Masih Ada 18 Jenazah Tawanan di Gaza, Hamas Butuh Alat Berat tapi Israel Tolak Bantuan Turki

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap bersenjata Hamas, Brigade Al-Qassam, menyerahkan jenazah seorang tawanan tambahan yang ditemukan di reruntuhan Jalur Gaza, Jumat (17/10) malam. Kelompok perlawanan Palestina itu sekaligus mendesak para mediator dan komunitas internasional menekan Israel agar membuka perlintasan perbatasan dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan.

Dalam pernyataannya, Brigade Al-Qassam menyebut penyerahan dilakukan pada pukul 23.00 waktu setempat (20.00 GMT) tanpa merinci lokasi penemuan. Jenazah tersebut disebut sebagai milik seorang “tahanan pendudukan”, yang menunjukkan bahwa korban adalah warga Israel.

Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kemudian mengonfirmasi penerimaan peti mati dari Hamas melalui Palang Merah. Jenazah tersebut dibawa ke Pusat Kedokteran Forensik Nasional Israel untuk proses identifikasi sebelum keluarga diberitahu.

Militer Israel meminta publik “bertindak dengan penuh kepekaan dan menunggu hasil identifikasi resmi,” seraya menuntut Hamas “mematuhi perjanjian dan mengembalikan semua sandera yang telah meninggal.”

𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀 𝗕𝘂𝘁𝘂𝗵 𝗔𝗹𝗮𝘁 𝗕𝗲𝗿𝗮𝘁 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗘𝘃𝗮𝗸𝘂𝗮𝘀𝗶

Hamas menegaskan tetap berkomitmen pada perjanjian gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, termasuk penyerahan jenazah tawanan yang belum ditemukan di bawah reruntuhan. Kelompok itu mengklaim telah menyerahkan semua jenazah yang berhasil dievakuasi, namun masih memerlukan bantuan alat berat untuk menemukan sisanya.

“Masih ada 18 jenazah yang tertahan di Gaza,” kata Hamda Salhut, jurnalis Al Jazeera yang melaporkan dari Amman. “Hamas menunggu bantuan berupa alat berat dan tim di lapangan.”

Namun, Hamas menuduh Israel menghambat proses tersebut dengan tidak mengizinkan masuknya buldoser baru ke Jalur Gaza. Sebagian besar alat berat di wilayah itu hancur selama perang, sementara warga Palestina berjuang membersihkan puing-puing dengan peralatan seadanya.

𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗧𝗮𝗸 𝗞𝗼𝗼𝗽𝗲𝗿𝗮𝘁𝗶𝗳 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗧𝗶𝗺 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻

Jurnalis Al Jazeera lainnya, Nour Odeh, melaporkan bahwa Israel juga tidak bekerja sama dengan negara-negara yang menawarkan bantuan teknis pencarian jenazah.

“Turki, misalnya, siap mengirimkan 81 ahli pencarian jenazah ke Gaza, namun Israel belum memberikan izin masuk, termasuk untuk peralatan yang dibutuhkan,” kata Odeh.

Pada hari yang sama, dua buldoser terlihat menggali di kawasan Kota Hamad, Khan Younis, tempat Hamas mencari jenazah para tawanan di bawah reruntuhan menara apartemen yang dibombardir Israel.

𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗣𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗻𝗰𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗧𝗿𝘂𝗺𝗽

Mantan diplomat senior Israel, Alon Liel, mengatakan pemulangan jenazah tawanan sangat sensitif bagi publik Israel, menciptakan tekanan besar terhadap pemerintah Netanyahu. Ia mengakui banyak warga Israel marah karena menilai Hamas belum mengembalikan semua jenazah tawanan sesuai perjanjian gencatan senjata.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa ia akan memberi lampu hijau bagi Israel untuk melanjutkan perang jika Hamas gagal memenuhi kesepakatan dan mengembalikan semua jenazah tawanan. Menurut Trump, jumlah jenazah yang belum dikembalikan mencapai 28 orang.

Dalam beberapa hari terakhir, Hamas telah menyerahkan sembilan jenazah tawanan dan satu jenazah lain yang diklaim Israel bukan tawanan.

𝗞𝗿𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮𝗮𝗻 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗣𝗮𝗿𝗮𝗵

Pemulangan jenazah tersebut terjadi di tengah kondisi kemanusiaan yang terus memburuk. Badan pertahanan sipil Gaza menyebut lebih dari 10.000 warga Palestina masih terjebak di bawah reruntuhan, sementara baru 280 jenazah yang berhasil dievakuasi.

Hamas kembali menyerukan agar para mediator menekan Israel membuka perbatasan Rafah, mempercepat distribusi bantuan, dan memulai rekonstruksi. Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak pekan lalu, Israel masih menahan masuknya bantuan berskala besar dan mempertahankan operasi militernya di sekitar separuh wilayah Gaza. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Lebih dari Satu Juta Perempuan dan Anak Gaza Butuh Bantuan Pangan Mendesak

GAZA (jurnalislam.com)– Badan PBB untuk Kesetaraan Gender, UN Women, memperingatkan bahwa lebih dari satu juta perempuan dan anak perempuan di Jalur Gaza masih membutuhkan bantuan pangan, meskipun saat ini tengah berlangsung gencatan senjata yang rapuh antara Hamas dan Israel.

Dalam keterangan pers di Jenewa pada Jumat (17/10), Direktur Kantor UN Women, Sofia Calltorp, mengatakan bahwa hampir seperempat juta perempuan dan anak di Gaza membutuhkan dukungan nutrisi mendesak.

“Gencatan senjata ini adalah kesempatan bagi kita untuk mengirimkan bantuan secepat mungkin dan menghentikan kelaparan sebelum terlambat,” kata Calltorp.

Ia menegaskan, jeda pertempuran yang tercapai awal bulan ini belum mengakhiri penderitaan rakyat Gaza. Banyak perempuan dan anak-anak yang telah mengungsi berulang kali kini menghadapi musim dingin tanpa tempat berlindung.

“Selama dua tahun terakhir, perempuan dan anak perempuan di Gaza terbunuh rata-rata dua orang setiap jam. Angka ini menggambarkan skala kekejaman perang yang akan menghantui hati nurani kolektif kita selama beberapa generasi,” ujarnya.

Calltorp menyebut sebagian besar perempuan di Gaza telah mengungsi sedikitnya empat kali selama perang. Gencatan senjata saat ini, katanya, menjadi kesempatan pertama bagi mereka untuk berhenti berlari, mencari tempat aman, dan mencoba membangun kembali kehidupan.

Ia menekankan bahwa pemulihan Gaza tidak akan mungkin terjadi tanpa peran aktif perempuan.

“Tidak akan ada pemulihan tanpa perempuan dan anak perempuan yang selama ini menjaga Gaza tetap bertahan di tengah kelaparan, ketakutan, dan pengungsian,” tegasnya.

Calltorp juga menyerukan kepada semua pihak untuk menegakkan gencatan senjata dan kepada para donor internasional agar segera meningkatkan dukungan kemanusiaan.

“Jika kebutuhan perempuan dan anak perempuan tidak dijadikan prioritas utama, dan jika organisasi perempuan tidak dilibatkan dalam proses pemulihan, maka mereka akan sepenuhnya terpinggirkan dari masa depan Gaza,” tambahnya.

Ia menutup dengan menekankan pentingnya investasi pada bantuan yang dipimpin perempuan, karena setiap dukungan yang diberikan, katanya, “adalah investasi untuk harapan.”

“Setiap dolar yang diinvestasikan dalam bantuan yang dipimpin perempuan menghasilkan manfaat delapan kali lipat bagi masyarakat,” pungkas Calltorp. (Bahry)

Sumber: TRT

ICC Tolak Banding Israel, Surat Penangkapan Netanyahu dan Gallant Tetap Berlaku

DEN HAAG (jurnalislam.com)– Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menolak permohonan banding Israel atas surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant yang dituduh melakukan genosida di Jalur Gaza.

Dalam putusan yang menjadi sorotan dunia, ICC pada November lalu menyatakan terdapat “alasan yang masuk akal” untuk meyakini bahwa Netanyahu dan Gallant memikul “tanggung jawab pidana” atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan pasukan Israel di Gaza.

Surat perintah penangkapan tersebut memicu kemarahan di Israel dan Amerika Serikat. Washington bahkan menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat senior ICC. Netanyahu mengecam keputusan itu sebagai tindakan “anti-Semit”, sementara Presiden AS saat itu, Joe Biden, menyebutnya “keterlaluan.”

Pada Mei lalu, Israel meminta ICC untuk membatalkan surat perintah penangkapan tersebut, sembari menggugat yurisdiksi ICC dalam kasus tersebut. Namun, pada 16 Juli, ICC menolak permintaan itu dengan alasan “tidak ada dasar hukum” untuk membatalkan surat perintah selama masalah yurisdiksi masih diproses.

Israel kemudian mengajukan banding atas putusan Juli tersebut, namun pada Jumat pekan ini (17/10), Majelis Hakim ICC kembali menolak banding itu.
“Persoalan yang dirumuskan oleh Israel bukanlah hal yang dapat diajukan banding,” demikian pernyataan resmi ICC dalam putusan setebal 13 halaman tersebut.

Sementara itu, para hakim ICC masih meninjau gugatan Israel yang lebih luas terkait yurisdiksi pengadilan dalam perkara ini.

Ketika surat perintah penangkapan pertama kali dikeluarkan pada November, Majelis Pra-Persidangan ICC sempat menolak keberatan Israel atas kewenangan pengadilan. Namun pada April, Majelis Banding memutuskan bahwa penolakan tersebut perlu ditinjau kembali secara lebih rinci.

Hingga kini, belum ada kejelasan kapan ICC akan mengeluarkan putusan akhir terkait yurisdiksi atas kasus yang melibatkan Netanyahu dan Gallant. (Bahry)

Sumber: TRT

Kementerian Kesehatan Gaza: Tahanan Palestina Disiksa, Terikat Seperti Binatang, dan Diduga Dicuri Organnya

GAZA (jurnalislam.com)— Seorang pejabat kesehatan senior di Gaza mengungkapkan adanya tanda-tanda penyiksaan dan luka bakar pada jenazah tahanan Palestina yang dikembalikan oleh Israel berdasarkan perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang berlaku sejak Jumat (10/10/2025).

“Jenazah para tahanan Gaza dikembalikan kepada kami dalam keadaan terikat seperti binatang, ditutup matanya, dan dengan tanda-tanda penyiksaan serta luka bakar yang mengerikan bukti kekejaman yang dilakukan secara rahasia,” kata Dr. Munir al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, dalam keterangannya pada Kamis (16/10).

Ia menggambarkan kondisi jenazah tersebut sebagai “kejahatan yang tidak dapat disembunyikan” dan menuduh bahwa banyak tahanan telah “dieksekusi setelah diikat.”

“Jenazah warga Palestina yang tidak bersalah ditinggalkan sebagai saksi kebrutalan para algojo. Mereka tidak mati secara wajar, tetapi dieksekusi setelah diikat,” ujarnya. Al-Bursh menyerukan dilakukannya investigasi internasional yang mendesak untuk membawa para pelaku ke pengadilan, sembari menyebut tindakan itu sebagai “kejahatan perang yang sesungguhnya.”

Sementara itu, Kantor Media Tahanan Palestina juga mengungkapkan adanya dugaan pencurian organ manusia dari beberapa jenazah yang dikembalikan.

“Data awal menunjukkan kemungkinan pencurian organ dari sejumlah jenazah, dalam kejahatan yang melampaui batas kemanusiaan dan menunjukkan praktik kriminal sistematis oleh pendudukan terhadap warga Palestina baik yang hidup maupun yang telah meninggal,” demikian pernyataan resmi kantor tersebut.

Mengutip hasil pemeriksaan medis dan forensik, kantor itu menambahkan bahwa banyak jenazah yang dikembalikan dalam keadaan diborgol, ditutup matanya, serta menunjukkan tanda-tanda penyiksaan berat, luka bakar, dan bekas injakan kendaraan lapis baja Israel.

“Bukti-bukti ini menegaskan bahwa beberapa korban dieksekusi dengan kejam setelah ditangkap pelanggaran terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional dan Konvensi Jenewa Keempat,” tambah pernyataan itu.

Kantor tersebut menyerukan dilakukannya investigasi internasional yang independen dan transparan untuk mengungkap para pelaku dan membawa mereka ke hadapan hukum internasional.

Sebelumnya pada hari Kamis, Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan telah menerima 30 jenazah warga Palestina dari Israel melalui Komite Palang Merah Internasional, dengan sejumlah di antaranya menunjukkan tanda-tanda penyiksaan.

Sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada Jumat lalu, setidaknya 120 jenazah warga Palestina telah dikembalikan oleh Israel kepada otoritas Gaza. (Bahry)

Sumber: TRT

Trump Isyaratkan Gencatan Senjata Bisa Gagal Jika Hamas Tak Melucuti Senjata

GAZA (jurnalislam.com)- Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan kemungkinan dilanjutkannya operasi militer Israel di Gaza jika Hamas tidak mematuhi isi perjanjian gencatan senjata yang ditengahi oleh Washington.

Dalam wawancara dengan CNN pada Rabu (15/10), Trump mengatakan, ia mungkin akan “mengizinkan Israel kembali ke Gaza segera setelah saya mengucapkan kata-kata” jika Hamas gagal memenuhi komitmennya.

“Apa pun yang terjadi dengan Hamas akan segera diperbaiki,” ujarnya.

Trump mengklaim bahwa Hamas telah mulai “membasmi geng-geng kriminal” di Gaza, namun ia juga menegaskan tengah “menyelidiki” laporan pembunuhan di lapangan.

“Jika Hamas menolak melucuti senjata, Israel akan kembali turun ke jalan.” imbuhnya.

Pernyataan itu sejalan dengan instruksi Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang memerintahkan militer menyiapkan “rencana komprehensif” untuk mengalahkan Hamas jika gencatan senjata runtuh.

Israel juga dilaporkan menghentikan konvoi bantuan kemanusiaan menuju Gaza dan menunda pembukaan kembali perlintasan Rafah dengan Mesir, dengan alasan Hamas belum menyerahkan jenazah tawanan Israel sesuai kesepakatan.

𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀: 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗦𝗲𝗯𝗮𝗯𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗹𝗮𝗺𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻

Menanggapi tuduhan tersebut, seorang pejabat senior Hamas mengatakan bahwa pelanggaran Israel yang terus berlanjut serta kerusakan besar akibat dua tahun perang telah mempersulit proses pencarian dan pemulihan jenazah tawanan.

“Hamas telah menyerahkan sejumlah jenazah dan mengonfirmasi bahwa proses evakuasi lainnya terhambat karena keterbatasan peralatan dan kondisi medan akibat pemboman Israel,” katanya.

Sumber Hamas lainnya mengatakan kepada Arabi21 bahwa hingga kini tahap kedua rencana Trump belum dibahas.

“Tidak ada tanggal pasti untuk perundingan baru. Fokus kami saat ini adalah menekan Israel agar menghormati ketentuan tahap pertama,” ungkap sumber tersebut. (Bahry)

Sumber: TNA

PBB: Israel Terus Bunuh Warga Palestina di Gaza Meski Ada Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)— Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa Israel terus melakukan pembunuhan terhadap warga sipil Palestina di Jalur Gaza, meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak pekan lalu.

Petugas medis di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis melaporkan bahwa dua warga Palestina tewas dalam serangan terpisah oleh Israel pada Kamis pagi (16/10).

Seorang pria dilaporkan tewas akibat serangan pesawat nirawak Israel di Bani Suheila, wilayah selatan Khan Younis. Sementara itu, seorang lainnya meninggal dunia karena luka yang dideritanya awal pekan ini di dekat Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi Kota Gaza.

Sejak gencatan senjata dimulai pada Jumat lalu, puluhan jenazah telah ditemukan dari reruntuhan bangunan di berbagai wilayah Gaza, dan sedikitnya tiga orang kembali tewas akibat serangan baru Israel.

PBB menyebut pelanggaran-pelanggaran ini menunjukkan bahwa kondisi gencatan senjata masih “rapuh dan berbahaya”, menyusul dua tahun pemboman tanpa henti yang telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza.

𝗣𝗕𝗕 𝗦𝗲𝗿𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗗𝘂𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹

Kepala Badan Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, dalam konferensi di Kairo menyebut Gaza kini menjadi “tanah terlantar” dan mendesak komunitas internasional untuk menunjukkan “kemurahan hati dan akses nyata” agar gencatan senjata tidak runtuh.

“Kami membutuhkan dana, kami membutuhkan akses, dan kami membutuhkan perjanjian damai ini untuk dipertahankan,” ujarnya. (Bahry)

Sumber: TNA

Tentara Israel Akui Hamas Izinkan Ibadah dan Beri Taurat Selama Ditawan

GAZA (jurnalislam.com)— Seorang tentara Israel yang baru-baru ini dibebaskan oleh Hamas mengungkapkan bahwa kelompok perlawanan Palestina itu memperlakukannya dengan baik, bahkan memfasilitasi dirinya untuk tetap menjalankan ibadah Yahudi selama masa penawanan di Gaza.

Matan Angrest, tentara Israel yang dibebaskan pada Senin (13/10), mengatakan kepada Channel 13 Israel bahwa ia meminta perlengkapan ibadah seperti tefillin (filakteri yang digunakan saat ibadah), sebuah buku doa, dan gulungan Taurat kepada Hamas.

“Hamas memenuhi permintaan itu. Mereka memberikannya kepada saya, barang-barang tersebut diambil dari tempat yang sebelumnya diduduki tentara Israel di Gaza,” ungkap Angrest.

Ia menuturkan bahwa selama masa penahanan di terowongan Gaza, ia tetap menjalankan doa tiga kali sehari dan selamat dari beberapa serangan udara Israel yang menghantam wilayah dekat tempat ia ditahan.

Perlakuan terhadap para tawanan oleh sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, kerap menarik perhatian publik. Dalam beberapa pembebasan sebelumnya, para tawanan yang dilepaskan terlihat melambaikan tangan dan mengucapkan salam perpisahan kepada para pejuang yang menjaga mereka.

Hamas berulang kali menegaskan bahwa mereka berupaya melindungi nyawa para tawanan dan memperingatkan bahwa pemboman “tanpa pandang bulu dan berdarah” oleh Israel di Gaza justru membahayakan para tawanan tersebut.

Dalam dua tahun terakhir, operasi militer Israel di Gaza dilaporkan telah menyebabkan 26 tawanan tewas, sebagian akibat serangan udara Israel sendiri atau kondisi penahanan yang memburuk akibat pemboman.

Hamas menangkap sekitar 251 tawanan dalam serangan terhadap wilayah Israel pada 7 Oktober 2023.

Salah satu insiden paling disorot terjadi pada Desember 2023, ketika tentara Israel menembak mati tiga tawanan Israel yang saat itu sedang mengibarkan bendera putih. Militer Israel kemudian mengakui tindakan tersebut sebagai “kesalahan tragis”.

Pada 9 Februari 2024, militer Israel juga mengumumkan hasil penyelidikan bahwa seorang tawanan bernama Yossi Sharabi, warga Kibbutz Be’eri di dekat perbatasan Gaza, “kemungkinan tewas” akibat serangan udara Israel. Pihak kibbutz sendiri telah mengumumkan kematiannya sebulan sebelumnya.

Sejak awal pekan ini, Hamas telah membebaskan 20 tawanan Israel hidup-hidup dan menyerahkan jenazah 10 tawanan lainnya pada Rabu malam (15/10) sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

Kelompok tersebut menyebut proses evakuasi jenazah lainnya masih terkendala karena minimnya peralatan dan intensitas pemboman Israel yang menyebabkan kerusakan besar serta menghalangi akses ke sejumlah area.

Sementara itu, Israel dilaporkan telah membebaskan 250 warga Palestina yang divonis seumur hidup, serta 1.718 tahanan lainnya yang ditangkap di Gaza setelah 8 Oktober 2023.

Foto-foto pembebasan tawanan Israel menunjukkan mereka tampak bersih dan tersenyum berbanding terbalik dengan kondisi para tahanan Palestina yang dibebaskan dari penjara-penjara Israel.

Rekaman video menunjukkan tahanan Palestina terlihat lemah, kelelahan, dan trauma setelah mengalami penahanan panjang yang disertai penyiksaan. Sejumlah lembaga hak asasi manusia juga melaporkan adanya kekerasan fisik, pemerkosaan, serta perampasan kebutuhan dasar seperti makanan dan obat-obatan di penjara-penjara Israel.

Lebih dari 10.000 warga Palestina masih mendekam di penjara Israel, termasuk anak-anak dan perempuan. Banyak di antaranya ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan di bawah status “penahanan administratif”.

Didukung Amerika Serikat, agresi Israel di Gaza sejak 8 Oktober 2023 hingga kini telah menewaskan sedikitnya 67.913 warga Palestina dan melukai 170.134 orang lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak. (Bahry)

Sumber: TNA

DSKS Tegaskan Dukungan untuk Ulama, Desak KPI Sanksi TRANS7

SURAKARTA (jurnalislam.com)— Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menyampaikan kecaman keras terhadap program Xpose Uncensored yang tayang di stasiun televisi TRANS7 pada 13 Oktober 2025. Tayangan tersebut dinilai telah memuat ujaran dan narasi yang melecehkan KH. Anwar Manshur serta lembaga Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Dalam pernyataan sikap bernomor 058/SEK/DSKS/X/2025 yang diterima redaksi pada Rabu (15/10/2025), DSKS menilai siaran itu telah melukai perasaan umat Islam dan merendahkan martabat para guru agama.

“Kami mengecam keras segala bentuk siaran televisi, konten media, atau publikasi apa pun yang mengandung penghinaan, pelecehan, atau pencemaran nama baik terhadap ustadz, kiai, maupun lembaga pendidikan Islam,” ungkap Rois Tanfidzi DSKS Ustadz Abdul Rachim Ba’asyir dalam pernyataannya.

DSKS juga menuntut pihak TRANS7 untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada KH. Anwar Manshur melalui media nasional serta melakukan klarifikasi resmi atas tayangan tersebut.

Selain itu, DSKS mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar segera menegakkan kode etik penyiaran dan menjatuhkan sanksi administratif terhadap stasiun televisi yang bersangkutan.

Dalam butir lainnya, DSKS menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) apabila kasus ini dibawa ke ranah hukum.

Ustadz Abdul Rachim juga mengimbau seluruh media massa dan kreator konten agar lebih berhati-hati dalam menayangkan materi yang menyangkut tokoh agama, pesantren, dan lembaga dakwah.

“Dengan tetap menjunjung tinggi etika jurnalistik serta nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan,” katanya.

“Menegaskan dukungan penuh kepada para ustadz dan kiai dalam menjalankan tugas mulia mereka membimbing umat dan menjaga moralitas bangsa,” pungkasnya.

Trump Umumkan “Fase Kedua” Gencatan Senjata Gaza, Hamas Akan Pulangkan Jenazah Tawanan Israel

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa sudah waktunya untuk beralih ke fase berikutnya dari kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, karena pihak Hamas akan memulangkan lebih banyak jenazah tawanan Israel.

“Kedua puluh sandera telah kembali dan merasa sebaik yang diharapkan. Beban berat telah terangkat, tetapi pekerjaan belum selesai,” kata Trump melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Selasa (14/10).

“Jenazah yang disandera belum dipulangkan, seperti yang dijanjikan! Fase kedua dimulai sekarang juga!” tulisnya.

Pernyataan itu disampaikan hanya beberapa jam setelah Trump kembali dari kunjungan singkat ke Israel dan Mesir, yang menjadi bagian dari upaya diplomatiknya dalam memperkuat kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza.

Menurut seorang pejabat yang terlibat dalam operasi pemulangan tawanan, Hamas telah memberi tahu para mediator bahwa mereka akan memindahkan jenazah empat tawanan Israel lainnya yang telah meninggal ke pihak Israel pada pukul 19.00 GMT, Selasa malam, sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Selama kunjungan tersebut, Trump mencanangkan apa yang ia sebut sebagai “fajar bersejarah bagi Timur Tengah yang baru”, setelah para pemimpin regional menandatangani deklarasi untuk memperkuat gencatan senjata di Gaza dan membuka jalur diplomasi baru.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, 20 tawanan Israel yang masih hidup dibebaskan oleh Hamas tak lama sebelum Trump tiba di Tel Aviv.

Namun, meskipun Hamas telah mengembalikan empat jenazah tawanan Israel pada hari Senin, kelompok perlawanan itu masih menahan 24 jenazah lainnya, yang diperkirakan akan dikembalikan secara bertahap sesuai dengan ketentuan perjanjian gencatan senjata.

Sementara itu, pihak Palestina di Gaza melaporkan bahwa sebuah rumah sakit setempat telah menerima 45 jenazah warga Palestina yang diserahkan kembali oleh Israel sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran jenazah dan penghentian perang.

Perjanjian gencatan senjata ini menjadi bagian dari inisiatif perdamaian regional yang dimediasi oleh Mesir dan Qatar, dengan dukungan langsung dari pemerintahan Trump, menyusul dua tahun agresi Israel yang menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina dan menyebabkan kehancuran besar di Jalur Gaza. (Bahry)

Sumber: TRT

Unit Bayangan Hamas Muncul Saat Pertukaran Tawanan, Israel Akui Hamas Masih Kuasai Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), menyampaikan penghormatan khusus kepada “Unit Bayangan” pada Selasa (14/10), menyusul penyerahan sejumlah tentara Israel yang ditawan oleh perlawanan Palestina.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui kanal Telegram resminya, Brigade Al-Qassam menulis:

“Penghormatan yang pantas bagi para tentara tak dikenal dari Unit Bayangan.”

Mereka menggambarkan unit tersebut sebagai kelompok yang bertanggung jawab menjaga dan menyembunyikan tawanan Israel di Jalur Gaza, di tengah upaya intensif penjajah Zionis untuk mengungkap keberadaan para tawanan tersebut.

Brigade Al-Qassam menambahkan, penghormatan itu diberikan untuk para anggota unit yang “melindungi para tawanan musuh selama dua tahun Intifada Al-Aqsa di bawah kondisi paling sulit, mengorbankan tenaga dan darah mereka hingga janji perlawanan untuk membebaskan para tawanan Palestina dapat terpenuhi.”

Unit Bayangan dikenal beroperasi secara sangat rahasia karena sensitifnya misi mereka, yakni memastikan keamanan tawanan Israel di Gaza dan menjaga kerahasiaan penuh demi keberhasilan operasi pertukaran tawanan di masa mendatang.

Keberadaan unit ini pertama kali diakui secara publik pada tahun 2016, satu dekade setelah pembentukannya. Saat itu, terungkap bahwa mereka turut mengawal tawanan Israel Gilad Shalit operasi yang kemudian menghasilkan kesepakatan pertukaran tawanan besar antara Hamas dan Israel.

Menjelang pembebasan tawanan terbaru pada Senin (13/10), anggota unit tersebut bahkan mengizinkan para tawanan berbicara melalui telepon dengan keluarga mereka. Salah seorang anggota, dalam rekaman yang beredar, berbicara dalam bahasa Ibrani dan meminta agar percakapan itu disebarluaskan agar media Israel menyiarkan rekaman dari dalam Gaza.

Media Israel, Channel 12, kemudian melaporkan kemunculan kembali “Unit Bayangan Hamas” yang bertanggung jawab mengamankan para tawanan selama proses pembebasan tahap pertama di Kota Gaza.

Kehadiran unit tersebut, menurut laporan itu, memicu kemarahan di kalangan analis Israel yang menilai bahwa kemunculan publik Unit Bayangan merupakan bukti bahwa “Hamas masih menguasai Gaza, titik.” (Bahry)

Sumber: PC