Satu Juta Lebih Pengungsi Suriah Tiba di Eropa Melalui Laut, 3735 Hilang

JENEWA (Jurnalislam.com) – Lebih dari satu juta pengungsi  Suriah tiba di Eropa melalui laut tahun ini, badan pengungsi PBB mengatakan Rabu (30/12/2015), lansir Anadolu Agency.

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi mengatakan lebih dari 80 persen dari 1.000.573 kedatangan masuk melalui Yunani dengan sebagian mendarat di Lesbos, sebuah pulau Yunani di lepas pantai Turki.

Lebih dari 844.000 menyeberang ke Yunani dari Turki sementara mayoritas lainnya menyeberang dari Libya ke Italia dalam gerakan perpindahan antar benua terbesar yang pernah terlihat sejak Perang Dunia II.

Angka tersebut paling tinggi pada 2014, ketika sekitar 216.000 ribu orang tiba melalui laut – lebih dari tiga kali jumlah yang tiba pada tahun 2013.

Mereka yang tewas atau hilang di laut berjumlah 3735 untuk tahun ini.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada 22 Desember, Organisasi Internasional untuk Migrasi mengatakan 972.500 telah memasuki Eropa melalui laut, dengan lebih dari 34.000 penyeberangan darat dari Turki ke Bulgaria atau Yunani.

Hampir setengah pendatang laut berasal dari Suriah dengan 21 persennya berasal dari Afghanistan, kata badan PBB.

Jumlah pengungsi terbesar yaitu pada bulan Oktober, dengan lebih dari 221.000 tiba melalui laut.

"Ada peningkatan jumlah pengungsi dan migran yang mengambil peluang di atas kapal laut dan kapal kecil yang tidak layak dalam upaya putus asa mereka untuk mencapai Eropa," kata lembaga itu di situsnya.

"Sebagian besar dari mereka yang berusaha melakukan penyeberangan berbahaya ini membutuhkan perlindungan internasional, mengungsi dari perang di negara asal mereka."

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

Satu Juta Lebih Pengungsi Suriah Tiba di Eropa Melalui Laut, 3735 Hilang

JENEWA (Jurnalislam.com) – Lebih dari satu juta pengungsi  Suriah tiba di Eropa melalui laut tahun ini, badan pengungsi PBB mengatakan Rabu (30/12/2015), lansir Anadolu Agency.

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi mengatakan lebih dari 80 persen dari 1.000.573 kedatangan masuk melalui Yunani dengan sebagian mendarat di Lesbos, sebuah pulau Yunani di lepas pantai Turki.

Lebih dari 844.000 menyeberang ke Yunani dari Turki sementara mayoritas lainnya menyeberang dari Libya ke Italia dalam gerakan perpindahan antar benua terbesar yang pernah terlihat sejak Perang Dunia II.

Angka tersebut paling tinggi pada 2014, ketika sekitar 216.000 ribu orang tiba melalui laut – lebih dari tiga kali jumlah yang tiba pada tahun 2013.

Mereka yang tewas atau hilang di laut berjumlah 3735 untuk tahun ini.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada 22 Desember, Organisasi Internasional untuk Migrasi mengatakan 972.500 telah memasuki Eropa melalui laut, dengan lebih dari 34.000 penyeberangan darat dari Turki ke Bulgaria atau Yunani.

Hampir setengah pendatang laut berasal dari Suriah dengan 21 persennya berasal dari Afghanistan, kata badan PBB.

Jumlah pengungsi terbesar yaitu pada bulan Oktober, dengan lebih dari 221.000 tiba melalui laut.

"Ada peningkatan jumlah pengungsi dan migran yang mengambil peluang di atas kapal laut dan kapal kecil yang tidak layak dalam upaya putus asa mereka untuk mencapai Eropa," kata lembaga itu di situsnya.

"Sebagian besar dari mereka yang berusaha melakukan penyeberangan berbahaya ini membutuhkan perlindungan internasional, mengungsi dari perang di negara asal mereka."

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

Densus 88 Salah Tangkap Lagi, Pengamat: Efek Kerja Su’udzonisme

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengamat kontra-terorisme, Harist Abu Ulya menilai, kasus salah tangkap Densus 88 kepada dua orang warga Solo pada Selasa (29/12/2015) adalah bukti kesekian kalinya aparat Densus 88 tidak profesional. 

“Untung ini masih hidup, kalau mati terus apa jadinya?” ujar Harits kepada Jurnalislam, Rabu (30/12/2015).

Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu menjelaskan, kesalahan konyol yang dilakuka Densus 88 itu disebabkan karena kerja Densus 88 dalam menangani terorisme didasarkan pada buruk sangka (su’udzon).

“Ini efek kerja berdasarkan "su'udzonisme" dalam isu terorisme,” cetusnya

Berbeda halnya jika menyikapi aparat menyikapoi kasus teroris Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pada kasus OPM, lanjut Harits, polisi lembek dan berdalih kerja tidak boleh berdasarkan asumsi dan dugaan, tapi harus kembali kepada fakta lapangan.

“Ini ambivalensi penegakkan hukum dan sikap hipokrit diskriminatif,” tukasnya.

Lebih lanjut, Harits mengatakan, untuk dua orang korban salah tangkap tentu melahirkan kerugian moril dan materiil yang tidak bisa diukur dengan uang.

“Secara undang-undang korban salah tangkap mereka berhak menggugat, mendapat hak rehabilitasi nama baik dan ganti materiil. Tapi dalam isu terorisme yang tampak sampai saat ini adalah kedzaliman murokab (berlipat-red),” tegasnya.

“Sudah jadi korban salah tangkap, kemudian dilepas begitu saja. Permintaan maaf saja tidak, apalagi terpenuhinya hak lebih dari itu,” sambung Harits.

Tampak sekali dalam isu terorisme, penindakan hukum menunjukkan kulminasi penguapan keadilan di Indonesia. “Kondisi seperti ini menurut saya akan terus bergulir sepanjang rezim ini setia berputar pada orbit kepentingan asing," pungkasnya.

Reporter: Findra | Editor: Ally | Jurnalislam

Dua Korban Salah Tangkap Densus 88 Beberkan Kronologis Penangkapan

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – The Islamic Study and Action Center (ISAC) menggelar jumpa pers bersama dua warga Solo korban salah tangkap Densus 88, Rabu (30/12/2015) di masjid Baitussalam Tipes, Surakarta. Dua korban salah tangkap itu adalah Nur Sawaludin dan Ayong Panggalih atau Galih.

Dalam kesempatan itu, kedua korban mengungkapkan kronologis penangkapan yang dilakukan Densus 88 di Jalan Honggowongso, Laweyan, Kota Solo, Selasa (29/12/2015).

Nur Sawaludin mengatakan, ia ditangkap saat hendak menuju masjid untuk shalat dzuhur. Tiba-tiba Nur ditodong Densus 88 dan dimasukkan ke mobil. 

"Salah saya apa pak? Densus itu lalu menjawab, pokoknya kamu masuk dulu, saya dari densus 88," ungkap Nur mengisahkan.

Nur lalu dibawa ke Mapolsek Laweyan Solo. Disana Nur diinterogasi dengan kasar dalam keadaan tangan diborgol. Nur kemudian dimasukkan ke ruang tahanan. Nur juga mengaku dirinya dipersulit untuk menuaikan shalat.

Sementara Galih ditangkap saat sedang mengendarai motor. Ia hendak shalat dzuhur. Galih ditabrak mobil avanza hitam dari arah depan hingga terpental. Galih lalu diinjak sambil ditodong senjata laras panjang dan dilempar ke dalam mobil.

Sebelum ditabrak avanza hitam, Galih juga sempat dihadang avanza putih. Lolos dari hadangan itu, Galih lalu diterjang avanza hitam.

“Kepala saya dibenturkan ke aspal, tangan saya diborgol dan sambil ditodong senjata wajah saya menempel ke aspal,” tutur Galih.

Galih juga mengungkapkan perlakuan kasar yang diterimanya di dalam mobil. Dia merasakan punggungnya ditekan dengan lutut, kepalanya ditutup pakai kain dan dibentak-bentak. Galih dipaksa petugas densus untuk menyebut nama yang menjadi daftar buruan Densus 88.

Targetnya salah, Densus 88 kemudian menitipkan Galih di Polsek Laweyan, Solo. Nur dan Galih pun menandatangani surat pelepasan setelah pihak Polsek Laweyan menjelaskan bahwa Nur dan Galih bukan orang yang dicari Densus 88.

Berbekal keterangan dari kedua korban, ISAC menilai bahwa Densus 88 bertugas tidak sesuai dengan prosedur seharusnya. Tanpa surat penangkapan dan adanya tindak kekerasan.

"Densus gagal mengidentifikasi target. Terbukti adanya salah tangkap dan tidak merehabilitasi maupun memberikan kompensasi bagi kedua korban," kata Endro.

ISAC menuntut Densus 88 untuk merehabilitasi nama baik dan memberi kompensasi kepada kedua korban. “Tidak memberi kompensasi melanggar Peraturan Pemerintah no 27 tahun 1983,” lanjutnya.

ISAC juga menilai Densus 88 telah melakukan pelanggaran HAM karena tindakan intimidasi, penganiayaan dan mempersulit ibadah seseorang yang merupakan aktualisasi keyakinan beragama.

Reporter: Dyo, Ramzy | Editor: Ally | Jurnalislam

Video pengakuan Galih, salah satu korban salah tangkap Densus88

Kronologis Beredarnya Terompet Bersampul Al Qur’an di Alfamart Semarang

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Kepala Cabang Alfamart Semarang wilayah Barat, Basuki Rahmat menjelaskan kronologis beredarnya terompet tahun baru berbahan sampul Al Qur’an. Penjelasan itu disampaikan kepada sejumlah perwakilan ormas Islam dari Jamaah Ansharusy Syariah dan Front Pembela Islam Semarang di ruang kasat intel Polrestabes Semarang, Selasa (29/12/2015). Berikut penuturan Basuki Rahmat selengkapnya:

Pada saat terompet itu mau kita jual, kita terlebih dahulu melihat samplenya. Bentuknya seperti apa, kemasannya rusak atau tidak. Namun tidak sampai membuka kemasan. Harga deal, kita pesan antara 13 ribu sampai 14 ribu.

Dari sample yang diberikan, kita setuju dengan kondisi seperti itu. Terompet datang pada tanggal 4 Desember 2015. Kami pilih saudara Hana sebagai supplier karena tahun kemarin juga sudah pernah supply ke kami dan tahun kemarin gak ada masalah.

Singkat cerita, barang sudah berada di toko. Pada hari Minggu (27/12/2015) ada informasi di toko, ada bapak-bapak komplain di toko masalah terompet. Begitu terompet dibuka kemasan yang pertama ada sampul berlafalkan Al Qur’anulkarim. Saya dapat info itu, saya perintahkan untuk tarik semuanya. Jangan dijual, dicek dahulu dari supliernya.

Dari audiensi itu juga diketahui bahwa pihak minimarket memesan ke supplier terompet bernama Hana. Kemudian Hana meneruskan ke Kasman yang berdomisili di Wonogiri. Lalu Kasman meneruskan ke Sutarjo.

Saat ini sebagian terompet yang belum terjual telah ditarik dari peredaran. Hasilnya, di kota Batang sebanyak 110 terompet berhasil ditarik dari peredaran, di Kabupaten Pekalongan sebanyak 319 terompet, kota Pekalongan sebanyak 235 terompet, kabupaten Kendal sebanyak 145 terompet. Serta 2300 terompet berhasil diamankan di Polrestabes Semarang.

Reporter: Riyanto | Editor: Ally | Jurnalislam

 

 

 

Inilah Perkembangan Roket-roket Buatan Hamas yang Ditakuti Israel

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Faksi-faksi Palestina dalam melawan pasukan zionis penjajah menggunakan sarana dan senjata peperangan yang beragam. Dari batu hingga roket. Persenjataan mereka terus berkembang sampai di tahun 2014 roket mereka berhasil menembus jantung wilayah Israel, lansir Infopalestina, Selasa (29/12/2015).

Bahkan zionis penjajah Israel sendiri mengakui tidak berdaya melumpuhkan roket Palestina yang diprodukai secara lokal dari bahan dasar. Faksi perlawanan juga mampu mengembangkan akurasi bidikan dan jangkauan roket mereka.

Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas lebih awal memproduksi dan mengembangkan roket mereka kemudian disusul faksi lain.

Target Roket di Wilayah Israel: Kota Haifa, Tel Aviv, Jerusalem, Berseba.

Perkembangan Roket dari Tahun ke Tahun;

No Jenis Roket Jangkauan Tahun Pembuatan dan Launching Hulu Ledak Produsen
1 Qassam 1 2-3 km 2001 4,5-10 kg Hamas
2 Qassam 2 9-12 km 2002 4,5-10 kg Hamas
3 Qassam 3 15-17 km 2005 4,5-10 kg Hamas
4 M75 (Ibrahim Mukadimah) 75-80 km 2012 70 kg Hamas
5 J80 (Ahmad Ja’bari) 80 km 2014 120 kg Hamas
6 R160 (Rantisi) 160 km 2014 175 kg Hamas
7 S55 (Sijjil) 55 km 2014 55 kg Hamas
8 SH/A 2015 Hamas
9 Barraq 70 km 90 kg Jihad Islami
10 Quds 18 km 8 kg Jihad Islami
11 Nasher 25 km 13 kg Front Perlawanan
12 Al-Aqsha 18 km Fatah

 

Faksi Jihad Uzbek di Suriah Bekali Ilmu Syar’I dan Militer Sejak Usia Dini

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi  jihad Uzbek yang berbasis di Suriah mempublikasikan pelatihan anak-anak untuk melatih sejak kecil ilmu tentang jihad dan pembekalan ilmu syar’i.

Seperti yang dilansir The Long War Journal, Selasa (29/12/2015) Jamaah Imam Bukhari (juga dikenal sebagai Katibat Imam al Bukhari) merilis video online yang diunggah pada 19 Desember 2015 menunjukkan sebuah kamp pelatihan dan sekolah untuk anak-anaknya.

Video berdurasi 18 menit tersebut menunjukkan puluhan anak menerima pendidikan dan pelatihan militer di suatu tempat di Suriah utara.

Anak-anak, berusia 10 tahun hingga pertengahan remaja, terlihat sedang membaca Alquran, belajar bahasa Arab, berlatih matematika, dan belajar ilmu-ilmu Syariah dari guru dan Imam Jamaah Imam Bukhari. Anak-anak kemudian ditampilkan ikut ambil bagian dalam latihan fisik, termasuk berlatih tinju.

Selain latihan fisik, anak-anak juga diajarkan bagaimana membawa dan menembakkan senjata api. Senjata-senjata yang terlihat diantaranya pistol dan varian senapan serbu Kalashnikov. Sebagian besar anak-anak tampak berasal dari Asia Tengah, meskipun ada kemungkinan beberapa anak asli Suriah hadir selama pelatihan.

Jamaah Imam Bukhari merupakan kelompok mayoritas Uzbek yang berafiliasi dengan cabang resmi al Qaeda di Suriah, Jabhah Nusrah.

Jamaah Imam Bukhari telah berjuang bersama Jabhah Nusrah dan faksi jihad lainnya dalam banyak pertempuran besar di provinsi barat laut Idlib dan Aleppo dan batalion Uzbek terbaru yang berjuang bersama Jabhah Nusrah adalah Katibat al Tauhid wal Jihad, di Bashkuy di Aleppo utara.

Kelompok Uzbek bukan satu-satunya afiliasi Al Qaeda yang memperlihatkan pelatihan anak.

Pada bulan September, Harakah Islam Turkistan, faksi jihad yang didominasi Uighur, merilis sebuah video yang menunjukkan pelatihan "jihad sejak kecil." Anak-anak ditampilkan berpose dengan senapan serbu AK-47, menghadiri kelas Syariah, dan mengambil bagian dalam pelatihan senjata.

Pada bulan Juli, faksi jihad tersebut pertama kali mempublikasikan sebuah kamp pelatihan di Idlib, yang tampaknya berada di daerah yang sama. Beberapa foto menggambarkan anak-anak belajar bagaimana mengoperasikan AK-47, senapan sub-mesin, dan pistol.

Ulama Populer  kebangasaan Saudi Abdullah al Muhaysini dari Jihad Callers Center  juga merilis video September lalu menunjukkan anak-anak Suriah melakukan pelatihan di kamp milik mereka.

Muhaysini terkait erat dengan al Qaeda dan Jabhah Nusrah. Selain itu, Junud al Sham yang dipimpin seorang warga Chechnya, pimpinan Muslim Shishani yang oleh AS ditunjuk sebagai musuh besar, diketahui telah menjalankan pelatihan kamp untuk anak-anak di masa lalu.

Jihadis di Afghanistan dan Pakistan juga telah mengiklankan kamp pelatihan untuk anak-anak mereka.

Pada tahun 2008, mantan komandan Gerakan Taliban dalam operasi istisyhad Pakistan, Qari Hussein Mehsud, mempromosikan sebuah kamp untuk anak-anak yang terletak di Waziristan Selatan.

Deddy | TLWJ | Jurnalislam

Faksi Jihad Uzbek di Suriah Bekali Ilmu Syar’I dan Militer Sejak Usia Dini

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi  jihad Uzbek yang berbasis di Suriah mempublikasikan pelatihan anak-anak untuk melatih sejak kecil ilmu tentang jihad dan pembekalan ilmu syar’i.

Seperti yang dilansir The Long War Journal, Selasa (29/12/2015) Jamaah Imam Bukhari (juga dikenal sebagai Katibat Imam al Bukhari) merilis video online yang diunggah pada 19 Desember 2015 menunjukkan sebuah kamp pelatihan dan sekolah untuk anak-anaknya.

Video berdurasi 18 menit tersebut menunjukkan puluhan anak menerima pendidikan dan pelatihan militer di suatu tempat di Suriah utara.

Anak-anak, berusia 10 tahun hingga pertengahan remaja, terlihat sedang membaca Alquran, belajar bahasa Arab, berlatih matematika, dan belajar ilmu-ilmu Syariah dari guru dan Imam Jamaah Imam Bukhari. Anak-anak kemudian ditampilkan ikut ambil bagian dalam latihan fisik, termasuk berlatih tinju.

Selain latihan fisik, anak-anak juga diajarkan bagaimana membawa dan menembakkan senjata api. Senjata-senjata yang terlihat diantaranya pistol dan varian senapan serbu Kalashnikov. Sebagian besar anak-anak tampak berasal dari Asia Tengah, meskipun ada kemungkinan beberapa anak asli Suriah hadir selama pelatihan.

Jamaah Imam Bukhari merupakan kelompok mayoritas Uzbek yang berafiliasi dengan cabang resmi al Qaeda di Suriah, Jabhah Nusrah.

Jamaah Imam Bukhari telah berjuang bersama Jabhah Nusrah dan faksi jihad lainnya dalam banyak pertempuran besar di provinsi barat laut Idlib dan Aleppo dan batalion Uzbek terbaru yang berjuang bersama Jabhah Nusrah adalah Katibat al Tauhid wal Jihad, di Bashkuy di Aleppo utara.

Kelompok Uzbek bukan satu-satunya afiliasi Al Qaeda yang memperlihatkan pelatihan anak.

Pada bulan September, Harakah Islam Turkistan, faksi jihad yang didominasi Uighur, merilis sebuah video yang menunjukkan pelatihan "jihad sejak kecil." Anak-anak ditampilkan berpose dengan senapan serbu AK-47, menghadiri kelas Syariah, dan mengambil bagian dalam pelatihan senjata.

Pada bulan Juli, faksi jihad tersebut pertama kali mempublikasikan sebuah kamp pelatihan di Idlib, yang tampaknya berada di daerah yang sama. Beberapa foto menggambarkan anak-anak belajar bagaimana mengoperasikan AK-47, senapan sub-mesin, dan pistol.

Ulama Populer  kebangasaan Saudi Abdullah al Muhaysini dari Jihad Callers Center  juga merilis video September lalu menunjukkan anak-anak Suriah melakukan pelatihan di kamp milik mereka.

Muhaysini terkait erat dengan al Qaeda dan Jabhah Nusrah. Selain itu, Junud al Sham yang dipimpin seorang warga Chechnya, pimpinan Muslim Shishani yang oleh AS ditunjuk sebagai musuh besar, diketahui telah menjalankan pelatihan kamp untuk anak-anak di masa lalu.

Jihadis di Afghanistan dan Pakistan juga telah mengiklankan kamp pelatihan untuk anak-anak mereka.

Pada tahun 2008, mantan komandan Gerakan Taliban dalam operasi istisyhad Pakistan, Qari Hussein Mehsud, mempromosikan sebuah kamp untuk anak-anak yang terletak di Waziristan Selatan.

Deddy | TLWJ | Jurnalislam

Tahun Baru, FUI Kirim Da’i ke Seluruh Masjid di Kota Bima

BIMA (Jurnalislam.com) – Untuk memahamkan umat Islam tentang haramnya tasyabuh dalam merayakan tahun baru, Forum Umat Islam (FUI) Bima akan menurunkan puluhan da’inya untuk berdakwah mensosialisasikan hal tersebut ke seluruh masjid di Kota Bima.

“Kita akan turun untuk berdakwah satu hari sebelum malam pergantian tahun, kami akan mencoba memahamkan kepada ummat bahwa perayaan tahun baru ini adalah merupakan budaya di luar Islam,” kata ketua FUI Bima, Ustadz Asikin kepada Jurnalislam, Selasa (29/12/2015).

Ustadz Asikin berharap setelah diturunkannya para juru dakwah, umat Islam perlahan bisa meninggalkan perayaan tahun baru masehi yang sarat dengan kemaksiatan itu.

“Karena tahun baru ini bukan hanya meniru budaya diluar Islam, tetapi juga adalah merupakan puncak daripada segala kemaksiatan,” tegasnya.

Kegiatan itu merupakan kerjasama antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bima, FUI, Dewan Masjid dan Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Bima.

Reporter: Sirath | Editor: Ally | Jurnalislam

 

Tahun Baru, Muhammadiyah Banten: Umat Islam Jangan Latah

BANTEN (Jurnalislam.com) – Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Banten, Dr. KH. Syamsudin, M.Pd. mengimbau umat Islam untuk tidak latah ikut-ikutan merayakan tahun baru. Sebab, tahun baru merupakan bagian dari perayaan Natal.

“Umat Islam jangan latah dengan budaya tahun baru itu, latah itu ikut-ikut merayakan. Karena tahun baru itu bagian dari Natal. Kan, ucapannya juga selamat Natal dan tahun baru,” katanya kepada Jurnalislam melalui sambungan telepon, Selasa (29/12/2015).

Menurutnya, makna toleransi adalah saling menjaga keyakinan dan menghargai perbedaan tanpa mencampuradukannya dengan keyakinan, ibadah dan agama.

“Perihal kemasyarakan dan sosial, kita bisa bekerja sama dengan mereka,” kata Kyai Syam.

Selain itu, Kyai Syamsuddin menilai bahwa fatwa MUI terkait Natal dan tahun baru yang digagas oleh Buya Hamka sangat relevan dengan keadan umat Islam saat ini. Karena umat Islam sekarang hampir kehilangan batas batas wilayah keagamaan.

“Kami himbau umat Islam berpegang teguh sesuai dengan surat Al Kafirun dan Al Ikhlas. Mereka menghargai perbedaan keyakinan tapi tanpa mempercampuradukan apalagi bekerja sama dalam wilayah-wilayah keyakinan,” tegasnya.

Oleh sebab itu, Muhammadiyah menggulirkan program-program bimbingan remaja sebagai upaya mencegah generasi muda dari melakukan hal-hal diatas,

“Kalau progam ini direspon oleh masyarakat umum dengan mengikuti dengan baik, anak-anak remaja kita tidak akan melakukan seperti itu,” ujarnya

Kyai Syamsuddin berharap, para pemimpin menjadi tauladan dan contoh yang baik bagi masyarakat, karena berbicara toleransi antar umat beragama tanpa mencampuradukan keyakinan itu terasa sulit jika pemimpin tidak mencontohkannya ke umat.

Reporter: Muhammad Fajar | Editor: Ally | Jurnalislam