Masyarakat Desa Dukung Kaesang Dilaporkan Karena Ujaran Kebencian ‘Dasar Ndeso’

MAGELANG (Jurnalislam.com) – Beredarnya video blog (Vlog) unggahan anak Presiden Jokowi Kaesang Pangarep, anak Presiden Jokowi yang selalu mengakhiri kalimat dengan kata-kata “Dasar Ndeso” ini menuai banyak kecaman dari Netizen khususnya warga Desa.

Ketua Front Aliansi Umat Islam Bersatu (FA – UIB) Jateng –DIY Anang Imamuddin mengatakan bahwa selama ini desa memiliki peranan penting untuk kemajuan bangsa. Karenanya dia sangat mendukung pihak yang melaporkan Kaesang yang dinilainya telah menghina martabat desa.

baca juga : Ucapan Kaesang ‘Dasar Ndeso’ Dinilai Warga Desa Ujaran Kebencian

“Kebutuhan orang kota disupport dari kami orang ndeso. Ndeso adalah simbol kedaulatan rakyat, simbol identitas rakyat Indonesia yang berbudi luhur, bersahaja, guyub rukun, adem ayem. Maka kami mendukung pihak-pihak yang melaporkan Kaesang ke polisi karena ungkapan dan ujaran kebencian. Siapa saja sama kedudukannya di mata hukum,” kata Anang kepada Jurnalislam.com baru-baru ini.

Lebih lanjut, Anang meminta kepada orang desa di seluruh Indonesia tidak berkecil hati dengan sebutan Kaesang. Sampai kapan pun orang desa tetap dibutuhkan orang kota.

“Kepada segenap “Orang Ndeso” di seluruh Nusantara mari berbanggalah kita sebagai orang ndeso yang penuh dengan nilai-nilai luhur dan sebagai soko guru bangsa Indonesia,” pungkasnya.

FA-UIB : Ucapan ‘Dasar Ndeso’ Kaesang Tebar Kebencian Pada Warga Desa

MAGELANG (Jurnalislam.com) – Beredarnya video blog (Vlog) unggahan anak Presiden Jokowi Kaesang Pangarep, anak Presiden Jokowi yang selalu mengakhiri kalimat dengan kata-kata “Dasar Ndeso” ini menuai banyak kecaman dari Netizen khususnya warga Desa.

Ketua Front Aliansi Umat Islam Bersatu (FA – UIB) Jateng –DIY Anang Imamuddin menyayangkan ucapan Kaesang khususnya pada Vlog yang berjudul #BapakMintaProyek itu diunggah pada 27 Mei 2017 karena dinilai menebar kebencian pada masyarakat desa.

“Kami FA-UIB JATENG-DIY yang notabene terdiri dari pemuda-pemuda desa, ormas-ormas pemuda desa dan laskar-laskar orang-orang desa tidak terima dan kecewa dengan kata-kata “Dasar Ndeso” oleh Kaesang. Seolah-olah “Ndeso” adalah simbol kebodohan, simbol keterbelakangan, simbol tidak berakhlak dan tidak bermoral,” katanya pada Jurnalislam.com, Rabu (5/7/2017) di Magelang.

Sebagai warga desa, Anang sangat mengatakan sejatinya Indonesia bisa berkembang karena peran besar dari pedesaan. Sangat disayangkan kalau ujaran kebencian justru disematkan kepada warga desa.

“Kepada segenap “Orang Ndeso” di seluruh Nusantara mari berbanggalah kita sebagai orang ndeso yang penuh dengan nilai-nilai luhur dan sebagai soko guru bangsa Indonesia,” pungkasnya.

FUIS : Alangkah Bijak Jika Polisi Minta Maaf Kepada Umat Islam

SEMARANG (Jurnalislam.com)–Divisi Humas Polri sempat merilis video film pendek “Kau Adalah Aku yang Lain” sebelum menariknya dari media sosial karena mendapat kecaman dari umat Islam.

Dalam film yang berdurasi 7 menit 41 detik terdapat cuplikan ambulans yang mengangkut pasien kritis beragama nasrani, melewati jalan yang ditutup karena ada acara pengajian. Dan digambarkan ada oknum ummat Islam yang tidak bersedia membuka jalan yang ditutup tersebut.

Menanggapi film tersebut, Humas Forum Umat Islam Semarang (FUIS) Danang Setyadi mengatakan agar Polri segera meminta maaf kepada umat Islam agar masalah tidak berlarut-larut.

“Alangkah bijak jika si pembuat film dan aparat kepolisian meminta maaf kepada umat Islam sehingga hubungan antar umat dan hubungan umat dengan aparat kepolisian dapat terjalin harmonis dan baik,” kata Danang kepada Jurnalislam.com, Sabtu (1/7/2017).

Polri, kata Danang harusnya lebih bijak dalam mengambil sikap agar jangan sampai masyarakat antipasti terhadap institusi penegak hukum.

“Jangan sampai salah dalam melangkah yang akhirnya malah menimbulkan kegaduhan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi Polri. Saya lihat hal tersebut terjadi ketika film tersebut di rilis di media, yang akhirnya menuai banyak kritikan dari masyarakat,” tutupnya.

Polri Unggah Film Sudutkan Islam, FUIS : Sangat Jauh dari Realita

SEMARANG (Jurnalislam.com)–Divisi Humas Polri sempat merilis video film pendek “Kau Adalah Aku yang Lain” sebelum menariknya dari media sosial karena mendapat kecaman dari umat Islam.

Dalam film yang berdurasi 7 menit 41 detik terdapat cuplikan ambulans yang mengangkut pasien kritis beragama nasrani, melewati jalan yang ditutup karena ada acara pengajian. Dan digambarkan ada oknum ummat Islam yang tidak bersedia membuka jalan yang ditutup tersebut.

Menanggapi film tersebut, Humas Forum Umat Islam Semarang (FUIS) Danang Setyadi mengatakan bahwa apa yang digambarkan dalam film tersebut sangatlah jauh berbeda dengan karakter umat Islam Indonesia yang sangat toleran.

“Kalau saya melihat Film ini sangat jauh berbeda dengan realita. Kenapa? karena karakter ummat islam khususnya Indonesia itu sangat toleran, sedangkan dalam film tersebut dikesankan seolah-olah ummat islam ummat yang intoleran,” kata Danang kepada Jurnalislam.com, Sabtu (1/7/2017).

Contoh paling nyata, kata Danang ialah saat aksi damai 212 di Jakarta Desember 2016 lalu.

“Media mainstream menjadi saksi di mana jutaan umat Islam yang berkumpul di Masjid Istiqlal memberikan jalan bagi sepasang pengantin nonmuslim, tidak dicaci, tidak disakiti bahkan di lindungi dan diantar oleh Laskar Islam sampai depan Gereja katedral,” kata Danang.

Seperti diketahui, film pendek polri ini mendapat banyak kecaman dari DPR, Ormas Islam hingga MUI. Sampai berita dilansir, Polri masih belum meminta maaf kepada umat Islam.

 

Badko TPQ Mojolaban Sukoharjo Gelar Jambore Anak Islam

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)-Guna mempererat ukhuwah antar santri muslim, Badan Koordinasi Taman Pendidikan Qur’an Badko Demakan Mojolaban menggelar Jambore Anak Islam (Jamais) selama tiga hari di Lapangan Demakan, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.

Acara yang diikuti 500 santri dari 30 TPQ se-Kecamatan Mojolaban ini digelar sejak Jumat (30/6/2017) hingga Ahad (2/7/2017). Mereka menempati 60 tenda ditempat yang sudah disediakan dan menghiasnya.

Ketua Panitia Jamais Ustadz Sukardo mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan ukhuwah TPQ dan ustadz/ustadzah se-Kecamatan Mojolaban sekaligus agenda tahunan dari Badko sebagai bentuk regenerasi pengurus.

“Selain kaderisasi, kami harap para santri dapat mengenal saudaranya yang lain, sekaligus mengisi liburan sekolah mereka,” katanya kepada Jurnalislam.com, Sabtu (1/7/2017).

Dalam jambore ini, selain santri mengerjakan amalan harian seperti shalat, zikir, dll, para santri juga akan mengikuti banyak perlombaan bernuansa Islam seperti Cerdas Cermat Qur’an, khitobah, dll. Bahkan mereka juga harus mengikuti tadabbur alam dengan masyarakat yang dibagi menjadi dua rute.

“Dua rute dipisah antara ikhwan dan akhwat. Setiap pos diuji thaharah, teka teki, tauhid (ditunjukkan tempat kesyirikan) dan terakhir menggambar alam,” paparnya.

Salah satu pembina dari TPQ An Nur, Ibrahim Jundi Robbani mengatakan, melalui kegiatan ini ukhuwah anak-anak terjalin dengan baik agar menjadi generasi Islam yang unggul dan sholeh.

“Kami berharap ukhuwah anak Islam ini lebik baik, sehingga menjadi bibit unggul yang dapat memperjuangkan Islam,” tuturnya.

Salah satu peserta Jamais, Dika Indramayu (12), mengaku sangat senang mengikuti kegiatan ini perkemahan ini, selain dapat pengalaman dan ilmu juga mengenal teman-teman baru.

“Senang, temannya banyak saat ikut tadabbur alam, berjalan sekitar 5 kilometer pun ndak capek. Cuma waktu menjawab teka-teki agak susah tentang sejarah Nabi,” pungkasnya

Soal Film Sudutkan Islam, MUI Minta Polri dan Sutradara Minta Maaf

JAKARTA (Jurnalislam.com) –Wakil Sekjen MUI Amirsyah Tambunan menyayangkan sempat beredarnya film ‘Kau Adalah Aku yang Lain’ . Ia meminta agar sutradara film dan Divisi Humas Polri yang menyebar luaskan film tersebut meminta maaf kepada umat Islam.

“Meminta sutradara agar minta maaf kepada publik karena telah melukai hati umat Islam. Juga Humas Polri agar minta maaf di hari baik ini, Idul Fitri,” katanya dilansir detik.com, Sabtu (1/7/2017).

Ke depan, MUI mendesak pihak terkait melibatkan sejumlah pihak, seperti Lembaga Sensor Film (LSF), MUI, Muhammadiyah, dan NU, dalam pembuatan film semacam itu.

“Sehingga film yang beredar di masyarakat tidak kontraproduktif terhadap visi dan misi institusi Kepolisian RI dalam melindungi, mengayomi masyarakat,” ucap Amirsyah.

sumber: detik.com

Front Aliansi Umat Islam Bersatu : Film Polisi Berpotensi Pecah Belah Bangsa

MAGELANG (Jurnalislam.com) – Ketua Front Aliansi Umat Islam Bersatu (FA – UIB) Anang Imamuddin menilain bahwa film ‘Kau Adalah Aku yang Lain’ menyudutkan umat Islam. Tak hanya itu, ia menilai film pendek tersebut bahkan berpotensi memecah belah bangsa.

“Selain menyudutkan umat Islam, juga bisa memecah belah bangsa Indonesia, pasalnya, dalam film tersebut digambarkan seolah-olah orang islam tidak bisa bertoleransi dengan pemeluk agama lain, ini bisa membuat gesekan antar umat beragama di Indonesia,” kata Anang kepada Jurnalislam. Selasa (27/6/2017).

Untuk itu, ketua FA-UIB ini, meminta film tersebut segera ditarik dan dilarang untuk ditayangkan.

“Kami FA-UIB meminta untuk film tersebut tidak usah ditayangkan lagi, karena akan memecah belah kita bangsa Indonesia,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Anang Imamudin mendesak Kapolri dan Sutradara pembuat film tersebut segera meminta maaf kepada umat Islam dan komponen bangsa. Menurutnya, justru dengan adanya film tersebut bisa merusak Kebinekaan yang sejak dulu sudah terjalin erat.

Seruan Agar Kapolri Minta Maaf Menggema di Berbagai Daerah

MAGELANG (Jurnalislam.com) – Penayangan Film ‘Kau Adalah Aku Yang Lain’ oleh Divisi Humas Polri menuai banyak kecaman dari elemen umat islam, tak terkecuali dari daerah – daerah.

Front Aliansi Umat Islam Bersatu (FA-UIB) Magelang menyayangkan penayangan film tersebut karena sudutkan Islam dan menebarkan kebencian.

“Kami sangat prihatin dengan film tersebut. Film itu tidak mencerminkan tuntunan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, justru memojokkan Islam, seolah-olah Islam tidak punya hati nurani dalam bermuamalah,” kata ketua FA-UIB Anang Imamuddin pada Jurnalislam.com, Selasa (27/6/2017).

Karenanya, FA UIB mendesak agar sutradara dan Kapolri segera meminta maaf kepada umat Islam.

“Kami meminta Kapolri dan sutradara film meminta maaf kepada umat Islam Indonesia dan kepada semua komponen bangsa. Dengan terbitnya film tersebut justru mengganggu Kebhinekaan,” pungkasnya. (Arie Ristyan)

Sudutkan Islam, Pengamat : Betapa Luhurnya Jika Polri Meminta Maaf

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri menilai film ‘Kau adalah Aku yang Lain’ yang diunggah Polri menyinggung kelompok agama tertentu. Hal itu, menurutnya terlihat dari empat hal terkait kontroversi film tersebut, yakni isi film, momentum penayangan, pengunggah, dan penghargaan.

Karenanya, Reza berharap polisi tak perlu malu untuk meminta maaf kepada masyarakat luas.

“Konkretnya, betapa luhurnya jika Polri meminta maaf kepada masyarakat luas, teristimewa kepada komunitas yang di dalam film “Kau adalah Aku yang Lain” telah difiksikan secara vulgar sebagai kaum penindas,” kata Reza dilansir Republika.co.id, Kamis (29/6/2017).

Dengan meminta maaf, Reza mengungkapkan, situasi ini menjadi momentum bagi Polri untuk menata strategi kehumasannya. Polisi harus menjadi agen perubahan sosial yang proaktif dan santun. Polisi tidak boleh diskriminatif dan tebang pilih dalam penegakan hukum.

Menurutnya, pendekatan komunikasi polisi berpengaruh dalam pergaulan masyarakat. Peserta Community Policing Development Program, Jepang ini meminta Polri untuk meminta maaf karena telah secara kurang arif mengabaikan ekses dari konten film tersebut, di balik keinginan untuk menyemaikan sikap toleransi dan kebinekaan.

 

Malah Unggah Video Sudutkan Islam di Hari Raya, Polisi Dinilai Kurang Sensitif

JAKARTA (Jurnalislam.com) –Film “Kau adalah Aku yang Lain” yang diunggah lewat akun media sosial oleh Divisi Humas Polri menimbulkan kontroversi. Film ini dianggap mendiskreditkan umat Islam. Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel menyoroti empat hal terkait kontroversi film tersebut, yakni isi film, momentum penayangan, pengunggah, dan penghargaan.

Menurut Reza, penayangannya pada momen Idul Fitri, yang merupakan hari raya umat Islam, memperburuk isi film tersebut. Film yang dipublikasikan lewat akun media sosial resmi Polri ini menyabet juara pertama Police Movie Festival.

“Percampuran isi, momen, pengunggah, dan trofi itu memperlihatkan kurangnya sensitivitas polisi dalam sejumlah kerjanya belakangan ini,” kata Reza, dilansir Republika.co.id, Kamis (29/6).

Menurut Reza, sikap Polri itu dipandang sebagai penyebab munculnya langkah-langkah penegakan hukum yang diskriminatif dan melukai hati kalangan masyarakat tertentu. Reza berharap polisi bisa lebih matang dan peka dalam membawa diri di tengah kompleksitas sosial.

Reza pun membandingkan dengan perilaku Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dinilai banyak kalangan lebih lihai merebut hati publik. TNI justru dirasa lebih menenteramkan dan mengayomi masyarakat. Ia menyebut penayangan film “Kau adalah Aku yang Lain” membuat institusi kepolisian kehilangan kepercayaan masyarakat.

“Amunisi utama polisi sesungguhnya adalah kepercayaan masyarakat. Bukan senjata api, teknologi canggih untuk melacak penjahat, maupun keterampilan bela diri. Apesnya, kepercayaan itulah yang saat ini terkesan sedang diunggis bahkan oleh institusi kepolisian sendiri,” pungkasnya.