Tagar #BubarkanBPIP Jadi Trending Topik di Twitter

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sejumlah tokoh ikut mengomentari pernyataan kontroversial dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi yang menyebut ‘musuh terbesar Pancasila adalah agama’.

Hal serupa juga terjadi di media sosial, di laman Twitter, hastag atau tagar #BubarkanBPIP menempati trending topik no 2 pada Rabu, (12/2/2020) pukul 20.17 wib.

Akun bernama Hukum Milik Penguasa mempertanyakan kredibilitas Yudian Wahyudi yang diangkat Presiden Jokowi menjadi Kepala BPIP menggantikan Yudi Latif.

“Pak Jokowi @Jokowi anda sudah melantik ketua BPIP. Apakah anda tidak memeriksa atau mencari tau perilaku orang yang anda lantik ini,” katanya.

“Ketua BPIP itu musuh agama pak Jokowi, anda harus tau itu. Segera pecat sebelum terlambat #BubarkanBPIP,” imbuhnya.

Sementara Qirani menegaskan bahwa pernyataan Kepala BPIP yang baru diangkat tersebut sudah melukai perasaan umat beragama di Indonesia.

“Baru diangkat sebagai Ketua BPIP sudah mengeluarkan pandangan kontroversial dan menyakiti umat beragama. Pernyataan agama musuh terbesar agama adalah pernyataan gila, saya heran, kok bisa orang kek gitu diangkat jadi Ketua BPIP,” ujarnya.

Sementara itu, akun bernama @Vaduka_Kolak membuat poling setuju atau tidak untuk BPIP dibubarkan, apabila setuju ia meminta pengguna Twitter untuk Retweet dan Like, sedangkan yang tidak suka dengan Like.

Dalam postingan mendapatkan 1.448 Retweet dan Like 1.096 pada pukul 20.11 Wib.

FUI: Ucapan Ketua BPIP Merupakan Pernyataan Orang Buta Sejarah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH.Muhammad al Khaththath menilai pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi tersebut merupakan pernyataan orang yang buta sejarah.

“Saya tidak bisa komentar terhadap pernyataan dari orang yang tidak tahu fakta sejarah. Agama lahir lebih dulu dari Pancasila, beribu-ribu tahun yang lalu. Sedangkan Pancasila baru lahir 1945, baru sekitar 75 tahun lalu. Bagaimana bisa agama menjadi musuh?,” katanya kepada wartawan, Rabu (12/2/2020).

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa dalam Pembukaan UUD 1945 tertulis kemerdekaan Indonesia diraih berkat rahmat Allah.

“Para pendiri bangsa Indonesia menyatakan dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa Indonesia itu merdeka berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan Negara Indonesia dibentuk berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, dan Tuhan Yang Maha Esa itu yakni Allah Yang Maha Kuasa adalah sumber agama,  bagaimana tiba-tiba ada yang mengatakan agama musuh Pancasila?” pungkasnya.

Kontributor : Bahri

Ansharu Syariah: Masyarakat Menilai Ada Upaya Sekularisasi Terstruktur terhadap NKRI

SOLO (Jurnalislam.com) – Juru Bicara Jamaah Ansharu Syariah Ustaz Abdul Rahim Ba’asyir menyebut ada upaya membuat negara Indonesia menjadi negara sekuler dibalik peryataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi.

Hal itu dinilai Ustaz Iim semakin menjadikan masyarakat curiga akan adanya upaya sekulerisme terhadap Negara yang dilakukan secara terstruktur.

“Saat ini posisi negara ini sedang dikuasai oleh orang orang yang berpemikiran komunis dan ini sedang diupayakan Indonesia ini menjadi negara yang komunis dan ini tidak main main,” katanya saat dihubungi Jurnalislam, Rabu (12/2/2020).

Ia mengatakan bahwa ucapan Yudi yang mengatakan ‘musuh terbesar Pancasila adalah agama’ merupakan sebuah bentuk kebodohan akan sejarah terbentuknya filosofi Pancasila.

“Karena dari ucapan Yudi terlihat jelas sekali bahwa dia ingin menjadikan Pancasila yang merupakan filosofi negara ini, sebagai filosofi yang sekuler, sehingga negara harus dibangun dengan sekulerisme,” pungkasnya.

JAS: Terlihat Upaya Sekularisasi di Balik Pernyataan Kontroversial Ketua BPIP

SOLO (Jurnalislam.com) – Juru Bicara Jamaah Ansharu Syariah Ustaz Abdul Rahim Ba’asyir menyebut ada upaya membuat negara Indonesia menjadi negara sekuler dibalik peryataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi.

Ucapan Yudi yang mengatakan ‘musuh terbesar Pancasila adalah agama’ merupakan sebuah bentuk kebodohan akan sejarah terbentuknya filosofi Pancasila.

“Karena dari ucapan Yudi terlihat jelas sekali bahwa dia ingin menjadikan Pancasila yang merupakan filosofi negara ini, sebagai filosofi yang sekuler, sehingga negara harus dibangun dengan sekulerisme,” katanya saat dihubungi Jurnalislam, Rabu (12/2/2020).

“Walaupun dia mengatakan yang kita butuhkan sekuleritas, bukan sekulersisme, nah sekuleritas itu muncul karena adanya sekulerisme, dia bukan sesuatu yang muncul dengan sendirinya, orang kalau dia tidak berpikiran sekuler tidak mungkin bisa hidup sekuler,” pungkasnya.

Ucapan Ketua BPIP Dinilai Memperkeruh Kebhinekaan dan Kebangsaan

SOLO (Jurnalislam.com) – Apa yang menjadi pernyataan kepala BPIP Prof Yudian Wahyudi yang menyebut ‘Agama Jadi Musuh Terbesar Pancasila’ disebut Sekertaris The Islamic Study and Action Center (ISAC) Endro Sudarsono akan memperpanjang polemik serta membuat tidak nyaman sebagian komunitas keagamaan di Indonesia.

Pernyataan tersebut juga dinilai sama sekali tidak memberikan kenyamanan bagi pemeluk agama manapun yang dilindungi di Indonesia.

“Amanah Pasal 29 UUD 1945 Tentang Kebebasan Beragama Pasal 29 (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa,” katanya kepada Jurnalislam, Rabu (12/2/2020).

“(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing- masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu,” imbuhnya.

Endro juga mengatakan bahwa menempatkan agama sebagai musuh Pancasila adalah kesalahan besar, mengabaikan agama dalam peran serta pembangunan masyarakat di Indonesia adalah kesalahan fatal.

Agama Islam memiliki kaidah dalam berbangsa dan bernegara, tidak sekedar kaidah ibadah saja.

“Dalam agama Islam, agama berperan dalam menyelesaikan masalah perekonomian baik perbankan, keuangan, zakat, infaq, shodaqoh, wakaf, hibah dan lainnya,” ujarnya.

Tidak hanya itu, katanya, agama Islam mampu berperan dan pengembangan Sains dan Teknologi, mengembangkan pendidikan, budaya serta hukum dan HAM.

Bahkan peringatan Hari Pahlawan merujuk pada peristiwa perlawanan rakyat yang dilakukan oleh santri dan ulama, juga tak lepas dari Jihad melawan penjajahan pada saat itu.

“Perlindungan terhadap pelecehan, penistaan agama di Indonesia juga diakomodasi dalam KUHP pasal 156 a maupun dalam UU ITE,” paparnya.

Dengan demikian menempatkan agama sebagai musuh terbesar Pancasila harus dikoreksi, musuh terbesar Pancasila adalah PKI dan telah dilarang penyebarannya di Indonesia.

“Mestinya Kepala BPIP menghormati, mengakomodasi dan melindungi pengamalan nilai nilai agama untuk berkembang di Indonesia,” katanya.

“Jika pernyataan tersebut justru memperkeruh suasana kebhinekaan, kebangsaan dan kemajemukan di Indonesia, maka sebaiknya kepala BPIP mengundurkan diri dengan hormat atau presiden menggantikan yang lebih baik,” tandas Endro.

Pertentangkan Agama – Pancasila, Sejarawan Nilai Yudian Tak Layak Jadi Ketua BPIP

SOLO (Jurnalislam.com) – Sejarawan Dr Tiar Anwar Bachtiar mengatakan bahwa hanya orang yang berjiwa atheis saja yang menyebut Pancasila dan agama tidak bisa berjalan bersama.

Untuk itu, ia menilai sudah selayaknya apabila Presiden Jokowi mencarikan pengganti Prof Yudian sebagai Kepala BPIP.

Lebih lanjut, Dr Tiar menegaskan bahwa ungkapan kontroversial itu juga hanya pantas diucapkan oleh orang tidak mengerti pancasila dan bodoh dalam hal agama.

“Karena ucapan ini diucapkan oleh ketua BPIP yang harusnya jadi penjaga dan pengayom Pancasila, anya Orang Atheis yang Sebut Agama Musuh Pancasila,” kata dia saat dihubungi Jurnalislam, Rabu (12/2/2020).

Ia dinilai tidak layak untuk menempati posisi yang sebelumnya dipegang oleh Yudi Latif tersebut.

“Oleh sebab itu, Jokowi sebaiknya memecat kembali Yudian sebagai ketua BPIP,” tandasnya.

Prof Yudian sendiri sebelumnya menjabat sebagai rektor UIN Sunan Kalijaga, ia juga pernah membuat kontroversi saat membuat kebijakan melarang pengunaan cadar bagi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.

Selain itu, ia juga menjadi Ketua Sidang ujian terbuka disertasi berjudul ‘Konsep Milk Al Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital’ karya Abdul Aziz yang kemudian diprotes banyak pihak karena dianggap bentuk pelegalan terhadap perilaku Zina.

MUI: Untuk Kebaikan Bangsa, Lebih Baik Ketua BPIP Mundur

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mempertanyakan pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof Yudian Wahyudi, yang menyebut agama adalah musuh Pancasila.

Dia menilai tak semestinya agama dibentur-benturkan dengan Pancasila.

Pasalnya, agama itu sendiri adalah unsur dalam Pancasila itu yaitu sila pertama yakni Ketuhanan yang Maha Esa.

“(Agama) Dibuang? Kalau dibuang berarti tidak Pancasila lagi dan berarti negara ini bubar,” kata Wakil Rektor II Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Jakarta itu saat dihubungi Jurnalislam, Rabu (12/2/2020).

Maka dari itu, kata dia, keinginan Presiden Jokowi yang ingin Pancasila lewat BPIP dipahami dengan baik oleh masyarakat tentu menjadi terganjal jika sikap Yudian justru bertolak dari sila pertama Pancasila.

“Kalau yang bersangkutan benar punya pandangan seperti itu maka pilihan yang tepat untuk kebaikan bangsa dan negara yaitu yang bersangkutan mundur atau dimundurkan,” tuturnya.

Menurut dia, jika Yudian Wahyudi tidak diberhentikan maka sejatinya BPIP sudah kehilangan kepercayaan dari rakyat.

Tanggapi Ketua BPIP, Sejarawan: Hanya Orang Atheis yang Sebut Agama Musuh Pancasila

SOLO (Jurnalislam.com) – Sejarawan Dr Tiar Anwar Bachtiar mengatakan bahwa hanya orang yang berjiwa atheis saja yang menyebut Pancasila dan agama tidak bisa berjalan bersama.

Hal itu ia katakan pasca munculnya pernyataan kontroversial Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi yang menyebut ‘musuh terbesar pancasila adalah agama’.

“Ucapan seperti ini hanya pantas dilakukan oleh mereka yang atheis dan anti agama. Dulu PKI yang membenturkan Pancasila dengan Agama,” katanya saat dihubungi Jurnalislam, Rabu, (12/2/2020).

Lebih lanjut, Dr Tiar menegaskan bahwa ungkapan kontroversial itu juga hanya pantas diucapkan oleh orang tidak mengerti pancasila dan bodoh dalam hal agama.

“Karena ucapan ini diucapkan oleh ketua BPIP yang harusnya jadi penjaga dan pengayom Pancasila, maka ucapan ini sangat tidak layak diucapkan,” tegasnya.

MUI: Sudah Selayaknya Presiden Jokowi Pecat Ketua BPIP

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mempertanyakan pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof Yudian Wahyudi, yang menyebut agama adalah musuh Pancasila.

Dia menilai tak semestinya agama dibentur-benturkan dengan Pancasila.

“Saya tidak mengerti dan tidak bisa memahami pernyataan kepala BPIP yang menyatakan agama jadi musuh terbesar Pancasila,” kata Anwar saat dihubungi Jurnalislam, Rabu (12/2/2020).

Anwar Abbas yang juga Ketua PP Muhammadiyah itu mengatakan, jika benar Yudian memiliki pandangan seperti itu, sudah selayaknya Presiden Joko Widodo memberhentikan kepala BPIP itu.

Menurut dia, pemberhentian tidak dengan hormat tepat karena pemikiran dan pemahaman Yudian tentang Pancasila akan sangat mengancam eksistensi negara.

“Bagaimana bisa seorang kepala BPIP punya pemahaman seperti itu?” tuturnya.

Anwar mengatakan, jika cara pandang kepala BPIP soal agama harus diberangus tersebut menjadi opini publik, eksistensi dari Pancasila itu sendiri jelas terancam.

Menjaga Adab Ketika Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Jurnalislam.com – Sebagai pedoman hidup atau aturan untuk menjalani setiap bab proses kehidupan manusia, Al-Quran tentunya akan sangat dimuliakan, terpelihara bagi mereka yang mencintai Al-Quran dengan tulus ikhlas.

Turunnya Al-Quran ke bumi telah membawa perubahan besar bagi umat manusia. Karena berisi aturan hidup sehari-hari, dakwah Al-Quran begitu gencarnya diterapkan di penjuru dunia.  Tidak sedikit majelis Al-Quran anak-anak yang pembahasan kajiannya dimulai dari pengenalan huruf hijaiyah.

Majelis ilmu yang mengkaji ayat per ayat dari surat Al-Quran. Sungguh banyak majelis tahsin dimana mereka belajar membaca dan memperbaiki bacaan dengan benar dan mempelajari adab. Sejarah pun mencatat berapa negeri di penjuru dunia yang takluk dengan mukjizat Al-Quran yang dibawa oleh pemimpin Islam di masanya. Semua itu merupakan bentuk perubahan besar didunia ketika Al-Quran diturunkan.

Contoh konkret lainnya di kehidupan sehari hari kita seperti;  Seseorang yang putus asa dengan peliknya masalah, kemudian hatinya menjadi tenang ketika membaca Al-Quran. Sempitnya hati ketika berbagi ke sesama, hatinya mencair ketika dibacakan ayat ayat Al-Quran.

Kesombongan akan harta seketika melemah ketika berinteraksi dengan Al-Quran. Dan masih banyak lagi contoh di kehidupan kita tentang penerapan Al-Quran yang membawa pembacanya kepada kebaikan dan cahaya. Hal itu tidak lain dan tidak bukan salah satunya karena perhatian mereka terhadap adab atau etika dalam membaca Al-Quran.

Sehingga, interaksi dengan Al-Quran bukan semata-mata pada surat-surat saja. Bukan hanya pada membaca, menghafal dan mentadaburinya saja. Tetapi perlunya perhatian pada adab dengan Al-Quran.

Adab dengan Al-Quran justru menjadi timbangan penting. Betapa banyak orang yang ahli dengan Al-Quran sayangnya tidak memperhatikan adab-adabnya. Sehingga Al-Quran, seolah hanya menjadi khazanah wahyu keilmiahan saja tetapi tidak merubah kepribadiannya.

Tema ada dengan Al-Quran sangatlah luas. Tak heran, Imam Nawawi sampai mengumpulkannya menjadi sebuah kitab yang diberi judul At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran. Kitab ini mengkhususkan sebagai bekal adab pembawa Al-Quran.