Luncurkan Operasi “Gideon’s Chariots”, Israel Tak Prioritaskan Pembebasan Sandera

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Perintah militer terbaru Israel yang dikeluarkan pada Selasa (6/5/2025) menunjukkan bahwa pembebasan tawanan Israel yang ditahan oleh Hamas di Gaza bukan menjadi prioritas utama, bahkan ditempatkan sebagai yang paling tidak penting. Hal ini diungkapkan oleh surat kabar Israel Haaretz.

Instruksi tersebut menjadi bagian dari peluncuran operasi militer baru Israel di Gaza yang diberi nama Kereta Perang Gideon (Gideon’s Chariots). Dalam dokumen tersebut, militer Israel menggunakan istilah “tawanan” alih-alih “sandera” yang selama ini banyak dipakai dalam retorika resmi.

Tujuan utama dari operasi tersebut, menurut perintah militer, mencakup: mengalahkan Hamas, menguasai wilayah Gaza secara operasional, melakukan demiliterisasi, menghancurkan infrastruktur pemerintahan Hamas, serta mengelola dan memobilisasi penduduk sipil. Sementara itu, “memastikan pembebasan tawanan” berada di posisi terakhir dalam daftar prioritas.

Otoritas militer Israel menyatakan bahwa operasi ini dirancang untuk memungkinkan pasukan Israel tetap berada di Jalur Gaza tanpa batas waktu. Rencana ini juga bertujuan untuk membatasi seluruh penduduk Gaza ke area kecil di wilayah selatan.

Media Israel melaporkan bahwa distribusi bantuan kemanusiaan ke Gaza akan dilakukan hanya sekali seminggu. Seorang juru bicara militer menyebutkan, “Setiap perwakilan keluarga Gaza akan menerima jumlah yang cukup bagi keluarganya untuk mencegah situasi kelaparan.”

Kebijakan tersebut menuai kekhawatiran luas dari komunitas internasional, yang menilai tindakan ini bisa mengarah pada praktik pembersihan etnis atau bahkan genosida terhadap warga Palestina.

Menteri Keuangan Israel yang berasal dari sayap ekstrem kanan, Bezalel Smotrich, memperkuat kekhawatiran tersebut dengan menyatakan bahwa Gaza akan “dihancurkan total.”

Diperkirakan hanya tersisa 21 tawanan Israel yang masih hidup di Gaza. Tiga di antaranya dilaporkan telah meninggal setelah Israel kembali melancarkan serangan ke wilayah tersebut, menyusul kegagalan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat pada bulan Maret lalu. (Bahry)

Sumber: TNA

Persediaan Bantuan Menipis, Dapur Umum World Central Kitchen Hentikan Operasi di Gaza

GAZA (jurnalislam.com) — Lembaga kemanusiaan asal Amerika Serikat, World Central Kitchen (WCK), secara resmi menghentikan seluruh aktivitas penyediaan makanan di Jalur Gaza karena kehabisan persediaan dan tidak diberi izin oleh Israel untuk mengirimkan bantuan.

“Setelah menyajikan lebih dari 130 juta makanan dan 26 juta roti selama 18 bulan terakhir, World Central Kitchen tidak lagi memiliki persediaan untuk memasak atau memanggang roti di Gaza,” tulis WCK dalam pernyataan resminya melalui platform X pada Rabu (7/5).

Keputusan ini diambil sebulan setelah tujuh relawan WCK tewas dalam serangan udara Israel terhadap konvoi bantuan mereka. Sejak saat itu, distribusi bantuan semakin terbatas akibat blokade ketat yang diterapkan Israel.

WCK mengatakan masih berupaya menyalurkan air minum bersih bagi warga Gaza, namun pendistribusian makanan pokok tidak bisa dilanjutkan hingga Israel kembali membuka akses bantuan.

“Truk-truk kami yang membawa makanan dan bahan bakar memasak telah tertahan di perbatasan Gaza sejak awal Maret. Bantuan tambahan dari Yordania dan Mesir juga masih menunggu izin masuk,” jelas WCK, lembaga yang didirikan oleh koki ternama Jose Andres.

Israel mendapat tekanan internasional yang meningkat agar mencabut blokade bantuan yang diberlakukan sejak Maret, usai kegagalan gencatan senjata yang sebelumnya sempat menghentikan pertempuran selama dua bulan.

Pemerintah Israel menuding beberapa lembaga, termasuk PBB, membiarkan bantuan jatuh ke tangan Hamas. Tuduhan ini dibantah oleh Hamas, yang menuduh Israel secara sengaja menggunakan kelaparan sebagai senjata perang.

Sementara itu, situasi di Gaza semakin memburuk. Aksi penjarahan terhadap dapur umum, toko warga, hingga gudang PBB dilaporkan meningkat. Aparat keamanan Hamas pun melakukan tindakan tegas terhadap geng-geng kriminal. Sedikitnya enam anggota geng dieksekusi pekan lalu, menurut sumber yang dekat dengan kelompok tersebut.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebutkan lebih dari 2 juta penduduk Gaza kini menghadapi krisis kelaparan ekstrem — dari total populasi sekitar 2,3 juta jiwa. (Bahry)

Sumber: TNA

Presiden Suriah: Israel Harus Hentikan Serangan dan Campur Tangan

PARIS (jurnalislam.com)– Presiden sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa, mengonfirmasi bahwa pemerintahannya tengah melakukan perundingan tidak langsung dengan Israel melalui pihak ketiga, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

Pernyataan ini disampaikan al-Sharaa saat melakukan kunjungan bersejarah ke Paris, Rabu (7/5/2025). Kunjungan tersebut merupakan perjalanan pertamanya ke Eropa sejak menggantikan Bashar al-Assad melalui serangan oposisi bersenjata yang berhasil menggulingkan rezim lama pada Desember lalu.

“Ada pembicaraan tidak langsung dengan Israel melalui mediator untuk menenangkan dan berupaya mengatasi situasi sehingga tidak mencapai tingkat yang membuat kedua belah pihak kehilangan kendali,” ujar al-Sharaa dalam konferensi pers di Paris. Ia juga menuding Israel sebagai pihak yang memicu konflik dengan serangan udara yang ia sebut sebagai “intervensi acak”.

Pernyataan ini muncul setelah serangan udara Israel menghantam wilayah dekat istana presiden di Damaskus pada Jumat pekan lalu, hanya berjarak sekitar 500 meter. Israel menyatakan serangan itu merupakan respons terhadap ancaman terhadap komunitas minoritas Druze.

Al-Sharaa menambahkan bahwa Damaskus kini sedang menjalin komunikasi dengan negara-negara yang memiliki hubungan dengan Israel untuk menekan Tel Aviv agar menghentikan serangan udara terhadap infrastruktur Suriah.

Kunjungan al-Sharaa ke Prancis sendiri memerlukan pengecualian khusus dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengingat dirinya masih tercatat dalam daftar sanksi internasional atas peran masa lalunya sebagai pemimpin kelompok bersenjata Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang sebelumnya berafiliasi dengan al-Qaeda. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Serangan Udara Israel Lumpuhkan Bandara Sanaa, Yaman Rugi Rp8 Triliun

SANAA (jurnalislam.com)– Serangan udara Israel menghantam Bandara Internasional Sanaa pada Selasa (6/5/2025), menyebabkan seluruh aktivitas penerbangan dihentikan tanpa batas waktu dan menimbulkan kerugian sekitar USD 500 juta atau setara Rp8 triliun. Hal ini disampaikan oleh Otoritas Penerbangan Sipil Yaman pada Rabu (6/5/2025).

Direktur Jenderal Bandara Sanaa, Khaled Al-Shaif, mengatakan kepada saluran televisi Al-Masirah bahwa serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur bandara.

“Karena agresi Zionis di Bandara Internasional Sanaa dan kerusakan besar yang ditimbulkan, seluruh penerbangan dari dan ke bandara ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut,” ungkapnya.

Penilaian awal menunjukkan bahwa bangunan terminal, peralatan penting, dan fasilitas katering rusak parah. Enam pesawat terkena dampak, termasuk tiga unit milik Yemenia Airways, yang kini hanya memiliki satu pesawat aktif yang berada di Amman, Yordania. Pesawat-pesawat tersebut sebelumnya digunakan untuk evakuasi pasien yang membutuhkan perawatan medis di luar negeri.

Selain bandara, serangan udara juga menargetkan pembangkit listrik utama di ibu kota dan wilayah sekitarnya, serta pabrik semen di Provinsi Amran.

Militer Israel mengonfirmasi serangan tersebut sebagai balasan atas tembakan rudal kelompok Houthi ke Bandara Internasional Ben Gurion, Tel Aviv, pada awal pekan ini. Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, menyatakan bahwa serangan itu berhasil membuat Bandara Sanaa tidak lagi beroperasi.

Kerusakan ini semakin memperparah kondisi sektor penerbangan sipil Yaman yang telah menurun tajam akibat konflik berkepanjangan. Dari 14 bandara yang beroperasi sebelum perang, hanya sebagian kecil yang masih berfungsi. Jumlah penumpang menurun drastis dari 2,7 juta pada 2014 menjadi hanya 653.000 pada akhir 2022.

Sebelumnya, Bandara Sanaa sempat dibuka kembali secara terbatas melalui gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2022, memungkinkan penerbangan mingguan ke Amman. Namun, perluasan rute penerbangan terhambat oleh berbagai kendala politik dan logistik.

Kini, Yemenia Airways kembali menghentikan seluruh penerbangannya dari dan ke Sanaa, menghapus capaian kecil yang sempat diraih pasca pembukaan bandara.

Krisis Bahan Bakar Melumpuhkan Kehidupan di Yaman

Di sisi lain, wilayah Yaman yang dikuasai Houthi menghadapi krisis bahan bakar parah setelah serangan udara AS menghantam terminal minyak Ras Issa di Yaman barat pada 17 dan 25 April lalu. Serangan itu menghancurkan semua fasilitas pemuatan dan jaringan pipa bahan bakar, serta merusak kapal tanker Seven Pearls dan melukai tiga awak kapal berkewarganegaraan Rusia.

Perusahaan Minyak Yaman yang dikelola Houthi menyatakan telah menerapkan rencana darurat untuk mengatur pasokan bahan bakar yang semakin menipis. Kondisi ini telah melumpuhkan aktivitas masyarakat di Sanaa dan kota-kota lain, dengan jalanan yang kosong dari kendaraan dan kekhawatiran publik terhadap potensi kelangkaan bahan bakar seperti yang terjadi enam tahun lalu. (Bahry)

Sumber: TNA

India vs Pakistan: Rudal, Jet Tempur, dan Hujan Peluru di Garis Depan

ISLAMABAD (jurnalislam.com)— Ketegangan antara India dan Pakistan kembali memanas setelah kedua negara bersenjata nuklir itu terlibat baku tembak artileri berat di sepanjang perbatasan Kashmir yang disengketakan pada Rabu (7/5). Insiden ini terjadi setelah New Delhi meluncurkan serangan rudal mematikan ke wilayah yang dikuasai Pakistan, sebagai respons atas serangan terhadap wisatawan di Kashmir dua pekan lalu.

Setidaknya 38 orang dilaporkan tewas dalam bentrokan tersebut. Pihak Pakistan menyatakan 26 warga sipil, termasuk empat anak-anak, menjadi korban jiwa akibat serangan dan tembakan dari pihak India. Sementara India menyebut sedikitnya 12 orang tewas akibat penembakan yang dilakukan pasukan Pakistan.

Kekerasan ini merupakan yang terburuk sejak konflik serupa pada 2019, ketika India melancarkan serangan udara terhadap “kamp militan” di Pakistan setelah serangan bom bunuh diri menewaskan 40 pasukan keamanan India di Kashmir.

Tentara India menyatakan bahwa “keadilan telah ditegakkan”, dengan mengklaim telah menghancurkan sembilan kamp teroris di wilayah Pakistan. Pemerintah India menegaskan bahwa serangan tersebut dilakukan secara “terfokus, terukur, dan tidak bertujuan untuk memperbesar konflik”.

Namun, Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, menuduh Perdana Menteri India, Narendra Modi, menggunakan serangan ini untuk mendongkrak popularitas politik di dalam negeri menjelang pemilu.

“Balasan sudah dimulai. Kami tidak akan butuh waktu lama untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar Asif kepada AFP.

Juru bicara militer Pakistan, Mayjen Ahmed Sharif Chaudhry, menyatakan bahwa lima jet tempur India berhasil dijatuhkan. Sementara sumber keamanan India mengakui bahwa tiga pesawat mereka jatuh di wilayah dalam negeri.

Di Muzaffarabad, ibu kota Kashmir yang dikuasai Pakistan, suasana mencekam menyelimuti kota. Warga melaporkan adanya suara ledakan keras di malam hari.

“Kami ketakutan dan pindah ke tempat yang lebih aman. Sekarang kami kehilangan rumah,” ungkap Tariq Mir (24), korban luka yang terkena pecahan peluru.

Sementara itu, di kota Poonch, wilayah Kashmir yang dikuasai India, seorang warga bernama Farooq menggambarkan kondisi saat terjadi serangan.

“Kami terbangun karena suara tembakan. Saya melihat hujan peluru,” katanya dari ranjang rumah sakit dengan kepala dibalut perban.

Menurut pejabat lokal Azhar Majid, sedikitnya 12 orang tewas dan 29 lainnya terluka di Poonch akibat serangan tersebut.

India diperkirakan membalas secara militer atas serangan pada 22 April lalu di Pahalgam, kawasan wisata di Kashmir, yang menewaskan 26 wisatawan Hindu. New Delhi menyalahkan kelompok militan Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan atas serangan itu dan menuding Islamabad berada di balik aksi teror tersebut.

Pakistan membantah tuduhan itu dan menyerukan investigasi independen. Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyebut serangan India sebagai “tindakan agresi keji” yang menurutnya “tidak akan dibiarkan tanpa hukuman”.

Sejak 24 April, kedua negara disebut telah terlibat baku tembak hampir setiap malam di sepanjang Garis Kontrol (LoC). Pakistan juga mengklaim telah melakukan dua uji coba rudal dalam beberapa hari terakhir. (Bahry)

Sumber: TNA

Trump Umumkan AS Hentikan Pemboman di Yaman, Houthi Sepakat Akhiri Serangan

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa negaranya akan segera menghentikan pemboman di Yaman, menyusul kesepakatan dengan kelompok Houthi yang menyatakan keinginan mereka untuk mengakhiri perang. Pengumuman ini disampaikan Trump secara mengejutkan di Gedung Putih pada Selasa (6/5/2025), dan disambut dengan keterkejutan oleh banyak pejabat AS.

“Kelompok Houthi memberi tahu kami tadi malam bahwa mereka tidak ingin berperang lagi. Mereka hanya ingin kedamaian,” ujar Trump.

“Kami akan menghormati itu. Kami akan menghentikan pemboman.” imbuhnya.

Keputusan Trump ini diperkuat oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang menyebut bahwa Houthi telah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap kapal-kapal, termasuk kapal Amerika, di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab. Ia juga mengonfirmasi bahwa Oman telah memainkan peran sebagai mediator antara AS dan Houthi.

“Ke depan, tidak ada pihak yang akan menyerang pihak lain. Kebebasan navigasi dan kelancaran arus pengiriman global akan dijaga,” tulis Busaidi melalui akun resminya di platform X.

Namun, pengumuman tersebut dilaporkan mengejutkan para diplomat dan pejabat pertahanan AS yang bertugas menangani konflik di Yaman. Tiga pejabat yang berbicara kepada Middle East Eye menyatakan bahwa mereka tidak menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai keputusan itu.

Dalam pengumuman tersebut, Trump juga terlihat memberitahu Menteri Luar Negeri sekaligus Penasihat Keamanan Nasional AS, Marco Rubio, secara langsung.

“Marco, kamu akan beri tahu semua orang. Ini pengumuman besar,” kata Trump dari Ruang Oval.

Meskipun tidak menyebutkan Israel, pengumuman ini datang beberapa hari setelah serangan rudal balistik Houthi menghantam area parkir dekat Terminal 3 Bandara Ben Gurion, Tel Aviv. Serangan tersebut memicu kekhawatiran di Israel, yang saat ini terlibat konflik sengit dengan Hamas di Jalur Gaza.

Serangan kelompok Houthi di Laut Merah sebelumnya ditujukan kepada kapal-kapal yang memiliki kaitan dengan Israel, dan kemudian meluas ke kapal-kapal Barat secara umum.

Diketahui, Houthi didukung oleh Iran, namun laporan terbaru menyebut bahwa Rusia juga telah mengirim penasihat militer untuk membantu mereka dalam peningkatan kemampuan serangan. China dilaporkan ikut memberikan dukungan intelijen kepada kelompok tersebut.

Trump menutup pernyataannya dengan mengatakan, “Mereka (Houthi) sudah berjanji akan berhenti meledakkan kapal. Saya percaya pada kata-kata mereka.” (Bahry)

Sumber: MEE

Hamas Kecam Keputusan Kabinet Israel Perluas Operasi Militer di Gaza, Sebut Netanyahu Korbankan Tahanan Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengecam keras keputusan kabinet Israel yang menyetujui perluasan operasi militer darat di Jalur Gaza. Hamas menilai langkah ini merupakan keputusan terang-terangan untuk mengorbankan para tahanan Israel yang masih berada di wilayah Gaza dan merupakan pengulangan dari siklus kegagalan yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun terakhir.

Dalam pernyataan resminya melalui saluran Telegram pada Selasa (6/5/2025), Hamas menyebut Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai “teroris” yang saat ini menjadi buron Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Mereka juga menuduh Netanyahu terus mendorong terjadinya kejahatan perang terhadap warga sipil Palestina di Gaza, dengan dukungan penuh dari pemerintah Amerika Serikat.

“Rakyat kami dan para pejuang perlawanan yang teguh tidak akan mundur di hadapan ancaman atau rencana agresi. Kami adalah pemilik sah tanah ini dan akan tetap bertahan meski agresi pendudukan terus berlangsung,” demikian pernyataan Hamas.

Lebih lanjut, Hamas menyerukan kepada negara-negara Arab dan Islam, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan masyarakat internasional untuk mengambil langkah nyata dalam menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh pemerintahan Israel. Mereka juga meminta agar para pemimpin Israel diadili di pengadilan internasional atas kejahatan yang telah dilakukan terhadap rakyat Palestina.

Di akhir pernyataan, Hamas menyerukan solidaritas dari masyarakat Arab, umat Islam, dan seluruh pendukung keadilan di dunia untuk mengintensifkan tekanan rakyat demi menghentikan agresi di Jalur Gaza dan mendukung hak rakyat Palestina atas kebebasan, kemerdekaan, serta penentuan nasib sendiri. (Bahry)

Zionis Israel Bombardir Pelabuhan Hodeidah Yaman Usai Serangan Houthi di Bandara Tel Aviv

KAIRO (jurnalislam.com)– Militer Israel mengklaim telah melancarkan serangan udara ke Pelabuhan Hodeidah di Yaman pada Senin (5/5/2025), sebagai balasan atas serangan rudal yang diluncurkan kelompok Houthi sehari sebelumnya dan menghantam dekat Bandara Internasional Ben Gurion, Israel.

Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut serangan tersebut menargetkan apa yang mereka sebut sebagai “target teroris” milik Houthi di Hodeidah dan sekitarnya.

Menurut kantor berita Saba yang dikelola oleh Houthi, sedikitnya satu orang tewas dan 35 orang lainnya luka-luka akibat serangan tersebut. Beberapa sumber menyebut Houthi menutup akses ke area sekitar pelabuhan dan pabrik semen setelah serangan terjadi.

Meski tingkat kerusakan secara keseluruhan belum diketahui secara pasti, laporan warga dan pekerja pelabuhan menyebut bahwa kebakaran besar dan ledakan menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas pelabuhan, termasuk dermaga dan gudang. Diperkirakan sekitar 70 persen dari lima dermaga, gudang, dan area bea cukai mengalami kerusakan. Saat serangan terjadi, dua kapal tengah membongkar muatannya, sehingga aktivitas pelabuhan lumpuh total.

Pelabuhan Hodeidah merupakan pelabuhan utama kedua di Laut Merah setelah Aden, dan menjadi titik masuk vital bagi sekitar 80 persen impor pangan ke Yaman.

Setidaknya 10 serangan dilaporkan menghantam kawasan pelabuhan Hodeidah serta lingkungan Al Salakhanah dan Al Hawak. Sementara empat serangan lainnya dilaporkan menyasar pabrik semen di wilayah timur kota tersebut.

“Serangan ini merupakan respons terhadap serangan berulang oleh rezim teroris Houthi terhadap Israel, di mana mereka meluncurkan rudal dan drone ke wilayah serta warga Israel,” kata militer Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya telah berjanji akan membalas serangan rudal Houthi yang berhasil lolos dari sistem pertahanan udara Israel pada Ahad (4/5), menjadikannya serangan pertama yang mencapai wilayah Israel dalam serangkaian serangan sejak Maret lalu.

Menanggapi serangan balasan Israel, pejabat Houthi Abdul Qader al-Mortada menulis di platform X bahwa Israel harus “menunggu hal yang tak terbayangkan”.

Houthi terus melakukan serangan terhadap Israel dan jalur pelayaran di Laut Merah, khususnya sejak meletusnya perang antara Israel dan Hamas di Gaza. Meskipun sempat ada penangguhan serangan saat gencatan senjata, Houthi kembali melanjutkan aksinya setelah gencatan berakhir.

Sementara itu, seorang pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa pasukan AS tidak terlibat langsung dalam serangan Israel ke Hodeidah, namun mengonfirmasi adanya koordinasi umum antara kedua negara.

Di sisi lain, sebuah perusahaan minyak yang dikelola Houthi mengumumkan pengoperasian sistem darurat untuk distribusi bahan bakar ke kendaraan, menyusul kesulitan pembongkaran muatan di pelabuhan minyak Ras Isa. Perusahaan itu mengaitkan kondisi tersebut dengan serangan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan di wilayah yang dikuasai Houthi. (Bahry)

Sumber: Reuters

Israel Kerahkan Puluhan Ribu Tentara Cadangan untuk Perluas Perang, Banyak yang Menolak Bertugas

GAZA (jurnalislam.com)- Militer Israel mengumumkan akan mengerahkan puluhan ribu tentara cadangan guna memperluas serangan ke Jalur Gaza. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, menyampaikan hal tersebut pada Ahad (5/5/2025), beberapa jam setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan akan melanjutkan agresi militer meski ada desakan damai dari masyarakat Israel terus menguat.

“Minggu ini kami mengirimkan puluhan ribu surat wajib militer kepada pasukan cadangan untuk meningkatkan tekanan terhadap Hamas, mengembalikan para tawanan, dan memperluas operasi militer kami di Gaza,” kata Zamir saat mengunjungi pangkalan angkatan laut Atlit di pantai utara Israel.

Zamir menegaskan, militer Israel akan bergerak di lebih banyak wilayah Gaza dan menghancurkan seluruh infrastruktur Hamas, baik di atas maupun bawah tanah.

Pernyataan ini disampaikan menjelang rapat kabinet keamanan yang dipimpin Netanyahu untuk membahas rencana eskalasi militer di Gaza. Sejak perang dimulai Oktober 2023, serangan Israel telah meluluhlantakkan wilayah Gaza, menyebabkan lebih dari 52.000 warga Palestina terbunuh dan membuat sebagian besar dari 2,3 juta penduduknya terusir dari tempat tinggal mereka.

Gerakan sipil di Israel sendiri semakin gencar mendesak diakhirinya perang dan menuntut pembebasan para tawanan melalui jalur diplomatik. Bahkan, banyak tentara cadangan menolak panggilan untuk kembali bertugas.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dalam wawancara radio militer menyatakan ingin melihat perang diperluas secara “keras” namun ia tidak merinci lebih lanjut. Ia bahkan menyerukan serangan terhadap sumber daya penting di Gaza seperti makanan dan listrik.

Israel berdalih perluasan operasi militer bertujuan menekan Hamas agar membebaskan 59 tawanan yang tersisa. Namun para pengamat menilai langkah tersebut justru membahayakan nyawa para tawanan dan menutup jalan damai. Sebelumnya, upaya pertukaran tawanan sempat terjadi dalam gencatan senjata singkat hingga 18 Maret, namun tidak membuahkan hasil lanjutan. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Kantor Media Gaza: Rumah Sakit di Gaza Terancam Lumpuh Total dalam 48 Jam

GAZA (jurnalislam.com)— Kantor Media Pemerintah di Gaza mengeluarkan peringatan serius bahwa seluruh rumah sakit di Jalur Gaza akan berada di ambang kehancuran dalam 48 jam ke depan jika pasokan bahan bakar tidak segera disalurkan.

Pihaknya menyalahkan Israel atas krisis ini, karena dianggap menghalangi akses Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional lainnya ke lokasi penyimpanan bahan bakar di wilayah Gaza.

“Kami memperingatkan dengan tegas tentang bencana yang akan segera terjadi yang mengancam nyawa ribuan orang sakit dan terluka di Jalur Gaza,” kata pernyataan dari Kantor Media Gaza, sebagaimana dilansir Al Jazeera pada Selasa (6/5/2025)

Koordinator Bantuan Darurat PBB sebelumnya juga menyampaikan bahwa upaya para pekerja kemanusiaan untuk mengambil bahan bakar kerap diblokir, terutama di area-area yang dikategorikan sebagai “terlarang” oleh militer Israel.

“Kami mengutuk dengan keras kejahatan sistematis pendudukan Israel di Gaza dengan terus mencegah distribusi bahan bakar ke rumah sakit,” lanjut pernyataan itu.

Kantor Media Gaza menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional dan Konvensi Jenewa, serta memperburuk krisis kesehatan yang sedang berlangsung di wilayah tersebut. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera