Resmi, GNPF Ulama Dukung Prabowo-Sandi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama secara resmi menyatakan dukungannya kepada pasangan capres dan cawapres, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019. Hal tersebut dinyatakan dalam Ijtima Ulama II setelah Prabowo menandatangani Pakta Integritas yang disodorkan GNPF.

Proses penandatanganan disaksikan oleh Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan, Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mustafa Kamal, Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon dan peserta Ijtima Ulama II.

“Semuanya sudah terselesaikan dengan baik dengan ditandatanganinya Pakta Integritas oleh calon presiden Bapak Prabowo Subianto,” kata Ketua GNPF Ulama Yusuf Muhammad Martak di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Ahad (16/9/2018).

Selanjutnya, kata Yusuf, GNPF Ulama dari tingkat pusat hingga daerah akan mulai mengonsolidasikan tim untuk memenangkan Prabowo-Sandi.

“Insya Allah kita akan sama-sama, semua ulama, pusat dan daerah dengan tulus ikhlas memenangkan Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno,” pungkasnya.

Tak ketinggalan, Prabowo mengucapkan terima kasih kepada GNPF Ulama atas dukungan yang diberikan yang kedua kalinya, yakni pada Ijtima Ulama I dan Ijtima Ulama II. Prabowo berjanji akan berjuang sebaik mungkin dan menjalankan amanat yang diberikan para ulama dalam Pakta Integritas.

“Ini suatu yang mengharukan bagi diri saya. Seluruh jiwa dan raga akan saya persembahkan untuk bangsa dan negara,” imbuh Prabowo.

Prabowo Tandatangani 17 Poin Pakta Integritas Hasil Ijtima Ulama II, Begini Isinya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Prabowo Subianto menandatangani Pakta Integritas Hasil Ijtima Ulama II di Grand Cempaka Hotel, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Ahad (16/9/2018). Berikut isinya yang dimuat dalam 17 poin:

1. Sanggup melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

2. Siap menjaga dan menjunjung nilai-nilai religius dan etika yang hidup di tengah masyarakat. Siap menjaga moralitas dan mentalitas masyarakat dari rongrongan gaya hidup serta paham-paham merusak yang bertentangan dengan kesusilaan dan norma-norma yang berlaku lainnya di tengah masyarakat Indonesia.

3. Berpihak pada kepentingan rakyat dalam setiap proses pengambilan kebijakan dengan memperhatikan prinsip representasi, proporsionalitas, keadilan, dan kebersamaan.

4. Memperhatikan kebutuhan dan kepentingan umum beragama, baik umat Islam, maupun umat agama-agama lain yang diakui Pemerintah Indonesia untuk menjaga persatuan nasional.

5. Sanggup menjaga dan mengelola Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Ummat Islam), secara adil untuk menciptakan ketenteraman dan perdamaian di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.

6. Menjaga kekayaan alam nasional untuk kepentingan sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia.

7. Menjaga keutuhan wilayah NKRI dari ancaman separatisme dan imperialisme.

8. Mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina di berbagai panggung diplomatik dunia sesuai dengan semangat dan amanat Pembukaan UUD 1945.

9. Siap menjaga amanat TAP MPRS No. 25/1966 untuk menjaga NKRI dari ancaman komunisme serta paham-paham yang bisa melemahkan bangsa dan negara lainnya.

10. Siap menjaga agama-agama yang diakui Pemerintah Indonesia dari tindakan penodaan, penghinaan, penistaaan serta tindakan-tindakan lain yang bisa memancing munculnya ketersinggungan atau terjadinya konflik melalui tindakan penegakkan hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

11. Siap melanjutkan perjuangan reformasi untuk menegakkan hukum secara adil tanpa pandang bulu kepada segenap warga negara.

12. Siap menjamin hak berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat secara lisan dan tulisan.

13. Siap menjamin kehidupan yang layak bagi setiap warga negara untuk dapat mewujudkan kedaulatan pangan, ketersediaan sandang dan papan.

14. Siap menyediakan anggaran yang memprioritaskan pendidikan umum dan pendidikan agama secara proporsional.

15. Menyediakan alokasi anggaran yang memadai untuk penyelenggaraan kesehatan rakyat dan menjaga kelayakan pelayanan rumah sakit baik pemerintah maupun swasta.

16. Siap menggunakan hak konstitusional dan atributif yang melekat pada jabatan Presiden untuk melakukan proses rehabilitasi, menjamin kepulangan, serta memulihkan hak-hak Habib Rizieq Shihab sebagai warga negara Indonesia, serta memberikan keadilan kepada para ulama, aktivis 411, 212 dan 313 yang pernah/sedang menjalani proses kriminalisasi melalui tuduhan tindakan makar yang pernah tersangkakan. Penegakan keadilan juga perlu dilakukan terhadap tokoh-tokoh yang mengalami penzaliman.

17. Menghormati posisi ulama dan bersedia untuk mempertimbangkan pendapat para ulama dan pemuka agama lainnya dalam memecahkan masalah yang menyangkut kemaslahatan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penandatanganan dilakukan antara Prabowo Subianto dan Ketua GNPF Ulama Yusuf Martak. Hadir pula dalam penandatanganan, Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Waketum Gerindra Fadli Zon.

Ansharusyariah Jabar Ajak Ormas Islam Bersatu Hadang Syiah

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Antisipasi terhadap perayaan peringatan Hari Asyura Syiah yang dilakukan setiap tanggal 10 Muharram terus dilakukan oleh ormas-ormas Islam di Jawa Barat. Hal ini dilakukan sebagai implementasi dari fatwa MUI tahun 1984 yang menegaskan bahwa paham Syiah adalah aliran terlarang yang harus diwaspadai.
Jamaah Ansharusy Syariah Jawa Barat menegaskan, pihaknya akan terus berupaya menghadang pergerakan kelomok Syiah, termasuk menolak perayaan Hari Asyura.
“Ansharusy Syariah ini akan berupaya dengan sekuat tenaga terutama menjalin tansik bainal muslimin, untuk sama-sama berupaya untuk menghadap atau istilahnya meniadakan terkait dengan acara-acara ini, karena memang itu akan banyak lagi menyesatkan umat,” kata Ketua Ansharusyariah Jawa Barat Ustadz Heri Susanto kepada Jurnalislam.com, Sabtu (15/9/2018).

Ustadz Heri menjelaskan, Syiah adalah aliran sesat yang mengaku sebagai bagian dari agama Islam. Padahal, kata dia, mereka sangat bertolak belakang dengan Islam.

Ia menambahkan, kelompok Syiah di beberapa negara di Timur Tengah saat ini sedang membantai umat Islam, seperti di Suriah dan Irak.

“Suriah itu adalah ‘ukud darul mu’minin’ ibukotanya orang-orang beriman, entah berapa nyawa umat Islam yang melayang oleh Syiah Rafidhah dan Nushairiyah di sana.

Oleh karena itu, pihaknya akan selalu bersinergi dengan ormas-ormas Islam lainnya untuk menghadang segala bentuk aktifitas Syiah di Indonesia. Karena pada hakikatnya, lanjut dia, membiarkan kelompok Syiah di Indonesia sama halnya dengan memberikan legitimiasi atas apa yang mereka lakukan terhadap umat Islam di Suriah.

“Ansharusy Syariah memberikan apresiasi yang sangat positif kepada ikhwan-ikhwan dari berbagai tandzim, dari berbagai ormas dan sekaligus mengajak kepada kaum muslimin seluruhnya secara umum wabil khusus jawa barat untuk sama-sama menjegal terjadinya perayaan hari ‘idul ghadir, ayyamu as-asyuro hari raya mereka,” paparnya.

Untuk diketahui, Jawa Barat merupakan salah satu basis terbesar pergerakan kelompok Syiah di Indonesia. Perayaan hari-hari besar mereka seperti Idul Ghadir dan Asyura kerap dilakukan dengan terbuka di Kota Bandung. Pada tahun 2016 misalnya, mereka merayakan Hari Asyura di Stadion Sidolig Kota Bandung dengan ribuan massa yang datang dari seluruh Indonesia.

LBH Pelita Umat Desak Aparat Tangkap Pelaku Persekusi Gus Nur di Karanganyar

SOLO (Jurnalislam.com) – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pembela Islam Terpercaya (Pelita Umat) ikut menanggapi kasus persekusi yang dilakukan sekelompok oknum dari ormas Banser dan Pagar Nusa di Masjid Al Huda Talpitu, Karangpandan, Karanganyar, Jum’at (15/9/2018) lalu.

Ketua LBH Pelita Umat, Ahmad Khozinudi mendesak aparat kepolisian untuk segera melakukan tindakan penyelidikan dan mengusut tuntas pelaku pembubaran pengajian.

“Serta segera melakukan langkah-langkah untuk segera membuat rekomendasi pembubaran ormas dan memproses secara pidana terhadap ormas yang telah melakukan tindakan kekerasan dan mengambil alih peran dan fungsi penegak hukum,” ungkapnya dalam pesan siar yang diterima Jurnalislam.com, Sabtu (16/9/2018).

“Sebagaimana diatur dalam pasal 59 ayat (3) huruf c dan d, Jo. Pasal 60, UU No. 16 tahun 2017 tentang Pengesahan Perppu No. 2 tahun 2017 tentang Perubahan UU No 17 Tahun 2013 Tentang Ormas menjadi UU. Aparat penegak hukum, wajib menjamin keamanan dan memberi rasa aman setiap warga negara dalam menjalankan aktivitas dakwah yang telah dijamin konstitusi,” imbuh Ahmad.

Lebih lanjut, Ahmad meminta agar oknum dari Banser dan Pagar Nusa tersebut menghentikan persekusi terhadap sejumlah penceramah yang mereka anggap tak sejalan dengan ideologi Pancasila. Menurutnya, jika memang isi ceramah dari Gus Nur tersebut dianggap tak sejalan dengan Pancasila, maka kewenangan polisilah yang berhak menghentikan kegiatan pengajian tersebut.

Ahmad juga meminta pengurus Banser dan Pagar Nusa Karanganyar untuk meminta maaf di hadapan publik atas tindakan persekusi itu.

“Mengutuk dan mengecam keras tindakan pembubaran pengajian yang dilakukan oleh Oknum Ormas Banser dan Pagar Nusa, dan segera meminta Pengurus Ormas Banser dan Pagar Nusa untuk memberi klarifikasi sekaligus meminta maaf secara terbuka dihadapan publik,” paparnya

Kendati marak persekusi terhadap beberapa penceramah, Ahmad menghimbau kepada segenap elemen masyarakat untuk tidak menghentikan aktivitas dakwah Islam, Dan tidak melakukan pembatalan pengajian karena aktifitas keagaman dilindungi oleh undang-undang di Indonesia.

“Karena adanya ancaman dari segerombolan oknum ormas yang tidak paham hukum dan konstitusi. Umat Islam tidak boleh takut untuk menjalankan aktivitas dakwah Islam atas adanya kejadian ini,” tandasnya.

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un, KH Muhammad Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un, telah berpulang KH. Muhammad Ma’shum pendiri Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso hari ini, Kamis (13/9/2018)  pukul 14.15 WIB di RS Siloam Surabaya. Ulama karismatik kelahiran Ambon ini meninggal di usia 65 tahun meninggalkan 11 anak dari 3 istri.
Kondisi kesehatan almarhum mulai turun sejak tiga tahun ke belakang. Namun itu tak menyurutkan langkahnya untuk berjuang membela Islam. Ulama yang karib disapa Abi tak pernah absen dalam aksi-aksi besar di Jakarta seperti Aksi Bela Islam bersama GNPF Ulama. Halal bi Halal Alumni 212 pun digelar di Ponpes pimpinannya Al-Ishlah pada Juli 2017 lalu.

Aktivitas terakhirnya bersama para GNPF ulama yaitu menghadiri Ijtima Ulama I pada bulan Juli lalu di Hotel Menara Peninsula Jakarta. Meskipun dengan menggunakan kursi roda, infus, dan tabung oksigen, namun Kyai Ma’shum enggan disebut ‘sakit’.

“Ada yang bilang saya sakit hadir di tempat ini, ‘saya tidak sakit’, yang bilang sakit itu hanya dokter, saya waras,” ujarnya ketika itu.

Jenazah Kyai Ma’shum dibawa di RS Siloam Surabaya. FOTO: Rahmatullah/Ekslusif Jurniscom

Seperti biasa, Kyai Ma’shum memberikan pantun semangat juang miliknya. “Kereta api dinamakan sepur, diatas sepur ada kondektur, daripada mati sakit diatas kasur mending mati diatas medan tempur.”

Disambut isak tangis dan pekik takbir puluhan ribu peta’jiyah, jenazah almarhum tiba di rumah duka di komplek Ponpes Al-Ishlah, Grujugan, Bondowoso, Jawa Timur pukul 21.30 WIB.

Rencanananya, jenazah akan dimakamkan besok pagi pukul 07.00 WIB di pemakaman keluarga di komplek Ponpes Al-Ishlah di samping makan istri pertamanya yang baru meninggal pada bulan Maret 2018 lalu.

“Muslimin dan muslimat yang kami hormati, sehubungan dengan jarak tempuh Surabaya-Bondowoso dan pengurusan administrasi dengan pihak Rumah Sakit, maka Pemakaman Abuna KH. MUHAMMAD MA’SHUM insyaallah akan dilaksanakan pada: Hari/Tgl : Jumat, 14 September 2018 / 4 Muharram 1440 H, Pukul : 07.00 WIB, Tempat : PP. Al Ishlah Bondowoso,” kata anak bungsu Kyai Ma’shum, Sabi’ Ahmad Faiz melalui pesan WhatsApp kepada Jurnalislam.com, Kamis (13/9/2018) malam ini.

Suasana rumah duka Kyai Ma’shum bisa dilihat Live streaming di akun facebook Suara Al-Ishlah.

 

Ribuan Jamaah Ikuti Tabligh Akbar “Agar Hijrah Tak Hilang Arah” Ustadz Adi Hidayat di Serang

SERANG (Jurnalislam.com) – Ribuan jamaah memadati Masjid Al-Madani Kawasan Perkantoran Kota Serang pada Ahad (11/9/2018) untuk mengikuti Tabligh Akbar Ustadz Adi Hidayat. Tabligh akbar yang diselenggarakan atas kerjasama Kajian Hati Kota Serang dan Akhyar TV ini bertajuk “Agar Hijrah Tak Hilang Arah”.

Membuka ceramahnya, Ustadz Adi mengingatkan jamaah dengan identitas Banten yang dikenal dengan pejuang dan ulamanya.

“Syaikh Nawawi Al-Bantani salah satu ulama besar yang diabadikan namanya, pernah diangkat menjadi Imam Besar Masjidil Haram, banyak dituliskan biografi ilmiyahnya dan banyak ulama besar Indonesia yang berguru padanya adalah berasal dari Banten,” ungkap Ustadz Adi yang juga kelahiran Banten ini.

Ustadz Adi pun memotivasi para pemuda Banten agar menjadi generasi penerus para ulama Banten terdahulu. Ia mengutip  sebuah hadist riwayat Ibnu Majah no. 233 yang diriwayatkan oleh seorang sahabat Abu Darda tentang ciri-ciri lahirnya ulama itu adalah penuhnya majelis ilmu oleh orang-orang yang serius belajar ilmu agama.

Dalam pemaparan materi “Agar Hijrah Tak Hilang Arah”, Ustadz Adi membukanya dengan kisah seorang pemuda pemabuk yang telah membunuh 100 orang yang kemudian ingin bertaubat. Pemuda itu kemudian menemui seorang syaikh dan dianjurkan untuk berhijrah untuk menuntut ilmu agama.

“Sang pemuda meninggal di tengah perjalanan sebelum tujuannya tercapai sehingga turunlah surat Quran Surat An-Nisa ayat 100 “Dan barangsiapa berhijrah dijalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ketempat yang dituju), maka sungguh, pahala telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang,” papar Ustadz Adi mengisahkan.

Dengan gaya khas intelektualnya, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan dua hal penting tentang hijrah, yaitu pengertian hijrah dan indikator berhasilnya hijrah. Pentingnya mengetahui pengertian hijrah dijelaskan oleh ustadz Adi bahwa kebiasaan para ulama dalam menuntut ilmu adalah mengetahui definisi atau pengertian dari suatu hal.

“Pengertian hijrah dijelaskan menurut para ulama adalah berpindah pada suatu keadaan atau kondisi yang disukai Allah,” kata Ustadz adi.

Dari pengertian ini Ustadz Adi mengimbau agar para pekerja segera meninggalkan sesuatu yang tidak disukai Allah, seperti halnya praktek suap-menyuap.

Kemudian, indikator berhasilnya hijrah. Ustadz Adi Hidayat menjelaskan dua indikator penting yakni meningkatnya kuantitas dan kualitas ibadah dan memiliki kecenderungan bersatu dan bersaudara.

Meningkatnya kuantitas ibadah adalah dengan melakukan ibadah-ibadah tambahan selain yang telah diwajibkan, sedangkan meningkatnya kualitas ibadah adalah salah satunya dengan memahami makna bacaan shalat,” paparnya.

Sedangkan kecenderungan bersatu dan bersaudara, Ustadz Adi memaparkan kisah Abdurrahman bin Auf seorang kaya raya yang jatuh miskin karena berhijrah dari Mekkah ke Madinah dengan meninggalkan segala harta kekayaannya.

“Kemudian seorang Anshar Madinah yang kaya raya dengan kecintaannya pada muhajirin dan mengetahui latar belakang Abdurrahman bin Auf yang dahulu kaya raya, berniat menghibahkan sebagian harta kekayaannya kepada Abdurrahman bin Auf, namun Abdurrahman bin Auf dengan ketawakkalannya kepada Allah ia menolak pemberian saudara anshar tersebut dan hanya meminta ditunjukkan pusat bisnis di kota Madinah,” jelas Ustadz Adi.

Diakhir ceramahnya, ustadz Adi Hidayat menitikberatkan kepada kesimpulan agar orang yang telah berhijrah agar menguatkan kedekatan kepada Allah dan persatuan umat Islam dibawah naungan ridho Allah.

Reporter: Jumi Yanti Sutisna

KPAI Temukan Sel Tahanan di Lingkungan Sekolah Batam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepulauan Riau menemukan sel tahanan di sebuah SMK swasta di Batam. Keberadaan sel tahanan tersebut untuk menghukum siswa yang melakukan pelanggaran di sekolah.

“Jadi siswa yang bermasalah ditahan di dalam sel. Bahkan ada siswa yang mengalami penahanan lebih dari satu hari,” kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti di Kantornya, Gondangdia, Jakpus, Rabu (12/9/2018).

Selain penahanan, kata Retno, hukuman fisik kerap dilakukan di sekolah tersebut atas nama menertibkan siswa. Bahkan kasus terakhir yang dilaporkan ke KPPAD Kepulauan Riau, siswa berinisial RS (17 tahun) yang diduga melakukan pelanggaran berat mengalami kekerasan dengan keadaan tangan diborgol dan mengalami tekanan psikologis karena merasa dipermalukan di media sosial.

Retno menceritakan, Pada 8 September 2018, RS menerima hukuman fisik berupa disuruh berjalan jongkok di perkarangan sekolah yang beraspal dalam kondisi tangan masih diborgol dan disaksikan teman-temannya yang lain.

Baca juga: KPAI Catat 33 Kasus Kekerasan Pada Siswa Selama April-Juli

“Akibat kejadian itu, kedua telapak kaki korban mengalami luka lecet. Setelah itu, dilakukan upacara pelepasan atribut sekolah di lapangan sekolah,” tuturnya.

Retno menegaskan KPAI akan mendorong Dinas Pendidikan dan Inspektorat Provinsi Kepulaian Riau untuk melakukan investigasi lebih lanjut terhadap SMK ini. Hasil investigasi dapat digunakan oleh pihak terkait sebagai dasar untuk pengambilan keputusan/kebijakan terkait permasalahan yang terjadi.

“KPAI juga mendorong Dinas Pendidikan Provinsi Riau dan KEMDIKBUD RI untuk melakukan evaluasi terhadap proses belajar mengajar dan pola pendidikan yang terjadi di SMK tersebut selama 5 tahun ini,” pungkasnya.

Berikut 5 Poin Resolusi Silaturahmi Ulama dan Tokoh Umat Islam Surakarta

SOLO (Jurnalislam.com) – Sejumlah Ulama dan pimpinan ormas Islam Soloraya mendeklarasikan ‘Resolusi Majelis Silaturahmi Ulama dan Tokoh Umat Islam Surakarta’ dalam acara silaturahmi akbar menyambut tahun baru Hijriyah di Masjid Agung, Kauman, Surakarta, Senin (11/9/2018).

Silaturahmi bertajuk ‘Dengan Semangat Hinriyah Kita Bangun Ukhuwah Islamiyah’ itu menghasilkan 5 poin Resolusi Majelis Silaturahmi Ulama dan Tokoh Umat Islam Surakarta, berikut ini selengkapnya;

1. Kami para Ulama dan tokoh Islam di Surakarta menyatakan, Bertekad untuk berpegang teguh kepada ajaran Al Quran dan sunnah Rosululloh Shalalallahu alaihi wasalam dengan bimbingan para ulama Ahulusunnah wal jamaah.

2. Bertekad untuk menjaga hubungan ukhuwah islamiyah yang dibangun diatas rasa persaudaraan sesama muslimin, saling menghornati, mencintai dan saling membela sesama muslim.

3. Bertekad untuk membangun kebersamaan dalam rangka menjaga kerukunan dan kedamaian antar elemen bangsa dalam upaya mencapai kemaslahatan dalam kemajuan bangsa serta menjaga kedaulatan NKRI yang berdasarkan UUD 45.

4. Berjanji untuk menjaga etika dakwah, saling menghormati dan tidak memperuncing peebedaan pendapat dalam hukum hukuk agama yang dibangun berdasar petunjuk al Quran dan sunnah Rosululloh, serta madzab para ulama Ahlusunnah wal jamaah.

5. Bertekad untuk bersama sama memperjuangkan kemuliaan Islam wal muslimin dan membetenginya dari rongrongan siapapun yang memusuhi dan merusak ajarannya.

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua MUI Solo Ustadz Subari, Ketua DSKS Dr Muinudinillah Basri, Rois Syuriah PCNU Solo KH Shofwan Fauzi, Pimpinan Ponpes Al Mukmin Ngruki KH Wahyudin, Pimpinan MTA Ustadz Sukina, Pimpinan Ponpes Isy Karima ustadz Syihabudin dan sejumlah tokoh Islam lainnya.

Sambut Hari Santri, PBNU Agendakan Semilyar Orang Bershalawat Nariyah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Panitia Hari Santri Nasional, Marsudi Syuhud mengatakan, dalam rangka memperingati Hari Santri, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar beragam kegiatan. Kegiatan tersebut di antaranya istighosah akbar, doa bersama satu miliar sholawat nariyah serentak di seluruh Indonesia.

“Rangkaian kegiatan Hari Santri akan dilakukan sebelum tanggal 22 sampai setelah 22 (Oktober 2018),” katanya dalam konferensi pers Hari Santri Nasional 2018 di gedung PBNU, Jalan Kramat, Jakarta, Rabu (12/9/2018).

Tak hanya itu, kata Marsudi, peringatan Hari Santri Nasional juga akan dimeriahkan dengan jalan sehat keluarga sakinah. Hal tersebut dilakukan pengurus NU di daerah, serta ormas Islam lainnya.

“Kita juga adakan santri preneur award. Untuk pengusaha-pengusaha start up santri. Baik oleh NU atau non NU,” paparnya.

Marsudi melanjutkan, pihaknya juga akan melaksanakan Apel Hari Santri Nasional. Apel ini akan berlangsung di sekolah-sekolah, seperti di Madrasah Ibtidaiyah dan sekolah-sekolah Non-NU.

“Kita juga menggelar lomba kreativitas santri di seluruh pondok pesantren, lomba pidato dua bahasa, yaitu bahasa Arab dan Indonesia. Para santri di pondok pesantren juga akan lomba musabaqoh tilawatil quran dan desain grafis. Sehingga, para santri bisa menjadi enterpreneur,” tandas Marsudi.

Perisai: Pelapor Anak Jokowi Telah Bebas

BEKASI (Jurnaislam.com) – Humas Pusat Edukasi, Rehabilitasi dan Advokasi (Perisai) Dodiek Kurniawan mengatakan, Hidayat Simanjuntak pelapor Kaesang Pangarep putra Presiden Joko Widodo atas dugaan pencemaran nama baik, sudah selesai menjalani masa tahanan terhadap kasus provokasi yang diadili Pengadilan Bekasi pada Desember 2017 silam.
“Alhamdulillah berkat pertolongan Allah, Pak Hidayat sudah kembali ke rumah, setelah menjalani masa pidana selama 14 bulan yaitu sekitar 6 bulan di Lapas Bulakkapal Bekasi dan 8 bulan di Lapas Gunung Sindur Bogor,” katanya melalui siaran pers yang diterima redaksi Jurnalislam.com, Rabu (12/9/2018).
Hidayat mengungkapkan bahwa rasa syukurnya ini akan ia salurkan dalam ikhtiar untuk langkah lebih lanjut dalam mengupayakan visi misi perjuangannya, yaitu terkait dengan kasus pidana yang menjerat dirinya. Hidayat dikatakan melanggar UU ITE dengan dakwaan dianggap memprovokasi sebagai ujaran kebencian SARA, oleh penegak hukum.

“Saya menganggap pengalaman pidana ini luar biasa memberikan banyak sekali poin pelajaran dan hikmah dalam perjalanan dakwah yang kami dengan teman-teman tempuh, juga upaya untuk berkontribusi sebagai warga negara bagi kebaikan negeri ini, bangsa ini, dan utamanya untuk kebaikan Islam, kemaslahatan yang menjadi kewajiban kaum muslimin di manapun dia berada,” ungkap Hidayat.

Secara khusus, Hidayat mengucapkan syukur kepada Allah atas bantuan Perisai ketika masih menjalani masa tahanan di Lapas Bulakkapal dan di Gunung Sindur. Ia sangat bersyukur sekali, karena banyak sekali rekan dan sahabat yang memberikan perhatian.

“Perisai adalah salah satu sahabat kami yang begitu sangat memberikan perhatian dan kepedulian dan kita bisa melakukan kegiatan-kegiatan dakwah di dalam Lapas dengan dukungan yang luarbiasa dari Perisai,” ungkapnya.

Perisai lembaga kemanusiaan dan advokasi menurut Hidayat sangat membantu dalam kegiatan buka bersama, baik ketika puasa Ramadhan maupun puasa sunnah Senin-Kamis.

“Kita bisa mengadakan kegiatan iftor dengan jumlah yang cukup signifikan bagi mereka yang melakukan puasa baik di saat Ramadhan maupun puasa sunnah Senin Kamis, itu ada ratusan nasi kotak bantuan yang diberikan dari Perisai dan teman lain juga, subhanallah,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan ini adalah suatu anugerah tersendiri, dan ia selaku pribadi dan teman-temannya memberikan apresiasi yang tinggi dan terimakasih yang tulus dihaturkan kepada Perisai karena sudah mendukung dakwahnya di Lapas.

“Kami haturkan tulus terimakasih kepada Perisai karena begitu mendukung kita dalam kegiatan dakwah di Lapas. Mudah-mudahan dukungan ini menjadi suatu penyemangat bagi teman-teman yang ada di dalam dan penyemangat lebih lanjut bagi teman-teman yang sudah keluar,” tukasnya.