Asrama Haji Dapat Digunakan Masyarakat Umum

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menegaskan, asrama haji dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat umum, tidak terbatas bagi jemaah haji saja. Penegasan ini disampaikan  Menag saat meninjau persiapan penggunaan Rumah Sakit Bintang Amin Ekstensi Asrama Haji Lampung bersama Menteri BUMN Erick Thohir, di Asrama Haji Lampung.

“Asrama haji bukan hanya untuk jemaah haji, karena pelaksanaan haji hanya setahun sekali, jadi bisa saja digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi umat,” ucap Menag, Minggu (08/08/2021).

Menurut Menag, tugas pemerintah adalah melayani masyarakat sebaik-baiknya. Untuk itu semua fasilitas yang dibangun dengan uang negara bisa digunakan masyarakat selama itu untuk kepentingan bersama, termasuk asrama haji.

“Apalagi saat kondisi pandemi seperti sekarang ini, alih fungsi sementara asrama haji menjadi rumah sakit penanganan pasien covid sangat boleh dilakukan,” ujar Menag.

“Di Indonesia ada 25 asrama haji yang siap digunakan untuk isolasi pasien covid atau bisa juga dialihfungsikan sementara sebagai rumah sakit pelayanan covid 19, silahkan saja mudah-mudahan kontribusi dari kami dapat bermanfaat bagi umat,” imbuhnya.

Tampak hadir pada peninjauan  Rumah Sakit  ini Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, Direktur Utama Pertamina Nieke Widyawati, Direktur Pertamedika IHC Fathema Djan Rahmat dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung Juanda Naim. 

Kementerian Agama dan Kementerian BUMN bekerjasama  mengalihfungsikan sementara Asrama Haji Lampung menjadi Rumah Sakit Bintang Amin Ekstensi Asrama Haji Lampung dengan menggunakan gedung Multazam sebagai gedung rumah sakit dan gedung  Jabal Qubis sebagai asrama para nakes.

Sebelumnya, pada tanggal 19 Juli 2021 lalu Menteri Agama, Menteri BUMN dan Menteri Kesehatan juga sudah meresmikan penggunaan alih fungsi sementara Asrama Haji Pondok Gede jakarta menjadi rumah sakit Pertamina Jaya (RSPJ) Ekstensi Arafah.

Taliban Rebut Ibu Kota Provinsi Kedua Afghanistan

AFGANISTAN(Jurnalislam.com)–Taliban telah merebut kota Sheberghan, ibu kota provinsi Afghanistan kedua yang jatuh ke tangan Taliban dalam waktu kurang dari 24 jam, kata wakil gubernur kota itu.

Qader Malia, wakil gubernur Sheberghan di provinsi Jawzjan, mengatakan pada hari Sabtu (7/8/2021) bahwa pasukan dan pejabat pemerintah telah mundur ke bandara di pinggiran kota Afghanistan utara, dimana mereka bersiap untuk membela diri.

“Sayangnya kota ini telah jatuh sepenuhnya, pasukan dan pejabat pemerintah telah mundur ke bandara.” kata Malia kepada kantor berita AFP.

Reporter Al Jazeera, Charlotte Bellis, melaporkan dari ibu kota Afghanistan Kabul, mengatakan situasi di lapangan berbeda,

“Taliban mengeluarkan pernyataan yang mengatakan mereka telah merebut kota Sherbegan dan itu provinsi Jawzjan. Mereka bilang ini terjadi tadi siang,” kata Bellis.

“Sementara pemerintah menyangkal bahwa Taliban telah mengambil kendali penuh atas kota itu. Kementerian Dalam Negeri telah memberi tahu kami bahwa mereka akan meluncurkan serangan balasan, bahwa mereka mengirim bala bantuan, pasukan khusus, dan telah memulai serangan udara,” imbuh Bellis.

Anggota dewan provinsi Bismillah Sahil mengatakan para pejuang Taliban telah mengambil alih gedung-gedung penting seperti kantor gubernur, markas polisi dan penjara pusat di kota itu.

Namun, pasukan pro-pemerintah masih menahan beberapa daerah di dalam kota seperti bandara dan brigade tentara, terang Mohammad Karim Jawzjani, seorang anggota parlemen yang mewakili Jawzjan.

Taliban telah menguasai sebagian besar pedesaan Afghanistan sejak melancarkan serangkaian serangan pada Mei bertepatan dengan dimulainya penarikan terakhir pasukan asing AS.

Pada hari Jumat, Zaranj di provinsi Nimruz jatuh ke tangan Taliban “tanpa perlawanan”, menurut wakil gubernurnya, dan menjadi ibu kota provinsi pertama yang berhasil direbut oleh Taliban.

Dalam unggahan media sosial menunjukkan bahwa Taliban disambut oleh penduduk kota gurun Sheberghan. Mereka menunjukkan Humvee militer yang berhasil dirampas, SUV mewah dan mobil pick-up melaju kencang di jalan-jalan, mengibarkan bendera putih Taliban saat kebanyakan para pemuda kota itu menyambut dan menyemangati mereka.

“Pasukan keamanan Afghanistan kehilangan moral mereka karena propaganda intens oleh Taliban,” kata seorang pejabat senior dari kota itu, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, kepada AFP.

“Bahkan sebelum serangan Taliban sebagian besar pasukan meletakkan senjata mereka di tanah, melepaskan seragam, dan meninggalkan unit mereka dan menyelamatkan diri.” terang pejabat senior itu.

Pemerintah Afghanistan belum membuat komentar resmi tentang jatuhnya kedua ibu kota provinsi tersebut. (Bahri)

Sumber: Al Jazeera

Tokoh Agama Diharap Jadi Garda Terdepan Cegah Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Menteri Agama  (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menilai peran tokoh agama sangat besar dalam penanganan pandemi Covid-19. Sebab, para tokoh agama adalah figur yang dijadikan contoh oleh umatnya.

“Oleh karena itu, para tokoh agama diharapkan dapat menjadi teladan dalam melawan Covid-19,” ujar Menag dalam Silaturahim Virtual Menko Polhukam, Menag, Kepala BNPB dengan Tokoh Agama, Pimpinan Pondok Pesantren, Pimpinan Ormas Keagamaan se-Provinsi Banten, Sabtu (7/8/2021).

“Juga lebih bijak, mawas diri, dan terukur dalam menyampaikan pendapat dan pernyataan terkait pandemi Covid-19. Kita semua tentu tidak ingin badai pandemi ini terus menghantui kehidupan masyarakat dan terus mengancam kehidupan tanpa kendali akibat kekurang-pedulian kita terhadap situasi ini,” lanjutnya.

Menurut Menag, pemerintah tidak bisa jalan sendiri dalam menghadapi pandemi. Perlu kesadaran, empati, kerja sama dan sinergitas seluruh elemen bangsa, tidak terkecuali dari para alim ulama, pengasuh pesantren, pimpinan ormas keagamaan, dan tokoh agama.

“Kami percaya, para alim ulama, para pengasuh pondok pesantren, pimpinan ormas keagamaan dan pemuka agama akan selalu bersama-sama pemerintah untuk ikut serta mencegah dan menangani pandemi Covid-19,” ungkap Menag.

Menag juga mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada para tokoh agama, pengasuh pesantren, serta pimpinan ormas keagamaan, yang terus membimbing serta membina umat, meski dalam situasi pandemi.

Menag mengajak seluruh warga bangsa untuk berdoa kepada Allah agar semua upaya pencegahan dan penanganan pandemi Covid-19 selalu dimudahkan dan dilancarkan.

“Mereka yang saat ini berbaring sakit semoga segera disembuhkan dan yang telah mendahului kita karena terpapar Covid-19 semoga dilapangkan kuburnya dan diampuni segala kesalahan dan dosanya,” tandas Menag.

Silaturahim virtual ini juga diikuti oleh Menko Polhukam Mahfudz MD, Sestama BNPB Lilik Kurniawan, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy, serta Forkompimda Provinsi Banten, serta para tokoh agama, pimpinan ormas keagamaan, dan pimpinan pondok pesantren se-Banten.

Taliban Rebut Ibu Kota Provinsi Afganistan, Zaranj

ZARANJ(Jurnalislam.com)–Taliban telah merebut kota Zaranj di provinsi Nimruz Afghanistan, yang merupakan ibu kota provinsi pertama yang diambil kelompok itu dari pemerintah Afghanistan saat mereka meningkatkan serangan di dua provinsi lain.

Berbagai sumber mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Zaranj, ibu kota provinsi selatan Nimruz, telah jatuh ke tangan Taliban pada hari Jumat. (6/8/2021)

Taliban berjuang untuk menerapkan kembali hukum Islam setelah digulingkan pada tahun 2001 oleh pasukan pimpinan AS, Taliban telah mengintensifkan operasi militernya untuk mengalahkan pemerintah yang didukung AS ketika pasukan asing menyelesaikan penarikan
pasukan mereka setelah 20 tahun perang.

Taliban telah mengambil puluhan distrik dan penyeberangan perbatasan dalam beberapa bulan terakhir dan menekan beberapa ibu kota provinsi, termasuk Herat di barat dan Kandahar di selatan.

Zaranj adalah ibu kota provinsi pertama yang jatuh ke tangan Taliban sejak Amerika Serikat mencapai kesepakatan dengan Taliban pada Februari 2020 untuk penarikan pasukan.

Seorang juru bicara polisi Nimruz, yang menolak disebutkan namanya karena alasan keamanan, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Taliban dapat merebut kota itu karena kurangnya bala bantuan dari pemerintah.

Sumber-sumber Taliban mengatakan mereka sedang merayakan keberhasilan itu, dan jatuhnya Zaranj akan meningkatkan moral para pejuang mereka di provinsi lain. Seorang komandan Taliban, berbicara kepada Reuters, mengatakan kota itu memiliki kepentingan strategis karena berada di perbatasan dengan Iran.

“Ini adalah permulaan dan Anda akan melihat bagaimana provinsi lain segera jatuh ke tangan kita,” katanya.

Editor diplomatik Al Jazeera James Bays, melaporkan dari Kabul, mengatakan dari berbagai sumber di lapangan telah mengkonfirmasi jatuhnya kota provinsi itu ke Taliban, dan dia mengatakan itu adalah perkembangan yang “sangat signifikan”.

“Taliban telah menguasai bandara di sana di Zaranj, mereka telah menguasai gedung-gedung penting pemerintah,” kata Bays.

“Taliban telah mengeluarkan gambar tentang apa yang terjadi di Zaranj, yang menunjukkan pejuang Taliban di Humvee – kendaraan yang dibayar oleh Amerika dan negara-negara NATO – diambil dari pasukan Afghanistan; Taliban sekarang menggunakannya untuk berpatroli di jalan-jalan Zaranj,” kata Bays.

Pada hari Jumat, Taliban mengirim pesan ke media yang mengatakan telah membebaskan tahanan dari penjara di Zaranj. Qari Yousuf Ahmadi, juru bicara Taliban, juga mengatakan mereka telah menguasai markas intelijen provinsi.

Bersamaan dengan klaim tertulis mereka, Taliban juga mengirimkan foto dan video ke media yang menunjukkan para pejuangnya berada di sekitar gedung-gedung pemerintah dan gerbang masuk provinsi tersebut. Satu gambar menunjukkan para pejuangnya ditempatkan di luar kompleks gubernur provinsi.

Kabar dari Nimruz juga datang saat Dewan Keamanan PBB yang menggelar pertemuan di New York untuk membahas konflik tersebut.

Utusan khusus PBB untuk Afghanistan pada hari Jumat mempertanyakan komitmen Taliban untuk penyelesaian secara politik, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa perang telah memasuki “fase yang lebih mematikan dan lebih merusak” dengan lebih dari 1.000 warga sipil tewas dalam sebulan terakhir.

“Sebuah pihak yang benar-benar berkomitmen untuk penyelesaian yang dinegosiasikan tidak akan mengambil risiko begitu banyak korban sipil, karena akan memahami bahwa proses rekonsiliasi akan lebih menantang, semakin banyak darah yang tertumpah,” kata Deborah Lyons.

“Dewan Keamanan harus mengeluarkan pernyataan yang jelas bahwa serangan terhadap kota-kota harus dihentikan sekarang,” kata Lyons kepada 15 anggota dewan melalui tautan video dari Kabul. (Bahri)

Sumber: Al Jazeera

MUI Pinjamkan 80 Tabung Oksigen untuk Pasien Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperluas jangkauan bantuan warga terdampak coronavirus disease (Covid-19) sampai ke daerah-daerah. Salah satu langkah MUI dengan meluncurkan Gerakan Nasional (Gernas) Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi.

Gerakan ini tidak hanya dilakukan oleh MUI Pusat, akan tetapi juga akan melibatkan MUI Wilayah. Secara teknis, MUI akan mengajak Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan Yayasan dari pusat sampai daerah.

Target Gernas MUI yakni memaksimalkan kerja penanggulangan Covid-19 dan juga pemulihan ekonomi masyarakat.

Upaya Gernas MUI inipun disambut antusias oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Perusahaan berbasis industri nikel itu menyumbangkan 80 tabung oksigen kepada Gernas MUI.

Direktur PT IMIP Erfindo Chandra berharap, Indonesia akan segera pulih. Dengan demikian, masyarakat bisa menjalankan aktivitas seperti biasanya.

 

“Kenapa kita ikut menyumbang, lantaran ingin ikut berpartisipasi aktif membantu pemerintah menanggulangi Covid-19 ini,” ujar Erfindo.

Sementara itu Ketua Gernas MUI, Dr. Lukmanul Hakim mengatakan, pihaknya bersyukur upaya menanggulangi Covid-19 dan pemulihan ekonomi ini mendapatkan dukungan dari PT IMIP.

“Alhamdulillah, Gerakan Nasional Majelis Ulama Indonesia untuk Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi telah mendapatkan bantuan dari yayasan IMIP, berupa tabung oksigen sebanyak 80 tabung ukuran 1 meter kubik,” ujar Lukmanul Hakim.

Lukmanul Hakim menyatakan bahwa bantuan berupa tabung gas oksigen ini sangat berguna bagi kita semua. Khususnya, kata Lukmanul Hakim, saudara kita yang sedang terpapar pandemi Covid-19 dan mengalami gangguan pernafasan.

“Kita menyaksikan bagaimana kemarin di berita-berita, kita saksikan saudara-saudara kita yang sedang kena musibah Covid-19 kesulitan mencari oksigen,” ujar dia.

 

Harapannya dengan bantuan dari yayasan IMIP ini mudah-mudahan bisa membantu saudara kita yang terjangkit virus asal Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China itu.

Dia menjelaskan, tabung yang diterima oleh Gernas MUI akan dipinjamkan kepada siapa saja yang membutuhkan.

Ketua MUI Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat ini juga menyarankan agar masyarakar yang terjangkti Covid-19 menghubungi Gernas MUI. Dr Lukmanul Hakim menjelaskan bawha tempat peminjaman di Gedung MUI yang beralamat di Jalan Proklamasi No.51 Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta.

“Kami pinjamkan gratis, kemudian nanti bisa diisi ulang atau kita isi ulang kembali,” jelas Lukmanul.

Dijelaskan Lukmanul, setelah selesai digunakan ia meminta warga yang meminjam tabung oksigen agar dikembalikan lagi kepada MUI. Sebab, tabung itu akan kembali dimanfaatkan untuk mereka yang terpapar Covid-19.

 

 

MUI Minta Masyarakat Bantu Yatim Piatu Korban Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pandemi coronavirus disease (Covid-19) yang melanda Indonesia sejak 2 Maret 2020, hingga kini masih belum ada tanda berakhir. Beriringan dengan itu kasus kematian akibat Covid-19 terus meningkat setiap harinya.

Diantara orang-orang yang meninggal karena Covid-19 ini, ada orang-orang tercinta yang akhirnya harus ditinggalkan. Baik itu saudara, orang tua, kerabat, bahkan anak-anak yang harus merelakan kepergian orang tua mereka.

Sebuah laporan dengan judul “Children: the Hidden Pandemic 2021” menyebutkan, sekitar satu juta anak sedunia kehilangan ayah, ibu atau keduanya karena paparan Covid-19.

Dalam laporan yang disusun oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), Bank Dunia, Badan Kesehatan Dunia (WHO), dan sejumlah universitas ternama dunia itu, dinyatakan bahwa di Indonesia, diperkirakan sudah 26.700 anak atau bahkan lebih tinggi.

 

Merespons data itu, Ketua Komisi Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Siti Ma’rifah menyatakan keprihatinannya. Ia mengatakan, seluruh umat harus mengerahkan energinya untuk membantu meringankan beban para anak yatim atau piatu akibat orangtua meninggal terpapar Covid-19.

“Saya sangat prihatin dengan kondisi ini, karena saya saksikan sendiri di sebelah cucu saya yang baru lahir ada bayi-bayi yang lahir prematur dan ibunya wafat setelah melahirkan, sementara ada ayahnya yang juga wafat dan ada yang masih terpapar Covid-19,” kata Siti Ma’rifah.

Siti Masrifah menjelaskan, Komisi PRK MUI akan berkoordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Tak hanya itu, dia juga akan menggandeng beberapa institusi lain untuk memberikan perhatian khusus pada mereka yang menjadi yatim piatu.

 

“Insya Allah, Komisi PRK MUI, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan instansi atau lembaga terkait termasuk masyarakat atau keluarga anak akan berkoordinasi untuk mengatasi hal tersebut,” ujar Ma’rifah.

 

Perguruan Tinggi Keagamaan Diminta Edukasi Prokes

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta sivitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) proaktif dalam membangun solidaritas umat di tengah pandemi. PTKN juga diminta terus melakukan edukasi terkait pencegahan Covid-19.

“Solidaritas terus dibangun, empati terus ditanamkan dalam menangani pandemi ini,” tegas Menag saat memberikan sambutan pada acara Pembahasan Peran Strategis Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri/Swasta dalam Mendukung Kondusifitas Politik, Hukum, dan Keamanan di Masa Pandemi Covid-19, Jum’at (6/8/2021).

Acara yang berlangsung virtual ini diinisiasi Kemenko Polhukam. Selain pimpinan PTKN, ikut bergabung juga para pejabat eselon I Kemenag, serta jajaran pejabat Kemenko Polhukam.

“Pimpinan Perguruan Tinggi mempunyai pengaruh di masyarakat. Mari kita bersama-sama tangani dan cegah penyebaran pandemi covid-19,” ajak Menag.

Menag juga minta jajarannya memberi penjelasan ke masyarakat terkait kebijakan menggeser hari libur Tahun Baru Islam dan hari libur Maulid Nabi, serta menghapus cuti bersama Natal. Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Bersama Menag, Menaker, dan Menpan RB No 712, 1, dan 3 tahun 2021 tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Bersama Menag, Menaker, Menpan dan RB No 642, 4, dan 4 tahun 2020 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama.

“Pemerintah menggeser hari libur tahun baru Islam dan hari libur Maulid, serta menghapus cuti bersama Natal. Ini semata-mata untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19, terlebih setelah munculnya klaster-klaster baru. Ini penting, agar masyarakat tidak memanfaatkan Harpitnas (red: hari kejepit nasional), untuk melakukan mobilitas,” sebut Menag.

“PTKN agar ikut menjelaskaan ke umat. Pergeseran hari libur nasional ini bisa disampaikan dengan baik kepada masyarakat dan mahasiswa. Yang digeser hari liburnya, bukan perayaan keagamaannya,” ulang Menag.

Dalam menyambut tahun baru Islam, Menag Yaqut mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan kerumunan.

Menko Polhukam, Mahfud MD mengucapkan terimakasih atas berbagai kebijakan yang dilakukan Kementerian Agama dalam mengatasi Pandemi Covid-19. “Perguruan Tinggi bisa menjembatani pemerintah untuk menyampaikan saran, aspirasi, literasi dan edukasi kepada masyarakat,” kata Mahfud MD.

Mahfud MD juga menyampaikan bahwa pimpinan Perguruan Tinggi bisa memanfaatkan hasil-hasil risetnya terkait penanganan Pandemi Covid-19, untuk disebarkan ke masyarakat sebagai media pembelajaran sekaligus mengantisipasi banyaknya info hoax.

“Mari kita terus bangun kolaborasi dan komunikasi untuk memberi pencerahan bagi masyarakat. Semoga bangsa ini segera terbebas dari pandemi Covid-19,” tutup Mahfud MD.

Warga Tirtoyoso Manahan Surakarta Tolak Pembangunan Gereja Victori Efata

SOLO (Jurnalislam.com)- Warga Tirtoyoso, Manahan, Surakarta menyerahkan surat penolakan terkait rencana pembangunan Gereja Victori Efata (GFI EFATA) di Tirtoyoso RT 03 RW 13 Manahan, Banjarsari, Surakarta kepada Pemkot Surakarta pada jum’at, (6/8/2021).

Perwakilan warga Tirtoyoso Prabowo yang didampingi Humas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) Endro Sudarsono menyerahkan surat penolakan tersebut di Balikota Surakarta dan diterima oleh Badan Kesatuan Bangsa, Politik (Kesbangpol) Rudi.

Penolakan pendirian GFI EFATA tersebut menurut warga dikarenakan dari awal pihak pengurus Gereja sudah membohongi warga setempat, datang kerumah rumah warga atau dor to dor untuk meminta tanda tangan dan fotocopy KTP se isi rumah yang bertempat tinggal. Dengan alasan untuk persyaratan IMB mendirikan rumah tinggal keluarga.

“Sebelumnya pengurus Gereja tidak pernah mengadakan penemuan warga di Bale pertemuan warga RT 03 RW 13 Tirtoyoso Manahan,” kata Humas LUIS Endro Sudarsono saat membacakan surat penolakan dari warga Titoyoso tersebut.

Dalam surat penolakan tersebut, menurut Endro juga dikarenakan tidak adanya transparansi atau keterbukaan kalau Ketua RT 03 dan Ketua Rw 13 sudah memberikan tanda tangan untuk perijinan IMB Gereja.

“Selama ini warga merasa dibohongi dan warga menolak adanya pembangunan Gereja Victori Indonesia EFATA di kampung Tirtoyoso RT 03 RW 13, Manahan,” ungkapnya.

Endro melanjutkan, menurut keterangan dari warga Rumah lbadah lama statusnya rumah kontrakan bukan milik Gereja dan jemaahnya mayoritas dari luar.

Selain itu, tempat parkir yang tidak memenuhi syarat atu tidak Iayak jalan akses masuk atau jalan warga sempit.

“Lokasinya sangat berdekatan dengan rumah rumah warga dan Masjid serta mayoritas warga Tirtoyoso RT 03 RW 13 hampir 96% mayoritas Muslim,” pungkasnya.

Surat penolakan tersebut juga disertai tanda tangan mayoritas warga yang menolak berdirinya GFI EFATA. Selain diberikan ke Pemkot Surakarta, warga juga mengirimkan surat penolakan berdirinya GFI EFATA tersebut kepada ketua FKUIB Surakarta.

MUI Catat Ada 900 Ulama Wafat Karena Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ekonomi Lukmanul Hakim mencatat sekitar 900 alim ulama dan tokoh agama meninggal dunia selama pandemi virus corona (Covid-19) berlangsung di Indonesia.

“Ketika alim ulama, tokoh agama juga jadi korban Covid-19 dan gugur jadi syuhada. Tercatat tak lebih kurang ada 900 alim ulama yang meninggal saat pandemi. Ini menggugah kita,” kata Lukmanul, Selasa (3/8).

Satgas Beda dengan Anies soal Buka Aktivitas Bersyarat Vaksin
Lukmanul prihatin banyak alim ulama dan masyarakat meninggal dunia selama pandemi Covid-19. Kondisi ini pun membuat pengurusan jenazah positif Covid-19 terlampau lama.

“Di RS DKI itu keluar masuk RS itu membutuhkan waktu lama. Untuk keluar dari RS untuk pemulasaraan jenazah saja itu butuh waktu 20 jam. Karena kurang tenaga pemulasaraan, pemandian, mengafani sampai penguburan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lukmanul menyatakan pihaknya pun ikut terlibat membantu pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19. Salah satunya dengan memberikan pelatihan pemulasaraan hingga penguburan jenazah Covid-19.

“Ini musibah sama sekali kita tak pernah perhitungkan,” katanya.

Sebelumnya, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengungkapkan terdapat 605 kiai, ulama dan para pengasuh pondok pesantren di Indonesia meninggal dunia selama pandemi Covid-19. Rincian itu ia dapatkan berdasarkan data Kementerian Agama per 7 Juli 2021.

Ma’ruf menilai wafatnya para kiai dan ulama sebagai musibah yang tak dapat tergantikan. Ia menyinggung sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani bahwa meninggalnya para kiai dan ulama ibarat bintang yang padam.

sumber: cnnindonesia

PBNU Ajak Muhasabah Saat Tahun Baru Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kurang dari sepekan, Muharram akan menyapa. Inilah perayaan tahun baru hijriyah bagi seluruh Muslim di dunia.

Serupa seperti tahun baru masehi yang selalu dirayakan setiap 1 Januari, umat Muslim juga selalu menyambut tahun baru setiap 1 Muharram yang diperkirakan jatuh pada 11 Agustus mendatang. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Manan Ghani menjelaskan Muharram adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan (haram) dalam Alquran.

Adapun peringatan Tahun Baru Islam ditandai dengan perjalanan dakwah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Awal perjalanan ini dipatenkan pada masa Umar bin Khattab RA sebagai 1 Muharram atau awal tahun Islam.

“Menandai datangnya awal tahun, selain merayakannya dengan kegembiraan, kita juga harus bermuhasabah, mensyukuri bertambahnya umur, nikmat sehat, dan masih berkesempatan hidup dengan baik. Dunia adalah tempat mendulang amal sholeh, maka manfaatkan kesempatan ini mengintrospeksi diri dan meningkatkan keimanan kita,” ujar Ketua PBNU Bidang Dakwah dan Masjid MUI Pusat, Jumat (6/8).

Mengutip sabda Rasulullah SAW, kebanyakan manusia tertipu dengan dua kenikmatan, yaitu sehat dan kesempatan (peluang). Melalui muhasabah, manusia dapat disadarkan dan terhindar dari tipu muslihat yang menyesatkan.

“Semoga dengan muhasabah kita bisa gunakan kesempatan yang akan datang untuk lebih baik,” ujarnya.

Dia menyarankan seluruh umat Muslim terus meningkatkan amal shaleh meski di tengah kesulitan seperti saat ini. Bersabar dan terus bermuhasabah adalah cara yang paling tepat untuk mengawali datangnya tahun yang baru.

“Mari kita rayakan tahun baru Islam dengan memperbanyak dzikir, doa, dan munajat, bahkan berpuasa. Semoga Covid-19 dengan beraneka variannya cepat berlalu dan negeri yang kita cintai ini dapat segera pulih dan bangkit,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id