JAKARTA (Jurnalislam.com) – Siang itu, langit terlihat lebih gelap. Kilauan matahari perlahan menghilang tertutup kumpulan awan hendak bertugas. Benar, saat itu mereka sudah tak kuasa untuk menahan beratnya air yang diemban.
Tak terasa, derasnya hujan membasahi daerah Tugu Monumen Nasional pada Jumat (2/12/2012). Tidak seperti biasanya, kawasan Monas itu terlihat sesak lagi bersinar bak permata seorang putri raja.
baliho, spanduk, dan beberapa balon besar yang menjulang ke atas baru menandakan; ini adalah Aksi Bela Islam III untuk berdoa dan berdzikir kepada Illahi rabbi, Tuhan sang pencipta alam.
Sanubari ini bertanya, mengapa lautan manusia dari berbagai daerah itu datang ke Ibukota? Apa hanya untuk ini? Sekali lagi saya mendapat jawaban dari serak-serak dari mereka; “Penjarakan Penista Agama, Penjarakan Ahok.”
Detik demi detik berlalu dengan gemercik hujan yang menemani, terdengar langkah kaki dari sekelompok manusia dari arah Gedung Putih, tidak jauh dari tempat aksi. Saya pun penasaran dan mencoba untuk menghampiri, walau wajah tidak bisa menghindar dari air yang terus turun. Namun kaki memaksa untuk tetap melangkah.
Di dekat pintu gerbang Monas Barat Laut tampak jelas siapa mereka itu? Ya, itu adalah rombongan Istana Merdeka yang dihuni orang penting dalam negeri majemuk ini, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo beserta belasan rombongan bergerak menuju lokasi Aksi Super Damai itu.
Berbicara Jumat dan siang hari, di antara itu ada ibadah sakral umat Islam, sholat Jumat berjamaah. Pimpinan RI beserta rombongan datang hendak menunaikan ibadah itu. Kawalan ketat dari puluhan pasukan keamanan siap mendobrak siapa saja yang menghalangi langkah RI 1.
Baju putih lengan panjang dengan kopiah hitam, khas bangsa Indonesia dipakainya untuk menjalankah ibadah sakral. Belasan kamera canggih merekam pimpinan negara. Walau derasnya hujan menghujam alat modern itu.
Sampailah mereka di sebuah tempat nyaman. Nyaman karena tidak terkena derasnya hujan yang terus menerus turun memberkahi negeri. Tidak seperti nasib jutaan kepala lainnya; kehujanan dan kebasahan.
Sekitar pukul 12:00, waktu berkumandang adzan sholat Jumat tiba. Khotib, sang orator ulung naik ke atas mimbar bersiap memberi pencerahan kepada umat. Saat itu, Habib Rizieq Shihab didaulat sebagai penceramah. Dengan suara khasnya, serak-serak basah ia menyemangati massa aksi dengan gigih dan lantang.
“Tidak ada hukum yang lebih baik dari hukum Allah. Ayat suci lebih tinggi dari ayat konstitusi,” papar pembina inisiator aksi, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI.
Riuh Takbir tak kuasa menyeruak ke udara. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Saat berdoa, Habib Rizieq memimpin doa agar negeri yang sedang mengalami dinamika berangsur membaik lagi bersatu, jauh dari kata berpecah.
Tiba saatnya sang khotib untuk turun dari mimbarnya. Ibadah dilanjutkan dengan sholat Jumat berjamaah. Imam dengan syahdu melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Hati ini takjub ditambah detak jantung yang semakin kencang. Tidak bisa dilukiskan, lautan manusia berbaju putih, rapih mengikuti sang Imam. Sebab mereka bertahan di tengah hujan yang mengguyur setiap bagian dari tubuhnya. Gila! Mengapa mereka sampai rela bertahan seperti itu?
Usai melaksanakan ibadah dengan durasi yang tidak seperti biasanya, sang Imam mengucapkan salam tanda berakhirnya sholat. Gemuruh zikir dan doa mengalahkan dentuman suara hujan.
Tiba saatnya ia muncul menyapa rakyatnya yang sejak empat November lalu ditunggu kedatangannya. Ia keluar dari tempatnya untuk naik ke panggung utama. Kali ini pengawalan diperketat, khawatir pria nomor satu itu mengalami kejadian yang tidak diinginkan.
Tak tanggung, sebuah panser dikerahkan untuk mengawal presiden RI ke-7 itu. Desakkan massa untuk mendekat dihalang oleh tembok kokoh Pasukan Pengamanan Presiden. Dengan dibantu beberapa manusia, ia menaiki panggung utama, melompat tanpa menginjak tangga yang memang tidak tersedia.
Tak ragu, ia menyapa lautan kepala di area Monas.
“Terimakasih karena sudah mendoakan Indonesia, Allahu Akbar,” tutur Jokowi diikuti dengan gema Takbir dari barisan depan jamaah.
Tidak sampai lima menit ia berbicara, presiden turun dari panggung utama. Ada yang kurang, ada yang mengganjal melihat raut wajah senang peserta aksi berubah seketika menjadi sesuatu yang lain.
Teriakan lantang dari massa aksi menyasar di telinga ini; “Pak Jokowi Bagaimana Ahok? Tangkap Ahok, Penjarakan Ahok!” Namun, teriakan keras massa bak tiupan angin di negeri sebrang, sangat indah, sejuk tapi berlalu begitu saja. Pria berpayung biru itu tetap melangkah pasti menuju kediaman tercinta, ‘Istana Merdeka’.[]
Reporter: M. Fajar/INA