Reporter: Arie RistyanRedaktur: Ally Muhammad Abduh
Gus Nur juga mengaku kecewa dengan sikap aparat kepolisian yang tidak menindak tegas pihak-pihak yang melakukan persekusi terhadap tokoh umat Islam.
PALU (Jurnalislam.com) – Penceramah asal Jawa Timur, Sugi Nur Raharja alias Gus Nur mengaku tidak kaget atas adanya persekusi yang kembali diterima oleh aktivis Islam dan ulamanya. Termasuk kasus terbaru yang dialami Habib Bahar bin Smith yang dipersekusi di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado Senin lalu.
“Ya sudahlah, kita memang hidup di rezim yang seperti ini, ada ustadz Tengku Zulkarnain, Fahri Hamzah masuk ke ring satu bawa parang di pinggirnya pesawat, memang kita hidup ya seperti sekarang ini, maka kita ndak kaget, hanya prihatin, marah kecewa,” katanya kepada Jurnalislam.com saat di Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu, Rabu (17/10/2018).
“Kan harusnya begini, itu undang-undang, gak boleh bawa itu ke bandara, harusnya ditangkap dan ditembak kakinya, aturannya kan seperti itu,” sambung Gus Nur.
Lebih lanjut, Gus Nur juga mengaku kecewa dengan sikap aparat kepolisian yang tidak menindak tegas pihak-pihak yang melakukan persekusi terhadap tokoh umat Islam.
“Tapi saya capek menyalahkan orang, tapi kan salah bawa parang ndak ada tindakan apapun, dibiarkan ditonton, jadi penonton gitu kan,” ungkapnya.
“Dan itu tidak memungkinkan saya juga mengalami juga seperti itu, saya nggak kaget lah,” ujarnya.
Pimpinan pondok Karomah 13 Palu ini berpesan kepada umat Islam agar tetap tenang dan tidak terprovokasi. Namun, kata Gus Nur, ketika musuh datang, umat Islam harus siap menghadapinya meski nyawa menjadi taruhannya.
“Ndak usah takutlah dengan apapun, kita diciptakan oleh Allah itu untuk jadi khalifah, seneng mati, sedih mati, bahagia mati, sama, dipersekusi mati ndak dipersekusi ya mati, sama. Mau dakwah mati, mau diem mati, mau jihad juga mati, sama gak ada pilihan, tinggal kita mau pilih mati yang kayak gimana gitu aja,” pungkasnya.
Reporter: Arie RistyanRedaktur: Ally Muhammad Abduh
Gus Nur akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan penghinaan terhadap Nahdlatul Ulama dan Banser.
PALU (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pondok Pesantren Karomah 13 Palu, Sugi Nur Raharja alias Gus Nur akan memenuhi panggilan dari Polda Jatim pada Kamis (18/10/2018). Pemanggilannya terkait kasus dugaan penghinaan terhadap Nahdlatul Ulama (NU) dan Banser. Gus Nur akan diperiksa sebagai saksi.
Gus Nur mengatakan, surat panggilan itu diterimanya saat safari dakwah di Solo beberapa waktu lalu. Ia juga mengaku siap menghadapi laporan dari Forum Pembela Kader Muda Nahdlatul ‘Ulama (NU) itu.
“Saya gak tau itu, waktu itu lagi safari dakwah di Solo tiba-tiba ada tamu dari Polda datangi saya di Solo antarkan surat panggilan itu,” katanya kepada Jurnalislam.com di Bandara Sis Al Jufri Palu, Rabu (17/10/2018).
Musabab pemanggilan itulah, Gus Nur harus kembali meninggalkan Palu dengan lebih cepat.
“Karena ndak bisa lama-lama di Palu, karena dalam rangka itu malam ini ke Surabaya dan besok ke Polda,” tandasnya.
Sebagaimana diketahui, Gus Nur dilaporkan anggota Forum Pembela Kader Muda NU Dr H. Moh Ma’rufsh karena dianggal mengihina NU dan Banser dalam video berdurasi 1 menit 26 detik yang beredar di media sosial.
“Kayaknya penyemaran nama baik, kemarin petugas Polda yang ngantarkan surat panggilan itu kan saya sempat nanya, siapa yang laporan, Banser gitu,” pungkasnya.
MALANG (Jurnalislam.com) –Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali menyalurkan bantuan untuk korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi tengah. Secara total bantuan yang dikirimkan oleh BMH sebanyak 20 ton untuk beberapa item bantuan dengan melalui Bandara Abdul Rahman Saleh Malang, Selasa (16/10/2018).
General Manager BMH Perwakilan Jatim, Muhammad Gani Irwansyah SH mengungkapkan bahwa, penggalangan bantuan peduli gempa Palu masih terus dilakukan sampai dengan tahap rehabilitasi pemulihan kondisi masyarakat terdampak bencana.
“Alhamdulillah hari ini BMH kembali mengirimkan bantuan logistik lebih dari 20 ton bekerja sama dengan TNI AU Abdul Rahman Saleh Malang, bantuan ini baru dari wilayah jawa timur saja dan akan berlanjut dari BMH di wilayah lainnya, kita harapkan kondisi masyarakat terdampak segera tertangani dengan baik,”ungkap Gani.
Sebelumnya BMH telah mengirimkan bantuan berupa beras dan pakaian baru hampir 8 truk melalui jalur darat dengan rute Makassar menuju Palu.
Bantuan yang terkumpul tersebut merupakan titipan dari para donatur yang telah mengamanahkan melalui BMH di Jawa Timur. Adapun bantuan tersebut terdiri dari beberapa item, diantaranya berupa makanan siap saji seperti mie instan, mineral, pampers anak-anak, pakaian anak-anak, gula, beras.
Selain logistik makanan BMH juga mengirimkan bantuan lainnya berupa terpal, tikar dan obat-obatan semuanya telah dikirim ke Palu dengan menggunakan pesawat Hercules.
“BMH terus menggalang bantuan, terutama untuk pemulihan pasca gempa yang sangat di butuhkan minimal rumah hunian sementara.”imbuhnya.
LUMAJANG (Jurnalislam.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mengirimkan bantuan untuk korban bencana di Palu dan Donggala. Bantuan tersebut diberangkatkan secara resmi oleh Bupati Lumajang, Thoriqul Haq dari kantor BPBD Lumajang pada Rabu (17/10/2018).
Dalam sambutannya, pria yang akrab dipanggil Cak Thoriq ini menyampaikan agar masyarakat Lumajang memiliki kesadaran evakuasi kebencanaan. Sehingga, saat terjadi bencana tiba-tiba, tidak sampai ada korban jiwa.
Peristiwa gempa bumi yang terasa hingga ke Lumajang beberapa waktu lalu, tambah Thoriq, harus jadi pembelajaran tanggap bencana.
“Semoga Lumajang dijauhkan dari bencana,” harapnya.
Sementara itu, Kabid Pencegahan Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD Lumajang, Wawan Hadi menyampaikan, jenis bantuan yang dikirim meliputi sembako, makanan bayi, makanan instan, baju layak pakai, terpal, dan obat-obatan. Selain barang, BPBD Lumajang mengirimkan bantuan uang sejumlah Rp. 156.967.000,-
“Bantuan ini merupakan hasil pengumpulan dana dari beragam elemen kelompok masyarakat, di Lumajang” papar Wawan.
Lanjutnya, pihak BPBD masih siap menerima dan menyalurkan bantuan dari masyarakat.
“Status tanggap darurat di Sulteng masih diperpanjang sampai akhir bulan. Termasuk di BPBD Jatim juga masih menerima donasi dari kota-kota se Jatim.Monggo bila masih ada yang ingin menyalurkan bantuan,” ajaknya.
Reporter: Arie RistyanRedaktur: Ally Muhammad Abduh
PALU (Jurnalislam.com) – Wakil Walikota Palu, Sigit Purnomo Syamsuddin Said (Pasha Ungu), menyatakan siap mengundurkan diri dari jabatannya bila tidak mampu menyelesaikan persoalan yang mendera Kota Palu pascagempa dan tsunami disertai likuifaksi, 28 September 2018.
“Saya secara pribadi sebagai wakil walikota kalau memang dianggap tidak maksimal menjalankan pemerintahan, saya tidak ada masalah, saya siap diturunkan atau mengundurkan diri,” ujar Pasha sembari meneteskan air mata di kantor DPRD Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (17/10/2018).
Pernyataan tersebut dikeluarkan Pasha Ungu di sela skors rapat dengar pendapat di kantor dewan setempat karena tidak dihadiri Wali Kota Palu, Hidayat. Menurut dia, jika pascagempa masyarakat memintanya mundur, dia siap. Meski demikian, dia belum menyampaikan secara formal kepada Walikota Palu, Hidayat, bagaimana tanggapannya nanti.
Dia juga mengaku tidak ambil pusing terhadap kelompok masyarakat tertentu yang sengaja memperkeruh suasana agar warga tidak memercayai kinerjanya selama ini. Sebab, apa yang sudah dikerjakan dalam menangani bencana, sudah dilakukan semaksimal mungkin.
“Kami tidak peduli dihujat, kami tidak mau pusing dihina sampai dikatakan tidak mampu. Saya secara pribadi tanpa membawa unsur-unsur pemerintah berusaha bekerja. Kalau setelah ini, saya (mundur), mungkin pak wali seperti apa nanti, bagaimana tanggap beliau, saya belum tahu,” katanya.
Vokalis band Ungu itu mengatakan, di awal pascagempa, bantuan logistik yang datang sangat terbatas. “Apalah artinya saat datang di awal-awal hanya satu truk, kira-kira bagaimana rasanya kalau Anda berada di situ. Boleh dikata aparatur pemerintah sudah bekerja untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, kira-kira seperti apa yang kami harus lakukan,” bebernya dengan bicara terbata-bata.
Pasha mengaku tidak mempersoalkan jabatan yang diembannya. “Saya kira itu bukan persoalan. Tapi, hari ini bagaimana kita memberikan pemenuhan jaminan hidup masyarakat kita terkait tuntutan kebutuhan makanan mereka karena tanggap darurat ini diperpanjang sampai tanggal 26 Oktober,” ujarnya.
Rapat dengar pendapat yang akan membahas pemulihan kota serta anggaran bantuan kepada korban pascagempa diskors tanpa batas waktu sampai Walikota Palu, Hidayat, hadir untuk memberi penjelasan penanganan bencana. Awalnya, rapat yang dipimpin Ketua DPRD Palu, Ishak Cae, berlangsung alot sebab anggota dewan mengajukan interupsi meminta wali kota hadir dalam rapat. Hal itu sesuai dengan kesepakatan awal hingga akhirnya anggota lain ikutan interupsi dan walk outmeninggalkan ruang rapat.
Pada saat bersamaan, sejumlah warga masuk di ruang rapat sambil membawa spanduk mosi tidak percaya dengan pemerintahan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Palu terkait dengan penanganan pascagempa yang dinilai lamban. Mereka meminta beberapa angota DPRD setempat bertanda tangan.
“Tapi tsunami itu dia belah ini masjid, dia lompat begini,” kata Alif dengan dua tangannya mencoba menirukan bentuk air yang melompat di atas kubah masjid.
JURNALISLAM.COM – Pasca gempa bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu dan sekitarnya, kisah-kisah tentang karomah bermunculan. Gempa berkekuatan 7,4 SR disertai tsunami yang terjadi pada Jumat (28/9/2018) itu telah meluluhlantakkan beberapa wilayah di Kota Palu, Donggala, dan Sigi.
Satu peristiwa unik terjadi ketika tsunami menerjang Keluharan Pantoloan, Kecamatan Tawaile, Kota Palu. Sebuah masjid tua berukuran 18 x 20 m2 masih tampak masih utuh kendati telah diterjang gempa bumi dan tsunami.
Warga sekitar menyebutnya Masjid Jamie, namun karena terletak di Kelurahan Pantoloan, masjid yang didirikan pada tahun 1936 oleh seorang ulama dari Banjar itu kemudian dikenal dengan nama Masjid Jamie Pantoloan.
Masjid Jamie Pantoloan terletak tidak jauh dari Gate I Pelabuhan Pantoloan. Dari ujung utara dermaga pelabuhan, masjid berwarna hijau terang dengan kubah segitiga berlafadz Allah itu sudah dapat dilihat.
Masjid ini masih utuh, seolah tak tersentuh gempa dan gelombang tsunami yang menurut penuturan salah seorang saksi mata, gelombang berwarna hitam itu setinggi pohon kelapa.
Masjid Jamie Pantoloan dari udara. Foto: Rizal/ACT
Saksi mata itu bernama Muhammad Alif Firmansyah. Pemuda 18 tahun itu adalah salah satu jamaah Masjid Jamie Patoloan yang terbilang aktif. Setiap hari, mahasiswa semester tiga jurusan sosiologi Universitas Tadulako (Untad) Palu itu mendirikan shalat lima waktu di Masjid Jamie Pantoloan ini.
“Alhamdulillah lima waktu saya di sini,” kata Alif.
Petang itu, azan magrib sedang berkumandang, Alif yang sedang berwudhu tiba-tiba dikejutkan dengan gempa besar yang tak biasa. Menurut Alif, gempa memang sudah sering terjadi, tapi tidak sebesar gempa Jumat petang itu.
Tak sampai ia selesaikan wudhu, tubuhnya tak kuasa lagi menahan goncangan. Alif pun terjatuh berkali-kali. Demikian juga dengan jamaah yang sudah bersiap di dalam masjid. Gempa itu terjadi ketika seruan azan sampai di “Hayya ‘ala sholah”.
Muhammad Alif Firmansyah. Foto: Ally/Jurniscom
“Pas Hayya ala sholah itu, datang itu gempa, memang kita taluncur semua, ada yang tasalto, ada yang terbanting keluar sampai pagar, sampai berjalan merangkak seperti bayi, tapi dia orang azan itu dia lanjut sampai habis,” ungkap Alif dengan logat khas To Kaili (orang suku kaili).
Gempa berhenti bersamaan dengan lantunan kalimat terakhir azan “Laa ilaaha illallah”. Tak lama kemudian suara gemuruh yang amat keras semakin mendekat dari arah barat.
Rupanya tsunami setinggi pohon kelapa datang menerjang Kelurahan Pantoloan. Di situlah sepintas Alif melihat air terpecah di atas kubah Masjid Jamie Pantoloan.
“Tapi tsunami itu dia belah ini masjid, dia lompat begini,” kata Alif dengan dua tangannya mencoba menirukan bentuk air yang melompat di atas kubah masjid.
“Dia (tsunami) belah begini,” sambung Alif, sembari memisahkan dua tangannya ke samping kanan dan kiri.
“Lalu dia pecah itu air di atas kubah,” tuturnya.
Alif yang panik, lalu menyalakan motor dan tancap gas menuju rumah untuk menyelamatkan orang tuanya. Entah bagaimana cara Alif bersama rekannya bisa menyelamatkan diri dari tsunami yang sudah sedekat itu.
“Kuasa Allah itu sudah,” kata Alif singkat.
Setibanya di tempat yang aman, Alif mengira semua jamaah masjid saat itu berlari menyelamatkan diri. Namun ternyata, sang Imam masih berada di dalam masjid. Imam masjid itu tak lain adalah guru Allif sendiri bernama Ustadz Upik.
“Ustadz Upik itulah yang diam disini (masjid-red) dan menyaksikan tsunami hingga selesai,” ujar Alif.
Sayang, Ustadz Upik sedang tidak berada di tempat ketika kami mendatangi masjid itu. Ia tengah berada di pengungsian di daerah Palu Utara.
Alif dan keluarga berhasil lolos dari terjangan tsunami yang telah meluluhlantakkan kampung halamannya. Saat ini ia tinggal di rumah saudaranya.
Bahtiar (49) jamaah masjid Jamie Pantoloan yang berhasil selama dari tsunami. Foto: Ally/Jurniscom
Namun, naas bagi jamaah masjid Jamie Pantoloan lainnya bernama Bahtiar (49). Ia harus mengikhlaskan sang ibu yang terlepas dari gendongannya ketika terseret arus tsunami sejauh 200 meter.
Ketika gempa terjadi, Bahtiar bersama Alif dan jamaah shalat magrib lainnya sedang berada di masjid. Ia kemudian berlari ke rumah untuk menyelamatkan ibunya. Jarak masjid ke rumah Bahtiar hanya sekitar 50 meter.
“Ketika Hayya ala sholah langsung goncang keras, saya langsung lari keluar masjid ambil mama saya langsung saya kasih naik angkat ke punggung,” tutur Bahtiar.
Saat berlari menggendong ibunya, tiba-tiba air mendorong Bahtiar dari belakang. Bahtiar terseret sejauh 200 meter dan kehilangan ibunya.
Saat terseret arus, Bahtiar sadar pegangan sang ibu terlepas dari pundaknya. Namun dzikir dan doa tak terlepas dari hatinya.
“Ketika di dalam air, saya seperti diblender sudah, saya berdzikir,” kata Bahtiar.
Bahtiar selamat karena ia terjepit kayu ketika gelombang tsunami kembali ke laut. Kakinya terluka setelah berusaha melepaskan diri dari jepitan kayu. Tsunami reda, kakinya terlepas.
“Saya langsung shalat di tempat kaki saya terjepit itu, dan saya sudah tidak tahu lagi ibu saya dimana,” ucap Bahtiar.
Bahtiar kemudian dirawat di Rumah Sakit. Ibunya ditemukan 3 hari pasca gempa di bawah reruntuhan yang tidak jauh dari Masjid Jamie Patoloan.
“Adik saya yang temukan mama, karena saya kan dirawat selama empat hari,” kata Bahtiar sembari menunjukkan luka-luka di tubuhnya.
Seluruh jamaah masjid Jamie Patoloan yang hendak menunaikan shalat magrib saat itu berhasil selamat. Namun peristiwa itu takkan pernah lepas dari ingatan mereka.
Saat kami menemui mereka sore itu, Sabtu (13/10/2018), sebagian besar mereka bersama warga lainnya sedang bergotong royong membangun benteng masjid.
Keajaiban utuhnya Masjid Jamie Pantoloan sempat viral di media sosial. Karenanya, orang-orang terus berdatangan untuk melihat langsung kondisi masjid itu. Tak sedikit dari mereka yang memberikan donasi untuk biaya perawatan masjid.
“Itu karpet di dalam baru semua, banyak orang kasih sumbangan karena tahu masjid ini utuh setelah tsunami,” kata Ketua DKM Masjid Jami Pantoloan, Hasanuddin.
Hasanudin berharap, dengan apa yang terjadi pada Masjid Jamie Pantoloan ini, warga Pantoloan semakin meningkatkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’la.
Masjid Jamie Pantoloan tetap utuh. Foto: Ally/Jurniscom
“Ini (musibah) peringatan, barangkali di sini masih banyak yang maksiat, jadi semoga warga Pantoloan semakin rajin ibadahnya,” tutur Guru Madrasah Tsanawiyah ini.
Kelurahan Pantoloan menjadi salah satu daerah terdampak gempa-tsunami dengan jumlah korban terbanyak. Tercatat 98 orang yang ditemukan tewas dan puluhan lainnya dinyatakan hilang. Sementara, masa evakuasi dinyatakan berakhir sejak 11 Oktober lalu. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.
Apa yang terjadi pada Masjid Jamie Pantoloan, kepada Alif dan Bahtiar itu hanyalah sebagian kecil dari karomah yang Allah berikan kepada makhluk yang dicintaiNya. Masih ada banyak kisah karomah lain yang terjadi di bumi Kaili ini pasca gempa-tsunami yang tak terekspos.
Gempa boleh saja meluluhlantakkan rumah kami, tsunami boleh jadi menyapu tanah kami, tapi bukan To Kaili jika tak patuh pada petuah Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, “Kepada Allah aku ajak semua muslim dan ini adalah kitabNya”
“Tinggi, tinggi sekali itu pak, warnanya hitam, seperti ular kobra rupanya,” kata kakek 5 cucu itu menggambarkan ombak besar yang melaju cepat dan terus mendekat.
DONGGALA (Jurnalislam.com) – Waktu shalat magrib kan segera tiba, Tanwir Haji Mursaid (60), bersiap menuju masjid Al-Mujahidin, Pelabuhan Wani II, Kecamatan Tanatopea, Kabupaten Donggala. Ia adalah imam di sana.
Masjid Al-Mujahidin terletak persis dekat dermaga Pelabuhan Wani II. Jamaah shalat magrib masjid seluas 10 x 15 m2 itu biasanya sekitar 3 sampai 4 baris. Begitu kata Pak Tanwir.
Saat itu, tidak ada kekhawatiran sedikitpun, Pak Tanwir yang sudah rapih dengan sarung tenun dan batiknya, berjalan tenang menuju masjid terbesar di kecamatan Tanatopea.
Bapa Tanwir Haji Mursaid, Imam Masjid Al-Mujahidin. Foto: Ally/Jurniscom
Waktu magrib pun tiba, Pak Tanwir meminta sang muazin untuk mengumandangkan azan. Namun tak tiba-tiba bumi berguncang, masjid bergoyang-goyang seperti ditimang-timang.
“Prak, prak, prak” suara bangunan berjatuhan, Pak Tanwir sempat terjatuh berkali-kali di dalam masjid, kemudian berlari menyelamatkan diri.
Ternyata, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan Sulawesi Tengah berduka. Gempa 7,4 SR diikuti tsunami dan likuifaksi (pencairan tanah) melanda beberapa wilayah di titik di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, beberapa saat sebelum maghrib, Jumat (28/9/2018).
Kekagetan Pak Tanwir bertambah saat berada di luar masjid yang menghadap pantai itu, ia diperlihatkan sosok hitam tingginya melebihi Kapal Sabuk Nusantara 39 yang sedang bersandar di dermaga Pelabuhan Wani.
Kapal Sabuk Nusantara 39 yang terseret tsunami. Foto: Ally/Jurniscom
“Tinggi, tinggi sekali itu pak, warnanya hitam, seperti ular kobra rupanya,” kata kakek 5 cucu itu menggambarkan ombak besar yang melaju cepat dan terus mendekat.
Tak Tanwir menjelaskan, berdasarkan penuturan warga desa Wani yang selamat dari terjangan tsunami, ombak hitam itu bukan air laut, melainkan semburan lumpur dari dalam tanah bawah laut yang terbelah ketika gempa terjadi.
Warga itu bernama Ambo, saat ini Ambo tengah dirawat di Puskesmas. Pak Tanwir mengisahkan, saat kejadian Ambo sedang berada di kapal pengangkut barang yang bersandar di dermaga untuk memindahkan pupuk ke dalam gudang kapal.
Ambo sempat terseret jauh oleh tsunami, beruntung dia selamat dan hanya terluka di bagian punggung saja.
Melihat ombak hitam nan tinggi itu, Pak Tanwir berlari menuju rumah untuk menyelamatkan sang istri.
Mereka bersama warga pelabuhan Wani lainnya berlari sejauh 5 km menjauhi pantai. Hampir tidak mungkin bagi kakek 60 tahun berlari tanpa henti dengan jarak sejauh itu. Tapi itulah yang dialami Pak Tanwir saat tsunami menerjang pesisir Wani.
“Saya bawa lari istri dan cucu saya, saya terus lari jauh-jauh dari pantai, kira-kira 5 km,” tutur Pak Tanwir mengisahkan.
“Sa (saya-red) juga heran kenapa saya bisa kuat lari sejauh itu,” sambungnya.
Beruntung, Pak Tanwir bersama seluruh anggota keluarganya selamat dari tsunami yang juga menerjang beberapa daerah lainnya seperti Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Tapi rumah Pak Tanwir beserta isinya tak terselamatkan lagi. Rumahnya hancur terseret puluhan meter dari lokasi asalnya.
“Rumah kami sudah tidak ada pak, hancur kena tsunami,” tutur Pak Tanwir lirih.
Tak hanya rumah Pak Tanwir, pemukiman penduduk di sekitar Pelabuhan Wani II juga hancur digusur tsunami. Tsunami menyapu bersih semua bangunan yang dilewatinya.
Kondisi Dewa Wani, Kecamatan Tanatovea, Kab Donggala, Sulteng. Foto: Ally/jurniscom
Tsunami meninggalkan pemandangan suram yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Desa Wani II, tempat ia lahir dan dibesarkan kini luluh lantak. Kayu dan batu-batu dermaga berserakan dimana-mana. Kapal Sabuk Nusantara 39 sebesar itupun terseret hingga “mendarat” di tengah-tengah pemukiman warga.
Belum lagi nyawa yang hilang. Hanya delapan jenazah warga Pelabuhan Wani II yang berhasil ditemukan, sementara puluhan lainnya dinyatakan hilang. Mereka yang selamat pun tak luput dari luka-luka. Termasuk istri Pak Tanwir yang sempat dirawat karena luka di bagian kaki akibat terjatuh beberapa kali saat menyelamatkan diri.
Namun semua warga terkejut ketika Masjid Al-Mujahidin yang posisinya tepat di bibir pantai, tidak mengalami kerusakan berarti. Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kuasa-Nya pada masjid berkubah hijau ini.
Padahal nyaris tak ada yang penghalang antara masjid dengan laut. Meski bangunan di sekelilingnya hancur berkeping-keping, tapi ia tetap kokoh berdiri. Beberapa bagian masjid memang retak-retak, tapi masjid berwarna hijau itu masih layak dipakai.
Ia dikelilingi kayu-kayu dari rumah-rumah yang hancur dan material yang dibawa tsunami dari laut. Sebuah kapal nelayan bersandar tepat di halaman depannya.
“Masjid itu masih utuh pak, tak ada rusak,” kata seorang warga.
Menatap Laut. Bapa Tanwir Haji Mursaid, Imam Masjid Al-Mujahidin. Foto: Ally/Jurniscom
Sore itu, Selasa (9/10/2018) Pak Tanwir sedang berdiri termenung di atas dermaga samping Kapal Sabuk Nusantara 39 yang mendarat.
Tatapannya tajam melihat ke arah laut lepas, seolah melemparkan tanya, kenapa engkau menjadi begitu buas.
Namun Pak Tanwir paham betul soal hikmah di balik musibah.
Ia yakin ada pesan Tuhan di balik bencana yang dialami manusia. Karena mutiara akan berserakan di pantai saat badai usai dan pelangi tiba ketika hujan mereda.
“Ini peringatan sudah, peringatan ini, semoga cepat sadar semua orang ini,” tutur Pak Tanwir.
Lantunan ayat suci mulai diperdengarkan dari Masjid Al-Mujahidin. Itu tandanya Pak Tanwir harus segera pulang untuk bersiap menunaikan panggilan-Nya.
Sebagai imam masjid, Pak Tanwir kerap mengingatkan warganya untuk bergegas menyambut panggilan shalat.
Di akhir perbincangan, Pak Tanwir sedikit menyinggung musabab musibah hari Jumat itu terjadi.
Salah satunya adalah kesyirikan yang ada dalam ritual adat Palu Nomoni.
Meskipun Pak Tanwir tak menjelaskan secara terperinci, tapi ia dengan tegas menolak tradisi tersebut.
Menurutnya, ritual itu sudah tidak perlu dilakukan lagi karena ada unsur syirik di dalamnya.
“Waktu Palu Nomoni pertama kali diadakan lagi, itu ada angin kencang, petir. Tak perlu lagi itu Palu Nomoni, itu syirik,” tegasnya.
Beberapa warga Palu yang sempat diwawancarai tim Jurnalislam.com memang tidak setuju dengan ritual Palu Nomoni. Alasan mereka seragam. “Itu syirik”.
SIGI (Jurnalislam.com) – Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Desa Salua, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Desa ini sempat terisolir beberapa hari karena akses jalan yang tertutup oleh material longsor yang diakibatkan oleh gempa.
“Hari ini kita datang ke Desa Salua meski hari ini listrik di sini masih terputus. Kami bawa logistik semacam beras, gula, sembako dan telur untuk kita suplai ke sini,” kata Koordinator Rescue ACT wilayah Sigi, Rahadiansyah di lokasi, Rabu (10/10/2018)
Butuh waktu 4 jam dari Kota Palu untuk sampai di desa yang lokasinya terletak di pegunungan ini. Sesekali tim harus turun dari kendaraan untuk mengurangi beban agar kendaraan dapat melewati jalanan licin berlumpur.
“Kabupaten Sigi ini lengkap, ada gempa bumi, ada tsunami, likuifaksi, dan longsor. Jadi memang sulit sekali bisa menembus daerah ini,” ujar Rahadiansyah.
GAZA (Jurnalislam.com) – Aksi “Great Return March” (Masirah Al-Audah Al-Kubra) yang dilakukan oleh rakyat Palestina di Jalur Gaza, Jumat (6/10/2018) ini memasuki aksi yang ke-28.
Aksi damai yang menuntut dihentikannya penjajahan dan blokade terhadap warga Palestina di Gaza oleh Zionis Yahudi kali memakan korban dua orang demonstran gugur sebagai syuhada.
Kementerian Kesehatan Palestina merilis, korban meninggal akibat tembakan sniper Zionis itu adalah Faris Al-Sherawi (12) dan Mahmood Abu Saman (24). Keduanya tertembak di Timur kota Gaza.
Faris El-Serawi, wafat tertembak peluru penjajah
Selain itu, sebanyak 376 peserta aksi terluka dan 126 diantaranya mengalami luka yang cukup serius, dan lima orang kritis.
Dari jumlah korban yang terluka, 10 adalah perempuan, 30 orang anak-anak.
Selain menembak peserta aksi, peluru tentara Zionis Yahudi juga menyasar jurnalis yang meliput. Satu orang wartawan foto bernama Mohammad Al-Mishri dan seorang reporter perempuan, Dooa Zorob, terluka akibat serangan tersebut.
Dooa Zorob, wartawati yang tertembak peluru tentara penjajah
Mohammad Al-Mashri, juru foto, terluka di kepala terkena tembakan gas
Wafa Al-Audani, wartawan lokal yang tinggal di Gaza melaporkan bahwa aksi ini akan terus dilakukan, baik dalam bentuk protes turun ke jalan, maupun aksi kampanye di media sosial.
“Kami mengajak seluruh dunia untuk turut mengampanyekan tagar #GreatReturnMarch dan #GazaSiegeCrime sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan Zionis,” tulisnya dalam rilis yang dikirimkan ke INA News Agency, sindikasi berita yang diinisiasi oleh Jurnalis Islam Bersatu (JITU).
SEMARANG (Jurnalislam) – Pelayanan Masyarakat (YANMAS) Ansharusy Syariah Semarang bersama Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) Jateng menggelar aksi penggalangan dana untuk Sulawesi Tengah di Simpang Lima Semarang, Jum’at siang (5/10/2018).
“Ya ini untuk membantu meringankan beban masyarakat yang menjadi korban gempa dan tsunami di Palu & Donggala, karena mereka masih memerlukan bantuan logistik yang banyak,” ucap korlap aksi Marjuki kepada Jurnalislam.com
Aksi tersebut dilakukan setelah sholat Jum’at di Masjid Baiturrahman Simpang Lima, dengan membentangkan spanduk ajakan untuk donasi dan di isi dengan tausiah oleh beberapa ustadz.
“Ini adalah bencana alam yang menimpa tidak hanya umat Islam, banyak juga umat non Islam, sebagai kepedulian kita kepada sesama mari sisihkan sedikit harta kita untuk meringankan beban mereka,” ajak Ustadz Agus Triyanto dari Yayasan Salafush Sholih saat memberikan tausiah.
Sementara itu Amir Jama’ah Ansharusy Syariah Semarang, Ustadz Danang Setyadi menyampaikan bahwa adanya penjarahan diakibatkan karena kurang cepatnya masyarakat untuk membantu mereka.
“Bisa jadi adanya penjarahan yang dilakukan oleh korban gempa dikarenakan kurang cepatnya kita membantu mereka, sehingga mereka melakukan penjarahan dimana-mana,” ucapnya.
Dari penggalangan dana yang dilakukan sekitar satu setengah jam itu terkumpul dana sebesar 3.785.200 yang selanjutnya akan disalurkan kepalu melalui YANMAS.