Barat Tolak Proposal Rusia untuk Suriah

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Rencana Rusia untuk reformasi politik di Suriah tidak akan menjadi titik fokus pembicaraan Wina mendatang yang bertujuan untuk menyepakati peta jalan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung empat tahun tersebut, utusan Inggris untuk PBB mengatakan Rabu (11/11/2015).

Rusia membeberkan rencana berisi delapan poin yang menyerukan pemilu setelah terjadinya proses reformasi konstitusi Suriah selama 18 bulan, di putaran terakhir perundingan internasional di Wina pada 30 Oktober, lansir World Bulletin, Kamis (12/11/2015).

"Kami memahami proposal Rusia," kata Duta Besar Inggris, Matthew Rycroft, kepada wartawan.

"Rencana delapan poin itu sendiri bukanlah pusat untuk diskusi di Wina, tetapi di Rusia," kata Rycroft.

Sekitar 20 negara dan badan-badan internasional akan bertemu di Wina pada hari Sabtu (14/11/2015) untuk mencoba menyepakati rencana perdamaian yang akan mencakup gencatan senjata antara rezim Bashar al-Assad dan beberapa kelompok oposisi.

Diplomat Barat lainnya menolak rencana yang disajikan hampir dua minggu lalu tersebut dan menganggapnya sebagai non-starter karena tidak menjelaskan kelanjutan rezim  Assad.

Amerika Serikat dan sekutu Eropa serta Arab menuntut Assad harus dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan di beberapa titik dalam transisi, namun Iran dan Rusia tidak setuju.

Seorang diplomat Dewan Keamanan menjelaskan proposal reformasi Rusia itu sebagai "barang di belakang amplop" dan mengatakan bahwa itu bukan sebuah jawaban.

Rencana Rusia itu tertuang dalam sebuah dokumen berjudul "pendekatan untuk penyelesaian krisis Suriah" yang menyerukan pembentukan komisi konstitusi yang terdiri dari anggota kelompok domestik dan di luar oposisi.

Dokumen ini menetapkan bahwa presiden Suriah tidak akan memimpin komisi konstitusi dengan pilihan yang akan disepakati oleh anggota komisi.

Dalam proposal ini, pemilihan parlemen dan presiden akan diadakan secara bersamaan setelah konstitusi disetujui dalam referendum.

Tapi dokumen tersebut tidak menentukan bahwa Assad tidak akan diizinkan untuk ikut dalam pemilihan tersebut.

"Itu saja tidak cukup," kata diplomat, yang meminta untuk tidak diidentifikasi.

"Harus ada kejelasan lebih besar dari itu, kepastian yang lebih besar," katanya.

"Yang harus menjadi bagian dari kesepakatan akhir adalah bahwa titik akhirnya Assad tidak akan berkuasa."

Para diplomat mengatakan Arab Saudi khususnya mengambil sisi garis keras dan bersikeras pada komitmen yang jelas menentang musuh bebuyutannya, Iran, dan juga Rusia, untuk memastikan bahwa Assad keluar dari panggung politik.

Seorang diplomat Rusia mengatakan dokumen itu lebih terlihat seperti visi bukannya rencana dan menekankan bahwa diskusi tentang jalan Suriah ke depan sedang berlangsung.

Pada pertemuan Dewan Keamanan tertutup pada Selasa, ide-ide Rusia tersebut tidak dibahas, namun utusan Staffan de Mistura mengulurkan harapan bahwa gencatan senjata bisa disepakati dalam perundingan Wina pada hari Sabtu.

De Mistura mengutip surat yang ia terima Ahad ini dari Suriah yang berjanji untuk menghentikan penggunaan senjata yang sewenang-wenang sebagai tanda bahwa mungkin ada jeda dalam pertempuran, kata para diplomat.

Utusan itu berharap bahwa gencatan senjata akan menyelesaikan perang  antara kelompok bersenjata di Suriah yang dianggap “koalisi pejuang Suriah” dan yang merupakan bagian dari oposisi dengan rezim Assad.

Mereka yang menghormati gencatan senjata akan diberi kesempatan yang lebih baik mendapatkan pengakuan sebagai kelompok oposisi dengan duduk di meja untuk terlibat pembicaraan damai, kata para diplomat.

Pembicaraan Wina menandai upaya internasional yang serius untuk mengakhiri perang global yang telah membuat 250.000 orang tewas dan memicu krisis pengungsi terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Gerombolan Tentara Israel Serang Rumah Sakit dan Bunuh Warga Palestina Secara Brutal

PALESTINA (Jurnalislam.com) –  Sejumlah pasukan khusus Israel dalam operasi penyamaran menyerbu Rumah Sakit al-Ahli di Hebron dan menembak mati warga Palestina berusia 27 tahun, Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, lansir Aljazeera, Kamis (12/11/2015).

Abdullah al-Shalaldeh dibunuh oleh tembakan berkali kali secara brutal pada hari Kamis pagi setelah 21 gerombolan pasukan unit khusus zionis, yang dikenal sebagai Mustaarabin, menerobos ke dalam kamar rumah sakit tempat sepupunya, Azzam al-Shalaldeh, dirawat, kata pernyataan kementerian tersebut.

Komando zionis ingin menginterogasi Azzam, yang harus dioperasi setelah sebelumnya ditembak oleh pasukan penjajah Israel, kemudian sepupunya mencoba untuk mencegah saat Israel mencoba melepaskan tembakan.

Setelah membunuh Abdullah, pasukan Israel menangkap Azzam yang sedang memulihkan diri pasca operasi di rumah sakit.

Dr Jihad Shawar, direktur Rumah Sakit al-Ahli, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pasukan Yahudi tersebut memasuki fasilitas kesehatan tersebut sekitar pukul 3.00 waktu setempat.

Salah satu tentara dilaporkan menyamar sebagai seorang wanita hamil dalam persalinan.

"Mereka langsung menuju ke bangsal bedah, tempat Azzam al-Shalaldeh dirawat," kata Dr Shawar kepada Al Jazeera. Ketika sepupu Azzam Abdullah keluar dari kamar mandi, dia ditembak berkali-kali di kepala dan tubuh.

"Mereka menjadikan kru medis rumah sakit sebagai sandera di bawah todongan senjata. Mereka menangkap pasien dan membawanya pergi, meninggalkan sepupunya mati kehabisan darah," tambah Dr Shawar.

Al Jazeera tidak dapat menghubungi juru bicara polisi Israel. Jasa keamanan internal Israel mengkonfirmasi serangan di rumah sakit, menurut kantor berita Agence-France Presse.

Rekaman CCTV yang diposting di Twitter menunjukkan saat-saat gerombolan pasukan zionis Mustaarabin memasuki rumah sakit sebelum penembakan.

Mustaarabin, sebuah unit militer Yahudi Israel berbahasa Arab baru-baru ini menjadi terkenal setelah muncul video mereka menyusup dalam protes Palestina, memakai topeng dan berbicara dalam bahasa Arab.

Video tersebut menunjukkan mereka berbalik ke arah warga Palestina, menembak mereka dari jarak dekat.

Kematian warga Palestina di tangan tentara Israel tersebut mencerminkan apa yang dianggap kelompok hak asasi sebagai kebijakan Israel melakukan “extrajudicial killing”.

Pasukan Undercover  Zionis Yahudi Israel juga memiliki kebiasaan merampok rumah sakit untuk menangkap warga Palestina yang dirawat di sana.

Gambar diatas menunjukan para Staf rumah sakit al-Ahli di Hebron, Tepi Barat yang dijajah, melakukan protes setelah serangan dan pembunuhan yang dilakukan oleh pasukan yahudi Israel.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

 

Muslim Indonesia Sumbang Ambulans untuk Muslim Suriah

SALMA (Jurnalislam.com) – Bantuan umat Islam Indonesia berupa mobil ambulan memalui Auction4Humanity telah diterima pihak Rumah Sakit Lapangan yang terletak di Salma, Jabal Akrod, Suriah.

Ambulan tersebut dibeli dari hasil pengumpulan dana Auction4Humanity melalui penjualan barang-barang layak jual dari masyarakat maupun sumbangan tunai dari para dermawan umat Islam Indonesia.

Pihak Rumah Sakit Salma mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia atas kepeduliannya kepada penduduk Syam (Suriah, red) yang sedang dilanda konflik. Hingga saat ini berdasar data PBB, lebih dari 250.000 jiwa telah menjadi korban sejak 2011.

"Semoga setiap dollar yang disumbangkan untuk penduduk Syam melalui ambulan ini mendapat balasan kebaikan," ujar perwakilan dari RSL Salma melalui video, Kamis (12/11/2015).

Adapun mobil ambulan itu akan digunakan untuk mengangkut para korban atau pun jenazah di medan pertempuran. Seiring keterlibatan Rusia dalam konflik yang membuat kondisi semakin sulit.

"Ini adalah ambulan dari saudara kami Auction4Humanity dari Indonesia hasil penggalangan dana, ambulan ini nanti akan digunakan untuk mengangkut korban luka atau pun jenazah di lapangan," ujarnya lagi.

Auction4Humanity | Editor : Ally

Diprotes Ansharusyariah, Acara Seminar LGBT di Semarang Bubar

SEMARANG (Jurnalislam.com) –  Puluhan anggota Jamaah Ansharusy Syariah pada Kamis (12/11/2015) mendatangi kampus Universitas Diponegoro untuk memprotes acara seminar tentang LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual & Transgender).

"Jelas acara tersebut bertentangan dengan hukum dan norma-norma yang berlaku di negeri ini karena hubungan dan pernikahan sesama jenis di Indonesia dilarang, apalagi dari sisi hukum Islam," tegas Abu Sumayah, Amir Jama'ah Ansharusy Syari'ah Semarang. 

Kepada pihak kampus, Ansharusyariah menyampaikan keberatannya dan meminta pihak kampus untuk membatalkan acara tersebut.

"Alhamdulillah tadi kami berdialog dengan wakil dekan fakultas hukum. Beliau juga sependapat dengan kami dan akhirnya acara tersebut bisa di bubarkan," lanjut Abu Sumayah. 

Selain itu, acara tersebut dinilai ilegal oleh pihak kampus karena telah menyalahi prosedur. 

"Acara ini sangat sensitif. Karena menurut pandangan HAM berbeda dengan menurut pandangan agama. Oleh sebab itu pihak universitas melarang acara ini. Kalau mau menyelenggarakan acara seperti ini jangan disini dan jangan bawa nama kampus,“ ujar Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Undip, Solehan.

"Disamping temanya sensitif prosedurnya juga salah," tambahnya.

Acara yang rencananya digelar di Ruang H.302 Fakultas Hukum Undip pukul 15.30 sore itu akhirnya dibatalkan. Pintu masuk tempat acara langsung ditutup dan peserta diminta untuk membubarkan diri.

Sebelumnya, di media-media sosial beredar informasi berkenaan seminar yang diadakan oleh Majalah Kampus "LPM GEMA KEADILAN FH UNDIP" bertemakan "LGBT DALAM SOSIAL MASYARAKAT INDONESIA". Acara tersebut menghadhirkan, Yosef (Ketua Komunitas Gay Semarang) sebagai salah satu pembicaranya.

Reporter : Agus Pati | Editor : Ally

Ustadz Qushoy : Semoga Penangkapan ini Menjadi Bahan Dakwah Amar Maruf Nahi Munkar

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Sejak Ahad pagi, (08/11/2015), aktivis Islam Kota Santri, Ustad Qushoy meringkuk dalam tahanan Polresta Tasikmalaya. Ia dijadikan tersangka pembakaran kios miras usai melakukan razia miras sekitar pukul 02.00 WIB dini hari di Jalan BKR, Tawang, Kota Tasik pada hari yang sama.

Diwawancarai wartawan anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Ustad Qushoy mengatakan bahwa setelah dilakukan pengaduan kepada aparat namun tak digubris, sejumlah ormas yang merasa resah melakukan monitoring secara rutin aktivitas kios jamu yang menjual miras tersebut.

Dalam pemantauan para aktivis Islam di Tasikmalaya, Charles Chaniago alias Ibar, sang pedagang miras mengaku tak takut dengan keberadaan polisi atau ormas Islam.

“Saya tidak takut dengan aparat, dengan ormas. Saya terus pasok miras di Tasikmalaya,” ujar Ibar seperti ditirukan oleh Ustadz Qushoy.

Meski demikian, ormas Islam belum bergerak karena masih menghormati keberadaan aparat. Namun, setelah lama tidak ada reaksi dari kepolisian, umat Islam dengan segenap elemennya di Tasikmalaya akhirnya gerah juga.

Apalagi, menurut keterangan warga sekitar, ditemukan dugaan bahwa polisi turut menerima uang dari hasil penjualan miras. 

Diceritakan Ustad Qushoy, akhirnya pada Ahad dini sejumlah laskar Kota Santri bergerak ke Jalan BKR untuk men-sweeping kios miras. Namun, tak disangka, Ustad Qushoy malah diteriaki maling oleh pemilik kios dan dikeroyok massa.

“Jam 3 sampai jam 4 kurang 10 menit mereka memukul, menendang bahkan memakai alat (untuk menyiksa, red). Itulah ganasnya ahli maksiat,” kata dia.

Sekitar satu jam setengah, ia dikeroyok preman dan warga. Namun Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah ia selamat. Adapun, temannya yang bernama Misbah, saat diteriaki maling berhasil melarikan diri. Keesokan harinya, Misbah juga diciduk oleh kepolisian dari rumahnya di Taman sari, Gobras, Kota Tasik.

Ustad Qushoy kemudian dibawa oleh polisi ke Polsek Tawang. Namun, aparat pun masih mengira bahwa dirinya benar-benar maling seperti yang dituduhkan. Tak ayal, di dalam mobil ia pun digebuki, dan disikut.

“Mereka (polisi) tidak tahu bawa saya Ustad Qushoy. Habis di Polsek Tawang, saya mengambil air wudu baru mereka sadar dan meminta maaf,” jelas aktivis Islam ini.

Sekitar pukul 07.00 Ahad pagi, ia dilimpahkan ke Polresta Tasikmalaya dengan bahasa akan ‘diamankan’. “Tapi malah diminta keterangan lalu dijadikan tersangka, Innalillahi. Di sinilah penzaliman dan pengkhianatan terjadi,” tukasnya.

Terakhir, dari balik jeruji, Ustad Qushoy berpesan semoga insiden kriminalisasi atas dirinya menjadi bahan dakwah dalam menegakkan amar maruf nahi munkar. Sebab, menurutnya, Tasikmalaya dikenal luas sebagai Kota Santri dan Kota Kyai. Oleh sebab itu, umat Islamnya jangan hanya bisa berbicara tanpa ada realisasi perbuatan.

“Karena jika itu yang terjadi, khawatir besok para kyai dan santri akan diinjak-injak oleh hukum setan, hukum thaghut, hukum yang dibuat-buat oleh manusia. Wassalam,” pungkas dia.

Reporter : Lutfi | Editor : Fajar Shadiq | JITU

Dikriminalisasi Aparat, Ustadz Qushoy: Jangan Diam Terhadap Kemungkaran

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Ustad Iwan Qushoy atau biasa dipanggil Ustad Kusoy, aktivis nahi munkar kota Tasikmalaya yang dikriminalisasi polisi menyatakan peristiwa penangkapannya ini ia terima dengan lapang dada.

“Penangkapan dan penahanan ini saya terima dengan lapang dada, yang penting hikmahnya bisa lebih maslahat terutama bagi para instansi (aparat kepolisian-red) yang masih mengakui Islam,” kata Ustad Qushoy kepada Jurnalis Islam Bersatu (JITU) pada Rabu, (11/11/2015) di tahanan Polresta Tasikmalaya.

Namun, ia berpesan kepada para kyai, ajengan, alim-ulama dan para santri di Kota Tasikmalaya jangan sampai diam terhadap kemungkaran.

Tokoh Islam Tasikmalaya ini ditangkap aparat pada Ahad dini hari (08/11/2015) setelah merazia kios jamu yang menjual miras di Jalan BKR, Tawang, Kota Tasikmalaya bersama sejumlah laskar ormas. Oleh pemilik kios miras, Ustad Qushoy diteriaki maling dan akhirnya digebuki warga.

Kemudian, ia diamankan oleh Polsek Tawang yang datang satu jam setelah pengeroyokan. Keesokan harinya, Ustad Qushoy dipindahkan dari Polsek Tawang ke Polresta Tasikmalaya dan dijadikan terdakwa pembakaran kios.

Kepada JITU, Ustad Qushoy menjelaskan salah satu hikmah penangkapan dirinya adalah rencana pemerintah yang katanya akan meratakan kios di Jalan BKR dari tempat-tempat yang diduga menjual minuman keras.

Ia juga menegaskan bahwa razia kios miras di Jalan BKR, Tawang itusebetulnya bukan atas dorongan siapa pun. “Itu adalah dorongan dari wahyu Allah SWT dalam Al-Quran yang telah merasuk ke dalam jiwa saya, sebagai orang Islam berhak untuk menghancurkan segala makar, kemaksiatan dan kemunkaran,” pungkasnya.

Reporter : Lutfi | Editor : Fajar Shadiq, Ally | JITU

Warga: Kios Jamu Penjual Miras Sudah Berkali-kali Digerebek Aparat Tetapi Masih Bisa Berjualan

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Asep (45 tahun), warga Jalan BKR Kota Tasikmalaya menceritakan warga setempat tak banyak yang mengetahui bahwa kios milik Charles Chaniago yang dibakar ormas pada Ahad, (08/11/2015) lalu menjual miras.

 “Masyarakat kebanyakan tahunya cuma dagang jamu, cuma gitu aja. Tapi memang warung itu bukan sekali dua kali digerebek, sering operasi oleh Dalmas tetapi tetap saja masih (berjualan, red),” kata Asep kepada Jurnalis Islam Bersatu (JITU), kemarin (11/11/2015).

Sebagai penduduk Kota Santri, Asep mengaku risih dan malu dengan keberadaan penjual miras secara bebas di Tasikmalaya. Apalagi sejak Juni 2012, perda Syariah telah diberlakukan secara resmi di kota tersebut.

“Kita tidak bisa berbuat banyak, padahal polisi juga tahu tapi kok diam-diam saja,” keluhnya.

Sementara itu, Wawan Aples, ketua salah satu kelompok ormas, menceritakan, pada Ahad dini hari (08/11) tadi beberapa rekannya akan menggelar operasi minuman keras (miras) di jajaran kios yang dibakar.

Namun, sebelum menjalankan aksinya massa keburu diteriaki maling. Warga mengejar dan berhasil menangkap salah satu di antara mereka, yaitu Ustad Iwan Qushoy. Ia pun jadi sasaran amuk warga. Ustad Qushoy disiksa ramai-ramai. 

Baca juga : Begini Kronologis Penangkapan Aktivis Islam dan Pembakaran Kios Miras di Tasikmalaya

Untuk meredam situasi, Ustad Qushoy langsung diamankan polisi. Hingga saat ini ia masih berada di kantor Polres Tasikmalaya Kota. Rekan-rekannya pun mendatangi kantor polisi untuk melihat keadaan Ustad Qushoy. Bersamaan dengan itu, sejumlah massa tak dikenal langsung bergerak ke Jl. BKR, lalu terjadilah pembakaran kios yang sering menjual miras itu. Di dalam kios, mereka mendapatkan puluhan botol miras yang disembunyikan di bawah papan.

Wawan menjelaskan, masih adanya ormas yang turun ke jalan untuk operasi miras, lantaran tidak puas dengan kinerja aparat. “Kami punya kewajiban untuk amar maruf nahyi munkar. Itu hukumnya wajib. Kalau polisi bisa membereskan tempat penjualan minuman keras, tempat esek-esek, cafe remang-remang, pasti kami tidak akan turun ke jalan,” tuturnya.

Keberadaan kios jamu milik Charles Chaniago di Tasikmalaya memang diketahui sudah cukup lama. Menurut penuturan warga, kios itu sudah ada sejak tahun 2007.

Menurut salah seorang pemuda setempat, Galih (23 tahun), keberadaan kios penjual miras ini memang sudah sangat memprihatinkan sekali. Pasalnya, miras sudah diperjualbelikan secara bebas.

“Orang sudah gampang kalau mau mendapatkan miras. Anak-anak sekolah juga sudah gak bisa dikontrol lagi,” kata Galih.

Sebagai putra Tasikmalaya Galih berharap aparat bertindak adil dan serius dalam kasus ini. Ia juga berharap orangtua dapat meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak sehingga tidak ikut-ikutan mngkonsumsi miras. Dan yang tak kalah penting, “Pengedarnya diberantas semua,” pungkas Galih.

Reporter : Lutfi | Editor : Fajar Shadiq | JITU

 

Begini Kronologis Penangkapan Aktivis Islam dan Pembakaran Kios Miras di Tasikmalaya

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Seorang aktifis amar ma'ruf nahi munkar, Ustad Iwan Qushoy, diserang warga dan ditangkap polisi usai merazia sebuah kios jamu yang menjual miras di Jl. BKR, Tawang, Kota Tasikmalaya, Ahad (8/11/2015) dini hari.

Berikut penelusuran Jurnalis Islam Bersatu di Tasikmalaya terkait kasus tersebut.

  • Kios jamu milik Charles Chaniago diduga kerap menjual minuman keras secara ilegal. Warga setempat yang merasa resah dengan keberadaan kios tersebur sudah menegur berkali-kali, tapi tak digubris. Warga juga menduga aparat kepolisian sudah mengetahui penjualan miras secara ilegal di kios jamu milik Charles.
  •  Setelah diberlakukan perda Syariat di Kota Tasikmalaya sempata ada kesepakatan awal antara warga dengan kepolisian, jika ada pelanggaran dalam Perda Syariat, warga maupun santri dipersilahkan melapor ke polisi nanti polisi yang akan mengambil tindakan.
  • Namun, setelah dilaporkan berkali-kali kepada pihak yang berwajib, polisi tidak mengambil tindakan.
  • Akhirnya pada Ahad, (08/11) sekitar pukul 02.00 sejumlah laskar ormas menggelar razia miras di kios Charles. Namun, salah seorang laskar, yaitu Ustad Iwan Qushoy yang menyambangi kios jamu tersebut malah diteriaki maling dan digebuki warga Jalan BKR.
  • Malam itu juga, Ustad Iwan Qushoy ditangkap polisi, sekitar pukul 4.30 dini hari di Jl BKR Tawang, Kota Tasik.
  • Keesokan harinya, Wali laskar datang ke Polres Tasikmalaya untuk mengurusi laskar yang diamankan polisi.
  • Bersamaan dengan itu, kios jamu milik Charles Chaniago alias Ibar dibakar oleh OTK. Sekitar pukul 10.30, Ahad siang (08/11), kios jamu ludes terbakar dan menjadi tontonan warga. Api turut menjalar ke kios sebelah yang menjual Nasi Tutug Oncom.
  • Tak lama, polisi kembali menciduk seorang anggota ormas bernama Misbah di rumahnya, Taman Sari, Gobras, Kota Tasik.
  • Masyarakat dan ormas Islam mengaku kecewa dengan sikap polisi yang dianggap berat sebelah. Pihak keamanan hanya menangkap ormas yang melakukan razia namun pemilik kios dan pelaku pengeroyokan tak disentuh aparat. 

Reporter : Ally Editor : Fajar | JITU

AQAP Rilis Video “Battle of al Jamaliyah”, Pertempuran di Selatan Kota Taiz, Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP), cabang resmi al Qaeda di Yaman, telah merilis rekaman berkualitas tinggi memperlihatkan mujahidin AQAP di kota strategis selatan Taiz. Dalam beberapa adegan, para mujahidin terlibat dalam pertempuran jalanan melawan para pemberontak Syiah  Houthi yang didukung Iran, lansir The Long War Journal, Rabu (11/11/2015).

Video, berjudul "Battle of al Jamaliyah," dimulai dengan jihadis mewawancarai warga Taiz tentang kekejaman Syiah Houthi pada mereka. Bangunan hancur, warga sipil tewas dan terluka, terlihat setelah serangan Houthi di salah satu distrik kota.

Video kemudian menunjukkan warga sipil membahas serangan ini dan para mujahidin AQAP bersiap untuk melawan pasukan  Syiah Houthi. Pertempuran dimulai ketika seorang pejuang AQAP menembakkan roket granat (RPG) di gedung yang dikuasai Houthi.

Lalu dilanjutkan dengan tembakan senjata lainnya dari berbagai varian seperti senapan serbu Kalashnikov, senapan mesin PK, dan senapan mesin berat DShK. Kebanyakan pertempuran yang terjadi adalah pertempuran dari rumah ke rumah, baik di siang maupun malam hari.

Taiz, ibukota Yaman, saat ini diperebutkan antara Syiah Houthi dan sekutu mereka yang pro kepada Ali Abdullah Saleh, melawan pasukan pro-Abd Rabbuh Mansur Hadi. AQAP juga berusaha menguasai kota strategis di selatan. Video ini dirilis hanya beberapa minggu setelah pasukan pemerintah, yang didukung oleh koalisi pimpinan Arab, melaporkan keberhasilan di Taiz.

Pasukan yang setia kepada Hadi melaporkan bahwa mereka mendapat kemenangan di pegunungan di luar kota. Selain itu, UEA telah mengatakan bahwa mereka mengirimkan lebih banyak pasukan ke daerah itu untuk membantu membebaskan kota Taiz yang terkepung.

AQAP  mampu memanfaatkan situasi pertempuran dan membuat beberapa keuntungan di negara Yaman. AQAP merebut kota pesisir di provinsi Hadramout Mukallah pada bulan April dan membebaskan lebih dari 300 tahanan setelah menguasai penjara kota. Saat Houthi menduduki Sanaa, AQAP mampu merebut sebuah pangkalan militer di provinsi Shabwa. AQAP juga merebut beberapa kabupaten di dalam kota pelabuhan strategis Aden. Selain itu, cabang al Qaeda di Yaman berhasil menguasai wilayah di Abyan, Al Bayda, Lahj, dan provinsi Marib.

AQAP mencoba menjauhkan diri  dari sasaran sipil, mengatakan bahwa mereka "berkomitmen mentaati pedoman" yang dikeluarkan oleh amir al Qaeda Ayman al Zawahiri, yang melarang "menargetkan masjid, pasar, dan tempat umum karena keprihatinan mereka atas kehidupan umat Islam yang lainnya, dan untuk memprioritaskan sasaran yang lebih penting”.

Strategi AQAP hanya melakukan serangan terhadap sasaran-sasaran militer dan pemerintah, AQAP berhasil membangun dukungan di antara beberapa suku Yaman, yang mereka perlukan untuk memperpanjang perjuangannya di Yaman.

Deddy | The Long War Journal | Jurniscom

Bantah Pernyataan ustadz Maulana, ketua MUI Situbondo : "Dia Berdosa Besar"

SITUBONDO (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Situbondo, KH Saiful Muhyi S.Pd membantah pernyataan kontroversial Ustadz Maulana yang menyebut bahwa kepemimpinan tak ada kaitaannya dengan agama. Menurut Saiful, masalah kepemimpinan itu dijelaskan dalam Al Qur'an.

"Ayate keliru, ini yang bener. Padahal masalah kepemimpinan dalam Islam langsung dijelaskan oleh Allah dalam banyak FirmanNya dalam Al Qur’an,” tegasnya kepada Jurnalislam, Rabu (11/11/2015).

Beliau mengutip beberapa ayat dalam Al Qur'an, diantaranya surat Ali Imran ayat 28 : "Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir sebagai wali (pemimpin/pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu)."

Juga ayat 51 dalam surat Al Maidah : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Pernyataan kontroversial ustadz kondang bernama lengkap Muhammad Nur Maulana itu disampaikan dalam acara "Islam itu Indah" yang disiarkan salah satu stasiun Tv swasta pada Senin, (9/11/2015). Pria asal makasar ini juga mengatakan bahwa mempertanyakan agama seorang pemimpin merupakan bagian dari" black campign atau kampanye hitam.

"Dia itu dosa besar ngomong seenaknya," tegas Kyai Saiful.

Sebelumnya, ketua Umum MUI KH Ma'aruf Amin juga mendesak ustadz Maulana untuk segera mengkoreksi pernyatannya. Sebab menurutnya, pemimpin bagi orang Islam haruslah seorang muslim.

Reporter : Findra | Editor : Ally