Komunitas Panahan Cilegon Gelar Laga Amal untuk Sulteng

CILEGON (Jurnalislam.com) – Aksi kepedulian untuk korban bencana alam di Palu, Donggala, dan Sigi, Sulawesi Tengah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Panahan Cilegon (KOMPAC) yang menggelar event nasional Pertandingan Persaudaraan Gala Amal di Lapangan Bonakarta Cilegon hari ini, Ahad (28/10/2018).

“Event ini event kemanusiaan, sebagai bentuk peduli kami kepada saudara-saudara di Palu, Donggala, Sigi, dan Mamuju yang terkena musibah gempa tsunami,” kata Ketua Pelaksana, Fajar kepada Jurnalislam.com

Meski dengan persiapan singkat, lomba amal ini diikuti oleh 60 peserta laki-laki dan perempuan yang berasal dari berbagai daerah seperti Bogor, Tangerang, Serang dan Cilegon.

“Persiapannya cukup singkat, kami pengurus hanya sekali tatap muka untuk persiapan event ini dan semua pembiayaan acara murni dari uang kas kami, peserta tidak kami pungut biaya,” ujar Fajar.

Peserta Pertandingan Persaudaraan Gala Amal di Lapangan Bonakarta Cilegon. Foto: Jumi/Jurniscom

Penggalangan dana dilakukan dengan cara menyimpan kota-kotak amal di beberapa titik area lomba untuk diisi oleh peserta maupun penonton.

“Tujuan kami mengadakan pertandingan persaudaraan ini selain untuk membantu korban gempa palu, juga untuk silaturahim para archer dari berbagai komunitas dan membumikan olahraga panahan di kota Cilegon yang merupakan misi KOMPAC itu sendiri,” paparnya.

“Alhamdulillah masyarakat sekitar lapangan Bonakarta antusias menonton acara ini,” sambung Fajar.

Fajar berharap semoga donasi yang dikumpulkan dapat bermanfaat bagi korban bencana alam di Sulteng. Dana yang terkumpul akan disalurkan melalui lembaga sosial RelaBaik.

“Harapan kami kepada saudara-saudara kami di Palu agar tabah, jangan berlarut dalam kesedihan dan semoga cepat kembali pulih pada aktifitas sebelumnya,” pungkasnya.

Reporter: Jumi

Foto Kerusakan RS Indonesia di Gaza Akibat Serangan Penjajah Israel

GAZA (Jurnalislam.com) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Palestina di Gaza mengecam serangan udara Israel yang menyasar kawasan Rumah Sakit Indonesia di Utara Jalur Gaza, Sabtu 27 Oktober 2018. Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan pada beberapa bagian rumah sakit.

Jurnalis Suara Palestina di Gaza, Abdillah Onim melaporkan, sedikitnya empat rudal dijatuhkan Israel persis di depan Rumah Sakit Indonesia berjarak kurang dari 250 meter, tepatnya di sebuah lapangan kecil. 10 tahun lalu lapangan tersebut kerap dijadikan tempat pelatihan dan olah raga pemuda Gaza.

Juru bicara Kemenkes Palestina, Asyraf El-Qedra mengatakan, serangan zionis Israel tersebut membuat para pasien dan awak medis panik dan trauma. Suasana yang mencekam membuat aktivitas rumah sakit sempat terhenti karena tim medis dan pasien sempat dijauhkan dari rumah sakit untuk menghindari serangan susulan.

El-Qedra menyeru lembaga-lembaga internasional agar berperan lebih efektif dalam melindungi layanan publik seperti pusat-pusat kesehatan dan pengobatan serta para tim medis.

Serangan itu juga merusak rumah warga sipil dan serpihan rudal berserakan di Rumah Sakit Indonesia yang terletak di wilayah perbatasan Al-Syaikh Zayed Utara Gaza.

Serangan brutal ini juga menyebabkan terputusnya aliran listrik di rumah sakit Indonesia, dan sejumlah bagunan yang mengitari rumah sakit itu pun terkena guncangan serta serpihan rudal. Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam saat rudal jatuh dekat rumah sakit Indonesia.

Guncangan dan serpihan rudal membuat beberapa bagian RS Indonesia rusak seperti, ruang operasi dan bagian ICU, jendela, plafon, dan alat laboratorium.

Reporter: Abdillah Onim

Jurnalis Suara Palestina di Gaza, Abdillah Onim

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Praktisi Hukum : Pembakar Bendera Tauhid Layak Dijerat Pasal 156a KHUP

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Praktisi hukum dari Masyarakat Unggulan (Maung) Bandung, HM Rizal Fadilah menilai pelaku pembakaran bendera tauhid dalam acara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Garut pada Senin (22/10/2018) lalu layak dijerat dengan Pasal 156a KHUP.

Menurutnya, pelaku telah melakukan tindakan yang bersifat permusuhaan dan penodaan agama. Sementara itu pembawa bendera tidak melakukan tindak pidana apapun karena permasalahannya selesai ketika bendera yang ia bawa dirampas panitia HSN.

“156 a KUHP sangat pantas untuk menjerat si penoda. Pembawa bendera tidak menodai agama. Dia tidak membuat gaduh juga. Selesai perbuatannya setelah dirampas benderanya,” kata Rizal.

Rizal juga menyayangkan keputusan kepolisian melepas para pelaku dengan alasan tidak adanya niat. Menurutnya, niat itu sulit dibuktikan dan tidak menjadi pokok perbuatan pidana.

Baca juga: 

“Masalah yang luar biasa dan  berdampak besar tapi diselesaikan secara  sederhana,  pasti akan mengoyak rasa keadilan masyarakat. Mestinya difahami oleh aparat bahwa mazhab kaku ‘terompet undang-undang’ sudah using,” paparnya.

Rizal menjelaskan, tindakan para pelaku pembakaran adalah perbuatan yang disengaja (opzet/dolus) yang sekurang-kurangnya dalam makna sadar denga kepastian (zekerheidbewustzijn) atau minimal tidak bisa menghindar dari sengaja dengan kemungkinan (voorwardelijke opzet). Maka, ketika terjadi perdebatan, pengadilanlah lembaga pemutus bersalah atau tidak.

“Adil jika membawa kasus ini ke ruang pengadilan, bukan buru-buru menyatakan tak bersalah atas dasar tidak ada niat,” tandasnya.

Seperti diketahui, kepolisian melepas para pelaku dengan alasan tidak cukup bukti dan tidak ada niat. Sementara pembawa bendera Uus Sukmana (22) ditangkap karena dituding menjadi pemicu pembakaran bendera.

Kepolisian menilai, pembakaran tidak akan terjadi jika Uus tidak membawa bendera tersebut ke acara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di alun-alun Balubur Limbangan, Garut tersebut.

Serangan Israel di Gaza Akibatkan Beberapa Bagian RS Indonesia Rusak

GAZA (Jurnalislam.com) – Serangan udara militer zionis Israel terus menggempur sejumlah wilayah di Jalur Gaza. Serangan belum berhenti hingga Sabtu (27/10/2018) kemarin. Relawan MER-C di Gaza Reza Aldilla Kurniawan, melaporkan pesawat tempur F16 Israel mengirim tidak kurang dari lima roket yang jatuh tidak jauh dari lokasi RS Indonesia yang berada di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina.

“Dentuman keras kelima roket tersebut menyebabkan guncangan keras di area sekitar, bahkan mengakibatkan kerusakan di beberapa bagian RS Indonesia. Ruangan yang mengalami kerusakan di antaranya ruangan kantor administrasi, toilet, koridor, ICU, dan lainnya,” ujarnya dalam keterangan tulis yang diterima Republika, Ahad (28/10).

Menurutnya, bangunan Wisma Rakyat Indonesia yang terletak di belakang RS Indonesia juga mengalami guncangan. “Guncangan besar sekali, debu-debu jatuh dari atap. Saya langsung keluar dari wisma dan melihat kondisi Rumah Sakit Indonesia mengalami kerusakan di beberapa bagian,” ungkapnya.

Salah satu ruangan RS Indonesia di Gaza yang rusak

Akibat pengeboman yang terjadi di dekat RS Indonesia, pasien-pasien dipindahkan dan ditempatkan di lorong-lorong yang aman untuk menjaga keselamatan mereka. Sampai hari ini, menurut Reza, suara deru pesawat tempur masih terdengar jelas mengitari langit Gaza.

“Akibatnya sejumlah ruangan rusak selain juga para pasien mengalami shock,” ujarnya.

“Sampai berita ini saya tulis, suara dentuman dan deru pesawat tempur masih terdengar,” ujar Reza dalam Instagramnya, Sabtu (27/10/2018).

Sinyal Kekalahan Jokowi Di Balik Pembakaran Bendera Tauhid

Oleh: AB LATIF, Direktur Indo Politic Wacth

Hari santri yang diperingati secara nasional telah tercorong dengan aksi su’ul adab oleh sebagian oknum Banser. Santri yang terkenal dengan sifat wara’, alim, dan sholih mendadak terkesan urakan dan bahkan nyaris seperti preman jalanan.  Bagaimana tidak, kalimat tauhid yang menjadi inti ajaran islam atau bahkan sepertiga dari Al-Qur’an mereka bakar dengan bangganya di akhir apel peringatan hari santri. Otomatis hal ini mengundang respon yang luar biasa dari kalangan kaum muslimin.

Sungguh ini adalah pelecehan yang luar biasa bagi islam dan umatnya. Karena hal ini dilakukan tidak dikamar ataupun di dalam rumah yang tertutup, tapi di tempat umum yang terbuka dan bahkan diiringi lagu dan nyanyian dengan perasaan penuh bangga dan bahkan menggunakan seragam dan atribut resminya. Dan anehnya, bukannya minta maaf atas tindakan lancang anggotanya yang melecehkan kalimat tauhid, pimpinan Banser justru berkoar mengumbar sejuta dalil untuk membenarkan perilaku anggotanya. Dengan alasan bendera tauhid itu milik HTI, dan membakarnya dalam rangka memuliakan kalimat tauhid tersebut serta berbagai alibi dilontarkan sebagai pembenaran. Walau semua bukti sudah mengarah pada penistaan agama, ternyata sampai hari ini pun mereka belum minta maaf dan menyesali.

Buah dari kasus ini adalah munculnya aksi bela bendera tauhid dimana-mana. Sejak hari pertama pembakaran hingga saat ini aksi semakin membesar dan meluas bahkan tidak hanya di Indonesia, di beberapa negara juga mengecam keras aksi pembakaran bendera Rasulullah SAW itu. Lebih-lebih pasca dinyatakannya pelaku pembakaran bendera Rasulullah atau kalimat tauhid di garut tidak bersalah oleh Polda Jawa Barat. (republika.co.id )

Bau konspirasi begitu menyengat, ada upaya mengkriminalisasikan bendera tauhid yang mereka identikkan dengan HTI. Padahal sudah jelas apa yang disampaikan oleh MUI, bahwa bendera yang dibakar bukanlah bendera HTI. Bahkan MUI pun mereka kecam dengan fitnah membuat kegaduhan. Sungguh ini hal yang tak dapat dinalar. Sungguh aneh jika Banser yang berulah, tapi justru yang sibuk adalah Menko Polhukam, Kapolda, Kapolri, Gubernur yang bahkan terkesan melindungi. Justru inilah yang membuat pertanyaan besar ada apa di balik  semua itu?

Jika hal ini dibiarkan berlanjut, maka tidak menutup kemungkinan kasus Ahok akan terulang kembali. Sebenarnya pemerintah harus berkaca dari kasus Ahok dahulu apalagi ini menjelang Pilpres, tentu sangat berpengaruh sekali. Lihatlah Ahok, walaupun dengan dukungan dana yang begitu besar, pengusaha-pengusaha kelas kakap atau bahkan ada Sembilan Naga di belakangnya namun tetap tak mampu bertahan.

Kegaduhan Nasional yang dipicu pembakaran bendera tauhid yang disinyalir bendera HTI ini akan berimplikasi pada kontelasi politik dalam negeri. Reaksi umat yang semakin hari semakin kuat adalah bukti ketidakpercayaan publik pada sikap penguasa. Dan jika hal ini dibiarkan dan tidak segera diselesaikan dengan sebuah keputusan yang memuaskan, tidak menutup kemungkinan aksi bela bendera tauhid semakin meluas dan berubah menjadi gerakan nasional. Dan bahkan menjadi searah dengan gerakan ganti presiden. Inilah sinyal kecil dari kegagalan Jokowi di tahun 2019 jika tidak segera disikapi.

Ada alasan kuat mengapa kasus ini menjadi sinyal kegagalan Jokowi? Kita semua tahu semakin kuat reaksi ditengah-tengah umat akan semakin membahayakan posisi Jokowi. Lihatlah bagaimana kasus yang menimpa Ahok dulu. Walaupun faktanya berbeda tapi masih ada kemiripan. Artinya, jika Jokowi terlihat di belakang mereka tentu akan semakin kuat kebencian umat. Tapi walaupun Jokowi tidak memperlihatkan diri atau bahkan berdiam diri, maka akan menimbulkan kesan melindungi. Karena sebenarnya umat sudah tahu siapa orang-orang yang berada dibelakang pembakaran bendera tauhid ini.

Sinyal kegagalan ini walaupun kecil, tapi sangat kuat. Gelombang aksi yang hampir setiap hari bahkan di setiap daerah diseluruh Indonesia suatu saat akan memuncak. Lebih-lebih sebentar lagi jutaan umat Islam akan berkumpul untuk melakukan aksi reuni 212 di bulan Desember mendatang. Sinyal kegagalan inipun diperkuat oleh hasil Pilkada Serentak tahun 2018. PDIP adalah partai pengusung utama Jokowi. Namun di Pulau Jawa saja, partai berlambang banteng ini hanya meraih kemenangan di Jawa Tengah. Dari banyak calon yang diusung oleh PDIP di tahun 2018 secara umum dapat dikalahkan. Artinya secara umum PDIP sudah sangat lemah. Dan jika partai pengusungnya sudah tidak kuat lagi, maka peluang Jokowi akan lebih lemah.

Demikian juga PKB sebagai Partai koalisi yang notabene adalah kaum Nahdhiyin, suaranya kini telah terpecah. Banyak dari kalangan NU bahkan dari tokoh-tokohnya, lebih-lebih dzurriyahnya atau keturunan pendirinya sudah berseberangan dengan pimpinan pusat dan bahkan tidak mengakui kepemimpinan PBNU saat ini. Dengan adanya kasus pembakaran bendera tauhid ini merekapun tidak sepaham. Artinya suara dukungan untuk Jokowi dari partai koalisi inipun akan berkurang dratis.

Sinyal lebih kuat lagi adalah kegagalan Jokowi dalam memimpin negeri ini. Karena umat sebenarnya sudah jenuh dengan arogansi penguasa yang telah banyak mengkriminalisasi ulama, mempersekusi para aktivis Islam, mahasiswa, membubarkan ormas Islam, serta mengkriminalisasi ajaran Islam. Belum lagi masalah hutang negara yang semakin menumpuk, anjloknya nilai rupiah terhadap dollar, penjualan asset negara, kemiskinan, pengangguran, dll.

Inilah beberapa sinyal kekalahan Jokowi dalam pilpres 2019 nanti. Apakah hal ini akan menjadi sebuah kenyataan pahit ? sungguh ini akan tergantung dengan strategi politik yang akan diambil. Apakah kebijakan politiknya akan menyentuh perasaan umat atau malah menambah kebencian umat?

FUI Cirebon Tuntut Pelaku Pembakaran Bendera Tauhid Dihukum Berat

CIREBON (Jurnalislam.com) – Forum Umat Islam (FUI) Cirebon Raya menyatakan mengutuk keras pembakaran bendera tauhid oleh oknum Banser. FUI mendesak aparat untuk menindaktegas dan menghukum para pelakunya.

“Meminta kepada aparat keamanan untuk menindak tegas dan memberikan sanksi yagn seberat-beratnya kepada oknum banser yang telah melakukan perbuatan keji tersebut,” kata Ketua FUI Vidiawan dalam Aksi Bela Tauhid di Alun-alun Cirebon siang ini, Sabtu (27/10/2018).

FUI juga mendesak GP Ansor dan oknum banser untuk meminta maaf kepada umat Islam atas tindakan tersebut.

Baca juga: 

“Kepada umat Islam untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi, sehingga menimbulkan suasana yang tidak kondusif yang berdampak pada rusaknya persatuan umat dan bangsa,” pungkasnya.

Ratusan massa umat Islam mengikuti Aksi Bela Tauhid di alun-alun Cirebon. Dengan membawa bendera tauhid, massa juga membentangkan spanduk berisi kecaman kepada para pelaku pembakaran bendera.

Seperti diketahui, sejumlah oknum Banser membakar bendera tauhid dalam acara peringatan Hari Santri Nasional di alun-alun Balubur, Limbangan, Garut, Jawa Barat pada Senin (22/10/2018).

Sempat Ada Penolakan, Aksi Bela Tauhid di Cirebon Berjalan Tertib

CIREBON (Jurnalislam.com) – Aksi unjukrasa mengecam pembakaran bendera tauhid belum berhenti. Hari ini, Sabtu (27/10/2018) ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Nahi Munkar (ALMANAR) mengadakan Aksi Bela Tauhid di Alun-alun Kota Cirebon.

“Ya, sempat ada penolakan dari IPNU, tapi tadi ada beberapa kesepakatan dengan polisi yang tadinya kita akan melakukan longmarch ditiadakan dan kita hanya berkonsentrasi di alun-alun kejaksan,” kata Koordinator ALMANAR, Abu Usamah kepada Jurnalislam.com di sela-sela aksi.

Longmarch yang semula menjadi salah satu agenda aksi ditiadakan untuk menghormati PCNU Cirebon Raya yang telah membatalkan aksi tandingan. Hal tersebut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Koordinator Almanar, Abu Usamah. Foto: Damus/Jurniscom

“Ini kita lakukan karena dari pihak NU juga sudah kooperatif, dengan melarang diadakannya aksi tandingan di tempat yang sama” jelas Abu Usamah.

Dalam aksinya, massa membawa bendera berwarna hitam dan putih bertuliskan kalimat tauhid. Bukan hanya orang dewasa, tampak juga anak-anak dan pelajar ikut aksi bela kalimat tauhid ini.

“Aksi hari ini adalah sebagai bentuk aksi membela kalimat tauhid yang dilecehkan dan dibakar oleh sekelompok ormas,” ujar Koordinator Aksi lainnya, Abu Noval.

Ia kembali menegaskan bahwa bendera yang dibakar oleh oknum Banser itu bukan bendera HTI melainkan bendera umat Islam.

“Itu bendera tauhid bukan bendera HTI yang dibakar oknum ormas. Jadi kami merasa marah ketika kalimat tauhid dilecehkan,” katanya.

Pemerintah Diminta Tak Kaitkan Bendera Tauhid dengan HTI

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Aksi Bela Tauhid yang diikuti ribuan warga Jawa Barat (Jabar) di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (26/10/2018) siang ini berlangsung dengan aman dan tertib. Wakil Gubernur Jabar Uu Ruhzanul Ulum tampak hadir memberikan apresiasi dan dukungannya atas aksi damai tersebut.

Aksi diakhiri dengan pembacaan 7 poin pernyataan sikap Aliansi Pejuang Tauhid Jabar yang dibacakan oleh Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), KH Athian Ali.

Kiai Athian meminta pemerintah untuk melindungi simbol-simbol agama Islam termasuk memberikan jaminan bahwa bendera tauhid adalah milik umat Islam bukan milik organisasi tertentu.

“Bendera dengan bertuliskan kalimat Laa Ilaa Ha Illallah Muhammadur Rasulullah tidak selalu disangkut pautkan dengan gerakan Hizbut Tahrir Indonesia,” tegasnya.

Selain itu, Kiai Athian juga mendesak kepolisian untuk menangkap para pelaku pembakaran, Aliansi Pejuang Tauhid Jabar juga mendesak GP Ansor meminta maaf secara terbuka kepada umat Islam.

“Kami mendukung penuh pernyataan MUI yang telah meminta kepada pihak pelaku pembakaran untuk menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat Islam dan kami juga menuntut agar pimpinan pusat Ansor serta Banser bertanggungjawab serta benar-benar mampu membina, mengarahkan juga mengendalikan seluruh anggotanya agar tidak mengulangi perbuatan tersebut,” kata Kiai Athian.

Ia juga mengimbau umat Islam untuk menjaga kondusifitas dan tetap menjungjung tinggi hukum yang berlaku.

Aksi Bela Tauhid di Bandung diikuti oleh ribuan massa dari berbagai elemen umat Islam.

Berikut ini 7 point pernyataan sikap Aliansi Pejuang Tauhid Jabar,

  1. Kami adalah warga muslim jawa barat yabg memegang teguh Al-Qur’an dan As Sunnah sesuai tuntunan dan ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dan petunjuk hidup.
  2. Kami adalah warga muslim jawa barat yang mengakui sekaligus mencintai NKRI yang berdasarkan Pancasila serta UUD 1945.
  3. Kami mengecam keras tindakan pembakaran bendera bertuliskan Kalimat Tauhid yang telah dilakukan oknum banser dan menuntut agar pelaku tindakan tersebut diproses hukum secara adil.
  4. Kami mendukung penuh pernyataan MUI yang telah meminta kepada pihak pelaku pembakaran untuk menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat islam dan kami juga menuntut agar pimpinan pusat Ansor serta Banser bertanggungvjawab serta benar-benar mampu membina, mengarahkan juga mengendalikan seluruh anggotanya agar tidak mengulangi perbuatan tersebut.
  5. Kami warga muslim jawa barat menyatakan bendera tauhid adalah merupakan milik seluruh umat Islam dan bukan milik salah satu organisasi manapun.
  6. Kami meminta ketegasan sikap pemerintah serta aparat keamanan untuk melindungi simbol-simbol sekaligus memberikan jaminan bahwa bendera tauhid dengan bertuliskan kalimat Laa Ilaa Ha Illallah Muhammadur Rasulullah tidak selalu disangkut pautkan dengan gerakan Hizbut Tahrir Indonesia.
  7. Kami menghimbau seluruh masyatakat agar selalu menjaga kondusifitas serta menjunjung tinggi aturan hukum yang berlaku.

Politik Sontoloyo Jika Pembakar Kalimat Tauhid Tak Dihukum

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Aparat kepolisian telah melakukan politik sontoloyo jika tidak menghukum pelaku pembakaran kalimat tauhid. Hal itu diungkapkan Ketua Harian Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Roinul Balad Jabar saat berorasi dalam aksi bela tauhid di Gedung Sate, Bandung.

Dalam orasinya Roinul Balad mengingatkan pemerintah dan aparat agar dapat menegakkan hukum dengan seadil-adilnya.

“Hari ini bukan terakhir kita melakukan aksi. Jika aparat tidak menghukum para pembakar kalimat tauhid, maka mereka telah melakukan politik sontoloyo,” ujar di hadapan ribuan peserta aksi, Jumat (26/10/2018).

Sementara, Ketua Forum Ulama dan Umat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali mendesak para pelaku pembakaran untuk meminta maaf. Ia juga menuntut agar pimpinan pusat GP Ansor serta Banser bertanggung jawab serta benar-benar mampu membina, mengarahkan juga mengendalikan seluruh anggotanya agar tidak mengulangi perbuatan yang telah melukai umat Islam itu.

“Kami meminta ketegasan sikap pemerintah serta aparat keamanan untuk melindungi simbol-simbol sekaligus memberikan jaminan bahwa bendera tauhid tidak disangkut pautkan dengan gerakan Hizbut Tahrir Indonesia,” Kiai Athian.

Ribuan warga Jawa Barat menghadiri Aksi Bela Tauhid di depan Gedung Sate, Kota Bandung, buntut pembakaran bendera tauhid yang dilakukan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Dalam aksi tersebut, elemen ormas Islam dan kelompok masyarakat bergabung turut serta menyuarakan aspirasinya. Di antaranya geng motor Brigez, XTC, Moonraker, Pemuda Hijrah, Pejuang Subuh, Pembela Ahlus Sunnah, Kodas, DDII, Pemuda Persis, Bandung Fight Club (BFC), perguruan pencak silat, dan lain-lain.

Reporter: Rizki Lesus

Wagub Jabar Janji Kawal Kasus Pembakaran Bendera Tauhid

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruhzanul Ulum berjanji akan mengawali proses hukum terhadap pelaku pembakaran bendera tauhid oleh okun Banser. Hal tersebut disampaikan di hadapan ribuan peserta Aksi Bela Tauhid di depan Gedung Sate Jabar, Jumat (28/10/2018).

“Sebagai umat Islam saya merasakan apa yang bapa ibu rasakan,” kata Uu. Ia menegaskan bahwa kalimat tauhid jelas sangat bermakna bagi umat Islam.

“Siapapun yg menggangu kalimat thayyibah, aqidah umat islam maka berhadapan dengan umat Islam,” tegasnya. Namun ia tetap mengingatkan masyarakat agar tetap membela kalimat tauhid sesuai dengan norma dan hikmah.

Sebagai orang nomor dua di Jabar, Ia juga berjanji akan mengawal kasus ini hingga tuntas.

“Saya selaku wagub akan mengawal kasus ini. Mari kita kawal bersama sama,” katanya.

Ia mendorong agar penegak hukum dapat menuntaskan kasus ini dengan adil dan transparan.

“Mari kita dorong proses lebih adil jujur dan transparan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, ribuan warga Jabar dari berbagai elemen umat seperti club motor Brigez, XTC, Moonraker, Pemuda Hijrah, Pejuang Subuh, DDII, Kodas, Pemuda Persis, dan lainnya menggelar aksi bela tauhid mendesak polisi menghukum pembakar bendera tauhid.

Reporter: Mazaya