Merawat Cahaya di Tanah Minoritas, Kiprah Daiyah Aini Hafifah di Toraja

Hari itu, 31 Agustus 2025. Di antara deru kendaraan di Terminal Bus Metro Permai, Makassar, tampak sosok muda berkerudung rapi tengah menenteng tas besar. Ia adalah Aini Hafifah, seorang da’iyyah (pendakwah perempuan) yang bersiap menuju Kabupaten Tana Toraja, wilayah pegunungan yang dikenal dengan masyarakat mayoritas non-Muslim.

Langkahnya bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati, menyalakan cahaya Islam di tanah yang sunyi dari lantunan adzan.

Berangkat pukul 09.30 WITA bersama dua pendamping, perjalanan menuju Toraja memakan waktu hampir delapan jam. Jalan menanjak dan berliku menjadi saksi tekadnya. Setibanya di pesantren, ia disambut suasana sederhana, namun penuh semangat dan kehangatan santri.

Kehadirannya merupakan bagian dari program pengabdian da’iyyah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), misi yang bukan hanya mengajar, tetapi juga menghidupkan ruh pesantren di tengah masyarakat minoritas Muslim.

Mendidik dan Menumbuhkan Iman di Tanah Minoritas

Sejak awal kedatangannya, Ustazah Aini langsung terlibat dalam pembinaan santri. Ia mendampingi peserta Lomba Kemah Tahfidz Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan di Sidrap (13–17 September 2025). Bersama santri SMP Pesantren Pembangunan Muhammadiyah Tana Toraja, mereka berhasil membawa pulang dua piala di bidang tilawah Al-Qur’an.

Kemenangan itu menjadi bukti bahwa semangat dakwah dan cinta Al-Qur’an tetap menyala meski di tengah masyarakat yang berbeda keyakinan.

Pada 22 September 2025, Aini memulai hari pertamanya mengajar. Ia menyapa para santri dengan hangat lewat permainan dan diskusi ringan. Selain mengajar menulis, ia juga membimbing tahsin Al-Qur’an dan shalat Dhuha berjamaah, menanamkan disiplin serta kecintaan pada ibadah.

Malam hari, kegiatan rutin Qira’atul Surah Al-Mulk dan penyetoran mufradat bahasa Arab menjadi sarana pembinaan karakter dan kecintaan terhadap ilmu.

Dakwah yang Hidup dari Hati

Setiap akhir pekan, Ustazah Aini mengajak santriwati untuk kegiatan “Jalan Pagi & Bincang Santri” ruang santai untuk berbagi cerita, mendengarkan keluh kesah, dan mempererat kedekatan.

Di tengah lingkungan yang penuh perbedaan, Aini selalu menegaskan satu pesan, “Dakwah bukan tentang siapa yang paling banyak bicara, tapi siapa yang paling konsisten menebar kebaikan.”

Kehadiran Aini Hafifah diToraja menjadi simbol keteguhan dan harapan bahwa pesantren bisa tetap hidup, dan cahaya Islam akan terus menyala selama masih ada da’iyyah yang berani menjejak, mengajar, dan mencintai umat dengan ketulusan.

Perjuangan Belum Usai: Gencatan Senjata Sebatas Rehat Sejenak

Oleh : Herliana Tri M

Israel dan Hamas yang menyepakati gencatan senjata tahap pertama di Jalur Gaza, pada Rabu (8/10/2025).
Pengumuman kesepakatan ini disampaikan oleh cial Truth ( CNN Indonesia, 09/10/2025)

“Saya sangat bangga mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani Tahap Pertama Rencana Perdamaian (Peace Plan) kami,” tulis Trump.

Israel menyambut baik kesepakatan tersebut sebagai “hari yang baik” untuk mereka. Sementara itu, Hamas meminta Trump dan komunitas internasional agar mendesak pemerintahan Benjamin Netanyahu mematuhi kesepakatan. Dalam unggahan tersebut, Trump menyebutkan bahwa kesepakatan mencakup pembebasan seluruh sandera dari Gaza serta penarikan pasukan Israel.

“Seluruh sandera akan dibebaskan segera dan Israel menarik pasukan ke garis yang disetujui,” kata Trump. Sementara itu, Qatar sebagai salah satu mediator menyampaikan gambaran kasar fase pertama ini. Namun, rincian lebih lanjut akan disampaikan di kemudian hari.

Lebih detilnya lagi seorang pejabat Hamas mengatakan akan menukar 20 sandera yang masih hidup dengan 2.000 tahanan Palestina di penjara Israel. Pertukaran tahanan akan dilakukan dalam waktu 72 jam setelah implementasi kesepakatan, yang juga “disepakati dengan faksi-faksi Palestina”.

Selain pertukaran tahanan, minimal 400 truk yang membawa bantuan kemanusiaan juga akan masuk ke Jalur Gaza setiap hari, selama lima hari pertama gencatan senjata.

Jiwa Pejuang Sang Pemenang

Tak bisa dipungkiri, kegigihan, kesabaran, daya juang rakyat Gaza dalam mempertahankan tanah para Nabi telah menggerakkan seluruh mata dunia untuk memberikan dukungannya. Tak hanya berkorban harta, boikot, aksi- aksi di berbagai belahan dunia, namun kesabaran rakyat Gaza menghadapi penjajahan membuat rakyat dunia rela berkorban nyawa saat berjuang menembus blokade Israel di laut lepas menuju Gaza. Gerakan Global Sumud Flotilla, sebuah gerakan kemanusiaan yang mengirimkan bantuan ke Gaza.

Menjadi salah satu dari sekian banyak upaya perjuangan rakyat sipil dunia untuk menembus blokade Israel. Perjuanagn rakyat dunia menyambut kegigihan dan kesabaran rakyat Gaza menghadapi Genosida Israel.

Desakan rakyat sipil Internasional ditambah kegigihan pejuang- pejuang militan dalam berjihad menjadi potensi ancaman di sekeliling Zionis Israel. Di antaranya adalah di Lebanon ada Hizbullah, gerakan Suriah, dari Yordania, lalu juga pejuang dari Mesir. Dan ancaman paling dekat bagi Israel secara faktual adalah Taufan al-Aqsa yang datang dari Gaza, yaitu dari milisi Hamas.

Tekanan yang terus mendesak bahkan tak surut meski bombardir dan pelaparan sistematik telah dilakukan Israel, menjadikannya mau duduk untuk memberikan “jeda” yakni berupa gencatan senjata.

Gencatan senjata menjadi jeda sesaat bagi warga Gaza untuk kembali ke kampung halaman meski dengan kepedihan yang mendalam. Menuju kampung halaman yang sudah porak poranda akibat hantaman serangan Israel. Belum lagi kesedihan karena meninggalnya anggota keluarga atau luka- luka akibat serangan Israel. Jeda sesaat untuk “bernafas” dan mengembalikan kekuatan.

Yang pasti, perang ini belum usai. Kepedihan rakyat Gaza belum berakhir. Mata dunia harus terus mengawal kondisi Gaza. Karena dengan penjajahan yang tak berimbang kekuatannya, membutuhkan kekuatan luar untuk mendukung perjuangan Gaza. Apalagi Israel masih tetap menguasai Palestina, sehingga sewaktu- waktu bisa memborbardir kembali.

Padahal solusi bagi Palestina ini lebih mudah seandainya negara turut campur memberikan bantuan senjata dan mliternya untuk Gaza. Mengusir penjajah dari tanah jajahan. Apalagi kekuatan militer- militer sekitar Gaza cukup canggih untuk menghentikan genosida yang ada. Jangankan kekuatan senjata dari negara- negara sekitar Gaza, untuk menghadapi kegigihan pejuang Gsza saja sampai sekarang Israel masih kewalahan dan belum berhasil menuntaskan ambisinya. Artinya, untuk menyelesaikan penjajahan ini cukup dengan bantuan negara yang memiliki nyali membantu dengan kekuatan militer dan senjatanya.

Israel Tolak Bebaskan Dua Dokter Palestina dalam Kesepakatan Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)– Rezim Zionis Israel menolak membebaskan dua dokter Palestina dalam kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober 2025 antara Israel dan Hamas, termasuk Dr. Hussam Abu Safiya, direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara.

Seorang pejabat Hamas mengatakan kepada CNN bahwa Tel Aviv menolak memasukkan nama Dr. Safiya dalam daftar tahanan yang dibebaskan.

Selain Safiya, Israel juga menolak membebaskan Dr. Marwan Al Hams, direktur rumah sakit lapangan di Gaza, tambah pejabat tersebut.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, kedua dokter senior itu ditahan oleh pasukan Israel pada bulan Juli lalu.

Dr. Abu Safiya sendiri ditangkap pada 27 Desember 2024, ketika pasukan pendudukan menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan, memaksanya keluar dengan todongan senjata, dan menghancurkan sebagian besar fasilitas rumah sakit hingga tidak dapat digunakan kembali.

Sejak saat itu, ia ditahan berdasarkan “Undang-Undang Kombatan Ilegal” Israel peraturan yang memungkinkan penahanan tanpa pengadilan berdasarkan bukti rahasia.

Dr. Abu Safiya dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sistem kesehatan Gaza. Ia tetap bertugas di rumah sakit di tengah serangan udara intensif, menolak perintah evakuasi, dan terus merawat warga sipil yang terluka hingga detik terakhir sebelum penangkapannya.

Tim hukum Dr. Safiya melaporkan bahwa ia belum pernah dihadapkan ke pengadilan sejak Maret dan mengalami kondisi penahanan yang berat, termasuk kekerasan fisik, isolasi berkepanjangan, serta kurangnya perawatan medis.

Meski berbagai organisasi internasional menyerukan pembebasannya karena kondisi kesehatannya yang memburuk dan peran vitalnya dalam sistem medis Gaza, Israel tetap menolak melepaskannya.

Rekaman video penangkapannya menunjukkan Dr. Safiya masih mengenakan jas medis putih, berjalan di tengah reruntuhan menuju tank-tank Israel.

Militer Israel berdalih bahwa ia ditahan sebagai “tersangka” dan tengah diselidiki atas dugaan “keterlibatan dalam aktivitas Hamas.”

Pada bulan September, Physicians for Human Rights (PHR) melaporkan bahwa salah satu pengacara mereka baru saja mengunjungi Abu Safiya di Penjara Ofer, barat Ramallah, Tepi Barat. Kelompok tersebut menyebut Abu Safiya kehilangan berat badan hampir 25 kilogram, menderita kudis, dan mengalami penurunan kesehatan drastis tanpa mendapat perawatan medis yang layak.

PHR juga melaporkan bahwa dokter itu menjadi sasaran kekerasan fisik, penolakan pemeriksaan medis, serta kekurangan makanan dan pakaian bersih selama penahanan.

Naji Abbas, kepala Departemen Tahanan PHR, mengecam tindakan tersebut sebagai “kejahatan moral dan hukum”, dan mendesak Israel segera membebaskan Abu Safiya serta tenaga medis Palestina lainnya yang masih ditahan.

Pada Februari lalu, media Israel menayangkan video yang memperlihatkan Abu Safiya dalam kondisi tangan dan kaki diborgol serta tampak sangat lelah.

Dr. Safiya juga mengalami kehilangan besar selama agresi. Putranya, Ibrahim, gugur ketika pasukan Israel menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan pada 26 Oktober 2024.
Sebulan kemudian, Abu Safiya sendiri terluka dalam serangan di rumah sakit tersebut, namun menolak meninggalkan tempatnya bertugas dan tetap merawat pasien hingga akhirnya ditangkap pada 27 Desember 2024. (Bahry)

Sumber: TRT

Israel Deportasi Tahanan Tingkat Tinggi Palestina ke Luar Negeri Setelah Kesepakatan Gencatan Senjata

TEPI BARAT (jurnalislam.com)– Sejumlah tahanan tingkat tinggi Palestina yang sebelumnya menjalani hukuman seumur hidup di penjara-penjara Israel dideportasi ke luar negeri, menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang berlaku pada Senin (13/10/2025).

Menurut pernyataan resmi Hamas, sebanyak 154 tahanan Palestina dikirim ke luar negeri melalui Mesir setelah mereka termasuk dalam daftar pembebasan. Deportasi ini dilakukan bersamaan dengan proses pembebasan hampir 2.000 tahanan lainnya dari berbagai penjara Israel.

Di antara mereka yang dideportasi terdapat beberapa tokoh penting perlawanan Palestina, termasuk Iyad Abu al-Rub, seorang komandan Jihad Islam Palestina (PIJ) yang disebut Israel bertanggung jawab atas tiga serangan bom bunuh diri di Shadmot Mechola, Tel Aviv, dan Hadera antara tahun 2003–2005. Serangan tersebut menewaskan 13 tentara Israel.

Tahanan lain yang juga dideportasi adalah Muhammad Zakarneh, anggota Gerakan Fatah, yang dituduh merencanakan serangan pada tahun 2009 yang menewaskan seorang sopir taksi Israel, serta Muhammad Abu al-Rub, yang disebut terlibat dalam serangan penusukan pada tahun 2017 yang menewaskan warga Israel bernama Reuven Shmerling.

Sumber-sumber Palestina menyebut, sebagian besar dari mereka diterbangkan ke Mesir sebelum kemungkinan dipindahkan ke negara ketiga. Israel dilaporkan menolak mengizinkan para tahanan tersebut kembali ke Tepi Barat atau Jalur Gaza karena dianggap “berpotensi mengancam keamanan.”

Langkah deportasi ini menuai kritik dari berbagai pihak Palestina. Mereka menilai tindakan tersebut melanggar hukum internasional yang melarang pemindahan paksa tahanan ke luar wilayah pendudukan.

“Ini bukan pembebasan, tetapi bentuk pengasingan paksa,” ujar salah satu anggota keluarga tahanan kepada media lokal Palestina.

Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas tidak hanya mencakup pertukaran tahanan dan sandera, tetapi juga rencana pemulangan 360 jenazah pejuang Gaza yang masih ditahan Israel.

Sementara itu, Hamas menegaskan akan terus menuntut pembebasan para tokoh utama, termasuk Marwan Barghouti, pemimpin populer Fatah yang hingga kini masih ditahan dengan lima hukuman seumur hidup. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera, TOI

Israel Bebaskan Hampir 2.000 Tahanan Palestina dalam Kesepakatan Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)– Rezim Zionis Israel pada Senin (13/10/2025) membebaskan hampir 2.000 warga Palestina termasuk ratusan narapidana yang divonis penjara seumur hidup sebagai bagian dari kesepakatan untuk mencapai gencatan senjata dan pembebasan para sandera yang ditawan oleh Hamas di Jalur Gaza.

Tak lama setelah 20 sandera Israel dibebaskan, otoritas penjara Israel mengangkut 1.968 tahanan Palestina menggunakan bus menuju Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Di antara mereka yang dibebaskan terdapat 250 tahanan keamanan, sebagian besar menjalani satu atau lebih hukuman seumur hidup atas tuduhan melakukan serangan terhadap pasukan pendudukan Israel. Di antara mereka juga terdapat seorang polisi Palestina yang ikut dalam pembunuhan dua tentara cadangan Israel pada awal Intifada Kedua tahun 2000.

Pada saat yang sama, di Penjara Ketziot, Israel selatan, sebanyak 1.718 tahanan Gaza yang ditangkap pasukan pendudukan pasca serangan 7 Oktober 2023 turut dibebaskan. Di antara mereka terdapat sejumlah perempuan dan anak-anak.

Keluarga para korban serangan yang dilakukan para tahanan tersebut mengungkapkan rasa sedih mendalam, di tengah kegembiraan atas kembalinya para sandera yang selamat.

Pagi harinya, polisi dan pasukan penjara Israel tiba di Penjara Ofer, dekat Ramallah, untuk mempersiapkan proses pembebasan. Sekitar 88 tahanan dikirim kembali ke Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Poster-poster yang menempel di tembok luar penjara bertuliskan ancaman terhadap Hamas: “Barangsiapa mengancam akan terjadi banjir, ia akan tenggelam dan musnah,” merujuk pada nama operasi “Taufan Al-Aqsa” yang digunakan Hamas untuk serangan 7 Oktober 2023.

Pasukan pendudukan IDF menembakkan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan kerumunan keluarga tahanan di luar pagar pemisah Tepi Barat yang berkumpul merayakan pembebasan tersebut.

Beberapa jam sebelum proses pembebasan, aparat keamanan Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur memperketat pengawasan terhadap tahanan yang dibebaskan dan keluarga mereka agar tidak merayakan di wilayah yang dikuasai Israel.

Namun sesampainya di Ramallah, para tahanan disambut dengan perayaan besar. Ribuan warga menyambut dua bus yang tiba di pusat komunitas kota itu. Pasukan keamanan Otoritas Palestina sempat memindahkan warga agar bus bisa lewat.

Mengenakan pakaian olahraga abu-abu khas penjara Israel, sebagian tahanan tampak lemah saat turun dari bus. Mereka langsung dipeluk keluarga yang telah menanti bertahun-tahun.

“Rasanya tak terlukiskan, seperti kelahiran baru,” kata Mahdi Ramadan (43), salah satu tahanan yang baru dibebaskan, kepada AFP. Ia mengaku akan menghabiskan malam pertamanya di luar penjara bersama orang tuanya.

Suasana haru mewarnai penyambutan. Kerabat saling berpelukan, beberapa pemuda menangis hingga pingsan karena tak kuasa menahan emosi. Seruan “Allahu Akbar” menggema di tengah kerumunan.

𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗯𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗵𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗚𝗮𝘇𝗮

Para tahanan asal Gaza diangkut dengan 38 bus menuju Jalur Gaza. Di tengah perjalanan, pasukan khusus Israel dari unit Masada menyerbu salah satu bus setelah beberapa tahanan membuka tirai jendela dalam bentuk perayaan. Menurut Dinas Penjara Israel, tindakan cepat dilakukan tanpa menimbulkan korban luka.

Bus-bus kemudian melanjutkan perjalanan ke Gaza melalui pos pemeriksaan Kerem Shalom, dan tiba di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza selatan. Rekaman Reuters menunjukkan puluhan pria bersenjata bertopeng berpakaian hitam diduga anggota sayap militer Hamas menyambut kedatangan para tahanan bersama warga Gaza yang bersorak dan melambaikan bendera Palestina.

“Saya bahagia untuk putra-putra kami yang dibebaskan, tetapi kami masih berduka untuk semua yang gugur dan kehancuran di Gaza kami,” ujar seorang perempuan yang menyebut dirinya Um Ahmed kepada Reuters melalui pesan suara, menahan tangis di tengah suasana haru.

Daftar tahanan terakhir disebut sempat diperdebatkan hingga menit-menit akhir oleh negosiator Hamas. Mereka berupaya agar sejumlah tokoh penting, termasuk pemimpin populer Fatah Marwan Barghouti, dimasukkan ke dalam daftar, namun gagal.

Sebagai bagian akhir dari kesepakatan, kedua pihak juga menyetujui pemindahan 360 jenazah pejuang Gaza. Namun proses pemulangan jenazah tersebut baru akan dilakukan setelah Hamas menyerahkan jenazah 28 sandera Israel yang tewas akibat serangan udara Zionis. (Bahry)

Sumber: TOI

Hamas Bebaskan 13 Sandera Tambahan, Seluruh Sandera yang Masih Hidup Kini Diserahkan ke Palang Merah

GAZA (jurnalislam.com)– Tiga belas sandera Israel kembali dibebaskan oleh Hamas dan diserahkan kepada Palang Merah di Khan Younis, Gaza selatan, pada Senin sore (13/10/2025). Dengan pembebasan ini, total 20 sandera telah diserahkan sejak pagi hari.

Menurut pernyataan militer Israel, ke-13 sandera yang dibebaskan tersebut kini berada di tangan pasukan IDF di Jalur Gaza. Mereka adalah Elkana Bohbot, Avinatan Or, Yosef-Haim Ohana, Evyatar David, Rom Braslavski, Segev Kalfon, Nimrod Cohen, Maxim Herkin, Eitan Horn, Matan Zangauker, Bar Kupershtein, David Cunio, dan Ariel Cunio.

Palang Merah mengonfirmasi bahwa proses penyerahan dilakukan di Khan Younis dan berlangsung aman. Setelahnya, para sandera dikawal keluar dari Jalur Gaza oleh pasukan khusus Israel menuju fasilitas militer di dekat komunitas perbatasan Re’im untuk menjalani pemeriksaan fisik dan mental awal sebelum dipertemukan dengan keluarga mereka.

𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗯𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗟𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝗽 𝗦𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗗𝘂𝗮 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗮𝗵𝗮𝗻𝗮𝗻

Sebelumnya, tujuh sandera Israel lebih dahulu dibebaskan dari Kota Gaza pada Senin pagi. Dengan penyerahan tambahan 13 sandera ini, pihak militer Israel menyatakan bahwa tidak ada lagi sandera yang masih hidup berada di tangan Hamas untuk pertama kalinya sejak serangan 7 Oktober 2023 di Israel selatan.

Selanjutnya, Hamas juga dijadwalkan mulai memulangkan jenazah 28 sandera yang masih mereka tahan. Proses pemulangan dilakukan secara bertahap melalui koordinasi dengan Palang Merah. (Bahry)

Sumber: TOI

IIA Umumkan Tewaskan 58 Tentara Pakistan dan Rebut 20 Pos Keamanan di Sepanjang Garis Durand

KABUL (jurnalislam.com)– Imarah Islam Afghanistan (IIA) mengumumkan bahwa pasukannya menewaskan sedikitnya 58 tentara Pakistan dan merebut sekitar 20 pos keamanan milik Pakistan dalam operasi militer di sepanjang Garis Durand pada Sabtu malam (18/10/2025).

Operasi tersebut merupakan balasan atas serangan udara Pakistan yang menghantam Kabul dan Margha Bazaar di distrik Barmal, provinsi Paktika, pada Kamis malam (16/10).

Juru bicara utama IIA, Zabihullah Mujahid, dalam konferensi pers di Kabul pada Ahad (12/10) menjelaskan bahwa penyelidikan atas suara ledakan di Kabul dua malam sebelumnya menunjukkan bahwa pesawat-pesawat Pakistan telah melanggar wilayah udara Afghanistan.

“Suara yang terdengar di kota Kabul dua malam lalu telah diselidiki. Dipastikan bahwa tidak ada ledakan di darat. Para ahli kami menyimpulkan bahwa pesawat musuh telah memasuki wilayah udara Afghanistan dan menimbulkan suara mirip ledakan. Tujuan mereka jelas, yakni menimbulkan ketakutan. Tindakan itu merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan udara kami,” ujar Mujahid.

Sebagai balasan, pasukan IIA melancarkan serangan darat terhadap posisi militer Pakistan di sejumlah provinsi yang berbatasan langsung dengan Garis Durand, antara lain Kandahar, Helmand, Zabul, Nangarhar, Paktia, Paktika, dan Khost.

Menurut Mujahid, operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas pelanggaran berulang Pakistan terhadap wilayah Afghanistan.

“Lebih dari 20 pos militer musuh berhasil direbut, 58 tentara Pakistan tewas, dan sekitar 30 lainnya luka-luka. Dari pihak kami, sembilan Mujahidin gugur dan 16 hingga 18 lainnya terluka. Kami juga berhasil menyita berbagai jenis senjata dan peralatan militer musuh,” katanya.

Ia menambahkan bahwa operasi dihentikan sekitar tengah malam setelah adanya permintaan mediasi dari Qatar dan Arab Saudi.

Namun demikian, Mujahid menyebutkan bahwa penembakan dari pihak Pakistan kembali terjadi di beberapa titik pada Ahad pagi, yang berpotensi memicu eskalasi konflik di sepanjang perbatasan.

𝗞𝗲𝘁𝗲𝗴𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗟𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗶 𝗦𝗲𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗚𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗗𝘂𝗿𝗮𝗻𝗱

Hubungan antara Afghanistan dan Pakistan telah lama tegang akibat sengketa Garis Durand, perbatasan sepanjang 2.640 kilometer yang ditetapkan oleh penjajah Inggris pada tahun 1893. Kabul hingga kini menolak mengakui Garis Durand sebagai batas resmi, sementara Islamabad menganggapnya sah secara internasional.

Sejak Imarah Islam Afghanistan kembali berkuasa pada 2021, ketegangan meningkat karena Pakistan menuduh IIA melindungi kelompok Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) yang kerap menyerang pasukan keamanan Pakistan dari wilayah perbatasan.

Di sisi lain, IIA menegaskan bahwa Afghanistan tidak akan menjadi alat bagi kepentingan asing, dan menuntut Pakistan menghormati kedaulatan serta integritas wilayahnya.

Konflik terbaru ini menunjukkan bahwa ketegangan di sepanjang Garis Durand masih jauh dari kata selesai, dan berpotensi memperburuk stabilitas kawasan Asia Selatan. (Bahry)

Sumber: pajhwok

Gunung Tua, Babak Baru dari Ujung Morowali Utara

Di balik hijaunya pegunungan Morowali Utara, masih ada mereka yang hidup tanpa identitas, tanpa sekolah, bahkan tanpa mengenal Tuhan. Jauh dari sentuhan dan perhatian negara dan tak mengenal bagaimana hidup bermasyarakat.

Di sanalah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kabupaten Morowali Utara kembali menyalakan obor dakwah. Kali ini, Dewan Dakwah Morowali Utara menggelar ekspedisi dakwah di tengah-tengah masyarakat suku pedalaman, sebuah wilayah terpencil di Kabupaten Morowali Utara.

Rabu, 17 September 2025, rombongan yang dipimpin Ustadz Sigit berangkat dari sekretariat Dewan Dakwah Morowali Utara. Lebih dari 5 motor bersama mobil pengangkut logistik, melaju menembus jalan panjang berbatu, menyeberangi Sungai Bongka, hingga menaiki tanjakan tanah merah licin dan curam yang kerap kali membuat motor jatuh. Perjalanan panjang dan melelahkan itu akhirnya berakhir menjelang sore hari, mereka tiba di wilayah binaan baru yang diberi nama “Tungku Tu a” atau “Gunung Tua.”

Penduduk di Gunung Tua adalah bagian dari suku Tau Taa Wana yang belum berkampung. Hanya ada beberapa gubuk sederhana berukuran 3×3 hasil kerja tangan mereka menanti kedatangan Ustadz Sigit dan tim, menjadi tanda bahwa mereka telah siap untuk dibina dan memulai hidup baru.

“Alhamdulillah mereka mau diajak berkampung dan bermasyarakat,” tutur Ustadz Sigit Da’i Pedalaman Morowali Utara.

Gunung Tua menjadi wilayah binaan kelima Dewan Dakwah Morowali Utara, kampung baru setelah Ngoyo, Lambentana, dan Uemalingku.

Pembinaan dimulai dari hal paling dasar, pembukaan lahan, perataan tanah untuk rumah dan sekolah, hingga pembukaan akses jalan menuju perkampungan.

Misi dakwah ini tidak hanya mengajarkan Islam, tapi juga membangun peradaban baru. Ustadz Sigit menegaskan bahwa Dewan Dakwah berkomitmen membantu mereka memenuhi hak-hak dasar sebagai warga negara.

“Dengan pembinaan ini, kami berusaha untuk mewujudkan bagaimana masyarakat di Gunung Tua ini bisa berkampung, mereka bisa mendapatkan kehidupan yang layak berdasarkan konstitusi, serta sandang, pangan dan papan mereka terpenuhi. Mereka semua termasuk anak bangsa yang wajib kita rangkul,” lanjut Ustadz yang telah 20 tahun lebih membina masyarakat pedalaman Morowali Utara tersebut.

Proses pembinaan terus berlanjut. Pada tanggal 23 September 2025, dua da’i muda, Angga Wirawinata dan Raja Kalamahu, tiba untuk menetap dan membina masyarakat di sana. Keduanya akan menjadi perintis dakwah di kampung yang baru lahir itu.

Ekspedisi dakwah ke Gunung Tua merupakan bagian dari program rutin Dewan Dakwah Morowali Utara dalam membina masyarakat pedalaman, terutama dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial. Dengan dukungan mitra dan donatur, Dewan Dakwah terus berupaya mewujudkan kehidupan yang baik bagi masyarakat pedalaman. Dimana mereka bisa punya rumah yang layak, tempat ibadah yang nyaman, dan sekolah untuk anak-anak belajar dan mengenal dunia luar.

Gunung Tua menjadi saksi bagaimana dakwah bukan sekadar kata, tetapi tindakan nyata membangun manusia dan peradaban dari pedalaman.

MUI DKI Jakarta Gelar Perkemahan Remaja Muslimah 2025: Bentuk Generasi Tangguh, Sehat, dan Visioner

JAKARTA (jurnalislam.com)— Bidang Pembinaan Remaja dan Keluarga (PRK) MUI DKI Jakarta kembali menggelar kegiatan Perkemahan Remaja Muslimah 2025 dengan tema “Remaja Muslimah Tangguh: Sehat, Cerdas, Visioner, Menuju Generasi Emas.” di Perkemahan Remaja Muslimah di Grand Cempaka Resort, Bogor pada Jum’at-Ahad, (10-12/10/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh 60 remaja muslimah dari lima wilayah kota administrasi DKI Jakarta dan Kabupaten Kepulauan Seribu.

Acara yang berlangsung selama tiga hari ini dirancang tidak hanya sebagai ajang kebersamaan, tetapi juga sebagai wadah pembinaan karakter, penguatan spiritual, dan peningkatan wawasan bagi generasi muda muslimah agar siap menghadapi tantangan zaman.

Dalam sambutannya, Ketua Bidang PRK MUI DKI Jakarta menyampaikan bahwa remaja muslimah adalah calon ibu bangsa yang harus memiliki kesehatan fisik, kecerdasan berpikir, kekuatan mental, dan kebebasan dari perilaku bullying. “Dengan bekal itu, mereka akan tumbuh menjadi generasi emas yang bermanfaat bagi lingkungan dan bangsa,” ujarnya.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pembinaan berkelanjutan bagi remaja, agar tumbuh menjadi pribadi beriman, berkarakter, dan peduli terhadap sesama.

Rangkaian Kegiatan Tiga Hari, Hari Pertama: Penguatan karakter di era digital serta peningkatan kesadaran kesehatan mental (mental health), Hari Kedua: Edukasi kesehatan reproduksi remaja, pencegahan stunting, dan kampanye anti bullying, Hari Ketiga: Penutupan bertema “Muslimah Visioner and Good Personal”, dengan pesan pentingnya menjadi pribadi berdaya dan berakhlak mulia.

Selain itu, peserta juga mengikuti sesi motivasi, diskusi interaktif, outbound training, renungan malam, dan pentas seni kreatif yang dikemas secara inspiratif dan menyenangkan.

Panitia menyampaikan terima kasih kepada para pihak yang telah mendukung kegiatan ini, termasuk Baznas Bazis DKI, Yayasan Abang Mpok Sahabat Anak, PT Bogasari Flour Mills, Perumda PAM Jaya, Bank DKI Jakarta, JXB, serta Bapak John Odius, Staf Khusus Gubernur Bidang Keumatan dan Keagamaan.

“Jazakumullah ahsanal jaza wa jazakumullah khairan katsiran, semoga Allah SWT membalas segala dukungan dan partisipasi dengan keberkahan yang berlimpah,” tutur Ketua Bidang PRK MUI DKI Jakarta.

Melalui kegiatan ini, MUI DKI Jakarta berharap lahir remaja muslimah yang tangguh, sehat, berkarakter, dan visioner, yang mampu memberi kontribusi positif bagi agama, masyarakat, dan bangsa Indonesia.

Sebagai penutup, Ketua panitia menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan selama pelaksanaan kegiatan, baik dari segi tempat, pelayanan, maupun penyambutan. “Semoga kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam membentuk generasi emas muslimah Jakarta yang berakhlakul karimah,” pungkasnya.

Hamas Bebaskan 7 Sandera, 13 Sandera Lainnya Segera Menyusul

GAZA (jurnalislam.com)– Tujuh sandera Israel diserahkan kepada Palang Merah di Kota Gaza pada Senin pagi (13/10/2025). Pengumuman pembebasan tersebut disampaikan oleh seorang pembicara di Lapangan Sandera dan disambut sorak sorai oleh massa yang hadir.

Menurut laporan, ketujuh sandera tersebut adalah Gali dan Ziv Berman, Matan Angrest, Alon Ohel, Omri Miran, Eitan Mor, dan Guy Gilboa-Dallal.

Saluran berita Al-Hadath yang berbasis di Saudi mengonfirmasi bahwa Palang Merah telah menerima para sandera yang masih hidup tersebut, setelah sebelumnya Al-Araby (Qatar) melaporkan bahwa mereka sedang dipindahkan oleh sayap militer Hamas.

𝗥𝗲𝘀𝗽𝗼𝗻𝘀 𝗠𝗶𝗹𝗶𝘁𝗲𝗿 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹

Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, melakukan evaluasi situasi bersama perwira tinggi di markas sandera dan orang hilang militer, menyusul pembebasan tujuh sandera dari tahanan Hamas.

Dalam pernyataannya, pihak IDF menyebut Zamir “menyampaikan apresiasi kepada seluruh badan IDF atas persiapan matang mereka, serta menekankan pentingnya menjaga kesiapan dan kewaspadaan tinggi.”

Militer Israel mengatakan bahwa Palang Merah telah memberi tahu pihaknya mengenai penerimaan tujuh sandera dari Hamas di Kota Gaza. Setelah diserahkan, para sandera tersebut akan dibawa ke fasilitas militer dekat Reim untuk menjalani pemeriksaan fisik dan mental serta bertemu keluarga mereka.

IDF juga mengklaim bahwa 13 sandera lainnya yang masih hidup akan dibebaskan hari ini dari berbagai wilayah di Gaza.

𝗦𝘂𝗸𝗮𝗰𝗶𝘁𝗮 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗦𝗮𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮

Sementara itu, suasana haru dan sukacita mewarnai rumah keluarga para sandera di Israel. Kerumunan besar berkumpul di rumah keluarga Ohel di Lavon, Israel utara, menyaksikan siaran langsung pembebasan Alon Ohel. Warga mengenakan kaus bergambar wajah Alon, sementara teman-teman ibunya, Idit Ohel, bersorak dan memanggil namanya.

Di tempat lain, teman-teman Gali dan Ziv Berman juga menggelar nonton bersama di halaman rumah kerabat, menyaksikan momen pembebasan mereka ke tangan Palang Merah. Keduanya diketahui tidak ditahan bersama dan tidak pernah muncul dalam video atau foto Hamas sejak diculik dari rumah mereka di Kibbutz Kfar Aza.

Keluarga Eitan Mor di Kiryat Arba, Tepi Barat, turut merayakan kabar pembebasan anak mereka dengan bernyanyi dan bertepuk tangan. Sementara sahabat Matan Angrest menyambut gembira kabar pembebasan dengan mengibarkan spanduk hijau klub sepak bola Maccabi Haifa, tim yang didukung Angrest. (Bahry)

Sumber: TOI