Deklarasinya Catut Nama Persis, Pendukung Jokowi – Ma’ruf Minta Maaf

BANDUNG (Jurnalislam.com)– Denhas Mubarok, orang yang mengklaim sebagai Ketua Aliansi Alumni Pesantren Persatuan Islam (AA-PPI)  meminta maaf atas kesalahan penyantuman logo Persis pada acara Deklarasi Pemenangan Paslon Presiden RI – Joko Widodo dan Ma’ruf Amin.

Denhas mengaku kurang koordinasi dengan sesama panitia, dan ia meminta maaf akan hal tersebut.

“Kami meminta maaf kepada jamiyyah Persatuan Islam atas pencantuman logo Persis, tentu itu kesalahan kami karena kurang konsolidasi dari panitia”, ujarnya.

Meski demikian, Denhas dan kawan-kawannya tetap menyelenggarakan acara deklarasi. Menurutnya hal tersebut merupakan hak politik mereka.

Denhas memastikan bahwa logo Persis tidak akan dicantumkan dalam kegiatan deklarasi dukungan Jokowi-Maruf guna memenuhi tuntutan somasi dari KKBH Persis soal penyantuman logo.

“Kita pastikan di forum aliansi tidak ada lagi logo-logo yang berkaitan dengan kelembagaan Persis. Tak ada kaitan dengan lembaga Persatuan Islam”, ungkap Denhas kepada persis.or.id di Ballroom Grand Asrilia Rabu (20/2/2019).

Perkumpulan yang mengklaim Aliansi Alumni Persis itu menyatakan perminataan maafnya kepada jamaah Persatuan Islam.

“Sekali lagi, Kami menyadari kesalahan ini, kami mohon maaf terkait permasalahan ini”, pungkasnya.

Sementara itu, Waketum PP Persis Dr. Jeje Zainudin mengatakan bahwa acara tersebut berpeluang mencemarkan nama baik organisasi.

Menurut Jeje, Persis bersikap netral dan tidak mendukung salah satu calon presiden.

“Kalau bawa-bawa nama lembaga tanpa ada kordinasi dan kepanitiaan yang legal, ya tidak bisa dikatakan selain klaim sepihak, hoax, atau bahkan pencemaran nama lembaganya,”pungkasnya. (persis.or.id)

Yogyakarta Bersiap Jadi Destinasi Wisata Halal

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com) – Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus mengembangkan wisata halal. 

Terlebih, dengan adanya penerbangan langsung internasional di New Yogyakarta International Airport (NYIA) nantinya, menjadi nilai tambah untuk mendorong potensi wisata halal di DIY. 

“Misalkan nanti dari ada direct flight dari Timur Tengah, ada halal tourism, itu yang kita dorong,” kata Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Rahardjo lansir Republika.co.id, Selasa (19/2). 

Dia berpendapat meningkatkan wisata halal di DIY, dapat dilakukan dengan mendorong para pelaku pariwisata untuk memiliki standar.

Baik dari segi layanan maupun infrastruktur penunjang pariwisatanya sendiri. 

“Kalau hotel misalnya nanti ada sertifikasi halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia), itu bisa menambah ranking kita. Kalau di rata-rata, halal tourism tingkat nasional kita (DIY) di nomor lima,” kata Singgih. 

Tidak hanya penginapan, kata dia, restoran pun juga dipersiapkan untuk mendapat sertifikasi halal.

Hal ini tentu akan menjadi nilai plus bagi pengambangan wisata halal di DIY.  

“Kita beberapa hotel dan restoran sudah ada standar MUI. Hotel syariah juga sudah ada, walaupun jumlahnya masih kecil. Ini terus kita dorong,” katanya.  

Secara umum pembangunan NYIA disebut telah mencapai 36 persen. Verifikasi untuk siap atau tidaknya NYIA dioperasikan, akan dilakukan  Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan pada 14 sampai 15 Maret 2019 mendatang. 

Wisata Halal Jadi Tren Generasi Milenial

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Wisata halal dan muslim traveler terus menjadi tren termasuk tahun ini. Generasi milenial juga rupanya tertarik dengan wisata yang Islami.

Hal ini diungkapkan dalam diskusi ‘Engage Millenial Travellers in South East Asia’ oleh Wego dan tiket.com di Hotel Morrissey, Jakarta, Selasa (19/2/2019). James Huang, Head APAC & Marketing Technology Wego mengatakan segmen wisata halal ini cukup menjanjikan.

Dia mencontohkan Wego berkolaborasi dengan badan pariwisata Inggris, Visit Britain akan menggelar acara offline Wego Hangout bertema ‘Travel Fun to UK’ yang membidik traveler milenial. Salah satu topik yang dibahas justru adalah wisata halal.

“Kita akan bicara panduan untuk halal trip ke Inggris dan festival-festival besar di sana,” kata Huang.

Dia melihat ada kebutuhan traveler muslim untuk mencari informasi liburan bergaya halal, tempat salat dan makanan halal di luar negeri. Termasuk traveler milenial antara umur 18-34 tahun yang kini jumlahnya sudah mendominasi pasar.

“Wisata halal meningkat. Banyak yang mencari informasi halal. Muslim traveler berkembang pesat,” kata dia.

Sumber: detiktravel

Kemenperin Lakukan Sosialisasi Sebelum RPP Halal Diberlakukan

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Kementerian Perindustrian belum mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Halal.

Kemenperin membutuhkan waktu pendekatan dan sosialisasi kepada pelaku industri untuk dapat menerima RPP Halal.

“Kami masih bahas dulu, sudah finalisasi,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartato lansir Republika.co.id, Senin (18/2).

Sebelumnya,  draf Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Halal sudah ditandatangani dan disetujui oleh sejumlah menteri di lintas ementerian.

Sejumlah menteri yang telah menandatangani RPP Halal antara lain Menko Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Menko Bidang Perekonomian, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, dan Menteri Pertanian.

Direktur Perwilayahan Industri Kemenperin Ignatius Warsito mengatakan, pembahasan RPP Halal sudah mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan terkait halal yang dimasukkan ke dalam pasal-pasal yang ada.

Kendati demikian dia mengakui, pengesahan RPP Halal belum dapat dipastikan waktu pastinya.

“Memang agak lama disahkan, kami masih menunggu momentum yang tepat saja,” katanya.

Dia menampik adanya isu ketidaksetujuan sektor pelaku industri terhadap RPP Halal.

Menurutnya, sektor pelaku industri harus yakin bahwa adanya pasal-pasal Halal yang dirangkum dalam RPP Halal akan diprediksi dapat menumbuhkan iklim yang baik di bidang investasi dan induatri.

Selain itu, kata dia, RPP Halal juga dapat memacu tingkat kepercayaan konsumen kepada produsen produk.

“Kami sudah datang berbicara ke sejumlah sektor industri ya, seperti farmasi, makanan, dan yang lainnya,” kata dia.

Saat ini, kata dia, pihaknya berharap draf RPP Halal yang telah diterima oleh presiden dapat segera disahkan.

Sumber : republika.co.id

 

 

UU JPH Akan Diberlakukan, Semua Produk Harus Bersertifikat Halal

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Sukoso menampik adanya penundaan penerapan kewajiban sertifikasi halal.

Menurut dia, penerapan kewajiban sertifikasi halal harus dilakukan pada Oktober 2019 mendatang sesuai keputusan undang-undang. Meski begitu dia tidak menampik adanya pentahapan dalam pelaksaan wajib label halal tersebut.

“Kalau masalah makna penundaan itu tidak ada. Tapi pentahapan iya. Karena semua memang ada tahapnya. Masa orang kerja sehari langsung 100 persen jadi?” kata dia.

Sukoso mengatakan, 2019 itu wajib halal sudah dijalankan sesuai UUD JPH.

“Kita itu wajib menjalankan, tapi tetap ada istilah memberi pentahapan waktu,” tambah Sukoso.

Menurut dia, pemerintah akan memastikan pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang menjadi aturan turunan dari Undang-Undang (UU) nomor 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH), bisa diterbitkan dalam waktu dekat.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebutkan, seluruh menteri yang terlibat dalam penggodokan sudah sepakat dengan poin-poin teknis yang dituangkan dalam beleid tersebut.

Termasuk tentang pemberlakuan kewajiban sertifikasi halal untuk produk makanan, minuman, hingga obat-obatan.

Bila RPP tentang jaminan produk halal ini telah disepakati di level menteri, Lukman mengatakan, artinya proses yang tersisa tinggal penandatanganan oleh Presiden Jokowi.

Ujungnya, UU tentang Jaminan Produk Halal bisa efektif berjalan pada 17 Oktober 2019 nanti.

sumber : republika.co.id

 

Literasi Keuangan Syariah Penting Bagi Keluarga

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada Ahad (17/2/2019) hadir menjadi salah satu panelis pada Halaqah Dakwah dan Literasi Keuangan Syariah di Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok.

Hadir sebagai panelis lainnya, praktisi keuangan Gus Reza M. Syarif dan pimpinan Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok  KH. M. Cholil Nafis yang juga merupakan Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI

Menag mengapresiasi tema halaqah yang ia nilai sangat penting. Menurutnya, literasi keuangan syariah sangat penting dan relevan dengan keluarga.

Ia mengungkapkan, faktor penyebab perceraian  salah satunya disebabkan karena masalah keuangan keluarga. Oleh karenanya, ujar Menag, tema yang diangkat dalam halaqoh ini sangat relevan.

“Saat ini kita perlu memberikan literasi tentang bangunan keluarga yang kokoh, di antaranya melalui literasi keuangan syariah,” ucapnya.

Menag menyampaikan, Kemenag  fokus menjalankan program bagi ketahahan keluarga di antaranya melalui bimbingan perkawinan bagi setiap pasangan yang akan menikah.  Menurutnya, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat.

“Bila keluarga berkualitas, maka masyarakat tersebut juga baik,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok  berada di areal atau lahan wakaf yang cukup luas,  tampak bangunan masjid yang masih dalam tahap pembangunan, belum banyak bangunan sarana pesantren yang berdiri.

Menag  mengungkapkan, pontren dalam konteks Indonesia tidak hanya semata sebagai lembaga pendidikan Islam semata, tapi jauh sebelumnya merupakan lembaga dakwah, lebih luas dari semata sebagai lembaga pendidikan.

“Bahkan tidak hanya lembaga dakwah semata, juga lembaga yang senantiasa merawat tradisi yang baik yang ditinggalkan leluhur kita. Karena sesuatu  yang baik, maka kemudian itu dijaga, dikembangkan dan terus berksinambungan untuk senantiasa menebarkan kemaslahatan sebanyak mungkin bagi masyarakat,” ujar Menag.

Menag mengungkapkan  rasa syukurnya bisa menyaksikan awal perintisan pondok pesantren  tersebut. Ia berharap, apa yang dirintis seluruh civitas pondok pesantren Cendekia Amanah bisa terwujud.

Dalam kesempatan tersebut diserahkan surat Izin Madrasah Diniyah Takmiliyah Cendekia Amanah yang diserahkan Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat Buchori.

Tampak hadir selain para pimpinan pondok dan santri, Ketua MUI Ahmad Baidhowi dan mantan  Menteri Perindustrian Saleh Husin.

sumber : kemenag.go.id

Milenial dari Berbagai Komunitas Ikuti Pelatihan Video Pendek Bimas Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam menggelar kegiatan ‘Coaching Pembuatan Video Pendek’ yang diselenggarakan di Hotel Padjajaran Suite, Bogor, Jawa Barat pada 18-20 Februari 2019.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 80 peserta dari 1.500 orang yang mendaftar. Selain utusan dari lembaga mitra Bimas Islam, para peserta ini merupakan kalangan milenial yang berasal dari berbagai macam organisasi dan komunitas kepemudaan.

Direktur Jenderal Bimas Islam, Muhammadiyah Amin mengatakan, kemajuan teknologi tak bisa dihindari, untuk itu, pelatihan ini diadakan agar menambah keterampilan para milenial di dunia digital. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan bisa meningkatkan kualitas keagamaan generasi muda tersebut.

“Acara ini memang juga diharapkan oleh Menteri Agama supaya kegiatan Kementerian Agama untuk melibatkan kaum milenial,” kata Muhammadiyah Amin di sela acara ‘Bimas Islam Milenials Program’ Coaching Pembuatan Video Pendek di Bogor, Senin (18/2/2019).

Ia menambahkan, Ditjen Bimas Islam memiliki beberapa program kreatif yang dikembangkan untuk kaum milenial, diantaranya, Pelatihan Fotografi, Pelatihan Jurnalistik, Zakat-Wakaf Goes to Campus Citizen 4.0, Lokalatih Tunas Muda Ekonomi Syariah, Lomba Vlog Sejarah Islam, dan lain-lain.

Pada pelatihan pembuatan video pendek kali ini, Ditjen Bimas Islam menghadirkan pembicara dari salah satu komunitas pembuat film Islam, yakni Film Maker Muslim. Para peserta diajarkan tentang teknik pengambilan gambar, teknik editing, compositing, transisi dan lain-lain.

Salah satu peserta, Maulina Karlina (23 tahun), mewakili Yayasan Aspirasi Muslimah Indonesia (YASMINA) mengaku merasa terhormat karena terpilih dari ribuan orang yang mendaftar sebagai peserta.

“Saya semangat banget mengikuti pelatihan ini, InsyaAllah sangat bermanfaat ilmu yang didapat dan bisa diterapkan dengan baik,” katanya.

Pada hari kedua pelaksanaan pelatihan, para peserta berkunjung ke Unit Pencetakan Alquran (UPQ) di Ciawi, Bogor. Di lokasi ini, mereka langsung melakukan praktek setelah mengikuti pelatihan teori.

Bagi Kamu Milenial Muslim, Ini Tips Bagaimana Memulai Bisnis

JAKARTA (Jurnalislam.com) – PT Bank BRI Syariah Tbk atau BRI Syariah memberi inspirasi milenial muslim pada acara Islamic Nexgen Fest Hijab Celebration 2019 yang digelar di kawasan Bintaro Jaya Xchange Park, Ahad (17/2/2019).

Acara digelar oleh startup fashion muslim HIJUP berkolaborasi dengan Kementerian BUMN bersama Bank Umum Syariah anak perusahaan BUMN.

Deputi Divisi Mikro BRI syariah Mohammad Isnaeni memberi tips-tips bagi milenial muslim yang ingin memulai bisnis.

Menurutnya, yang harus dilakukan untuk memulai bisnis, selain berbekal niat, generasi muda yang ingin mulai berbisnis sebaiknya menyesuaikan bisnis dengan minatnya.

“Contoh Ria Ricis dengan bisnis hijabnya, dan Andanu Prasetyo dengan bisnis kopinya,” katanya dalam talkshow bertema ‘start your business now’. Ria Ricis dan Andanu Prasetyo (founder Kopi Tuku) juga turut dalam talkshow tersebut.

Setelah niat dan minat, ia melanjutkan, diperlukan business plan dan modal.

BRI Syariah dalam acara tersebut menawarkan produk pembiayaan yang cepat, mudah, berkelanjutan dan syar’i.

Sementara itu, Direktur Utama BRI Syariah Moch. Hadi Santoso mengatakan, salah satu tujuan Indonesia kini sebagai pusat industri halal dunia.

Kini, Indonesia memiliki potensinya. Apalagi, ia melanjutkan, banyak enterpreneur muda yang membangun start up, salah satunya HIJUP.

“Nah kita sediakan medianya untuk bertransaksi secara syariah melalui BRIsyariah. Kami dukung komitmen pemerintah dalam memajukan industri halal di Indonesia. Generasi milenial ini harus terus mengembangkan kreativitasnya,” ujarnya.

Gelaran Islamic Nexgen Fest Hijab Celebration 2019 tersebut selain diisi talkshow, dimulai dengan Fun Run yang diikuti ratusan hijabers dan bazar halal fesyen. Lebih dari 1.000 muslimah ikut dalam kegiatan ini.

sumber : republika.co.id

Anies Khawatir Meikarta Ganggu Pasokan Air Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku khawatir keberadaan proyek Meikarta di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat bakal mengganggu pasokan air bersih Jakarta.

Sebab, menurut dia, 81% air baku Jakarta berasal dari Sungai Citarum yang bermuara di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi.

“Ini jadi perhatian bagi pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena di sana ada rencana proyek pembangunan proyek perumahan yang sangat besar, Meikarta,” ujar Anies di Gedung BPK, Senin (18/2/2019).

Anies mengatakan, lokasi proyek Meikarta berdekatan dengan aliran air barat yang melewati Kalimalang, Jakarta Timur.
Menurut Anies, proyek properti di kawasan itu dapat meningkatkan pencemaran air Sungai Citarum.

“Kalau air belok ke sini akan terganggu. Posisinya sangat dekat dengan Tarum Barat atau Kalimalang,” kata Anies.

Saat ini, Sungai Citarum yang mengalirkan air ke Waduk Jatiluhur menyokong kebutuhan air minum masyarakat Jakarta hingga 81%.

Sementara itu, 13% sisanya didapat dari pembelian air curah dari PDAM Tirta Kerta Raharja, Kabupaten Tangerang.

Hanya 6% kebutuhan air lokal yang yang dapat dipenuhi dari Kali Krukut dan Kali Pesanggrahan.

Sungai yang didapuk sebagai sungai terkotor di dunia oleh Bank Dunia itu mulai dibenahi lewat program pemerintah pusat Citarum Harum.

Hasil audit BPK terhadap program Citarum Harum di tahun anggaran 2016-2018 menyimpulkan, kualitas dan kuantitas air dari Sungai Citarum masih jauh dari harapan.

Sumber : kontan.co.id

 

Hijup Usung Milenial Peduli Negeri di Hijab Celebration Day

JAKARTA (Jurnalislam.com)  – Seiring dengan movement world hijab day setiap 1 Februari, Marketplace Hijup kembali menghadirkan Hijab Celebration Day 2019 pada Ahad (17/2/2019).

Acara ini digelar untuk menginspirasi generasi muslimah milenial agar turut aktif berkontribusi positif dalam pembangunan negeri.

Seperti diketahui, Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, dimana industri halal berpeluang menjadi tiang penyangga ekonomi bangsa di masa depan.

Lima sektor industri halal di Indonesia yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah fashion, kuliner, wisata, kosmetik atau produk farmasi & finansial.

Target menjadikan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia pada 2020 sudah di depan mata, sinergi dan kolaborasi dengan semua stakeholder merupakan solusi untuk mewujudkan visi bersama tersebut.

Merujuk pada data State of the Global Islamic Economy Report 2018/19, untuk industri fashion muslim, Indonesia berada di peringkat ke-3 sebagai pasar fashion muslim terbesar dengan pengeluaran sebesar US$ 20 miliar.

Secara global, total pengeluaran pasar pada industri ini sebesar US$ 270 Miliar dan diprediksi meningkat 5% pada 2023 sebesar US$ 361 Miliar.

Adanya peluang besar ini menjadikan Indonesia perlu terus meningkatkan kinerja dan sinergi yang menguatkan berbagai aspek dari hulu hingga hilir dan menjadi pemain di negeri sendiri maupun kancah internasional.

Hijab Celebration Day tahun kedua ini diisi dengan berbagai aktivitas mulai dari olahraga, interactive talkshow, hingga bazar curated halal industri yang melibatkan lebih dari 1.000 millennials muslimah.

Chief Executive Officer HIJUP, Diajeng Lestari mengungkapkan, kegiatan Hijab Celebration Day digelar sebagai wujud rasa syukur kita semua yang lahir dan tumbuh di Indonesia, dengan berbagai kemudahan untuk mendapatkan produk-produk halal serta akses untuk beraktivitas dengan tetap mengenakan hijab sesuai syariat.

Diajeng berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi para milenial muslimah untuk terus berkarya dan produktif yang selaras pula dengan campaign HIJUP, yakni empower change.

Hal utama pada kesempatan kali ini adalah menunjukkan komitmen bersama untuk menciptakan ekosistem industri halal yang diawali dengan sektor fashion muslim.

sumber : kontan.co.id