Polri Terjunkan 2.430 Personel dari Seluruh Polda ke Sulteng

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekitar 2.430 personel Polri siap diterjunkan ke lokasi bencana gempa tsunami Sulawesi Tengah. Pengiriman dilakukan secara bertahap, 2.430 personal BKO dari seluruh Polda se-Indonesia ini menuju Sulteng.

Hal itu disampaikan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 ‘Bersatu untuk Sulteng’ di Ruang Serba Guna Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Selasa (2/10/2018).

Baca juga: HAMAS Sampaikan Belangsungkawa atas Musibah Gempa Tsunami di Sulawesi

“Mereka terdiri dari sejumlah kesatuan-kesatuan, di antaranya K9, tim medis-kesehatan dan lainnya. Dari ribuan personel ini, yang baru masuk ke Polda Sulteng ada 600 personel. Dan ini kan terus berlanjut secara bertahap,” ujarnya.

Sedangkan pengiriman bantuan dari Mabes Polri dan Polda, diantaranya adalah kapal hospital, kapal polisi bisma, kapal pengolah air laut menjadi air bersih, 3 kapal pengangkut bahan pangan dan perlengkapan, dua pesawat fixwings, dua helikopter dolphin, 6 truk, 7 ambulan, dan lainnya.

“Bantuan ini untuk mendukung tugas-tugas Polri di lokasi bencana Sulteng. Pengawalan bahan pokok, khususnya Bahan Bakar Minyak (BBM). Sembako juga dikawal dari Sulbar ke Palu. Pengawalan BBM ke SPBU-SPBU dan di SPBU sendiri dikawal langsung oleh Polri,” ungkap Setyo.

Laporan Terbaru BNPB: 1.234 Tewas, 61.867 Mengungsi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam laporan terbarunya hingga Selasa (2/10/2018) pukul 13.00 WIB mencatat, korban tewas akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, bertambah menjadi 1.234 jiwa.

Selain itu, sebanyak 799 orang mengalami luka berat. Mereka tengah dirawat di rumah sakit.

“Jenazah terus berdatangan,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema ‘Bersatu untuk Sulteng’ di Ruang Serba Guna Kominfo, Selasa (2/10/2018).

Baca juga: Fauziyatul Khaeriyah, Hafizah yang Wafat Tertimpa Bangunan Akibat Gempa Palu

Sutopo memaparkan, jumlah korban meninggal paling banyak akibat tertimpa bangunan. Sebagian korban sudah dimakamkan.

“Korban tertimbun sampai 152 jiwa,” pungkasnya.

Selain itu, Sutopo menambahkan, jumlah pengungsi mencapai 61.867 jiwa yang tersebar di 109 titik.

“Jumlah setiap titik menampung sekitar 13-10.068 jiwa,” tuturnya.

Sebelum Tsunami Warga Sedang Menyaksikan Festival Adat Palu Nomoni

PALU (Jurnalislam.com) – Sebelum bencana alam gempa dan tsunami melanda kota Palu, warga sedang menyaksikan Festival Adat Palu Nomoni di Pantai Talise, Palu Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018). Mereka sedang mengikuti kegiatan Balia yang memang sudah lama hilang.

Balia adalah kebiasaan leluhur orang Palu ingin dihidupkan kembali. Balia sendiri dahulu digunakan untuk mengobati orang sakit menggunakan mantra dan dilakukan oleh orang yang ahli.

Menurut salah seorang Warga, Andi Ahmad, budaya ini baru dihidupkan kembali sejak 2016, biasanya menggunakan sesajen seperti menghanyutkan makanan ke laut, dan hewan ternak seperti kambing.

“Biasanya untuk mengobati orang sakit menurut cerita dahulu, identiknya sih dengan sesajen,” kata Andi Ahmad, kepada Islamic News Agency (INA) di jalan Garuda Dua, Birobuli Utara, palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018).

Ritual Balia

Dirinya melanjutkan, tradisi Balia sendiri biasanya identik dengan kain berwarna kuning yang menjadi hiasan panggung ataupun ruangan yang dijadikan tempat pengobatan tersebut.

“Jadi ini itu identik dengan pakaian kuning gitu, terus domba-domba yang masih hidup itu dijadikan bahan sesajen dihanyutkan di laut,” tambahnya.

Palu Nomoni berati artinya palu berbunyi. Menurut Andi, tradisi ini sebenarnya sudah lama lenyap sejak kedatangan guru tua habib Idrus bin Salim Al Jufri, yang disebut masih memiliki sanat keturunan dari Baginda Rasulullah SAW.

Baca juga: Gempa Tsunami Landa Sulteng, PKS Ajak Semua Pihak Beristigfar

“Sebenernya tradisi ini sudah lama hilang, dibersihkan sejak kedatangan guru tua, namun kembali dihidupkan,” tuturnya.

Dimulainya tradisi ini sejak 2016, terpilihnya walikota pasangan Hidayat-Sigit Purnomo Said (Pasha). Namun sejak 2016 juga terus terjadi hal-hal aneh seperti angin kencang.

“Jadi memang tradisi ini identik dengan roh halus, sejak 2016 dihidupkan kembali, memang 2016 dan 2017 itu setiap dirayakan angin kencang trus, saat ini barulah tsunami,” paparnya.

Reporter: Saifal | INA News Agency

Mengakhiri Polemik Impor Beras

Oleh: Mohammad Faisal, Ph.D | Direktur Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia

POLEMIK mengenai impor beras antara beberapa pejabat pemerintah khususnya antara Menteri Perdagangan dengan Direktur Utama Bulog menjadi bukti bahwa persoalan tata niaga beras di
negara ini belum diselesaikan secara tuntas. Menurut Center of Reform on Economics (CORE), momentum ini seharusnya menjadi pintu masuk untuk membenahi persoalan- tersebut secara tuntas. Untuk itu, CORE mengusulkan empat hal untuk memecahkan permasalahan yang terjadi hampir di setiap tahun tersebut.

Pertama, pengadaan beras impor harus melibatkan berbagai stakeholder dan dilakukan secara transparan dan pijakan yang kuat. Pada dasarnya impor pangan merupakan solusi jangka pendek, jika memang terdapat kesenjangan antara supply domestik dengan kebutuhan dalam negeri, mengingat beras masih menjadi kebutuhan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Meskipun demikian, proses impor selama ini dipandang negatif lantaran sejumlah alasan, seperti adanya praktik perburuan rente dalam penetapan kebijakan tersebut. Di samping itu, kegiatan impor cenderung membuat harga domestik jatuh pada titik yang merugikan petani. Kegiatan impor juga menguras cadangan devisa dan dalam jangka panjang akan menghambat upaya mewujudkan kemandirian pangan.

Oleh sebab itu, kegiatan impor harus dilakukan lebih transparan dengan melibatkan seluruh stakeholder, baik pemerintah, BUMN, asosiasi petani dan pedagang. Selain itu, prosesnya harus didukung oleh data yang valid dan estimasi yang akurat mengenai supply dan demand beras domestik. Pelaksanaan impor juga harus direncanakan secara matang sehingga tidak mengganggu keseimbangan harga gabah di tingkat petani.

Kedua, Pemerintah perlu membuat formula penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang mendorong minat petani dalam berproduksi. Sebagaimana diketahui, persoalan utama rendahnya penyerapan gabah/beras oleh Bulog lebih banyak disebabkan oleh harga pembelian gabah/beras BUMN yang lebih rendah dibandingkan dengan harga pasar. Sebagai contoh, di tahun ini, Bulog masih menggunakan HPP tahun 2015 yang mencapai Rp7.300/kg untuk beras dan Rp4.650/kg untuk gabah kering giling (GKG). Padahal, harga rata-rata beras medium di tingkat penggilingan pada bulan September sudah mencapai Rp 9.310/kg dan Rp. 5.501/kg untuk GKG di tingkat penggilingan.

Oleh sebab itu, HPP perlu ditetapkan secara reguler setiap tahunnya. Komponennya tidak hanya memperhitungkan biaya pokok produksi, perkembangan inflasi, namun juga ditambah dengan margin yang menguntungkan petani. HPP tersebut selain menjadi acuan Bulog dalam pengadaan stok, juga dapat menjadi harga batas bawah bagi pemerintah melakukan intervensi dengan menyerap seluruh produksi gabah yang ditawarkan petani. Kebijakan seperti ini telah diterapkan di Tiongkok. Meskipun negara tidak lagi mengontrol penuh sektor pertanian, namun pemerintah Tiongkok tetap melakukan intervensi untuk melindungi petani mereka. Pada tahun 2006, misalnya, pemerintah Tiongkok menyerap 40% gandum petani yang harganya lebih rendah dari batas bawah yang ditetapkan pemerintah. Hal yang sama juga dilakukan untuk beras, meskipun jumlahnya lebih sedikit yakni 4 juta ton dari total produksi sebanyak 181 juta di tahun itu (USITC, 2011).

Kebijakan ini tentu membutuhkan cadangan anggaran yang relatif besar. Namun, hal ini mampu memperbaiki kesejahteraan petani sekaligus menjadi insentif untuk meningkatkan produktifitas
mereka. Kebijakan tersebut juga akan memudahkan Bulog dalam menyerap beras baik untuk tujuan Public Service Obligation, komersial, ataupun untuk membangun stok pangan yang lebih aman. Cadangan Bulog hanya dibawah 10% dari total produksi nasional pertahun. Cadangan tersebut hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia selama 20 hari. Padahal, beberapa negara tetangga menguasai minimal 20% rata-rata stok pangannya.

Ketiga, Pemerintah perlu membenahi regulasi saat ini sehingga mampu mencegah praktik oligopoli, penimbunan, dan spekulasi. Lebih dari 90 persen distribusi beras saat ini dikendalikan
pelaku swasta, sementara sisanya sekitar 5-9 persen (1,5-3,6 juta ton) dipegang oleh pemerintah melalui Bulog. Dengan demikian, kemampuan pemerintah untuk menentukan harga pasar beras relatif terbatas. Namun demikian, pemerintah dapat menempuh beberapa kebijakan untuk mencegah praktik yang dapat mengganggu keseimbangan pasar, baik praktik oligopoli, penimbunan dan spekulasi. Di antaranya dengan pemberian sanksi berat seperti denda dalam jumlah besar bagi pelaku penimbunan, mewajibkan registrasi bagi para pedagang beras serta melakukan pengawasan reguler terhadap gudang-gudang dan perkembangan stok mereka. Di Singapura, dikenal dengan istilah Rice Stockpile Scheme (RSS), dimana pemasok beras wajib memiliki lisensi pengadaan beras.

Selain itu, cadangan beras di gudang-gudang mereka diperiksa secara berkala. Bentuk pengawasan lain yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk institusi yang bertugas melakukan pencegahan penimbunan komoditas strategis. Di Filipina, tugas ini dilakukan oleh Anti-Rice-Hoarding Task Force (ARTF) yang mampu menindak praktik-praktik penimbunan yang berpotensi mendistorsi harga beras. Pemerintah Malaysia memiliki Price Control and Anti Profiteering Act 2011, yang mengatur tentang mekanisme pengendalian harga dan larangan pengambilan keuntungan yang berlebihan pada produk makanan dan minuman, kebutuhan rumah tangga, dan personal care. Dengan aturan itu, harga-harga di negara tersebut menjadi relatif stabil sepanjang tahun.

Keempat, mendorong peningkatan produksi beras nasional dengan meningkatkan insentif bagi petani. Polemik impor beras tentu tidak perlu terjadi jika pasokan domestik cukup memadai.  Adapun surplus beras yang diklaim Kementerian Pertanian saat ini masih sangat marginal dan sangat rawan diperdebatkan. Oleh karena itu, selain memperbaiki tata niaga beras, perlu terobosan agar produksi beras nasional jauh melampaui kebutuhan nasional. Pendekatan pemerintah melalui perbaikan infrastruktur dan peningkatan pasokan input pertanian, harus diperkuat dengan pemberian insentif di sisi hilir berupa subsidi harga bagi petani seperti yang disampaikan di atas. Dengan demikian, selain meningkatkan cadangan nasional, sektor pertanian dapat memberikan sumbangan yang lebih besar pada pendapatan devisa nasional.

Jakarta, 2 Oktober 2018

Sedang Hamil Tua, Surantina Berlari Hindari Gempa dan Tsunami

“Kami minum dari air sungai. Kami masak. Airnya kami endapkan,” ujar dia.

PALU (Jurnalislam.com) – Wajahnya sudah terlihat pasrah. Perutnya yang terus membesar sudah tidak ia hiraukan. Surantina (38), warga Kampung Bamba Kadongo, Kelurahan Panau, Kecamatan Taweli, Kota Palu ini tengah hamil 8 bulan.

Pada Jumat (28/9/2018) sore, seperti biasa Surantina sedang berada di rumah bersama anak lelakinya yang berusia 10 bulan, Jestin Rafasya. Sang suami, Jefrie (29) baru saja pulang kerja. Seperti biasa, ia duduk santai di depan rumah yang menghadap ke Pantai Bamba. Mendadak, bumi berguncang hebat. Dinding rumah mereka pun terbelah.

“Saya refleks langsung lari ke luar rumah sambil gendong Jestin di bahu. Saya tak peduli lagi hamil. Yang saya pikirkan bagaimana saya dan anak saya selamat,” jelas Surantina.

Lututnya sempat terantuk batu. Tapi, Surantina tak mau menyerah. Ia berlari sekuat tenaga hingga menjauhi pantai dan mendekati bukit. Mungkin, hingga dua kilometer jauhnya.

Suaminya, Jefrie, sibuk menyelamatkan ibu dan saudara-saudaranya yang masih di rumah. Alhamdulillah semua anggota keluarga mereka selamat.

“Sekarang tinggal di pengungsian di Desa Anja. Tak terlalu jauh dari sini,” jelas wanita kelahiran Yogyakarta ini saat menengok ke reruntuhan rumahnya bersama sang suami untuk mencari sesuatu yang masih bisa dimakan.

Dikatakan Surantina, sejak gempa dengan magnitudo 7,4 skala richter yang terjadi pada tiga hari yang lalu, ia kesulitan untuk memperoleh makanan.

“Saya makan pisang, kentang, kacang-kacangan buat bertahan hidup sama keluarga. Anak saya kasih air gula,” ujar wanita berkulit sawo matang ini sambil air matanya menggenang.

Pakaian pun, kata Surantina, hanya yang melekat di badan saja. Oleh karena itu, ia heran dengan belum adanya sedikitpun bantuan yang ia terima dari pemerintah.

Padahal, rumahnya jelas-jelas hancur. Makanan tidak ada. Minum pun tak lagi dari air bersih. “Kami minum dari air sungai. Kami masak. Airnya kami endapkan,” ujar dia.

Surantina dan suaminya tak pernah menjarah. Ia tak berani sedikitpun untuk menghentikan kendaraan yang membawa bantuan.

Menurut Surantina, para pelaku penjarahan justru didominasi oleh orang luar Palu, yang bukan pengungsi.

“Kami ini masih trauma pak. Mana berani kami berbuat itu (menjarah-red). Kami hanya minta diperhatikan oleh pemerintah, terutama minuman dan makanan. Itu saja,” ungkap dia.

Hal lain yang menjadi beban pikiran Surantini adalah kehamilannya. Memasuki usia 8 bulan, Surantini bingung mengenai persalinannya. Saat diperiksa terakhir satu bulan yang lalu, dokter menyatakan janin dalam kandungannya berada dalam posisi melintang.

“Harus cesar kata dokter. Uang dari mana? Sekarang aja cuma punya uang Rp 200 ribu. Tak bisa dipakai. Tak ada warung yang buka untuk sekedar beli susu untuk anak saya,” keluh Surantini.

Ia hanya berharap bisa diterbangkan ke Bandung menggunakan pesawat Hercules. Kakaknya yang berada di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung berjanji akan mengurus persalinannya jika bisa ke Bandung.

“Tolong tanyakan ya pak. Barangkali saya bisa ke Bandung. Tolong ya pak,” pungkas Surantini.

Yayasan Harapan Amal mulia yang berad di lokasi berharap ingin membantu warga ini.

“Insha Allah kita juga akan coba membantu teman-teman disini, ini juga kami lagi mendata apa kebutuhan warga disini,” kata Riffa salah satu perwakilan Yayasan Harapan Amal Mulia dari Bandung.

Tak terasa air mata Surantina mengalir membasahi pipinya saat ditanya apa yang dimakan selama kurang lebih empat hari tinggal di hutan. Sambil meneteskan air mata dirinya menjawab bahwa mereka hanya makan seadanya, anaknya juga hanya dikasi air gula.

“Hanya air gula saja pak, kita juga makan apa adanya, ada ubi kita makan,” jelasnya, sambil meneteskan air mata.

Reporter: Saifal | INA News Agency

Gempa Tsunami Landa Sulteng, PKS Ajak Semua Pihak Beristigfar

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Musibah gempa bumi yang menyebabkan tsunami dan pergeseran tanah pada Jumat (28/9/2018) lalu di Kabupaten Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah telah memakan ratusan korban jiwa. Belum lagi infrastruktur yang hancur tak terhitung jumlahnya.

Dahsyatnya dampak gempa berkekuatan 7,4 SR itu dinilai Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera sebagai bencana alam luar biasa. Iapun mengajak semua pihak untuk beristigfar memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Mari perbanyak istigfar dan mendoakan sahabat-sahabat kita yang terkena bencana hebat ini di Palu dan Donggala,” kata Mardani dalam keterangan tertulis kepada diterima Jurnalislam.com, Senin (1/10/2018).

Berdasarkan data Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi dan tsunami di Donggala-Palu Sulawesi Tengah sebanyak 1.203 orang. ACT juga mencatat korban luka berat sebanyak 540 orang.

Wakil Ketua Komisi II DPR itu mengapresiasi Presiden Jokowi yang langsung turun meninjau lokasi bencana. “Apresiasi buat Pak Jokowi yang langsung memantau lokasi bencana,” kata Mardani.

Lebih lanjut, pria Betawi ini meminta pemerintah bergerak cepat dan strategis menghadapi bencana ini.

“Saya yakin masih banyak korban lagi yang belum ditemukan, fokus selamatkan warga yang masih bisa diselamatkan dan bantuan makanan obat-obatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Mardani.

Mardani meminta pemerintah mengevaluasi dan membenahi sistem deteksi tsunami di Indonesia. “Pemerintah harus belajar dari kesalahan, jangan sampai terulang lagi karena abai membiarkan sistem deteksi tsunami rusak,” kata Mardani.

Terakhir, Mardani mengajak seluruh kalangan untuk berdoa dan menyalurkan bantun untuk masyarakat Palu, Donggala dan Lombok yang terkena bencana hebat.

“Mari kita mendoakan dan berbagi untuk saudara-saudara kita yang terkena bencana baik di Palu, Donggala. Jangan juga melupakan Lombok karena kondisinya masih parah juga karena belum tertangani dengan maksimal,” pungkasnya.

Terus Bertambah, Korban Tewas Gempa dan Tsunami Sulteng 844 Jiwa

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam laporan terbarunya hingga Senin (01/10/2018) pukul 13.00 WIB mencatat, korban tewas akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, bertambah menjadi 844 orang.

Selain itu, sebanyak 632 orang mengalami luka berat. Mereka tengah dirawat di rumah sakit.

“Jenazah terus berdatangan,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Senin (1/10/2018).

Sutopo memaparkan, jumlah korban meninggal paling banyak berada di Palu, yakni 821 orang. Sebanyak 744 jenazah di antaranya sudah teridentifikasi.

Kemudian, di wilayah Parigi Moutong ada 12 orang meninggal dan di Donggala 11 orang meninggal.

“Dari wilayah Sigi belum dapat informasi,” ujar Sutopo.

Sutopo menekankan bahwa data ini sementara. Kemungkinan jumlah korban bisa bertambah.

Ia menjelaskan, korban meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan setelah gempa dan tersapu tsunami.

Selain itu, Sutopo menambahkan, korban meninggal harus segera dimakamkan karena kondisinya sudah membusuk.

Korban akan dimakamkan secara massal. Prosesi pemakanan akan dilakukan seperti ketika pemakaman massal korban gempa dan tsunami di Aceh dan erupsi Merapi.

HAMAS Sampaikan Belangsungkawa atas Musibah Gempa Tsunami di Sulawesi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Biro Politik Harakah Al-Muqawwamah Al-Islamiyah (HAMAS) Palestina, Ismail Haniyah turut berbelasungkawa atas musibah gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah.

Dalam surat yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo itu, Ismail Haniya mendoakan para korban khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya agar dijaga oleh Allah SWT. Berikut isi surat lengkap HAMAS kepada Presiden Republik Indoensia, Joko Widodo yang dilansir dari Islamic News Agency (INA), kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU):

Telah sampai kepada kami, Harakah Al-Muqawwamah Al-Islamiyah (HAMAS), kabar menyedihkan dan duka terkait gempa bumi yang cukup dahsyat dan tsunami yang melanda Pulau Sulawesi, dimana bencana tersebut mengakibatkan ratusan jiwa rakyat Indonesia tercinta meninggal dan lainnya mengalami luka-luka. Bencana itu juga mengakibatkan kerusakan pada gedung-gedung, properti-properti, dan fasilitas-fasilitas umum.

Terkait bencana ini, kami mengirimkan ungkapan tulus dari rasa belasungkawa dan empati kami yang terdalam; kepada Yang Mulia bapak Presiden, kepada para korban meninggal dan luka-luka, serta kepada seluruh rakyat Indonesia tercinta.

Kami memohon kepada Allah SWT agar merahmati para korban yang meninggal dan memberikan kesembuhan segera bagi korban luka-luka.

Rasa solidaritas yang utuh juga kami haturkan kepada pemerintah Republik Indonesia tercinta dan rakyatnya yang mulia, khususnya penduduk di Pulau Sulawesi.

Kami berharap agar Allah SWT menjaga bangsa Indonesia, menjauhkan dari segala keburukan, dan menguatkan langkah dalam menangani bencana alam ini.

Kami juga berharap semoga Allah SWT senantiasa memberikan keamanan dan ketenteraman, dan menganugerahkan limpahan kemajuan dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

Ismai Haniyah
Kepala Biro Politik HAMAS-Palestina

Fauziyatul Khaeriyah, Hafizah yang Wafat Tertimpa Bangunan Akibat Gempa Palu

MAKASSAR (Jurnalislam.com) – Fauziyatul Khaeriyah, lulusan terbaik Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di bawah reruntuhan bangunan pada Ahad (30/9/2018). Khaeriyah adalah korban gempa yang melanda Kota Palu dua hari yang lalu.

Selain berperetasi dalam bidang akademik, di usianya yang baru memasuki 18 tahun, Khaeriyah juga merupakan seorang hafidzah 30 juz dan seorang qari’ah bersuara merdu.

Dia adalah santriwati asal Sulawesi Tengah, putri Muhammad Alwi S.Ag dan Hasna. Kedua orang tuanya juga merupakan lulusan dari pesantren DDI Mangkoso.

Khaeriyah bersama para penghafal Qur’an dari Ponpes DDI. FOTO: INA News Agency

“Khaeriyah adalah santriwati yang taat, sopan dan alim. Selama di pesantren tidak pernah sekalipun dia melanggar aturan,” kata kepala sekolah Madrasah Aliyah DDI Mangkoso, Herman Tabi, M.Pd, kepada Islamic News Agency (INA).

Herman mengungkapkan, Khaeriyah mulai mondok di pesantren DDI Mangkoso sejak Madrasah Tsanawiyah, kemudian melanjutkan belajarnya di Madrasah Aliyah yang terletak di bukit Bulu Lampang.

“Dia mulai menghafal saat kelas satu Aliyah dan berhasil menyelesaikan hafalannya 30 Juz pada tahun 2018,” tutur Herman.

Sejak duduk di Madrasah Tsanawiyah, lanjut Herman, Khaeriyah selalu menempati rangking 10 besar. Dia lulus Aliyah tahun ini dengan menyabet sebagai lulusan terbaik.

Selama mondok dan menyelesaikan hafalannya di pesantren, dia baru pulang setelah khatam dan penamatan pondok bulan Juli lalu.

“Ketika saat terakhir meninggalkan pesantren di Kampus Bululampang, almarhum sempat tersenyum bersama kedua orang tuanya dengan penuh kebahagiaan sambil melambaikan tangan dan berkata semoga bisa bertemu kembali kampusku,” kenangnya.

Khaeriyah belum berniat kuliah, kata Herman, karena masih mau mendaras hafalannya di Palu. Ketika gempa datang dia sedang mendaras hafalannya.

Sampai saat ini, kabar kedua orangtua Khaeriyah belum diketahui.

Ustadz Arnold Al-Gonzaga Berbagi Pengalaman Sebelum Masuk Islam

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Mualaf Center Semarang (MCS) mengadakan Safari Dakwah selama dua hari mulai tanggal 29-30 September 2018 di Semarang dengan mengundang Ustadz Arnold Abdurrahaman Al-Gonzaga yang sekarang aktif menjadi pembina Mualaf Center Yogyakarta.

Ketua MCS, Agus Triyanto menyampaikan bahwa agenda safari dakwah yang diselenggarakan tersebut bertujuan untuk menguatkan akidah ummat Islam serta memotivasi kaum muslimin untuk belajar Islam dengan sungguh-sungguh

“Sengaja kami agendakan untuk penguatkan aqidah bahwa Islam adalah ajaran yg benar dan di ridhoi Allah sehingga banyak orang berbondong bondong masuk Islam sekaligus untuk motivasi umumnya kaum muslimin untuk lebih giat dalam belajar Islam,” ucapnya kepada Jurnalislam, Ahad (30/9/2018).

Safari dakwah tersebut diadakan di lima lokasi yaitu di Masjid Hotel Grasia Jl. S Parman No 29, Masjid Al-Ikhwan Delikrejo Tembalang, Masjid Miftahul Huda Tlogosari, Majid Muhajirin Pandaran Hills Sambiroto dan terakhir di Masjid Attaqwa Halmahera.

Dalam tausiahnya di Masjid Attaqwa Halmahera, ustadz yang memiliki nama asli Arnold Al Gonzaga ini menceritakan pengalamannya sebelum masuk Islam. Sebelum menjadi Islam, ia didoktrin dengan stigma negatif tentang Islam oleh keluarganya seperti Islam adalah agama yang terbelakang, miskin, tidak toleran hingga disebutkan Islam adalah agama pedang dan teroris.

“Sebelum menjadi muslim ditanamkan kepada kami bahwa Islam itu tidak peduli dengan orang lain, Islam itu penuh dengan kekerasan, Islam sama dengan teroris sama dengan pedang,” papar ustadz kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur itu.

Tapi semua opini negatif tentang Islam akhirnya diketahuinya sendiri bahwa itu tidak benar. Hal itu diketahuinya saat berinteraksi langsung dengan ummat Islam di Yogyakarta.

“Maka ketika saya mengalami secara langsung, interaksi bersama dengan orang-orang muslim, saya menemukan Islam penuh dengan kedamaian, penuh dengan cinta kasih, jadi saya menyimpulkan bahwa Islam agama yang cinta kasih yang rohmatan lilalamin,” ucap mualaf yang masuk Islam di tahun 2000 itu.

Ia dikirim keluarga untuk dididik di Seminari Tinggi Misionaris keluarga Kudus Yogyakarta untuk menjadi pastor. Walaupun akhirnya ia keluar dari biara karena tidak sanggup menjadi pastor.

“Saya keluar dari biara karena saya gak sanggup, karena jika sudah menjadi pastor dilarang menikah,” katanya.

Ketika sudah memeluk Islam, berbagai ujianpun dialami seperti ditolak menjadi keluarga dan dicoret sebagai ahli waris. Selama 18 tahun menjadi muslim, Ustadz Arnold tidak pernah kembali di kampung kelahirannya. Saat ini ia menetap di Yogyakarta bersama keluarganya.

Terakhir, ayah dua anak ini menyampaikan pesan khusus kepada mualaf dimanapun berada untuk meningkatkan Iman dan taqwa. karena itu modal istiqomah sampai ajal menjemput.

“Yang pertama harus memperkuat keimanan kita , beriman bertawakkal mutlak kepada Allah, tuhan yang menjadi Rabb kita, tidak ada tuhan yang lain, dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita akan menjadi modal Istiqomah didalam Islam sampai akhir ayat kita,” jelasnya.

“Mudah-mudahan dengan iman yang kokoh, aqidah yang kuat ibadah yang taat istiqomah diatasNya, kita bisa meraih apa yang Allah janjikan, terbebas dari segala kekuatiran, rasa takut dengan persoalan yang terkait dengan dunia, tidak ada kesedihan terhadap masalalu kita , lalu kita bergembira dengan apa yang dijanjikan Allah yaitu surgaNya,” pungkasnya