Dihadiri Sultan dan Wapres, Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah di Yogyakarta Resmi Dibuka

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah bertajuk ‘Menggembirakan Dakwah Islam Memajukan Indonesia’ resmi dibuka di Gedung Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogjakarta (UMY), Senin (26/11/2018) siang.

Pembukaan Muktamar dihadiri Ketua Pemuda Muhammadiyah Dahnil Azhar Simanjuntak, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Ketua Umum Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir, dan Gubenur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwana X.

Dalam sambutannya, Wakil Presiden Jusuf Kalla berharap muktamar kali ini dapat menghasilkan sosok pemimpin yang kedepan bisa berkontribusi kepada umat dan bangsa.

“Tentu harapan kita semua Muktamar ini tentu disamping mengevaluasi yang dilakukan pengurus sebelumnya juga merancang untuk masa depan,” ungkapnya.

Ketua Pelaksana Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah, Virgo menjelaskan, selain pemilihan ketua Pemuda Muhammadiyah yang baru, Muktamar tersebut juga akan menjadi langkah awal Pimpinan Pemuda Muhammadiyah yang baru dalam melaksanakan program-programnya.

“Muktamar ini harus bermartabat dan pilih pemimpin harus tidak ada intervensi dari pihak siapapun, dan pimpinan yang terpilih nanti juga yang berintegritas dan bertanggungjawab,” katanya kepada Jurnalislam.com usai pembukaan muktamar, Senin (26/11/2018).

“Agenda pertama laporan bertanggungjawaban pimpinan pusat periode 2014-2018, yang kedua menentukan arah kebijakan program pimpinan pusat periode 2018-2022,” sambungnya

Muktamar yang diikuti oleh 12.000 kader Pemuda Muhammadiyah dari seluruh Indonesia ini akan berlangsung hingga hari Rabu (28/11/2018).

Eggi Sudjana : “Tidak Ada yang Salah dengan Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Senat mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Perguruan Tinggi Dakwah Islam Indonesia (PTDII) menggelar bedah buku “Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir” yang ditulis oleh Indra Martian, Sabtu (25/11/2018) di Kampus STAI PTDII Jl. Tawes, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Hadir sebagai pembicara, pakar hukum Eggi Sudjana dan penulis buku Pemikiran Politik Abu Bakar Ba’asyir, Indra Martian, Sayyid Hamidan sebagai keynote speaker.

Dalam paparannnya, Sayyid Hamidan yang pernah menjadi ketua Majelis Mujahidin Wilayah Jakarta ini mengatakan, inti perjuangan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir adalah untuk menjadikkan syariat Islam sebagai hukum positif di Indonesia.

“Inti perjuangan ustadz Ba’asyir terletak pada keinginannya untuk tathbiqus syariah di lembaga formal negara, namun inilah yang tidak diinginkan dan disukai oleh orang kafir dan semi kafir,” kata dia.

Penulis buku, Indra Martian menggambarkan sosok Abu Bakar Ba’asyir sebagai ulama yang istiqomah

“Hari ini yang membawa ustadz Ba’asyir ke penjara adalah keyakinannya terkait konsep negara,  pemerintahan dan kepemimpinan yang berlandaskan syariat Islam dan kepemimpinan Islam yang saya tulis dalam buku ini,” ujar Indra.

Sementara itu, Eggi Sudjana dalam paparannya mengatakan, tidak ada yang salah dengan pemikiran politik Abu Bakar Ba’asyir. Menurutnya, memperjuangkan syariat Islam selaras dengan Pancasila dan UUD 1945.

“Pemikiran politik Abu Bakar Ba’asyir tidak ada yang salah. Perjuangan memperjuangkan syariat Islam selaras dengan Pancasila sila 1 : Ketuhanan Yang Maha Esa, sesuai dengan UUD 1945 pasal pasal 29 ayat 1 dan 2,” paparnya. Ia menjelaskan, Tuhan yang dimaksud dalam pasal 1 adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam pasal 2 pun, lanjut Eggi, Undang-undang menjamin setiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut agamanya.

Bahkan, kata dia, dalam muqodimah UUD 1945 alinea ketiga menyebutkan ‘Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa’

“Jadi penerapan syariat Islam di lembaga negara tidak bertentangan dengan undang-undang,  peraturan yang berada di atasnya yaitu pancasila, UUD 1945 bahkan muqaddimah UUD 1945,” tegas Eggi.

Fahri Hamzah dan Fadli Zon Ngopi Bareng Dai Hidayatullah di Arena Silatnas Balikpapan

BALIKPAPAN (Jurnalislam.com) – Ngopi Bareng Kawan Lama berlangsung meriah di pelataran Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (24/11/2018) malam tadi.

Rangkaian acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang menghadirkan dua Wakil Ketua DPR RI itu, yakni Fadli Zon dan Fahri Hamzah, berupa bincang santai tapi serius ditemani seduhan kopi, pisang rebus, dan jagung rebus.

Kegiatan itu dipandu oleh Dzikrullah W Pramudya, salah seorang wartawan senior Majalah Suara Hidayatullah, yang dihadiri ribuan dai Hidayatullah sebagai peserta Silatnas yang datang dari berbagai provinsi.

Sebelum berbagi, Fahri melantunkan ayat-ayat kitab suci Alqur’an, sedangkan Fadli Zon membacakan puisi.

Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Suara Hidayatullah, Hamim Thohari, yang memulai obrolan, membeberkan secara singkat perjalanan karir Fahri yang pernah menjadi wartawannya.

Fahri pun mengamini, dan menyebut, pertama kali mengenal media ormas Hidayatullah itu saat sempat mengenyam pendidikan di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebelum hijrah ke Jakarta.

“Itulah kenapa saya cerewat di Twitter karena pernah diajari menulis oleh Pak Hamim,” tutur Fahri.

Demikian juga Fadil Zon. Keterlibatannya di Majalah Suara Hidayatullah dan Tabloid IQRA dikarenakan ajakan dari Dzikrullah, yang merupakan sohibnya sejak di bangku sekolah menengah atas di Jakarta.

“Wawancara pertama saya dengan Lukman Harun (seorang tokoh Muhammadiyah saat itu) untuk Tabloid IQRA,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Fahri dan Fadli bercerita banyak hal, di antaranya tentang kegiatan politik, masa perjodohan, hingga ide-ide mereka untuk bangsa ini.

Obrolan itu diselingi dengan pembagian buku karya Fadli Zon dan Fahri Hamzah serta foto bersama.

Di pengujung acara, Hamim Thohari memberikan hadiah kepada Fahri, Fadli dan Dzikrullah, berupa kain kafan.

“Ini akan mengingkatkan kalian bahwa di akhir dari tujuan hidup ini dalah kematian,” kata Hamim, yang disusul dengan pelukan hangat dengan ketiganya..

Berkah Silatnas, Hidayatullah Jajaki Kerjasama Internasional Bidang Pendidikan

BALIKPAPAN (Jurnalislam.com) – Menandai perjalanan 45 tahun, Hidayatullah kembali meneguhkan komitmen untuk berkhidmat seluasnya untuk bangsa.

Hal itu setidaknya ditandai dengan menjajaki kerjasama dengan Islamic Online University di tengah arena Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah, di kampus Gunung Tembak, Balikpapan, 17/11 lalu.

Diketahui, Islamic Online University adalah perguruan tinggi berbasis online yang didirikan oleh Dr. Bilal Philips, dai kelahiran Jamaika.

Tawaran kerjasama tersebut mencakup beberapa program antara lain, pengadaan learning centre (pusat pembelajaran), program S2 (Magister) para dai, pembelajaran Bahasa Inggris Islami, digitalisasi modul kuliah, hingga pendirian universitas berbasis online.

“Ada banyak perubahan sosial yang mesti disikapi dengan baik. Salah satunya adalah kemajuan era digital dan networking,” jelas Bilal Philips, dalam sambutannya.

Menurut Abu Ameenah, demikian sapaannya, universitas yang didirikannya sejak 2001 hingga saat ini sudah menampung tak kurang dari 45.000 mahasiswa dari berbagai negara.

Saat ini mahasiswa, lanjut Bilal, tidak mesti hadir di satu tempat di waktu tertentu. Sebab belajar sekarang bisa dilakukan di mana saja, secara online.

Lebih jauh, Bilal mengingatkan, bagi mahasiswa yang belum punya budaya belajar secara swadaya, masih membutuhkan learning center (pusat pembelajaran) sebagai pengikat mereka.

“Alhamdulillah. Ini menjadi berkah buat Hidayatullah. Semoga kami bisa segera menindaklanjuti tawaran mahal ini,” ucap Muhaimin, mewakili Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

Hadir di Silaturahmi Nasional, Din Syamsuddin Puji Perkembangan Gerakan Dakwah Hidayatullah

BALIKPAPAN (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Profesor Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau yang akrab disapa Din Syamsuddin, hadir dalam acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah di Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimanta Timur, Sabtu (24/11/2018).

Usai shalat Dluhur berjamaah, mantan ketua umum Muhammadiyah dua periode itu pun menyampaikan sejumlah pesan dan kesan di depan ribuan kader Hidayatullah di Masjid Agung Ar Riyadh Hidayatullah.

Didampingi Ketua Umum Hidayatullah, Ustad Nasirul Haq, Din menganggap Hidayatullah telah mampu memperlihatkan jati diri sebagai ormas Islam dengan kader dan pendukung yang banyak serta telah memberikan kontribusi yang nyata kepada bangsa dan negara.

Ia mengatakan, dengan beragamnya amal usaha dan pendidikan yang Hidayatullah telah bangun, maka lembaga yang sudah berumur 45 itu sudah mampu disejajarkan dengan ormas Islam lainnya di Indonesia.

“Sungguh ini menarik bagi saya. Hidayatullah telah menjadi ormas besar. Kalau ke depan semua ormas Islam bersatu dan bekerjasama, saya yakin izzul Islam wal Muslimin akan mampu tercapai, khususnya di Indonesia,” kata Din disambut pekikan takbir peserta Silatnas yang memadati lantai 1,2 dan 3 masjid besar itu.

Selain itu, ia menyebut, antara Muhammadiyah dan Hidayatullah memiliki banyak kesamaan yang berhimpitan. Din Mafhum, sebab memang Hidayatullah ini didirikan oleh kader Muhammadiyah juga, yakni mendiang Ustad Abdullah Said.

“Oleh karena itu, saya berkeyakinan, ada bagian tertentu yang sudah hilang di Muhammadiyah tetapi dimiliki oleh Hidayatullah. Tetapi ada yang dimiliki Muhammadiyah, dan tidak dimiliki Hidayatullah,” ucap Din mengundang senyum Ustad Nasirul Haq dan memancing tawa ribuan dai Hidayatullah.

Seperti Din berkelakar soal pernikahan antara sesama santri di kalangan Pondok Pesantren Muhammadiyah. Itu yang tidak dimiliki Muhammadiyah.

“Andaikan masih bisa, saya ingin jadi santri di Hidayatullah,” ujar Din, yang lagi-lagi mengundang tawa.

Ketua Konferensi Asia dan Dunia untuk Perdamaian dan Agama itu menuturkan, dakwah Islamiyah sekarang mengalami tantangan yang cukup berat dan sangat kompleks.

Padahal, ia mengimbuhkan, dakwah Islamiyah itu bertujuan mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada terang benderang.

Olehnya, Din juga sangat berharap kepada Hidayatullah agar terus mengembangkan gerakan dakwah pencerahan.

“Kalau ini yang kita lakukan, maka saya yakin cita-cita utuk membangun ummat itu akan tercapai karena itulah yang pernah dilakukan Rasulullah di Madinah,” terang Din.

Ustad Nasirul memastikan pihaknya akan terus menerus berjuang membangun peradaban ummat yang tetap beracuan kepada Alqur’an dan Sunnah sebagaimana yang telah digariskan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassalam.

Reporter : Irfan | INA News Agency

Wisata Ruhani Hijrah Fest

Oleh : Rizki Lesus, Anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

“Sungguh sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang,”

Seorang artis kesohor, selebritas negeri ini tak kuasa menyembunyikan keharuannya. Matanya berkaca-kaca menyaksikan apa yang dilihatnya. Di hadapan ribuan orang, ia menahan agar air matanya tak tumpah.

Dirinya tak pernah menyangka, helatan bertema ‘hijrah’ ini mampu menyedot antusiasme dari para muda-mudi yang membanjiri Ibu Kota. Ada rasa yang sulit diungkapkan, sesuatu yang menggedor-gedor jiwanya. Perasaan yang mungkin dulu sangat sulit ia ungkapkan.

“Saya bahagia,” lirihnya singkat. Diusapnya air mata, dilanjutkannya berjalan-jalan – ditemani panitia bertopi hitam dan berompi bertulisan Protocol. Apa gerangan yang membuat sang artis begitu bahagia?

Jawaban ini boleh jadi kita temukan ketika kita merasakan sendiri suasana Hijrah Fest 2018 selama tiga hari (9-11/11/2018). Ribuan orang ini datang entah dari mana, berbaris rapi, melewati pintu yang dipisahkan antara lelaki dan perempuan.

Dibukanya alas kaki kita -laiknya masuk ke masjid-, hingga diberi tas cool sebelum kita masuk hall Jakarta Convention Center (JCC). Di dalamnya, beragam stand tentang feysen, NGO (baik kemanusiaan, lembaga zakat, wakaf, dll), produk halal – seperti kulkas halal, deterjen halal dan tentunya makanan-, dan masih banyak lainnya.

Ketika azan menggantung di langit-langit, beringsut took mini tersebut harus setop aktivitas dulu. Pernah, saking penuhnya, lorong-lorong stand tersebut dipakai juga sebagai tempat shalat- disamping tempat utama shalat di Hall B, ruang besar di depan panggung utama.

Pemandangan janggal di dalam sebuah ruang pertemuan umum.  Pertanyaan tentu kita lontarkan, apa sebenarnya yang membuat muda mudi ini datang? Acara ini bukan helatan seperti bioskop, konser atau semacam acara hiburan.

“Saya merasa tenang di sini,” kata seorang mantan personel band yang duduk di ruang besar hall B, menanti kajian dari para ustaz dan dai seperti Ustaz Abdul Somad, Ustaz Bachtiar Nasir, Ustaz Yusuf Mansur, ustaz Adi Hidayat, dan masih banyak lainnya.

Apakah karena ustaz mereka datang? Tampaknya tidak juga – bahkan ada yang datang karena ingin bisa bersua komunitas hijrah lainnya-. Agaknya memang sedikit membingungkan, membayangkan generasi milenial mengantre, berebut tiket dengan harga dua kali lipat bioskop.

“Saya dapat info tiket sudah habis. Tapi Alhamdulillah, tadi ada dermawan yang mebagikan gratis,” kata seorang wanita berjilbab stylish. Generasi milenial muslim- yang berusia antara 18 -34 ini- datang berduyun-duyun, ada sesuatu yang membuat mereka rasakan.

Seperti mantan personel band tadi, ada harapan akan ketenangan di tempat ini, selain tentunya kegembiraan yang sulit digambarkan laiknya artis kita tadi yang kembali ingin meneguhkan komitmennya untuk hijrah dengan materi-materi dari para guru mereka.

Belum lagi, ia bersua dengan pelbagai komunitas hijrah. Berkomunitas digital hingga offline adalah salah satu ciri khas generasi milenial. Melalui komunitas ini, gaung acara ini begitu cepat tersebar di dunia digital.

Saya yakin, seandainya tiket itu lebih mahal, bagi orang-orang yang ingin menemukan sebuah value, ia pasti akan datang. Hijrah fest, seperti menjadi sebuah tempat wisata baru, wisata ruhani.

“Mereka mencari spiritual value. Menariknya konsumen muslim Indonesia, semakin makmur mereka, semakin knowledgeable mereka, dan semakin technology savvy, justru mereka semakin religius,” kata Yuswohady dalam bukunya Marketing to Middle Class Moslem (2014).

Orang-orang yang disebut Yuswohady Gen @M ini, orang yang tech savvy, melek dengan dunia digital, terhubung dengan komunitas. Mereka mencari value,  nilai-nilai yang hanya bisa dirasakan secara personal.

Generasi milenial ini, kata Dr. Muhammad Faisal- yang telah meriset tentang pemuda di lembaganya Youth Lab- adalah generasi muslim Indonesia yang ingin berubah menjadi lebih baik, lebih saleh dan lebih dekat dengan agama. (lihat : Bukunya Generasi Phi : Memahami Milenial Pengubah Indonesia, 2018: hlm. 142 – 143).

Keterbukaan informasi, kajian-kajian daring yang dilakukan para ustaz – yang kebanyakan hadir di Hijrah Fest- mempertemukan mereka.”Mereka merasa bahwa menampilkan identitas keislamannya adalah penting dalam kehidupannya,” kata Yuswohady.

Maka, bukalah mata lebar-lebar menyaksikan generasi baru ini : muslim milenial Indonesia. Mereka yang bangga akan keislamannya dan ingin orang lain merasakan apa yang mereka rasakan. Gerakan ini akan terus tumbuh seiring bertumbuhnya kelas menengah muslim Indonesia.

Memang, dalam literatur lama dunia Islam, orang-orang muda yang berada di sekitar sang Nabi, tercatat orang-orang pertama yang memenuhi seruan sang Nabi untuk berislam.

Lihat saja remaja yang saat itu berusia 12 tahun bernama Zubari bin Awwam. Atau pemuda berusia 17 tahun yang bernama Saad Ibn Abi Waqash. Kita juga tahu orang-orang seperti Mush’ab Ibn Umair, Utsman Ibn Affan, hingga belakangan Umar Ibn Khattab.

Gerakan hijrah ini disambut luas oleh anak-anak muda, karena itulah fitrah. Ada sesuatu yang bergerak dalam hati ini, menyapa kita, mengetuk nurani, mengajak akal kita bertanya-tanya.

Berjuta pertanyaan muncul di benak anak-anak muda yang masih mencari identitas diri. Sampai suatu titik, ketika Allah berkehendak memberikan jalan-jalannya, kesempatan itu kembali ke diri kita.

Selalu ada jalan Tuhan untuk memanggil diri ini untuk kembali. Lihatlah bagaimana  Lihatlah bagaimana ketika Fir’aun berkata,”Saya adalah Tuhan kalian.” Di tengah kepongahannya, selalu ada jalan untuk Fir’aun kembali.

Diutuslah dua orang Nabi: Musa dan Harun untuk menyerukan kepadanya agar berhijrah! Fir’aun yang sudah mengaku Tuhan, Allah berikan jalan untuk berhijrah melalui utusannya. Namun Fir’aun menolak jalan tersebut.

Bagaimana dengan kita? Dengan ke Maha Pengasihnya, kita yang bergelimang dosa – walau tak sampai seperti Fir’aun yang mengaku- tentu pernah merasakan panggilan jiwa itu. Panggilan – fitrah- untuk kembali, panggilan untuk kembali berhenti sejenak dari riuhnya kehidupan sekitar kita.

“Sungguh sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang,” catat Tere Liye dalam novelnya yang berjudul Pulang.

Terkadang kita merasa bahwa diri ini begitu hina, kotor, namun itu tidak berarti pintu kebaikan telah terkunci rapat. Kita selalu ingat pesang sang Nabi,“Manusia adalah tempat berbuat salah dan khilaf”.

Manusiawi memang, dan inilah pesan kemanusiaan : tak ada insan yang lepas dari kesalahan karenanya kita disebut insan– makhluk yang nisyan (pelupa). Lihatlah ketika ribuan orang ini ini menangis, menangkupkan tangannya.

Pada suatu titik – kita – akan mudah meneteskan air mata, karena kesadaran dalam jiwa ini mampu menggugah sejumlah khilaf dalam diri ini. Dalam kondisi kesadaran seperti itu, hijrah menjadi sebuah jawaban.

Itulah kemurahan Allah bagi kita manusia yang tak pernah lolos dari khliaf. Ada pintu salah dan khilaf di dalam diri ini. Ada pula pintu taubat di sana. Pertanyaannya muncul. Akankah kita bergerak ke sana, atau kita hanya berdiam diri?

Pintu ini terbuka lebar bagi siapapun selama helaan nafas berjarak dengan takdir kematian. Hijrah adalah ikhtiar kita untuk kita melangkah, meniti jalan pulang yang pasti tiba.

Kita tentu ingat tentang kisah pembunuh 100 orang yang menempuh jalan untuk berhijrah untuk mendapat ampunanNya. Langkah kakinya menghantarkannya kepada surga Allah. Subhanallah!

Kini, bersiap-siaplah, untuk mendengar seruan dari nurani terdalam. Ketika panggilan itu datang, maka sambutlah! Perjalanan masih sangat panjang. Dalam kesabaran, ia akan menjadi semacam wisata ruhani yang akan membawa kita pada suatu titik yang hanya bisa dirasakan secara personal.

“Ya Tuhan kami, jangalanlah Engkau jadikan hati kami menyimpang kepada kesesatan, setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlaj kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (Karunia).”

Buya Gusrizal kepada PSI : “Sudahlah Tuan Muda, Kami Sudah Terlatih”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar kembali respon pernyataan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terkait penolakan terhadap perda syariat.

Gusrizal menegaskan, pernyataan Ketua PSI telah menyentuh bagian penting dari kehidupan umat Islam. Untuk itu, ia merasa perlu untuk membuat garis pemisah antara pemikiran PSI dan umat Islam.

“Saya bukan politisi, tapi tuan-tuan menyentuh bagian penting sendi kehidpan kami. Karena itu, saya buat garis pemisah antara pikiran tuan-tuan dengan umat terutama di Ranah Minang, karena bahasa bersayap yang tuan dan puan pakai sebagai pembelaan semakin menyingkap maksud dan pikiran,” tulis Buya Gusrizal dalam akun facebook miliknya, Selasa (20/11/2018).

Sebelumnya, Buya merespon pernyataan Ketua Umum PSI, Grace Natalie yang menolak perda-perda berbasis agama termasuk perda syariat dengan alasan berpotensi memicu konflik.

Pada Kamis (15/11/2018), dalam akun facebooknya, Buya Gusrizal mengajak umat Islam untuk tidak memilih partai yang menolak syariat Islam. Menurutnya, syariat Islam telah menjadi bagian dari perundang-undangan di Indonesia.

“Bila memang demikian posisi tuan-tuan dan puan-puan, saya tak akan bergeser dari sikap bahwa umat Islam terutama di Ranah Minang, HARAM mengamanahkan perwakilan mereka kepada partai dan calon-calon yang tidak setuju dengan nilai-nilai syari’ah karena syari’at Islam harus ada dalam aturan dan perundang-undangan di negeri ini. Perlu tuan-tuan dan puan-puan catat bahwa syari’at Islam telah menjadi bagian dari perundang-undangan di negeri ini!” tegasnya.

Menanggapi pernyataan itu, Juru Bicara PSI, Guntur Romli mengatakan, pihaknya tidak mempermasalahkan perbedaan pendapat dalam hal itu. Akan tetapi ia menjelaskan, keputusan PSI itu sebagai upaya untuk memuliakan agama agat tetap pada tempatnya.

“PSI sangat memuliakan agama dan ingin agama tetap pada tempatnya dan PSI melihat agama ingin pada tempatnya, bukan dijadikan sebagai alat bagi politik,” kata Guntur sebagaimana dikutip tribunnews, Senin (19/11/2018)

Guntur menyatakan, syariat dan perda syariat itu dua hal yang berbeda. Syariat itu dari Allah Subhanahu wa ta’ala sementara perda syariat itu buatan manusia.

“Jadi kita jangan menyamakan antara syariat dan perda syariat, jadi itu dua hal yang harus dibedakan,” ujar dia.

Buya Gusrizal kembali menanggapi. “Tidak membenci syari’at Islam tapi menempatkan agama dan syariat dalam porsinya masing-masing. Sudahlah tuan-tuan muda! Kami sudah lama terlatih membaca yang tersirat bahkan yang tersuruk di balik kalimat yang tuan-tuan susun,” tulis Buya dalam akun facebooknya, Selasa (20/11/2018).

Gusrizal menegaskan, dirinya siap mempertanggungjawabkan pernyataan tersebut di dunia dan akhirat. “Saya pertanggungjawabkan pernyataan saya dunia dan akhirat!!!” tegasnya.

PKS: PSI Tak Memahami Pancasila Secara Utuh

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sikap politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menolak perda-perda agama (perda syariah atau perda injil) dinilai Fraksi PKS DPR sebagai bentuk ketidakpahaman terhadap falsafah dan dasar negara Pancasila dan konstitusi UUD 1945.

Hal itu dikatakan oleh Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini ketika dimintai komentar soal pernyataan Ketum PSI, Grace Natalie yang menimbulkan polemik. Untuk itu, Fraksi PKS menyarankan agar PSI memahami konstitusi dan Pancasila secara utuh.

“Sebagai sikap politik sah-sah saja, tapi sebagai sesama warga bangsa tentu kita perlu mengingatkan dan mengoreksi sikap tersebut. PSI tidak paham utuh Pancasila dan UUD 1945 yang menempatkan agama dalam posisi yang penting, yang menjiwai semangat kebangsaan, dan yang terpenting menjadi landasan moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Senin (19/11/2018).

Sikap politik PSI itu, kata Anggota Komisi I DPR ini, sebagai bentuk phobia agama yang bisa saja bertendensi memisahkan nilai-nilai agama dalam laku kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita perlu tanya dengan jelas kepada PSI apa yang mereka maksud dengan perda-perda agama yang mereka tolak. Umumnya perda-perda tersebut mengatur ketertiban hidup bermasyarakat, lebih dari itu bertujuan untuk menjaga moral dan akhlak masyarakat. Apa ini yang mereka tolak?,” tanya Jazuli.

“PSI harus membaca semangat Pancasila dan UUD 1945”, tantang Jazuli.

Ia menjelaskan, Pancasila dan UUD 1945 sangat jelas menjadikan nilai-nilai agama sebagai acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan secara eksplisit dalam pembukaan UUD 1945, sila pertama Pancasila, Pasal 29 yang menyatakan negara berdasar atas Ketuhanan YME dan jaminan kebebasan beragama, Pasal 28J bahwa pelaksanaan hak asasi tidak boleh bertentangan dengan nilai agama, hingga Pasal 31 tentang visi pendidikan nasional untuk menghasilkan SDM yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.

“Oleh karena itu perda-perda bahkan undang-undang bukan saja menyerap nilai agama akan tetapi wajib mengambil nilai-nilai tersebut. Negara melalui perangkat aturannya wajib menjamin pelaksanaan nilai agama dilaksanakan secara konsekuen. Itulah mengapa lahir UU Peradilan Agama, UU Haji, UU Zakat, UU Perbankan Syariah, UU Jaminan Produk Halal dan kita terima melalui proses bernegara antara DPR dan Pemerintah. Apa ini ditolak juga oleh PSI?” tandasnya.

Untuk itu, Anggota DPR Dapil Banten ini berpesan agar PSI tidak mengambil posisi diametral atau bertentangan dengan semangat Pancasila dan UUD 1945. Sebaliknya, mari kita sama-sama kokohkan semangat keberagamaan di republik ini agar Indonesia semakin diberkahi Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.

Ketua Fraksi PKS ini menilai PSI termasuk partai anak-anak muda, yang bisa jadi waktu di SMP dan SMA nya sudah tidak lagi belajar PMP jadi mungkin saja tidak bisa memahami dasar negara dan konstitusi secara utuh. Oleh karena itu, atas nama Fraksi PKS Jazuli meminta kepada Mendiknas agar memasukkan kembali pelajaran PMP mulai dari SD sampai SMA agar anak bangsa ini memahami dasar negara dan konstitusinya secara utuh.

DPR Minta Polri Usut Tuntas Kasus Kematian Wartawan Dufi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Anggota Komisi III DPR, Nasir Djamil, mengecam pembunuhan seorang wartawan asal Jakarta, Abdullah Fithri Setiawan alias Dufi. Menurutnya, pembunuhan itu sangat keji dan sadis, bahkan memperlakukannya seperti binatang.

“Saya mengecam dan mengutuk kematian yang dialami dufi yang mengenaskan itu,” terangnya melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Senin (19/11/2018).

Dia mengatakan, apapun alasannya, menghilangkan nyawa orang merupakan sebuah pelanggaran hukum.

Apalagi, jika dikemudian hari ditemukan bahwa pembunuhan tersebut berkaitan dengan profesi Dufi. Maka apa yang dilakukan oleh pelaku bertentangan dengan Undang-undang yang berlaku khususnya UU Pers No. 40 tahun 1999.

“Jika pembunuhan itu direncanakan maka pelaku bisa dihukum mati,” ujarnya.

Dia berharap aparat kepolisian bersungguh-sungguh untuk mengungkap dan mengusut tuntas kasus Dufi.

“Saya berharap aparat kepolisian bertindak cepat menemukan pelakunya. Kita tidak ingin, pelaku sadis ini berkeliaran bebas terlalu lalu lama,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Jasad Dafi ditemukan warga di dalam drum plastik berwarna biru dekat kantor Polsek Klapanunggal Bogor, Jawa Barat, Minggu pagi (18/11/2018).

Pada jasad korban ditemukan sejumlah luka sabetan senjata tajam.

Kondisi mayat ditemukan sangat mengenaskan karena drum diisi air. Korban diduga kuat berasal dari luar bogor dan diduga merupakan korban pembunuhan lantaran warga sekitar tak ada yang mengenalinya.

Siswa SD Muhammadiyah 1 Solo Juara Lomba Cerilis Tingkat Provinsi

SOLO (Jurnalislam.com) – Siswa Sekolah Dasar Swasta Rujukan (SDSR), Sekolah Pendidikan Karakter Berbasis TIK dan Budaya, SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, Wildan Haris Rasikh berhasil meraih Juara III di ajang kejuaran cerdas dan ilmiah islami (Cerilis), di Wonogiri, Jum’at-Sabtu (16-18/11/18).

Walaupun hanya mampu menggondol juara III, haris yang hobi baca buku (tapi bukan pelajaran) dan menonton sepak bola), ia berharap prestasi ini bisa dijadikan pemicu untuk berprestasi di tahun yang akan mendatang.

Haris, begitu sapaan, mengaku senang dan tidak menduga bisa meraih prestasi ini. Kompetisi ini berjalan sangat ketat sampai akhir lomba dari 35 kabupaten.

“Pas final dari 35 perwakilan kabupaten diambil 3 terbaik. Juara 1 dari kontingen Semarang, Juara 2 dari Kudus. Ya, meskipun raih juara III saya patut bersyukur, semoga tahun depan bisa menyusul prestasi lainnya,” harapnya, usai lomba.

Dihubungi secara terpisah, Yunita Anggraeni, ibunda Haris, mengaku sangat bersyukur dan gembira dengan prestasi yang diraih putranya. Beliau tidak menyangka karena saingan di ajang ini sangat luar biasa.

“Bisa masuk final saja sudah luar biasa, apalagi bisa juara III,” ungkapnya, saat dihubungi Ahad (18/11/18). “Al Hamdulillahirabbil ‘alamiin, atas segala yang dicapai Haris, haadza min fadli rabbii, kalau mau lomba, ya belajar, banyak do’a dan minta dido’akan, saya pernah pesan sama Haris, guru itu harus dihormati, barokahnya ilmu yang dipelajari itu datang dari guru yag ikhlas,” lanjutnya.

Senada dengan guru pembimbing Dra. Ishayati, wah perjuangan yang luar biasa, sejak MAPSI kecamatan hingga Provinsi. “usaha dan do’a, serta disipilin yang paling penting,’’ katanya.

Sebelumnya, Wildan Haris Rasikh pernah meraih rentetan beberapa juara antara lain, Pidato Ismu In Arabic Juara 1 Olimpiade Ahmad Dahlan (Olympicad) VI di Universitas Muhammadiyah (UM) Purwokerto, yang berlangsung pada 13-14 Agustus 2018, Juara I OSN IPA, meraih Perunggu lomba pidato ismu Arabic Olimpiade Ahmad Dahlan V (Olympicad) di LPMP Provinsi Lampung, Kamis, 26-29 Oktober 2017.

Sementara itu Humas SD Muhammadiyah 1 Jatmiko mengemukakan bahwa meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, berkarakter, sehat jasmani dan rohani, menjadi teladan bagi diri dan orang lain, memiliki sikap spiritual dan sosial.

“Prestasi tersebut diharap menjadi penyemangat bagi seluruh komponen keluarga besar SD Muhi untuk terus memberikan yang terbaik, memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menghadapi persaingan global dan tidak melupakan jati diri sebagai bangsa Indonesia, salah satunya bisa dilatih melalui momentum lomba,”ungkapnya.

Kiriman : Humas Jatmiko