Sidang Tanwir ‘Aisyiyah Tetapkan 39 Calon Tetap Anggota Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah

SOLO (Jurnalislam.com)- Setelah berlangsung pemilihan 105 nama calon sementara anggota Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Sidang Tanwir ‘Aisyiyah telah menetapkan 39 nama calon tetap anggota PP ‘Aisyiyah. Salmah Orbayyinah selaku Wakil Ketua Panitia Pemilihan Muktamar 48 ‘Aisyiyah mengungkapkan, nantinya 39 calon tetap anggota PP ‘Aisyiyah tersebut akan dibawa ke Muktamar untuk dipilih menjadi 13 orang jika anggota Muktamar menyepakati pemilihan dilakukan secara langsung.

Namun, imbuh perempuan yang akrab disapa Bayin ini, jika pemilihan di Muktamar disepakati secara formatur, maka akan didiskusikan kembali berapa jumlah calon yang akan dipilih, bisa 7 atau 9 orang.

“Selanjutnya formatur terpilih tersebut yang nantinya akan menggenapkan menjadi 13 anggota Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah,” jelas Bayin.

Hal inilah, terang perempuan yang juga Ketua Majelis Pembinaan Kader PP ‘Aisyiyah ini, yang membedakan pemilihan dalam Muktamar ‘Aisyiyah dengan Muktamar Muhammadiyah yang akan memilih langsung 13 orang anggota PP Muhammadiyah. Selanjutnya, jelas Bayin, 13 orang tersebut akan melakukan sidang untuk memilih Ketua Umum PP ‘Aisyiyah dan Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah yang kemudian diumumkan dalam Sidang Muktamar ‘Aisyiyah.

Terkait pemilihan yang dilakukan secara e-vooting, Tri Hastuti Nur Rochimah, mengungkapkan alasannya. Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah sebagai organisasi Islam Berkemajuan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mempermudah proses pemilihan.

“Pemilihan yang berlangsung secara e-vooting ini dipilih karena teknologi telah memberi kemudahan dalam proses pemilihan, menjadikan proses pemilihan berlangsung lebih efektif dan efisien, dan tetap dapat menjaga kerahasiaan,” terang perempuan yang biasa disapa Tri ini.

Selanjutnya Bayin menjelaskan langkah-langkah pemilihan secara e-vooting, bahwa setiap anggota Muktamar akan mendapatkan kartu ID Card Muktamar yang dibelakangnya terdapat kartu pemilih. Kemudian, setelah anggota muktamar dipanggil panitia pemilihan, kartu pemilih akan diambil untuk ditukar dengan QR Code yang berfungsi untuk mengaktifkan layar komputer dengan dilakukan scanning pada mesin yang telah tersedia.

Setelah itu, tambah Bayin, akan muncul nama-nama calon yang akan dipilih, yaitu 39 nama calon tetap anggota PPA. Jika pemilihan disepakati secara formatur 7 orang, maka pemilih akan memilih 7 orang dari 39 calon dengan cara menekan angka yang sudah terdapat nama calon.

Jumlah pemilih dalam sidang Tanwir ‘Aisyiyah, Bayin menyampaikan, seharusnya berjumlah 165 orang yang terdiri dari anggota PP ‘Aisyiyah, Ketua dan Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah se-Indonesia, dan Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah perwakilan dari masing-masing wilayah. Namun, ia menambahkan, selanjutnya terdapat 160 orang yang memberikan hak suaranya dalam pemilihan.

Dari 105 nama calon, ungkap Bayin, berasal dari berbagai wilayah, antara lain dari Yogyakarta, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sumatera.

Adapun dalam Muktamar ‘Aisyiyah nantinya, Tri menyampaikan, terdapat 1930 anggota Muktamar yang memiliki hak suara untuk memilih anggota PPA. Sebanyak 1930 anggota Muktamar tersebut terdiri dari anggota PP ‘Aisyiyah, Ketua dan Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA), utusan PWA, dan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah.

“Mereka dipilih sebagai representasi dari warga ‘Aisyiyah di penjuru negeri,” Tri menegaskan.

3700 Talent Hadir di Pembukaan Muktamar ke48 Muhammadiyah dan Aisyiyah

SURAKARTA (Jurnalislam.com)- Sebanyak 3700 talent menghadirkan sejumlah pertunjukan seni budaya dal pembukaan Muktamar ke 48 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Stadion Manahan Solo, Sabtu pagi, (19/11/2022).

Koordinator Pembukaan Panitia Penerima Muktamar ke48 Muhammadiyah dan Aisyiyah, Roni Syaifullah mengatakan ribuan talent Ini akan menampilkan sejumlah seni budaya dan olahraga sekaligus yang dibagi dalam pra acara dan acara.

Performance pra acara menghadirkan pertama seni musik kontemporer gamelan dan alat musik modern Serambi Bagelen yang akan menghibur tamu muktamar selama 30 menit.

Berikutnya dihadirkan kolaborasi paduan suara gabungan PTM/PTA dengan orchestra.

Setelah itu akan hadir 1200 anggota Tapak Suci Putra Muhammadiyah dari UMS dan UNS dan beberapa anggota dari Karanganyar menampilkan kemampuan olahraga bela diri.

“Jurus-jurus yang ditampilkan adalah jurus tangan kosong, jurus toya, double stick atau nunchaku, jurus golok, jurus ganda putra, putri dan bersenjata,” kata Roni, juara dunia pencak silat 1997.

Saat acara pembukaan yang dihadiri Presiden Joko Widodo juga akan dihadirkan hiburan kolaborasi antara paduan suara,orkestra dengan Tantri Kotak.

“Terakhir tarian Kolosal Raditya mencerahkan semesta,” kata Roni, Selasa, 15 November 2022.

Koreografer tari Raditya Mencerahkan Semesta, Wasi Bantolo menerangkan nama tari Raditya Mencerahkan Semesta berarti Matahari yang mencerahkan semesta.

“Raditya itu artinya matahari. Matahari itu hadir mencerahkan semesta sebagaimana Muhammadiyah hadir dengan harapan mampu mencerahkan semesta,” kata Dosen Prodi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta beberapa waktu lalu.

World Peace Forum Hari Ini Dimulai, Akan Menghasilkan Surakarta Message

SURAKARTA(Jurnalislam.com) – Dalam dua hari ini, Kamis- Jumat, 17-18 November 2022, Universitas Muhammadiyah Surakarta akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan World Peace Forum ke 8 di Hotel Sunan Surakarta.

Output dari penyelenggaraan World Peace Forum ini adalah dikeluarkannya Surakarta Message yang merupakan pernyataan sikap bersama oleh para peserta World Peace Forum mengenai perdamaian dunia.

Ketua Panitia Lokal World Peace Forum ke 8, Andi Bawono menerangkan, Surakarta Message ini akan menjadi hasil dari penyelenggaraan World Peace Forum dimana UMS menjadi tuan rumahnya.

“Sebagai pernyataan sikap bersama dari semua delegasi peserta gelaran World Peace Forum yang mengusung wacana fraternity (persaudaraan) sebagai jalan tengah atau middle path untuk menuju perdamaian dunia,” kata Andi Bawono saat acara Welcome Dinner World Peace Forum ke 8 di Sasana Handrawina Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Rabu malam, 16 November 2022.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mengatakan Surakarta Message bisa dimaknai sebagai pesan bersama mengenai persaudaraan dan perdamaian yang dibuat para delegasi World Peace Forum ke 8 yang berasal dari lintas agama dari negara negara di dunia.

Menurut Abdul Mu’ti, tema human fraternity atau persaudaraan manusia merupakan tema besar tingkat global yang digerakkan banyak bagian masyarakat global.

“Sehingga kita juga berusaha melanjutkan upaya-upaya yang juga telah menjadi perhatian besar dunia ini,” kata Abdul Mu’ti.

Sementara itu, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menyampaikan, World Peace Forum menjadi secercah harapan bagi banyak pihak ditengah proyeksi masa depan global yang suram dan rentan dengan banyak krisis.

“Mulai dari krisis pangan, energi dan krisis kepercayaan antara sesama komunitas global. Adanya World Peace Forum ini sebagai penegasan selalu ada secercah harapan masa depan damai bagi kita semua dan juga untuk anak cucu kita di masa depan, kata Bambang Soesatyo saat memberi sambutan dala Welcome Dinner World Peace Forum di Sasana Handrawina Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Rabu malam, 16 November 2022.

“Besuk pagi akan dibuka World Peace Forum. Harapan saya dan harapan semua pihak, bahwa forum ini bisa jadi penyejuk dari eskalasi kewenangan global dan konflik antar negara dan mampu menggugah kesadaran kolektif global menuju tatanan dunia yang harmonis dan berkeadaban,” kata Bambang Soesatyo.

Sebanyak 70 delegasi dari Indonesia dan 20 negara dari 5 benua di Indonesia akan mengikuti Forum Perdamaian Dunia ke 8 atau The 8th World Peace Forum di The Sunan Hotel, Surakarta, Kamis-Jumat, 17-18 November 2022.

20 negara tersebut adalah Australia, Arab Saudi, Bosnia Herzegovina, Italia, India, Lebanon,Maroko, Malaysia, Mesir, Pakistan.

Juga hadir delegasi dari Palestina, Philipina, Rusia, Slovakia, Thailand, Timor Leste, USA, UK, UEA serta Vatikan.

Acara 4 tahunan The 8th World Peace Forum
mengusung tema Fraternity and the Middle Path for A Peacefull, Just, and Prospherous World.

Mengawali World Peace Forum ke 8 ini digelar Welcome Dinner di Sasana Handrawina Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

hadir dalam Welcome Dinner ini, Ketua MPR RI, Bambang Susatyo, Ketua World Peace Forum (WPF), Profesor Din Syamsuddin, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti serta Rektor UMS, Sofyan Anif.

Dari pihak tuan rumah hadir Permaisuri Raja Kraton Surakarta, Kanjeng Ratu Paku Buwono serta putra mahkota Kraton Surakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegara Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram (KGPAA Hamengku Negara).*

Haedar Nashir Lakukan Peletakan Batu Pertama Gedung Baru Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta

BANTUL(Jurnalislam.com)—Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir hadir dan meresmikan seremoni Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Asrama C Kampus Terpadu Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta pada Kamis (17/11). Didampingi tokoh Muhammadiyah lainnya, Haedar menegaskan bahwa dalam pembangunan ini tidak ada kepentingan pribadi di Muhammadiyah.

“Mengapa kita begitu tenang, karena di Muhammadiyah itu tidak ada yang namanya kepentingan pribadi. Ini yang membuat kita begitu lapang. Inilah yang diajarkan tokoh Muhammadiyah seperti Buya Syafii, Pak AR, dan lain-lain,” ucap Haedar.

Selain itu, Haedar mengungkapkan bahwa karakter khas Muhammadiyah ialah mampu hidup serta menjalin sinergi dengan banyak pihak. Para tokoh Muhammadiyah sebagaimana yang tercermin dalam laku hidup Syafii Maarif menunjukkan bahwa Muhammadiyah menghargai heterogenitas dibanding memperjuangkan homogenitas.

Terkait dengan pembangunan gedung baru ini, Haedar ungkapkan keinginan Syafii Maarif agar Muallimin-Muallimat uswah hasanah bagi model pendidikan Islam. Lebih jauh, keinginan Syafii Maarif ialah agar pondok pesantren tertua di Muhammadiyah ini lebih ditingkatkan lagi, tidak hanya dari sisi fasilitas tapi juga visi ke depan agar menjadi institusi pendidikan Islam yang unggul dan berkemajuan.

“Buya punya pesan khusus agar Muallimin harus ditingkatkan lagi. Harus lebih unggul dan menjadi uswatun hasanah, suri tauladan. InsyaAllah dengan adanya peletakan batu pertama ini dapat memacu Muallimin jadi jauh lebih baik lagi,” harap Haedar.

Haedar juga menyampaikan keinginannya agar menggandakan model pendidikan Islam yang diterapkan Muallimin-Muallimat dapat disebar ke seluruh pondok pesantren Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Setelah sukses membangun Madrasah Muallimin Muhammadiyah Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Haedar semakin optimis hal tersebut akan segera terwujud, tentu dengan pertolongan Allah.

Sebagai informasi tambahan, gedung asrama baru ini terletak di sekitar kampus induk Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta. Asrama ini masih mempertahankan tradisi Muallimin namun dengan meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan pengawasan terhadap para siswa. Tujuan pembangunan ini selain untuk meningkatkan mutu fasilitas pendidikan namun juga progres keilmuan.

Penurunan Stunting Jadi Isu Strategis Muktamar, ‘Aisyiyah Tawarkan Rumah Gizi

SOLO(Jurnalislam.com)–Penurunan stunting menjadi salah satu di antara 10 isu strategis dalam Muktamar 48 ‘Aisyiyah. Menurut Siti Noordjannah Djohantini, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, isu ini menjadi penting karena Indonesia masih dihadapkan pada problem tingginya angka stunting. Berdasarkan hasil riset studi status gizi balita, prevalensi stunting di Indonesia masih 27,67 persen. Angka prevalensi stunting tersebut masih di atas ambang batas standar WHO yaitu 20%. Padahal, pemerintah telah menetapkan target penurunan angka stunting pada tahun 2024 mencapai 14%.

“Target penurunan stunting yang harus dicapai dua tahun lagi ini tentu memerlukan kerja keras dan kolaborasi banyak pihak, baik itu pemerintah termasuk organisasi masyarakat, seperti ‘Aisyiyah,” ujar Noordjannah. Ia mengingatkan cita-cita pembangunan Indonesia untuk mewujudkan Generasi Emas di tahun 2045. Menurut Noordjannah, pencegahan stunting harus menjadi prioritas agar harapan tersebut bisa terealisasi.

‘Aisyiyah, ungkap Tri Hastuti Nur Rochimah selaku Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, menginisiasi program Rumah Gizi untuk mengupayakan penurunan stunting. Ia menjelaskan, “Rumah Gizi merupakan upaya penurunan stunting berbasis komunitas. Pendekatan berbasis komunitas sangatlah penting mengingat Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya bersifat komunal.”
Lebih lanjut, Tri Hastuti, mengungkapkan, terdapat tujuh (7) program dalam Rumah Gizi, 1) edukasi bagi ibu hamil, ibu menyusui, maupun remaja perempuan; 2) konseling gizi maupun menyusui; 3) pengolahan makanan bergizi; 4) pemberian makanan bergizi; 5) lumbung gizi bisa berupa kebun, kolam, atau ternak untuk memenuhi kebutuhan sumber gizi) 6) sanitasi dan PHBS; 7) serta dukungan keluarga maupun tokoh agama dan masyarakat.

Dukungan keluarga baik itu suami maupun nenek atau pengasuh, jelas Tri, sangatlah penting untuk mencegah stunting. Itu dapat dilakukan dengan memberikan edukasi tentang pencegahan stunting bagi suami maupun anggota keluarga yang terlibat dalam pengasuhan. Suami pun, tambah Tri, dapat dilatih melakukan pijat oksitosin bagi istrinya agar memperlancar proses menyusui.

Apa yang dilakukan ‘Aisyiyah melalui Rumah Gizi ini, ungkap Tri, diharapkan dapat memberikan kontribusi pada 5 pilar penurunan stunting sebagaimana menjadi bagian dari strategi percepatan penurunan stunting. Tri menyampaikan, kelima pilar tersebut meliputi komitmen dan visi pimpinan; kampanye dan perubahan perilaku; komitmen politik dan akuntabilitas; konvergensi, koordinasi, konsolidasi program; ketahanan pangan, dan pemantauan evaluasi. Dalam hal ini, secara khusus Rumah Gizi akan berkontribusi pada pilar kampanye dan perubahan perilaku serta ketahanan pangan.

Tri melihat, stunting disebabkan oleh banyak faktor. Terdapat penyebab langsung, seperti kekurangan asupan gizi, penyakit infeksi, problem akses layanan kesehatan, sanitasi, hingga pola asuh. Hasil temuan ‘Aisyiyah misalnya, ungkap Tri, tidak sedikit warga miskin dengan anggota keluarga stunting yang belum menjadi peserta program perlindungan social, seperti Program Keluarga Harapan, sehingga tidak dapat mencukupi kebutuhan pangannya.

Namun demikian, Tri mengingatkan terkait penyebab tidak langsung dan menjadi akar masalah dari masalah stunting, seperti problem kemiskinan, budaya, hingga ketidakadilan gender. “Budaya juga memegang peranan yang kuat seperti budaya yang menomorsatukan laki-laki termasuk dalam hal konsumsi makanan sehari-hari. Belum lagi masih minimnya pembagian peran antara suami dan istri dalam rumah tangga, sehingga perempuan mengalami beban berlebih dan menghambat pencegahan stunting,” ungkap Tri. Lantaran kompleksnya penyebab stunting, jelas Tri, ‘Aisyiyah menekankan pentingnya pendekatan yang komprehensif dan menyentuh pula akar masalah.

Tren Joki Tugas

Marak diperbincangkan tentang tren joki tugas yang merupakan salah satu bentuk praktik ‘kecurangan’ dalam dunia akademik. Mengapa demikian?

Istilah joki tugas memang sudah tidak asing lagi di kalangan mahasiswa. Karena praktik perjokian ini sangat ramai di dunia pendidikan Indonesia, yang dikerjakan pun bermacam-macam sesuai dengan permintaan pelanggan. Sasarannya? Tentu saja kaum mageran, hingga kaum yang merasa kewalahan dengan tugas-tugas.

Menyelisik lebih jauh tentang joki tugas, fenomena ini bermula ketika banyaknya mahasiswa yang mengeluh terkait pemberian tugas-tugas dengan deadline padat.

Ada juga yang beralasan karena sibuk. Entah sibuk berkegiatan di luar kuliah seperti aktif organisasi, kepanitiaan, atau karena memang rasa mager untuk membuka dan mempelajari buku panduan mata kuliah.

Merasa kesulitan dalam mengerjakan tugas dari dosen hingga membuat mereka untuk memilih mempercayakan pengerjaan tugas kepada orang lain, kemudian diberikan imbalan tertentu sesuai kesepakatan.

Melihat celah yang ada, beberapa pihak kemudian ‘memanfaatkan’ kesempatan itu dan menjadikannya peluang emas untuk meraih pundi-pundi rupiah.

Mengutip dari majalahsunday.com, kemajuan teknologi mendorong timbulnya ide bisnis baru yang lebih kreatif, termasuk jasa joki tugas via online ini. Dahulu, joki tugas hanya menggunakan sistem promosi dari mulut ke mulut, namun kini sudah tersedia puluhan akun yang tersebar di berbagai media sosial bahkan juga e-commerce. Layaknya simbiosis mutualisme yang kedua pihaknya saling menguntungkan, cukup membayar sejumlah uang kepada si joki, tugas auto kelar.

Dominan yang menggunakan jasa ini karena merasa kewalahan dengan tugas yang tidak henti-hentinya berdatangan. Gugur satu, tumbuh seribu. Begadang tiap malam agar dapat mengumpulkan tugas tepat waktu.

Padahal, mereka hanya kurang di kemampuan manajemen waktu dan juga kondisi fisik yang cepat lelah sehingga memilih jalan pintas tersebut demi menyelesaikan tugas-tugas tepat waktu meski dengan bermodalkan uang.

Meski terkesan meringankan beban orang lain, joki tugas tetap tidak dapat dibenarkan walaupun dengan sederet alasan yang menjejal.

Pertama, ketika memilih menggunakan jasa joki tugas, maka hal ini menandakan bahwa mahasiswa tersebut tidak mempunyai rasa tanggung jawab. Sebagai seorang mahasiswa, harusnya memiliki sikap tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang ada. Juga sudah sepatutnya mampu mengatur waktu dengan baik. Dengan begitu, tidak akan ada peluang sedikit pun untuk menggunakan jasa joki tugas.

Kedua, menggunakan jasa joki tugas merupakan sebuah bentuk kecurangan. Bagaimanapun, tugas merupakan salah satu kewajiban yang harus diselesaikan secara personal dan harus dikerjakan dengan kejujuran.

Ketiga, menghambur-hamburkan uang. Kita seharusnya sadar bahwa uang yang dimiliki, terlepas apakah pemberian dari orang tua atau hasil keringat sendiri, tentu sangat disayangkan jika digunakan untuk memakai jasa joki tugas ini yang seharusnya bisa dikerjakan sendiri.

Keempat, kemampuan diri tidak akan berkembang dengan tren ini. Ketika mengubah perspektif dengan luas, maka pasti menyadari dengan sepenuhnya bahwa mahasiswa sejatinya memang tidak bisa dipisahkan dengan tugas.

Bagaimanapun kesulitan yang dirasakan dan juga sesibuk apa pun, tidak ada alasan atau celah untuk tidak mengerjakan tugas, apalagi malah pergi ke joki tugas.

Apalah arti kuliah jika tidak dilakukan dengan maksimal? Sudah berapa uang kuliah yang dikeluarkan?

Mahasiswa harus sadar bahwa budaya tersebut hanya akan membuat diri malas berpikir dan sulit berkembang. Sebab dengan mengerjakan tugas, mahasiswa dituntut untuk membaca dan kembali mempelajari materi sebelumnya.

Sadar atau tidak, apabila sudah terbuai dengan nikmatnya menggunakan jasa joki tugas, lantas ilmu apa yang akan dituai? Apa gunanya mendapatkan nilai akademik tinggi, namun tak sedikit pun pengetahuan yang bisa diperoleh.

Menurut salah satu pengguna Twitter @Fauzanalrasyid, tren ini bisa saja mencederai nilai-nilai pendidikan. Ia berpendapat pada sebuah utas yang mengatakan, “Kita menuntut negeri ini supaya baik dan dipimpin orang-orang jujur. Kalau begitu, mulai biasakan hidup jujur, apalagi dalam lingkungan akademis”.

Dampak negatif dari penggunaan jasa joki tidak hanya berlaku untuk individu mahasiswa itu sendiri, melainkan untuk seluruh bangsa Indonesia.

Sumber daya manusia unggul yang dicita-citakan seluruh bangsa akan sulit terwujud jika proses belajar dilakukan seperti itu. Jika dibiarkan terus menerus, maka penggunaan jasa joki dikhawatirkan akan menjadi sebuah budaya di dunia pendidikan. Tentunya semakin lama hal itu terjadi, semakin sulit pula upaya untuk mengatasinya. Selain itu, jika meninjau dari perspektif agama, hukum dari fenomena joki tugas ini adalah tidak diperbolehkan.

Sebuah artikel dari platform bimbinganislam.com yang menjawab tentang hukum menerima pembayaran jasa dari pembuatan sesuatu yang sesuai keahlian bahwa jika jasa yang anda tawarkan adalah seperti jasa pembuatan skripsi, tesis, disertasi, tugas sekolah, yang mana ini semua berasal dari ide dan usaha anda sendiri, bukan dari ide dan gagasan pihak yang memperkerjakan anda, maka yang demikian tidak diperbolehkan.

Karena sejatinya itu adalah kewajiban dari pihak yang bersangkutan, tugas dia untuk mengerjakannya sendiri atas dasar pikiran dan idenya, bukan atas hasil pikiran dan ide anda, jika demikian adanya justru ini adalah penipuan dan tolong menolong dalam perbuatan buruk.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ

Artinya: “Barang siapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka.” (HR. Ibnu Hibban, 326. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah, 1058).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa tren joki tugas ini memiliki banyak dampak negatif daripada dampak positif, dan juga, civitas academica di perguruan tinggi harus menemukan solusi agar mahasiswa dapat mengerjakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, tanpa menggunakan jasa joki tugas.

Selain itu, orang-orang yang membuka jasa joki juga harus menghentikan jasa yang ditawarkannya. Bukan hanya sebatas memikirkan pendapatan yang akan mereka peroleh, tapi lebih dari itu. Seharusnya juga memikirkan bahwa kualitas mahasiswa Indonesia akan sulit berkembang ketika terus menerus mengandalkan tren joki tugas tersebut. Wallahu a’lam bisshawwab.

Penulis: Hasriani Khawla
Editor: Sinta Kasim

MUI Susun Panduan Dakwah untuk Generasi Z

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Masduki Baidlowi, mengatakan bahwa Islam wasathiyah harus dibungkus secara gaul, artinya produk dakwah atau penyampaian narasi baik keagamaan harus sampai dan mudah diterima generasi muda.

Maduki melihat, kencederungan metode dakwah saat ini masih didominasi cara-cara lama dan hanya mampu dipahami oleh kalangan tua sehinggaa, MUI akan mengadakan pelatihan-pelatihan kepada generasi muda.

“Kita itu bagaimana ya, gaya-gayanya adalah gaya tua. Gaya milenial kita banyak ketinggalan. Maka nanti kita ada pelatihan,” kata Masduki saat membuka FGD Akhlak Bermedia Sosial, di Gedung MUI Pusat Jalan Proklamasi Menteng Jakarta Pusat, Jumat siang (11/11/2022).Pada acara yang dihadiri ormas-ormas Islam dan para pengurus di lembaga MUI baik pusat mapun perwakilan daerah ini, Masduki juga melihat bahwa generasi Z alias Gen-Z adalah pemilik konten dakwah di masa depan dan penentu.

“Kita buat panduan yang begitu mudah akrab dengan kelompok milenial dan generasi Z dan bahkan X. Semua ini nanti ada di mereka, bukan kita,” kata Juru Bicara Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin ini.

Unutk itu, lanjut pria kelahiran Madura ini, bahwa hal tersebut perlu diingatkan karena banyak organisasi masyarakat (ormas) ketika melakukan dakwah hanya melibatkan para generasi senior. “Acara tentang digital, tapi yang datang dari daerah itu sepuh-sepuh yang datang. Ini penting untuk kita ingatkan bersama-sama,” ujar dia.

Sementara itu, Ketua Infokom MUI KH Mabroer menjelaskan bahwa agenda FGD tersebut merupakan langkah lanjutan dari Kongres Mujahid Digital yang diselenggarakan pada September 2022 kemarin.

“Ini adalah upaya kita untuk mengakselerasi dan memasifkan gerakan Mujahid Digital. Tentu dengan harapan kian tersebarnya konten-konten Islam wasathiyah di dunia maya,” kata dia

 

Hasil Budidaya Ikan Air Tawar Inkubasi Wakaf Kemenag di Ciamis Melonjak Dua Kali Lipat

CIAMIS(Jurnalislam.com)– – Program Inkubasi Wakaf Produktif Kemenag bersama Yayasan Yayasan Lembaga Bina Anak Soleh menunjukkan hasil. Modal senilai 100 juta yang diberikan Kemenag meningkatkan capaian panen raya ikan air tawar hingga dua kali lipat.

“Wakaf yang dikelola nazir berkompeten terbukti membuat capaian hasil yang memuaskan. Capaian ini akan terus kita tingkatkan,” kata Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Tarmizi Tohor dalam kegiatan Panen Raya Wakaf Produktif di Dusun Ciwahangan, Desa Imbanagara, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Sabtu (12/11).

Inkubasi Wakaf Produktif Kemenag dengan nazir Yayasan Lembaga Bina Anak Soleh dimulai pada November 2021. Nazir melakukan optimalisasi bantuan untuk peningkatan produktivitas aset wakaf.

“Setelah menerima bantuan pada November 2021, yayasan langsung melakukan aksi berupa budidaya ikan air tawar di 10 kolam bioplek,” ujar Nazir Yayasan Lembaga Bina Anak Soleh, Dede Ramdhani.

Dede mengatakan, yayasan langsung melalukan metode fermentasi air pada bulan Desember 2021, tebar benih pada Januari 2022, dan panen pertama kali pada April 2022. Proses tersebut diulang pada pada periode Mei-Juni 2022 dan panen kedua pada November 2022.

“Saat panen pertama pada April 2022 mencapai 650 kg dan panen kedua siang tadi mencapai 1.200 kg,” ujar Dede.

Kegiatan panen raya dihadiri Kasubdit Edukasi, Inovasi, dan Kerja Sama Zakat dan Wakaf Wida Sukmawati, Kasubdit Kelembagaan dan Informasi Zakat dan Wakaf Andi Yasri, Kabid Penaiszawa Kanwil Jabar Ohan Burhan, Kakankemenag Kabupaten Ciamis Usep Saepudin Muhtar, dan pejabat di lingkungan Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf.

Din Syamsuddin: Perlu Restrukturisasi Kepemimpinan Pusat Muhammadiyah

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Jelang Muktamar Ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiah di Solo, 19-20 Nopember 2022 banyak ide segar yg mengemuka. Salah satunya dari Temu Pikir sejumlah cendekiawan Muhammadiyah di Kampus UMY. Pada pertemuan, yg diprakarsai Pusat Studi Muhammadiyah UMY, hadir Rektor UMY Prof. Gunawan, Prof. A. Munir Mulkan, Prof. Din Syamsuddin, Prof. Hilman Latief (Dirjen Haji dan Umroh Kemenag), Prof. Mufti Fajar (Ketua KY), Dr. Ibnu Hajar (DPR-RI), Dr. Zuki Qodir, Dr. Sayuti, Dr. Azaki Khairuddin, Dr. Normasari (Warek UAD), dgn moderator Ketua Pusat Studi Muhammadiyah UMY, Dr. Bachtiar Kurniawan, serta sejumlah intelektual muda Muhammadiyah lainnya.

Rektor UMY Prof. Gunawan menyambut baik ide darah segar Pimpinan Pusat Muhammadiyah, namun yg lebih penting baginya adalah pikiran segar. Prof. Munir Mulkhan, yg pernah menjadi Sekretaris PP Muhammadiyah, lebih menekankan pengembangan struktur yg dinamis dan fungsional di jajaran PP Muhammadiyah dengan memasukkan kader-kader muda, termasuk dari unsur perempuan.

Prof. Hilman Latief, cendekiawan yg pernah menjadi Wakil Rektor UMY menekankan revitalisasi kesekjenan. Baginya Sekretariat Jenderal harus menjadi motor penggerak roda organisasi, yg dimulai dari pimpinan pusat kemudian menggerakkan lingkaran-lingkaran bawah.

Din Syamsuddin yg juga diundang pada forum itu, menyatakan persetujuan dengan pikiran-pikiran tadi. Untuk itu menurut Din, perlu ada restrukturisasi kepemimpinan pusat Muhammadiyah. Selama ini, PP Muhammadiyah lebih tampil sebagai syuriah (konsultatif), bukan tanfidziyah (eksekutif). Banyak anggota PP Muhammadiyah yg merasa dirinya syuriah (yg berwenang menentukan ketetapan), tapi kurang terlibat dalam melaksanakan keputusan itu dengan menggerakkan unsur pembantu pimpinan (majelis atau lembaga).

Atas dasar tantangan zaman baik pada skala global maupun lokal yg meningkat, Muhammadiyah dituntut lebih responsif. Selama ini sudah bagus, tapi perlu lebih bagus lagi. Maka secara kongkrit Din Syamsuddin mengusulkan beberapa hal: (1). Jumlah anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah ditambah dari 13 menjadi 19 atau lebih. (2). Anggota PP lama cukup sepertiga yg dipertahankan (kalau 13 berarti 5 orang, kalau 19 berarti 7 orang) yaitu mereka yg visioner, aktif, dan berkemajuan. (3). Di pucuk struktur cukup Ketua Umum ditambah Wakil Ketua Umum sebagai konduktur, di bawahnya perkuat kesekjenan yg bantu para wakil sekjen yg menggerakkan pelaksanaan Program-program Umum Persyarikatan dan sekaligus memberdayakan majelis/lembaga di bawahnya. Di samping itu perlu perkuat biro-biro yg berada di bawah Sekjen (tidak diletakkan dalam sekretariat).

Menurut Din Syamsuddin, Muhammadiyah sekali kader-kader muda atau setengah tua sebagai darah segar utk mengisi pos-pos dalam struktur tadi. Syarat-syaratnya mereka memiliki integritas tinggi, mempunyai intelektualitas memadai, mempunyai kapabilitas mumpuni, dan availabilitas (keberadaan yg selalu hadir bekerja, serta menyediakan waktu utk organisasi).

Muhadjir: Museum Muhammadiyah Tampilkan Perjuangan Nasional

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com) – Dalam rangka menjaga memori kolektif perjuangan dan kiprah luas Muhammadiyah terhadap bangsa, negara, umat dan kemanusiaan semesta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah meresmikan Museum Muhammadiyah pada Senin (14/11).

Terletak di kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, pembangunan museum seluas 1200 m2 tersebut diketahui telah dilakukan sejak empat tahun lalu, utamanya pasca peletakan batu pertama oleh Presiden Jokowi pada 22 Juli 2017.

Dalam sambutan peresmian, Menko PMK RI, Muhadjir Effendy mengungkapkan bahwa kehadiran museum ini merupakan amanat dan hadiah dari Presiden RI Joko Widodo ke Muhammadiyah.

Pasalnya, pada saat dirinya menjabat sebagai Mendikbud dan menuntaskan pembangunan Museum Nahdlatul Ulama di Kabupaten Jombang, Presiden menanyakan apakah Muhammadiyah sudah memiliki museum serupa.

Ketika Muhadjir menjawab belum, lalu Presiden mengatakan, “Kalau begitu bikin juga saja,” kenangnya.

“Jadi museum ini asal muasalnya adalah dari Bapak Presiden Jokowi dan ini adalah merupakan hadiah beliau untuk Persyarikatan Muhammadiyah,” imbuh Muhadjir.

Alasan mengapa ditempatkan di UAD, Muhadjir menyatakan hasil diskusi dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir bahwa UAD adalah kampus tertua Muhammadiyah di Yogyakarta. Alasan kedua, agar pengelolaan museum yang termasuk high cost (berbiaya tinggi) dapat terakomodasi, apalagi museum ini terletak di kompleks pendidikan.

“Museum ini saya harapkan adalah sejarah Muhammadiyah di dalam ikut ambil bagian dalam perjuangan nasional, dalam ikut memerdekakan Indonesia, dalam mengisi kemerdekaan, ini yang dipanggungkan kembali dalam ruangan ini dan kemudian nanti tempat-tempat, situs-situs itu harus bisa kita benahi kembali untuk studi-studi lapangan bagi mereka yang berminat dengan Muhammadiyah,” kata Muhadjir.

Tak hanya museum, Muhadjir juga berharap situs-situs Muhammadiyah di Yogyakarta ini untuk dibenahi sebagai lokasi wisata religius, termasuk makam KH. Ahmad Dahlan supaya generasi-generasi muda Muhammadiyah mengingat sejarah Muhammadiyah.

“Mudah-mudahan museum ini betul-betul menjadi titik tolak kita untuk menuju ke Muhammadiyah yang lebih ke masa depan. Menengok sebentar ke belakang sebentar untuk ke depan yang lebih jauh dan fungsi museum ini adalah sangat penting untuk itu,” pungkas Muhadjir.