KH Ma’ruf Amin: Isu “Islam Anti Kebhinnekaan” itu Menyesatkan

Jurnalislam.com) – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin, menyoroti opini yang berkembang belakangan ini terkait tudingan seolah-olah umat Islam anti kebhinnekaan.

Hal itu dikatakan Kiai Ma’ruf pada pengajian bertema ‘Berislam dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika’ di Aula PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat malam (9/12/2016).

“(Tuduhan) ini menyesatkan, kita dikotak-kotakkan; seolah ada barisan bhinneka, ada yang tidak, ada yang NKRI, ada yang tidak,” ujarnya, lansir Islamic News Agency (INA).

Opini dimaksud terutama terkait Aksi Bela Islam yang menuntut penegakan hukum atas tersangka penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Dimana aksi-aksi damai itu dituding oleh segelintir pihak sebagai bentuk anti kebhinnekaan.

“Dan sepertinya kelompok Islam ini yang tertuduh. Aksi 212 dianggap tidak bhinneka, yang bhinneka 412,” tambahnya, menyinggung acara Parade Kita Indonesia di Bundaran HI, Jakarta, Ahad (04/12/2016).

Tak hanya terhadap umat Islam. Kiai Ma’ruf merasa, MUI juga tertuduh sebagai pihak yang dianggap tidak ber-bhinneka.

“Karena katanya asal mulanya (Aksi Bela Islam. Red) dari fatwa dan sikap MUI,” ucapnya tertawa.

Rois Aam PBNU ini mengungkapkan, opini yang berkembang tersebut berpotensi menimbulkan konflik.

Karenanya, ia mengimbau agar jangan ada pihak yang memberikan penafsiran yang tidak proporsional soal umat Islam dan kebhinnekaan.

“Suku Baduy dan Suku Tengger di Bromo misalnya, hidup di tengah umat Islam tidak terganggu, padahal sekitarnya Muslim. Umat Islam jelas sangat toleran,” tandasnya.*

Reporter: Yahya G Nasrullah/INA

PP Muhammadiyah: Umat Islam Paling Siap Hidup dalam Kebhinnekaan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua PP Muhammadiyah, Hajriyanto Y Thohari menegaskan, umat Islam adalah umat yang paling mempunyai kesiapan dalam hidup berkebhinnekaan.

Hal itu disampaikannya dalam Kajian Mingguan PP Muhammadiyah di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (9/12/2016) malam.

“Sebetulnya umat Islam itulah umat yang paling siap hidup dalam kebhinnekaan, kemajemukan, atau dalam multikulturalisme,” ungkapnya, lansir Islamic News Agency (INA).

Alasannya, menurut Hajriyanto, hanya al-Qur’an kitab suci yang berbicara tentang agama selain Islam.

“Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang berbicara tentang agama yang lain,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Hajriyanto menyampaikan bahwa al-Qur’an juga mengajarkan bagaimana bersikap terhadap agama yang lain.

Sebagai kitab suci terakhir, al-Qur’an sangat sempurna dalam mengatur hidup umat Islam, salah satunya hidup dalam kebhinnekaan, jelasnya.

“Karena dia (al-Qur’an) wahyu yang terakhir, ya dia menyempurnakan. Maka dia lengkap. Termasuk di dalamnya lengkap (diatur. Red) bagaimana hidup di tengah kebhinnekaan, baik dalam suku etnis ataupun budaya,” pungkasnya.

Oleh karenanya, ia mengatakan aneh jika ada umat Islam masih bingung hidup berkebhinnekaan.

“Aneh bin ajaib kalau umat Islam itu bingung dalam kebhinnekaan,” tegas Hajriyanto.*

Reporter: Ali Muhtadin/INA

AMM Datangi PN Jakut, Minta Sidang Ahok tidak Digelar Live

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Forum Anti Penistaan Agama (FAPA) dan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), Jumat (9/12/2016), mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara guna menyampaikan sikap dan pendapat hukum terkait persidangan kasus penistaan agama.

Yang dimaksud adalah persidangan kasus dengan tersangka Gubernur (non-aktif) DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Mewakili AMM, Pedri Kasman (Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah) mengatakan, dalam kunjungannya pihaknya diterima langsung oleh Kepala PN Jakut Dwiarso Budi Santiarto.

Pada kesempatan itu, Pedri menyatakan, pihaknya memberikan masukan supaya persidangan, utamanya pada agenda pemeriksaan atau keterangan saksi, tidak disiarkan secara langsung (live).

“(Dengan siaran langsung persidangan) akan terjadi adanya saling berhubungan dan/atau saling mengetahui keterangan atau kesaksian. Apalagi dapat berdampak saling mempengaruhi antar saksi,” ujarnya di PN Jakut, Jl Gajahmada, Jakarta, lansir Islamic News Agency (INA).

Ia menjelaskan, siaran langsung persidangan bertentangan dengan Pasal 159 ayat (1) KUHAP dan Pasal 160 ayat (1) huruf (a) KUHAP.

“Termasuk akan mempengaruhi psikologi saksi, yang pada akhirnya mengurangi kualitas kesaksian,” tambahnya.

Dinilai Pengaruhi Opini Publik

Selain itu, menurut Pedri, yang tak kalah berbahaya jika persidangan digelar live, akan mempengaruhi opini publik sebelum ada vonis dari majelis hakim.

“Beliau (Ketua PN Jakut) menyambut baik masukan ini dan akan mempertimbangkannya dengan sebaik-baiknya,” ungkap Pedri.

Ia mengungkapkan, para pelapor dan penasehat hukum bersama masyarakat, berkomitmen akan tetap mengawal proses hukum kasus Ahok, dari awal sampai ada keputusan yang berkekuatan hukum tetap.

“Karena itu, kami berharap proses peradilan kasus ini berjalan betul-betul sesuai dengan aturan yang berlaku, menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran dan persamaan di depan hukum. Sehingga, bisa memberikan rasa keadilan pada masyarakat luas,” pungkasnya.

Untuk diketahui, sidang perdana kasus penistaan agama dengan tersangka Ahok akan digelar pada Selasa (13/12/2016) mendatang.*

Reporter: Yahya G Nasrullah/INA

Suasana Berbeda di Pulau Tidung Jelang Pilkada DKI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Suasana perpolitikan di Pulau Tidung, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, berbeda dengan daerah-daerah lain di Ibukota RI itu.

Pantauan Islamic News Agency (INA) sepanjang Rabu (7/12/2016) pagi-sore, di pulau berpenduduk sekitar 5.000 jiwa ini tidak terlalu banyak atribut partai politik maupun kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017.

Sepanjang pengamatan, gambar-gambar pasangan calon (paslon) Gubernur-Wakil Gubernur DKI bisa dihitung jari yang terlihat terpampang di berbagai tempat.

Menariknya, hampir seharian, Rabu itu, tak terlihat sama sekali gambar pasangan Cagub-Cawagub DKI nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Yang banyak terlihat hanyalah gambar paslon nomor urut 1 Agus Harymurti Yudhoyono-Silvyana Murni dan paslon nomor urut 3 Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Sejumlah warga setempat mengakui minimnya atribut kampanye paslon Ahok-Djarot.

“Iya, memang enggak ada di sini (gambar Ahok),” ujar Bondan, salah seorang nelayan setempat ditemui seusai bekerja.

Sejumlah pengunjung Pulau Tidung yang ditemui kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islami Bersatu (JITU) itu pun merasakan hal serupa. Mereka mengaku tak melihat satu pun gambar paslon Ahok-Djarot.

“Iya ya enggak ada gambar Ahok,” ujar Suyuti, pengunjung asal Kalimantan.

Tak Suka Ahok

Sementara itu, banyak warga setempat yang ditemui INA mengaku tak suka dengan Ahok. Salah seorang remaja Pulau Tidung, Anggini, bukan nama sebenarnya, mengakui hal itu.

Apalagi setelah mencuatnya kasus penistaan agama dengan tersangka Ahok di Pulau Pramuka, tak begitu jauh dari Pulau Tidung, sekitar akhir September lalu.

“Ahok itu kurang ajar,” ujarnya ditemui di Dermaga Jembatan Cinta.

Tokoh masyarakat setempat, H Hamzah Ismail, mengatakan, ia termasuk tak suka dengan gaya dan sikap Gubernur (non-aktif) DKI Ahok, apalagi pasca meluasnya kasus penistaan agama.

Pada Rabu malam, baru terlihat satu gambar kampanye paslon Ahok-Djarot yang tampaknya baru dipasang oleh panitia pilkada setempat.

Gambar pada baliho besar itu dipasang di dekat Pelabuhan Utama Pulau Tidung. Baliho tersebut dipasang bersamaan dengan baliho berukuran serupa bergambar paslon Agus-Silvy dan Anies-Sandi.

Pulau Tidung merupakan salah satu objek wisata di DKI Jakarta. Kelurahan Pulau Tidung –terdiri dari Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil- berada di wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan.*

Reporter: Muhammad Abdus Syakur/INA

Menyalahi Kode Etik, Janes Simangungsong Tak Layak Menjadi Jurnalis

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Front Betawi Rempug (FBR) DKI Jakarta, Irfan RD mengecam keras kicauan jurnalis Metrotv, Janes C. Simangungsong beberapa waktu lalu. Ia menilai wartawan yang cukup senior itu tidak layak menjadi seorang jurnalis.

“Dia sudah menyalangi kode etik jurnalistik. Dia tidak berhak menjadi jurnalis,” ujarnya kepada Jurniscom di Polda Metro, Jaksel, Kamis (8/12/2016).

Menurut pria gondrong itu, sebagai seorang wartawan senior seharusnya Janes tidak mengatakan ujaran kebencian dan provokasi seperti itu. “Disitu ada ujaran ujaran kebencian dari Jason, dia adalah wartawan senior,” cetusnya.

Ia mengancam, jika Janes dan MetroTV tidak melakukan permohonan maaf, jutaan umat Islam akan bergerak.

“Jika tidak ada tindakan tegas, jangan salahkan kami jika kami meminta keadilan,” pungkasnya.

Ia juga menyinggung pemberitaan MetroTV dinilainya sudah menyalahi kode etik jurnalistik. “Pemberitaannya tidak seimbang,” tutupnya.

Reporter: M Fajar

FBR Laporkan Ujaran Kebencian dan Provokatif Jurnalis MetroTV

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Hari ini, Rabu (8/12/2016), Front Betawi Rempug (FBR) Jakarta resmi melaporkan jurnalis MetroTV Janes C. Simangungsong ke SPK Polda Metro Jaya atas tuduhan ujaran kebencian dan provokasi di media sosial.

“Kami meminta sebuah keadilan. Ini bentuk provokasi dan ujaran kebencian,” kata ketua FBR DKI, Irfan RD saat melaporkan kepada tim penyidik Reskrimsus Polda Metro Jaya.

Pantauan Islamic News Agency (INA) di ruang pengaduan, FBR ditemani seorang Advokat, Azam Khan dan membeberkan kesalahan terlapor.

Irfan menegaskan, pihaknya tengah berusaha untuk meredam amarah umat Islam dengan melaporkan kepada pihak yang berwajib.

“Tadinya, FBR bersama FPI mau mendatangi (kantor) Metro. Tapi ada jalur ini, kita tunggu dari media penyidik,” tegas pria berkacamata itu.

Menurutnya, kondisi umat Islam saat ini pada kondisi sensitif. Sedikit saja percikan bisa menjadi bola salju.

“Jangan sampai umat bergerak sendiri-sendiri,” tuturnya.

Namun demikian, tim reskrimsus belum dapat menerima laporan itu. Sebab ada beberapa hal yang harus dilengkapi.

“Tapi tetap, kita akan bekerja profesional serta akan membuatkan LB dan menyerahkan berkas ke Cybercrime jika berkas sudah dilengkapi,” kata salah seorang tim penyidik Reskrimsus Polda Metro Jaya, Musa.

Lebih lanjut FBR akan secepatnya melengkapi berkas dan memberikannya kepada Reskrimsus agar Janes cepat ditindak.

Reporter: M. Fajar

Screenshot kicauan Janes

 

Polda Jabar Benarkan Panitia KKR di Sabuga Belum Selesaikan Perizinan

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Yusri Yunus mengatakan, panitia KKR Natal tersebut tidak memiliki izin menggelar ibadah yang lengkap. Yusri menuturkan Kepala Polres Kota Besar Bandung Komisaris Besar Winarto kemudian memediasi panitia KKR dan ormas yang melakukan protes di depan Sabuga.

Setelah mediasi tersebut, kata Yusri, ibadah siang hari dapat diteruskan. Namun para pihak sepakat menunda agenda ibadah malam hari.

“Intinya ormas-ormas itu bukan menolak. Mereka hanya menanyakan perizinan saja,” ujar Yusri seperti dilaporkan CNNIndonesia.com, Selasa malam.

Menurut Yusri, penyelenggara ibadah itu diminta berkoordinasi dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Bandung untuk menyelesaikan perizinan. Lebih dari itu, Yusri mengklaim tidak terjadi kericuhan pada ibadah KKR tersebut.

“Tidak ada kericuhan, situasi tetap kondusif. Hanya ada kesalahpahaman,” ucapnya.

Sementara itu dalam pernyataan di hadapan jemaatnya Pendeta Stephen Tong menyampaikan bahwa semua pihak harus bisa menahan diri dan saling memahami.

“Kita tidak perlu marah atau dendam semua ini terjadi atas kehendak Tuhan,”ungkapnya.

Ia justru mengaku akan segera mempelajari keberatan Ummat Islam terkait adanya aturan yang belum dipenuhi oleh pihak panitia untuk kegiatan KKR tersebut.

“Setelah ini saya dan pihak panitia tentu akan segera mempelajari dan semoga kedepan tidak ada lagi kejadian seperti ini,”ujarnya.

Ia juga meminta kepada pihak panitia jika ingin mengadakan KKR lagi agar memperhatikan persyaratan dan memenuhi perijinan yang harus ditempuh.

“Kita rasa Ummat Islam sudah sangat toleran karena beberapa acara sebelumnya tidak ada masalah,”imbuhnya.

Untuk itu dirinya mempersilakan jemaatnya untuk segera pulang dan meninggalkan Sabuga dengan tertib.

KKR Natal di Sabuga tersebut diinisiasi Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI). Merujuk situs Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Bandung, KKR itu terbagi atas dua ibadat, yakni pukul 13.00 WIB dan 18.30 WIB. Untuk ibadat pertama pukul.13.00 yang diperuntukkan bagi siswa tersebut berjalan sesuai jadwal. Namun sesuai kesepakatan untuk ibadat yang kedua yang dimulai pukul 18.30 ditiadakan. [ ]

Sumber: percikaniman.id

Tidak Ada Pembubaran, Ini Penjelasan PAS Terkait KKR Natal di Sabuga

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pembela Ahlu Sunnah (PAS) Muhammad Roinul Balad membantah jika kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Sabuga, Selasa malam (6/12/2016) berakhir dengan adanya pembubaran dari elemen Ormas Islam yang dipimpinnya. Menurut Roin kegiatan tersebut berakhir dengan sangat kondusif dan tidak ada upaya paksa untuk bubar.

“Acara tersebut berakhir sesuai kesepakatan antara pihak panitia KKR Natal dengan elemen Ormas Islam yang tergabung dalam PAS serta disaksikan beberapa pihak seperti Kesbangpol Kota Bandung dan juga Kapolrestabes Bandung bahwa kegiatan berakhir hingga pukul 3 sore karena pihak panitia belum mengantongi beberapa perijinan,” jelasnya dilansir percikaniman.id, Rabu (7/12/2016).

Ia menambahkan bahwa meski sempat terjadi negosiasi dan dialog yang cukup alot namun akhirnya semua sepakat bahwa untuk kegiatan KKR umum yang sedianya dimulai pukul 18.30 ditiadakan. Ia menyayangkan jika ada pihak yang memelintir fakta di lapangan yang sebenarnya yakni tidak ada pembubaran KKR.

“Dalam pertemuan yang juga dihadiri Pendeta Stephen Tong di Sabuga juga menerima kesepakatan tersebut. Sekali lagi tidak ada paksaan untuk mengakhiri acara pihak panitia termasuk pendeta mengakui ada aturan yang belum dipahami dan prosedurnya belum ditempuh sehingga mereka akan mempelajarinya setelah ini,” imbuhnya.

Intinya, sambung Roin, pihak PAS hanya minta kegiatan KKR Natal dipindah ke gereja karena soal kegiatan ibadat untuk tempatnya sudah ada aturannya. Pihaknya juga tidak akan mempersoalkan sekiranya kegiatan KKR Natal sebagai rangkaian ibadat kaum Nasrani tersebut berlangsung di gereja.

“Kan selama ini tidak ada masalah kegiatan mereka di rumahnya (gereja) sendiri. Belum pernah ada sejarah ummat Islam memprotes kegiatan natalan di gereja. Sekali lagi ini bukan sikap intoleransi namun hanya ingin membantu pemerintah dalam menaati peraturan dan mengajak kaum Nasrani untuk sama-sama taat hukum atau aturan. Kan yang namanya ibadat harus dilakukan di rumah ibadat dan rumah ibadat itu sudah ada yakni gereja. Mereka kan punya gereja kenapa tidak dipakai?”urainya.

Sementara terkait adanya alasan pihak panitia bahwa gerejanya tidak mampu menampung jumlah jemaatnya, Roin menyarankan agar kegiatan KKR Natal disesuaikan dengan kapasitas atau daya tampung. Menurutnya kegiatan tersebut bisa dibuat secara bergantian selama beberapa hari sehingga semua jemaatnya bisa hadir dan ikut.

“Sekali lagi saya tegaskan tidak benar ormas Islam menolak atau membubarkan kegiatan KKR Natal, yang kita minta tempuh prosedur yang semestinya atau kegiatan tersebut di pindah ke gereja. Itu saja. Lagian permintaan itu sudah kita sampaikan jauh-jauh hari untuk memberi kesempatan mereka mencari tempat. Jadi bukan pas hari H. Kita sudah audiensi dengan pihak-pihak terkait seperti Kesbangpol, Polrestabes, Kemenag, DPRD, Polda, Pihak Pengelola Gedung termasuk panitia KKR Natal,”tegasnya.

Untuk itu dirinya meminta semua pihak memahami substansi permasalahan yang sebenarnya bukan sekedar menyalah pihaknya yang dianggap intoleran. Roin pun sepakat bahwa semua pihak termasuk semua umat beragama harus berusaha dan berkomitmen bersama untuk menjaga suasana kondusif dengan saling menghormati dan toleransi dengan mentaati hukum atau aturan yang ada.

Menurutnya dalam pertemua dan dialog dengan Pendeta Stephen Tong juga terungkat bahwa dirinya baru tahu jika ada aturan yang demikian. Pihak panitia juga mengakui ada beberapa syarat administratif yang belum dipenuhi kemudian juga sepakat acara KKR untuk dihentikan.

“Suasana kondusif dan toleransi itu dibangun bersama-sama bukan hanya satu pihaknya saja. Saya rasa tidak benar juga jika toleransi dibangun dengan menabrak aturan atau melanggar hukum,”pungkasnya.

Sumber: percikaniman.id

Aku, Diantara Presiden dan Rakyatnya yang Bingung

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Siang itu, langit terlihat lebih gelap. Kilauan matahari perlahan menghilang tertutup kumpulan awan hendak bertugas. Benar, saat itu mereka sudah tak kuasa untuk menahan beratnya air yang diemban.

Tak terasa, derasnya hujan membasahi daerah Tugu Monumen Nasional pada Jumat (2/12/2012). Tidak seperti biasanya, kawasan Monas itu terlihat sesak lagi bersinar bak permata seorang putri raja.

baliho, spanduk, dan beberapa balon besar yang menjulang ke atas baru menandakan; ini adalah Aksi Bela Islam III untuk berdoa dan berdzikir kepada Illahi rabbi, Tuhan sang pencipta alam.

Sanubari ini bertanya, mengapa lautan manusia dari berbagai daerah itu datang ke Ibukota? Apa hanya untuk ini? Sekali lagi saya mendapat jawaban dari serak-serak dari mereka; “Penjarakan Penista Agama, Penjarakan Ahok.”

Detik demi detik berlalu dengan gemercik hujan yang menemani, terdengar langkah kaki dari sekelompok manusia dari arah Gedung Putih, tidak jauh dari tempat aksi. Saya pun penasaran dan mencoba untuk menghampiri, walau wajah tidak bisa menghindar dari air yang terus turun. Namun kaki memaksa untuk tetap melangkah.

Di dekat pintu gerbang Monas Barat Laut tampak jelas siapa mereka itu? Ya, itu adalah rombongan Istana Merdeka yang dihuni orang penting dalam negeri majemuk ini, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo beserta belasan rombongan bergerak menuju lokasi Aksi Super Damai itu.

Berbicara Jumat dan siang hari, di antara itu ada ibadah sakral umat Islam, sholat Jumat berjamaah. Pimpinan RI beserta rombongan datang hendak menunaikan ibadah itu. Kawalan ketat dari puluhan pasukan keamanan siap mendobrak siapa saja yang menghalangi langkah RI 1.

Baju putih lengan panjang dengan kopiah hitam, khas bangsa Indonesia dipakainya untuk menjalankah ibadah sakral. Belasan kamera canggih merekam pimpinan negara. Walau derasnya hujan menghujam alat modern itu.

Sampailah mereka di sebuah tempat nyaman. Nyaman karena tidak terkena derasnya hujan yang terus menerus turun memberkahi negeri. Tidak seperti nasib jutaan kepala lainnya; kehujanan dan kebasahan.

Sekitar pukul 12:00, waktu berkumandang adzan sholat Jumat tiba. Khotib, sang orator ulung naik ke atas mimbar bersiap memberi pencerahan kepada umat. Saat itu, Habib Rizieq Shihab didaulat sebagai penceramah. Dengan suara khasnya, serak-serak basah ia menyemangati massa aksi dengan gigih dan lantang.

“Tidak ada hukum yang lebih baik dari hukum Allah. Ayat suci lebih tinggi dari ayat konstitusi,” papar pembina inisiator aksi, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI.

Riuh Takbir tak kuasa menyeruak ke udara. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Saat berdoa, Habib Rizieq memimpin doa agar negeri yang sedang mengalami dinamika berangsur membaik lagi bersatu, jauh dari kata berpecah.

Tiba saatnya sang khotib untuk turun dari mimbarnya. Ibadah dilanjutkan dengan sholat Jumat berjamaah. Imam dengan syahdu melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Hati ini takjub ditambah detak jantung yang semakin kencang. Tidak bisa dilukiskan, lautan manusia berbaju putih, rapih mengikuti sang Imam. Sebab mereka bertahan di tengah hujan yang mengguyur setiap bagian dari tubuhnya. Gila! Mengapa mereka sampai rela bertahan seperti itu?

Usai melaksanakan ibadah dengan durasi yang tidak seperti biasanya, sang Imam mengucapkan salam tanda berakhirnya sholat. Gemuruh zikir dan doa mengalahkan dentuman suara hujan.

Tiba saatnya ia muncul menyapa rakyatnya yang sejak empat November lalu ditunggu kedatangannya. Ia keluar dari tempatnya untuk naik ke panggung utama. Kali ini pengawalan diperketat, khawatir pria nomor satu itu mengalami kejadian yang tidak diinginkan.

Tak tanggung, sebuah panser dikerahkan untuk mengawal presiden RI ke-7 itu. Desakkan massa untuk mendekat dihalang oleh tembok kokoh Pasukan Pengamanan Presiden. Dengan dibantu beberapa manusia, ia menaiki panggung utama, melompat tanpa menginjak tangga yang memang tidak tersedia.

Tak ragu, ia menyapa lautan kepala di area Monas.

“Terimakasih karena sudah mendoakan Indonesia, Allahu Akbar,” tutur Jokowi diikuti dengan gema Takbir dari barisan depan jamaah.

Tidak sampai lima menit ia berbicara, presiden turun dari panggung utama. Ada yang kurang, ada yang mengganjal melihat raut wajah senang peserta aksi berubah seketika menjadi sesuatu yang lain.

Teriakan lantang dari massa aksi menyasar di telinga ini; “Pak Jokowi Bagaimana Ahok? Tangkap Ahok, Penjarakan Ahok!” Namun, teriakan keras massa bak tiupan angin di negeri sebrang, sangat indah, sejuk tapi berlalu begitu saja. Pria berpayung biru itu tetap melangkah pasti menuju kediaman tercinta, ‘Istana Merdeka’.[]

Reporter: M. Fajar/INA

Silaturahim Pasca 212, UBN: Allah Membuat Iri dan Menyesal Mereka yang Tidak Ikut Aksi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa-MUI (GNPF-MUI) mengadakan silaturrahim pasca Aksi Bela Islam III dalam tema “Tadabbur Surat Al-Maidah” di Masjid Raya Pondok Indah.

Acara dihadiri oleh Ketua GNPF-MUI Ustadz Bachtiar Nasir dengan diawali pemutaran video pada saat Aksi Bela Islam III 2 Desember 2016 lalu.

Shalawat dan Takbir selimuti ribuan orang yang hadir di dalam masjid. Tangis pilu dari para hadirin pun menetes ketika Ustadz Bachtiar membacakan shalawat atas Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam.

“_Yaa Nabi salaam alaika, ya Rasul salam alaika, ya Rasul salaam alaika, ya Habib salaam alaika, sholawatullah alaika, Asyroqol badru alaina, fakhtafat minhul buduuru, mitsla husnik maa ro-ainaa_,” saut para hadirin.

Ustadz Bachtiar Nasir yang biasa disapa UBN menyebutkan di dalam Aksi Bela Islam III ada energi persatuan yang besar.

“Allah membuat iri dan menyesal orang-orang yang tidak ikut aksi damai, 212 kemarin adalah energi persaudaraan,”kata ustadz yang biasa disapa UBN di Masjid Raya.

UBN yang menggunakan kemeja putih berpeci hitam dalam pemaparannya menyampaikan bahwa pentingnya persatuan umat Islam yang hakiki.

“Allah satukan umat Islam, Allah berikan kekuatan untuk menyatukan hati-hati umat Islam membela agama Allah,” ucap UBN dengan menunjukkan jari di dadanya.

Pantauan INA ribuan orang hadir dari kalangan anak-anak muda, ibu-ibu dan bapak-bapak hadir dengan semangat untuk silaturrahmi bersama GNPF-MUI.[]

Reporter: Zulfickar/INA