hari Senin,( 14/09/2015). Di antara mereka yang dibebaskan termasuk 17 mujahidin Taliban yang dianggap "berbahaya", Kementerian Dalam Negeri Afghanistan menyatakan pada hari Senin, lansir The Long War Journal.

Mujahidin Taliban bersenjata berat menyamar mengenakan seragam militer Afghanistan lalu menyerang penjara, yang hanya berjarak empat mil di luar ibukota provinsi Ghazni, pada pukul 2:00 dini hari waktu setempat Afghanistan. Menurut sebuah pernyataan yang dirilis pada Voice of Jihad, situs resmi Taliban, "10 pencari syahid (pembom istisyhad) dan puluhan Mujahidin lainnya " mengeksekusi operasi terhadap penjara yang penjagaannya buruk tersebut.

Mujahidin IIA  merencanakan serangan dengan cara mencegah bala bantuan mencapai penjara. "Jalan ke penjara tertutup dengan ranjau darat di depan untuk menghalangi bala bantuan," wakil gubernur kota Ghazni mengatakan kepada wartawan, menurut Reuters. "Sebuah kendaraan militer bala bantuan yang datang diledakkan oleh bom pinggir jalan ketika mencoba untuk mencapai penjara."

Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengatakan bahwa empat penjaga penjara tewas dalam serangan itu.

Taliban mengatakan hanya 3 pencari syahid yang gugur dalam operasi sementara seluruh sisanya selamat dan kembali ke basis pertahanan.

Dari 436 tahanan di penjara, 355 melarikan diri. Menurut Kementerian Dalam Negeri, 148 dari pelarian dianggap "ancaman bagi keamanan nasional". Taliban mengatakan bahwa semua orang yang dibebaskan dari penjara "dipindahkan ke daerah yang dikuasai Mujahidin".

 

Deddy | Jurniscom

Milisi Houthi Kehilangan Posisi Kunci di Provinsi Marib

YAMAN (Jurnalislam.com) – Dengan dukungan dari pasukan koalisi yang dipimpin Saudi, tentara Yaman dan pasukan perlawanan rakyat mampu mengambil kendali posisi kunci di provinsi Marib, Al Arabiya melaporkan, Senin (14/09/2015).

Karena kemajuan koalisi yang dipimpin Arab dan pasukan pro-pemerintah, milisi Syiah Houthi dan pemberontak yang setia kepada mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh terputus dari jalur pasokan mereka di daerah pada hari Senin.

Helikopter Apache saat ini mengambil bagian dalam operasi militer dalam upaya menghancurkan peralatan militer milik milisi Houthi.

Di bagian lain Yaman, Tentara dan pasukan koalisi yang dipimpin Arab mampu mengontrol wilayah lain di daerah al-Jafna dimana puluhan milisi Houthi dan pro-Saleh tewas dan terluka. Helikopter Apache mampu menghancurkan beberapa kendaraan militer dan mampu mengejar para pemberontak, di tengah laporan pelarian massal dari posisi mereka.

Pasukan Perlawanan Rakyat berusaha menjaga musuh dari "Tepe al-Msariyah," area strategis di Marib dan sedang bergerak menuju Serwah, Jadaan dan depan Moukhadra.

Sementara itu, sumber-sumber Perlawanan Rakyat mengatakan bahwa sejumlah besar pasukan telah masuk melalui persimpangan Wadia, menuju provinsi al-Jawf untuk memulihkan wilayah tersebut dari cengkeraman musuh.

Di Taez, puluhan pejuang tewas dan terluka dalam bentrokan yang terjadi di sekitar istana presiden. Daerah lain seperti Bararh dan Arbaeen, juga terjadi bentrokan berat. Musuh masih banyak berada di sekitar lingkungan perumahan di Yaman.

Deddy | Al Arabiya | Jurniscom

Lembaga Solidaritas Maroko: “Al Aqsha Kita dalam Bahaya Apa yang Kita Tunggu?”

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Lembaga solidaritas ummat Maroko meminta pihak-pihak Arab dan umat Islam, baik pemerintah ataupun rakyatnya segera bergerak menghentikan kejahatan tentara penjajah Israel di dalam Masjid Al-Aqsha.

Dalam keteranganya yang dilansir pusat Infopalestina pada hari Senin (14/09/2015),  dengan judul “Al Aqsha Kita dalam Bahaya Apa Yang Kita Tunggu?”. Mereka mengecam kejahatan yang dilakukan pemerintah Zionis terhadap hak-hak Masjid Al-Aqsha. Mereka mengungkapkan solidaritasnya secara full terhadap para penjaga Al_Aqsha yang mengalami penganiayaan dari serdadu Zionis.

Lembaga ini juga meminta Otoritas Palestina menghentikan semua bentuk koordinasi keamanan dengan Israel dan membiarkan warga Palestina di Al_Quds melakukan pembelaanya terhadap Al-Aqsha. Ia juga menganggap pemerintah Jordania dan komite Al-Quds serta lembaga Islam dan Arab bertanggung jawab atas kondisi saat ini di Al-Aqsha.

Di sisi lain, lembaga juga meminta rakyat Arab dan umat Islam segera bergerak menyelematkan Al-Aqsha yang sedang mengalami konspirasi pembagian oleh pemerintah Zionis baik waktu maupun tempatnya.

Dalam hal ini, lembaga juga memuji dan bersyukur kepada para pejuang Al-Aqsha yang masih bertahan di dalamnya, walau harus menghadapi penganiayaan dan arogansi tentara Zionis Yahudi.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom