Ketegangan Sudan Meningkat: Militer Tolak Gencatan Senjata, RSF Kuasai Sepertiga Negara

SUDAN (jurnalislam.com)- Kepala Dewan Kedaulatan Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, menegaskan bahwa militer Sudan menargetkan “melenyapkan sepenuhnya” kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Pernyataan itu disampaikan pada Jumat (21/11), hanya beberapa hari setelah ia mengumumkan mobilisasi umum angkatan bersenjata.

Burhan menyampaikan pidatonya melalui siaran di halaman Facebook Dewan Kedaulatan, dari kota al-Qutaynah di Negara Bagian Nil Putih. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa tujuan militer Sudan kini adalah “melenyapkan milisi dan membersihkan setiap jengkal tanah air.”

Sebelumnya, Burhan kembali menolak usulan gencatan senjata dengan RSF kecuali milisi tersebut melucuti senjatanya. Ia juga menyerukan rakyat Sudan untuk bangkit melawan RSF, yang kini menguasai wilayah luas di negara tersebut.

Namun pada Rabu lalu, Burhan menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Arab Saudi dalam upaya mencapai perdamaian, setelah Presiden AS Donald Trump berjanji akan membantu mengakhiri konflik Sudan.

“Kami akan bekerja sama dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan mitra Timur Tengah lainnya untuk mengakhiri kekejaman ini sekaligus menstabilkan Sudan,” ujar Trump dalam unggahan di platform Truth Social, usai pertemuan dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman yang turut mengangkat isu konflik Sudan.

𝗛𝗥𝗦𝗙 𝗦𝗮𝗺𝗯𝘂𝘁 𝗜𝗻𝗶𝘀𝗶𝗮𝘁𝗶𝗳 𝗣𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗮𝗶𝗮𝗻

RSF menanggapi pernyataan tersebut secara positif. Melalui Telegram, mereka menyatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan “tanggapan komprehensif dan serius” terhadap berbagai inisiatif perdamaian yang tengah digagas.

Uni Emirat Arab yang menurut sejumlah laporan PBB dituduh memasok peralatan kepada RSF juga menyambut baik langkah Trump untuk mendorong penyelesaian konflik Sudan.

Pada September lalu, kelompok mediasi Kuartet mengusulkan rencana yang mencakup gencatan senjata selama tiga bulan dan pengucilan pemerintah militer maupun RSF dari lanskap politik pascakonflik. Namun, usulan tersebut ditolak oleh militer Sudan.

𝗞𝗲𝗸𝗲𝗿𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗹𝗮𝗻𝗷𝘂𝘁 𝗱𝗶 𝗟𝗮𝗽𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Pada awal November, RSF mengumumkan kesediaannya menerima gencatan senjata kemanusiaan setelah berhasil merebut Al Fasher ibu kota Darfur Utara dan benteng terakhir militer di wilayah tersebut. Namun PBB menyatakan bahwa sejak saat itu terjadi pembantaian, pemerkosaan, penjarahan, dan eksodus massal warga sipil dari Al Fasher.

Saat ini RSF menguasai sekitar sepertiga wilayah Sudan. Dalam beberapa minggu terakhir, mereka meningkatkan serangan di wilayah Kordofan yang kaya minyak dan berbatasan langsung dengan Darfur. Milisi itu juga berulang kali mengumumkan “pembebasan segera” kota Babanusa, yang telah mereka kepung sejak Januari 2024.

Babanusa merupakan salah satu wilayah kekuasaan terakhir militer di Kordofan Barat dan menjadi jalur strategis yang menghubungkan Sudan bagian barat dengan ibu kota, Khartoum. (Bahry)

Sumber: TNA

Tragedi Kemanusiaan di Kordofan, 23 Anak Tewas Akibat Kelaparan di Tengah Perang Sudan

KORDOFAN (jurnalislam.com)- Hampir dua lusin anak meninggal dunia akibat kondisi yang terkait dengan malnutrisi hanya dalam rentang satu bulan di Sudan tengah. Kawasan ini merupakan pusat pertempuran sengit antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF), demikian menurut laporan sebuah kelompok medis.

Kematian 23 anak di wilayah Kordofan kembali menegaskan memburuknya situasi kemanusiaan di negara Afrika Timur Laut itu, yang kini dilanda kelaparan setelah lebih dari 30 bulan konflik berkecamuk.

Sudan terjerumus dalam kekacauan sejak April 2023, ketika perebutan kekuasaan antara militer dan RSF berubah menjadi perang terbuka di Khartoum dan berbagai wilayah lainnya. Menurut PBB, perang tersebut telah merenggut lebih dari 40.000 jiwa, meskipun kelompok bantuan meyakini angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Konflik ini memicu krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini. Lebih dari 14 juta orang terpaksa mengungsi, wabah penyakit merebak, dan sebagian wilayah negara tersebut terdorong menuju jurang kelaparan.

Hingga September 2025, sekitar 370.000 orang masuk kategori kelaparan tingkat bencana (IPC Fase 5) di Kordofan dan Darfur Barat. Sebanyak 3,6 juta orang lainnya berada satu langkah menuju kondisi kelaparan ekstrem.

𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝗔𝗸𝗶𝗯𝗮𝘁 𝗠𝗮𝗹𝗻𝘂𝘁𝗿𝗶𝘀𝗶 𝗔𝗸𝘂𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗸𝘂𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗣𝗮𝘀𝗼𝗸𝗮𝗻

Menurut Jaringan Dokter Sudan, kematian 23 anak tersebut dilaporkan terjadi antara 20 Oktober hingga 20 November di kota Kadugli yang terkepung serta kota Dilling. Dalam pernyataannya pada Jumat malam (21/11), jaringan tersebut menegaskan bahwa para korban meninggal akibat malnutrisi akut parah dan kekurangan pasokan penting, termasuk makanan dan obat-obatan.

Kelompok medis itu menyebut bahwa blokade yang diberlakukan RSF telah menghambat masuknya bantuan ke wilayah tersebut, sehingga ribuan warga sipil berada dalam ancaman nyawa.

Kadugli, ibu kota Kordofan Selatan, menjadi lokasi di mana status kelaparan tingkat bencana telah diumumkan awal bulan ini oleh Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC). RSF diketahui mengepung Kadugli selama berbulan-bulan, menjebak puluhan ribu warga dalam kondisi kritis.

Sementara itu, kota Dilling juga mengalami kondisi serupa, namun IPC belum dapat mengumumkan status kelaparan di sana karena kurangnya data.

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗲𝗺𝗽𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗺𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗻𝘀𝗶𝗳

Pertempuran untuk menguasai Kordofan meningkat sejak awal tahun, setelah militer Sudan berhasil memukul mundur RSF dari Khartoum. RSF kemudian memfokuskan kekuatannya di Kordofan dan kota Al-Fasher benteng terakhir militer di wilayah Darfur.

Awal bulan ini, RSF berhasil menguasai Al-Fasher dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi ke kamp-kamp yang penuh sesak untuk menghindari kekejaman yang dilaporkan para saksi, lembaga kemanusiaan, dan pejabat PBB.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa pejuang RSF melakukan serangan brutal di Rumah Sakit Saudi di Al-Fasher, menewaskan lebih dari 450 orang. Pasukan paramiliter itu juga dilaporkan melakukan serangan dari rumah ke rumah, membunuh warga sipil, serta melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak. (Bahry)

Sumber: TNA

Sebelum Sirine Bencana Berbunyi, Baznas Sukoharjo Latih Relawan

SUKOHARJO (jurnalislam.com)- Memasuki masa pancaroba yang rawan banjir, angin kencang, dan tanah longsor, Baznas Tanggap Bencana (BTB) Kabupaten Sukoharjo menggelar konsolidasi dan pelatihan mitigasi pada Sabtu (22/11/2025). Sebanyak 100 relawan mengikuti rangkaian materi dan simulasi lapangan sejak pukul 06.30 hingga siang hari di Lapangan Joho, Kecamatan Sukoharjo.

Pelatihan ini melibatkan sejumlah elemen lintas instansi. Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo, Arie Mulyoatmojo, menekankan pentingnya sistem komando terpadu dalam penanganan bencana.

“Tidak ada penanganan bencana yang berjalan sendiri. Koordinasi dan respon cepat menentukan keselamatan warga,” ujarnya.

Sesi teknis diisi oleh Kabid Damkar Sukoharjo, Margono, yang memberikan simulasi penanganan kebakaran dan penggunaan alat pemadam ringan. Peserta juga menerima pembekalan dari Agus, Kabid Dinas Sosial Sukoharjo, mengenai manajemen logistik kebencanaan mulai pengelolaan distribusi bantuan hingga dukungan operasional relawan.

Kepala Pelaksana BTB Baznas Sukoharjo, Sofwan Faizal Sifyan, menyebut pelatihan ini sebagai langkah strategis menghadapi situasi cuaca yang tidak stabil.

“Kita memasuki fase rawan bencana. Relawan harus siap kapan pun, baik di Sukoharjo maupun di luar wilayah,” katanya.

Dukungan kelembagaan datang dari Ketua Baznas Kabupaten Sukoharjo, H. Sardiyono, yang menyebut keberadaan relawan sebagai bagian dari peran kemanusiaan Baznas, bukan sekadar lembaga penyalur zakat dan bantuan finansial. Wakil Ketua Baznas, H. Wahyono, menambahkan.

“Di lapangan nanti kadang tidak ada kamera atau saksi. Yang tersisa adalah niat dan amanah,” katanya.

Kegiatan ditutup dengan doa oleh HM. Joko Purwanto. Pelatihan ini difasilitasi penuh oleh panitia yang dikoordinasikan Rita Hardini dan menjadi bagian dari rencana program berkelanjutan BTB Sukoharjo.

Penculikan Anak Menghebohkan, Benarkah Hak Anak Telah Tertunaikan?

Oleh Nida Fitri Azizah
Aktivis Mahasiswa

20 November 2025 di peringati sebagai Hari Anak Sedunia, dengan mengusung Tema “My Day, My Rights” yakni “Hariku, Hakku”.

Mengutip dari halaman Unicef Hari Anak sedunia adalah hari aksi Global yang menandai pengesahan Konvensi Hak anak, diantaranya seperti penjaminan 10 Hak (Kompas.com) namun yang paling mencuri perhatian adalah Hak Anak Untuk Mendapatkan Perlindungan, Mengapa? Sebab akhir akhir ini Indonesia di Gemparkan dengan kasus penculikan anak yang terorganisir dengan rapi sebut saja nasib malang yang menimpa Ananda Bilqis Ramdhani, ia menjadi korban penculikan di Taman Pakui Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (2/11/2025).

Bilqis ditemukan di SPE Gading Jaya Jambi pada (8/11/2025).Polisi berhasil menetapkan 4 orang tersangka yakni SY (30), NH (29), MA (42), dan AS (36) yang diduga terlibat dalam sindikat perjualan orang.Bilqis sempat dirawat oleh Begendang anggota Suku Anak dalam di jambi yang sengaja dikelabui oleh para penculik tersebut, kepolosan mereka yang tidak bisa baca tulis diperalat dengan menyerahkan Bilqis untuk mereka rawat sementara dengan alas an orang Tua Bilqis tidak mau merawat anaknya lagi.

Kriminolog UI (Universitas Indonesia) Mamik Sri Supatmi meminta masyarakat dan Aparat agar tidak menyudutkan suku pedalaman yang hanya dimanfaatkan para pelaku penculikan. Wakil perlindungan Komisi perlindungan Anak juga angkat bicara perihal ruang ramah anak yang kerap dielu elukan pemerintah nyatanya hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur saja belum menyentuh system Keamanan yang memadai. Bilqis hanyalah salah satu anak yang menjadi korban bagaimana dengan nasib anak Indonesia lainnya? Euforia Perayaan Hari Anak sedunia, benarkah Hak Anak telah terjamin seutuhnya?

Ketika Ruang Publik Tak Lagi Ramah Bagi Si Kecil

Berbagai Ratifikasi Konvensi Hak Anak nyatanya juga belum mampu menjadi payung hukum perlindungan anak, masyarakat dituntut untuk memenuhinya sendiri, padahal mendapatkan perlindungan bagi anak adalah kewajiban negara untuk memenuhinya.Ruang Publik yang sejatinya menjadi tempat bagi anak untuk tumbuh terkembang justru berubah menjadi tempat menyeramkan yang kapan saja siap menyandera rasa aman mereka. Dari Taman kota hingga pusat perbelanjaan pelaku kejahatan kerap muncul karena kurangnya pengawasan dan lemahnya system perlindungan.

Implementasi regulasi terkait hak anak juga masih jauh dari ideal, hal ini dilihat dari tingginya kasus kekerasan pada anak dan Eksploitasi yang terjadi secara berulang. Sanksi dan Hukuman pelaku yang tidak membuat jera dengan dipenjara saja mereka akan berulah Kembali saat keluar dari hukuman yang berlaku.Inilah dari buah penerapan Sistem Kapitalisme Sekuler yang menumbuh suburkan perilaku kejahatan yang tidak memakai standar halal haram, namun berpijak pada asas batil kemanfaatan.

Mereka tidak perduli Nasib banyak anak yang diculik lalu dijual yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana meraup keuntungan semata.Dan parahnya sindikat ini terstruktur dan membentuk jaringan yang sangat rapi, pertanyaannya mengapa keberadaan mereka masih ada hingga saat ini? Apakah system perlindungan di Indonesia begitu lemah memberantas mereka?

Masyarakat Pedalaman pun seperti Suku Anak dalam di Jambi yang hidup dibawah garis kemiskinan dan keterbelakangan Pendidikan menjadi sasaran empuk yang rentan dimanfaatkan oleh pelaku yang memiliki niat jahat. Inilah Potret Buram perlindungan anak di Indonesia nyatanya belum sepenuhnya Hak Anak ditunaikan.

Ketika Syariat Menjadi Perisai, Perlindungan Jiwa dalam Islam

Islam sangat tegas menindak perilaku manusia yang mendzalimi satu dengan yang lainnya apalagi sampai membunuh dengan tujuan keji menjual organnya dan lain sebagainya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Janganlah Kalian membunuh Jiwa manusia yang telah Allah haramkan (Untuk di Bunuh) kecuali dengan alasan yang benar (QS Al Isra : 33).

Syariat Islam memberikan solusi tuntas dan komprehensif terhadap segala permasalahan di masyarakat dengan melakukan tindakan preventif maupun kuratif. Secara preventif melalui penegakkan tiga pilar yakni ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan peran sentral negara. Termasuk Islam hadir dalam menyelesaikan problem merebaknya kasus penculikan yang ada.

Pilar pertama penguatan ketakwaan Individu. Seorang yang bertakwa akan selalu berusaha menjaga dirinya dari perbuatan yang menyimpang dari aturan syariat. Keimanannya yang kuat dan kokoh akan menuntunnya untuk selalu berada di jalan kebaikan atau kebenaran.

Ketika ia terjun di masyarakat senantiasa terikat dengan aturan syariat Islam. Sistem Islam meniscayakan terbentuknya kepribadian Islam yang menjaga individu berperilaku sesuai tuntunan Islam sehingga dapat mencegah terjadinya kasus penculikan dan perdagangan manusia.

Pilar kedua adalah adanya kontrol kuat dari masyarakat berupa amar makruf nahi mungkar. Dalam sistem Islam, amal ma’ruf nahi mungkar ini adalah kewajiban, Islam menjauhkan masyarakat dari sikap criminal baik itu perilaku keji seperti penghilangan jiwa ataupun nyawa seseorang.

Pilar ketiga adalah peran sentral negara, negara dalam Islam wajib menerapkan aturan Islam secara menyeluruh (kaffah). Di antaranya dengan menerapkan sistem sanksi yang tegas dan menjamin kehidupan manusia akan terjaga, bersih dan jauh dari kasus perdagangan manusia yang membawa kerusakan.

Islam juga menjaga Nyawa manusia memberikan jaminan keamanan atas anak, anak di didik dengan system Pendidikan Islam, dipuaskan akal dan jiwanya agar tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Islam juga memiliki sistem sanksi yang tegas dan menjerakan. Islam juga mewajibkan negara hanya menerapkan sistem islam termasuk dalam sistem sanksi dan sistem sosial.

Islam juga mewajibkan negara menjaga dan melindungi Anak dan memperlakukannya sesuai dengan tuntunan Islam. Fitrah dan jiwa mereka juga turut dijaga dari diterapkannya Islam sesuai syariah Negara juga hadir mengedukasi warganya agar menjadi hamba Allah yang beriman dan bertakwa, takut berbuat dosa. Caranya adalah melalui penerapan sistem pendidikan Islam dan pengaturan media massa baik media elektronik, media cetak maupun media online yang berasaskan syariat, akan menutup celah penyebarluasan pemikiran dan konten-konten yang merusak moral masyarakat.

Dan peran negara yang sangat penting adalah menerapkan sistem sanksi tegas atas setiap pelanggaran hukum syariat termasuk perilaku criminal seperti penculikan dan perdagangan manusia. Sistem sanksi dalam Islam berfungsi sebagai pencegah (zawajir) sekaligus penebus dosa (jawabir) bagi para pelaku pelanggaran.

Apabila perbuatan mereka sampai menghilangkan nyawa maka Islam menghukuminya dengan Qisas yakni nyawa dibalas nyawa, tentu dengan sanksi tersebut akan ada kehidupan dibaliknya bahwa tidak sembarangan orang bisa membunuh seseorang tanpa alas an yang jelas, maka warga termasuk anak dijamin dan dilindungi rasa amannya, Wallahu’alam bishawab

Loneliness dan Hopelessness Pintu Masuk Mengakhiri Hidup?

Oleh : Herliana Tri M

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan dunia ini sebagai ujian keimanan bagi hamba-hamba Nya. Maka setiap manusia akan memiliki ujiannya masing- masing. Namun janji Allah yang patut kita pegang bahwa tak ada ujian melebihi kadar kemampuan kita untuk menanggungnya. Artinya setiap ujian yang hadir sudah tertakar dan terukur. Disinilah pentingnya keimanan memegang peranan dalam jiwa setiap hamba sehingga mampu mengatasi dan siap dengan berbagai ujian.

Banyaknya peristiwa yang hadir sehingga menghantarkan depresi bahkan berujung pada keputusan mengakhiri hidupnya sebagai wujud kelemahan dan ketidakmampuan menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Beberapa kasus upaya bunuh diri yang dilakukan oleh generasi terdidik termasuk mahasiswa, kita temukan. Polresta Bogor Kota menyampaikan tentang jatuhnya mahasiswi Universitas Pakuan, tak ditemukan tanda-tanda tindak kriminal, melainkan korban diduga depresi.

Setelah kejadian, dalam penyelidikannya, polisi mengamankan beberapa barang milik korban, termasuk secarik surat yang menyatakan kondisi mental korban sedang terganggu serta berisi permintaan maaf kepada orang tuanya. Isi tulisan itu antara lain berbunyi, “Maafkan Ira bu, ayah, Ira cape, Ira nyerah mental Ira rusak mental Ira hancur, Ira gagal jadi anak ibu sareng ayah”
tribratanews.jabar.polri.go.id(16/11/2025)

Fenomena bunuh diri di negeri ini patut mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. Secara data yang tercatat, Polri (Pusiknas Bareskrim): Sebanyak 1.270 kasus bunuh diri ditangani Polri dari Januari hingga 7 November 2025.

Rata-rata terjadi lebih dari 100 kasus pada setiap bulannya. Sedangkan kasus terbanyak terjadi pada Oktober 2025, dengan 142 kasus, meningkat 10,93% dari September.

Permasalahan mental tidak hanya terjadi di negeri ini. Di Amerika Serikat, situasinya pun tak jauh beda. Survei Healthy Minds pada tahun ajaran 2022/2023 saja, menemukan bahwa 41 persen mahasiswa berbagai jenjang di sana mengalami depresi. Meski sedikit menurun daripada tahun sebelumnya (44 persen), tapi trennya terus naik sejak 2014/2015 yang waktu itu masih di kisaran 20 persen.

keterasingan (loneliness) dan ketidakberdayaan (hopelessness) merupakan beberapa rasa yang sering kali hadir di tengah keramaian dan hiruk pikuknya kehidupan. Rasa yang hadir dengan minimnya support system menjadi bagian pemicu depresi.

Faktor Pemicu Depresi

Tak mengenal usia, kasus depresi dapat dihadapi oleh siapapun juga yang sedang mengalami permasalahan hidup dan merasa buntu atas jalan keluarnya.

Faktor eksternal dan internal merupakan dua faktor penting sebagai pemicu depresi dan berakhir dengan keputusan bunuh diri. Kedua faktor inilah yang memiliki peranan terhadap ketahanan mental setiap individu.

Faktor Eksternal

Tak dapat dimungkiri, kita sekarang hidup dalam sistem kapitalisme dengan standart kehidupan bertumpu pada materi. Kehidupan yang segala sesuatunya distandarkan dengan kepemilikan materi, apa yang dimiliki dan dikuasai. Sehingga dunia nyata maupun dunia maya dipenuhi dengan rangsangan yang sifatnya duniawi, kenikmatan, gaya hidup glamor dan kemewahan.

Kehidupan yang serba materialistis, hedonistik, pencitraan yang begitu rupa, diterima melalui media, khususnya media sosial begitu masifnya. Dalam dunia maya, orang sering menunjukkan kehidupan yang serba enak, liburan, traveling, makanan, rumah, dan keluarga yang harmonis.

Kondisi ini secara langsung ataupun tidak akan memberikan pengaruh kepada seseorang tentang bagaimana citra diri yang berpengaruh terhadap harapan-harapannya di masa yang akan datang. Sementara itu, pada saat ia memandang dirinya, kehidupan riilnya tidaklah demikian, sehingga terjadi gap antara realitas dengan keinginan.

Faktor Internal

Faktor internal menjadi pengendali utama dalam bersikap. Adanya gab realitas kondisi diri dengan kehidupan glamor yang hadir dapat menjadi motivasi jika ia mempunyai jalan untuk mencapai cita-cita dan impiannya.

Jika ia menemukan jalan, maka gap itu lambat laun akan menipis sampai akhirnya cita-cita tercapai. Tetapi, jika tidak punya jalan, maka gap itu akan semakin lebar dan berpengaruh kepada dirinya seolah-olah kehidupan itu tidak mungkin berubah, tidak akan mungkin bisa mencapai apa yang ia inginkan, ditambah mentalitas tidak terbentuk, pada titik ini bunuh diri dapat diambil.

Mentalitas yang harusnya melekat dalam diri adalah ketahanan dalam penderitaan, ketahanan menjalani kesulitan saat berusaha, serta ketahanan untuk menghadapi tantangan.

Mentalitas ini merupakan faktor internal yang mempengaruhi seseorang dalam hidup.
Rapuhnya mentalitas generasi saat ini karena generasi sekarang hidup di alam teknologi yang semua serba memudahkan dan instan. Sisi negatifnya adalah munculnya generasi- generasi yang ingin kemudahan tanpa melalui proses yang berat dan melelahkan.

Mindset Hidup

Adanya faktor pemicu baik interal maupun eksternal yang mempengaruhi mental seseorang, maka penanaman mindset yang benar dalam diri sangatlah penting. Mindset berupa keyakinan bagaimana menghadapi situasi sesulit apa pun pasti ada kemudahan, serta ikhtiar atau usaha harus dilakukan dengan sepenuhnya serta totalitas.

Disinilah pentingnya pengajaran agama yang tak sekedar menanamkan aspek ubudiah dan akhlak semata, namun juga pembentukan kerangka berpikir yang kokoh sehingga agama berpengaruh dalam membangun mentalitasnya.

Ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala “wala taiasu min rauhillah” (jangan berputus asa terhadap rahmat Allah), “inna ma’al ‘usri yusro” (dalam kesulitan pasti datang kemudahan) dan sebagainya, penting sekali untuk di-introduce-kan kepada anak-anak muda bahwa mereka harus memiliki mentalitas yang kuat. Sebab, tidak ada cita-cita yang mudah, tidak ada hidup yang mudah, serta tidak ada persoalan yang tidak terselesaikan.

Sampai akhirnya, pemahaman yang benar menghantarkan pada titik kerangka berpikir agama sampai pada kesimpulan bahwa bunuh diri itu haram dan tidak mungkin dilakukan. Memahami haram berarti perbuatan yang kalau ia lakukan akan mendatangkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala yang risikonya sangat besar di akhirat nanti.

Menanamkan sebuah keyakinan, bahwa selama masih hidup, pasti ada peluang, setiap susah akan berubah menjadi senang. Selama masih ada napas, maka peluang meraih keberhasilan terbuka lebar.

Sedangkan jika ia memilih untuk mengakhiri hidupnya, berarti ia sendiri telah menutup peluang serta kemungkinan bagi perubahan di dalam hidupnya.

Oleh karena itu, penting anak-anak dibina dengan tauhid agar bisa membaca semuanya dalam kerangka akhirat. Tauhid yang menghantarkan seseorang mempunyai ketahanan dalam menghadapi banyak persoalan hidup.

Dengan memahami tauhid, seseorang akan memahami makna ma’iyyatullah bahwa Allah bersama hamba-Nya.

Orang yang sabar akan mendapat ma’iyyatullah khashah. Kalau kita punya kualifikasi sabar, muhsin, muttaqin, maka akan mendapatkan nashrullah. Pertolongan dan dukungan Allah berupa kemudahan dalam berbagai urusan, jalan keluar atas berbagai persoalan. Ini akan membangun optimisme dalam hidup bahwa hidup selalu ada harapan.

Penanaman agama yang memiiki peran penting dalam mengokohkan mental masyarakat harus disadari juga oleh pemangku kebijakan, sehingga membangun mental yang kuat tak hanya menjadi tugas individu rakyat, namun negara juga mengokohkannya dalam kurikulum pendidikan yang mendukung.

MUI DKI Jakarta Gelar Workshop Konten Kreator Sejarah Perkembangan Islam Jakarta

JAKARTA (jurnalislam.com)- Dalam rangka meningkatkan literasi sejarah sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam dakwah digital, MUI DKI Jakarta melalui bidang infokom menyelenggarakan Workshop Konten Kreator: Sejarah Perkembangan Islam di Jakarta dengan tema Create & Captivate Membuat Konten Menarik dan Disukai, di Sunlake Hotel, Jakarta, Kamis (20/11/25).

Workshop ini dirancang untuk mendorong generasi muda menelusuri sejarah perkembangan islam di Jakarta dalam format digital yang kreatif seperti video pendek, reels, hingga narasi dengan hook yang memikat.

Acara ini menghadirkan tiga narasumber yaitu, peneliti sejarah ulama betawi, KH. Rahmad Zailani Kiki, Ketua Komisi Infokom MUI DKI Jakarta, Raihan Febriansyah dan Konten kreator, Historycal Traveller sekaligus praktisi digital Rizky Ramadhani. Dengan peserta, mahasiswa, ormas dan pendakwah di Jakarta.

Peserta mendapat materi wawasan sejarah sekaligus keterampilan produksi konten yang menarik dan disukai serta relevan dengan perkembangan era digital.

Selain penguatan pengetahuan sejarah, peserta juga mendapatkan pelatihan mulai dari story telling digital, teknik riset konten, produksi konten video, hingga strategi agar konten edukatif tetap menarik bagi audiens muda.

Para narasumber menekankan pentingnya akurasi dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi sejarah, terutama di era banjir informasi dan maraknya mis informasi.

Wakil Ketua Umum MUI DKI Jakarta, KH. Yusuf Aman, MA yang membuka kegiatan mengatakan dengan workshop konten digital ini membuktikan bahwa MUI bukan hanya soal fatwa. Tapi juga menangani dampak globalisasi, termasuk era digital.

“Generasi muda harus kuat fisik, kuat nalar, dan kuat menjaga diri untuk tetap menjadi teladan dan dapat dipercaya. Pemuda tidak hanya piawai membuat konten, tapi juga penggerak utama membentuk opini,” ucapnya.

Ditambahkannya bahwa islam tidak mengikuti zaman, tapi tidak pernah ketinggalan zaman. Islam hadir memelihara zaman.

“Peran konten kreator yang menghasilkan pengetahuan, berkualitas, sekaligus menghibur dapat menjadi sedekah. Dengan memahami peran dan tantangan dunia konten kreator, kita bisa lebih apresiatif dan mendukungnya dalam menciptakan konten yang lebih baik.” pungkas kiyai Yusuf aman yang juga merupakan Ketua FKUB DKI Jakarta itu.

Ketua Bidang Infokom MUI DKI Jakarta, Dr. M. Faiz Rafdhi M. Kom, mengatakan sudah saatnya konten digital dipenuhi dengan konten edukatif dan bernilai. MUI harus memasuki dunia maya agar bisa mendominasi mesin pencarian dengan data dan konten yang bermutu dan bermanfaat. Tidak hanya sekedar viral tapi juga tetap bernilai dan dapat dipertanggung jawabkan.

“Generasi muda adalah garda terdepan dakwah digital. Dengan pemahaman sejarah yang kuat, konten mereka tidak hanya viral, tetapi juga bernilai,” ujarnya dalam sambutannya.

Acara ini diharapkan dapat mendorong lahirnya kreator konten muda yang memahami akar sejarah Islam di Jakarta. Menghidupkan kembali semangat dakwah yang informatif, kreatif, dan santun. Menjadikan media sosial sebagai ruang edukasi yang inspiratif dan menyejukkan serta menguatkan kolaborasi antara komunitas sejarah, ormas Islam, dan kreator digital.

Dengan terselenggaranya workshop ini, penyelenggara berharap kiprah ormas dan generasi muda Jakarta semakin banyak yang berkarya, bercerita, dan menyebarkan pesan kebaikan melalui konten kreatif yang bermutu.

Darfur di Ambang Kematian Massal, Pekerja Kemanusiaan Mengaku Terpaksa “Memilih Siapa yang Diselamatkan”

DARFUR (jurnalislam.com)— Krisis kemanusiaan di Darfur, Sudan, mencapai titik paling kelam setelah lebih dari dua tahun perang antara militer Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Minimnya sumber daya membuat para pekerja kemanusiaan harus menghadapi dilema yang disebut “tidak manusiawi”.

“Kami terpaksa memilih siapa yang akan kami selamatkan dan siapa yang tidak,” ujar Jerome Bertrand, kepala logistik Handicap International, kepada AFP pada Rabu (19/11), usai misi penilaian logistik selama tiga pekan di Darfur.

“Ini sepenuhnya bertentangan dengan nilai-nilai kami sebagai pekerja kemanusiaan.” imbuhnya.

Bertrand menyampaikan bahwa tim bantuan kini memprioritaskan anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui, “dengan harapan yang lain dapat bertahan.”

𝗞𝗲𝗹𝗮𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻, 𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝗻𝗴𝘀𝗶𝗮𝗻 𝗠𝗮𝘀𝘀𝗮𝗹, 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗔𝗸𝗵𝗶𝗿

Sejak konflik pecah pada April 2023, puluhan ribu orang tewas dan hampir 12 juta warga Sudan mengungsi, menjadikannya salah satu krisis pengungsian dan kelaparan terbesar di dunia menurut PBB.

Situasi memburuk drastis setelah RSF merebut Al-Fasher, ibu kota Darfur Utara sekaligus benteng terakhir militer, pada 26 Oktober. Laporan terbaru Inisiatif IPC yang didukung PBB menegaskan bahwa Al-Fasher kini berada dalam kondisi kelaparan, yang sudah menghantam kamp-kamp pengungsian selama lebih dari setahun.

Namun upaya bantuan terhambat oleh hancurnya infrastruktur, tidak adanya bandara yang berfungsi, jalan yang tidak bisa dilalui, serta hambatan administratif di perbatasan Chad — satu-satunya jalur akses masuk bantuan. Selain itu, pendanaan internasional yang minim membuat situasi semakin memburuk.

Bertrand menggambarkan keadaan Darfur sebagai wilayah seluas Prancis dengan 11 juta penduduk, namun pasokan bantuan masih sangat minim. Ia menyebut kondisi di lapangan sebagai “keadaan anarki” dengan keruntuhan total struktur pemerintahan, maraknya perampokan, pemerasan, serta ancaman di sepanjang jalan raya.

Di kota pengungsian Tawila, yang kini menampung lebih dari 650.000 pengungsi, Bertrand bertemu warga yang “benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi”, sementara organisasi bantuan tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar.

Ia menambahkan bahwa penangguhan sebagian bantuan AS menyebabkan hilangnya 70 persen bantuan ke Darfur, membuat hanya “seperempat kebutuhan” yang bisa dipenuhi.

Bertrand juga menggambarkan sekitar 80.000 warga terlantar di sepanjang jalan-jalan Darfur, banyak di antaranya menjadi korban pemerasan, penyerangan, penyiksaan, hingga luka tembak.

“Mereka yang berhasil mencapai Tawila sering menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi berat, luka akibat penyiksaan, atau tembakan,” ujarnya.

“𝗗𝗶𝗯𝗶𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗺𝗯𝘂𝗻𝘂𝗵”

Menurut Bertrand, Darfur kini mencerminkan kondisi sebuah negara yang “sedang membusuk” dan menuduh komunitas internasional membiarkan kelompok-kelompok bersenjata “saling membunuh tanpa intervensi.”

“Di era yang berbeda,” katanya,
“PBB pasti sudah mengeluarkan resolusi untuk mengirimkan pasukan penjaga perdamaian.”

Krisis Darfur kini terus memburuk, dengan jutaan nyawa terjebak dalam kelaparan, kekerasan, dan ketidakpastian tanpa tanda-tanda bahwa dunia akan segera bertindak. (Bahry)

Sumber: TNA

Dua Anak Tewas Setiap Hari, Israel Terus Serang Gaza Meski Gencatan Senjata Berlaku

GAZA (jurnalislam.com)— Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas mengungkapkan bahwa tim medisnya kembali merawat perempuan dan anak-anak Palestina yang mengalami luka-luka akibat serangan udara dan tembakan Israel, meskipun gencatan senjata Israel–Hamas secara resmi masih berlaku.

Dalam pernyataan Jumat (21/11), MSF mengatakan bahwa sejak Rabu lalu, tenaga medis mereka di Gaza utara maupun selatan menangani korban dengan patah tulang terbuka, luka tembak di kepala dan anggota badan, termasuk anak-anak.

MSF melaporkan perawatan dilakukan di rumah sakit dan klinik di Kota Gaza serta Rafah, dua wilayah yang tetap berada di garis depan kekerasan.

Salah satu kasus paling memilukan adalah seorang anak perempuan berusia sembilan tahun yang dirawat pada Rabu di sebuah rumah sakit di Kota Gaza. Anak tersebut mengalami luka parah di wajah yang, menurut kesaksian seorang perawat MSF, disebabkan tembakan dari pesawat tak berawak Israel.

Militer Israel tidak memberikan komentar ketika dimintai konfirmasi oleh Reuters terkait laporan ini. Israel sebelumnya mengklaim bahwa mereka tidak menargetkan warga sipil, meski laporan di lapangan menunjukkan sebaliknya.

𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗗𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿

Dalam kesepakatan gencatan senjata, Israel mundur ke apa yang mereka sebut sebagai “garis kuning”, yang memberi mereka kendali atas 53 persen wilayah Gaza. Kota Gaza tetap berada di bawah kontrol Hamas, sementara Rafah dikendalikan Israel.

Namun, berbagai laporan menunjukkan pelanggaran berulang oleh militer Israel. Mereka mengklaim telah membunuh individu yang disebut sebagai “teroris” yang melintasi garis kuning, dan melakukan serangan “balasan”, tanpa menyertakan bukti publik.

Akibat pelanggaran itu, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 312 warga Palestina telah dibunuh sejak 11 Oktober 2025, meski gencatan senjata sedang berlangsung.

𝗔𝗻𝗮𝗸-𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸

Badan PBB untuk Anak-Anak (UNICEF) menyampaikan laporan mengerikan pada Jumat: setidaknya 67 anak tewas dalam insiden terkait konflik sejak gencatan senjata berlaku.

“Puluhan lainnya terluka. Rata-rata hampir dua anak tewas setiap hari sejak gencatan senjata mulai berlaku,” kata juru bicara UNICEF, Ricardo Pires, dalam jumpa pers di Jenewa.

UNICEF juga mencatat sejumlah serangan mematikan dalam sepekan terakhir:
– Seorang bayi perempuan tewas dalam serangan udara di Khan Younis timur bersama kedua orang tuanya.

– Tujuh anak tewas pada Rabu dalam serangan udara di Kota Gaza dan wilayah selatan. (Bahry)

 

Sumber: TNA

Musim Dingin Menghantam Gaza: Bantuan Makanan Masuk, Tapi Kelaparan Tetap Membayangi

GAZA (jurnalislam.com)— Program Pangan Dunia (WFP) PBB melaporkan bahwa meski pasokan makanan ke Gaza meningkat sejak gencatan senjata rapuh yang mulai berlaku pada 10 Oktober, kebutuhan kemanusiaan di wilayah tersebut masih jauh dari terpenuhi. Hujan musim dingin yang semakin intens memperburuk situasi, merusak sebagian bantuan yang berhasil disimpan warga.

“Situasi lebih baik daripada sebelum gencatan senjata, tetapi jalan kita masih panjang. Dukungan yang berkelanjutan sangat penting untuk membantu keluarga membangun kembali kesehatan, nutrisi, dan kehidupan mereka,” kata juru bicara WFP, Martin Penner, dalam konferensi pers di Jenewa melalui sambungan video dari Jalur Gaza, Jumat (21/11).

Menurut WFP, ratusan ribu warga Gaza masih sangat membutuhkan bantuan pangan. Pada Agustus lalu, sebuah pemantau pangan global memperkirakan setidaknya 500.000 orang mengalami kelaparan di berbagai wilayah kantong tersebut.

Awal pekan ini, Gaza diguyur hujan lebat yang merusak dan menghanyutkan sebagian persediaan makanan yang disimpan warga. Juru bicara senior WFP, Abeer Etefa, mengatakan situasi itu menunjukkan tantangan besar yang dihadapi keluarga-keluarga Palestina menjelang musim dingin.

Sejak gencatan senjata Israel-Hamas diberlakukan pada 10 Oktober setelah dua tahun serangan yang meluluhlantakkan kawasan padat penduduk itu, WFP telah menyalurkan 40.000 ton bantuan pangan ke Gaza. Namun, program ini baru mencapai 30 persen dari target, yakni menjangkau sekitar 530.000 dari total 1,6 juta orang yang membutuhkan bantuan, akibat kendala logistik pada awal November. WFP menyatakan pihaknya kini mulai mengejar ketertinggalan distribusi.

Meski beberapa pasar di Gaza mulai kembali beroperasi, harga pangan tetap melambung. Banyak warga kehilangan sumber penghasilan selama perang, sehingga tak mampu membeli kebutuhan dasar. Harga ayam, misalnya, mencapai USD 25, membuat sebagian besar warga kembali bergantung pada bantuan pangan.

WFP juga membagikan kisah seorang ibu di Khan Younis yang menghindarkan anak-anaknya dari rasa lapar dengan cara memilukan.

“Ia tidak membawa anak-anaknya ke pasar agar mereka tidak melihat makanan yang tidak mampu mereka beli. Jika mereka mendekati pasar, ia menyuruh mereka menutup mata,” kata Penner.

Tragedi kelaparan di Gaza terus berlanjut, bahkan ketika bantuan mulai mengalir tanda bahwa krisis kemanusiaan ini masih jauh dari kata selesai. (Bahry)

Sumber: TNA

Israel Langgar Peta yang Disepakati, Serangan Udara Gempur Khan Younis Tewaskan 30 Warga Palestina

KHAN YOUNIS (jurnalislam.com)— Serangan udara Israel di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada Kamis (20/11) menewaskan lima warga Palestina dan melukai 18 lainnya, menurut otoritas kesehatan setempat. Dengan demikian, total korban tewas sejak Rabu meningkat menjadi sedikitnya 30 orang.

Petugas medis melaporkan bahwa salah satu serangan yang menargetkan sebuah rumah di kota Bani Suhaila, sebelah timur Khan Younis, menewaskan tiga orang termasuk seorang bayi perempuan dan melukai 15 lainnya. Serangan terpisah di kota Abassan menewaskan seorang pria dan melukai tiga orang. Kemudian pada Kamis sore, pihak Rumah Sakit Nasser mengonfirmasi bahwa seorang warga Palestina kelima tewas akibat tembakan Israel di Abassan.

Pada hari Rabu, militer Israel mengatakan pasukannya menyerang berbagai target di seluruh Gaza setelah kelompok perlawanan menembaki mereka. Petugas medis Gaza menyebut setidaknya 25 orang tewas pada hari itu jumlah korban harian tertinggi sejak 29 Oktober, ketika sedikitnya 100 warga Palestina tewas.

Hamas mengecam serangan tersebut sebagai “eskalasi berbahaya” dan mendesak mediator Arab, Turki, serta Amerika Serikat yang sebelumnya menengahi gencatan senjata untuk segera turun tangan.

Dalam pernyataan pada Kamis, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menuduh Israel melanggar peta wilayah yang telah disepakati, dengan mengubah batas-batas area yang masih mereka duduki. Qassem mengatakan perubahan tersebut membuat Israel tetap mengendalikan lebih dari 50% wilayah Jalur Gaza, bertentangan dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam kesepakatan sebelumnya. (Bahry)

Sumber: TNA