
ANKARA (Jurnalislam.com) — Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengecam serangan udara zionis ke Jalur Gaza yang diblokade pada hari Ahad, lansir Anadolu Agency Senin (22/08/2016).
Dalam konferensi pers setelah pertemuan Dewan Menteri di Ankara, Senin, Yildirim mengatakan: “Kami dengan jelas mengecam serangan terhadap warga sipil ini.”
“Normalisasi hubungan kami dengan Israel tidak akan pernah mencegah dan menghentikan kami berdiri membela kasus Palestina dan aksi bersama kami dengan mereka,” tambah Yildirim.
Kementerian luar negeri negara itu juga merilis pernyataan mengutuk serangan Israel yang ia katakan, “Menyebabkan luka bagi warga sipil Palestina yang tidak bersalah” dan “tidak dapat diterima berdasar alasan mereka.”
Pesawat-pesawat tempur zionis yahudi melancarkan serangan udara di Jalur Gaza yang diblokade, Ahad, sesaat setelah roket ditembakkan ke Israel selatan.
Pada hari Ahad, militer Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa sebuah roket menghantam kota selatan Sderot dari wilayah Palestina.
“Membalas serangan itu, pasukan udara Israel dan korps lapis baja menargetkan dua pos Hamas di Jalur Gaza selatan,” kata pernyataan itu.
Yildirim juga mengatakan bahwa ia menanti peningkatan hubungan antara Turki dan Mesir.
“Kami berada di sisi memperbaiki hubungan kita dengan Mesir,” kata Yildirim.
“Mesir adalah negara yang memiliki budaya dan nilai-nilai yang dekat dengan kita, penduduk kami adalah saudara,” kata Yildirim, menambahkan bahwa konflik antara pemerintah Mesir dan Turki tidak harus tercermin pada rakyatnya.
Pernyataan Yildirim muncul setelah pernyataan Presiden Mesir Abdel-Fattah al-Sisi, Ahad.
“Tidak ada alasan untuk permusuhan,” kata al-Sisi dalam laporan ke tiga surat kabar pro-rezim Mesir hari Ahad. “Kami memberi mereka (Turki) waktu untuk mempertimbangkan kembali posisi mereka,” katanya.
Hubungan Turki-Mesir memburuk setelah pasukan yang dipimpin oleh al-Sisi menggulingkan Muhamed Mursi, dalam kudeta militer berdarah, presiden Mursi adalah presiden pertama negara itu yang dipilih secara bebas, di kudeta 2013 oleh militer pimpinan al Sisi.
Perdana menteri Turki juga membahas krisis Suriah.
“Suriah, sayangnya, kehilangan energinya dari hari ke hari akibat perang global yang telah berlangsung selama enam tahun.”
Yildirim mengatakan bahwa jutaan orang telah mengungsi di seluruh negara yang luluh lantak akibat perang tersebut, dan sekitar 500.000 orang telah kehilangan nyawa mereka sejak awal 2011.
“Hal terpenting di Suriah untuk menghentikan pertumpahan darah harus dilakukan bersama-sama oleh semua pihak dan untuk membentuk perwakilan administrasi seluruh Suriah,” tambah Yildirim.
Yildirim meringkas posisi Turki di masa depan Suriah untuk tiga posisi utama: “Suriah yang tidak terbagi, pelestarian integritas teritorial, dan pelarangan rekonstruksi baru yang memberikan keuntungan untuk kelompok etnis tertentu.”
Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Nushairiyah Bashar al-Assad menumpas protes unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakan “Arab Spring” – dengan keganasan militer tak terduga.
Sejak itu, lebih dari seperempat juta orang telah tewas dan lebih dari 10 juta lainnya menjadi pengungsi di seluruh negeri yang babak belur akibat perang, menurut PBB.
Namun Pusat Penelitian Kebijakan Suriah menyebutkan korban tewas akibat konflik enam tahun di Suriah lebih dari 470.000 orang.
Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam