Erdogan Desak PBB Adakan Pertemuan Darurat Bahas Aleppo

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Selasa (13/12/2016) bahwa ia mengharapkan PBB mengadakan pertemuan luar biasa membahas pembantaian warga sipil di kota Aleppo Timur Suriah, sumber kepresidenan mengatakan, lansir Anadolu Agency.

Erdogan berbicara melalui telepon dengan Sekretaris Jenderal PBB terpilih Antonio Guterres dan membuat pernyataan sambil menekankan pentingnya tindakan PBB karena mengerikannya perkembangan terakhir di Aleppo.

Erdogan juga mengucapkan selamat kepada Guterres atas pos barunya yang akan dimulai 1 Januari, menurut sumber presiden yang berbicara dengan syarat anonim karena pembatasan berbicara kepada media.

Pasukan oposisi Suriah di Aleppo timur mencapai kesepakatan gencatan senjata Selasa dengan pasukan rezim Bashar al-Assad untuk mengevakuasi warga sipil dari kota.

Lebih dari 1.071 warga sipil telah tewas di Aleppo timur akibat serangan oleh rezim Suriah dan pesawat-pesawat tempur Rusia sejak pertengahan November, menurut sumber-sumber lokal.

Pemboman brutal juga telah membuat semua rumah sakit di Aleppo barat hancur sehingga berhenti beroperasi, sementara seluruh kegiatan akademik juga dihentikan tanpa batas waktu.

 

Demi Lindungi Warga Sipil, Mujahidin Aleppo Sepakati Gencatan Senjata yang Dimediasi Turki

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Untuk melindungi warga sipil faksi revolusioner Perlawanan Suriah menyepakati gencatan senjata dengan pihak Rusia di Aleppo timur, yang digempur operasi militer intensif dan brutal oleh milisi rezim Assad yang didukung Rusia sejak beberapa bulan lalu dan mencapai puncaknya selama dua pekan terakhir, Eldorar Alshamia melaporkan, Selasa (13/12/2016).

Sumber mengungkapkan untuk Eldorar bahwa gencatan senjata akan berlangsung selama dua hari; dan dimediasi oleh Turki untuk mengevakuasi warga sipil yang jumlahnya lebih dari 70 ribu orang yang terperangkap di Aleppo.

Sumber melaporkan bahwa tujuan mereka adalah pedesaan barat Aleppo, Turki nanti akan memfasilitasi perjalanan mereka ke pedesaan utara di daerah yang dikendalikan Tentara Pembebasan Suriah (the Free Syrian Army-FSA).

Milisi perlindungan Kurdi (YPG) menolak membantu di wilayah yang mereka kendalikan, pejuang Aleppo diijinkan membawa senjata ringan, sementara warga sipil tidak akan digeledah.

Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, mengatakan bahwa negaranya mencapai gencatan senjata di Aleppo, dan diharapkan memulai proses evakuasi beberapa jam dari sekarang, sementara sumber-sumber militer rezim Assad membantah mengetahui perjanjian tersebut.

Milisi Syiah internasional yang didukung Iran dan pasukan udara Rusia dan Assad memiliki kontrol beberapa pekan terakhir atas lebih dari 20 lokasi di timur Aleppo setelah melancarkan serangan udara brutal dan intensif yang mengakibatkan ribuan warga sipil terperangkap, tewas dan terluka.

Kemenlu Turki Kecam Pembantaian Warga Sipil Aleppo oleh Rezim Assad

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Kementerian Luar Negeri Turki mengecam pembantaian sejumlah besar warga sipil di kota Aleppo Suriah, oleh rezim Bashar Assad, lansir Anadolu Agency Selasa (13/12/2016).

“Kami kuatir dan geram atas pembantaian sejumlah besar warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak akibat pengepungan dan pemboman berat rezim [Suriah] dan milisi Syiah pendukungnya di Aleppo timur sejak Juli lalu,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Pasukan rezim Assad tidak mengizinkan akses bantuan kemanusiaan selama berbulan-bulan bagi penduduk di Aleppo timur dan menghancurkan infrastruktur sipil seperti rumah sakit, sekolah, serta jaringan air dan listrik, kata kementerian itu.

“Warga sipil tidak diberikan kesempatan untuk meninggalkan kota,” tambah pernyataan itu.

Turki juga menyerukan penghentian segera serangan di Aleppo dan evakuasi yang aman bagi penduduk di bagian timur kota.

“Turki terus melakukan inisiatif dengan negara-negara yang relevan dan organisasi-organisasi internasional,” tambah kementerian itu.

Menurut PBB, rezim Suriah dan sekutunya (milisi Syiah Libanon, Irak dan Iran) memasuki rumah dan menembak puluhan warga sipil hingga tewas dalam serangan di Aleppo timur, pada hari Senin.

“Kami telah menerima laporan banyaknya warga sipil yang ditahan oleh pasukan pro rezim. Kami juga telah diberitahu bahwa pasukan pro rezimmemasuki rumah warga sipil dan membunuh siapa saja yang ditemukan di dalam, termasuk perempuan dan anak-anak,” Rupert Colville, juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (the UN High Commissioner for Human Rights), mengatakan pada konferensi pers di Jenewa, Selasa.

“Kami menerima laporan bahwa pasukan pro rezim menewaskan sedikitnya 82 warga sipil, termasuk 11 perempuan dan 13 anak-anak,” tambah Colville.

Selama 27 hari terakhir, diperkirakan 990 warga sipil telah tewas di Aleppo timur dalam serangan oleh rezim Suriah dan sekutu milisi, menurut laporan setempat berdasarkan sumber dari kota.

Lebih dari 100 Anak-anak Terperangkap dalam Bangunan di Aleppo

JENEWA (Jurnalislam.com) – Lebih dari 100 anak-anak terjebak dalam gedung yang berada di bawah serangan berat di Aleppo timur, Dana Anak-anak PBB (the United Nations Children’s Fund-UNICEF) hari Selasa (13/12/2016) memperingatkan, lansir Anadolu Agency.

“Saat pertempuran terus meningkat di Aleppo hari ini, ribuan anak-anak menderita dalam diam, dan mendapat serangan brutal dan dunia hanya menyaksikan. Sudah saatnya bagi dunia berdiri untuk anak-anak Aleppo dan mengakhiri mimpi buruk hidup mereka,” kata UNICEF dalam sebuah pernyataan.

“Menurut laporan yang mengkhawatirkan dari dokter di kota, banyak anak-anak, mungkin lebih dari 100, tanpa pendamping atau terpisah dari keluarga mereka, yang terjebak di sebuah gedung, di bawah serangan berat di Aleppo timur,” kata UNICEF.

UNICEF mengatakan kepada Anadolu Agency di email: “Kami tidak dapat mengkonfirmasi lokasi karena kita tidak ingin mengekspos anak-anak tersebut dalam situasi yang lebih berbahaya.”

UNICEF mendesak semua pihak untuk melakukan evakuasi yang aman dan segera bagi semua anak, dan menambahkan: “UNICEF sangat prihatin dengan laporan yang belum diverifikasi tentang pembunuhan ekstra yudisial warga sipil termasuk anak-anak dan mengingatkan semua pihak akan tanggung jawab mereka di bawah hukum internasional.”

Menurut PBB, rezim Suriah dan sekutunya memasuki rumah dan menembak puluhan warga sipil hingga tewas dalam serangan di Aleppo timur, Senin.

UNICEF menyerukan “semua pihak yang bertempur untuk segera melakukan gencatan senjata di Aleppo dan memungkinkan organisasi kemanusiaan untuk memberikan bantuan mendesak bagi keluarga dan anak-anak yang membutuhkan di mana pun mereka berada, dan tanpa syarat.”

Selama 27 hari terakhir, diperkirakan 990 warga sipil telah tewas di Aleppo timur dalam serangan oleh rezim Suriah dan sekutu milisi, menurut laporan setempat berdasarkan sumber dari kota.

PBB: Pasukan Rezim Assad dan Milisi Syiah Memasuki Rumah-rumah dan Membunuhi Warga Sipil Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Dalam serangan militer rezim Syiah Suriah dan sekutunya (milisi syiah Libanon, Irak, Afghanistan dan Iran) di Aleppo timur, Senin (12/12/2016), mereka memasuki rumah dan menembak puluhan warga sipil menurut PBB, lansir Anadolu Agency, Selasa (13/12/2016).

“Kami telah menerima laporan bahwa banyak dari warga sipil yang ditahan oleh pasukan pro-rezim. Kami juga telah diberitahu bahwa pasukan pro-rezim telah memasuki rumah warga sipil dan membunuh individu-individu yang ditemukan di dalam, termasuk perempuan dan anak-anak,” kata juru bicara PBB Rupert Colville dalam konferensi pers di PBB di Jenewa, Selasa.

“Kami menerima laporan, pasukan pro rezim (milisi Syiah) menewaskan sedikitnya 82 warga sipil, termasuk 11 perempuan dan 13 anak-anak,” tambahnya.

Colville mengatakan PBB juga tidak mengetahui nasib ratusan orang pengungsi yang telah hilang lebih dari dua pekan setelah menyeberang ke wilayah rezim di Aleppo barat, Suriah.

“Perebutan oleh pasukan pro rezim Assad dari bagian-bagian yang tersisa dari kota Aleppo sudah dekat. Ada pemboman sangat berat dan penembakan sepanjang hari kemarin,” katanya.

Colville mengatakan kelompok oposisi bersenjata dilaporkan menarik diri dari sejumlah lingkungan di Aleppo pada Selasa pagi.

“Beberapa sumber juga melaporkan bahwa puluhan warga sipil ditembak mati kemarin di al-Ahrar Square di wilayah al-Kallaseh, dan juga di Bustan al-Qasr, oleh pasukan rezim Assad dan sekutu mereka, termasuk dari kelompok bersenjata Syiah Irak al-Nujabaa ,” kata dia.

“Kemarin malam, kami menerima lebih mendalam laporan yang mengejutkan bahwa banyak mayat tergeletak di jalan-jalan tapi warga tidak mampu untuk mengambil mereka karena pemboman brutal yang intens, dan ketakutan mereka akan ditembak jika terlihat pasukan rezim,” tambahnya.

 

Sambil Berteriak Keluar dari Stasiun “Saya Ingin Bunuh Muslim” Orang ini Menikam

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Seorang laki-laki membawa pisau dilaporkan menikam seorang penumpang kereta di stasiun Forest Hill lalu mengejar orang-orang sambil berteriak “Saya ingin membunuh seorang Muslim”, lansir World Bulletin, Senin (12/12/2016).

Penyerang tersebut diduga berteriak: “Siapakah yang Muslim? Saya ingin membunuh seorang Muslim.”

Pria itu telah ditangkap karena dicurigai GBH setelah “insiden serius” tersebut, Polisi Transportasi Inggris (British Transport Police) mengkonfirmasi.

Seorang saksi mata mengatakan kepada The Daily Mirror: “Orang itu berlari keluar dari stasiun dengan pisau dan semua orang mulai berlari dan berteriak.

“Dia berteriak ‘Siapa pun yang Muslim, aku akan membunuhmu”. Dia mencari siapa yang Muslim.

“Semua orang berlari dan berteriak. Dia berjalan naik dan turun selama sekitar 15 menit.

“Terlihat dari wajah beberapa orang, mereka tampak ketakutan dan sangat takut.”

Saksi mata lain mengatakan pria itu berteriak “matilah Muslim” dan “kembali ke Suriah”.

Miguel Oliveira mengatakan kepada Press Association ia bertemu dengan “gelombang orang” ketika tiba di stasiun.

“Sekelompok orang pertama berteriak ‘dia punya pisau, dia punya pisau’ dan kemudian tiba-tiba yang berikutnya berkata ‘Oh dia ditikam… panggil polisi’,” katanya.

Dia menambahkan bahwa beberapa anggota kerumunan berteriak: “Dia ingin membunuh Muslim”.

Shellby Curry sedang bersama anaknya yang berusia satu tahun ketika dia melihat seorang pria “melambaikan sesuatu yang tampaknya sebuah pisau di tangannya” di dekat stasiun dan meneriakkan kata-kata seperti “Muslim f *** ing membenci mereka, bunuh mereka semua”.

Dia menggambarkan penyerang sebagai orang kulit hitam dengan rambut pendek, dia mengira berumur 30-an atau awal 40-an.

Pria itu juga mengancam seorang wanita yang mengenakan jilbab sebelum melakukan penusukan.

Seorang juru bicara BTP mengatakan: “Kami saat itu sedang berada di stasiun kereta api Forest Hill, saat dipanggil untuk menangani serangan serius pada 13:18.

“Satu orang telah ditangkap setelah insiden tersebut dan saat ini sedang dalam tahanan polisi.

“Satu orang dirawat oleh staf ambulans di tempat kejadian dan saat ini dalam perjalanan ke rumah sakit.

“Kami masih menyelidiki insiden ini tetapi pada saat ini, kita tidak memperlakukannya sebagai kasus terkait terorisme.”

Pengungsi Aleppo dalam Ancaman Milisi Syiah Libanon, Irak dan Iran

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Meskipun Rusia pekan lalu menyatakan bahwa rezim Suriah akan menghentikan serangan di Aleppo timur untuk memungkinkan warga sipil meninggalkan daerah yang terkepung, justru milisi Syiah yang berafiliasi dengan Iran menghalangi mereka melakukan hal itu, menurut sumber-sumber lokal.

“Pasukan Syiah Hizbullah [Lebanon] dan milisi Syiah Al-Nujaba [Irak] ancam warga sipil yang meninggalkan kota,” seorang sumber lokal yang lebih suka anonimitas mengatakan kepada Anadolu Agency.

Diperkirakan 100.000 penduduk kota tetap dikepung oleh rezim Nushairiyah Assad dan sekutunya dalam wilayah seluas sekitar 8,6 kilometer persegi di Aleppo timur.

Sebagian besar dari mereka telah mengalami memburuknya makanan dan kekurangan air sejak rezim Suriah merebut distrik Bab al-Nairab – tempat tangki pasokan air utama – awal bulan ini.

Selama 27 hari terakhir, sekitar 990 warga sipil telah tewas di Aleppo timur dalam serangan udara brutal oleh rezim Suriah dan sekutu milisi, sumber-sumber lokal melaporkan.

“Pasukan rezim Assad dan sekutu mereka yang didukung Iran tidak membiarkan warga sipil pergi,” Ahmed Hammami, seorang komandan lapangan oposisi, mengatakan kepada Anadolu Agency.

“Milisi Syiah dari Iran dan Irak menyebabkan penderitaan yang signifikan untuk warga sipil,” katanya.

“Laki-laki muda yang menjelajah ke wilayah yang dikuasai rezim dipaksa untuk mengangkat senjata dan dikirim ke garis depan untuk melawan,” Hammami menegaskan.

“Sekitar 80 persen dari operasi militer yang dilakukan [di dalam dan di sekitar Aleppo] dilakukan oleh milisi asing,” tambahnya.

“Elemen dari tentara Suriah sangat sedikit,” katanya. “Rezim mengandalkan milisi asing, dimana Iran adalah penyandang dana utama.”

Menurut Hammami, milisi Syiah mengarahkan warga sipil untuk mengosongkan zona tempur di Aleppo untuk menuju daerah di dekatnya.

“Ribuan keluarga baru-baru ini diarahkan ke lingkungan yang dikuasai milisi di Ansari,” katanya kepada Anadolu Agency.

“Kami takut pembantaian bisa dilakukan di lingkungan ini dan dalam kasus serupa,” tambah Hammami.

Ismail Abdullah, seorang penduduk Aleppo, mengatakan kepada Anadolu Agency melalui internet bahwa penduduk kota “tidak dapat menemukan air minum atau makanan untuk makan, sedangkan power supply (aliran listrik) dipotong sejak bulan yang lalu”.

 

Sudah 103.000 lebih Warga Sipil Keluar dari Mosul

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Lebih dari 103.000 warga sipil telah mengungsi dari rumah mereka di tengah operasi militer yang berlangsung berpekan-pekan – dan tetap berkelanjutan – untuk membersihkan kelompok Islamic State (IS) dari kota Mosul, pemerintah Irak mengatakan Senin (12/12/2016), lansir Anadolu Agency.

Dalam sebuah pernyataan, Menteri Migrasi dan Perpindahan Irak Jassim al-Jaff mengatakan bahwa sekitar lebih dari 2.470 warga sipil telah meninggalkan rumah mereka di Irak utara, pada hari Senin saja.

“Ini menjadikan jumlah total pengungsi 103.362 sejak operasi dimulai,” katanya.

Pada pertengahan Oktober, tentara Irak – yang didukung oleh pesawat tempur koalisi pimpinan AS dan sekutu lokal di darat – melancarkan serangan besar untuk merebut Mosul, benteng terakhir IS di Irak utara.

Menurut Abu Bakr al-Kanaan, kepala komisi pemerintah Irak yang bertugas memulangkan pengungsi, sekitar 15.000 orang telah kembali ke rumah mereka di daerah selatan Mosul.

“Dan 10.000 lainnya akan kembali ke rumah mereka di daerah tersebut segera,” kata al-Kanaan kepada Anadolu Agency.

Para pejabat Irak telah bersumpah untuk merebut kembali Mosul akhir tahun ini, yang jatuh ke tangan IS pada pertengahan 2014.

6 Polisi Tewas, Pemerintah Mesir Kaitkan Ikhwanul Muslimin dengan Gerakan Hasm

MESIR (Jurnalislam.com) – Gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir yang diperangi pemerintah Mesir membantah memiliki hubungan dengan kelompok militan yang baru-baru ini mengklaim serangkaian serangan mematikan di negara itu, lansir World Bulletin, Ahad (11/12/2016).

“Ikhwanul tidak memiliki hubungan dengan organisasi atau individu yang menumpahkan darah,” kata juru bicara kelompok Talaat Fahmi pada hari Sabtu.

“Ikhwan tidak memiliki sayap bersenjata di Mesir,” tegasnya.

Penolakan itu terjadi dua hari setelah enam polisi tewas dalam serangan bom di ibukota Mesir Kairo pada hari Jumat.

Pemboman itu diklaim oleh gerakan Hasm, yang oleh media lokal dihubungkan dengan Ikhwan, yang dimasukkan dalam daftar hitam oleh pihak berwenang hitam pada tahun 2013.

Kelompok militan Hasm sebelumnya mengklaim serangan bom mobil yang menargetkan wakil jaksa agung pada bulan September. Pejabat itu selamat dari pengeboman tanpa cedera.

Fahmi menyalahkan pihak berwenang Mesir atas kekerasan yang sedang berlangsung di negara itu.

“Tidak ada sayap bersenjata di Ikhwanul Muslimin dan kita tidak memiliki hubungan dengan organisasi, kelompok atau individu yang mengklaim operasi bersenjata atau [tindakan] pertumpahan darah,” katanya.

Mesir telah bergolak oleh gejolak sejak militer menggulingkan Muhammad Mursi, presiden pertama negara itu yang dipilih secara sah, dalam kudeta berdarah 2013.

Forum Silaturrahim Pondok Pesantren: Hari Tanoe Tak Pantas Pimpin YPI

SERANG (Jurnalislam.com) – Anggota presidium Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten, KH. Shodiqin menanggapi upaya Hari Tanoesoedibyo (HT) untuk menjadi bagian dari Yayasan Peduli Pesantren (YPI). Menurutnya, itu merupakan suatu kejanggalan.

“Pimpinan ponpes kok bukan dari umat Islam. Bagaimana jadinya?” Ungkapnya di Masjid Agung At Tsauorh, Serang, Senin (12/12/2016), Islamic News Agency (INA) melaporkan.

Kiayi Shodiq menjelaskan, upaya pimpinan MNC Grup itu berbau politik.

“Yang kedua, ini juga ada unsur politik,” tegasnya.

YPI sesungguhnya, kata beliau, sama seperti kasus penistaan agama oleh tersangka Ahok. Sebab, sama-sama merendahkan derajat Islam.

“Kasus YPI dan kepemimpinan yang menista al Maidah 51 matannya sama,” cetusnya.

Ia menegaskan hal ini bukan masalah toleransi umat Islam.

“Sekali lagi jangan sampai ini dikatakan tidak toleran. Tapi liat orientasinya,” paparnya menyetir pernyataan sikap FSPP yang sebelumnya sudah dibuat.

 

Reporter: M Fajar/INA