Brantas Pekat, dalam Sehari LUIS Gerebek Tiga Tempat Maksiat

BOYOLALI (Jurnalislam.com) – Dalam satu hari Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) berhasil menggerebek tiga titik yang dijadikan ajang kemaksiatan di Kabupaten Boyolali, Selasa, (6/12/2016).

Di Kecamatan Nogosari, LUIS menggerebek tempat judi kartu domino dan berhasil mengamankan sejumlah barang bukti.

“Penggrebegan pertama di sore hari adalah judi jenis kartu domino hingga berhasil mengamankan barang bukti kartu Domino dan uang Rp 40.000, 00 namun para penjudi berhasil kabur semua,” kata Humas LUIS, Endro Sudarsono dalam siaran pers kepada Jurnalislam, Selasa (6/12/2016).

Selanjutnya, LUIS menggerebek warung miras di kawasan Kantor Kecamatan Nogosari dan berhasil mengamankan puluhan botol miras. LUIS melaporkan hasil operasinya kepada Polres Boyolali.

“Akhirnya, LUIS berkoordinasi dengan pihak Polsek Nogosari dan Polres Boyolali agar menangani penjualan miras illegal dan laporan judi jenis kartu domino,” terang Endro.

Dalam perjalanan pulang, LUIS menerima laporan warga Nogosari tentang adanya judi Cap Jie Kia. Laskar langsung mendatangi TKP dan menangkap penjual judi Cap Jie Kia serta mengamankan barang bukti yang senilai Rp.250 ribu dan kertas ramalan. LUIS pun berkoordinasi lagi dengan Mapolsek Nogosari untuk laporan lagi

“Kita berharap Kapolres Boyolali dan Kapolda Jateng lebih tegas dan rutin melakukan pencegahan dan tindakan terkait pekat khususnya judi, miras dan prostitusi,” pungkas Endro.

Reporter: Dyo

Umat Islam Sudah Bangkit, Ansharusyariah Nusra Desak Pemerintah Bersikap Adil

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dalam Aksi Bela Islam III yang digelar umat Islam Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (2/12/2016), Amir Jamaah Ansharusy Syariah Wilayah Nusa Tenggara (Nusra), Ustadz Abdul Hakim menyayangkan sikap aparat yang kurang sigap menangani kasus Ahok.

“Ahok telah menghina agama kami, tetapi sampai hari ini kami belum melihat tindakan yang adil dari aparat dan penguasa. Padahal dari beberapa kasus penistaan serupa, mereka langsung ditangkap dan dihukum tanpa ada pertimbangan, tanpa mendatangkan saksi-saksi ahli,” katanya.

Ia menilai, kasus Ahok adalah pertunjukkan ketidakadilan yang sedang sangat nyata dipertontonkan kepada rakyat Indonesia. Ustadz Abdul Hakim khawatir jika dibiarkan, hal tersebut akan menyebabkan kekacauan.

“Hari ini kami melihat ketidakadilan sedang dipertontonkan di negeri ini, karena umat Islam yang jumlahnya berjuta-juta, bahkan sudah berkali-kali turun untuk meminta keadilan ditegakkan tetapi tidak dihargai di negeri ini. Kalau ketidakadilan terus dipertontonkan maka kami khawatir akan terus terjadi kekacauan di negeri ini,” ujarnya.

Menurutnya, tidak ditahannya Ahok setelah ditetapkan tersangka dalam kasus penistaan agama, dinilainya sudah benar-benar tidak memenuhi rasa keadilan.

“Umat Islam merasa dikhianati, karena hukum sudah tidak memihak kepada rasa keadilan,” cetusnya.

Ia mengingatkan pemerintah agar berlaku adil dan jangan menjadikan umat Islam sebagai musuh. “Sekarang kami melihat umat Islam yang tertidur hari ini mereka semuanya sudah bangkit, itu semua tiada lain dan tiada bukan karena pengaruh daripada Al-Quran,” tegasnya. Umat Islam, lanjutnya, tidak akan puas sebelum Ahok dipenjara.

Sebagaimana diketahui, beberapa daerah melakukan aksi Bela Islam pada 2 Desember sebagai bentuk dukungan Aksi Bela Islam III di Jakarta.

Reporter: Sirath

Pengamat Komunikasi: 5 Alasan Mengapa Media Mainstream Vulgar Alihkan Kasus Penjarakan Ahok dalam Aksi Damai

Islamic News Agency (INA)—Banyak yang terperanjat mengapa Aksi Damai Bela Islam III hari Jumat, 02 Desember 2016 di Lapangan Monumen Nasional (Monas) justru lebih besar dihadiri umat Islam. Meski sebelumnya banyak aksi intimidasi, pelarangan dan serangkaian penggembosan, fakta lain justru banyak umat Islam menghadiri acara yang diinisiasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI ini.

Di sisi lain, secara mengejutkan aksi yang dihadiri jutaan orang (berdasakan Google Eart, ada yang menaksir acara Aksi Super Damai 212 ini dihadiri lebih 5 juta orang) ini justru dipandang sebelah mata banyak media mainstrem.

Aksi doa yang menuntut penegak hukum memenjarakan penista agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), ini justru ditutupi media massa, seolah-olah hanya acara doa dan zikir untuk kedamaian Indonesia. Bahkan ada media yang justru mengangkat kehadiran Presiden Joko Widodo kurang dari 3 menit menemui peserta aksi sebagai laporan utama.

Sementara tuntutan utama “memenjarakan Ahok” yang disuarakan sejak Aksi Bela Islam I, II dan III hilang dari peliputan koran dan televisi Indoneisa. Apa yang terjadi?

Islamic News Agency (INA), jaringan berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU), mewawancari pengamat komunikasi Universitas Ichsan Gorontalo, Mohammad Nur Hidayat menyoroti hilangnya tuntutan utama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI yang ingin penista agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok segera dipenjara.

“Mereka membelokkan isu aksi damai hanya sekedar doa untuk negeri sehingga agenda setting memutarbalikkan opini sangat jelas terlihat. Bahkan bisa dibilang sangat vulgar. Malah ada media mainstream yang tetap menghubungkan Aksi Super Damai ini dengan isu makar,” demikian disampaikan dosen ilmu komunikasi ini kepada Islamic News Agency (INA), Ahad (05/12/2016).

Menurut penulis buku Kapita Selekta Jurnalisme ini ada beberapa alasan mengapa sejak awal media maenstrem dinilai tidak bisa cukup adil melihat aksi gerakan Bela Islam sejak edisi I sampai III ini.

Setidaknya, lima alasan mengapa media maintream ‘melindungi’ Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok;

Pertama, media umum membuat framing (membingkai peristiwa) Aksi Bela Islam III sebagai aksi doa dan kehebatan Jokowi.

“Mau tidak mau media mainstream tetap harus memberitakan aksi jutaan orang ini, meski terpaksa memberitakan menurut menurut versi mereka. Mereka hilangkan tuntutan utama umat untuk memenjarakan Ahok menjadi hanya aksi berdoa dan kehebatan Jokowi datang beberapa menit yang tidak mengatakan apapun terkait Ahok,” ujarnya.

Meski tetap memberitakan, tapi framingnya membelokkan isu ini hanya doa untuk negeri. “Sehingga agenda setting memutarbalikkan opini sangat terlihat. Bahkan bisa dibilang vulgar. Malah ada media mainstream yang tetap menghubungkan Aksi Super Damai ini dengan isu makar. Bahkan ada media asing mengait-mengaitkan makar dengan berhubungan ISIS lagi. Mereka sangat paksakan diri untuk menghubung-hubungkan. Istilah Jawa ini otak atik gathuk.”

Kedua, media mainstream di Indonesia saat ini dalam posisi sulit.

Di satu sisi seolah tidak ingin gerakan Aksi Damai sebagai berita besar. Meski gerakan ini sudah mendapat tempat di hati banyak umat Islam, faktanya, mereka sengaja tetap membingkai agar ini gerakan kecil. Sementara di saat yang sama, semua mata umat fokus pada gerakan ini, jadinya harus tetap menjadikan sebagai berita utama.

“Mau tidak mau media mainstream harus memberitakannya sebagai berita utama. Sebab jika tidak, mereka terancam kehilangan pasar. Aneh saja, aksi lebih 2 juta orang tidak jadi perhatian, sementara aksi Kebhhinekaan hanya segelintir orang saja dimuat?,” ujarnya.

Di sisi lain, mereka seolah masih berat hati jika menjadikan Ahok sebagai orang yang tersudut. Ibarat makan buah simalakama. Diberitakan ada peluang Ahok makin tersudut, tidak diberitakan, umat Islam yang menjadi konsumen mereka ditakutkan akan lari.”

Ketiga, kekuaatan media sosial (Medsos). Menurut Nurhidayat, media mainstream luma saat ini umat Islam lebih cenderung mengandalkan jaringan media sosial (Medsos) akibat bertahun-tahun sering diplintir dalam pemberitaannya oleh media mainstream .

Ia melihat sejak Aksi Damai I sampai Aksi Damai 411 (Jumat 4 Nopember 2016), kalangan warga terdidik justru lebih mengandalkan jaringan Medsos dan grup-grup di WhatsApp untuk berkampanye karena rasa kecewanya paada televisi dan media umum.

“Jikalau tidak bisa ikut aksi secara fisik, banyak yang meresa terpanggil ‘jihad’ dengan hanya ikut menyebarluaskanj aksi via medsos. Terutama WA, Facebook dan Twitter. Ini justru besar pengaruhnya.”

Karena itu, menurutnya, jika media masih tetap tidak adil, mainkan media sosial. Jika media mainstream tetap bermain dengan cara seperti itu kepada kelompok Islam, menurut Nurhidayat, media-media ini akan digilas media sosial.

Keempat, gagal menerapkan teori kuno

Media mainstream gagal menerapkaan Teori Goebbels dalam Aksi Bela Islam. Teori ini diambil dari Paul Joseph Goebbels atau dikenal teknik Big Lie (kebohongan besar), dimana menyebarluaskan berita bohong sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran.

Menurutnya, media mainstream percaya Ahok simbol kebhinekaan dan toleransi, padahal bagi umat Islam ia justru lebih berbahaya Jyllands Posten yang melecehkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Media seolah menutupi semua perilaku buruk (terutama lisan) Ahok setiap hari di media massa.

Usaha media besar ‘menyelamatkan Ahok’ dan mempraktikkan Teori Goebbels rupanya gagal total. Sebab, diam-diam umat percaya komando ulama non formal (dalam hal ini di MUI dan GNPF-MUI). Semakin MUI dibully dan dinistakan, rupanya umat semakin kuat. Ini yang tidak bisa dibaca dengan hati nurani media mainstream .

“Semakin ulama dilecehkan, maka sama artinya dengan nabi yang dilecehkan. Pantaslah banyak umat yang ikut mendemo beliau. Banyak umat meninggalkan baju ormas, meski pimpinan mereka melarang. sebab ini sudah harga diri ulama.”

Media dinilai lupa ketika kasus tahun 2000 dimana Banser ‘menyerbut’ Kantor Jawapos di Surabaya karena dinilai salah memberitakan seorang ulama NU tentang kasus korupsi. Akibatnya, koran itu tidak bisa terbit lebih dari 2 hari.

Kelima, mayoritas media mainstream membela kaum pemodal dan kepentingan asing

Terakhir, media mainstream di Indonesia Indonesia sudah dikuasai kelompok pemodal dan asing yang punya kepentingan ‘menyelamatkan Ahok’. Akibatnya, susah mencari media besar di Indonesia bisa jujur melihat perasaan umat Islam di Indonesia terkait kasus ini.

“Ada yang ingin menaikan citra Ahok, bahwa ada seorang non Muslim bisa jadi pemimpin di negara berpenduduk Muslim terbesar,” ujarnya.

“Memang ownernya secara resmi orang Indonesia, tapi dibalik itu ada kepentingan asing. Ada konglomerat dan raja-raja media seperti George Soros, Rupert Murdoch, bahkan Donald Trump yang sangat anti Islam juga ada. Maka tidak heran Ahok menjadi representasi kelompok kaum liberalis meski sia gampang melecehkan agama dan melukai umat Islam.”

Menurut Nurhidayat, meski tindakan media yang tidak adil ini dinilai mengecewakan umat Islam, tidak seharusnya umat berhenti berbuat sesuatu. Baginya, masih ada harapan umat melawan aksi dengan cara simpatik.

Dua hal yang masih bisa dilakukan adalah; tinggalkan membaca dan menonton media maintream yang tidak adil pada Islam dan memulai alternatif lain. Ia menyarankan menggunakan media sosial dan berlangganan membaca media-media Islam yang reputasinya dipercaya umat.

“Umat Islam juga bisa melakukan perlawanan atas ketidakadilan media seperti ini. Boikot media terebut, jangan beli korannya, jangan tonton TV nya, jangan akses dot.com nya. Bahkan lebih manjur lagi boikot produk-produk yang diiklankan media tsb. Beralihkan kepada media Islam dan kita terus dorong mereka menulis lebih baik agar umat punya informasi yang membela mereka, “ ujarnya.*

Rep: Cha (INA)

GNPF MUI Berikan Penghargaan Khusus untuk Massa dari Ciamis

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pembina GNPF-MUI, Habib Rizieq Shihab memberikan penghargaan khusus kepada massa Aksi Bela Islam III dari Ciamis yang datang ke Jakarta dengan berjalan kaki.

Penghargaan itu berikan Habib Rizieq secara simbolis dengan mangalungkan sorban kepada K.H. Nonop Hanafi selaku pimpinan massa Ciamis di Mimbar Utama Aksi Bela Islam III di Monas, Jakarta, Jum’at (02/12/2016).

“Perjuangan umat Islam tidak akan bisa dihentikan. Walaupun digembosi, meskipun perusahaan transportasi menghentikan sepihak,” ujar Habib Rizieq.

Sementara itu, K.H. Nonop dalam orasinya menyampaikan bahwa melalui perjalanan yang ditempuh, dirinya menemukan hal baru tentang Indonesia.

“Ketika kita disentuh oleh iman maka siapapun bergerak menjadi arus utama. Tidak perlu takut kepada siapa pun,” tuturnya.

Menurutnya, bangsa Indonesia punya modal besar, bahwa masyarakatnya siap berkontribusi untuk agama.

Reporter: Yahya G. Nasrullah/INA

Pimpinan Rombongan Ciamis: Hati Kami Tertarik Magnet Al-Qur’an

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Rombongan massa Ciamis, KH. Nonop Hanafi diberikan kesempatan khusus untuk berbicara di mimbar utama Aksi Bela Islam III di Monas, Jakarta, Jum’at (02/12).

Pada kesempatan itu, Nonop menyampaikan, bahwa yang membuat umat Islam dan santri Ciamis teguh untuk berjalan kaki ke Jakarta adalah karena hati yang terpaut dengan al-Qur’an.

“Kenapa kami dari Ciamis jauh-jauh ratusan kilometer kesini, karena hati kami tertarik oleh magnet al-Qur’an,” ujarnya.

Selain itu, sambungnya, yang membuat umat Islam dan santri Ciamis teguh untuk berjalan kaki ke Jakarta karena memegang teguh satu ajaran yang dipelajari di pondok pesantren.

“Bahwa aku tidak akan duduk bertopang dagu walaupun gelombang musuh silih berganti datang,” tuturnya disambut pekikan takbir peserta lain.

K.H. Nonop menegaskan, mendukung penuh upaya penegakan hukum terhadap tersangka penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Kalau Pak Kapolri bisa menjebloskan Ahok ke penjara, kami di belakang Pak Kapolri,” tandasnya.

Reporter: Yahya G. Nasrullah/INA

Aksi 212: Dua Kali Doa, Dua Kali Hujan Turun

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Cuaca mendung dan cerah silih berganti menaungi para jamaah peserta Aksi Bela Islam III di silang Monas, Jakarta. Secara umum cuaca pada 2 Desember 2016 pagi terasa cukup sejuk. Pantauan Islamic News Agency, hujan rintik-rintik turun saat para ulama dan para peserta aksi turut menengadahkan do’a bagi sang pencipta.

Dua kali turunnya hujan itu pertama berlangsung ketika pimpinan Majelis Az-Zikra, KH. Arifin Ilham tampil ke muka panggung untuk memimpin zikir dan do’a. Di sela-sela do’a panjangnya untuk kaum muslimin Indonesia, hujan lalu turun.

Da’i yang dikenal dengan suara serak-serak basah itu pun mengharap agar hujan tersebut adalah bagian dari tanda doa-doa peserta aksi dikabulkan.

“Ya Allah rahmatMu kau turunkan untuk kami ya Allah. Hujani kami dengan rahmatMu ya Allah… Sebagai tanda harapan kami Kau ijabah, doa kami Kau ijabah, (Allahumma) shoyyiban nafi’an [Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat, red],” pintanya yang membuat lautan peserta aksi bergemuruh dan banjir air mata.

Kedua, hujan rintik-rintik kembali menyapa jamaah ketika Pimpinan Pesantren Daarut Tauhiid, Bandung, KH. Abdullah Gymnatsiar berdiri untuk memberikan ceramah di atas panggung utama.

Da’i yang akrab disapa Aa Gym ini membuka tausiyahnya dengan pesan agar kaum muslimin senantiasa menyucikan hati agar jauh dari sikap dan ucapan yang buruk. Selain itu, Aa Gym pun turut mengajak persatuan umat Islam Indonesia dari bahaya perpecahan, salah satunya adalah masalah khilafiyah.

Mengakhiri ceramahnya yang khas dengan pendekatan Manajemen Qalbu itu, Aa Gym turut memanjatkan doa bagi kaum muslimin dan bangsa Indonesia. Tak lama berselang, langit kembali mengucurkan hujan. Rintikan hujan itu tampak membuat para peserta syahdu.

Melihat “fenomena langit” ini, Ketua GNPF-MUI, Ustadz Bachtiar Nasir, menilai ini semua adalah karunia dari Sang Pencipta. Ia pun bertanya kepada lautan manusia di silang Monas apakah mereka semua turut merasakan jika cuaca kerap berubah: dari hujan, cerah, mendung, berangin, lalu kembali cerah. Secara umum suasana sejuk, kata Bachtiar.

“Ini semua berkah dari Allah,” ucapnya.

Hujan cukup deras akhirnya benar-benar tumpah ruah dari langit ketika jutaan massa umat Islam hendak melaksanakan shalat Jum’at. Meski demikian, para jamaah pantang meninggalkan lokasi dan tetap menggelar sholat jamaah bersama para ulama.

Dalam sholat Jum’at, Imam membacakan Qunut Nazilah untuk mendoakan kaum muslim Indonesia maupun mereka yang sedang tertindas di sejumlah negara seperti Palestina, Suriah, Libya, Afghanistan, Thailand, Rohingya, dan lain sebagainya.[]

Reporter: Pizaro/INA

Atas Intruksi Rois Syuriah, PWNU DKI Jakarta Ikut Aksi Bela Islam III

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta turut serta dalam Aksi Bela Islam III di silang Monas, Jakarta. PWNU DKI juga turut mendirikan stan besar yang di dalamnya terdiri atas tim medis dan logistik. Karena itu, para pengurus pun terlihat sibuk membagikan minuman dan makanan kepada para peserta. Sejumlah kader Nahdliyin juga tidak lupa membersihkan jalan dari sampah dan kotoran.

Menurut Wakil Ketua PWNNU DKI, K.H. Munahar Muchtar, keterlibatan PWNU DKI pada Aksi Bela Islam III lebih kepada aksi kemanusiaan, apalagi perintah ini datang langsung dari Rois Syuriah PWNU DKI.

“Kita meyakini bahwa sebagian besar yang hadir pada hari ini adalah warga Nahdliyin. Apa salahnya kita sebagai tuan rumah semaksimal mungkin menyiapakan semaksimal mungkin kemampuan kita. Maka kita siapkan logistik yang ada termasuk para medis dan tim kebersihan. Kami lakukan ini tentu atas instruksi Rois Syuriah K.H. Mahfudz Asirun,” ujar Wakil Ketua PWNU DKI, KH. Munahar Muchtar kepada Islamic News Agency, yang turut didampingi K.H. Mahfudz Asirun, usai do’a bersama dengan tuntutan penjarakan Ahok, Jum’at (2/12/2016).

KH. Munahar mengaku, keputusan PWNU DKI untuk terlibat dalam aksi ini dilakukan dua hari menjelang aksi. Meskipun ia mengetahui Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sudah mengeluarkan pernyataan untuk tidak membawa simbol dan logo NU.

“Kita tidak melihat walaupun PB (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, red) pada hakikatnya melarang kita pasang umbul-umbul dan lain sebagainya, karena hakikatnya ini aksi kemanusiaan kita. Ibaratnya, kalau kita kasih makan anjing aja masuk sorga, apalagi ini kita kasih makan manusia,” terangnya.

KH. Munahar menjelaskan bahwa NU, Muhammadiyah, dan Persis adalah saudara. Semua peserta aksi adalah saudara sesama muslim yang juga harus diperhatikan.

“Saya yakin ini punya keberkahan, mau Nahdliyin, Muhammadiyah, Persis, semuanya adalah saudara-saudara kita. Kita bersatu tujuan ktia cuma satu. Penjarakan ahok. Titik,” tegasnya.[]

Reporter: Pizaro/INA

KH. Didin Hafidudin: Diskriminasi Hukum adalah Penyebab Hancurnya Suatu Bangsa

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Cendekiawan muslim, KH Didin Hafiduddin menilai ketegasan dan keadilan dalam penegakan hukum adalah faktor datangnya kemakmuran dan kesejahteraan bagi suatu bangsa. Sebaliknya, kata dia, jika terjadi diskriminasi dalam menegakan hukum maka menyebabkan kerusakan dan kehancuran bagi bangsa dan negara.

“Diskriminasi dalam hukum adalah penyebab utama dari kehancuran suatu bangsa. Kehancuran umat bukan dari kemiskinan akan tetapi karena ketidakadilan dalam penegakan hukum,” tegasnya didepan jutaan umat Islam yang memadati Monumen Nasional (Monas), Jum’at (2/12/2016).

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menjelaskan hadits Rasulullah SAW tentang ketegasan dalam penegakan hukum. “Andaikan anaku sendiri melakukan kejahatan, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Kyai Didin juga mengajak umat Islam untuk mengawal proses hukum yang sedang berjalan atas kasus penistaan Al Qur’an yang dilakukan oleg Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama.

“Mari kita kawal kasus penistaan agama, kita kawal bersama-sama, agar terlihat keadilan, kejujuran, transparan, karena masalah ini akan menyebabkan kebaikan dan kemaslahatan bagi kita bersama,” ujarnya.

Reporter: Irfan Yusuf

 

Tuntut Ahok Dipenjara, Ribuan Umat Islam Bima Kembali Turun ke Jalan

BIMA (Jurnalislam.com) – Dukungan terhadap Aksi Bela Islam III di Jakarta juga dilakukan oleh umat Islam Bima, Jumat (2/12/2016). Ribuan umat Islam yang terdiri dari gabungan seluruh ormas Islam dan pondok pesantren itu melakukan aksi untuk menuntut Ahok segera di penjara.

Aksi yang diinisiasi oleh Forum Umat Islam (FUI) Bima ini berlangsung di depan Kantor Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Bima. Massa juga melakukan longmarch dari Lapangan Serasuba melewati Jalan Sultan Hasanuddin kemudian menuju Jalan Soekarno-Hatta.

Ketua Forum Umat Islam (FUI) Bima, Ustadz Asikin menegaskan tuntutan umat Islam tak berubah, yaitu mendesak pemerintah untuk segera memenjarakan Ahok.

“Walaupun aksi ini merupakan aksi super damai, tetapi tuntutan kami tetap tidak akan bergeser dari tuntutan semula yaitu pihak penegak hukum supaya segera menangkap dan memenjarakan Ahok,” tegasnya.

“Apa sih yang istimewa dari seorang Ahok sehingga bangsa ini harus mengalami keributan seperti ini, harus terpecah belah,” tambahnya.

Ia khawatir jika Ahok tidak segera dipenjara, akan ada gelombang aksi umat Islam yang terus meluas.

Sementara itu, Humas Kejaksaan Negeri Bima, Eko Prayitno, SH menyatakan pihaknya akan mendesak pemerintah pusat untuk segera menuntaskan kasus Ahok.

“Kami tetap akan melakukan upaya penegakan hukum tanpa pandang bulu kepada siapapun. Kami juga berharap supaya masyarakat serta umat islam mempercayakan proses hulum ini kepada pihak yang menanganinya,” katanya saat menerima perwakilan massa di Kantor Kejari Bima.

Reporter: Sirath

 

Jika Sudah Dipenjara, Sesepuh Ponpes Ngruki Berharap Ahok Diberi Hidayah

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengasuh pondok pesantren Al Mukmin Ngruki, KH. Wahyudien berharap Ahok mendapat hidayah jika tersangka kasus penistaan Al Qur’an itu berada di dalam penjara. Pernyataan itu disampaikan di hadapan ribuan umat Islam Solo Raya yang mengiktui Aksi Bela Islam di Bundaran Patung Gladak Jln. Slamet Riyadi, Jum’at (2/12/2016).

“Manusia itu bisa menjadi tokoh ketika masih dalam kehidupan jahiliyah dan akan tetap menjadi tokoh ketika sudah mendapatkan cahaya Hidayah Islam,” tuturnya.

Ia menceritakan kisah Umar Bin Khatab RA yang memeluk Islam padahal sebelumnya Umar adalah salah seorang tokoh Mekah yang membenci Islam.

“Umar Bin Khattab merupakan tokoh jahiliyah yang sangat memusuhi dakwah Rasullah dan bisa menjadi tokoh Islam yang sangat disegani dan khalifah ke-2 pada saat beliau telah mendapatkan cahaya Islam,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Ustadz Wahyudien, sapaannya, berharap hidayah Allah menghampiri Ahok saat dia didalam penjara nanti.

“Maka dari itu saya berdo’a semoga di dalam penjara kelak, Ahok si penista Al Qur’an ini semoga bisa merenungi kandungan Surat Al Haq yang ada di Al Qur’an sehingga bisa kembali kepada fitrohnya sebagai manusia,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, umat Islam di berbagai daerah menggelar aksi dukungan untuk Aksi Bela Islam III di Jakarta. Selain di Solo, umat Islam Tasikmalaya dan Bima menggelar aksi serupa.

Reporter: Riyanto