Kasus Covid-19 Global Tembus 100 Juta

LONDON(Jurnalislam.com) – Kasus virus corona global melampaui 100 juta pada Rabu (27/1), menurut penghitungan Reuters. Saat ini negara-negara di penjuru dunia berjuang melawan varian baru dan kekurangan vaksin.

Hampir 1,3% dari populasi dunia kini telah terinfeksi COVID-19, penyakit yang disebabkan virus corona baru. Selain itu, lebih dari 2,1 juta orang telah meninggal.

Rata-rata satu orang terinfeksi setiap 7,7 detik, sejak awal tahun. Sekitar 668.250 kasus telah dilaporkan setiap hari selama periode yang sama, dan tingkat kematian global mencapai 2,15%.

Negara-negara yang terkena dampak terburuk adalah Amerika Serikat (AS), India, Brasil, Rusia, dan Inggris, dengan lebih dari setengah kasus COVID-19 yang dilaporkan. Lima negara itu mewakili 28% dari populasi global, menurut analisis Reuters.

Dunia membutuhkan waktu 11 bulan untuk mencatat 50 juta kasus pertama pandemi, dibandingkan dengan hanya tiga bulan hingga kasus menjadi dua kali lipat menjadi 100 juta.

Sumber: sindonews.com

Tes GeNose UGM Bisa Digunakan di Stasiun Gambir dan Yogyakarta

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pelanggan kereta jarak diharuskan menunjukkan surat keterangan hasil pemeriksaan negatif Covid-19 dengan tes antigen atau usap sebagai perjalanan mulai 26 Januari sampai dengan 8 Februari 2021.

Kini, penumpang kereta juga bisa berangkat dengan menunjukkan hasil tes negatif GeNose.

Aturan tersebut sesuai Surat Edaran (SE) Kementerian Perhubungan Nomor 11 Tahun 2021 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang dengan Transportasi Perkeretaapian dalam Masa Pandemi Covid-19. Surat keterangan negatif Covid-19 tersebut sampelnya diambil maksimal 3×24 jam sebelum keberangkatan.

Persyaratan tersebut tidak wajib untuk pelanggan di bawah 12 tahun. Vice President Public Relations KAI Joni Martinus, menjelaskan layanan pemeriksaan tes Genose di stasiun rencananya tersedia secara bertahap mulai 5 Februari 2021.

Saat ini, sambung dia, persiapannya masih diurus Universitas Gadjah Mada dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), selaku penyedia jasa. “Pada tahap awal, layanan tersebut rencananya disediakan di Stasiun Gambir dan Yogyakarta terlebih dahulu,” ujar Joni dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (27/1).

Saat ini, KAI telah menyediakan layanan tes cepat antigen di 46 stasiun seharga Rp 105 ribu per orang. Pelanggan yang ingin melakukan tes cepat antigen di stasiun diharuskan menyiapkan tiket kereta atau kode pemesanan yang sudah dibayarkan lunas dan kartu identitas asli.

Setiap pelanggan kereta harus dalam kondisi sehat, suhu badan tidak lebih dari 37,3 derajat celsius, memakai masker kain tiga lapis atau masker medis yang menutupi hidung dan mulut, dan diimbau menggunakan pakaian lengan panjang.

Sumber: republika.co.id

 

1 Juta Kasus Covid-19, Epidemiolog: Jangan Lupa Tracing, Testing, Treatment!

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang mencatat jumlah kasus positif Covid-19 sebanyak 1.012.350 orang.

Terkait itu, Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menyampaikan sejumlah pesan penting yang mesti dilakukan pemerintah ke depannya.

Dicky menilai saat ini pemerintah kerap menyampaikan pesan soal vaksinasi dan kewajiban protokol kesehatan Covid-19. Tetapi menurutnya ada satu hal yang jauh lebih penting yakni tracing, testing dan treatment (3T) yang mesti dijalankan.

“Jangan dilupakan bukan hanya prokes, itu kan (dijalankan) masyarakatnya, tapi 3T-nya jauh lebih penting daripada vaksiniasi dan dari prokes itu,” kata Dicky saat dihubungi Suara.com, Selasa (26/1/2021) malam.

Karena itu ia menilai kalau pemerintah bukan hanya mengejar soal protokol kesehatan saja di tengah disituasi yang semakin serius.

Indonesia menjadi negara Asia Tenggara yang masuk ke dalam 20 besar karena jumlah kasus covid-19nya sudah mencapai satu juta orang. Namun, kelemahan Indonesia itu berada pada cangkupan testing yang masih rendah yakni sekitar 32 ribu per 1 juta populasi di tanah air.

“Ini satu performa testing yang rendah sekali,” ujarnya.

Apabila dibandingkan lagi dengan negara terdekat yang juga memiliki 1 juta kasus Covid-19, mereka mampu melakukan testing 5 hingga 6 kali lipat lebih banyak daripada Indonesia.

Dengan demikian, Dicky menilai kalau jumlah kasus Covid-19 di tanah air sebetulnya lebih dari angka satu juta.

Kalau kondisinya seperti itu, Dicky mengungkapkan kalau bukan tidak mungkin bakal ada ledakan kasus di tengah jalannya program vaksinasi.

“Itu bukan hal yang tidak mungkin dan tidak ada jaminan juga vaksinasi itu akan berhasil, apalagi dengan strategi 3T yang sangat tidak memadai ini yang harus dipahami, diluruskan dan ditegaskan.”

Sumber:suara.com

Menkeu Sebut Wakaf Sudah Digunakan Proyek Pemerintah Rp 597 Miliar

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut, pemerintah terus mengelola wakaf tunai.

Bahkan, wakaf tunai tersebut telah dititipkan ke perbankan. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengungkapkan, hingga 20 Desember 2020, wakaf tunai yang dititipkan ke perbankan sebanyak Rp 328 miliar.

 

Wakaf tunai itu, lanjut Sri Mulyani, juga telah digunakan untuk berbagai proyek pembangunan di Indonesia.

“Sampai 20 des 2020 total wakaf tunai terkumpul melalui dan dititipkan bank sebesar Rp 328 miliar, sedangkan projek Based wakaf capai Rp 597 miliar,” ujar Sri Mulyani dalam Peluncuran Gerakan Wakaf Uang secara virtual, Senin (25/1/2021).

Menurut Sri Mulyani, tak hanya lewat wakaf, pembangunan infrastruktur juga ada yang didanai oleh Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)

Ia menerangkan, pemerintah tahun ini mengeluarkan dana sebesar Rp 27 triliun untuk membiayai proyek infrastruktur di Indonesia.

“Peningkatan luar biasa, dari 2013 hanya 1 kementerian yang gunakan SBSN proyek, saat ini sudah ada 11 Kementerian yang ikut serta dalam penggunaan instrumen SBSN,” kata dia.

Sebelumnya, Pemerintah menyiapkan alokasi pembiayaan pembangunan infrastruktur pada tahun 2021 sebesar Rp 27,57 triliun yang akan dilakukan melalui penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Total dari anggaran tersebut mencakup untuk 847 proyek infrastruktur yang tersebar di 11 kementerian lembaga dan 34 provinsi.

“Untuk tahun 2021 ini alokasi proyek infrastruktur melalui SBSN adalah sebesar Rp 27,58 triliun,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Luky Alfirman dalam acara kick off pembiayaan infrastruktur 2021 melalui SBSN, secara virtual Rabu (20/1/2021).

Sumber: suara.com

Wakaf Cenderung Konsumtif, Dai Diminta Edukasi Pengembangan Aset Wakaf

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis memandang penting mengubah pola pikir umat atau masyarakat tentang wakaf.

Karena itu para dai dan penceramah perlu menyosialisasikan wakaf untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang wakaf.

“Saya pikir yang paling utama dari gerakan wakaf adalah mengubah pola pikir masyarakat Indonesia tentang wakaf itu,” kata Kiai Cholil, Selasa (26/1).

Ia mengatakan, mungkin awalnya masyarakat hanya mengenal wakaf 3 M, yakni masjid, madrasah dan maqbaroh (makam/ kuburan). Jadi pola pikir dan pemahaman masyarakat terhadap wakaf harus diubah.

Ia menceritakan, wakaf yang pertama kali dilakukan oleh Sayyidina Umar bin Khattab berupa perkebunan dan pertanian. Bertani merupakan salah satu pekerjaan yang mulia.

“Artinya lahan produktif (yang diwakafkan Sayyidina Umar bin Khattab). Kalau sekarang dari pertanian menjadi industri, jadi perniagaan itu turunan dari produktif artinya wakaf pada dasarnya produktif,” ujarnya.

Kiai Cholil melihat ada kesalahpahaman masyarakat memahami wakaf. Sehingga sekarang wakaf menjadi konsumtif, yakni hanya melakukan pemakaian bukan melakukan pengembangan aset wakaf.

Kalau merujuk pada sejarah Islam, wakaf menjadi ikon pembangunan peradaban. Seperti Baitul Hikmah dibiayai oleh wakaf.

Jalan raya dari Baghdad di Irak sampai ke Makkah juga dibangun dari dana wakaf untuk jamaah haji.

“Oleh karena itu penting penceramah dan para dai promosi tentang wakaf terus dikembangkan,” ujarnya.

 

Sumber: republika.co.id

MUI Minta Dai Tingkatkan Literasi Wakaf

JAKARTA(Jurnalislam.com) Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan meminta para dai untuk meningkatkan literasi wakaf umat.

Komisi Dakwah MUI melihat literasi wakaf khususnya wakaf uang masih sangat perlu ditingkatkan.

“Nanti kita arahkan para dai ceramah dan khutbah dengan tema-tema wakaf,” kata Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, KH Ahmad Zubaidi, Selasa (26/1)

Kiai Zubaidi mengatakan, sosialisasi wakaf untuk meningkatkan literasi wakaf akan menjadi salah satu perhatian Komisi Dakwah MUI.

Ia  akan mendorong para dai di seluruh provinsi yang ada di d Indonesia agar di setiap kesempatan memberikan literasi wakaf.

Menurutnya, masyarakat masih awam tentang wakaf uang. Jadi literasi wakaf masyarakat masih perlu sangat ditingkatkan. Peran para dai menyosialisasikan wakaf bisa membantu meningkatkan literasi wakaf masyarakat.

“Masyarakat (awam) tidak paham wakaf uang, sekarang ada wakaf yang canggih melalui perbankan syariah, nadzhir wakaf akan menggunakan uang wakaf sebaik mungkin untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Kasus Corona RI Tembus Satu Juta, Pemerintah Mengaku Turut Berduka

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Pandemi Covid-19 di Tanah Air yang sudah berlangsung hampir 11 bulan belum menunjukkan tanda bakal berakhir. Justru, penularan virus corona terus meluas. Kasus bahkan menembus 1 juta per Selasa (26/1/2021). 

Angka tersebut merupakan akumulasi sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020. Merespons angka ini, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah menteri ke Istana Kepresidenan, Jakarta, untuk menggelar rapat terbatas.

Salah satu yang turut menghadiri rapat yakni Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Usai rapat, Menkes pun menyampaikan sejumlah pesan. Ia menyebut bahwa ada 2 makna di balik angka Covid-19 yang kasusnya sudah lebih dari 1 juta.

“Angka ini membuat kita harus merenung dan ada dua momen penting yang harus kita sadari,” kata Budi dalam tayangan YouTube Sekretariat Presiden, Selasa.


Makna pertama, kata Budi, saatnya Indonesia untuk berduka. Sebab, dengan terus meningkatnya kasus, banyak sekali pasien yang meninggal dunia. Bahkan, sudah lebih dari 600 tenaga kesehatan gugur dalam menghadapi pandemi ini.

 “Dan mungkin sebagian dari kelaurga dekat dan teman dekat sudah meninggalkan kita. Itu momen pertama yang harus kita lalui, bahwa ada rasa duka yang mendalam dari pemerintah, dari seluruh rakyat Indonesia atas angka ini,” ujar Budi.

Makna kedua, kerja ekstra keras mesti terus dilanjutkan. Dengan cara demikian, pengorbanan yang sudah dilakukan para tenaga kesehatan tidak menjadi sia-sia. Menurut Budi, 1 juta kasus Covid-19 memberikan indikasi bahwa seluruh rakyat Indonesia bersama pemerintah harus bekerja bersama-sama untuk mengatasi pandemi dengan lebih keras lagi.
sumber: kompas.com

Pakar: Lockdown Dulu Nggak Mau Karena Mahal, Faktanya Sekarang Lebih Mahal

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pemerintah memutuskan memperpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Pakar Kebijakan Publik, Agus Pambagio menilai, bahwa PPKM tidak cukup efektif, satu-satunya cara untuk menghentikan peningkatan infeksi covid-19 hanyalah lockdown.

“Tidak ada gunanya itu (PPKM diperpanjang). Kalau lockdown saya setuju. Karena saya, dari awal saya menyarankan pemerintah lockdown tapi kan tidak dilakukan,” kata Agus dalam sambungan telepon, Senin (25/1).

Menurut Agus, dengan lockdown artinya orang dilarang berlalu-lalang, tidak boleh keluar sama sekali.

Sehingga, makanan dan semua kebutuhan dijamin oleh negara. Tapi sayang, kata dia, negara tidak menyanggupi karena ongkosnya yang mahal.

“Makannya harus ditanggung negara, cuma kan enggak mau, katanya mahal, sekarang lebih mahal udah 11 bulan, (kasus) masih naik terus enggak berkurang,” ungkapnya.

Padahal lanjut Agus, jika sejak awal pandemi pemerintah bisa melakukan lockdown, maka pendataan dan tracing akan lebih mudah.

“Di-tracing, di cek setiap kelurahan RT- RW dengan waktu yang ditentukan sehingga ketahuan siapa yang sakit, siapa yang pernah berkontak. Sekarang mana bisa, orang-orang masih keluyuran,” kata dia.

Sebelumnya, Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay mengusulkan agar pemerintah menerapkan lockdown akhir pekan sebagaimana yang sudah diterapkan Turki.

 

Penerapannya, masyarakat tidak boleh keluyuran mulai Jumat malam pukul 21.00 hingga Senin pukul 05.00.

“Itu kan orang selama dua hari tiga malam itu enggak ada penyebaran virus kan sebenarnya. Semua orang di rumah. Bisa enggak dicarikan alternatif seperti itu misalnya itu namanya lockdown akhir pekan,” kata Saleh kepada, Ahad (24/1).

Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah Penangangan Covid-19 Wiku Adisasmito mengapresiasi usulan terkait lockdown pada akhir pekan. Namun, hal tersebut belum bisa dipastikan akan menjadi kebijakan di tengah pandemi seperti ini.

“Saya apresiasi usulannya. Namun, kebijakan penanganan pandemi bisa ditetapkan setelah melalui banyak pertimbangan dari Kementerian/Lembaga terkait,” katanya, Senin (25/1)

Epidemiolog dari Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat Defriman Djafri meminta pemerintah harus mengevaluasi kebijakan PPKM yang diterapkan. Ini karena kasus Covid-19 di Tanah Air masih terus meningkat.

“Perlu kita evaluasi. Kalau jumlah kasus naik itu jelas dan kalau turun maka pastikan pembatasan yang akan dilakukan,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Ahad.

Ia mengatakan pada dasarnya pembatasan pergerakan masyarakat seharusnya berimbas pada penurunan jumlah kasus Covid-19. Namun, kebijakan PPKM Jawa dan Bali 11 hingga 25 Januari belum menunjukkan hasil yang diharapkan.

Sumber: republika.co.id

Dituding Isu Radikal, KPK: Ada Tujuan dari Pihak Tertentu

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron memastikan, tidak ada Taliban dan radikalisme di lingkungan internal KPK. Dia menilai, isu tersebut sengaja dimunculkan dengan suatu tujuan dari pihak-pihak tertentu.

“KPK mencurigai diangkatnya isu tersebut adalah upaya pihak-pihak yang tujuan-tujuan tertentu apa pun itu,” kata Nurul Ghufron di Jakarta, Senin (25/1).

Dia mengatakan, sebagai penegak hukum, KPK akan tetap bekerja pada koridor sesuai aturan yang berlaku. Dia melanjutkan, KPK akan selalu mengedepankan prinsip profesionalisme dan akuntabilitas dalam penanganan perkara.

“Kami selalu terbuka atas kritik dan mengajak masyarakat untuk mengawal setiap prosesnya,” katanya.

Sumber: republika.co.id

PBB Minta Srilanka Hentikan Kremasi untuk Jenazah Muslim Korban Covid-19

KOLOMBO(Jurnalislam.com) — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mendesak pemerintah Sri Lanka untuk menghentikan kebijakan kremasi paksa jenazah korban Covid-19, Senin (25/1). Praktik ini bertentangan dengan kepercayaan Muslim dan populasi minoritas lainnya.

“Pemberlakuan kremasi sebagai satu-satunya pilihan untuk menangani jenazah yang dikonfirmasi atau diduga Covid-19 merupakan pelanggaran hak asasi manusia,” kata para ahli dalam sebuah pernyataan dikutip dari Aljazirah.

Sri Lanka mewajibkan kremasi bagi orang-orang yang meninggal atau diduga meninggal akibat virus corona sejak Maret tahun lalu. Pakar hak asasi manusia PBB mengatakan kebijakan tersebut dapat menimbulkan prasangka, intoleransi, dan kekerasan.

“Belum ada bukti medis atau ilmiah yang mapan di Sri Lanka atau negara lain bahwa penguburan jenazah menyebabkan peningkatan risiko penyebaran penyakit menular seperti Covid-19,” ujar ahli dari PBB tersebut.

Para ahli PBB mencatat bahwa sementara pemerintah menugaskan otoritas kesehatan untuk mengeksplorasi opsi penguburan di tengah pandemi, saran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk kedua opsi tersebut malah diabaikan.

“Kami prihatin mengetahui bahwa rekomendasi untuk memasukkan opsi kremasi dan penguburan untuk peristirahatan jenazah korban Covid-19 oleh panel ahli yang ditunjuk oleh Menteri Negara Layanan Kesehatan Primer, Pandemi, dan Pencegahan Covid dilaporkan diabaikan oleh Pemerintah,” kata para ahli.

Selain itu, PBB mengatakan kebijakan kremasi paksa hanya akan menghalangi orang untuk mencari perawatan kesehatan. Hal ini diakibatkan mereka ketakutan akan diskriminasi nantinya.

“Kami sama-sama prihatin bahwa kebijakan semacam itu menghalangi orang miskin dan paling rentan untuk mengakses layanan kesehatan publik karena takut akan diskriminasi,” ujar para ahli memperingatkan.

Beberapa protes dilaporkan di timur laut Sri Lanka bulan lalu terhadap kremasi paksa. Banyak pita putih yang diikatkan ke gerbang krematorium sebagai tanda kemarahan.

Banyak warga lainnya memprotes secara daring, mengeklaim Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa menggunakan pandemi untuk meminggirkan minoritas Sri Lanka, terutama Muslim. Padahal Muslim merupakan 10 persen dari 21 juta penduduk Sri Lanka.

Sumber: republika.co.id