Prajurit Israel Tewas dalam Operasi Militer di Golan, Total Korban Militer Terus Bertambah

PALESTINA (jurnalislam.com)- Seorang prajurit Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dilaporkan tewas dalam kecelakaan mobil saat menjalankan operasi militer di wilayah Dataran Tinggi Golan pada Kamis (1/5/2025). Militer Israel mengonfirmasi kabar tersebut pada Jumat (2/5/2025).

Korban diidentifikasi sebagai Sersan Niv Dayag (19), berasal dari Ramat Hasharon, yang bertugas di Batalyon ke-890 Brigade Paratroopers.

Dalam insiden yang sama, tiga prajurit lainnya juga mengalami luka, dua di antaranya berasal dari batalyon yang sama, dan satu lagi dari Brigade ke-474. Mereka telah dievakuasi ke rumah sakit, dan keluarga masing-masing telah diberi kabar. Militer menyatakan, penyelidikan terkait penyebab kecelakaan masih berlangsung.

Kematian Dayag menambah panjang daftar korban dari pihak militer Israel dalam konflik yang berlangsung sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu.

Pekan lalu, seorang prajurit IDF dan seorang perwira Polisi Perbatasan tewas dalam baku tembak di lingkungan Shejaiya, Kota Gaza. Prajurit tersebut adalah Kapten Ido Voloch (21), komandan peleton di Batalyon ke-46 dari Brigade “Iron Trails” ke-401, sementara perwira Polisi Perbatasan diidentifikasi sebagai Sersan Netta Yitzhak Kahana, anggota Unit Antiterorisme Rahasia Yamas dari Kepolisian Distrik Selatan.

IDF menyebut Voloch tewas saat mencoba mengevakuasi tentara yang terluka akibat tembakan musuh, sedangkan Kahana dilaporkan tewas dalam kontak senjata di lokasi yang sama.

Sehari sebelumnya, Sersan Kepala (purnawirawan) Asaf Cafri (26), seorang pengemudi tank dari Batalyon ke-79 Brigade Lapis Baja Cadangan ke-14, juga tewas dalam operasi militer di Gaza.

Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, sebanyak 851 tentara Israel telah dilaporkan tewas, termasuk 412 di antaranya tewas selama operasi darat di Jalur Gaza. Selain itu, Kepolisian Israel mencatat sedikitnya 67 anggotanya tewas dalam periode yang sama saat menjalankan tugas.

Di kesempatan lain, penulis senior surat kabar Israel Haaretz, Amira Hass, menyatakan bahwa salah satu kebijakan khusus yang diterapkan Israel dalam merespons pertanyaan publik mengenai perang di Gaza adalah dengan menyembunyikan jumlah tentara yang tewas. Ia menegaskan bahwa jumlah total korban di kalangan militer Israel sesungguhnya melebihi angka resmi yang dirilis pemerintah. (Bahry)

Sumber: JNS

Hamas Kecam Serangan Israel terhadap Kapal Kemanusiaan di Perairan Internasional

GAZA (jurnalislam.com)— Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengecam keras serangan pasukan Israel terhadap kapal dalam armada kemanusiaan bertajuk “Conscience” yang berupaya menerobos blokade Gaza. Insiden ini terjadi di perairan internasional lepas pantai Malta dan disebut sebagai tindakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

Dalam pernyataan resminya, Hamas menilai serangan tersebut sebagai bukti bahwa Israel merupakan “negara jahat” yang terus melakukan pelanggaran dengan dukungan dan perlindungan penuh dari Amerika Serikat.

“Tidak puas dengan kejahatan genosida di Gaza, pembersihan etnis di Tepi Barat dan Yerusalem, serta agresi terhadap Lebanon dan Suriah, hari ini Israel menyerang kapal kecil yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Padahal, misi ini sesuai dengan hukum dan resolusi internasional,” kata Dr. Basem Naim, anggota Biro Politik Hamas, dalam pernyataan resmi yang dirilis pada 2 Mei 2025.

Ia menambahkan, aksi Israel ini adalah bentuk nyata dari “hukum rimba” yang didukung oleh pemerintahan Amerika Serikat, dan bukan hanya mengancam Palestina, tetapi juga membahayakan stabilitas global dan keamanan umat manusia.

Hamas menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera bertindak menghentikan tindakan agresif Israel yang dianggap tidak hanya menindas rakyat Palestina tetapi juga melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum internasional.

Armada “Conscience” dilaporkan membawa sejumlah bantuan kemanusiaan yang ditujukan untuk warga Gaza yang kini masih menghadapi blokade ketat sejak invasi Israel pada Oktober 2023. Menurut Freedom Flotilla Coalition (FFC), yang mengorganisasi misi tersebut, pesawat nirawak Israel diduga sengaja menargetkan generator kapal, memicu kebakaran, dan menyebabkan kerusakan besar pada lambung kapal hingga kapal dalam kondisi terancam tenggelam.

Kontributor: Bahry

Blokade Bantuan ke Gaza, AS Bela Israel di Mahkamah Internasional

DEN HAAG (jurnalislam.com)— Amerika Serikat menyatakan dukungannya terhadap keputusan Israel yang melarang Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) beroperasi di Jalur Gaza. Pernyataan itu disampaikan dalam sidang Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag pada Rabu (30/4/2025).

Larangan tersebut merupakan bagian dari undang-undang yang disahkan Israel tahun lalu, yang menuduh UNRWA mempekerjakan individu yang diduga terlibat dalam serangan Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023.

Meskipun UNRWA menyatakan telah memecat sembilan staf yang diduga terlibat, PBB menyebut tidak menemukan bukti konkret yang mengaitkan mereka dengan serangan tersebut. Saat ini, UNRWA mempekerjakan lebih dari 30.000 orang untuk memberikan layanan dasar bagi pengungsi Palestina.

Dalam sidang yang digelar sebagai tanggapan atas permintaan Majelis Umum PBB terkait kewajiban Israel memfasilitasi bantuan kemanusiaan, penasihat hukum Departemen Luar Negeri AS, Joshua Simmons, menegaskan bahwa Israel memiliki hak untuk menentukan organisasi mana yang dapat beroperasi di wilayah pendudukan.

“Kekuatan pendudukan memiliki ruang untuk menilai skema bantuan mana yang akan diizinkan,” ujar Simmons.

“Bahkan jika organisasi tersebut bersifat kemanusiaan dan tidak memihak, hukum tidak mewajibkan Israel untuk mengizinkan operasi bantuan dari aktor tertentu.” sambungnya.

Simmons juga menambahkan bahwa Israel memiliki “kekhawatiran serius” atas independensi dan ketidakberpihakan UNRWA.

AS, yang dikenal sebagai sekutu utama Israel dan pemasok senjata untuk operasinya di Gaza, terus membela tindakan militer Israel meskipun mendapat kecaman global.

Sebaliknya, perwakilan Palestina dan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam sidang sebelumnya menuding Israel telah melanggar hukum internasional karena memblokir bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Sejak 2 Maret lalu, Israel disebut telah sepenuhnya menghentikan pasokan logistik ke Jalur Gaza, yang dihuni oleh sekitar 2,3 juta warga. Persediaan bantuan yang sempat tersedia selama gencatan senjata awal tahun ini pun kini nyaris habis. (Bahry)

Sumber: TNA

Amnesty International: Gaza Telah Menjadi Neraka, Ini Genosida yang Sedang Berlangsung

GAZA (jurnalislam.com)- Organisasi Hak Asasi Manusia Internasional, Amnesty International, mengeluarkan pernyataan keras mengecam tindakan Israel terhadap warga sipil di Jalur Gaza. Dalam pernyataan resminya pada Jumat (2/5/2025), Amnesty menyebut pengepungan Israel selama dua bulan terakhir sebagai bentuk kejahatan perang yang nyata dan menyebut kondisi Gaza sebagai bentuk genosida yang sedang berlangsung.

Erika Guevara Rosas, Direktur Senior Riset, Advokasi, Kebijakan, dan Kampanye di Amnesty International menyampaikan, “Tingkat penderitaan manusia di Gaza selama 19 bulan terakhir tidak terbayangkan, dan ini merupakan konsekuensi langsung dari genosida Israel yang sedang berlangsung,” katanya.

“Selain jeda singkat selama gencatan senjata sementara, Israel tanpa henti dan tanpa ampun telah mengubah Gaza menjadi neraka kematian dan kehancuran,” imbuhnya.

Ia menjelaskan bahwa selama dua bulan terakhir, Israel telah sepenuhnya memutus pasokan bantuan kemanusiaan dan kebutuhan penting lainnya yang menyelamatkan nyawa, sebagai bagian dari upaya yang jelas dan terencana untuk menghukum secara kolektif lebih dari dua juta warga sipil Gaza.

“Ini adalah genosida yang sedang berlangsung,” tegas Rosas.

Amnesty International juga menyerukan kepada komunitas internasional, khususnya negara-negara yang menjadi sekutu Israel, untuk tidak lagi tinggal diam. Mereka mendesak tindakan konkret agar Israel segera mengakhiri pengepungan total di Gaza dan membuka akses penuh terhadap bantuan kemanusiaan secara aman dan tanpa hambatan.

“Gencatan senjata yang berkelanjutan sangat penting untuk memastikan bantuan bisa masuk dan didistribusikan dengan selamat ke seluruh wilayah Gaza,” pungkas Rosas.

Kontributor: Bahry

Layakkah Lagu Viral Menjadi Media Literasi Anak Sekolah Dasar

Belakangan ini beredar video sekelompok anak SD belajar literasi menggunakan lagu yang sedang viral di media sosial berjudul “Aku dah Lupa.” Video tersebut diunggah di akun instagram @abouthetic pada tanggal 20 April 2025 dan telah ditonton lebih dari 7 juta kali,video tersebut mengundang pro dan kontra masyarakat lantaran lagu yang digunakan tidak cocok digunakan sebagai media pembelajaran.

Di era digital saat ini, anak anak semakin akrab dengan konten hiburan seperti lagu ataupun video pendek, dalam hal ini, penggunaan lagu sebagai media pembelajaran bisa menjadi strategi yang efektif, pembelajaran melalui metode lagu mempunyai manfaat yang baik bagi siswa karena meningkatkan kecerdasan dan menurunkan kecemasan siswa.

Siswa harus dapat mendengarkan, merasakan, memahami, mengamati, dan menyerap proses belajar, sehingga siswa menerima informasi sebagai kesatuan hasil belajar.

Media bernyanyi merupakan media yang cukup baik untuk meningkatkan hasil belajar siswa, media lagu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran dan penggunaan lagu juga dapat membuat suasana menjadi lebih menarik.

Namun, pemilihan lagu yang digunakan untuk media pembelajaran juga penting, tidak semua lagu viral cocok digunakan sebagai media pembelajaran, Beberapa lirik mengandung tema dewasa, bahasa tidak sopan, atau nilai-nilai yang tidak sesuai dengan karakter pendidikan anak usia sekolah dasar. hal ini justru dapat berdampak negatif terhadap perkembangan moral, dan etika anak.

Pendidikan tidak hanya soal menyampaikan materi akademik, tetapi juga membentuk karakter, jika media pembelajaran yang dipakai tidak mencerminkan nilai-nilai positif, maka dikhawatirkan anak akan meniru hal-hal yang kurang sesuai, selain itu paparan konten musik yang tidak sesuai usia dapat mempengaruhi perkembangan sosial dan emosi anak. Maka dari itu, penting bagi guru dan orang tua untuk memilih lagu pembelajaran yang tidak hanya menarik, tapi juga sesuai dengan nilai pendidikan anak.

Penulis :
Adel Aprilia
Mahasiswi Jurusan Akuntansi
Universitas Bangka Belitung

Kaderisasi Stagnan Tinggal Menunggu Waktu

SOLO (jurnalislam.com)– Ustaz Dwi Jatmiko, dai champions standardisasi Majelis Ulama Indonesia Pusat sekaligus anggota dari Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhamamdiyah Solo menyampaikan tausiah dalam agenda Silaturahmi dan turun ke bawah (Turba) MPKSDI Daerah ke MPKSDI Cabang.

Dalam kesempatan itu, Dwi Jatmiko menyampaikan terkait penyebab kaderisasi stagnan, maka umur perjalanan sebuah organisasi itu tinggal menunggu waktu.

“Hidup matinya sebuah organisasi sangat tergantung pada kaderisasi. Jika kaderisasi lancar, maka organisasi bisa ‘survive’,” katanya saat mengisi tausiah di Masjid Nurul Hidayah Komplek Pakym Kecamatan Laweyan, Jumat Malam (2/5/2025).

Dia mencontohkan seperti youtube, jam tayang utama ketika seorang pegang smartphone di rumah pukul 18.00-20.00 WIB, 11.00-13.00 WIB. “Kaderisasi sangat penting dan harus dilakukan secara terus-menerus agar organisasi tak kekurangan kader. Kaderisasi harus konsisten agar algoritmanya tidak tenggelam. Dari sinilah banyak tokoh bahkan pemimpin bangsa muncul atau pahlawan,” bebernya.

Ia menegaskan, Kaderisasi Muhammadiyah tidak hanya mencetak pengurus organisasi, tetapi harus melahirkan pemimpin yang memiliki visi, integritas, dan kesiapan untuk berkontribusi. Misal pentingnya keterlibatan anak muda dalam kepengurusan masjid, dengan membentuk direktur utama masjid, menambah indikator kemakmuran masjid, serta membuat program berbasis media sosial dan kegiatan khusus anak muda agar lebih tertarik untuk aktif di masjid.

“Membuka ruang refleksi bahwa kaderisasi bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan proses strategis untuk memastikan keberlanjutan gerakan dakwah Muhammadiyah,” tegasnya.

Ia menyitir firman Allah dalam al Quran surat Al-An’am 6: Ayat 125, “Maka, siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam,” ujarnya menyitir quran.

Sementara itu, Ketua MPKSDI PDM Solo Suyanto, menyampaikan program bahwa kaderisasi terus digalakkan dengan adanya perkuliahan Kemuhammadiyahan.

“Program Pendidikan Kemuhammadiyahan (PKMD) sebagai upaya strategis untuk mendukung kaderisasi Muhammadiyah dengan gelar D1 yang diikuti guru-guru dari berbagai tingkat lembaga pendidikan Muhammadiyah di Solo di pusatkan di Universitas Muhammadiyah PKU atau UMPKU Surakarta dengan rektor Weni Hastuti,” jelasnya dalam sambutan.

BRIN dan MER-C Satukan Sikap terkait Rencana Evakuasi Warga Palestina ke Indonesia

JAKARTA (jurnalislam.com)– Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menggelar talkshow terkait “Problematika Evakuasi Warga Gaza ke Indonesia”, pada Rabu (30/4/2025) di Jakarta.

Talkshow ini diadakan sebagai respons atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait rencana evakuasi 1.000 warga Gaza Palestina yang terluka ke Indonesia untuk mendapatkan pengobatan dan rehabilitasi sementara.

Dalam sambutannya, Ketua Presidium MER-C, dr. Hadiki Habib, menegaskan pentingnya membangun narasi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) untuk merespons situasi Gaza. Ia menyampaikan bahwa fakta dan data di lapangan harus menjadi dasar dalam menentukan sikap dan langkah, terutama dalam menghadapi upaya-upaya yang berpotensi memutarbalikkan informasi.

Menurutnya, ini merupakan langkah yang sangat penting untuk membangun evidence melalui talkshow yang nanti diikuti oleh sebuah policy brief.

Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Athiqah Nur Alami, dalam sambutannya menyatakan bahwa rencana Presiden Prabowo perlu diapresiasi sebagai bentuk nyata komitmen pemerintah Indonesia terhadap Palestina. Namun, ia juga menekankan perlunya diskusi untuk mengkaji kelayakan serta dampak kebijakan tersebut dari berbagai aspek.

Ia mengatakan, diskusi ini penting untuk menilai kesiapan Indonesia, juga mencakup tantangan sosial dan budaya, kesiapan regulasi, serta sikap masyarakat terhadap kehadiran warga Gaza.

Selain itu, pengalaman MER-C yang baru kembali dari Gaza diharapkan bisa memberikan pembaruan kondisi terkini di lapangan, serta respons terkait rencana evakuasi ini.

Kegiatan ini menghadirkan dialog interdisipliner antar para akademisi, pembuat kebijakan, praktisi kemanusiaan, dan masyarakat sipil. Harapannya, mereka dapat berkontribusi dengan memberikan pemahaman yang tepat dalam merespons kebijakan evakuasi warga Palestina ke Indonesia.

Adapaun narasumber yang hadir sebagai pembicara yaitu M. Hamdan Basyar, M.Si., Peneliti Bidang Timur Tengah, Pusat Riset Politik BRIN; Dr. dr. Hadiki Habib, SpPD., SpEM., Ketua Presidium MER-C; dan Prof. Dr. Tri Nuke Pudjiastuti, Peneliti Bidang Migrasi Paksa, Pusat Riset Politik BRIN.

Diskusi ini diharapkan akan menghasilkan potensi solusi dan peran aktif Indonesia dalam merespons kebijakan evakuasi warga Palestina ke Indonesia, sehingga dapat menentukan langkah terbaik dalam membantu warga Palestina ke depannya di tengah konflik yang terus memanas.

Hamas Lakukan Penyergapan Mematikan Terhadap Pasukan Israel di Rafah

RAFAH (jurnalislam.com)– Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mengklaim telah melancarkan penyergapan mematikan terhadap pasukan Israel di wilayah Tal as-Sultan, Rafah, Jalur Gaza selatan, beberapa hari lalu.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis hari ini Jum’at (2/5/2025), sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, menyebut penyergapan dilakukan secara “kompleks” di Jalan al-Tayaran, dengan memancing pasukan mekanis Israel masuk ke zona jebakan.

Empat kendaraan militer jenis Hummer dan satu truk disebut terkena ledakan alat peledak rakitan. Setelah ledakan terjadi, para pejuang Hamas dilaporkan maju dan menyerang dari jarak dekat, menewaskan serta melukai sejumlah tentara Israel.

Militer Israel sendiri belum merilis rincian korban akibat insiden tersebut. Namun, korban terbaru yang diumumkan adalah seorang komandan peleton berusia 21 tahun dari unit lapis baja, yang tewas di wilayah Gaza utara. Identitasnya dipublikasikan pada 26 April lalu. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

“Kami Sekarat dalam Diam”: Pasien Gagal Ginjal RS Al-Shifa Gaza Berjuang untuk Tetap Hidup

GAZA (jurnalislam.com)- Di sisa-sisa Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza, para pasien gagal ginjal kronis duduk diam di kursi plastik atau terbaring di atas tandu berkarat, menunggu giliran menggunakan mesin dialisis—yang belum tentu berfungsi.

Dialisis adalah satu-satunya harapan hidup bagi mereka yang ginjalnya tidak lagi bekerja. Tanpanya, racun akan menumpuk dalam tubuh dan menyebabkan gagal jantung, koma, hingga kematian. Namun, di Gaza yang porak-poranda akibat perang, layanan vital ini kini menjadi korban pengepungan Israel, membuat harapan hidup kian menipis.

“Saya datang ke sini karena saya ingin tetap hidup. Tapi terkadang saya berpikir, mungkin lebih mudah jika saya mati,” ujar Hind Awadallah, seorang ibu yang mengungsi dari Kamp Pengungsi Jabalia, kini tinggal di tenda di Gaza Tengah.

Sejak 2022, Awadallah menjalani dialisis setelah bertahun-tahun menderita hipertensi yang tak terdiagnosis. Sebelum perang, ia menerima empat sesi per minggu. Kini, ia hanya bisa mendapat satu atau dua sesi, dengan durasi perawatan dipangkas dari empat jam menjadi dua jam, memperburuk kondisinya.

“Mesin selalu mati saat listrik padam,” katanya. Meski demikian, Awadallah memuji dedikasi para perawat, meski sumber daya sangat terbatas.

Rumah Sakit yang Tak Lagi Layak

Al-Shifa, rumah sakit terbesar dan paling lengkap di Gaza, kini hanya menjadi bangunan kosong setelah berbulan-bulan dikepung dan diserang Israel. Laboratoriumnya tak lagi berfungsi, ruang operasinya gelap gulita.

Unit dialisis yang dulu mampu melayani ratusan pasien kini rusak. Mesin-mesin digunakan bersama oleh tiga pasien atau lebih, durasi sesi dipangkas, kebersihan terabaikan, bahkan air yang digunakan sering kali tak disaring dengan benar.

“Tidak ada lagi infrastruktur. Tidak ada listrik, air bersih, atau obat-obatan,” kata Dr. Ghazia-Yazji, Kepala Departemen Nefrologi RS Al-Shifa.

“Kami berusaha sekuat tenaga menyelamatkan pasien. Tapi sering kali, kami hanya menyaksikan mereka meninggal. Kami tidak berdaya,” ujarnya.

Sameh Nijim, pasien lainnya, menyebut Al-Shifa tak ubahnya “ruang tunggu bagi mereka yang sekarat.”

Nour Siam, bocah sembilan tahun dengan kelainan ginjal bawaan, kini menjalani hidup dalam penderitaan. Ayahnya, Ahmed Siam, membawa Nour ke RS Al-Shifa setiap minggu. “Dia seharusnya bersekolah, bukan berada di sini. Dia tak bisa berjalan sendiri selama berminggu-minggu,” katanya.

Angka Kematian Meningkat Tajam

Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, sejak perang dimulai, lebih dari 400 pasien ginjal telah meninggal dunia, mayoritas akibat gangguan perawatan, air terkontaminasi, dan runtuhnya layanan medis. Banyak yang meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit atau di tempat penampungan yang penuh sesak.

“Krisis kesehatan di Gaza sudah mencapai tingkat bencana,” ujar Munir al-Batish, Direktur Kementerian Kesehatan Gaza. “Sistem kesehatan hancur, rumah sakit kewalahan, dan penargetan fasilitas medis oleh Israel membuat kami tak mampu menanggapi jumlah korban yang terus bertambah.”

Serangan Sistematis terhadap Infrastruktur Sipil

Mustafa Ibrahim, analis politik Gaza, menyebut penghancuran rumah sakit sebagai bagian dari strategi Israel yang disengaja. “Al-Shifa adalah simbol ketahanan Gaza. Penghancurannya merupakan pesan bahwa Gaza tidak dimaksudkan untuk pulih.”

Menurutnya, para pasien ginjal adalah gambaran nyata dari masyarakat Gaza yang paling rentan. Tanpa akses terhadap dialisis, mereka tak punya harapan hidup.

Hingga kini, upaya internasional untuk mengirimkan bantuan medis masih belum mencukupi. Ribuan warga Gaza bergantung pada solidaritas global untuk mengakhiri pengepungan dan mencegah kehancuran lebih lanjut.

Selama pengepungan masih berlangsung dan sistem kesehatan tak pulih, pasien ginjal di Gaza akan terus sekarat dalam diam. (Bahry)

Kisah ini dilansir dari The New Arab tanggal 29 April 2025

Kerahkan Tentara Bantu Atasi Kebakaran Hebat, Menhan Israel: Ini Darurat Nasional

YERUSALEM (jurnalislam.com)– Pemerintah Israel menetapkan situasi darurat nasional setelah kebakaran hutan yang meluas mengancam wilayah dekat Yerusalem. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Rabu (30/4/2025) memerintahkan pengerahan pasukan militer untuk membantu petugas pemadam kebakaran yang tengah berjuang mengendalikan kobaran api.

“Kita menghadapi keadaan darurat nasional, dan semua pasukan yang tersedia harus dikerahkan untuk menyelamatkan nyawa dan mengendalikan kebakaran,” ujar Katz dalam pernyataan resminya.

Lembaga layanan darurat nasional Israel, Magen David Adom (MDA), melaporkan bahwa ratusan warga sipil saat ini berada dalam risiko akibat meluasnya kebakaran. Enam belas orang dilaporkan mengalami luka ringan akibat menghirup asap dan telah mendapatkan perawatan medis.

Sebagai langkah pengamanan, pihak kepolisian menutup jalan raya utama penghubung Yerusalem dan Tel Aviv. Evakuasi juga dilakukan terhadap penduduk yang tinggal di sepanjang jalur tersebut. Area yang terbakar diketahui merupakan lokasi yang sama dengan kebakaran hebat yang terjadi seminggu sebelumnya.

Pihak berwenang meningkatkan status siaga ke level tertinggi dan memperingatkan kemungkinan memburuknya kondisi akibat cuaca kering dan angin kencang. (Bahry)

Sumber: TNA