Konflik Thailand–Kamboja Memaksa Lebih dari 100 Ribu Warga Mengungsi

THAILAND (jurnalislam.com)– Konflik bersenjata yang kembali memanas antara Thailand dan Kamboja telah memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Lebih dari 100.000 warga Thailand terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak pecahnya pertempuran pada Kamis (24/7/2025), menjadikan ini sebagai pertempuran perbatasan terburuk dalam lebih dari satu dekade antara kedua negara bertetangga tersebut.

Suara dentuman artileri dan tembakan senjata berat menggema di sepanjang perbatasan, mendorong ribuan warga dari empat provinsi di Thailand, termasuk Surin, untuk mencari perlindungan ke pusat-pusat evakuasi darurat.

Salah satu lokasi pengungsian terbesar berada di gedung olahraga Universitas Surindra Rajabhat di pusat Kota Surin. Hampir 3.000 pengungsi, sebagian besar dari distrik-distrik perbatasan, memadati gedung tersebut. Mereka tidur berdesakan di atas tikar plastik, dengan selimut seadanya, dan membawa barang-barang yang berhasil diselamatkan dalam kepanikan.

“Saya khawatir tentang rumah kami, hewan-hewan kami, dan tanaman yang telah kami tanam dengan susah payah,” ungkap Thidarat Homhuan (37 tahun) kepada kantor berita AFP. Ia mengungsi bersama sembilan anggota keluarganya, termasuk nenek berusia 87 tahun yang baru saja keluar dari rumah sakit.

Thidarat berada di sebuah sekolah saat suara tembakan terdengar.

“Saya mendengar suara seperti senapan mesin, lalu dentuman keras artileri. Kekacauan melanda, anak-anak ketakutan. Saya langsung membawa mereka ke bunker sekolah,” ujarnya.

Di tempat penampungan, para pengungsi tidur berdampingan di bawah atap tinggi gedung olahraga, di tengah suara kipas angin dan percakapan pelan yang penuh kecemasan. Lansia terbaring dalam selimut, bayi-bayi diayun dalam buaian darurat, sementara anak-anak berusaha bermain dalam keterbatasan ruang. Bahkan kucing-kucing peliharaan ikut dievakuasi, diletakkan dalam kandang di dekat toilet umum.

Menurut Chai Samoraphum, Direktur Kantor Presiden Universitas Surindra Rajabhat, ini merupakan pertama kalinya kampus tersebut diaktifkan sepenuhnya sebagai pusat evakuasi. Perkuliahan dibatalkan, dan dalam waktu satu jam, kampus berubah menjadi tempat perlindungan darurat. Para pengungsi didistribusikan ke enam lokasi berbeda di dalam area kampus.

“Sebagian besar dari mereka pergi dengan tergesa-gesa. Beberapa memiliki kondisi kesehatan kronis tetapi tidak sempat membawa obat-obatan. Ada juga yang hanya membawa satu atau dua tas kecil,” kata Chai. Ia menambahkan, layanan kesehatan dan dukungan psikologis telah disediakan dengan bantuan rumah sakit provinsi.

Meski sudah berada di zona yang lebih aman, para pengungsi tetap diliputi kekhawatiran dan ketidakpastian mengenai kapan mereka bisa kembali ke rumah.

“Kami sekarang jauh dari bahaya, tapi belum tahu sampai kapan di sini,” kata Thidarat.

“Saya ingin pemerintah bertindak tegas. Jangan menunggu hingga ada korban jiwa lebih banyak. Kami sangat bergantung pada negara untuk perlindungan.”

Sementara itu, di pihak Kamboja, sekitar 20.000 penduduk juga telah dievakuasi dari wilayah utara, terutama dari Provinsi Preah Vihear, yang berbatasan langsung dengan Thailand. Informasi ini disampaikan media setempat Khmer Times, mengutip pejabat lokal. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Negara-Negara Eropa Terbelah Soal Pengakuan Negara Palestina

PALESTINA (jurnalislam.com)- Sejumlah negara Eropa masih terpecah terkait pengakuan terhadap negara Palestina, di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Jalur Gaza.

Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menolak seruan untuk segera mengakui negara Palestina, meskipun sekitar 221 anggota parlemen telah menandatangani surat yang mendesak pemerintah untuk menyatakan pengakuan tersebut dalam pertemuan Majelis Umum PBB pekan depan.

Meski demikian, Starmer menyatakan dirinya tetap berkomitmen pada solusi dua negara. Ia menekankan bahwa pengakuan Palestina harus menjadi bagian dari “rencana yang lebih luas” yang menjamin solusi damai serta keamanan jangka panjang bagi Israel dan Palestina.

Sikap serupa disampaikan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni. Dalam wawancaranya dengan harian La Repubblica pada Sabtu (26/7), Meloni menyatakan bahwa pengakuan prematur terhadap negara Palestina justru bisa menjadi kontraproduktif.

“Saya sangat mendukung negara Palestina, tetapi saya tidak mendukung pengakuan sebelum negara itu benar-benar terbentuk,” ujar Meloni.

“Mengakui sesuatu yang belum ada hanya akan menciptakan kesan bahwa masalah telah selesai, padahal kenyataannya belum.”

Sementara itu, pemerintah Jerman menyatakan belum memiliki rencana untuk mengakui negara Palestina dalam waktu dekat. Juru bicara pemerintah pada Jumat (25/7) menyebut bahwa prioritas Berlin saat ini adalah mendorong kemajuan menuju solusi dua negara yang telah lama dinantikan.

Berbeda dengan Inggris, Italia, dan Jerman, Prancis justru menyatakan dukungannya terhadap pengakuan Palestina. Presiden Emmanuel Macron mengumumkan niatnya untuk menyampaikan pengakuan resmi terhadap negara Palestina dalam sidang Majelis Umum PBB pada September mendatang.

Langkah Macron itu menuai kritik dari Israel dan Amerika Serikat. Namun, dalam surat yang dikirim kepada Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, Macron menegaskan komitmen Prancis untuk terus melangkah maju dalam pengakuan Palestina serta mendorong negara lain agar mengikuti jejak tersebut.

Menurut basis data Agence France-Presse (AFP), hingga kini sedikitnya 142 dari 193 negara anggota PBB termasuk Prancis telah mengakui negara Palestina yang diproklamasikan oleh para pemimpin Palestina di pengasingan pada tahun 1988. (Bahry)

Sumber: The Guardian

PBB: Pengiriman Bantuan Lewat Udara ke Gaza Tidak Efisien dan Tak Menyelesaikan Masalah

PALESTINA (jurnalislam.com)- Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, mengkritik keras pengiriman bantuan kemanusiaan lewat udara ke Gaza. Ia menilai metode tersebut tidak efektif dan hanya menjadi pengalih perhatian dari upaya menyelesaikan akar penyebab krisis.

“Pengiriman bantuan lewat udara tidak akan menghentikan kelaparan yang semakin memburuk,” kata Lazzarini dalam pernyataannya.

“Metode ini mahal, tidak efisien, dan bahkan berisiko membahayakan warga sipil yang kelaparan. Ini hanyalah pengalih perhatian dan bentuk penipuan,” tambahnya.

Menurut Lazzarini, kelaparan yang terjadi merupakan hasil dari tindakan manusia dan hanya bisa diatasi dengan kemauan politik. Ia mendesak agar blokade di Gaza dihentikan, akses kemanusiaan dibuka, dan pergerakan orang serta barang dilakukan dengan aman dan bermartabat.

“Memberikan bantuan secara langsung jauh lebih mudah, efektif, cepat, murah, dan aman. Ini juga lebih manusiawi bagi rakyat Gaza,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya keterlibatan Inggris dalam upaya internasional mengirimkan bantuan melalui udara ke Gaza. Pada Jumat (25/7), Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer mengumumkan bahwa pemerintahnya bekerja sama dengan Yordania dalam rencana pengiriman bantuan udara.

Lebih dari sepertiga anggota parlemen Inggris sebelumnya telah menandatangani surat yang mendesak pemerintah untuk segera mengakui negara Palestina.

BBC melaporkan, Inggris juga telah mengirimkan tim kecil yang terdiri atas perencana militer dan ahli logistik guna mendukung operasi pengiriman bantuan bersama Yordania. (Bahry)

Sumber: The Guardian

232 Jurnalis Gugur di Gaza, Israel Bikin Jurnalis Kelaparan dan Bungkam

GAZA (jurnalislam.com)– Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) menyatakan keprihatinan mendalam terhadap kondisi jurnalis di Gaza yang kini menghadapi kelaparan parah di tengah pengepungan Israel yang terus berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan CPJ pada Rabu (23/7), bersamaan dengan lebih dari 100 lembaga kemanusiaan yang menyerukan diakhirinya blokade Israel yang menyebabkan jutaan warga Gaza terancam kelaparan.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 100 orang, mayoritas anak-anak, telah meninggal dunia akibat kelaparan. Israel diketahui menghentikan seluruh aliran bantuan ke Gaza sejak Maret lalu.

Meski sempat sedikit melonggarkan blokade pada akhir Mei melalui program distribusi makanan yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (GHF) – yang didukung AS dan Israel – skema tersebut justru menuai kritik tajam dari PBB dan organisasi kemanusiaan internasional. Mereka menyebutnya sebagai “jebakan maut” akibat kekacauan dan kekerasan yang terjadi di lokasi distribusi.

Dilaporkan lebih dari 1.000 warga Palestina tewas saat mencoba mendapatkan bantuan dari titik distribusi GHF karena ditembaki oleh tentara Israel.

𝗝𝘂𝗿𝗻𝗮𝗹𝗶𝘀 𝗞𝗲𝗹𝗮𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻, 𝗧𝗮𝗸 𝗟𝗮𝗴𝗶 𝗠𝗮𝗺𝗽𝘂 𝗠𝗲𝗹𝗶𝗽𝘂𝘁

Direktur Regional CPJ, Sara Qudah, menyatakan bahwa jurnalis di Gaza kini tak hanya terancam keselamatannya, tetapi juga menderita kelaparan parah.

“Israel membuat jurnalis Gaza kelaparan hingga bungkam. Mereka bukan sekadar reporter, mereka adalah saksi garis depan, yang kini terlantar karena media internasional ditarik keluar dan ditolak masuk,” ujar Qudah.

“Dunia harus bertindak sekarang: lindungi mereka, beri mereka makan, dan biarkan mereka pulih. Keberanian mereka dalam meliput perang selama lebih dari 650 hari tidak boleh dibalas dengan kelaparan,” tegasnya.

Lembaga-lembaga berita internasional seperti AFP, AP, BBC News, dan Reuters juga menyampaikan keprihatinan mereka dalam pernyataan bersama, menyebut jurnalis mereka di Gaza kini kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidup.

“Selama berbulan-bulan, para jurnalis independen ini telah menjadi mata dan telinga dunia di Gaza. Kini mereka menghadapi ancaman kelaparan,” tulis mereka. Mereka juga mendesak otoritas Israel untuk mengizinkan jurnalis masuk dan keluar dari Gaza serta memastikan akses pangan yang memadai.

𝗔𝗻𝗰𝗮𝗺𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗝𝘂𝗿𝗻𝗮𝗹𝗶𝘀 𝗔𝗹 𝗝𝗮𝘇𝗲𝗲𝗿𝗮

Sementara itu, reporter Palestina Anas al-Sharif, yang bekerja untuk Al Jazeera, mengaku menjadi target kampanye hasutan oleh militer Israel. Dalam pernyataan di platform X, juru bicara militer Israel untuk dunia Arab, Avichay Adraee, menuduh Al-Sharif sebagai bagian dari “mesin militer Hamas” dan menuding Al Jazeera sebagai saluran media yang memutarbalikkan fakta.

Menanggapi tudingan itu, Al-Sharif menulis:
“Saya, Anas Al-Sharif, adalah seorang jurnalis tanpa afiliasi politik. Satu-satunya misi saya adalah melaporkan kebenaran dari lapangan apa adanya, tanpa bias.”

Ia juga meminta organisasi hak asasi manusia dan kebebasan pers untuk memberi perlindungan atas ancaman yang diterimanya.

𝗝𝘂𝗿𝗻𝗮𝗹𝗶𝘀 𝗛𝗮𝗺𝗶𝗹 𝗧𝗲𝘄𝗮𝘀 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮𝗻𝘆𝗮

Di hari yang sama, jurnalis Palestina Walaa al-Jaabari tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam rumahnya di Kota Gaza. Al-Jaabari, yang tengah hamil, meninggal dunia bersama suami dan empat anaknya dalam serangan tersebut.

Ia dikenal sebagai jurnalis lepas yang pernah bekerja dengan sejumlah media lokal. Dalam unggahan terakhirnya di media sosial, ia menulis:
“Saya tidak takut mati kelaparan… Saya khawatir akan patah hati jika perang gila ini tidak berakhir!”

Kantor Media Pemerintah di Gaza menyatakan bahwa jumlah jurnalis yang tewas sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 232 orang. Kantor tersebut mengecam pembunuhan terhadap Al-Jaabari, menyebutnya sebagai bagian dari upaya sistematis Israel untuk membungkam suara dan menghalangi pelaporan kejahatan perang yang sedang berlangsung. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

AS dan Israel Tarik Negosiator dari Perundingan Gencatan Senjata Gaza, Hamas Nyatakan Kecewa

QATAR (jurnalislam.com)– Amerika Serikat bergabung dengan Israel pada Kamis (24/7/2025) dalam menarik tim negosiasinya dari perundingan gencatan senjata Gaza yang tengah berlangsung di Doha, Qatar. Langkah ini diambil setelah Washington menuduh Hamas tidak menunjukkan itikad baik dalam mencapai kesepakatan.

Utusan khusus AS, Steve Witkoff, menyalahkan Hamas atas kegagalan perundingan dan menyatakan bahwa pemerintah AS akan “mempertimbangkan opsi alternatif” guna membebaskan sandera serta menciptakan stabilitas di Gaza.

“Tanggapan Hamas jelas menunjukkan kurangnya keinginan untuk mencapai gencatan senjata di Gaza,” tulis Witkoff dalam pernyataan resminya melalui media sosial. Ia menambahkan, AS akan segera memulangkan tim negosiatornya dari Qatar.

Namun, Hamas membantah tudingan tersebut. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Jumat (25/7), Gerakan Perlawanan Islam itu mengaku “bingung” dengan komentar negatif dari utusan AS. Hamas menegaskan telah menunjukkan fleksibilitas tinggi dan keterlibatan yang konstruktif dalam seluruh proses negosiasi.

“Kami sangat ingin mencapai kesepakatan yang menghentikan agresi dan mengakhiri penderitaan rakyat kami di Jalur Gaza,” tulis Hamas dalam pernyataan yang disebarkan melalui Telegram.

Menurut Hamas, para mediator justru menyambut baik sikap mereka yang dinilai positif dan konstruktif.

“Kami terkejut dengan pernyataan negatif utusan AS, terutama setelah para mediator menyatakan kepuasannya atas sikap kami,” lanjut pernyataan tersebut.

Sumber Palestina yang mengetahui jalannya negosiasi menyebutkan bahwa Hamas telah menyampaikan sejumlah usulan amandemen dalam tanggapannya. Usulan tersebut mencakup penyesuaian terkait masuknya bantuan kemanusiaan, penarikan pasukan Israel dari wilayah tertentu, serta jaminan untuk mengakhiri perang secara permanen.

Di sisi lain, Israel menolak sejumlah jaminan tersebut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pihaknya masih membuka peluang tercapainya kesepakatan, namun menuduh Hamas sebagai penghalang utama.

“Kami sedang berupaya mencapai kesepakatan lain untuk pembebasan sandera kami,” ujar Netanyahu.

“Namun jika Hamas menafsirkan kesediaan kami sebagai kelemahan dan kesempatan untuk mendikte persyaratan penyerahan yang membahayakan Israel, maka mereka sangat keliru.” sambungnya.

Israel sendiri diketahui telah menarik para negosiatornya dari Doha setelah Hamas menyerahkan tanggapan atas proposal gencatan senjata terbaru. Kantor Netanyahu menyebut bahwa penarikan dilakukan untuk melakukan konsultasi lanjutan di dalam negeri.

Selama lebih dari dua pekan terakhir, mediator dari Qatar terus berpindah-pindah antara delegasi Israel dan Hamas dalam upaya mencapai titik temu atas gencatan senjata serta pembebasan para sandera yang ditahan sejak pecahnya konflik hampir dua tahun lalu.

Tekanan internasional terhadap Israel dan komunitas global terus meningkat, seiring memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza. Laporan terbaru menyebutkan bahwa lebih dari dua juta warga Palestina kini menghadapi ancaman kelaparan massal, di tengah krisis kesehatan dan kerusakan infrastruktur yang luas akibat agresi militer.

Sejak dimulainya agresi pada Oktober 2023, sedikitnya 59.587 warga Palestina telah terbunuh, mayoritas di antaranya adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Banyak pengamat internasional menyebut serangan Israel sebagai bentuk genosida terhadap rakyat Palestina. (Bahry)

Sumber: TNA

Memanas, Konflik Perbatasan Thailand-Kamboja Tewaskan 12 Orang dan Picu Evakuasi Massal

THAILAND (jurnalislam.com)– Ketegangan di perbatasan Thailand dan Kamboja kembali memuncak setelah jet tempur F-16 milik Angkatan Udara Thailand dilaporkan membombardir sejumlah target di wilayah Kamboja. Insiden ini memicu rangkaian bentrokan senjata, pengeboman, dan penembakan yang menyebabkan sedikitnya 12 orang tewas dan puluhan lainnya terluka.

Bentrokan terbaru pecah pada Kamis pagi (24/7) di dekat Kuil Ta Moan Thom, wilayah yang telah lama menjadi sengketa antara kedua negara. Kuil ini terletak di kawasan perbatasan provinsi Oddar Meanchey, Kamboja barat laut. Thailand dan Kamboja saling menuding sebagai pihak pemicu pertempuran.

“Pertempuran telah meluas ke setidaknya enam wilayah di sepanjang garis perbatasan,” kata Laksamana Muda Surasant Kongsiri, pejabat militer Thailand. Pemerintah Thailand pun segera menutup seluruh jalur perbatasan resmi dengan Kamboja sebagai langkah antisipatif.

Dalam konferensi pers, Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, menegaskan bahwa pertempuran harus dihentikan terlebih dahulu sebelum proses negosiasi dimulai. Ia menegaskan belum ada deklarasi perang dan konflik belum meluas ke provinsi lain.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Thailand, Somsak Thepsuthin, mengonfirmasi bahwa 11 warga sipil, termasuk seorang anak laki-laki berusia delapan tahun, serta satu personel militer tewas akibat serangan artileri dari pasukan Kamboja. Sebanyak 24 warga sipil dan tujuh tentara Thailand juga dilaporkan mengalami luka-luka.

“Tindakan Kamboja, termasuk serangan terhadap sebuah rumah sakit, harus dikategorikan sebagai kejahatan perang,” tegas Somsak.

Dalam pernyataan resmi militer Thailand, korban jiwa dilaporkan tersebar di beberapa lokasi, antara lain:

– Enam warga sipil tewas dan dua lainnya terluka akibat serangan di dekat pom bensin di Ban Phue, Distrik Kantharalak, Provinsi Sisaket, sekitar 20 km dari perbatasan.

– Dua warga sipil, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan di Ban Chorok, Distrik Kabcheing, Provinsi Surin, serta dua lainnya luka-luka.

– Satu orang tewas dan satu lainnya terluka di Distrik Nam Yuen, Provinsi Ubon Ratchathani.

Imbas dari eskalasi konflik ini, sedikitnya 40.000 warga sipil dari 86 desa di wilayah perbatasan telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman. Penduduk berlindung di tempat perlindungan bom darurat yang dibangun dari beton, karung pasir, dan ban bekas, menurut seorang pejabat lokal di Provinsi Surin kepada Reuters.

Hingga saat ini, pihak Kamboja belum merilis data resmi terkait korban di pihak mereka.

Menanggapi situasi yang memburuk, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menggelar pertemuan darurat. Ia menyebut aksi militer Thailand sebagai ancaman serius bagi perdamaian di kawasan Asia Tenggara.

Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja telah berlangsung selama bertahun-tahun, namun eskalasi terbaru ini menjadi yang paling berdarah dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah negara di kawasan menyerukan segera dilakukan mediasi demi mencegah konflik berskala luas. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Gaza Dilanda Kelaparan, Jumlah Korban Tewas Naik Jadi 111 Orang

GAZA (jurnalislam.com)- Sedikitnya 10 warga Palestina dilaporkan meninggal akibat kelaparan di Jalur Gaza yang terkepung, menurut keterangan pejabat kesehatan setempat. Gelombang kelaparan yang kian meluas menambah jumlah korban jiwa akibat malnutrisi sejak pecahnya perang pada Oktober 2023 menjadi 111 orang kebanyakan dalam beberapa pekan terakhir.

Selain korban kelaparan, setidaknya 100 warga Palestina lainnya, termasuk 34 orang yang sedang mencari bantuan, tewas akibat serangan militer Israel dalam 24 jam terakhir, demikian disampaikan Kementerian Kesehatan Gaza pada Rabu (23/7/2025).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa 21 anak di bawah usia lima tahun turut menjadi korban tewas akibat malnutrisi sepanjang tahun ini. WHO juga mengungkapkan bahwa pihaknya tidak dapat mengirimkan makanan ke Gaza selama hampir 80 hari, dari Maret hingga Mei, dan distribusi yang dimulai kembali pun masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga.

Dalam pernyataan bersama, sebanyak 111 organisasi, termasuk Mercy Corps, Dewan Pengungsi Norwegia, dan Refugees International, menyatakan bahwa “kelaparan massal” kini menyebar di Gaza, bahkan ketika ribuan ton makanan, air bersih, dan pasokan medis tertahan di luar wilayah tersebut. Upaya kelompok-kelompok bantuan untuk menyalurkan bantuan terus dihambat oleh blokade Israel.

Melaporkan dari Deir el-Balah, Gaza tengah, koresponden Al Jazeera Tareq Abu Azzoum menyebutkan bahwa kelaparan kini sama mematikannya dengan bom.

“Keluarga-keluarga tidak lagi meminta makanan yang cukup, mereka hanya berharap mendapatkan apa pun untuk bertahan hidup,” ujarnya.

Warga Gaza menggambarkan situasi ini sebagai “kematian secara perlahan dan menyakitkan”, akibat kelaparan yang mereka sebut sebagai kondisi yang sengaja diciptakan oleh militer Israel.

Israel diketahui menutup seluruh jalur masuk barang ke Gaza pada Maret, dan baru mulai membuka akses terbatas pada Mei. Bantuan yang masuk pun sebagian besar disalurkan melalui Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), sebuah organisasi kontroversial yang didukung oleh Amerika Serikat. Namun, skema ini menuai kritik keras dari PBB dan lembaga kemanusiaan karena dianggap tidak netral dan membahayakan warga sipil.

PBB dan lembaga bantuan kemanusiaan menuduh Israel menghambat pengiriman bantuan serta menembaki warga sipil yang mendatangi titik distribusi. Sejak Mei, ratusan warga Palestina dilaporkan tewas saat mencoba mengakses bantuan makanan.

Ross Smith, Direktur Kedaruratan Program Pangan Dunia (WFP), menekankan pentingnya kondisi minimum agar distribusi bantuan dapat dilakukan secara aman.

“Kami tidak bisa bekerja jika ada aktor bersenjata di sekitar titik distribusi dan konvoi kami,” ujarnya.

Perwakilan WHO untuk wilayah Palestina yang diduduki, Rik Peeperkorn, mengatakan bahwa serangan terhadap para pencari bantuan telah menyebabkan rumah sakit yang tersisa di Gaza berubah menjadi “bangsal trauma berskala besar”.

“Kekurangan pangan begitu parah hingga orang-orang tidak dapat lagi menjalankan profesinya, baik jurnalis, guru, maupun staf kemanusiaan kami sendiri,” tambahnya.

Nour Sharaf, seorang dokter asal Amerika yang bertugas di Rumah Sakit al-Shifa, Kota Gaza, mengungkapkan bahwa banyak orang “tidak makan selama berhari-hari dan akhirnya meninggal karena kelaparan.” Ia menambahkan bahwa tenaga medis pun kerap bekerja dalam kondisi lapar, namun tetap menjalankan tugas mereka secara maksimal. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Brasil Siap Intervensi di ICJ, Tuduh Israel Lakukan Genosida di Gaza

BRASIL (jurnalislam.com)- Brasil menyatakan akan mengajukan intervensi dalam kasus yang tengah berlangsung di Mahkamah Internasional (ICJ) yang menuduh Israel melakukan tindakan genosida di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Brasil pada Rabu (23/7/2025), di tengah meningkatnya seruan dari negara-negara non-Barat untuk memberikan tekanan lebih besar terhadap Israel.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Brasil menyebut bahwa mereka “sedang dalam tahap akhir pengajuan intervensi formal” terhadap kasus yang diajukan oleh Afrika Selatan, berdasarkan Konvensi PBB tentang Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida 1948.

“Komunitas internasional tidak bisa tinggal diam menghadapi kekejaman yang terus berlangsung,” tulis pernyataan tersebut.

“Brasil meyakini tidak ada lagi ruang untuk ambiguitas moral atau kelalaian politik. Impunitas hanya akan merusak legalitas internasional dan kredibilitas sistem multilateral.”

Rencana intervensi ini pertama kali diungkap oleh surat kabar Folha de São Paulo, menyusul meningkatnya perhatian internasional terhadap pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Israel di Gaza, termasuk pembatasan bantuan kemanusiaan yang telah mendorong wilayah tersebut ke ambang kelaparan massal.

“Pemerintah Brasil menyatakan kemarahan yang mendalam atas rangkaian kekerasan yang terus-menerus terhadap penduduk sipil Palestina, baik di Jalur Gaza maupun di Tepi Barat,” lanjut pernyataan itu.

Brasil menuding bahwa warga sipil di Gaza dan Tepi Barat telah menjadi korban kekerasan berulang dan pelanggaran berat hak asasi manusia, termasuk “penggunaan kelaparan secara terang-terangan sebagai senjata perang”.

Beberapa negara lain seperti Spanyol, Turki, dan Republik Irlandia juga telah mengajukan permohonan untuk turut campur dalam perkara ini, dengan mendesak ICJ agar menyatakan Israel telah melanggar kewajibannya di bawah Konvensi Genosida.

Brasil semakin vokal dalam mengkritik Israel, terutama sejak Presiden Luiz Inácio Lula da Silva mengecam serangan militer Israel di Gaza sebagai bentuk genosida dalam pertemuan negara-negara BRICS awal bulan ini. Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa keputusan untuk ikut campur dalam proses hukum di ICJ didasari oleh “kemungkinan bahwa hak-hak rakyat Palestina untuk mendapatkan perlindungan dari tindakan genosida sedang dilanggar secara permanen.”

Sementara itu, Kedutaan Besar Israel di Brasilia mengecam pernyataan Brasil, menyebutnya sebagai “penggunaan kata-kata kasar yang tidak mencerminkan realitas di Gaza,” serta menilai Brasil “sepenuhnya mengabaikan peran Hamas.”

Asosiasi Nasional Israel Brasil (CONIB) dalam pernyataannya menyebut keputusan Brasil sebagai “kesalahan besar” dan mencerminkan “ekstremisme dalam kebijakan luar negeri” yang mengancam hubungan lama antara Brasil dan Israel.

Hingga kini, Mahkamah Internasional belum mengeluarkan keputusan akhir terkait tuduhan genosida terhadap Israel. Namun, pada Januari 2024, ICJ telah memerintahkan Israel untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah terjadinya genosida di Gaza, termasuk memperluas akses bantuan kemanusiaan.

Namun, dampak dari perintah tersebut masih sangat terbatas. Dukungan dari Amerika Serikat dan sekutu Barat terhadap Israel tetap solid, meski banyak pakar dan organisasi HAM menyoroti pelanggaran hak asasi manusia sistematis yang dilakukan Israel di wilayah tersebut.

Israel bahkan sempat memberlakukan blokade penuh terhadap bantuan ke Gaza sejak Maret 2024, sebelum akhirnya membuka akses terbatas melalui Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF)—organisasi yang memiliki hubungan erat dengan Israel dan AS.

Sejak Mei, lebih dari 1.000 warga Palestina dilaporkan tewas akibat ditembak pasukan Israel saat menunggu bantuan di lokasi-lokasi distribusi GHF. Sementara itu, angka kematian akibat kelaparan terus meningkat, terutama di wilayah utara Gaza.

PBB telah mengecam metode distribusi bantuan oleh GHF sebagai “jebakan maut”, dan menyatakan tidak akan bekerja sama dengan organisasi tersebut. Sebelumnya, banyak lembaga bantuan internasional telah dilarang beroperasi oleh Israel di wilayah Gaza. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Hamas Ajukan Syarat Tambahan untuk Gencatan Senjata 60 Hari di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada Rabu (23/7/2025), telah menyampaikan tanggapannya atas usulan Israel terkait gencatan senjata selama 60 hari di Jalur Gaza.

Menurut sumber dari Mesir yang mengetahui jalannya perundingan serta sumber dari Hamas yang dikutip oleh media Al-Araby Al-Jadeed, Hamas mengusulkan sejumlah amandemen terhadap peta wilayah penarikan militer Israel serta jaminan yang memastikan bahwa perang akan berakhir secara permanen.

Selain itu, Hamas juga mengajukan perubahan terkait mekanisme distribusi bantuan kemanusiaan. Mereka meminta agar hanya badan-badan PBB yang diberi mandat untuk menangani masuk dan distribusi bantuan di Gaza. Sementara itu, Yayasan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Foundation/GHF) yang didukung oleh Amerika Serikat dan Israel, diusulkan untuk dikecualikan.

Distribusi bantuan melalui GHF sejak mulai beroperasi pada akhir Mei dilaporkan telah diwarnai kekacauan dan kekerasan. Lebih dari 1.000 warga Palestina dilaporkan tewas ditembak pasukan Israel saat menunggu bantuan. Skema ini mengabaikan peran PBB dan disebut oleh para pejabat kemanusiaan internasional sebagai “jebakan maut”.

Dalam proposalnya, Hamas juga menyarankan agar perjanjian gencatan senjata memuat klausul yang mewajibkan pembukaan kembali perlintasan Rafah di perbatasan Gaza–Mesir, di kedua arah, segera setelah gencatan senjata diberlakukan. Saat ini, ratusan ton bantuan kemanusiaan dilaporkan tertahan di sisi Mesir akibat blokade Israel. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, lebih dari 100 warga Palestina, sebagian besar anak-anak, telah meninggal akibat kelaparan.

Sumber Mesir tersebut menambahkan bahwa mediator Amerika Serikat menegaskan komitmen mereka untuk melanjutkan perundingan setelah masa gencatan senjata 60 hari, meskipun kesepakatan akhir belum tercapai.

“Keputusan kini berada di tangan pihak Israel. Para mediator menunggu tanggapan mereka terkait klausul bantuan dan peta penempatan kembali pasukan,” ujar sumber tersebut.

Jika Israel memberikan tanggapan positif, lanjut sumber itu, maka kesepakatan kerangka kerja dapat dinyatakan tercapai dan gencatan senjata akan segera diberlakukan.

Menanggapi kekhawatiran soal potensi pengusiran warga Palestina dari Gaza, seorang pejabat senior Hamas menegaskan bahwa terdapat jaminan bahwa Gaza tidak akan dikosongkan dari penduduknya.

Ia menambahkan, pembukaan perlintasan Rafah akan menjamin kebebasan mobilitas warga, mencegah Gaza berubah menjadi “penjara terbuka”, serta memungkinkan warga yang terdampar di Mesir untuk kembali dan berkumpul dengan keluarga mereka.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS menyampaikan bahwa utusan khusus mereka, Steve Witkoff, akan bertolak ke Eropa pekan ini untuk membahas situasi Gaza, dengan kemungkinan kunjungan lanjutan ke Timur Tengah.

“Kami memiliki harapan besar untuk mendorong gencatan senjata baru serta membuka koridor kemanusiaan guna memperlancar bantuan yang sebenarnya telah disepakati oleh kedua pihak,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, pada Selasa.

Hingga saat ini, perundingan tidak langsung antara Israel dan Hamas masih berlangsung di Doha, dengan melibatkan para mediator internasional. Fokus utama negosiasi adalah untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata yang memungkinkan pembebasan 10 tawanan Israel dengan imbalan pembebasan sejumlah tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

Namun, setelah lebih dari dua pekan negosiasi, belum ada hasil konkret yang dicapai. Kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan perundingan karena menolak mengalah pada tuntutan utama masing-masing.

Bagi Israel, penghancuran total kemampuan militer dan struktur pemerintahan Hamas adalah hal yang tidak bisa dinegosiasikan. Sementara Hamas bersikeras menuntut jaminan atas gencatan senjata permanen, penarikan penuh pasukan Israel, serta kelancaran masuknya bantuan ke Gaza.

Sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023, lebih dari 59.000 warga Palestina telah gugur di Gaza mayoritas adalah warga sipil, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza. Ribuan lainnya diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan. (Bahry)

Sumber: TNA

Tren S-Line: Simbol Rusaknya Generasi

Oleh: Devi Ramaddani

Belakangan, dunia maya diramaikan dengan fenomena “S-Line” dengan garis merah yang muncul dari atas kepala mereka. Awalnya muncul dari Korea Selatan yang diadaptasi dari Webtoon berjudul S-Line. Namun kini telah berkembang menjadi tren global yang merujuk pada seberapa banyak seseorang telah berhubungan seksual. Muda-mudi ramai memamerkan “pengalaman” mereka di media sosial, seperti TikTok dan X (Twitter), dengan gaya pamer yang justru mengundang decak kagum, bukan malu.

Di Indonesia, tren ini dengan cepat mendapat sambutan, terutama di kalangan Gen Z. Remaja tak lagi malu bicara soal zina, bahkan memamerkannya. Banyak yang menjadikan aktivitas zina sebagai “pengalaman dewasa” atau prestasi seksual yang layak diumbar.

Sayangnya, tren ini bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia lahir dari tanah yang telah subur oleh nilai liberalisme dan sekularisme. Ini adalah biang dari kerusakan mendalam dalam sistem kehidupan kita hari ini. Negara seolah kehilangan kendali atas moralitas publik. Dan masyarakat pun ikut terlarut dalam budaya permisif, memandang zina bukan sebagai dosa besar, melainkan pilihan gaya hidup. Lantas, bagaimana bisa hal seperti ini dianggap biasa? Apa yang sebenarnya salah?

Sekularisme: Biang Kerusakan Moral

Sistem sekuler-liberal telah menjauhkan agama dari kehidupan. Agama dianggap cukup hanya di masjid, sementara kehidupan termasuk urusan pendidikan, media, hingga hukum diserahkan pada logika manusia dan hawa nafsu.

Akibatnya Media dibiarkan menampilkan konten vulgar, drama percintaan bebas, bahkan adegan seksual atas nama seni. Pendidikan pula lebih menekankan nilai akademik dan keterampilan kerja, bukan pembentukan kepribadian Islam.

Disisi lain, keluarga kehilangan arah karena sistem ekonomi memaksa orang tua sibuk bekerja, meninggalkan anak tanpa bimbingan moral yang memadai. Alhasil tontonan jadi tuntunan bagi generasi lantaran minimnya edukasi. Negara tak hadir sebagai pelindung generasi, bahkan terkadang justru menjadi fasilitator gaya hidup bebas.

Dalam sistem sekuler, zina bukan dianggap kejahatan serius. Ia hanya jadi urusan pribadi, kecuali jika menimbulkan kehamilan yang tidak diinginkan atau dipublikasikan secara terang-terangan. Bahkan, tak sedikit selebritas atau publik figur yang justru mendapat panggung lebih besar setelah mengumbar kisah asusila mereka.

Islam Memuliakan Martabat dan Melindungi Generasi

Berbeda dengan sistem sekuler yang permisif, Islam hadir dengan sistem nilai yang paripurna, mengatur hubungan laki-laki dan perempuan bukan untuk mengekang, melainkan melindungi kemuliaan dan kehormatan manusia.

Ada rambu-rambu interaksi yang dilarang dalam Islam yaitu larangan berkhalwat maknanya pria dan wanita berkumpul di suatu tempat yang tidak mungkin orang lain untuk bergabung dengan ke duanya kecuali dengan izin ke duanya , termasuk Islam mengharamkan zina secara mutlak. Tak hanya itu, Islam melarang semua jalan yang mendekatinya, sebagaimana firman Allah:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)

Islam juga menetapkan sanksi tegas bagi pelaku zina, untuk yang belum menikah (ghairu muhsan): cambuk 100 kali dan pengasingan. untuk yang telah menikah (muhsan): rajam hingga mati, jika dibuktikan oleh 4 saksi atau pengakuan.

Solusi Islam untuk melindungi generasi dari fenomena seperti S-Line adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan Islam berbasis akidah: Mengintegrasikan ilmu dunia dengan nilai takwa, menjadikan murid paham halal-haram sejak dini.

2. Kontrol media dan budaya publik: Negara wajib menyaring konten yang merusak moral, serta mendorong konten dakwah dan pendidikan.

3. Sistem sosial Islam: Menjaga interaksi laki-laki dan perempuan sesuai syariat. Tidak ada campur baur bebas, apalagi konten vulgar.

4. Penegakan hukum syariah: Sanksi tegas dan menjerakan untuk pelaku zina akan menjaga kehormatan masyarakat.

5. Negara sebagai ra’in dan junnah: Negara hadir bukan hanya memberi layanan publik, tetapi juga melindungi umat dari serangan pemikiran dan budaya asing.

Seluruh solusi ini hanya bisa dijalankan secara utuh dalam sistem pemerintahan Islam, yaitu sistem kepemimpinan global yang pernah diterapkan lebih dari 13 abad dan menghasilkan peradaban gemilang dengan generasi penuh kehormatan.

Kini saatnya umat Islam sadar. Kita tidak butuh perbaikan parsial, tapi kembali total kepada Islam sebagai sistem hidup yang menyelamatkan.
Wallahu a’lam bish shawwab