Reuni Alumni 212 di Solo Dihadiri Para ‘Mujahid Ciamis’

SOLO (Jurnalislam.com) – Dewan Syariah Kota Surakarta(DSKS) mengelar Tabligh Akbar bertajuk ‘Menjaga Spirit 212 , Menyatukan Langkah Membela Islam dan Ulama’ di Masjid Ibadurrahman, Komplek Gorro Assalaam, Kartosura, Ahad (12/3/2017). Acara itu sekaligus menjadi ajang reuni para alumni aksi Bela Islam III pada 2 Desember 2016 atau yang dikenal Aksi 212 di Jakarta se-Soloraya.

Hadir dalam acara itu sejumlah ulama Soloraya seperti Ustadz Muinudinillah Basri, MA (ketua DSKS), ustadz Tengku Adzar (Sekjen DSKS), Ustadz Izzul Mujahid, dll. Hadir juga sebagai undangan, Ustadz Sayful bersama beberapa orang santrinya yang menjadi pelaku sejarah aksi jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta.

Momen itu menjadi momen yang paling dituggu oleh ribuan alumni 212 yang hadir di masjid Ibadurrahman. Panitia memutar video aksi heroik para santri Ciamis yang berjalan kaki lebih kurang 200 km menuju Jakarta. Tak sedikit hadirin yang larut dalam tangis melihat keteguhan para santri itu. Ditambah lagi sambutan luar biasa kaum muslimin yang mereka terima di sepanjang jalan membuat hati terenyuh.

“Engkau berjuang dan menginspirasi kami, satukan kami ya Rabb dalam perjuangan dienmu. Ya Allah jadikan kami mujahid-mujahid seperti mereka. Laa Qaullawala Quwata ila billah. Panas, hujan, kantuk, lapar jadi satu. Saya menangis melihat ini,” kata Ustadz Wasono Nurhadi, pimpinan Pondok Pesantren Santri Makaryo, Sukoharjo.

“Kita lanjutkan semangat mujahid mujahid ciamis ini untuk sampai di kota solo,” ujarnya.

Di akhir acara, jamaah berkesempatan berta’annuk (bersalaman sambil memeluk) dengan para mujahid Ciamis.

Reporter: Ridho Asfari

Hadirilah! Tabligh Akbar ‘Menjaga Spirit 212, Menyatukan Langkah Membela Islam & Ulama’ di Semarang

Pentingnya Menjaga Semangat Perjuangan Umat Islam Khususnya di Semarang, Forum Umat Islam Semarang (FUIS) Bekerja sama dengan Takmir Masjid Mujahidin Semarang mengadangan Tabligh Akbar dengan Tema :

“MENJAGA SPIRIT 212 – MENYATUKAN LANGKAH MEMBELA ISLAM & ULAMA”

Yang akan dilaksanakan besok pada:

Hari/Tgl:
Ahad,19 Maret 2017

Jam :
08.00 – 12.00 WIB

Tempat:
Masjid Mujahidin
Jln Patriot Raya – Semarang Utara

PEMBICARA:

Ust DR. Alfian Tanjung- Jakarta
( Pengamat Gerakan PKI)

Ust DR. Mu’inudinillah Basri, MA.- Solo
( Ketua Dewan Syari’ah Kota Surakarta- DSKS )

MODERATOR:

Ust Abdul Karim – Semarang

(Dai Madina)

CP: Danang FUIS 089-685-235-058

Present By : – Forum Umat Islam Semarang (FUIS)

– Ta’mir Masjid Mujahidin

 

HRS Serukan Revolusi Akhlak Sebelum Revolusi yang Sebenarnya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) menyeru umat Islam untuk melakuka revolusi. Namun, bukan revolusi penggulingan terhadap kekuasaan akan tetapi lebih kepada revolusi akhlak umat Islam untuk menjadi umat yang berakhlakul karimah.

“Revolusi, perubahan drastis perlu dilakukan, terutama revolusi diri sendiri. Yang tadinya tidak bagus menjadi bagus, yang tadinya bagus menjadi lebih bagus,” seru Habib di Masjid At Tin, TMII, Jakarta, Sabtu (11/3/2017).

Revolusi akhlak, kata dia, merupakan hal pertama yang harus dilakukan untuk meraih revolusi Islam yang sesungguhnya.

“Kalau kita ingin melakukan revolusi Islam, tidak bisa, sebelum melakukan revolusi terhadap diri sendiri untuk menuju revolusi yang sebenarnya,” ujar dia.

Seruan perubahan akhlak juga disinggung dai kondang KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Aa Gym mengatakan, saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami krisis akhlak. Untuk itu, umat harus menempuh revolusi akhlak dalam pribadinya masing-masing.

Soal revolusi, HRS mengingatkan pemerintah untuk tidak melakukan tiga hal yang dapat menyulut api revolusi. “Pertama, jangan sekali-kali menyerang Islam. Kedua, jangan sekali-kali memberi celah untuk kebangkitan PKI, dan ketiga jangan menjual NKRI kepada asing dan aseng,” tegasnya.

“Kalau ini dijaga dengan baik, kami siap menjaga NKRI dengan baik, kita siap menjalankan konstitusi dengan baik,” ujarnya.

Seperti diketahui, Habib Rizieq, Aa Gym dan ulama serta tokoh bangsa lainnya menghadiri acara Dzikir dan Shalawat Nasional di Masjid At Tin, Jakarta, Sabtu (11/3/2017) malam.

Reporter: M Fajar

 

HRS Ajak Jamaah Dzikir Akbar Hargai Jasa Pak Harto Berantas PKI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab mengatakan, Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang diberikan Soekarno kepada Soeharto pada 1966 memiliki andil besar dalam sejarah Indonesia. Surat yang berisi perintah untuk memberantas Partai Komunis Indonesia (PKI) dinilai patut dihargai.

“Dengan segala kekurangan dan kelebihannya mereka sudah berjasa untuk Indonesia, kita harus hargai itu,” kata Habib Rizieq di Masjid At Tin, TMII, Jakarta, Sabtu (11/3/2017).

“Pak Harto mengambil langkah tegas dengan memberantas PKI sampai akar-akarnya di rentang tahun 1965-1966,” ujarnya.

Habib Rizieq juga mengingatkan jamaah untuk menghargai jasa-jasa para pendahulu. “Kita kumpul di sini untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah sekaligus menyatakan terima kasih kepada beberapa pendahulu kita,” tuturnya.

“Kita disini untuk bersyukur sekaligus mengucapkan terima kasih atas jasa Pak Harto dan para pejuang yang sudah membasmi PKI,” ujar pembina GNPF MUI ini.

Reporter: M Fajar

 

Tausyiah Aa Gym di Masjid At Tin: ‘Indonesia Sedang Dilanda Krisis Akhlak’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengasuh ponpes Daarut Tauhid Bandung, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) mengatakan, bangsa Indonesia sedang mengalami krisis akhlak.

“Menurut saya, saat ini Indonesia sedang krisis akhlak, bukan yang lain,” kata Aa Gym dalam tausyiahnya di Masjid At Tin, TMII, Jakarta, Sabtu (11/3/2017).

Menurutnya, untuk menyelesaikan berbagai krisis yang menimpa Indonesia, bangsa ini harus berusaha untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dengan itu, kata dia, akan terselesaikan problematika lainnya.

“Siapa yang ibadahnya paling bagus lihat akhlaknya, siapa yang paling teguh dalam beribadah, lihat pula akhlaknya,” ujarnya.

Ia memberikan beberapa indikator seseorang dapat dikategorikan berakhlak mulia. “Pertama, saya aman bagimu, sekuat tenaga tidak merugikan orang lain. Kedua, saya menyenangkan bagimu. Amalannya 5 S, senyum salam sapa sopan santun,” papar dia.

“Terakhir, saya bermanfaat bagimu. Kesuksesan seseorang terlihat dari manfaatnya kepada orang lain,” tambahnya.

Aa Gym juga mengajak jamaah untuk senantiasa menjaga akhlak dalam acara yang diprakarasai oleh keluarga Soeharto ini salah satunya ada menjaga kebersihan.

“Mulai dari sampah, kita harus menjaga kebersihan Masjid ini dari sampah. Buktikan akhlak kita dengan tidak menodai Masjid yang mulia ini dari sampah yang kita,” tuturnya.

Selain Aa Gym, acara Dzikir dan Shalawat untuk bangsa di Masjid At Tin itu juga dihadiri sejumlah tokoh, ulama serta pejabat diantaranya, keluarga besar Cendana, Habib Rizieq, Fadli Zon, dll.

Reporter: M Fajar

Ratusan Ribu Umat Islam Ikuti Dzikir Akbar di Masjid At Tin

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Lautan manusia memenuhi Masjid At Tin, Jakarta mengikuti Dzikir dan Shalawat untuk Negeri di Masjid At Tin, Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (11/3/2017).

Hadir dalam acara bertajuk ‘Memperingati 51 tahun Supersemar’ itu sederet nama tokoh bangsa, para ulama dan habaib. Hadir juga keluarga besar mantan presiden RI kedua, Soeharto.

Acara dimulai sejak Maghrib, diawali dengan sholawat dan dzikir untuk keberkahan NKRI yang dipimpin langsung oleh Habib Syech Assegaf. Lantunan sholawat diirigi takbir menggema di masjid megah di kawasan TMII itu.

Imam Besar Front Pembela Islam, Habib Rizieq Shihab menjadi pemateri utama dalam acara tersebut. Sekitar 50 menit Habib Rizieq menyampaikan tausyiahnya. Dalam paparannya, ia mengapresiasi Supersemar yang diberikan Soekarno kepada Suharto untuk memberantas PKI.

Selain berwasiat kepada umat untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, Habib Rizieq juga mengimbau umat Islam untuk memilih pemimpin muslim sesuai dengan perintah Allah dalam Al Qur’an demi meraih keberkahan.

“Mau NKRI’ berkah? Siap bertaqwa? Yuk mari kerjakan apa saja yang Allah perintahkan dan larang,” tuturnya.

Selain Habib Rizieq, hadir juga Hidayat Nur Wahid, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Fadli Zon, Habib Syech, Tomi Soeharto, Prabowo, Limbad, Zaitun Rasmin dan Aa Gym memenuhi panggung utama.

Reporter: M Fajar

Setahun Kasus Siyono, Abu Fatiah Al Adnani Apresiasi Upaya Muhammadiyah Mengungkap Kedzaliman

SERANG (Jurnalislam.com) – Penulis buku-buku akhir zaman, Ustadz Abu Fatiah Al Adnani mengapresiasi langkah PP Muhammadiyah mengambil alih kasus Siyono. Menurutnya, saat ini harus ada yang berani tampil mengungkap kedzaliman untuk membuka sisi lain Densus 88.

“Saya mengapresiasi apa yang ditempuh Muhammadiyah untuk membela Siyono. Mereka ingin membuktikan sedikit saja kepada masyarakat tentang fenomena kedzaliman ini yang telanjang dipertontonkan,” ungkapnya kepada Jurniscom di Serang, Sabtu (11/3/2017).

Abu Fatiah mengatakan, kondisi saat ini memang mendesak umat untuk melakukan perlawanan untuk setidaknya memunculkan keberpihakan.

“Memang diperlukan sedikit atau banyak upaya untuk perlawanan. Kita berkaca dari semut Ibrahim, tidak peduli setetes atau dua tetes upaya yang dilakukan oleh semut untuk membantu nabi Ibrahim. Yang dilihat adalah keberpihakan,” ujarnya.

Dan langkah yang diambil Muhammadiyah, kata dia, menunjukan keberpihakan sekaligus menjadi pencegah pembodohan umat dalam Siyono.

“Keberpihakan hati harus. Langkah yang ditempuh Muhammadiyah sangat berani. Sebab jika tidak ada yang berani tampil, tidak ada yang mendorong umat untuk membantu. Jika tidak ada yang mengungkap, umat tidak akan tahu apa yang terjadi sebenarnya,” imbuhnya.

“Cerita berharap kepada pemerintah banyak yang berkata mimpi di siang bolong. Seperti jauhnya panggang daripada api. Maka, bersiaplah selalu berharap kepada Allah,” pungkasnya.

Reporter: M. Fajar

Makan Gratis Setiap Jumat di Waroeng Dhuafa Pemuda Muhammadiyah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah meresmikan Waroeng Makan Gratis untuk Dhuafa di halaman Gedung PP Muhammadiyah pada Jumat (10/3/2017). Warung makan tersebut akan dibuka untuk umum setiap Jumat di halaman Gedung PP Muhammadiyah.

“Warung ini didedikasikan untuk dhuafa, jadi siapapun yang merasa dhuafa, silahkan makan di sini,” kata Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak saat membuka program Waroeng Makan Gratis untuk Dhuafa, Jumat (10/3/2017).

Ia menyampaikan, rencananya Waroeng Makan Gratis untuk Dhuafa akan dibuka di beberapa provinsi di Indonesia. Waroeng ini mempersilakan siapa saja dengan latar belakang agama apa saja untuk makan gratis.

Menurutnya, salah satu instrumen dakwah adalah membantu orang miskin tanpa terkecuali. Hal itu seperti jalan dakwah yang ditempuh Muhammadiyah sebagaimana filosofi Surat Al-Maun.

“Program Waroeng Dhuafa yang diluncurkan Muhammadiyah adalah toleransi umat beragama yang otentik,” ujarnya.

Program Waroeng Dhuafa yang digagas Pemuda Muhammadiyah akan menyediakan 200 porsi makanan setiap pekannya. Pemuda Muhammadiyah akan mencoba dulu dengan 200 porsi, jika masih kurang porsinya, maka akan menambah porsinya lagi.

Sumber: Republika

Keluarga Terdakwa Kasus Social Kitchen Solo Datangi Kejari Surakarta

SOLO (Jurnalislam.com) – Keluarga dari 12 terdakwa kasus perusakan kafe Social Kitchen Solo mendatangi Kejaksaan Negeri (kejari) Surakarta, Jumat (10/3/2017). Keluarga mendesak Kejari untuk segera memindahkan 12 tersangka dari Rutan Direktorat Perawatan Tahanan dan Barang Bukti (Dit Tahti) Polda Jawa Tengah ke Rutan Kelas I Surakarta.

Permintaan keluarga itu berdasarkan Surat Penetapan Pengadilan Negeri Surakarta Nomor:07/pen.pid/2017/PN.Skt yang mengabulkan perpanjangan masa penahanan selama 30 hari di Rutan Solo terhitung sejak 5 Maret – 3 April 2017. Namun hingga saat ini 12 tersangka yang merupakan aktivis Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) itu masih ditahan di Polda Jateng, Semarang.

“Kami mengantar keluarga yang intinya untuk menanyakan tentang surat penetapan dari pengadilan negeri nomor 07/pen.pid/2017/PN.skt,” kata Kuasa Hukum LUIS, Muhammad Kurniawan di Kejari Surakarta, Jumat (10/3/2017).

Menanggapi itu, Kepala Kejari Surakarta, Sumarjo, SH mengaku pihaknya tidak mempunyai kewenangan perihal Surat Ketetapan tersebut. Menurut Sumarjo, kasus tersebut ditangani oleh Polda Jateng dan dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah.

“Sudah ada perpanjangan kepada terdakwa, pasti tidak ada yang terlambat dari pengadilan. Masalah pindah atau tidak tergantung pimpinan kami, karena yang menangani Polda dilimpahkan ke Kejati, jadi kami tidak berwenang untuk menjawab. Kami bisa mengusulkan kepimpinan agar terdakwa dipindah ke Rutan Surakarta,” ujarnya.

Kejari Surakarta akan berkoordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum di Kejaksaan Tinggi Semarang dan berjanji akan memberikan penjelasan kepada keluarga terdakwa pada hari Senin (13/3/2017).

“Nanti kita akan kordinasi Dengan Jaksa Penuntut umum dari Sana dan karena saya hanya sebagai adminitrasi maka saya hari senin saya akan kesana untuk kordinasi terkait pelimpahan perkara dan perpanjangan penahanan dan kemungkinan selasa sudah ada jawaban,” jelas Kasi Tindak Pidana Umum Kejari Surakarta, Bambang Saputra.

Keluarga dan Kuasa Hukum terdakwa akan kembali mendatangi Kejari Surakarta untuk mendengar penjelasan Kejari. Kuasa Hukum LUIS, Kurniawan menilai penahanan yang dilakukan pihak Polda terhadap 12 kliennya itu tidak mempunyai dasar hukum yang jelas.

“Kemarin kita sampaikan di komisi kejaksaan Jakarta juga. Jadi keduabelas orang ditahan di Rutan Polda itu dasarnya hukumnya apa, tidak ada. Karena di pengadilan itu harusnya di Rutan Surakarta,” tutupnya.

Keluarga yang mendatangi Kejari Surakarta itu adalah para istri dari terdakwa dan didampingi oleh tim kuasa hukum LUIS dan tim advokasi Dewan Syariat Kota Surakarta (DSKS).

Reporter: Arie Ristyan

TPK Muhammadiyah Bertekad Perjuangkan Kasus Siyono Hingga Tahap Pengadilan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Siyono, pria yang dituding teroris itu meninggal pada 8 Maret tahun lalu setelah ditangkap oleh tim Densus 88 Mabes Polri di kediamannya di Klaten, Jawa Tengah. Sejumlah pihak masih terus berupaya mengungkap kasus kematian guru ngaji itu, salah satunya oleh Tim Pembela Kebenaran (TPK) yang bertekad akan memperjuangkan kasus kematian Siyono hingga pada tahap pengadilan.

Koordinator TPK, Dr. Trisno Raharjo dalam acara Diskusi Publik “1 Tahun Siyono” di Ruang Sidang utama Gedung AR Fakhruddin A Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) 5 pada Rabu (8/3/2017) menegaskan, kasus kematian Siyono harus diusut tuntas sebelum waktu kadaluarsa.

“Sebelumnya juga ada kasus yang hampir sama, terduga kasus kemudian ditangkap oleh Densus 88, lalu sebelum proses hukum sudah mati. Jika semua terduga kasus sudah mati sebelum menjalani proses hukum, maka mereka tidak mendapatkan hak-hak yang sepatutnya mereka dapatkan, dan proses hukumnya menjadi gugur,” jelas dosen Fakultas Hukum UMY itu sebagaimana dilansir umy.ac.id.

Trisno menyebutkan, dari korban sekian banyaknya korban meninggal setelah ditangkap Densus 88, jasad Siyono adalah jasad pertama yang berhasil diautopsi. Namun, Trisno menyayangkan hasil autopsi tim dokter kepolisian Klaten berbeda dengan hasil otopsi pertama yang oleh tim forensik Muhammadiyah.

“Kalau dari tim dokter kepolisian Klaten menyebutkan kematian Siyono karena adanya luka di bagian kepala belakang yang merupakan akibat perlawanan dari Siyono. Namun sebetulnya dari hasil otopsi yang pertama disimpulkan bahwa kematian Siyono adalah akibat dari penganiayaan terutama di bagian dada. Ada patahan tulang di rusuk yang mengenai jantung hingga menyebabkan Siyono meninggal. Hal tersebut menunjukkan bahwa Siyono tidak melakukan perlawanan. Jadi bukan karena benturan di kepala,” terang Trisno.

Setelah proses autopsi, kata Trisno, TPK bersama dengan ayah dan kakak Siyono melapor ke Polres Klaten. Pertama, atas terbunuhnya Siyono akibat kekerasan yang dilakukan oleh Densus 88. Kedua, pelaporan atas adanya pemberian uang oleh Polwan ke istri Siyono, dan pelaporan atas dokter yang mengotopsi Siyono.

“Namun yang diterima hanya satu kasus, yaitu kasus Densus yang melakukan kekerasan hingga meninggal. Dua kasus lainnya tidak diterima,” ungkapnya.

Trisno mengungkapkan bahwa akan ada kendala dalam pengungkapan kasus kematian Siyono hingga sampai pada proses peradilan salah satunya yaitu telah ditetapkannya tersangka pembunuhan Siyono.

“Saat ini perkara etik Densus 88 tidak tuntas karena pernah terputus. Kedua, Densus sudah dinyatakan bersalah atas kekerasan yang dilakukan kepada Siyono. Namun hukumannya hanya dipindah tugaskan saja, sedangkan TPK sudah mencoba melakukan banding, namun bandingnya tidak disampaikan ke publik. Meskipun demikian, kami akan terus berusaha mengupayakan kelangsungan pada proses hukum kasus Siyono ini,” tandasya.

Sumber: umy.ac.id