Hidayatullah Akan Gelar Silaturahim Nasional, 10 Ribu Kader Berkumpul

BALIKPAPAN (Jurnalislam.ccm) – Organisasi Islam Hidayatullah kembali akan menggelar acara Silaturahim Nasional (Silatnas) pada 22 hingga 25 November 2018 di Kampus Induk Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Pertemuan akbar ini, kata ketua panitia pengarah, Tasyrif Amin, akan diikuti oleh 10 ribu kader Hidayatullah dari 34 Provinsi, 360 Kabupaten, di seluruh Indonesia. “Saat ini sebagian dari mereka sudah mulai berangkat ke Balikpapan. Ada yang memakai pesawat, ada juga kapal laut,” jelas Tasrif saat dihubungi Ahad (18/11).

Bahkan akan hadir juga sejumlah mahasiswa Hidayatullah yang sedang menuntut ilmu di Madinah, Sudan, Mesir, Yaman, Turki, Malaysia, dan beberapa negara di Eropa.

Tema dari silaturahim nasional kali ini adalah “45 Tahun Hidayatullah Berkhitmad untuk NKRI Bermartabat.” Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr Nashirul Haq, menjelaskan tema ini mengandung arti bahwa Hidayatullah menginginkan NKRI memiliki harga diri di antara negara-negara lain di dunia.

“Harga diri akan diraih bila suatu negara memiliki kemuliaan. Kemuliaan tentu saja akan diraih jika suatu bangsa berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama, serta memiliki kekuatan, baik politik, ekonomi, sosial, maupun militer,” jelas Nashirul saat ditanya Ahad (18/11)

Lebih lanjut Tasrif mengatakan bahwa Silatnas ini akan dibuka oleh Wakil Presiden, Jusuf Kalla. Sejumlah tokoh nasional juga akan hadir pada acara ini, di antaranya Ustadz Bachtiar Nasir, Komjen Polisi H. Syafruddin (Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia), dan Prof. Dien Syamsuddin (Ketua Watim MUI). * (Mahladi/Rilis Humas DPP Hidayatullah)

Guru Besar UIN Antasari: Buta Huruf Bukan Tidak Bisa Membaca dan Menulis

BALIKPAPAN (Jurnalislam.com) – Guru besar sosiologi agama yang juga Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, Prof. DR. H. Mujiburrahman, MA, mengatakan orang buta huruf di masa mendatang bukan orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tapi orang yang tidak bisa belajar dan bernalar.

“Karena itu harus terus menumbuhkan kapasitas diri dengan menjadi manusia pembelajar. Seorang guru atau dosen yang tak mau belajar lebih baik berhenti mengajar. Kita harus beradaptasi dengan perubahan,” kata Mujiburrahman.

Hal itu disampaikan dia ketika menyampaikan orasi ilmiah dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Angkatan XI & XII sekaligus penugasan sebanyak 102 alumni Sekolah Tiggi Ilmu Syariah Hidayatullah, Balikpapan, Kaltim, Sabtu (17/11/2018).

Selain kemampuan belajar dan bernalar, perguruan tinggi maju di dunia saat ini kata Mujiburrahman mulai menyadari bahwa keahlian spesialis saja tidak memadai lagi. Namun perlu ditopang dengan wawasan keilmuan lain seperti ilmu sosial dan humaniora.
“Kenapa, karena perubahan memerlukan adaptasi dan proporsionalitas. Bagaimana membekali ilmu dan terus mempelajari ilmu-ilmu,” imbuhya.

Ia pun menyebut salah satu tantangan besar yang dihadapi di era saat ini adalah fenomena gadget. Dulu kita hanya mengenal mesin ketik, sekarang telah beralih ke elektronik.

“Ini betul betul perubahan yang luar biasa. Saking dahsyatnya, ini disebut juga dengan era disrupsi (disruption). Perubahan yang begitu cepat sehingga kita susah menjalani seperti yang dulu,” ujarnya.

Gadget juga kata dia menyebabkan degradasi terhadap hubungan personal. Ia mengistilahkan dengan “sendiri bersama sama”, masing masing main ponsel. Yang dekat menjadi jauh.

“Media itu hadir sekaligus absen. Seperti dalam logika seorang anak-anak, bagi mereka media adalah merepresentasikan diri kita padahal tidak. Itu hanya citra”.

Selain itu, lanjut dia, problem yang tak kalah penting, adalah Indonesia yang diprediksi akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020-2030 yang akan datang. Bonus demografi dinilai akan membawa dampak sosial-ekonomi diantaranya terhadap tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk nonproduktif akan sangat rendah.

“Bonus demografi harus bisa dimanfaatkan untuk bangsa ini atau jika tak dikelola dengan baik akan terjadi pengangguran besar besaran. Apa yang diberikan oleh Hidayatullah yang membuka lapangan kerja untuk sarjana lulusan pergutun tinggi Hidayatullah ini luar biasa. Bahkan UGM memberikan pendampingan terhadap alumninya sampai 3 tahun,” tandasnya.

Sidang Senat Terbuka Wisuda Angkatan XI & XII sekaligus penugasan sebanyak 102 alumni Sekolah Tiggi Ilmu Syariah Hidayatullah, Balikpapan, Kaltim, ini merupakan salah satu rangkaian pra Silaturrahim Nasional Hidayatullah 2018 yang mengusung tema “45 Tahun Hidayatullah Berkhidmat untuk NKRI”

Inspirasi Ayahku Pahlawanku

Oleh: Agastya Harjunadhi, M.Pd.
Former Sekjen Young Islamic Leaders | Founder Bina Keluarga dan The Real Ummi Community

 

JURNALISLAM/COM – Dalam perspektif peradaban, unsur terkecilnya adalah individu di dalam keluarga. Individu yang baik dan berbudi luhur, juga akan melahirkan tatanan keluarga/masyarakat yang luhur. Oleh karena itu, pekerjaan yang paling penting untuk membangun peradaban mulia itu adalah meningkatkan mutu individu dan keluarga, yang menurut Syed Naquib Al Attas menyebutnya dengan istilah “create a good mankind” (mencetak generasi bermutu). Dan cara yang paling utama adalah melalui pendidikan.

Setiap peradaban ada zamannya, dan setiap zaman ada orangnya, ada pahlawannya. Mereka adalah sosok individu atau kelompok yang kehadirannya menentukan baik tidaknya peradaban. Dengan penuh kesabaran mereka konsisten berjuang untuk mewujudkan cita-cita bersama. Bahkan tak segan mereka berani mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk membayar harga mahal sebuah kemaslahatan yang lebih besar. Tak banyak yang mampu menempuhnya, itulah mengapa hanya sedikit saja bergelar pahlawan.

Berbicara tentang pahlawan, selalu berkaitan dengan perjuangan, keberanian, pengorbanan dan kesabaran. Keempat elemen itu berpadu saling menguatkan secara tepat dan harmoni. Keempat elemen itu pula yang membuat mereka menjadi pahlawan dan teladan zaman.

Setiap orang memiliki potensi untuk berani, berjuang, dan berkorban, karena itu adalah fitrah manusia. Namun tak semua orang mampu menempatkannya sesuai pada tempatnya. Abu Jahal juga pemberani, pejuang dan juga penuh pengorbanan. Namun ia gunakan untuk melawan utusan Allah, ia gunakan untuk menolak dan melawan kebenaran yang dibawa oleh Muhammad Rasulullaah Shalallahu’alayhi Wasallam.

Begitu pula tentang kesabaran, bahkan orang-orang yang memusuhi Rasulullah Shalallahu’alayhi Wasallam juga menghadapi kesulitan, ketakutan, ujian yang membutuhkan kesabaran untuk melaluinya. Tapi sayang, mereka tidak berada di jalan perjuangan yang benar. Di sinilah peran pendidikan (ilmu), yang dengannya seseorang mampu melihat, menghayati dan memilih mana jalan perjuangan sesuai kaidah keyakinan agama.

Oleh karena itu, kita bisa mengetahui bahwa elemen kepahlawanan baru akan menjadi teladan jika digunakan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Dan tak semua orang bisa istiqamah menempuh jalan itu. Itulah sebabnya mengapa kita selalu bisa menyimpan rasa kagum kepada perjuangan mereka, para pahlawan.

Kekaguman kita kepada para pahlawan di masa lampau adalah bentuk hormat yang tak ternilai harganya. Karena mereka telah berjasa besar kepada paradaban suatu bangsa. Merekalah yang berani mengambil beban yang tak terpikul oleh orang-orang sezamannya. Mereka adalah simbol perjuangan menegakkan kemuliaan dan cita-cita luhur yang kolektif. Mereka adalah yang terdepan membela, karena tak rela bangsanya dijajah dan direndahkan.

Namun tahukah bahwa selalu ada pahlawan lain yang tak tergantikan jasanya atas kehidupan kita hari ini. Ia selalu sedia menjawab tantangan-tantangan tersulit yang kita hadapi. Ia juga merupakan simbol dari 4 elemen kepahlawanan. Ia tampil sebagai sosok yang tegas, gigih, berdedikasi tinggi memimpin perubahan peradaban itu sendiri yang dimulai dari unsur terkecilnya, yaitu keluarga. Pahlawan itu bernama ayah.

Meskipun tak se-ideal para pahlawan yang menorehkan catatan sejarah, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, penulis yakin sosok ayah yang telah ada dalam kehidupan kita merupakan karunia yang sangat berharga dari Allah dan tak tergantikan. Bahkan sosok ayah kita hari ini, lebih berjasa secara langsung kepada kehidupan kita.

Dari ayah kita belajar ketegasan. Dari ayah, kita belajar makna perjuangan, pengorbanan, keberanian, dan kesabaran secara langsung dan mendalam di setiap tangga kehidupan. Dari ayah pula-lah kemudian kita mampu menghayati dan mengenal kisah-kisah hebat para pahlawan bangsa yang tercatat dalam sejarah kehidupan manusia di luar sana.

Ayah juga selalu menjadi orang yang terdepan dalam menjaga kita. Ia lah sosok yang memiliki porsi penting dalam jejak wujud kehidupan kita hari ini. Di balik segala sesuatu yang kita peroleh, ada andil besar ayah di sana. Ada keikutsertaan ayah yang membukakan jalan kita. Bahkan ayahlah yang paling bangga mendorong anak-anaknya untuk menjenjang pendidikan tinggi meski ia tak pernah bisa mengenyamnya. Ia yang senantiasa bersikap tegar, meski bebagai ujian menimpa keluarga. Ia yang selalu berusaha untuk tetap arif dan bijaksana menghadapi situasi yang rumit, demi ketentraman, ketenangan dan kebaikan bagi keluarganya.

Maka, jangan pernah menanyakan, masih adakah pahlawan hari ini? Jangan pernah tanyakan lagi, masih adakah yang pantas mendapatkan gelar pahlawan? Karena sesungguhnya pahlawan-pahlawan itu begitu dekat dengan kita. Mereka bukanlah lagi yang berjuang dengan tombaknya, pedangnya, ataupun segala macam senjatanya untuk negeri ini. Mereka adalah yang mengambil bagian penting dalam kehidupan kita, bangsa kita, dan agama kita. Dialah ayah kita, teladan dan pahlawan kita. Mari doakan ayah kita, agar senantiasa dilimpahi rahmat oleh Allah atas penjagaan dan pengorbanannya untuk kita.

Selamat hari ayah, selamat hari pahlawan! #latepost

Salam hangat
SELAMAT BERAKHIR PEKAN BERSAMA KELUARGA TERCINTA 🙂

Di Balik Mimpi Anak-Anak Punk Belajar Al-Qur’an

JURNALISLAM.COM – Rendi, anak punk 26 tahun ini telah malang melintang dalam kehidupan jalanan. Nyaris seumur hidupnya, ‘Papa muda’ dua anak ini bertahan hidup dalam kejamnya hidup di jalanan. Rendi mengaku sudah 20 tahun menjadi anak Punk.

Perangainya nampak keras, kulit legam terbakar matahari, ditambah tato yang tubuhnya hingga ke leher Rendi. Jalanan telah membentuknya menjadi Rendi yang sekarang.

Dunia yang keras itu ia sebut sebagai dunia anak punk. Dalam dunia yang satu ini, Rendi sudah kenyang dengan stigma negatif masyarakat mulai dari anak jalanan atau kerap dianggap meresahkan masyarakat. Semua julukan itu telah ia telan.

Rendi memang liar, tapi ia masih punya nalar. Apa yang telah dilalui, diakuinya itu jalan tidak benar.

Sosok buah hati yang membuatnya Rendi kemudian memutuskan untuk hijrah dari kehidupannya yang kelam di jalanan. Ia menolak jika anak-anaknya mengikuti jejaknya di jalanan.

Rendi sedang membaca iqro. FOTO : Zakhi Hidayatullah/INA

Seburuk-buruknya orang tua, tetap menginginkan anak menjadi orang baik. Sebab, orang tua di belahan bumi manapun pastilah ingin mendidik anaknya menjadi orang shaleh.

Rendi ingin anak-anaknya menjadi orang baik dan paham ilmu agama. Ilmu yang dapat menolong di dunia dan akhirat.

“Jangan sampai ikut turun ke jalan seperti orang tuanya,” harap Rendi seraya tersenyum menunjukkan dua gigi kelincinya.

Rendi mengakui, untuk mendidik anak shaleh tentu diperlukan ilmu agama. Sebelum cita-cita itu tercapai, terlebih dahulu ia harus bisa membaca Al Qur’an, barulah setelah itu ia dapat mengajarkan anak mengaji.

Ia pun mendiskusikan kegelisahannya pada kawan seperjuangan di kolong jembatan Tebet. Ternyata apa yang dipikirkannya juga dirasakan bersama. Mereka memiliki mimpi yang sama. Seperti sahabatnya yang bernama Okay, yang berharap bisa mengajarkan keluarga ilmu agama.

Okay mengaku, sebelum hidup di jalanan seperti saat ini, ia pernah belajar huruf hijaiyah. Namun 18 tahun menjalani hidup sebagai anak punk, membuat ilmu yang pernah didapat hingga Iqro 6 hilang dimakan kerasnya kehidupan di jalanan yang jauh dari agama.

“Sekarang harus ulang dari nol lagi. Karena saya ingin bisa membaca Al-Quran dan dapat mengajarkan anak-anak saya,” ujar pria berusia 30 tahun itu.

Keresahan anak-anak punk itu akhirnya berbuah aksi. Di sudut kolong jembatan dekat Stasiun Tebet, puluhan anak jalanan belajar mengeja huruf hijaiyah dipandu Halim Ambiya, pendiri komunitas Tasawuf Underground (TU). Mereka bersemangat belajar meski ditemani deru kendaraan bermotor dan guncangan yang melintas di atasnya.

Bersama teman-teman sekolong, Rendi dan Okay menjadi peserta pengajian kolong yang dimulai perdana pada Jumat 9 November sejak pukul 14.00 – 17.00. Selain Jumat, pengajian juga digelar pada Sabtu pukul 11.00 – 15.00.

Kedatangan Halim, sang guru ngaji ke kolong jembatan tidak begitu saja. Ia datang melalui anak jalanan bernama Septa Maulana. Septa tahu, Ambiya adalah sosok tepat yang bisa mengajarkan dia dan teman-temannya belajar menjadi orang yang lebih baik.

Septa mengakui pengajian kolong yang telah dilakukan selama dua pertemuan ini telah membenahi dirinya. Septa yang semula merasa kotor karena masa lalunya kelam, kini tengah mempertebal keyakinan kepada Sang Pencipta. Selalu ada hikmah di balik semua pahit yang ia jalani.

Dirinya pun berharap kegiatan yang dilaksanakan rutin itu bisa mengantarkannya sampai mampu membaca pegangan hidup umat Islam ini. “Niat saya sampai bisa baca Quran dan khatam. Termasuk paham makna dan arti yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Terakhir, Septa berpesan kepada teman-teman seperjuangan di mana pun, agar tidak lupa kepada Sang Pencipta. Sehingga, mereka terus memperbaiki diri dan menjadi manusia yang lebih baik di mata-Nya.

Penulis : Tommy Abdullah

TPF PBB : 6 Jenderal Myanmar Terlibat Pembantaian Muslim Rohingya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Tim Pencari Fakta (TPF) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Marzuki Darusman mengungkap keterlibatan enam jenderal yang paling bertanggung jawab atas pembantaian warga muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar.

Keenam jenderal tersebut adalah tentara Tatmadaw termasuk panglima tertinggi dari Tentara Nasional Myanmar, yaitu Jenderal Senior Min Aung Hlaing, Wakil Jenderal Senior Soe Win, Letnan Jenderal Aung Kyaw Zaw, Komandan Maung Maung Soe, Komandan Aung Aung, dan Komandan Than Oo.

Baca juga: Terkait Pembantaian Rohingya, PBB Serukan Adili Panglima Besar Myanmar

“Dalam aporan TPF mereka sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa pembantaian dan penindasan terhadap masyarakat Rohingya,” kata Marzuki Darusman di Wisma Antara, Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Berdasarkan hasil laporan TPF, Marzuki mengatakan, pembantaian dan penindasan yang dilakukan sejak 25 Agustus 2015 sampai November 2017 itu dipimpin langsung oleh seorang jenderal senior bernama Min Aung Hlaing.

“Keenam jenderal itu sebagai orang yang memimpin infantri untuk melakukan operasi di seluruh Myanmar,” pungkasnya.

Institusi HAM ASEAN : Indonesia Paling Diandalkan Soal Krisis Rohingya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Indonesia untuk Institusi Penaung HAM di ASEAN (AICHR), Dinna Wisnu, mengatakan, dari sepuluh negara ASEAN, hanya Indonesia dan Malaysia yang berani menunjukkan posisinya dengan tegas untuk masalah krisis Rohingya.

“Malaysia lebih kuat dengan isu ini karena secara massal mereka menerima pengungsi, jadi mereka punya kepentingan langsung. Sementara Indonesia kita gak melihat secara kasat mata juga berapa banyak yang masuk ke Indonesia, dan memang gak sebanyak yang masuk ke Malaysia,” katanya kepada Jurnalislam.com usai acara Dialog Panel Ungkap Fakta Pelanggaran HAM Berat Pemerintah Myanmar atas Etnis Rohingya, di Wisma Antara, Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Kendati demikian, kata Dinnna, Indonesia sangat diandalkan dan ditunggu perannya oleh masyarakat ASEAN.

“Tapi yang paling diandalkan dan ditunggu-tunggu itu Indonesia. Masalahnya lebih ke solusi jangka panjangnya, Indonesia ini mau kemana. Ketika kita dipepet oleh 8 negara ASEAN yang memilih untuk gak ngurus masalah ini, kok kita gak kelihatan aktif,” ungkapnya.

Dinna mengungkapkan alasan kurang tegasnya negara-negara ASEAN terhadap Myanmar. Menurut Dinna, anggota ASEAN salah persepsi terlebih dahulu sebelum bersikap soal kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh militer Myanmar terhadap minoritas muslim Rohingya.

“Negara anggota ASEAN ini sudah salah persepsi. Mereka pikir bila tegas terhadap Myanmar, maka agenda kerja sama yang lain akan berantakan. Padahal tidak,” papar Dinna.

Anggota ASEAN cenderang khawatir agenda bilateral mereka terganggu jika bersikap tegas terhadap Myanmar.

“Agenda ASEAN kan banyak. Mulai dari politik, keamanan, ekonomi dan sosial. Jadi anggota ASEAN takut masalah Myanmar dapat menganggu agenda yang lain. Ini yang membuat anggota ASEAN salah paham,” tuturnya.

“Justru kalau ini tidak selesai, agenda yang lain akan terbengkalai sebenarnya,” katanya.

Dinna menambahkan, pihaknya akan terus berupaya untuk mengabarkan kepada masyarakat dunia tentang apa yang menimpa muslim Rohingya di Myanmar.

“Karena kalau bukan kita yang bersuara, siapa lagi yang akan memberitahu soal kejahatan manusia yang dilakukan Pemerintah Myanmar terhadap penduduk Muslim Rohingya,” pungkasnya.

KPAI Minta Siswa Pembully Guru Direhab

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengusulkan agar para siswa pelaku bully terhadap guru di Kabupaten Kendal diberikan rehabilitasi psikologis.

Menurutnya, selain agar tidak berdampak psikologis pada siswa pasca viralnya video bully terhadap guru, langkah itu juga agar mereka tidak mengulangi perbuatannya.

“Rehabilitasi bagi pelaku, KPAI minta dilakukan oleh P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Kabupaten Kendal,” katanya saat dihubungi Jurnalislam.com Selasa (13/11/2018).

Retno menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait sosialisasi stop bully untuk seluruh siswa.

“Komisioner KPAI bidang pendidikan akan terus berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah,” ujarnya.

KPAI juga berkoordinasi secara intensif dengan Kadisdik Provinsi Jawa Tengah Gatot Bambang Hastowo.

Adapun hasil koordinasi dari perkembangan penanganan kasus tersebut para murid diminta tidak mengulanginya kembali.

“Dari informasi yang diterima KPAI, pihak sekolah sudah memanggil dan membina para siswa yang terlibat dalam video yang viral tersebut pada Sabtu (10/11/2018),” pungkasnya.

Logo PKB Berlatar Merah Putih, Guru Besar Sosiologi : Kenapa Kalimat Tauhid Tidak Boleh?

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Guru Besar Sosiologi, Prof Musni Umar, menyayangkan beredarnya lambang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan latar bendera Merah Putih. Menurutnya, itu bertentangan dengan hukum.

“Saya juga terkejut tentang latar belakang merah putih dan ada logo PKB. Karena ini menjadi persoalan besar. Bendera merah putih adalah identitas negara kita, jati diri bangsa, dan itu ada undang-undangnya,” katanya dalam diskusi publik bertajuk ‘Polemik Merah Putih-Logo PKB’ di D’Hotel, Jakarta, Minggu (11/11/2018) dikutip dari RMOL.co

Rektor Universitas Ibnu Khaldun ini menilai, PKB telah memancing kekisruhan di tengah masyarakat dengan bendera barunya tersebut. Meski, lanjut dia, sah-sah saja PKB ingin menggunakan cara apapun untuk menggaet suara publik di Pemilu 2019, hendaknya elegan dan tidak mematik persoalan baru.

“Tujuannya untuk menegaskan bahwa PKB bukan hanya partainya umat Nahdliyyin saja tapi sifatnya nasional. Walaupun begitu, tidak perlu sampai seperti itu apalagi hanya untuk mencari kemenangan Pemilu,” tegasnya.

Ia pun membandingkan kasus serupa saat Aksi Bela Islam, beberapa waktu lalu di bilangan Gambir, Jakarta Pusat, di mana ada seseorang mengibarkan bendera Merah Putih yang terdapat gambar pedang lengkap dengan kalimat tauhid. Pengibaran bendera itu menjadi heboh dan pelakunya sampai diproses hukum.

“Ada latar belakang merah putih ditulis kalimat tauhid, terus kenapa PKB boleh sementara kalimat tauhid tidak boleh. Di satu sisi lain ada tujuan politik sementara sisi lain untuk perjuangan dakwah,” pungkasnya.

Sumber: RMOL.co

Islamic Lawyer Forum : Melarang Bendera Tauhid adalah Kejahatan Konstitusi

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pelita Umat menggelar acara Islamic Lawyer Forum (ILF) di POP Hotel Surabaya, Ahad (11/11/2018). Acara tersebut dihadiri oleh para pengacara muslim, ulama dan tokoh masyarakat.

ILY edisi ketiga ini mengangkat tema “Bendera Tauhid Milik Umat, Stop Kriminalisasi Bendera Tauhid”. Kegiatan ini menghasilkan pernyataan hukum yang dirilis oleh LBH Pelita Umat. Berikut selengkapnya:

Berkenaan dengan hal itu, LBH PELITA UMAT menyatakan sekaligus menegaskan :

  1. Bahwa, membuat, memiliki, membawa, mengibarkan, menyosialisasikan, atau melakukan serangkaian tindakan untuk mensyiarkan kalimat tauhid dalam bendera tauhid, adalah hak konstitusional setiap warga negara. Dengan dalih apapun, negara dengan seluruh alat kelengkapannya tidak memiliki hak untuk melarang, merampas, menyita, meminta menurunkan, atau tindakan lain yang pada pokoknya menghalangi dan merampas hak konstitusi rakyatnya.
  2. Bahwa bendera tauhid adalah simbol kemuliaan umat Islam kaum muslimin. Tidak boleh seorangpun yang menghinakan atau melecehkan bendera tauhid baik dengan cara merobek, membakar, menaruh di tempat yang tidak layak, atau tindakan klain yang melecehkan karena semua itu termasuk dan terkategori menistakan agama.
  3. Bahwa konstitusi melalui Pasal 29 ayat (2) UUD l945 menyatakan :

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. ”

  1. Bahwa ditegaskan pula dalam ketentuan Pasal 4 Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (“UU HAM”), yang menyatakan :

“Hak. untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surat  adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun. ”

  1. Bahwa membuat, memiliki, membawa, mengibarkan, menyosialisasikan, atau melakukan serangkaian tindakan untuk mensyiarkan kalimat tauhid dalam bendera tauhid, adalah bagian dari syiar dan dakwah Islam yang merupakan rangkaian ibadat dalam pandangan ajaran Islam. Karena itu, melarangnya berarti sama saja melarang umat Islam beribadat menurut agama Islam dan karenanya ini merupakan pelanggaran konstitusi.
  2. Bahwa selain melanggar konstitusi, melarang, merampas, menyita, meminta menurunkan, atau tindakan lain yang pada pokoknya menghalangi dan merampas hak konstitusi umat Islam mengibarkan bendera tauhid, melanggar Hak Asasi Manusia; sebagainya ditegaskan dalam Pasal 4 Undang-I Jndang No. 39 Tahun I999 tentang Hak Asasi Manusia (“UU HAM”).
  3. Bahwa dalam ketentuan UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2009 2009 TENTANG BENDERA, BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU KEBANGSAAN, di dalamnya tidak ada satupun ketentuan pasal yang mengatur larangan pengibaran bendera tauhid dan tidak ada satupun klausul pidana yang menjadi sanksi bagi para pengibar bendera tauhid.
  4. Bahwa oleh karenanya kami tegaskan siapapun individu, oknum Ormas, oknum Satpol PP, Oknum Penegak hukum yang melakukan tindakan represif di luar hukum baik dengan cara melarang, merampas, menyita, meminta menurunkan, atau tindakan lain yang pada pokoknya tidak menginginkan bendera tauhid berkibar dan dikibarkan kaum muslimin, TELAH SECARA SAH DAN MEYAKINKAN MELAKUKAN KEJAHATAN KONSTITUSI.
  5. Bahwa oleh dan karenanya, negara beserta seluruh perangkat kekuasaan yang ada padanya wajib menjaga dan melindungi setiap warga negara yang ingin mengekspresikan hak konstitusionalnya dengan mengibarkan bendera tauhid; dan menjaminnya terbebas dari seluruh tudingan, fitnah, ancaman dan intimidasi.
  6. Bahwa kami menghimbau kepada seluruh kaum muslimin agar tetap Istiqomah dalam dakwah, terus konsisten mendakwahkan dan mensyiarkan kalimat tauhid, serta tetap bersabar dalam ibadat dan ketaatan.

Hidayatullah Balikpapan Gelar Pernikahan Mubarokah 43 Pasang Santri

BALIKPAPAN (Jurnalislam.com) – Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan menggelar Pernikahan Mubarokah 43 Pasang Santri di Gunung Tembak, Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Ahad (11/11/2018).

Acara bertempat di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak, dimulai sejak sekitar pukul 08.00 WITA hingga menjelang zuhur.

Pantauan di lokasi acara, suasana sakral dan kegembiraan meliputi prosesi pernikahan tersebut. Pernikahan yang juga tercatat secara resmi di lembaga negara ini dipandu tiga penghulu agama dari KUA setempat.

Ribuan tamu undangan menghadiri acara di ruang utama masjid yang sedang dalam pembangunan tersebut. Hadir pula antara lain Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi, Wakil Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, dai asal Sulawesi Selatan Ustadz Das’ad Latif, serta jajaran pimpinan dan pengurus Hidayatullah.

Sementara para pengantin putri ditempatkan terpisah di kampus putri berjarak sekitar 50 meter dari Masjid Ar-Riyadh.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Hamzah Akbar mengatakan, peserta nikah tersebut merupakan hasil seleksi dari banyaknya calon peserta yang berminat mengikuti pernikahan massal itu.

“Dari 70 pendaftar, terseleksi jadi 43 pasang,” sebutnya dalam sambutannya.

Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi menyampaikan sambutan dalam pernikahan mubarokah 43 pasang santri di Hidayatullah Balikpapan. (Foto: Abdus Syakur/INA)

Para pengantin berasal dari berbagai daerah se-Indonesia. Mulai dari Papua, Aceh, Bali, Sumatera, Sulawesi, hingga Kalimantan.

Sebelum menikah, mereka mengikuti pembekalan pra nikah selama sekitar 2 pekan di Gunung Tembak. Pembekalan yang diberikan mulai dari materi tentang pernikahan, keagamaan, terkait keorganisasian kebangsaan dan sebagainya termasuk kesehatan.

Menariknya, selama masa pembekalan mereka turut berpartisipasi dalam pembangunan kampus pesantren yang saat ini sedang bersiap menggelar Silaturahim Nasional (Silatnas) dai penghujung bulan ini. Mereka ikut bekerja bakti, bergotong royong sebagaimana warga pesantren lainnya.

Penetapan calon pasangan masing-masing santri itu pun dilakukan oleh panitia yang dibentuk khusus, yang selama ini memang sudah berpengalaman dalam pernikahan seperti itu.

“Proses nikah menjadi penguat baru mereka (pengantin),” ujar Hamzah.

Setelah menikah, para santri yang juga dai serta guru tersebut ditugaskan kembali ke daerah masing-masing.

“Harapan kita mereka kembali ke daerah dengan semangat baru, dengan gairah baru. Paling tidak ada teman berbagi,” ujarnya.

Wagub Kaltim mengapresiasi pernikahan mubarokah Hidayatullah. Ia pun mendoakan para pengantin agar mendapatkan keturunan yang shaleh/shalehah.

“Saya bangga dengan Hidayatullah,” akunya.

Wawali Kota Rahmad berpesan kepada para pengantin agar konsisten dalam mensyiarkan agama pasca status baru yang mereka.

“Syiarkan (Islam) di seluruh penjuru dunia,” demikian pesannya.

Ia berpesan kepada para dai, dalam dakwahnya agar mendengar aspirasi masyarakat. Jangan harap akan didengar masyarakat, kalau tidak mau mendengar masyarakat.

Tak lupa Wawali Rahmad turut menyampaikan doa atas terselenggaranya pernikahan itu. “Semoga mendapat Ridha Allah,” harapnya.

uasana aqad nikah pada pernikahan mubarokah 43 pasang santri di Hidayatullah Balikpapan. (Foto: Abdus Syakur/INA)

Tradisi Lama Hidayatullah

Pernikahan mubarokah merupakan tradisi sekaligus syiar dakwah yang sudah lama berjalan bagi ormas yang berusia 45 tahun ini, dulu biasa disebut “Pernikahan Massal”.

Tradisi dalam pernikahan ini para calon pengantin tidak saling mengenal terlebih dahulu sebelumnya. Bahkan bukan hal aneh jika seorang calon mertua tidak tahu siapa pastinya calon menantunya hingga satu atau dua hari sebelum pernikahan. Memang, penetapan calon pasangan masing-masing santri itu disampaikan panitia kepada masing-masing peserta biasanya pada H-1 sebelum aqad nikah.

Ahmad MS, misalnya. Dai yang bertugas di Sumatera Selatan ini belum tahu kepastian siapa jodoh untuk kedua putrinya -yang ikut pernikahan- hingga Jumat (09/11/2018) kemarin lusa.

“Belum tahu saya,” ujarnya saat bincang-bincang dengan wartawan INA News Agency.

Ia menyerahkan sepenuhnya calon menantunya kepada Allah lewat hasil musyawarah para panitia.

Wahyu, salah seorang peserta nikah itu, mengaku begitu bahagia mengikuti pernikahan ini. Pria asal Samarinda, Kaltim ini bahkan merasa “canggung”.

“Senang, tapi lebih banyak canggungnya,” ujarnya ditemui bakda zuhur sebelum penyerahan mahar kepada istrinya. Penyerahan mahar dilakukan secara terpisah di rumah masing-masing keluarga mempelai di Gunung Tembak.

Kenapa canggung?

Rupanya ia dijodohkan dengan putri dari salah seorang ustadz kondang di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

Terlebih lagi, ternyata istrinya adalah adik dari sahabatnya sendiri. Itu pun baru dia ketahui setelah diperlihatkan oleh panitia biodata sang putri sebelum pernikahan itu. Biodata itu biasanya berisi foto calon istri/calon suami sekaligus formulir kesediaan masing-masing peserta untuk menerima calon pasangannya, untuk kemudian ditandatangani.

Wahyu, guru di sebuah Sekolah Alam di Manggar, Balikpapan, ini pun bersedia menerima putri sang ustadz itu sebagai calon istrinya meskipun dengan perasaan terkejut dan canggung.

“Betul-betul enda nyangka aku,” ungkapnya dengan raut wajah dan nada bicara serius.

Ia mengaku jauh sebelum pernikahan sudah menyerahkan persoalan jodohnya kepada Allah lewat ijtihad musyawarah panitia.

Reporter: Abdus Syakur | INA News Agency