Epidemiolog Minta Masyarakat Diam di Rumah Seperti Awal Corona

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com)–Pakar epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad menyarankan warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan daerah lain untuk berada di rumah saja. Menurutnya, kenaikan kasus positif virus corona akhir-akhir ini karena mobilitas warga.

“Sudah jelas, peningkatan kasus ini kan kaitannya dengan mobilitas yang tinggi. Dan satu cara mengendalikan penularan ketika sudah meningkat seperti ini dengan menurunkan mobilitas,” kata Doni, sapaan akrabnya, saat diwawancarai wartawan usai rapat dengan jajaran Pemda DIY di Kompleks Kepatihan, Kemantren Danurejan, Yogyakarta, Senin (21/6/2021).

Ia menjelaskan, menghentikan atau menurunkan mobilitas ini sudah terbukti di berbagai negara. Doni lalu mencontohkan Vietnam, Selandia Baru, dan negara lain di dunia banyak yang sukses menekan kasus Corona dengan menghentikan mobilitas penduduk.

“Kita seperti kembali di awal (pandemi Corona). Saya yakin masyarakat kita bisa untuk bekerja di rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, jika menggunakan ukuran epidemiologi biasanya dua hal yang akan dikendalikan. Yaitu soal vaksinasi dan penularannya.

“Nah ini yang secara utuh satu kebijakan dari pemerintah tapi juga dukungan dari masyarakat kalau memang kita tidak ingin kasusnya meloncat lebih tinggi lagi,” katanya.

Sumber: detik.com

Mahfud: Jabatan Presiden Maksimal Dua Periode

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, menyatakan lebih setuju masa jabatan presiden maksimal dua periode. Menurut dia, hal tersebut diatur oleh konstitusi untuk membatasi kekuasaan seseorang, baik dari segi lingkup maupun waktu.

“Secara pribadi saya lebih setuju seperti sekarang, maksimal dua periode saja,” ujar Mahfud lewat akun Twitter pribadinya, @mohmahfudmd, dikutip Senin (21/6).

Mahfud menerangkan, maksud dari hal tersebut diatur oleh konstitusi negara ini. Menurut mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu, masa jabatan presiden diatur maksimal hanya dua periode karena untuk membatasi kekuasaan, baik dari sisi lingkup maupun waktunya.

“Adanya konstitusi itu, antara lain, untuk membatasi kekuasaan, baik lingkup maupun waktunya,” kata dia.

Hal tersebut Mahfud sampaikan saat menanggapi cicitan terkait dukungan masa jabatan Presiden Joko Widodo menjadi tiga periode yang menyebut namanya. Mahfud merasa, namanya disebut dalam cicitan tersebut kurang tepat.

Sebab, dia bukan anggota partai politik (parpol) ataupun MPR. “Kurang tepat di-mention kepada saya. Sebab, saya bukan anggota parpol atau MPR. Dua atau tiga periode arenanya ada di parpol dan MPR,” ujar Mahfud.

Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan dirinya tidak berniat menjadi presiden tiga periode. Hal sama pernah diungkapkannya setahun lalu. Hingga kini pemikiran itu menurutnya belum berubah.

“Saya tegaskan saya tidak ada niat, tidak ada juga berminat menjadi presiden tiga periode,” kata Jokowi dalam pernyataan persnya, Senin (15/3).

Isu penambahan masa jabatan presiden menjadi tiga periode ini sebelumnya juga pernah muncul akhir 2019 lalu. Saat itu, Jokowi menyebut wacana itu dimunculkan karena ada pihak yang ingin menjerumuskannya hingga mencari muka kepadanya.

Jokowi mengatakan, amendemen hanya diperlukan untuk urusan haluan negara. “Kalau ada yang usulkan itu, ada tiga menurut saya. Satu, ingin menampar muka saya, ingin cari muka, menjerumuskan. Itu saja,” kata Jokowi saat itu.

Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, menilai saat ini Jokowi hanya bicara normatif tidak ingin memimpin tiga periode. Sebab, hal itu masih terbentur dengan amendemen Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

“Ya, beliau bicara normatif saja karena amendemen UUD 1945 kan hanya menyatakan dua periode. Kalau nanti bisa diubah tiga periode, saya kira Pak Jokowi tidak bisa menolak, apalagi kalau partai politik, seperti PDIP, yang meminta beliau maju. Pada 2024 ini, lebih aman dan pasti Jokowi yang maju daripada kombinasi yang lain,” katanya, Sabtu (19/6).

Kemudian, ia melanjutkan terdapat alasan mengapa mengusung Jokowi-Prabowo maju dalam Pilpres 2024. Salah satunya, agar tidak terjadi polarisasi di masyarakat, seperti Pemilihan Presiden 2019, dan ia menganalisis kalau mereka (Jokowi-Prabowo) mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat.

“Ya, fokus saat ini berkomunikasi kepada masyarakat Indonesia terkait hal ini. Kalau gagasan ini diketahui masyarakat, kecenderungan mendukungnya akan sangat besar,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

 

DPR Minta Asrama Haji Difungsikan Jadi Tempat Perawatan Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, meminta kepada pemerintah agar mengalihfungsikan Asrama Pondok Gede menjadi tempat isolasi dan perawatan pasien Covid untuk sementara waktu. Hal ini merespons sejumlah rumah sakit dan tempat isolasi seperti Wisma Atlet Kemayoran penuh akibat lonjakan pasien covid-19.

“Saya minta kepada pemerintah agar Asrama Haji Pondok Gede dipersiapkan untuk menampung pasien Covid 19 yang tidak tertangani di rumah sakit. Mengingat tahun ini tidak ada kegiatan ibadah haji, jadi sebaiknya dimanfaatkan untuk hal lain,” kata Dasco, dalam keterangan tertulisnya, Ahad (20/6).

Dasco menambahkan, dalam pengelolaannya, Asrama Haji nantinya dikoordinir langsung oleh pemerintah via Kementerian Agama dan Rumah Sakit Haji. “Sehingga untuk koordinasi dengan pemerintah pusat pun tetap mudah dan berjalan dengan baik,” ujarnya.

Dikabarkan pemerintah berencana menambah tempat isolasi bila Wisma Atlet Kemayoran dan sejumlah rumah sakit tak lagi mampu menangani pasien Covid 19. Ketua Harian Partai Gerindra itu menilai usulannya tersebut bisa menjadi salah satu solusi yang bisa dipertimbangkan pemerintah.

“Ibadah haji dan ikhtiar menyembuhkan nyawa manusia adalah sama-sama ibadah. Dan agama juga membolehkan alih fungsi untuk sesuatu yang darurat dan bermanfaat,” kata dia.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menambah kapasitas pelayanan isolasi bagi pasien Covid-19 sebanyak 8.000 tempat tidur. Plt Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Dody Ruswandi mengatakan, upaya mempercepat ketersediaan tempat isolasi pasien Covid-19 menyusul makin tingginya tingkat penularan terutama di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Untuk itu, pemerintah berupaya menambah ribuan tempat tidur pasien isolasi yang kini sedang dipersiapkan di lima lokasi di Jakarta. Lokasi tersebut adalah Rumah Susun Pasar Rumput Manggarai di Jakarta Selatan, Asrama Haji Pondok Gede di Jakarta Timur, Graha Wisata Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta Timur, Gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, dan Rumah Susun Pasar Jumat di Jakarta Selatan.

Sumber: republika.co.id

Tiga Lulusan Madrasah IC Serpong Raih Beasiswa Kuliah di Jepang

SERPONG(Jurnalislam.com)— Tiga lulusan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) Serpong tahun 2021 meraih beasiswa penuh (full scholarship) di Jepang.

Hal ini disampaikan Kepala MAN IC Serpong, Abdul Basit di Serpong, Minggu (20/6/2021). “Alhamdulillah, tradisi mengirim siswa terbaik MAN IC Serpong kuliah di luar negeri, terus berlanjut. Tahun ini ada tiga siswa yang dapat beasiswa kuliah di Jepang,” ujarnya.

Ketiga siswa tersebut, pertama adalah Ferano Kabinawa Ramadhan. Dia diterima pada MajorDigital Business Innovation Tokyo International University.

Kedua, Farrel Alfaza Marsetyo. Dia diterima pada Major Bioresource and BioenvironmentalKyushu University.

Ketiga, Cerah Unggun Nireya. Dia diterima pada College of International Relation Ritsumeikan University. Cerah adalah putri dari Wakil Ketua Komisi VIII, TB Ace Hasan Syadzili.

“Ketiganya diterima pada program kelas internasional. Artinya seluruh perkuliahan diberikan dalam Bahasa Inggris sehingga tidak harus pandai Bahasa Jepang di saat keberangkatan atau saat kuliah nanti,” ujar Basit.

Meskipun, lanjutnya, untuk kesehariannya, mereka tetap harus menguasai Bahasa Jepang. Masa kuliah akan ditempuh dalam waktu empat tahun untuk undergraduate (Sarjana-S1).

“Melanjutkan kuliah ke luar negeri, khususnya Jepang merupakan impian dari sebagian siswa MAN Insan Cendekia Serpong. Oleh karenanya pendampingan  dan bimbingan untuk pilihan karir dilaksanakan secara terjadwal dan skematis. Hingga siswa duduk di kelas 12, pemantapan pilihan karir menjadi semakin terarah dan jelas terhadap apa yang akan dipilih sebagai lanjutan studinya,” tuturnya.

Menurut Basit, pandemi tahun ini banyak mengubah rencana dan harapan siswa untuk kuliah ke luar negeri. Meski demikian, ketiga siswa ini tetap melangkah, menjemput mimpi yang kini dapat diraih. Ketersediaan beasiswa untuk kuliah di Jepang memberikan peluang yang sangat baik untuk para pelajar yang bermimpi melanjutkan studi di negeri Anime ini.

“Terlebih, perkuliahan yang disampaikan dalam Bahasa Inggris menjadikan para pelajar lebih percaya diri untuk melanjutkan studi di negara yang sangat maju dengan teknologi namun tetap menjunjung tinggi budaya asli dan keramahannya,” tandasnya.

Belum Juga  Diberlakukan Lockdown, Ini Kata Satgas Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Bidang Komunikasi Publik Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, Hery Trianto, menjelaskan alasan pemerintah hingga saat ini tidak mengambil kebijakan penerapan lockdown atau karantina wilayah. Hery Trianto menjelaskan, substansi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis mikro sebagai kebijakan untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang berjalan selama ini sama dengan lockdown.

“Jadi, jangan dibenturkan antara kebijakan lockdown dengan pembatasan kegiatan masyarakat. Substansinya sama, membatasi mobilitas masyarakat untuk menekan laju penularan,” kata Hery, Ahad (21/6).

Pemerintah memperpanjang PPKM mikro, 15-28 Juni 2021. PPKM mikro menggunakan acuan beleid Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2021. Aturan itu menjelaskan pembatasan kegiatan masyarakat berbasis mikro dan mengoptimalkan posko penanganan Covid-19 di desa dan kelurahan untuk pengendalian penyebaran Covid-19.

PPKM mikro membatasi kegiatan di tempat kerja/perkantoran, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, mengatur pemberlakuan pembatasan kegiatan restoran dan pusat perbelanjaan, mengatur kegiatan di tempat ibadah, kegiatan fasilitas umum, serta kegiatan seni, sosial dan budaya. Hery mengatakan, petugas di lapangan memperketat pelaksanaan PPKM Mikro melalui operasi yustisi yang melibatkan TNI dan Polri.

Petugas di lapangan memantau kegiatan dan menertibkan masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan. “Tujuannya untuk mengurangi mobilitas agar masyarakat lebih banyak di rumah. Karena, faktor penularannya manusia. Jadi, kalau aktivitas manusianya dikurangi, akan menekan penularan,” katanya.

Hery menegaskan, PPKM mikro sebenarnya cukup efektif menekan laju penularan Covid-19. Belakangan, kasus positif meningkat karena beberapa hal, seperti masyarakat tidak mematuhi larangan bepergian, larangan mudik Lebaran. Menurut Hery, pemerintah sudah berupaya agar masyarakat tidak bepergian dan mudik, tapi ternyata banyak yang tidak mengikuti imbauan pemerintah.

“Kasus di Kudus, kita tahu di sana ada ziarah setelah Lebaran di Sunan Muria dan Sunan Kudus, kemudian itu dianggap salah satu yang memicu penularan. Di Bangkalan juga sama, setelah Lebaran masyarakat punya tradisi berkumpul. Ketika berkumpul terjadi interaksi, terjadi risiko penularan,” kata Hery.

Sumber: republika.co.id

Covid Melonjak, Tokoh Masyarakat Diminta Aktif Kampanyekan Prokes

JAKARTA(Jurnalislam.com)  Kasus aktif Covid-19 di Indonesia mengalami tren kenaikan dalam sebulan terakhir. Bahkan hari Ahad, angka positif Covid-19 melonjak hingga 13.737.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta jajarannya untuk memperketat penerapan protokol kesehatan. “Jajaran Kemenag harus menjadi teladan dalam penerapan protokol kesehatan. Ini bagian dari kontribusi kita dalam menekan laju paparan Covid-19 dan tentu saja ini bagian dari tugas kemanusiaan kita,” tegas Menag di Jakarta, Ahad (20/6/2021).

“Koordinasi dengan Satgas Covid-19 setempat. Berlakukan skema work from office (bekerja dari kantor) dan work from home (bekerja dari rumah) sesuai kondisi daerah masing-masing,” sambungnya.

Menurut Menag, setidaknya ada lima hal yang harus terus diterapkan secara displin, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

“Ajak tokoh masyarakat setempat untuk bersama-sama memperketat penerapan prokes. Ajak pengurus rumah ibadah untuk terlibat aktif dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19,” jelasnya.

Menag lalu mengingatkan instruksi Nomor 01 tahun 2021 tentang Gerakan Sosialisasi Penerapan Protokol Kesehatan (5M) yang terbit Feburari 2021. Instruksi ini ditujukan kepada tujuh pihak, yaitu Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Pusat, Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri, Kepala Kanwil Provinsi dan Kankemenag Kab/Kota, Kepala Madrasah, Kepala KUA, Penyuluh Agama, dan seluruh Aparatur Sipil Negara Kemenag.

Secara umum, instruksi ini meminta ASN Kemenag untuk menjadi teladan dalam penerapan 5M pada setiap aktivitas di kantor maupun di luar kantor. Selain itu, ASN harus aktif dalam sosialisasi dan penerapan disiplin protokol kesehatan di lingkungan satkernya, termasuk dengan melibatkan tokoh agama dan masyarakat. ASN Kemenag juga diminta meminimalisasi kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan banyak orang.

“Instruksi lainnya terkait keharusan para pihak untuk melaporkan secara berkala terkait kemajuan gerakan sosialisasi penerapan protokol kesehatan (5 M) kepada Tim Tanggap Darurat Pencegahan Penyebaran Covid-19 Kementerian Agama Republik Indonesia melalui website: lapor5m.kemenag.go.id. Laporan dalam bentuk foto atau video,” tegas Menag.

Instruksi Menag ini melengkapi sejumlah ketentuan dan pedoman dalam penyelenggaraan layanan keagamaan di masa pandemi yang telah diterbitkan sebelumnya oleh Kementerian Agama. Ketentuan itu antara lain terkait penyelenggaraan ibadah di rumah ibadah, serta pembelajaran di lembaga pendidikan agama dan keagamaan pada masa pandemi.

“Seluruh ketentuan prokes yang diterbitkan sebelumnya masih tetap berlaku. Bahkan harus ditingkatkan dan diperkuat pelaksanaannya melalui koordinasi dan pelaporan,” jelasnya.

“Semoga ikhtiar ini bisa dilaksanakan secara optimal dan Indonesia terjaga dan segera terbebas dari Covid-19,” tandas Menag Yaqut.

 

Siswi MAN Kota Batu Raih Nilai Sempurna Tes UTBK SBMPTN

BATU(Jurnalislam.com)— Salah satu siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Batu meraih nilai sempurna (1000) dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SBMPTN 2021. Aprillia Dwi Rahma Putri, meraih siswa nilai sempurna untuk mata pelajaran Sejarah.

“Kami kaget bercampur bahagia, malahan awalnya tidak percaya,” ucap Kepala MAN Kota Batu, Farhadi, Minggu (20/6/2021). Menururnya, pihak madrasah sudah mengecek nilai tersebut melalui Sertifikat Hasil UTBK.

Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Ishom Yusqi mengaku bangga dengan prestasi nilai sempurna yang diraih siswa madrasah. Menurutnya, hal itu menandakan siswa madrasah mampu bersaing dengan lainnya.  “Ini prestasi yang luar biasa, tidak mudah mendapatkan nilai sempurna,” ujarnya.

Ishom berharap, prestasi akademik ini bisa menjadi motivasi siswa madrasah yang lain. Dengan kemandirian yang ada, mereka mampu membuktikan bahwa siswa madrasah dapat berprestasi dan bersaing dengan siswa sekolah lain.

Aprilia sendiri mengaku sangat senang dengan keberhasilan nya lolos masuk Universitas yang diingikan, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

“Alhamdulillah, saya bisa lolos SBMPTN dan masuk UIN Malang. Padahal awalnya sempat pesimis juga, karena tidak yakin saya mampu. Tapi saya bismillah pilih UIN Malang,” ucapnya.

“Saya mantap pilih PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri), karena saya ingin belajar agama selain dari pelajaran umum, dan menurut saya UIN sangat bagus,” sambungnya.

Puteri kedua dari Sanusi-Suherminiati yang berprofesi sebagai petani dan pedagang itu bercita-cita menjadi seorang Psikolog. “Saya terus berdoa dan meminta kedua orang tua agar mendoakan saya lulus masuk UIN, tak lupa juga salat Tahajjud dan Dluha,” sambungnya.

Disinggung tentang nilai Sejarah sempurna (1000) yang didapatnya, Aprilia mengatakan ia menyukai pelajaran itu dan banyak menghafalkannya. Selain itu, April juga menyukai balajar agama, karena menurutnya sangat penting sebagai bekal hidupnya. Alasan ini yang membuatnya melanjutkan pendidikan ke MAN Kota Batu selepas dari Sekolah Umum (SMP) tiga tahun lalu.

JPU Hina Imam Besar, HRS Khawatir Umat Islam Akan Kepung PN Jaktim

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Habib Rizieq Syihab (HRS) mengawali pembacaan duplik terkait kasus swab RS Ummi dengan menyoroti pembukaan replik jaksa penuntut umum (JPU) yang mempersoalkan sebutan sebagai imam besar.
Menurut Habib Rizieq persoalan sebutan imam besar adalah hal sepele kalau hanya terkait dengan kepribadiannya saja, namun akan menjadi tidak sepele kalau sudah terkait dengan kepentingan umat islam.
“Saya sesalkan replik jaksa penuntut umum dibuka dengan masalah sepele tetapi tidak sepele sehingga seluruh replik JPU diisi dan dipenuhi dari persoalan sepele tapi tidak sepele tersebut,” kata Habib Rizieq dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Kamis (17/6/2021).
“Masalah sepele tapi tidak sepele yang saya maksud adalah, tatkala dengan angkuh dan sombong, penuh kebencian JPU menyatakan dalam pembuka replik dihalaman dua sebagai berikut, ternyata yang didengung-dengungkan sebagai seorang imam besar hanyalah isapan jempol belaka,”
“Kemudian kalimat pembuka tersebut, entah dari siapa dan dengan maksud apa difoto dari replik JPU dan disebarkan via medsos ke para penjabat tinggi negara dan tokoh nasional hingga akhirnya viral dan sampai kepada umat islam di mana-mana,” ungkap Habib Rizieq.
Lebih lanjut Habib Rizieq menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai imam besar,
“Sebutan imam besar untuk saya datang dari umat islam yang lugu dan tulus di berbagai daerah di Indonesia. Sayapun berpendapat sebutan ini agak berlebihan, namun saya memahami ini adalah tanda cinta dari umat kepada orang yang mereka cintai,” terangnya.
“Karenanya hinaan JPU terhadap istilah imam besar bukanlah hinaan JPU terhadap diri saya, sehingga saya tidak akan merasa terhina atau merasa tersinggung apalagi marah akan tetapi saya khawatir hinaan tersebut akan diartikan umat islam indonesia sebagai hinaan terhadap cinta dan kasih sayang mereka. Dan saya lebih khawatir lagi kalau hinaan JPU tersebut akan ditafsirkan umat islam sebagai tantangan sehingga akan menjadi pendorong semangat mereka untuk datang. Saya tidak bisa membayangkan dimasa pandemi yang semakin parah ini bagaimana jika jutaan pencinta yang kemarin menyambut kepulangan saya dibandara terprovokasi oleh tantangan JPU lalu berbondong-bondong mendatangi pengadilan ini dari segala penjuru.” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui sidang putusan dijadwalkan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada tanggal 24 Juni 2021 yang akan datang.
Kontributor: Bahri

Kasus Covid Bertambah 13,7 Ribu Hari Ini, 142 Ribu Kasus Aktif

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Jumlah kasus virus Corona COVID-19 bertambah 13.737 pada Minggu (20/6/2021). Total kasus positif mencapai 1.989.909, sembuh 1.792.528, dan meninggal 54.662 jiwa.

Kasus aktif tercatat sebanyak 142.719, jumlah spesimen yang diperiksa 89.183, dan suspek sebanyak 121.684 orang.

Detail penambahan kasus COVID-19 adalah sebagai berikut, berdasarkan update dari Twitter resmi Kementerian Kesehatan RI:

  • Kasus positif bertambah 13.737 menjadi 1.989.909
  • Pasien sembuh bertambah 6.385 menjadi 1.792.528
  • Pasien meninggal bertambah 371 menjadi 54.662

Sebelumnya, pada Sabtu (19/6/2021), tercatat total 1.976.172 kasus positif virus Corona COVID-19, sebanyak 1.976.172 pasien sembuh, dan 54.291 meninggal dunia.

Sumber: detik.com

 

Ahli Hisab dan Rukyat Bertemu Bahas Penyatuan Kalender Hijriyah

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Sejumlah ahli hisab dan rukyat bertemu untuk mematangkan konsep unifikasi kalender Hijriah.

Pertemuan yang berlangsung di Jakarta, 17-18 Juni 2021, ini difasilitasi Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama.

Sejumlah pakar yang hadir berasal dari perwakilan Mahkamah Agung RI, Pengadilan Tinggi Agama, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Informasi Geospasial (BIG), Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Washliyah, dan Persis. Hadir juga para ahli hisab rukyat perorangan, astronom, dan akademisi dari bebagai perguruan tinggi.

“Berkumpulnya para ahli di sini, merupakan langkah strategis Kementerian Agama untuk menghasilkan tips dan strategi terciptanya unifikasi kalender Hijriah di Indonesia,” ujar Direktur Urais Binsyar Moh. Agus Salim, di Jakarta, Kamis (17/6).

Agus berharap, pertemuan para pakar ini akan mematangkan konsep unifikasi kalender Hijriah di Indonesia. “Perbedaan paham terkait penetapan awal bulan Kamariah khususnya pada penentuan awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijah, acapkali menimbulkan kebingungan dan keresahan, bahkan bisa menjadi penyebab terjadinya perbedaan di kalangan umat Islam,” tuturnya.

“Sehingga, perlu upaya melakukan unifikasi kalender Hijriah Indonesia,” sambungnya.

Pertemuan ini digelar secara blended, daring dan luring. Tidak kurang 50 peserta mengikutinya secara daring