Mengambil Ibrah dari Kisah Cinta Paling Romantis

Sebuah kisah cinta yang keromantisannya mengalahkan kisah cinta Qais dan Laila, juga mengalahkan kisah cinta Romeo dan Juliet yang terkenal dikalangan muda.  Saking romantisnya, kisah cinta ini diabadikan oleh Tuhan semesta alam Robbul Izzati untuk diperingati setiap tahunnya agar manusia yang lain dapat mengambil hikmah dan mengikuti jejak langkah kisah cinta romantis ini.

Siapakah mereka?

Tentu sudah dapat ditebak, mereka adalah Nabiyullah Ibrahim dan Ismail ‘alaihissalam.

Siapa bilang mereka tidak saling mencinta?  Bukankah Ismail ‘alaihissalam adalah seorang anak yang dinanti-nanti kelahirannya, bertahun-tahun nabiyullah Ibrahim mengharapkan memiliki seorang anak yang dapat meneruskan keturunannya, ia tak henti-hentinya berdoa dengan khusyu kepada Allah “Rabbi hab lî minas shâlihîn”

Artinya: “Tuhanku, berikanlah aku seorang anak yang saleh” (QS. As-Shaffat : 100)

Istri nya Siti Sarah merasa iba melihat Nabi Ibrahim yang sangat mendambakan kehadiran seorang anak. Kemudian, Siti Sarah pun mendapatkan ide untuk menjodohkan Ibrahim dengan budak yang dimilikinya yaitu Siti Hajar dengan harapan dari pernikahan itu suaminya akan mendapatkan keturunan, demi membahagiakan suami tercinta karena Siti Sarah seorang yang mandul.

Dari pernikahan nabiyullah Ibrahim dengan Siti Hajar, Allah pun mengabulkan doa Ibrahim, lahir seorang bayi laki-laki yang diberi nama Ismail.

“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran seorang anak yang amat sabar (Ismail)” (QS. As-Shaffat : 101)

Begitu bahagia Nabiyullah Ibrahim atas kelahiran seorang anak yang dinanti-nanti, namun barulah kebahagiaan itu direguknya, Nabiyullah Ibrahim harus berpisah dengan anaknya yang masih menyusui. Dengan kecemburuan Siti Sarah kepada Siti Hajar yang melahirkan seorang anak untuk Ibrahim, Allah pun memerintahkan Ibrahim untuk membawa Siti Hajar beserta Ismail yang sangat dicintainya ke sebuah lembah yang tandus dan tidak ada pepohonan. Selain gersang, di lembah tersebut juga tidak ditemukan penghuni lain sehingga sangat sunyi. Siti Hajar istri yang shalihah ketika mengetahui itu adalah perintah Tuhannya,  beliau menerimanya dengan penuh rasa ikhlas dan tawakal kepada Allah.

Baru tatkala Ismail beranjak dewasa, mereka berkumpul kembali dengan ayahanda tercinta, sungguh kerinduan yang tiada tara.

Namun belum juga puas mencurah rindu dan cinta, tak lama kemudian cinta mereka harus kembali diuji, melalui mimpi, Allah meminta nabiyullah Ibrahim sang ayah menyembelih anak tercinta,

 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail Berkata: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat : 102)

Sebuah percakapan yang indah antara ayah dan anak yang saling mencinta, namun cinta mereka yang begitu besar tetap lebih meninggikan cinta mereka kepada Allah SWT. Mereka mengorbankan kerinduan mereka, mengorbankan rasa cinta mereka demi cinta kepada Allah Rabb mereka. Sungguh nabi Ibrahim dan Ismail merupakan orang yang sabar bukan?

Adakah Qais dan Laila melakukan hal yang sama? Mengorbankan cinta mereka demi meninggikan cinta kepada Allah.

Bagaimana juga dengan kisah Romeo dan Juliet?

Rupanya keromantisan kisah Qais dan Laila juga Romeo dan Juliet hanyalah fiktif belaka. Bagaimana bisa kita mengagumi kisah cinta mereka, sedangkan ada banyak kisah cinta indah yang benar-benar nyata, seperti halnya kisah cinta nabiyullah Ibrahim dan anaknya nabiyullah Ismail. Saking romantisnya kisah cinta mereka, Allah yang Maha Rahim mengabadikan kisah cinta mereka dalam syari’at qurban. Dan sesiapa yang mengikuti jejak langkahnya, Allah menjanjikan itu sebuah perbuatan yang paling dicintai Nya,

“Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai ALLAH pada hari nahr kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban)… ” (HR Tirmidzi).

Kita mau meniru kisah cinta yang mana?

 

Oleh : Jumi Yanti Sutisna

Sumber : berbagai sumber

BMKG Catat Peningkatan Aktivitas Gempa di Selatan Jawa

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat selama tiga pekan terakhir, wilayah selatan Pulau Jawa mengalami peningkatan aktivitas gempa bumi signifikan. Oleh karena itu, perlu meningkatkan kewaspadaan dan menguatkan upaya mitigasi.

“Dengan meningkatnya aktivitas kegempaan di Selatan Jawa akhir-akhir ini, kami mengimbau kepada para pemangku kepentingan di bidang kebencanaan dan masyarakat luas untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terkait gempa bumi dan tsunami,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, Jumat (17/7)

Dia mengatakan, wilayah selatan Pulau Jawa memang rawan gempa. Gempa kuat dapat terjadi kapan saja dan belum dapat diprediksi secara akurat. BMKG telah mencatat setidaknya telah terjadi sembilan kali peristiwa gempa dirasakan di wilayah Pulau Jawa, yaitu gempa di selatan Pacitan M 5,0 pada 22 Juni 2020 akibat deformasi di zona Benioff.

Kemudian gempa di selatan Blitar M 5,3 pada 5 Juli 2020 akibat deformasi di zona Benioff. Gempa dalam Laut Jawa M 6,1 pada 7 Juli 2020 akibat deformasi di zona transisi mantel.

Selanjutnya gempa di Banten Selatan M 5,1 pada 7 Juli 2020 akibat deformasi di zona Benioff, gempa di selatan Garut M 5,0 pada 7 Juli 2020 akibat deformasi di zona megathrust.

Gempa di selatan Selat Sunda M 5,2 pada 7 Juli 2020 akibat deformasi di zona megathrust. Gempa di selatan Sukabumi M 4,8 pada 10 Juli 2020 akibat aktivitas sesar aktif di dasar laut.

Sumber: republika.co.id

Gelar Webinar Internasional, MUI Kutuk Rencana Aneksasi Formal Israel kepada Palestina

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Majelis Ulama Indonesia menyelenggarakan webinar international berjudul “Stop Israel’s Imperialism” Kamis (16/07) sore.

Wakil Ketua Umum MUI KH. Muhyiddin saat membuka webinar ini menyampaikan bahwa Indonesia selalu berada di belakang Palestina.

“Sikap Indonesia bukan hal baru untuk Palestina, dan Palestina juga tidak baru tentang Indonesia, Sehingga kita memiliki kesamaan, khususnya setelah Israel berencana melakukan aneksasi di Palestina, kami mengutuk apa yang sudah Israel kepada Palestina itu, ” katanya.

Dia mengatakan, Palestina menjadi salah satu negara yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Karena itu, saat ini, menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk membantu kemerdekaan Palestina, terutama karena posisi Indonesia sekarang menjadi anggota Dewan Keamanan PBB.

“Indonesia sekarang menjadi anggota DK PBB, ini adalah kesempatan emas untuk mengambil sikap terkait ini,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal MUI Buya Anwar Abbas menyampaikan, apa yang dilakukan Israel yang merencanakan aneksasi formal kepada Palestina itu, selain melanggar ham juga menimbulkan kekacauan baru di wilayah tersebut.

“Rencana aneksasi Israel adalah wujud imperialisme dan itu juga akan merusak segala upaya yang dilakukan semua pihak untuk mencari jalan keluar terkait masalah ini,” katanya.

MUI, dalam kesempatan itu, kata dia, mengajak semua pihak khususnya negara-negara mayoritas Muslim maupun organisasi seperti OKI untuk bekerjasama dan menyatukan suara.

“MUI mengajak semua bekerjasama dan menghentikan konflik ini dan mencari jalan strategis untuk menghentikan imperialisme Israel kepada Palestina,” ungkapnya.

Pertemuan melalui webinar ini, kata dia, juga salah satu langkah MUI mencari jalan paling memungkinkan dilakukan untuk menghadapi imperealisme Israel itu.

Masih dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi memandang rencana aneksasi formal ini menghadirkan tantangan besar bagi Palestina. Di satu sisi mereka harus menjaga kedaulatan negara, namun di sisi lain pandemi Covid-19 sedang mengancam.

“Secara jujur, tantangan perjuangan bangsa Palestina sangat besar dan akan semakin besar ke depan,” katanya.

“Rencana ini telah mengancam eksistensi palestina sebagai bangsa. Walaupun aneksasi formal tidak jadi dilakukan, namun bukan berarti agenda ini hilang,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Menlu menyampaikan apa yang selama ini sudah dilakukan Indonesia untuk membantu Palestina dan langkah strategis untuk membendung rencana aneksasi formal kepada Palestina oleh Israel terulang.

Kasus Covid Brasil Bertambah 1 Juta dalam 27 Hari

RIO DE JANEIRO (Jurnalislam.com) —  Kasus terkonfirmasi Covid-19 di Brasil pada Kamis (16/7) melewati angka dua juta jiwa. Jumlah penyebaran Covid belum menunjukkan perlambatan.

Sebelumnya 27 hari yang lalu, angka yang tercatat di Brasil masih satu juta kasus.  Sekarang Brasil menjadi negara dengan angka tertinggi kedua di dunia, setelah Amerika Serikat, menyangkut jumlah kasus Covid-19.

“Dalam beberapa pekan belakangan ini, terdapat hampir 40 ribu kasus baru terkonfirmasi setiap harinya di Brazil,” tulis data pemerintah.

Sebagai perbandingan, menurut hitungan Reuters, AS melewati angka satu juta hingga dua juta kasus Covid-19 dalam waktu 43 hari. Di AS, penyebaran wabah tersebut sempat menurun pada Mei, namun kembali meningkat pada Juni.

Pada Kamis, jumlah total kasus Covid-19 di Brasil adalah 2.012.151 dan kematian mencapai 76.688 jiwa. Brasil, negara berpenduduk terbanyak di Amerika Latin ini, memiliki 210 juta penduduk atau hampir dua pertiga jumlah penduduk AS.

Pada kedua negara, angka penularan melonjak karena Virus Corona jenis baru penyebab wabah tersebut meluas di kawasan baru, yang jauh dari kota-kota besar.

Kendati virus begitu parah menyebar, Bolsonaro –mantan kapten angkatan darat– telah mendesak para pemerintah daerah untuk mencabut peraturan karantina wilayah.
Bolsonaro sendiri pekan lalu, setelah menjalani tes, dinyatakan terinfeksi Virus Corona.

Ia selama ini meremehkan risiko kesehatan dan menentang pemberlakuan perintah pembatasan sosial, dengan mengatakan bahwa dampak ekonomi lebih buruk dibandingkan wabah itu sendiri.

Di bawah tekanan, banyak gubernur dan wali kota yang akhirnya melonggarkan pembatasan dalam beberapa pekan ini, sehingga menyebabkan penyebaran wabah Covid-19 meningkat.

Sumber: republika.co.id

Masyarakat Diminta Selalu Gunakan Masker

BANDUNG(Jurnalislam.com)- Wali Kota Bandung, Oded M Danial mengingatkan masyarakat untuk selalu memakai masker di setiap aktivitas yang dilakukan diluar rumah.

Termasuk saat beribadah ke masjid. Menurutnya, kebijakan tersebut bagian dari upaya meminimalisasi penyebaran virus corona atau covid-19.

“Alhamdulillah sampai hari ini, yang rentan itu ketika masker tidak dipakai tidak ditaati itu rentan,” ujarnya seusai menjadi khatib di salah satu masjid di Kota Bandung, Jumat (17/7).

Menurutnya, perilaku masyarakat yang tetap memakai masker dan menerapkan protokol kesehatan akan berkontribusi terhadap upaya meminimalisasi penyebaran covid-19. Ia mencontohkan, masjid-masjid yang sudah melaksanakan salat Jumat dan berjamaah menerapkan protokol kesehatan dengan baik.

“Alhamdulillah masyarakat kaum muslimin ketika melaksanakan ibadah di masjid sudah taat melakukan jaga jarak,” ungkapnya.

Oded mengingatkan masyarakat agar selalu menaati protokol kesehatan di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) saat ini.  Ia memastikan bahwa seluruh masjid sudah diperbolehkan untuk melaksanakan salat Jumat dan berjamaah dengan ketentuan 50 persen.

Sumber: republika.co.id

Ribuan Warga Pandeglang Banten Desak RUU HIP Dibatalkan

PANDEGLANG(Jurnalislam.com)–Gerakan massa terhadap penolakan RUU HIP dan Komunis terus bergulir ke wilayah wilayah di Indonesia.

Setelah beberapa waktu lalu di Kota Serang kini aksi serupa terjadi di Kabupaten Pandeglang Banten.

Ribuan massa dari berbagai Ormas mengadakan apel siaga di Alun-alun Menes Pandeglang.Apel ini adalah bentuk kewaspadaan terhadap komunis dan menolak RUU HIP.

“Aksi ini kita lakukan agar pemerintah dan DPR membatalkan RUU HIP/BPIP dan usut tuntas siapa di balik RUU tersebut,” kata perwakilan FPUIB UStaz Jainal kepada Jurnalislam.com, Rabu (5/7/2020).

Ormas ormas yang terlibat dalam aksi ini diantaranya FPI, Pemuda Pancasila, FPUIB,FUIB,FORBAS , Tokoh Masyarakat dan ormas lainnya.L

ebih lanjut ustaz Jaina mengajak semua penduduk negeri ini untuk mewaspadai potensi bangkitnya gerakan komunis.

Aksi apel siaga ini dimulai pukul 13.30 dan berakhir pukul 16.00.Masyarakat sangat antusias terhadap apel tersebut dan perwakilan ormas bergantian menyampaikan orasi tentang bahayanya Komunis dan RUU HIP.

Reporter: Jajat Sudrajat

Toreh Sejarah Baru, KAMMI Turki Gelar Daurah Marhalah I Virtual Perdana

ANKARA(Jurnalislam.com) – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Turki sukses menggelar Daurah Marhalah I atau Latihan Kepemimpinan Tingkat I virtual perdana dalam sejarah panjang pengkaderan KAMMI. Pasalnya dikarenakan kondisi wabah Covid-19 yang melanda Turki menyebabkan akses berpergian dan izin untuk melakukan kegiatan berkumpul menjadi terbatas. Oleh karena itu KAMMI Turki berinisiatif mengadakan kegiatan ini via Zoom salah satu aplikasi meeting berbasis online.

Daurah Marhalah I ini menyajikan serangkaian acara bertemakan “The Art of Leadership, Membentuk Generasi Muslim Negarawan dengan Spirit Peradaban Negeri Dua Benua” dengan tujuan membentuk jiwa kepemimpinan anak-anak muda. “Ditujukan khususnya kepada mahasiswa agar mereka terlahir sebagai pemimpin-pemimpin muda dengan nilai Islam sebagai landasan dalam upaya KAMMI memperbaiki bangsa dan negara Indonesia yang lebih berdaulat, adil dan makmur”, ujar Adi Sutrisno selaku Ketua Umum KAMMI Turki.

Muhammad Alfathih Hidayat selaku Wakil Ketua Umum KAMMI Turki menuturkan bahwa, “Rangkaian acara ini diharapkan dapat melahirkan mahasiswa diaspora Indonesia yang memiliki semangat keislaman dan nasionalisme tinggi. Serta dapat menjadi pemimpin yang kelak mampu merealisasikan cita-cita bangsa Indonesia dan dunia Islam di masa depan”.

Acara Daurah Marhalah I ini diikuti oleh sejumlah mahasiswa diaspora Indonesia yang sedang menempuh perkuliahan di Turki. Para peserta berdomisili di beberapa kota di Turki diantaranya Istanbul, Bursa, Kastamonu, Sakarya, Kayseri, Ankara, dan Denizli. Rangkaian kegiatan Daurah Marhalah I ini diawali dengan acara pra Daurah Marhalah 1 pada tanggal 3 Juli 2020 yang kemudian dilanjutkan dengan rangkaian acara utama yang dimulai seminggu kemudian yaitu tanggal 10-12 Juli 2020.

Pada kegiatan tanggal 3 Juli ini, panitia Daurah Marhalah I menghadirkan Ahmad Zaky Rivai, seorang social media influencer untuk menyampaikan materi bertemakan “Insipiring Young Leaders – KAMMI, Youth and Bright Future for Our Country”. Panitia turut menghadirkan Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki, Usamah Abdurrahman pada tanggal 10 Juli 2020 sebagai keynote speaker yang menyampaikan materi bertemakan ”Peran Diaspora Pelajar Indonesia dalam Diplomasi Publik dan Kebudayaan di Turki”.

Daurah Marhalah I virtual perdana ini menyajikan beragam diskusi dan materi yang disampaikan oleh aktivis senior KAMMI yang berdomisili di Turki dan pengurus pusat KAMMI di Indonesia. Disamping itu KAMMI Turki turut megundang kawan-kawan diaspora KAMMI yang berdomisili di beberapa negara lain diantaranya Rusia, Libya, dan Malaysia sebagai peninjau acara.

Disamping mendengarkan materi, para peserta juga diajak untuk berdialog dan berdiskusi satu sama lain. Dikarenakan terbatasnya ruang dan waktu, sesi pelatihan lebih banyak diisi dengan diskusi. Hal ini dilakukan untuk membangun keakraban dan ukhuwwah antar peserta. Walaupun kegiatan diadakan secara virtual, hal ini tidak mengurangi keaktifan dan partisipasi dari para peserta.

“Daurah Marhalah I ini menjadi menarik karena digelar secara daring di tengah kondisi pandemi. Namun esensi dari materi kegiatan tetap tersampaikan dengan baik oleh para pemateri”, ungkap Minhaj Rabbani salah satu peserta pelatihan.

Bertambah 207, 1.280 Jemaah Ajukan Pengembalian Setoran Pelunasan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Jemaah yang mengajukan pengembalian setoran pelunasan terus bertambah. Data sampai 7 Juli 2020, ada 1.230 jemaah yang mengajukan. Sore ini, Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) mencatat total 1.280 jemaah atau hanya 0,065 % dari seluruh jemaah yang melunasi.

“Satu pekan terakhir, ada 207 jemaah yang mengajukan setoran pelonasan. Jadi total sampai sore ini, ada 1.280 jemaah,” terang Direktur Layanan Haji Dalam Negeri Muhajirin di Jakarta, Selasa (14/07).

“Sebanyak 1.230 jemaah sudah keluar Surat Perintah Membayar (SPM) dan mestinya sudah terkirim uangnya ke rekening mereka,” sambungnya.

Sejak memutuskan membatalkan keberangkatan jemaah haji 1441H pada 2 Juni 2020, Kemenag memberi pilihan kepada jemaah untuk mengambil kembali setoran pelunasannya. Caranya, jemaah mengajukan permohonan ke Kantor Kemenag Kab/Kota. Pengajuan itu lalu diproses ke Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), dan Bank Penerima Setoran (BPS).

Setelah mendapat Surat Perintah Membayar (SPM) dari BPKH, BPS akan mentransfer dananya ke rekening jemaah. Secara prosedur, proses ini berlangsung selama sembilan hari kerja sejak berkas permohonan dinyatakan lengkap oleh Kankemenag Kab/Kota.

Muhajirin menjelaskan, sampai saat ini, setiap hari kerja, selalu ada jemaah yang mengajukan permohonan pengembalian setoran pelunasan, namun jumlahnya tidak banyak. Dalam lima hari kerja terakhir misalnya, pengajuan pengembalian pada rentang 24 sampai 69 orang per hari.

“Sepertinya sebagian besar jemaah memilih tidak mengambil kembali setoran pelunasannya,” tuturnya.

Provinsi dengan jumlah jemaah yang mengajukan permohonan pengembalian setoran pelunasan terbanyak adalah Jawa Timur, yaitu 243 orang. Urutan terbanyak berikutnya adalah Jawa Tengah (235), Jawa Barat (180), Sumatera Utara (75), Lampung (61), DKI Jakarta 48), dan Banten (39).

“Hanya Provinsi Maluku yang baru satu jemaah mengajukan permohonan. Sementara Maluku Utara dan Papua, masing-masing dua orang,” tandasnya.

Pemkot Bogor Keluarkan Protokol Shalat Id dan Pemotongan Hewan Kurban

BOGOR(Jurnalislam.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengeluarkan Surat Edaran Nomor: 440-2458-Hukham tentang Protokol Kesehatan penyelenggaraan Sholat Idul Adha, Penjualan dan Pemotongan Hewan Kurban 1441 H/2020 M selama masa pandemi Covid-19. Surat edaran tersebut telah ditandatangani Wali Kota Bogor, Bima Arya, Selasa (14/07/2020) .

Kepala Bagian Hukum dan HAM Setda Kota Bogor, Alma Wiranta menuturkan, dasar surat edaran tersebut dikeluarkan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non alam Penyebaran Covid- 19;

Surat Edaran Menteri Agama Nomor 18 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Sholat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban tahun 1441 H/2020 M Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19;

Surat Edaran Kementerian Pertanian Nomor 0008/SE/PK.20/F/06/2020 tentang Pelaksanaan Kegiatan Kurban dalam Situasi Wabah Bencan Non Alam Covid-19;

Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 451/ HO/HUKHAM tentang Penyelenggaraan Sholat  Idul  Adha  Dalam  Situasi  wabah  Bencana  Non Alam Covid- 19 ; dan Keputusan Wali Kota Bogor Nomor 900.45-406 tentang Perpanjangan Status Tanggap Keadaan Tanggap Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Covid- 19 di Kota Bogor.

“Tentunya kami menghimbau kepada semua masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan di masa AKB ini. Kami sama sekali tidak melarang, hal ini dilakukan agar kita bisa tetap aman, tertib dan bisa menjalankan tuntunan agama Islam dengan mempertimbangkan peningkatan penularan infeksi Covid-19,” ujar Alma, Rabu (15/07/2020).

Untuk penyelenggaraan Sholat Idu1 Adha tahun 1441 H/2020 M dibolehkan untuk dilakukan di lapangan/ masjid/ruangan dengan syarat pengawasan ketat dari petugas dengan penerapan protokol kesehatan di area tempat pelaksanaan dengan menerapkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19 sebagai berikut :

a.        Kebersihan tempat penyelenggaraan Sholat Idul Adha dengan menggunakan
desinfektan;
b.        Jamaah sehat dan wajib memakai masker;
C. Menyediakan fasilitas cuci tangan, air mengalir dan hand sanitizer di jalur
masuk dan keluar
d.        Melakukan pemeriksaan suhu tubuh jamaah ;
e.        Tidak mewadahi sumbangan/ sedekah jamaah berupa menjalankan kotak;
f.        Membawa sajadah masing-masing;
g.        Tidak berjabat tangan dan berpelukan;
h.        Menerapkan jaga jarak antara sesama jamaah minimal 1 meter;
i.         Mempersingkat pelaksanaan sholat Idu1 Adha dan khutbah;
j.         Tidak mengajak anak di bawah 5 tahun dan lanjut usia dengan sakit bawaan
resiko tinggi.

“Pada intinya kita mendukung apa yang tertuang di dalam surat edaran tersebut. Kami menghimbau kepada masyarakat, terutama penyelenggara Idul Adha dan panitia kurban harus menaati, pokoknya harus betul-betul ditaati agar kita bisa terhindar dari Covid-19 dengan tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan,” ujar Kepala Bagian (Kabag) Administrasi Kesejahteraan Masyarakat (Adkesra) Setda Kota Bogor, Iman.

Wantim MUI Minta RUU HIP Dicabut dari Prolegnas

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI menyoroti berbagai dinamika dalam kehidupan nasional dan kebangsaan. Di antaranya pembahasan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) di DPR yang menyebabkan gelombang aksi, baik di Jakarta maupun kota-kota besar lainnya.

 

“Dewan Pertimbangan menyatakan dan memantapkan keyakinan tentang Pancasila sebagai dasar Negara dan falsafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sudah final. Maka kami memantapkan hati untuk mengawal Pancasila dari setiap upaya untuk mengubahnya atau menafsirkan sepihak,” kata Ketua Wantim MUI, Prof Din Syamsuddin, Rabu (15/7) via zoom.

 

Dewan Pertimbangan MUI, lanjut Din, menetapkan hati dan pikiran agar Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) dicabut dari Prolegnas. “Maka, upaya mengotak-atik Pancasila sebagaimana kesepakatan pada 18 Agustus 1945 adalah kontra produktif dan potensial menciptakan pertentangan dalam kehidupan bangsa,” ujarnya.

 

Bersamaan dengan itu, Wantim juga meminta kepada DPR dan pemerintah agar tidak membuat peraturan dan perundangan yang tidak membawa kemaslahatan masyarakat dan hanya menguntungkan segelintir pengusaha saja, seperti RUU Omnibus Law dan UU Minerba. Hendaknya dua RUU ini ditinjau ulang demi kepentingan kedaulatan negara.

 

“Wantim MUI juga meminta pemerintah khususnya Kemenag dan Kemendikbud untuk tidak mengeluarkan kebijakan yang bertentangan dengan tujuan dan prinsip pendidikan terutama yang menekankan keimanan dan ketakwaan dan akhlak mulia. Maka kurikulum pendidikan agama tetap diberikan kepada peserta didik sesuai dengan agamanya oleh pendidik sesuai agama masing-masing,” katanya.

 

Sementara, dalam rangka pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran dalam masa pandemi Covid 19, hendaknya pemerintah memberi perhatian sungguh-sungguh untuk menyelamatkan pendidikan nasional terutama di daerah terluar, terpencil, atau kawasan pedesaan. “Untuk itu infrastruktur pendidikan nasional seperti telekomunikasi, jaringan internet, dan lain sebagainya penting segera dibangun,” katanya.