Satu Lagi Tahanan Palestina Tewas di Penjara Israel, Jumlah Korban Terus Bertambah

GAZA (jurnalislam.com)- Seorang tahanan Palestina kembali meninggal dunia dalam tahanan Israel, menambah panjang daftar kematian warga Palestina di penjara-penjara Zionis.

Hassan Issa al-Qasha’leh, warga kota Rahat di wilayah Negev, dilaporkan meninggal pada Kamis (1/1/2026) di dalam Penjara Beersheba, Israel selatan. Kabar tersebut disampaikan kantor berita resmi Palestina, WAFA.

Menurut laporan WAFA, al-Qasha’leh telah ditahan di penjara Israel selama lebih dari 13 bulan dan seharusnya dibebaskan dalam waktu enam bulan ke depan.

Sebelumnya, Layanan Penjara Israel mengonfirmasi kematian seorang tahanan Palestina yang ditahan dengan status penahanan administratif, namun enggan mengungkap identitas korban. Otoritas penjara Israel menyatakan telah membentuk tim investigasi khusus, seraya mengklaim bahwa penyebab kematian masih belum diketahui.

Kematian al-Qasha’leh terjadi di tengah meningkatnya laporan tentang kondisi penahanan yang memburuk secara drastis di fasilitas-fasilitas penjara Israel.

Organisasi-organisasi hak asasi manusia Palestina memperingatkan bahwa ribuan warga Palestina saat ini ditahan dalam kondisi yang tidak manusiawi. Mereka menyoroti adanya pelanggaran sistematis, termasuk penyiksaan, kelaparan, pengabaian medis, serta pelecehan fisik dan seksual terhadap para tahanan.

Kelompok-kelompok tersebut menegaskan bahwa praktik-praktik ini berkontribusi langsung terhadap meningkatnya angka kematian di kalangan tahanan Palestina.

Kantor Media Tahanan Palestina menyatakan bahwa kebijakan isolasi, penindasan, dan pengabaian yang disengaja oleh otoritas Israel terus berlangsung dan berdampak serius terhadap kesehatan fisik serta keselamatan para tahanan.

“Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas keselamatan para tahanan Palestina,” tegas kantor tersebut, seraya memperingatkan akan adanya konsekuensi serius jika kebijakan penahanan yang ada terus berlanjut. Mereka juga menyerukan intervensi hukum dan kemanusiaan yang mendesak untuk menghentikan pelanggaran yang terus terjadi di dalam penjara-penjara Israel.

Otoritas Palestina memperkirakan lebih dari 9.300 warga Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Israel, termasuk lebih dari 50 perempuan dan sekitar 350 anak-anak. Angka tersebut belum termasuk tahanan yang ditempatkan di kamp-kamp militer Israel.

Sejak Oktober 2023, kelompok-kelompok Palestina mencatat sedikitnya 100 tahanan Palestina telah meninggal dunia dalam tahanan Israel, sebuah angka yang mencerminkan krisis kemanusiaan yang semakin mengkhawatirkan. (Bahry)

Sumber: TRT

Setengah Juta Warga Turki Padati Jembatan Galata, Awali Tahun Baru dengan Aksi Akbar Bela Palestina

ISTANBUL (jurnalislam.com)- Sekitar 520.000 warga Turki memadati Jembatan Galata, Istanbul, pada Kamis pagi (1/1/2026) dalam aksi pawai akbar mendukung Palestina. Aksi besar-besaran yang digelar pada Hari Tahun Baru ini berlangsung di bawah naungan Aliansi Kemanusiaan dan Platform Kehendak Nasional.

Demonstrasi tersebut diikuti oleh lebih dari 400 organisasi masyarakat sipil dan dipimpin oleh Yayasan Pemuda Turki (TUGVA) dengan mengusung slogan: “Kami tidak akan gentar, kami tidak akan diam, kami tidak akan melupakan Palestina.”

Dalam aksi ini, para peserta secara lantang menyerukan diakhirinya genosida yang terus berlangsung di Gaza.

Sejak sebelum subuh, warga Istanbul telah berkumpul di berbagai masjid besar, di antaranya Masjid Agung Ayasofya, Sultanahmet, Fatih, Süleymaniye, dan Masjid Yeni di Eminönü. Usai menunaikan salat subuh berjamaah, massa berkumpul di halaman masjid sambil membawa bendera Turki dan Palestina sebagai simbol solidaritas terhadap rakyat Palestina.

Meski suhu udara sangat dingin, antusiasme peserta tidak surut. Aparat keamanan menerapkan pengamanan ketat, khususnya di kawasan Lapangan Sultanahmet. Panitia juga menyediakan minuman hangat bagi para peserta aksi.

Setelah salat subuh, massa berjalan kaki menuju Jembatan Galata, diikuti oleh sejumlah menteri, pejabat tinggi negara, serta tokoh-tokoh yang tercantum dalam protokol kenegaraan resmi. Acara puncak dimulai sekitar pukul 08.30 waktu setempat.

Sebuah spanduk raksasa bergambar Hanzala tokoh ikonik ciptaan mendiang kartunis Palestina Naji al-Ali yang melambangkan perlawanan dan penderitaan rakyat Palestina terpasang di gedung belakang panggung utama media.

Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan sejumlah seniman dan musisi ternama, di antaranya Maher Zain (penyanyi Lebanon-Swedia), Esat Kabaklı, serta grup musik Grup Yürüyüş.

“𝗞𝗮𝗺𝗶 𝗠𝗲𝗺𝘂𝗹𝗮𝗶 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗕𝗮𝗿𝘂 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗼𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗣𝗮𝗹𝗲𝘀𝘁𝗶𝗻𝗮”

Dalam keterangannya kepada media, Bilal Erdoğan, Ketua Dewan Pengawas Yayasan İlim Yayma sekaligus anggota Dewan Penasihat Tinggi TUGVA, menyatakan bahwa tahun baru ini diawali dengan doa untuk Palestina, sebuah momen yang menurutnya sarat dengan makna spiritual.

Ia menekankan pentingnya berkumpul di masjid pada pagi pertama tahun baru sebagai simbol persatuan dan kekuatan moral umat.

“Di satu sisi, kita berdoa untuk saudara-saudari kita yang tertindas di Palestina. Di sisi lain, kita memperingati para syuhada kita. Pada saat yang sama, kita memohon agar tahun 2026 membawa kebaikan bagi bangsa kita dan bagi rakyat Palestina,” ujar Erdoğan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta aksi.

“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang hadir, yang mengangkat tangan untuk berdoa, dan yang mendukung perjuangan ini,” tambahnya.

Bilal Erdoğan menyoroti bahwa partisipasi dalam aksi tahunan ini terus meningkat dari tahun ke tahun, mencerminkan kuatnya nilai-nilai bersama di tengah masyarakat Turki.

“Setiap tahun, kami melihat partisipasi yang semakin besar. Ini menunjukkan betapa kuatnya landasan persatuan bangsa ini, dan hal itu membuat kami sangat bahagia,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, ia menyampaikan harapan besar untuk tahun yang baru.

“Insya Allah, semoga Allah menganugerahkan kebebasan kepada saudara-saudari kita di Palestina, membebaskan Yerusalem, dan menjadikan sikap bangsa ini sebagai sumber kebanggaan di tahun 2026,” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: TRT

Ratusan Warga Swedia Batalkan Perayaan Tahun Baru, Gelar Aksi Solidaritas untuk Gaza

SWEDIA (jurnalislam.com)- Ratusan warga Swedia membatalkan perayaan Tahun Baru dan menggelar aksi unjuk rasa di ibu kota Stockholm sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Gaza yang terus menjadi korban agresi Israel.

Meski suhu udara sangat dingin, para demonstran berkumpul di Lapangan Sergels Torg pada Rabu (31/12), menindaklanjuti seruan dari berbagai organisasi masyarakat sipil. Mereka memilih untuk berduka atas anak-anak dan warga sipil Palestina yang terbunuh, alih-alih merayakan pergantian tahun.

Para peserta aksi membawa spanduk bertuliskan, “𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘢𝘻𝘢,” “𝘚𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘪𝘣𝘰𝘮,” “𝘗𝘢𝘵𝘶𝘩𝘪 𝘨𝘦𝘯𝘤𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨,” 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 “𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳𝘢𝘯.” Massa menuntut dihentikannya apa yang mereka sebut sebagai genosida Israel di Gaza, sekaligus mendesak pemerintah Swedia agar menghentikan penjualan senjata ke Israel.

Dalam pernyataan resmi yang dibacakan atas nama penyelenggara aksi, para demonstran menyampaikan penolakan terhadap kekerasan dan kebisuan dunia internasional.

“Di tahun baru ini, kami menolak kematian massal, pengepungan di Palestina, dan sikap diam terhadap kejahatan-kejahatan ini. Kami menolak memulai tahun baru dengan menutup mata terhadap ketidakadilan,” demikian pernyataan tersebut.

Pernyataan itu juga menegaskan bahwa Israel dinilai tidak mematuhi komitmen perdamaian dan perjanjian gencatan senjata dengan Palestina.

“Saat dunia memasuki tahun baru, genosida di Palestina terus berlangsung. Meskipun gencatan senjata telah disepakati, warga Palestina masih dibunuh, pengepungan tetap berlanjut, dan banyak orang membeku hingga meninggal karena dibiarkan hidup tanpa perlindungan di tenda-tenda,” lanjut pernyataan itu.

Sambil mengibarkan bendera Palestina dan membawa obor, para demonstran kemudian melakukan long march menuju Gedung Parlemen Swedia.

Warga Palestina menuduh Israel berulang kali melanggar perjanjian gencatan senjata yang menghentikan perang selama dua tahun. Perang tersebut telah menewaskan lebih dari 71.000 orang sebagian besar perempuan dan anak-anak serta melukai lebih dari 171.000 lainnya sejak Oktober 2023.

Sejak kesepakatan gencatan senjata yang diberlakukan pada 10 Oktober lalu, sedikitnya 414 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 1.100 lainnya terluka, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza. (Bahry)

Sumber: TRT

Bencana Belum Usai, Kepada Siapa Rakyat Berharap

Oleh : Herliana Tri M

Bencana alam yang terjadi di Sumatera dan Aceh pada akhir bulan November lalu belumlah usai. Masyarakat masih harus berjuang keluar dari masalah ini, yang tak tahu kapan berakhirnya dan dapat hidup normal seperti sebelumnya. Sampai detik ini, mereka masih berjuang menyelamatkan diri dari tempat yang terisolir lokasinya, melewati jalan terjal berbahaya akibat rusaknya sarana dan prasarana imbas banjir bandang yang menerjang untuk dapat bertahan hidup dan mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.

BNPB mencatat jumlah korban tewas akibat bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan korban jiwa 1.135 orang. Selain korban meninggal, sebanyak 173 orang dilaporkan masih hilang, sementara 489,6 ribu warga lainnya masih mengungsi.

Berdasarkan data dari situs resmi BNPB Jumat, 26/12/2025 korban bencana berasal dari 52 kabupaten/kota di tiga provinsi terdampak. Selain korban jiwa, BNPB juga mencatat kerusakan pada 157.838 rumah warga. Sebanyak 77.397 rumah mengalami kerusakan ringan (detik.com, 26/12/2025)

Lambannya penanganan bencana yang dirasakan masyarakat terdampak, minimnya alokasi anggaran, karena masih mengandalkan anggaran daerah yang terbatas, menjadikan banyak masyarakat yang bersuara agar anggaran MBG (Makan Bergizi Gratis) dialihkan untuk penanganan bencana.

Secara logika suara- suara di media sosial ini patut mendapatkan perhatian pemerintah, apalagj anak sekolah juga sedang libur panjang di akhir tahun ini. Pun kalaupun anak sekolah sudah masuk, mengalihkan pendanaan MBG untuk mempercepat penanganan musibah lebih prioritas dan masuk akal, dalam rangka menyelamatkan nyawa dan membantu masyarakat keluar dari bencana.

Apalagi secara hitungan kebutuhan MGB per harinya sangatlah besar. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menuturkan bahwa pihaknya akan menggelontorkan dana Rp 1,2 triliun per hari untuk menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026.

“Badan Gizi Nasional akan mengelola anggaran Rp 335 triliun untuk menjangkau seluruh penerima manfaat di seluruh Indonesia sehingga tahun depan insyaallah Badan Gizi Nasional akan menggelontorkan uang Rp 1,2 triliun per hari (kompas.com, 19/11/2025).

Artinya anggaran dana MBG yang jumlahnya lebih dari 1 triliun per hari kalau dialihkan untuk membantu korban bencana akan mempercepat solusi teratasinya musibah tersebut. Namun, opini pengalihan dana MBG untuk mengatasi bencana Sumatera dan Aceh belum mendapatkan perhatian dan fokus pemerintah.

Penerapan Islam kafah, Tumpuan Harapan Rakyat

Islam hadir untuk memberikan kemaslahatan bagi penduduknya. Aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala hadir untuk memberikan rahmat, karena berasal dari pencipta manusia. Aturan yang Allah hadirkan untuk mencegah terjadinya kerusakan sampai memberikan solusi saat musibah datang.

Dalam rangka mengatur, preventif terjadinya bencana, negara dengan penerapan aturan Islam akan membuat kebijakan tentang master plan, yang di dalamnya ditetapkan kebijakan sebagai berikut:

pertama, Apabila warga masyarakat akan membuka pemukiman atau kawasan baru untuk tempat tinggal, harus menyertakan variabel-variabel drainase, daerah serapan air, pemanfaatan tanah berdasarkan karakteristik tanah dan topografinya. Dengan kebijakan ini, mampu mencegah kemungkinan terjadinya banjir.

Kedua, mengatur syarat-syarat tentang izin pembangunan bangunan. Jika seseorang hendak membangun sebuah bangunan, baik rumah, toko, dan lain-lain, maka ia harus memperhatikan syarat-syarat dimana kebijakan tersebut tidak untuk menyulitkan rakyat yang hendak membangun sebuah bangunan. Bahkan negara akan menyederhanakan birokrasi, dan menggratiskan surat izin pendirian bangunan bagi warganya. Hanya saja, ketika pendirian bangunan di lahan pribadi atau lahan umum, diduga bisa mengantarkan bahaya, maka negara akan mencegah pendirian bangunan tersebut. Bahkan negara akan memberi sanksi bagi siapa saja yang melanggar kebijakan tersebut tanpa pandang bulu.

Ketiga, Indonesia sebagai negara kepulauan, banyak terdapat gunung berapi yang masih aktif, secara alami memang akan mengalami banyak bencana, sehingga negara yang memperhatikan rakyatnya sudah mengantisipasi saat musibah datang. Negara membentuk badan khusus yang menangani berbagai bencana alam yang dilengkapi dengan peralatan-peralatan berat, evakuasi, pengobatan, dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menanggulangi bencana.

Selain dilengkapi peralatan canggih, petugas lapangan juga dilengkapi pengetahuan yang cukup tentang SAR (search dan rescue), serta ketrampilan yang dibutuhkan untuk penanganan korban bencana alam. Mereka diharuskan siap sedia setiap saat, dan bergerak cepat ketika ada bencana atau musibah. Apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini, alarm bencana yang berbunyi membuat petugas sigap untuk evakuasi warga sebelum bencana terjadi dan mengurangi peluang korban berjatuhan.

Keempat, menetapkan daerah-daerah tertentu sebagai cagar alam yang harus dilindungi. Juga menetapkan kawasan hutan lindung, dan kawasan buffer yang tidak boleh dimanfaatkan kecuali dengan izin. Termasuk memberi sanksi berat bagi yang merusak lingkungan hidup.

Kelima, menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, serta kewajiban memelihara lingkungan dari kerusakan. Hal tersebut sesuai ketetapan syariat mengenai dorongan berlaku hidup bersih dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Negara pun mendorong kaum Muslim menghidupkan tanah-tanah mati atau lahan kurang produktif, sehingga bisa menjadi buffer lingkungan yang kokoh.

Apabila aturan tentang preventif sudah dilakukan dan bencana tetap terjadi, negara akan menangani korban bencana alam dengan bertindak cepat dengan melibatkan seluruh warga yang dekat dengan lokasi bencana. Sekaligus menggerakkan tim yang memang sudah disiapkan khusus untuk penanganan bencana.

Negara juga akan menyediakan tenda, makanan, pakaian, dan pengobatan yang layak, agar korban bencana alam tidak menderita wabah penyakit, kekurangan makanan atau terlantar. Selain itu, negara mengerahkan para alim ulama memberikan taushiyyah bagi korban agar mereka mengambil pelajaran dari musibah, sekaligus menguatkan keimanan mereka agar tetap tabah, sabar, dan tawakal sepenuhnya kepada Allah.

Demikianlah gambaran tanggung jawab negara saat Islam diterapkan. Negara menganggap bahwa amanahnya di muka bumi bukan hanya sebatas urusan dunia namun juga dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.

200 Orang Suku Tau Taa Wana Ikrarkan Syahadat di Pedalaman Gunung Tua

MOROWALI UTARA (jurnalislam.com)- Ratusan warga Suku Tau Taa Wana mengikrarkan dua kalimat syahadat di pedalaman Gunung Tua, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, Jumat (26/12/2025). Momentum bersejarah ini menjadi titik kehidupan baru bagi masyarakat adat yang selama ini hidup terpencil di perbukitan dan hutan Gunung Tua Tokala.

Prosesi sakral tersebut berlangsung Pukul 10.00 WITA di sebuah balai sederhana yang baru rampung dibangun beberapa hari sebelumnya. Dengan penuh khidmat, ikrar syahadat dituntun oleh Ustadz Sigit, Ketua Dewan Dakwah Morowali Utara, bersama Koh Dondy Tan, aktivis mualaf dan pakar kristologi, serta dibersamai Tim LAZNAS Dewan Dakwah yang turun langsung ke lokasi mengawal pensyahadatan akbar.

Ratusan warga Suku Tau Taa Wana, lelaki dan perempuan, anak-anak hingga orang tua, secara bersama-sama menyatakan keislaman mereka. Sebelumnya, mereka terlebih dahulu diberi busana muslim dan muslimah untuk bersyahadat.

Dua kalimat syahadat kemudian diucapkan dalam 3 bahasa: Arab, Indonesia, dan bahasa Ta’a (bahasa asli Tau Taa Wana).

“Kita akan mulai prosesi pengikraran dua kalimat syahadat, mohon telunjuk tangan kanannya menunjuk ke atas seperti ini, ” ucap Koh Dondy mulai memimpin prosesi sembari memperagakan dan menuntun pengikraran dalam bahasa Arab. Dilanjutkan oleh Ustadz Sigit dalam bahasa Indonesia, dan diakhiri oleh Kepala Suku Wana menuntun dalam bahasa Ta’a

“Aku mengento’o tare epu’e tayusa data manyomba engkita ojopu’e Allah. Reka monsonya aku mengento’o nabi Muhammad tamo empu’e Allah rekita sampuria.”

Ratusan orang yang bersyahadat merupakan masyarakat Tau Ta’a asli Gunung Tua dan dusun-dusun sekitarnya yang menganut animisme dan hidup nomaden dengan berladang di perbukitan dan hutan-hutan Gunung Tua Tokala.

Beberapa hari menjelang pelaksanaan hingga H-1 prosesi, ratusan masyarakat Tau Ta’a telah berkumpul di Dusun Gunung Tua. Mereka datang dari berbagai dusun di wilayah sekitarnya untuk mengikuti prosesi syahadat massal.

Masih banyak dari mereka yang belum mampu berbahasa Indonesia dan masih dalam proses belajar serta pembinaan oleh dai-dai Dewan Dakwah yang mengabdi di Gunung Tua.

Momentum syahadat massal ini dilanjutkan dengan berbagai kegiatan pendampingan bagi masyarakat muallaf, meliputi khitanan massal, peresmian masjid, layanan kesehatan gratis, serta makan bersama sebagai ungkapan syukur dan penguatan ukhuwah.

Ikrar Syahadat Massal ini diselenggarakan oleh Dewan Dakwah Morowali Utara bersama LAZNAS Dewan Dakwah, dan merupakan perhelatan akbar ke sekian kalinya. Pada tahun 2020 lalu, sebanyak 300 orang Suku Tau Taa Wana juga mengikrarkan syahadat di Masjid Jami’ Al Furqon Desa Tanasumpu. Kecamatan Mamosalato, Morowali Utara.

Perhelatan ini turut mendapat dukungan dari sejumlah tokoh nasional, di antaranya Ustadz Abdul Somad, serta Koh Dondy Tan yang hadir langsung membersamai masyarakat Gunung Tua dalam momentum bersejarah tersebut.

Tidak hanya berhenti di pengislaman, Gunung Tua yang masih dalam tahap pembangunan akan terus dikembangkan. Pendirian masjid dan sekolah akan menjadi agenda selanjutnya untuk menghidupkan kampung baru itu.

Jumat terakhir di tahun 2025 tersebut menjadi momentum penting sekaligus penanda awal kehidupan baru di Gunung Tua. Proses pengislaman masyarakat pedalaman ini merupakan buah dari kerja dakwah panjang yang telah berlangsung sejak tahun 2004 silam. Sejak awal dakwah Ustadz Sigit di Morut, tidak sedikit kelompok-kelompok Tau Taa Wana yang mendatanginya dengan keinginan untuk memeluk Islam.

Ratusan masyarakat pedalaman yang kini telah berIslam menetap untuk dibina secara berkelanjutan di kampung-kampung binaan yang di garap para dai pedalaman Dewan Dakwah. Lambentana, Ngoyo, dan Uwemalingku, ketiganya merupakan kampung mualaf yang hingga saat ini masih terus dibina oleh para dai.

BREAKING NEWS: Hamas Konfirmasi Syahidnya Abu Ubaidah

GAZA (jurnalislam.com)- Sayap militer Hamas, Brigade Izz al-Din al-Qassam, pada Senin (29/12/2025) mengumumkan penunjukan juru bicara militer yang baru. Dalam pernyataan tersebut, Al-Qassam sekaligus mengonfirmasi bahwa Abu Ubaidah telah meninggal dunia akibat serangan militer Israel di Gaza City pada Agustus lalu.

Pengumuman disampaikan melalui pidato rekaman yang disiarkan sejumlah media Arab. Juru bicara baru Brigade al-Qassam menyampaikan ungkapan duka atas wafatnya Abu Ubaidah, yang disebut sebagai figur senior dan kepala kantor media sayap militer Hamas.

“Hari ini kami berduka atas Abu Ubaidah, yang nama aslinya Huthaifa Samir al-Kahlout, seorang pemimpin besar yang selama dua dekade menghadapi musuh-musuhnya,” ujar juru bicara tersebut dalam rekaman yang beredar.

Dalam pernyataan yang sama, ia juga menyampaikan bahwa Mohammed al-Sinwar, yang pernah menjabat sebagai komandan Brigade al-Qassam, dilaporkan tewas dalam operasi militer Israel pada Mei lalu. Selain itu, beberapa pejabat militer senior Hamas lainnya disebut telah meninggal dunia, termasuk Raed Saad yang dilaporkan tewas pada awal bulan ini.

Dalam wawancara yang pernah dimuat media pada 2005, Abu Ubaida menyatakan bahwa keluarganya merupakan pengungsi akibat peristiwa Nakba 1948 dan kemudian menetap di Gaza. Pada kesempatan tersebut, ia mengaku berusia awal 20-an, yang mengindikasikan tahun kelahiran pada pertengahan 1980-an.

Menurut laporan sejumlah media Timur Tengah, hanya kalangan sangat terbatas di internal Hamas yang mengetahui identitas asli Abu Obaida selama ia masih hidup. Nama samaran “Abu Ubaidah” disebut diambil dari Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, salah satu sahabat Nabi Muhammad yang dikenal dalam sejarah Islam.

Pernyataan Terakhir dan Peran Abu Ubaidah

Pernyataan publik terakhir Abu Ubaidah disampaikan pada awal September 2025, bertepatan dengan dimulainya tahap awal operasi militer Israel yang baru di Kota Gaza. Dalam pernyataan tersebut, ia menyebut wilayah tersebut telah berubah menjadi zona pertempuran, seiring hancurnya ratusan bangunan tempat tinggal dan terjadinya pengungsian massal warga Palestina.

Sejumlah media internasional mencatat bahwa Abu Ubaidah selama bertahun-tahun menjadi figur sentral dalam komunikasi Hamas di Gaza. Ia kerap menyampaikan pernyataan terkait perkembangan situasi keamanan, dinamika gencatan senjata, serta isu pertukaran tawanan antara Israel dan kelompok Palestina, terutama selama gencatan senjata singkat pada awal 2025 yang kemudian berakhir.

Abu Ubaidah pertama kali dikenal tahun 2002 sebagai bagian dari pejabat lapangan Al Qassam. Ia berbicara pada banyak media melalui konferensi pers, namun tidak pernah menampakkan wajahnya.

Kemudian dikenal luas pada tahun 2006 ketika ia mengumumkan penangkapan tentara Israel Gilad Shalit dalam sebuah operasi lintas batas. Sejak saat itu, ia menjadi simbol komunikasi militer Hamas, tampil dengan wajah tertutup dan identitas pribadi yang dijaga ketat.

Latar Belakang dari Media Internasional

Menurut laporan media Timur Tengah dan Barat, Israel telah beberapa kali menyatakan upaya menargetkan Abu Ubaidah sejak awal konflik bersenjata besar di Gaza. Radio militer Israel bahkan mencatat bahwa setidaknya dua upaya sebelumnya gagal sebelum klaim keberhasilan pada akhir Agustus 2025.

Media internasional seperti Al Jazeera dan sejumlah kantor berita global juga melaporkan bahwa pada April 2024, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Abu Ubaidah dengan tuduhan keterlibatannya dalam aktivitas komunikasi strategis dan propaganda Hamas.

Abu Ubaidah, bersama Mohammed Sinwar, menjadi bagian dari daftar tokoh Hamas yang kematiannya dikonfirmasi Israel dalam dua tahun terakhir. Daftar tersebut mencakup sejumlah figur penting lain, baik dari sayap politik maupun militer Hamas, seiring meningkatnya intensitas konflik di Jalur Gaza.

Israel Rampas Tanah Palestina di Nablus, Tebangi 150 Pohon Zaitun untuk Perluas Permukiman Ilegal

TEPI BARAT (jurnalislam.com)- Kelompok pemukim Israel kembali memperluas pos pemukiman ilegal di wilayah Palestina yang diduduki, kali ini di sekitar kota Nablus, Tepi Barat bagian utara. Aksi tersebut dilaporkan terjadi di Gunung Qarqafa, kawasan antara kota Aqraba dan Jurish, tenggara Nablus.

Dalam pernyataan resminya pada Kamis (25/12/2025), organisasi hukum Palestina Al-Baidar mengungkapkan bahwa para pemukim menambahkan sejumlah rumah prefabrikasi ke pos ilegal yang sebelumnya telah didirikan di kawasan tersebut.

Menurut Al-Baidar, langkah ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk mencaplok lebih banyak tanah Palestina secara ilegal.

“Ini adalah kelanjutan dari ekspansi pemukiman ilegal yang mengancam keberadaan masyarakat Palestina serta merampas hak mereka atas tanah dan properti,” demikian pernyataan organisasi tersebut.

𝗣𝗼𝗵𝗼𝗻 𝗭𝗮𝗶𝘁𝘂𝗻 𝗗𝗶𝘁𝗲𝗯𝗮𝗻𝗴, 𝗟𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗿𝗮𝗺𝗽𝗮𝘀

Selain memperluas pos ilegal, para pemukim juga dilaporkan menebang sekitar 150 pohon zaitun milik warga Palestina di wilayah timur Al-Khalil (Hebron). Pohon zaitun merupakan sumber mata pencaharian utama bagi banyak keluarga Palestina.

Al-Baidar menjelaskan bahwa modus yang kerap digunakan pemukim adalah dengan mendirikan gubuk-gubuk darurat dari bahan sederhana, kemudian memagari wilayah tersebut dan membangun akses jalan. Seiring waktu, lokasi ini dipermanenkan dan dilegalkan secara sepihak.

Meski secara hukum Israel sendiri pos-pos tersebut tergolong ilegal, banyak di antaranya kemudian dilegalkan secara retroaktif dan berubah menjadi pemukiman permanen.

𝗞𝗲𝗸𝗲𝗿𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝘂𝗸𝗶𝗺 𝗖𝗮𝗽𝗮𝗶 𝗧𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗧𝗲𝗿𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa serangan pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat telah mencapai tingkat tertinggi dalam 20 tahun terakhir.

Sejak Israel melancarkan agresi besar-besaran ke Gaza pada Oktober 2023, kekerasan di Tepi Barat meningkat drastis, termasuk:
– Penahanan massal
– Penggerebekan desa
– Serangan fisik oleh pemukim
– Perampasan lahan dan perusakan properti

Saat ini, sekitar 451.000 warga Israel tinggal di pemukiman ilegal di Tepi Barat, sementara sekitar 230.000 lainnya menetap di Yerusalem Timur yang diduduki.

Berdasarkan hukum internasional, seluruh pemukiman Israel di wilayah pendudukan Palestina dinyatakan ilegal.

Warga Palestina menyatakan bahwa perluasan pemukiman dan kekerasan harian para pemukim semakin membatasi ruang hidup mereka, menghambat mobilitas, serta memperburuk kondisi ekonomi dan kemanusiaan di seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki. (Bahry)

Sumber: TRT

Ketegangan Meningkat antara Netanyahu dan Tim Inti Trump, AS Frustrasi atas Mandeknya Gencatan Senjata Gaza

JAKARTA (jurnalislam.com)- Ketegangan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan para penasihat utama Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan semakin meningkat. Tim inti Gedung Putih disebut semakin frustrasi terhadap langkah Netanyahu yang dinilai menghambat proses perdamaian dan gencatan senjata di Gaza.

Laporan Axios pada Sabtu (27/12/2025) menyebutkan bahwa lingkaran dekat Presiden Trump termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, menantu Trump Jared Kushner, utusan perdamaian Steve Witkoff, serta Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles merasa Netanyahu sengaja memperlambat kesepakatan dan bahkan berupaya merusaknya.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa Netanyahu kini telah kehilangan dukungan dari sebagian besar tim inti Trump.

“Ini JD, Marco, Jared, Steve, Susie. Dia telah kehilangan mereka. Satu-satunya yang masih mendukung adalah presiden, meskipun bahkan Trump ingin kesepakatan Gaza bergerak lebih cepat,” ujar seorang pejabat kepada Axios.

Namun, sumber dari pihak Israel mengklaim bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio masih lebih dekat dengan posisi Netanyahu dibandingkan dengan Witkoff dan Kushner.

𝗡𝗲𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗵𝘂 𝗦𝗸𝗲𝗽𝘁𝗶𝘀 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗥𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗔𝗦

Netanyahu dilaporkan menolak beberapa poin utama dalam rencana perdamaian yang diajukan AS, khususnya gagasan demiliterisasi Gaza yang menjadi bagian penting dari proposal multi-tahap yang disusun oleh Witkoff dan Kushner.

Menyadari memburuknya hubungan dengan tim Gedung Putih, Netanyahu disebut akan langsung melobi Presiden Trump dalam pertemuan mendatang di Mar-a-Lago. Ia berharap dapat meyakinkan Trump agar mengadopsi pendekatan yang lebih keras terhadap Gaza.

𝗣𝗲𝗹𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗧𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗮𝗱𝗶

Tahap pertama kesepakatan gencatan senjata, yang mulai berlaku pada 10 Oktober, mencakup pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina. Namun, Israel dinilai gagal memenuhi komitmen utamanya, terutama dalam penghentian agresi militer.

Pasukan Israel dilaporkan terus melancarkan serangan, termasuk membunuh seorang warga Palestina baru-baru ini. Sejak gencatan senjata diberlakukan, tercatat sedikitnya 412 warga Palestina tewas dan 1.118 lainnya terluka akibat pelanggaran Israel.

𝗥𝗮𝗻𝗰𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗵𝗮𝗽 𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮: 𝗥𝗲𝗸𝗼𝗻𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝘁𝗲𝗿𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶

Tahap kedua kesepakatan mencakup:
– Pembentukan komite teknokrat untuk mengelola Gaza
– Peluncuran proses rekonstruksi
– Pembentukan dewan perdamaian
– Penempatan pasukan internasional
– Penarikan lebih lanjut pasukan Israel
– Pelucutan senjata Hamas

Namun, seluruh tahapan tersebut terancam gagal akibat penolakan dan tindakan militer Israel yang terus berlanjut.

Sejak Oktober 2023, Israel telah membunuh lebih dari 70.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak. Sebagian besar wilayah Gaza hancur akibat serangan udara dan darat, menyebabkan hampir seluruh penduduknya mengungsi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan biaya rekonstruksi Gaza mencapai 70 miliar dolar AS, menyusul kehancuran besar yang ditimbulkan oleh agresi Israel. (Bahry)

Sumber: TRT

Pemimpin BJP Diduga Serang Wanita Kristen Tunanetra di Gereja, Natal di India Kian Dihantui Intoleransi

JABALPUR (jurnalislam.com)- Sebuah video dari Jabalpur, negara bagian Madhya Pradesh, memicu kemarahan publik setelah memperlihatkan Anju Bhargava, yang diidentifikasi sebagai pemimpin lokal Partai Bharatiya Janata Party (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi, diduga melecehkan dan menyerang seorang perempuan Kristen tunanetra yang tengah menghadiri perayaan Natal.

Dalam rekaman tersebut, Anju Bhargava terlihat bersama anggota kelompok Hindu Raksha Dal memasuki sebuah gereja dan bertindak tidak sopan terhadap jemaat. Mereka menuduh para hadirin melakukan upaya pemaksaan perpindahan agama, tuduhan yang kerap digunakan kelompok Hindu garis keras untuk membenarkan gangguan terhadap minoritas agama.

Aksi tersebut memicu kecaman luas. Partai oposisi Kongres India mengecam peristiwa itu sebagai bentuk “kekejaman dan ketidakpekaan yang tidak dapat diterima”, terutama karena korban yang dilecehkan merupakan penyandang disabilitas.

Tekanan publik akhirnya memaksa BJP cabang Jabalpur mengeluarkan surat peringatan kepada Anju Bhargava dan meminta klarifikasi resmi.

“Kami telah meminta Anju Bhargava untuk menjelaskan perilakunya sebagaimana terlihat dalam video,” ujar Ketua BJP Jabalpur, Rakesh Sonkar.

“Dia diberikan waktu tujuh hari untuk menyampaikan tanggapannya.”

Namun, Bhargava membantah melakukan kesalahan. Ia mengklaim tindakannya didasarkan pada informasi dari sejumlah “aktivis” lokal yang menuduh bahwa perempuan tunanetra tersebut ditahan secara paksa di sebuah bangunan bobrok di dekat gereja.

Klaim tersebut dibantah pihak kepolisian, yang menyatakan bahwa tidak ada laporan resmi terkait dugaan penahanan paksa tersebut.

Lembaga pemantau penganiayaan terhadap umat Kristen, Open Doors, menyatakan “sangat terkejut” atas dugaan tindakan Anju Bhargava dan mendesak agar pihak berwenang mengambil langkah tegas.

“Insiden yang ditargetkan ini, terutama terhadap para penyanyi lagu Natal dan jemaat yang beribadah secara damai, merupakan pelanggaran serius terhadap jaminan konstitusional kebebasan beragama serta hak untuk hidup dan beribadah tanpa rasa takut,” demikian pernyataan Open Doors, dikutip dari The Independent, Kamis (25/12/2025).

Sementara itu, Forum Kristen Bersatu (United Christian Forum) melaporkan telah mencatat lebih dari 600 insiden dugaan serangan terhadap umat Kristen di seluruh India sepanjang tahun ini. Insiden tersebut mencakup penyerangan massa, perusakan rumah, hingga penggerebekan dan gangguan ibadah.

Di sisi lain, kelompok vigilante Hindu Vishwa Hindu Parishad (VHP) secara terbuka menyerukan umat Hindu untuk tidak ikut serta dalam perayaan Natal. Organisasi tersebut diketahui memiliki kedekatan ideologis dengan ekosistem politik sayap kanan Hindu, termasuk partai penguasa.

Sekretaris Jenderal VHP, Surendra Gupta, dalam sebuah surat yang beredar bulan lalu menyatakan bahwa partisipasi umat Hindu dalam perayaan agama lain “dapat mengarah pada penerimaan sosial terhadap agama lain”. Ia menyebut seruan tersebut sebagai bagian dari upaya “membangkitkan kesadaran budaya” umat Hindu.

Umat Kristen sendiri hanya mencakup sekitar 2,3 persen dari total populasi India yang berjumlah sekitar 1,4 miliar jiwa, menjadikan Kristen sebagai agama terbesar ketiga setelah Hindu dan Islam.

Kelompok-kelompok Kristen telah berulang kali melaporkan intimidasi dan kekerasan oleh kelompok vigilante Hindu yang diduga bersekutu dengan BJP. Meski demikian, tuduhan tersebut secara konsisten dibantah oleh partai penguasa. (Bahry).

Natal di India Diteror Kelompok Ekstrem Hindu: Gereja Dirusak, Jemaat Diintimidasi, Pedagang Topi Santa Diusir

NEW DELHI (jurnalislam.com)- Organisasi Kristen dan lembaga hak asasi manusia menyuarakan keprihatinan serius atas meningkatnya tindakan intoleransi dan kekerasan terhadap umat Kristen di India selama perayaan Natal. Sejumlah insiden dilaporkan terjadi di berbagai wilayah, yang diduga melibatkan kelompok sayap kanan Hindu.

Konferensi Uskup Katolik India (Catholic Bishops’ Conference of India/CBCI) pada Kamis (25/12/2025) menyatakan kecaman keras terhadap apa yang mereka sebut sebagai peningkatan serangan yang “mengkhawatirkan dan sistematis” terhadap komunitas Kristen di negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu tersebut.

Dalam pernyataannya, CBCI menyebut telah mencatat berbagai insiden pelecehan, mulai dari intimidasi terhadap penyanyi lagu Natal, jemaat gereja, hingga gangguan terhadap ibadah dan perayaan Natal di sejumlah wilayah.

Sejumlah organisasi hak asasi manusia menuding kelompok vigilante Hindu melakukan tindakan perusakan gereja, penjarahan dekorasi Natal, serta ancaman terhadap warga yang merayakan Natal. Tindakan-tindakan tersebut dinilai mempersempit ruang kebebasan beragama dan menciptakan ketakutan di kalangan minoritas Kristen.

Lembaga pemantau penganiayaan terhadap umat Kristen, Open Doors, melaporkan telah mencatat lebih dari 60 dugaan serangan yang menargetkan komunitas Kristen di India selama periode Natal tahun ini.

Sebuah video dari negara bagian Odisha di India timur memperlihatkan sekelompok pria yang diduga berafiliasi dengan kelompok Hindu garis keras mengusir pedagang kaki lima yang menjual topi Santa. Mereka menolak penjualan atribut Natal dengan alasan India adalah negara Hindu.

“Sebagai orang Hindu, bagaimana kalian bisa menjual barang-barang Kristen?” terdengar salah satu pria dalam video tersebut.

“Segera tutup dagangan kalian dan pergi. Jika ingin berjualan, juallah barang-barang Dewa Jagannath,” lanjutnya.

Insiden serupa juga terjadi di kawasan Lajpat Nagar, New Delhi. Dalam sebuah video lain, sekelompok pria yang diduga terkait dengan organisasi vigilante Hindu Bajrang Dal terlihat melecehkan perempuan yang mengenakan topi Santa. Para perempuan tersebut dituduh menyebarkan agama Kristen dan melakukan upaya konversi secara tersembunyi.

Open Doors menilai rangkaian kejadian ini telah meningkatkan rasa takut dan ketidakamanan di kalangan umat Kristen.

“Insiden-insiden yang mengkhawatirkan ini telah memperkuat ketakutan banyak umat Kristen saat mereka hanya ingin merayakan Natal secara damai,” ujar pernyataan organisasi tersebut.

Organisasi itu juga mencatat gangguan perayaan Natal di negara bagian Haryana, di mana kelompok Hindu sayap kanan menuduh perayaan Natal digunakan sebagai sarana pemaksaan perpindahan agama.

Menanggapi situasi tersebut, Konferensi Uskup Katolik India mengaku telah mendesak Menteri Dalam Negeri India, Amit Shah, untuk memastikan penegakan hukum yang tegas serta perlindungan aktif terhadap komunitas Kristen.

CBCI menegaskan bahwa peningkatan serangan terhadap umat Kristen selama musim Natal merupakan ancaman serius terhadap pluralisme dan kebebasan beragama di India, dan menyerukan agar pemerintah bertindak tegas demi menjaga perdamaian dan keadilan bagi seluruh warga negara. (Bahry)