Kainama, Mantan Pendeta yang Melepas Kerinduannya kepada Baitullah

Catatan Perjalanan Haji 1438 H Jurnalis Islam Besatu (JITU) #4

Rasa rindu Agustinus Christofel Kainama kepada Ka’bah pagi ini (25/8/2017) terobati. Usai shalat subuh, mantan pendeta Gereja Zebaot, Bogor, Jawa Barat, ini memasuki Masjidil Haram.

Sebetulnya, Kainama sudah pernah melihat Ka’bah sebelumnya. Tahun 2012, pria kelahiran Ambon ini mendapat kesempatan mengunjungi Baitullah.

Tapi selepas itu, Kainama mengaku selalu rindu dengan Baitullah. “Saya selalu ingin ke sini dan berdoa agar bisa ke sini lagi,” jelas pria yang pernah kuliah di jurusan Liturgi Teologi, Leiden ini. Seluruh biaya kuliah ketika itu ditanggung oleh Gereja Zebaot.

Tahun Ini Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah Hajikan 123 WNI

Allah SWT ternyata mengabulkan doanya. Kedutaan Besar Arab Saudi mengundangnya untuk berhaji tahun ini. “Ini benar-benar seperti mimpi. Allah ternyata memberi kesempatan kepada saya untuk melihat Ka’bah lagi,” tutur Kainama

Kainama memeluk Islam pada tahu 2011. Namun, beberapa tahun sebelum itu, ia sudah gundah gulana dengan agamanya yang lama.

Setelah memeluk Islam, Kainama malah gencar mengajak teman-temannya untuk memeluk Islam. Ia bahkan tak sungkan berdakwah di gereja. “Yang paling mengedankan adalah ketika kita mensyahadatkan orang di bawah Salib,” tutur Kainama.

Buat mualaf seperti dirinya, Ka’bah adalah sesuatu yang menakjubkan. “Ketika seorang mualaf baru pertama kali melihat Ka’bah, dia bisa menangis,” cerita Kainama saat berbincang dengan penulis menjelang memasuki gerbang Masjidil Haram.

Mengapa? Sebab, melihat Ka’bah di depan mata terasa seperti Allah SWT memperlihatkan seluruh kesalahan kita di masa lalu, lalu kita menyesalinya. Bahkan, seorang mualaf seperti dirinya bisa pingsan ketika shalat di dekat Ka’bah.

Rindu untuk kembali ke Baitullah sebetulnya hal yang wajar. Bukankah semua Nabi pernah mendatangi Ka’bah dengan bersusah payah, meskipun wujud Ka’bah ketika itu hanya berupa dataran yang lebih tinggi dibanding sekitarnya?

Bukti sejarah tentang ini telah ditulis oleh Ibnu Katsir. Katanya, tak ada seorang Nabi pun kecuali telah berhaji ke Baitullah (Ka’bah).

Mahmud Sangaji, Nelayan Sorong yang Berhaji Tahun Ini

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa dalam perjalanan hajinya, Rasulullah SAW sampai ke sebuah lembah (wadi) dan bertanya kepada Abu Bakar, “Wahai, Abu Bakar, wadi apakah ini?”

Abu Bakar menjawab, “Ini adalah Wadi Asfan.”

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan, “Sesungguhnya Nuh, Hud dan Ibrahim telah melewati wadi ini dengan mengendarai onta-onta merah mereka yang dikendalikan dengan tali kekang. Sarung-sarung mereka berasal dari Aba’ dan selendang-selendang mereka dari Nimar. Mereka berhaji ke al Baitul-Atiq (Ka’bah)”.

Bahkan Allah SWT memperbolehkan kaum Muslim untuk berpayah-payah mengunjungi Ka’bah, selain Masjid Nabawi dan Masjid Al Aqsa.

Ka’bah, menurut sejumlah liteatur Islam, dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Keduanya memulai proses pembangunan dengan menambah tinggi Ka’bah menjadi 9 hasta dan lebarnya menjadi 32 hasta dari rukun Aswad sampai rukun Syami.

Beliau melebarkan antara rukun Syami dengan rukun Gharbi (Barat) menjadi 22 hasta, dan antara rukun Gharbi dengan rukun Yamani menjadi 31 hasta, serta antara rukun Yamani dengan rukun Aswad menjadi 20 hasta.

Nabi Ibrahim membuat dua pintu untuk Ka’bah dengan ukuran yang sama. Satu dari arah timur dekat Hajar Aswad, dan yang lainnya dari arah barat dekat rukun Yamani.

Beliau juga membuat lubang di dalam Ka’bah. Yaitu di sebelah kanan orang yang masuk dari pintu timur yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta Ka’bah. Kala itu, Ka’bah belum diberi atap.

Setelah pembangunan oleh Ibrahim, Ka’bah sempat beberapa kali dibangun atau direnovasi. Yang pertama, pembangunan oleh bangsa Amaliq dan Jurhum. Pembangunan ini dikarenakan munculnya bencana banjir yang dahsyat dan telah menghancurkan tembok Ka’bah.

Eduard, Mualaf Keturunan Yahudi yang Menginjak Tanah Suci

Setelah itu dilanjutkan pembangunan-pembangunan berikutnya, termasuk kala Rasulullah SAW 35 tahun. Kita kerap mendengar kisah fenomenal di mana Rasulullah SAW ketika itu dipilih oleh masyarakat Quraisy untuk memutuskan siapa di antara mereka yang paling berhak meletakkan hajar aswad di tempatnya.

Ada beberapa lagi pembangunan Ka’bah setelah peristiwa itu. Yang terakhir dilakukan oleh Sultan Murad IV karena beberapa bagian Ka’bah roboh oleh hujan yang amat deras. Sejarah mencatat peristiwa ini terjadi pada Rabu 19 Sya’ban 1039 Hijriah. Setelah itu, hingga Kainama menginjakkan kakinya ke Masjidil Haram, tak ada lagi perombakan terhadap kiblat umat Islam ini.

Sungguh beruntung Kainama. Allah SWT telah memberangkatkannya dengan mudah. Allah memang Maha Berkehendak dan Maha Bijaksana.

Labaik Allahumma labaik.*

Penulis: Mahladi | Islamic News Agency (INA)

Haji dan Insiden Merah Putih Terbalik

Catatan Haji Jurnalis Islam Bersatu (JITU) #3

SAAT berada di shaf awal di Masjid Nabawi, sebelah saya orang India berperawakan gempal. Azan Ashar masih dua jam lagi, ketika ia pamit berwudhu. “Tolong jaga tempat ini. Nanti saya akan kembali,” pesannya. Tak berapa lama, kakek-kakek berwajah etnis China pun mengikuti jejaknya.

Yang saya kuatirkan saat itu, bagaimana kalau nanti mereka terlalu lama pergi, sedangkan shaf awal ini menjadi incaran banyak orang? Bagaimana saya menjelaskan kepada jamaah yang ingin mengambil tempat itu. Atau kepada kedua orang itu ketika nanti ada yang “menyerobot” tempat mereka?

Apa yang saya khawatirkan terjadi. Seorang Negro bertubuh tinggi besar menduduki tempat si India. Si India sendiri belum kembali, padahal kakek-kakek China tak berselang lama kembali ke posisi semula. Ah, bodo amat… lagian siapa suruh berlama-lama wudhu.

Insiden Bendera Terbalik, KH Cholil Ridwan: Jangan Sampai Nasionalisme Kalahkan Keislaman

Kira-kira 10 menit jelang azan, si India kembali. Mengetahui tempat duduknya dihuni, ia pun tak kalah akal. Duduk di antara saya dan si Negro, menghadap arah berlawanan kiblat. Dan saat iqomat dikumandangkan, bisa dibayangkan bagaimana sesak dan berhimpitannya shaf.

Si Negro protes karena menuding si India memaksakan tempat. Si India membela diri, bahkan menodongkan sikutnya. Si Negro cuma bilang, “Ittaqillah…!” Setelah itu keduanya takbiratul ihram. Begitu selesai salam, si Negro mengulurkan tangan dan disambut senyum si India. Jamaah di samping kanan-kiri mereka—termasuk saya, pun turut senyum lega.

Itu cerita dua hari lalu di Masjid Nabawi. Sementara tadi pagi saat thawaf di Masjidil Haram, ada juga sedikit insiden. Rombongan saya memilih thawaf di lantai atas karena anggota kami ada anak kecil penyandang difable. Tiba-tiba kawan saya bernama Yusuf yang persis di samping saya, diseruduk kursi roda milik jamaah berwajah India, tepat di otot di atas tumit kanannya.

Sontak, Yusuf mengaduh kesakitan sambil berusaha memegang tangan saya agar tidak jatuh. Saya pun menatap si India. “I am sorry… maaf.. maaf,” katanya berulang-ulang sambil menghentikan kursi roda yang di dorongnya.

Yusuf masih kesakitan, tapi sedikitpun tak menatap wajah penyeruduk. Sepertinya ia sudah memaafkan, meski sakitnya tidak tertahan. Sesaat kemudian, thawaf pun berjalan kembali. Si India berlalu meninggalkan saya dan Yusuf yang masih tertatih kesakitan.

***

Ibadah haji dengan segenap kompleksitas masalah di dalamnya memang seringkali menimbulkan kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan. Jutaan manusia datang dari beragam negara, bangsa, warna kulit dan bahasa. Meski beragam, tujuan mereka hanya satu: memenuhi panggilan Allah untuk datang ke Tanah Haram serta memproklamirkan tauhid dalam lantunan talbiyah yang berulang-ulang.

Kesamaan itulah mungkin yang membuat berbagai insiden yang kurang mengenakkan dapat berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak kesumat apalagi perseteruan. Semangat persaudaraan yang dibangun di atas pondasi tauhid membuat para jamaah mudah untuk saling memaafkan dan merelakan haknya. Itulah salah satu yang membuat orang tahan menempuh kerasnya tempaan fisik selama melaksanakan manasik haji di Tanah Suci.

Mahmud Sangaji, Nelayan Sorong yang Berhaji Tahun Ini

Renungan saya tiba-tiba bubar saat saya coba buka-buka kabar berita di tanah air tercinta!

Ada yang mau berencana menggasak zakat untuk sebagai kas negara seperti pajak; ada pula prahara fitnah pembuat hoax yang diarahkan ke kelompok Muslim berjuluk Saracen. Atau, heboh insiden bendera merah putih yang dicetak dengan warna terbalik oleh panitia SEA Games 2017 di Malaysia.

Insiden itu memicu hujatan sengit, terutama di jagat media sosial. Hujatan itu seperti gendang mengiringi pejabat pemerintah yang kemudian ikut-ikutan mengecam. Gayung pun bersambut. Entah benar atau tidak, sebuah screenshot yang beredar mengabarkan warga Malaysia etnis “nganu” (yang jelas bukan Melayu), meneriakkan yel-yel “Indonesia anj*ng!” saat menyaksikan sebuah laga di acara tersebut.

Keresahan pun menyeruak, terutama dari tokoh dan komunitas Muslim. Disengaja atau tidak, insiden itu sepertinya menjadi lahan empuk untuk memperlebar jurang Malaysia-Indonesia, dua negara dengan warga serumpun. Tak hanya rumpun, secara keyakinan, Islam menjadi agama terbesar di kedua negara itu.

Ingatan saya kembali ke tahun 2013 silam, saat meliput kegiatan bersama NGO kemanusiaan Malaysia dan Indonesia di Patani, Thailand. Saat misi selesai, salah satu warga Patani menyampaikan kalimat perpisahan yang mengaduk-aduk emosi. Katanya:

“Terimakasih kepada kakak-kakak sekalian. Orang Patani menganggap orang Indonesia sebagai kakak tertua, dan orang Malaysia sebagai kakak tengah. Pesan kami, tolong jangan lupakan kami… Kalian punya adik bungsu di sini. Kami ini adik bungsu kalian…”

Tahun Ini Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah Hajikan 123 WNI

Istilah kakak tertua, kakak tengah dan adik bungsu menggambarkan bahwa tanpa ada ikatan agama pun, sesungguhnya mereka itu satu keluarga. Apalagi, nyatanya agama mereka juga sama, Islam. Nenek moyang dan orangtua mereka sama, hingga akhirnya badai fitnah kolonialisme kaum kafir Eropa menyekat mereka dalam bilik sempit bernama negara. Sampai detik ini.

Sekat-sekat itulah yang kemudian membuat adik-kakak dan anggota keluarga itu melupakan identitas dan sejarahnya. Yang ada dalam benak mereka adalah kebanggaan dan kehormatan sebagai sebuah negara atau bangsa. Ketika itu diganggu muncul reaksi yang tidak lagi memedulikan identitas dan sejarah tersebut.

Padahal, sekali lagi sekat itu dibuat oleh “perampok” yang datang ke rumah mereka. Setelah puas menguras isi rumah, “perampok” itu merampas sertifikat dan kemudian memecahnya menjadi sekian bagian. Sebelum badannya benar-benar pergi, para “perampok” itu meninggalkan doktrin yang membuat masing-masing merasa bangga dengan pecahan sertifikatnya. Doktrin itu mulai dari undang-undang buatan mereka hingga yel-yel semangat nasionalisme dan kebangsaan—yang hingga kini terus diawasi dari kejauhan.

***

Terlepas dari siapa dan bagaimana penguasanya hari ini, Al-Haramain (Tanah Suci) dengan ritual ibadah haji yang dijalankan, menjadi momentum kebersamaan yang tepat untuk kembali merenung tentang hakikat diri kita sebagai umat yang satu. Memang banyak bertebaran bendera atau syal yang menunjukkan asal negara. Namun saya merasakan hari ini, di sini, negara hanya sebuah sarana untuk membantu menjawab pertanyaan darimana kita berasal. Bukan standar apa yang membuat kita menjadi cinta atau benci.

Penulis: Tony Syarqi | Islamic News Agency (INA)

Aji Bertaubat, Pelapor: Proses Hukum Harus Tetap Dilanjutkan Sebagai Pembelajaran

KLATEN (Jurnalislam.com) – Terdakwa kasus penistaan agama, Rozaq Ismail Sudarmadji alias Aji telah menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam atas status facebooknya yang menghina Islam. Permohonan maaf itu disampaikan dalam sebuah video berdurasi 51 detik yang diunggah di facebook miliknya pada 26 Mei lalu.

Menanggapi hal itu, Ketua Majelis Mujahidin Klaten, Bony Azwar yang juga pelapor Aji mengatakan, sebagai seorang muslim pihaknya telah memaafkan Aji, akan tetapi masalah proses hukum harus tetap dilanjutkan sebagai pembelajaran.

Mengaku Menyesali Perbuatannya, Aji Minta Maaf dan Bertaubat

“Kita pinginnya kasus ini tetap lanjut sebagai pembelajaran. Mudah-mudahan tidak ada lagi yang bermain-main yang menghina Islam dan umat Islam. Itu tujuan kita,” kata Bony kepada Jurnalislam.com, Sabtu (26/8/2017)

Selain meminta maaf, Aji juga menyatakan dirinya bertaubat kepada Allah SWT dan meminta bimbingan umat Islam untuk kembali ke jalan yang diridhoi Allah. Bony pun menyambut baik pertaubatannya dan akan membantu Aji untuk menjadi muslim yang baik.

“Itu yang kita harapkan, setelah kejadian kita harapkan dia betul-betul menjadi muslim yang baik, bertaubat dan kembali kepada Syariat Islam,” tutur Bony.

Insiden Bendera Terbalik, KH Cholil Ridwan: Jangan Sampai Nasionalisme Kalahkan Keislaman

“Alhamdulillah kemarin kita ketemu dengan Sulis Bajak Laut dan Rozaq di sel, ya kita manfaatkan itu untuk mendakwahi mereka,” sambungnya.

Pada 20 Mei 2017, Bony Azwar melaporkan Aji atas dugaan penistaan agama dan menyebarkan hasutan kebencian kepada umat Islam dalam status facebooknya. Sidang perdana Aji digelar di PN Klaten pada Kamis (24/8/2017).

Serangan Balasan Mujahidin ARSA Rohingya Tewaskan 12 Pasukan Myanmar

RAKHINE (Jurnalislam.com) – Mujahidin Arakan Rohing Salvation Army (ARSA) menyerang pos-pos penjagaan perbatasan di sepanjang perbatasan wilayah barat yang menghubungkan Myanmar dan Bangladesh. Sedikitnya 12 orang tewas termasuk lima polisi Myanmar.

Dalam serangan yang dilakukan terpisah pada hari Jum’at 25 Agustus 2017, ARSA menargetkan 24 kantor polisi dan pos terdepan di distrik Maungdaw di bagian utara negara bagian Rakhine.

Kantor Penasihat Negara Bagian Aung San Suu Kyi mengonfirmasi bahwa lima petugas polisi tewas dalam serangan tersebut, dan dua senjata dicuri oleh mujahidin Rohingya.

ARSA juga dilaporkan masuk dan menyerang dalam batalyon Light Infantry 552 sekitar pukul 03:00 dini hari.

Baca juga: Mantan Ketua PBB: Myanmar Harus Cabut Pembatasan Gerak Muslim Rohingya

Arakan Rohingya Salvation Army atau yang disingkat ARSA adalah sebuah kelompok mujahidin yang bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan sejumlah aparat keamanan pada bulan Oktober 2016 lalu.

“Kami telah melakukan tindakan defensif terhadap pasukan perusak Burma di lebih dari 25 tempat yang berbeda di seluruh wilayah,” ujar ARSA dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan online di kalangan aktivis Rohingya.

Baca juga: 

ARSA mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan tanggapan atas penggerebekan, pembunuhan dan penjarahan oleh tentara Myanmar yang ditempatkan di wilayah Rakhine setelah kematian tujuh penduduk desa awal bulan Agustus ini.

“Ketika kekejaman mereka terhadap orang-orang yang tidak bersalah telah melampaui batas toleransi kita dan mereka akan melancarkan serangan terhadap kita, kita akhirnya harus melangkah untuk membela orang-orang yang tidak berdaya dan diri kita sendiri,” tegas ARSA.

Baca juga: Puluhan Pasukan Bentukan AS Terbunuh dan Terluka, 9 APC Hancur dalam Serangan di Helmand

Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Komisi Penasehat yang dipimpin oleh mantan kepala PBB Kofi Annan mendesak pemerintah Myanmar untuk menghentikan pembatasan terhadap Muslim Rohingya di daerah tersebut.

Setelah penyelidikan sepanjang tahun mengenai situasi di Rakhine, komisi tersebut mendesak pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan, menjaga perdamaian, menumbuhkan rekonsiliasi dan menawarkan harapan kepada penduduk yang tertekan.

BAZNAS Award 2017 Inspirasi Wujudkan Kebangkitan Zakat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memberikan penghargaan kepada sejumlah BAZNAS, Lembaga Amil Zakat (LAZ) provinsi, kabupaten/kota serta Unit Pengumpul Zakat (UPZ) pemerintah, BUMN dan swasta serta perusahaan yang konsisten menunaikan kewajiban dalam membayar Zakat, Infak, Sedekah (ZIS) dan Corporate Social Responsibility (CSR).

Tak hanya itu, BAZNAS juga menganugerahi penghargaan kepada kepala daerah, sejumlah media dan penulis buku yang konsisten mendukung program-program Kebangkitan Zakat.

Selain pemberian penghargaan BAZNAS Award, BAZNAS juga memberikan hadiah kepada sejumlah pemenang aneka lomba, seperti Lomba Pidato Zakat, pembuatan Game Board Zakat, Jingle dan Mars serta Vlogging.

Pemberian penghargaan dilakukan pada malam puncak Penganugerahan BAZNAS Award 2017 yang digelar di Aula HM Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Jumat (25/8).

Turut hadir dalam malam penganugerahan BAZNAS Award, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, sejumlah duta besar negara asing, gubernur, walikota dan bupati.

Ketua BAZNAS, Bambang Sudibyo mengatakan BAZNAS Awards ini merupakan kegiatan yang kali pertama diselenggarakan dan merupakan rangkaian kegiatan dalam memperingati HUT RI ke 72 bertajuk Zakat Untuk Indonesia.

“Saya berharap kegiatan berskala nasional ini memberi dampak positif untuk terus menginspirasi dan mendukung program kebangkitan zakat di Indonesia dan bahkan dunia,” ujarnya.

Menurut mantan Mendiknas ini, tujuan digelarnya Festival Zakat dan BAZNAS Award ini selain untuk mempererat tali silaturrahim antara lembaga pemerintah dan non pemerintah, juga untuk meningkatkan semangat juang dalam meraih prestasi BAZNAS sesusai visi dan misi BAZNAS.

“Selain itu juga untuk memupuk semangat kebangsaan antar generasi untuk memperkuat ketahanan nasional menghadapi tantangan global,” ungkapnya.

Sementara menurut Ketua Panitia Festival Zakat dan BAZNAS Award 2017 Jaja Jaelani, dalam puncak acara malam penganugerahan BAZNAS Award 2017 akan diumumkan para pemenang perlombaan, baik pemenang BAZNAS Award maupun aneka perlombaan seperti pemenang Lomba Board Game Zakat, Lomba Pidato Zakat, Lomba Jingle dan Mars Zakat serta Lomba Vlogging.

Selain mendapat uang pembinaan, masing-masing pemenang akan menerima sebuah tropi dan piagam penghargaan.

“Pelaksanaan Festival Zakat dan BAZNAS Award ini berlangsung sukses dan saya merasa gembira dan bangga karena penganugerahan BAZNAS Awards ini merupakan salah satu program untuk terus mendukung mewujudkan kebangkitan zakat,” tutup Jaja Jaelani yang juga Sekretaris BAZNAS.

Dalam malam penganugerahan BAZNAS Award akan dimeriahkan pertunjukan para pergelaran seni budaya reliji nusantara, seperti marawis, angklung serta Mars dan Jingle Zakat.

Siaran Pers

Wahai Nabi, Kini Aku di Sampingmu

MADINAH — Di musim haji 2017 ini, cuaca di Madinah cukup terik. Siang hari mencapai 40 derajat Celcius, sementara malam hari hanya turun menjadi 38-39 derajat Celcius. Subuh di Indonesia yang biasanya menghadirkan hawa sejuk, kini di Madinah ia hadir bersama hembusan angin yang lumayan menyengat wajah.

Namun bagi jamaah umrah atau haji—yang memang sejak di Indonesia sudah dikondisikan untuk menerima segala beban fisik, kondisi itu tak menyurutkan langkah. Termasuk 123 orang jamaah haji undangan Kedubes Arab Saudi yang diberangkatkan melalui Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah, Jakarta.

Tiba di Madinah sebelum memulai rangkaian ibadah Haji tamattu’, jamaah melaksanakan shalat lima waktu di Masjid Nabawi. Jarak antara masjid dengan hotel tempat menginap sekitar 1,5 KM. Cukup jauh untuk pejalan kaki—apalagi bolak-balik. Namun, ini adalah Madinah Al-Munawarah.

Kota tempat Masjid Nabawi, yang pahala shalat dilipatgandakan seribu kali. Masjid, yang di dalamnya ada pintu surga bernama Raudhah, tempat semua doa-doa yang dipanjatkan akan dikabulkan. Kota tempat Nabi SAW dan para shahabatnya bersemayam dari dunia fana—setelah merampungkan seluruh tugas dengan gemilang.

Di musim haji seperti sekarang ini, Masjid Nabawi hampir tak pernah mengenal kata lengang. Kalau mau mendapatkan tempat di dalam inti masjid, setidaknya dua jam sebelum adzan berkumandang, Anda harus menempatkan diri. Kalaupun sudah mendapatkan shaf yang baik (apalagi shaf awal), “perjuangan” (baca: kesabaran) belum selesai diuji.

Meski samping kanan-kiri kita sudah ada jamaah lain, tapi begitu terlihat celah sedikit saja, ada saja jamaah lain yang mencoba “menyusup,” terutama tetamu Allah yang datang dari Afrika. Jangankan orang Indonesia yang terkenal sering pekewuh dan mengalah, orang Pakistan maupun orang Eropa saja hanya bisa protes dengan menunjukkan muka masam.

Mereka dengan pede menggelar sajadah di antara shaf yang sudah rapat, lalu takbiratul ihram. Kalau sudah begitu, apa yang bisa Anda perbuat? Apalagi bagi yang memiliki sikap tepo-seliro dan sifat mengalah yang tinggi. “Ada Nabi SAW bersemayam di sini. Tidak baik untuk bikin ribut-ribut. Pamali!”

Tetamu Allah dari benua Afrika memang cukup mendominasi. Dari yang dijumpai Penulis, jamaah asal Nigeria dan Ghana paling banyak dijumpai selain juga Mali dan Sudan. Berkulit gelap dan postur tubuh rata-rata di atas orang Indonesia, jangkauan langkah saat mereka berjalan juga lebih panjang. Melihat penampilan mereka, kita mungkin akan langsung teringat sosok Bilal bin Rabah.

Salah satu shahabat yang mulia, yang hanya tahu cara mempertahankan keislaman—di tengah siksaan kafir Quraisy—dengan sebatas ucapan “Ahad.. ahad.” Bilal, muadzin khusus Nabi Muhammad SAW. Suaranya mengundang orang-orang untuk hadir di masjid ini untuk melaksanakan shalat. Namun suara emas itu hilang, seiring kepergian Nabi SAW ke alam barzakh. “Adzanku hanya untuk Nabi SAW,” tuturnya saat itu. Semoga Allah merahmati Bilal.

Namun ada yang patut disayangkan dari mereka. Hasrat kuat mereka untuk meraih keutamaan amal, sering terasa mengganggu ibadah jamaah lain. Saat askar mengatur jumlah jamaah yang hendak masuk Raudhah, seringkali terdengar suara kegaduhan di antara mereka. Begitu dipersilakan masuk, tak jarang terdengar kaki-kaki bising berlari bak lomba marathon.

Pemandangan yang tak jauh berbeda juga dapat dilihat ketika pintu Babus Salam, pintu masuk untuk melintas di depan makam Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA. Bila saat tertinggal jamaah shalat wajib kita tetap diharuskan memasuki masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, mereka malah setengah berlari. Padahal dekat pintu makam tertulis besar-besar ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman , janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (AlHujurat, 49:2)

Cerita “unik” di atas hanya bertujuan untuk membagi pengalaman semata. Berbicara soal Madinah dan Masjid Nabawi, terlalu sayang kalau semangat berburu amal kebaikan kemudian surut oleh “keunikan-keunikan” di atas. Apalagi kita yakin Allah Maha Mendengar dan Mengetahui setiap kehendak, maksud dan keinginan kita.

Lantunan doa yang lirih kita panjatkan dengan sepenuh hati, Allah Maha Kuasa untuk mengabulkannya meski kita berada di luar Raudhah. Salam dan shalawat yang kita lambaikan saat melintas di depan makam Nabi Muhammad SAW dan dua shahabatnya, tetap akan tercatat sebagai amal kebaikan, meski kita tidak berada di jalur terdekat dengan makam tersebut.

Bisikkan dengan nada penuh kerinduan, “Wahai Nabi, ini aku telah hadir. Aku berada di samping kuburmu!” Kenanglah segala sesuatu yang pernah Anda ketahui tentang dirinya, dan barisan shahabatnya yang setia menemani dalam suka maupun duka. Di sela-sela shalat, doa dan membaca Al-Quran, renungilah, bahwa dari tempat inilah cahaya Islam terpancar ke seluruh dunia.

Kalaulah hijrah ke Madinah tidak Allah wajibkan, tak mungkin kita sampai ke tempat ini. Kita mungkin masih menjadi mayat-mayat berjalan—makhluk yang jiwanya kosong dari cahaya keimanan, namun fisiknya masih hidup. Ya, di sini. Di masjid inilah seluruh kejayaaan Islam bermula.

Tony Syarqi | Islamic News Agency (INA)

Forum Me-DAN Nusra Salurkan Beras untuk Warga Kurang Mampu

BIMA (Jurnalislam.com) – Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) Bima kembali menyalurkan bantuan bagi warga Bima yang kurang mampu, Kamis (24/8/2017). Me-DAN memberikan bantuan paket bantuan beras 5kg kepada 44 warga kurang mampu di wilayah Kota Bima.

Ketua Forum Me-Dan Wilayah Nusra (Nusa Tenggara), Suherman A.Mk menyampaikan bahwa program bantuan beras ini diberikan kepada fakir miskin, lansia, janda-janda tua, anak yatim, serta masyarakat yang ekonominya kurang mampu.

“Program ini merupakan bentuk kepedulian dari kami sebagai tim medis dan Aksi Kemanusiaan, karena melihat pada hari ini masih banyak saudara-saudara di sekitar kita yang sangat membutuhkan,” tutur Suherman kepada Jurnalislam.com

Di tengah kondisi ekonomi saat ini, kata Suherman, masyarakat semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Mereka perlu kita bantu,” katanya.

Suherman menjelaskan, program tersebu telah memasuki bulan kedua dan akan terus diadakan setiap bulannya. Oleh karena itu, ia mendorong masyarakat yang mampu untuk berpartisipasi.

“Minimal berupa bantuan beras sebanyak 1 kg per bulannya,” ujarnya.

Liga Arab Dorong Negara Arab Dukung Ekonomi Palestina

KAIRO (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul-Gheit menyeru negara-negara Arab untuk mendukung ekonomi Palestina. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan ke-100 tingkat menteri Dewan Sosial dan Ekonomi di Markas Liga Arab di Kairo, Kamis (24/8/2017).

Aboul Gheit menekankan perlunya mendorong peningkatan ekonomi Palestina yang menderita akibat pembatasan-pembatasan Israel.

Ia juga menyerukan pengaktifan serikat pabean Arab dan Greater Arab Free Trade Area serta persiapan untuk sidang ke-29 konferensi tingkat tinggi Arab. Konferensi itu akan diselenggarakan di ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

Pada Ahad (20/8/2017), Otoritas Moneter Palestina mengeluarkan laporan tentang pertumbuhan ekonomi 3,4 persen di Palestina pada 2017, turun dari 4,1 persen pada 2016.

Laporan tersebut menyatakan, penurunan itu sangat mungkin disebabkan oleh pembatasan Israel pada pergerakan orang dan barang ke dan dari wilayah Palestina.

Mengaku Menyesali Perbuatannya, Aji Minta Maaf dan Bertaubat

KLATEN (Jurnalislam.com) – Rozaq Ismail Sudarmadji alias Aji (29), pemuda Klaten yang menjadi terdakwa kasus penistaan agama pernah mengunggah video permohonan maaf kepada umat Islam dalam akun facebooknya pada 26 Mei lalu.

Dalam video 51 detik itu, Aji meminta maaf kepada umat Islam Indonesia atas ucapan yang tidak pantas yang ia tulis dalam status facebooknya pada tanggal 19 Mei 2017.

FPI Klaten Desak Aparat Bersikap Tegas terhadap Pelaku Perusakan Baliho Habib Rizieq

“Saya Rozaq Ismail Sudarmadji alias Aji menyatakan permohonan maaf saya yang sedalam-dalamnya kepada umat Islam seluruh Indonesia khususnya yang di Klaten, bahwa saya telah memposting kalimat yang tidak pantas diucapkan pada tanggal 19 Mei 2017 di akun facebook saya sendiri,” kata Aji dalam videonya.

Screenshot video permohonan maaf Aji

Aji mengaku sangat menyesali perbuatannya yang telah menghina agama Islam dan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. Ia juga mengaku telah menyerahkan diri kepada Polres Klaten sejak 25 Mei untuk diproses lebih lanjut.

“Demi keutuhan Negara Republik Indonesia saya minta maaf sedalam-dalamnya, saya sangat menyesali perbuatan saya sendiri dan saya berjanji tidak akan mengulangi lagi,” tutupnya.

Selain itu, dalam status facebook Aji pada tanggal 23 Mei 2017, Aji juga mengungkapkan keinginannya untuk bertaubat serta meminta bimbingan untuk kembali ke jalan yang benar.

“Ijinkan saya bertaubat dan mohon ampunan dari Allah SWT, mohon maaf dari umat Islam khususnya Habib Rizieq Shihab dan keluarga serta mohon bimbingan untuk kembali ke jalan yang diridhoi Allah SWT,” tulis Aji dalam statusnya.

Sidang Kedua, Ini 7 Poin Penting Nota Keberatan Ustaz Alfian Tanjung

Aji dilaporkan ke Polres Klaten oleh Boni Azwar pada 20 Mei 2017 atas dugaan pelanggaran UU pasal 28 ayat 2 jo pasal 45A tentang menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian.

Video permintaan maaf Aji

Menolak Diingatkan, Penista Agama Malah Menjawab ‘Saya Rindu Perang’

KLATEN (Jurnalislam.com)– Pengadilan Negeri (PN) Klaten menggelar sidang kasus penistaan agama dengan terdakwa Rozaq Ismail Sudarmaji alias Aji (29) pada Kamis, (23/8/2017). Aji dijerat pasal 156 KUHP tentang ujaran kebencian dan pasal 45 huruf a UU ITE nomor 11/2008. Agenda sidang mendengarkan keterangan dari lima saksi yang dihadirkan dalam kasus tersebut.

Sidang dipimpin oleh Hakim Ketua, Bunga Maya Saputri, hakim anggota Dian Herminasari dan Tri Margono serta dihadiri Jaksa, Ginanjar Damar Pamenang, sedangkan kelima saksi tersebut Bony Azwar (pelapor), Nanang Nuryanto, Tresno Sasongko, Ajie, dan Yoeri Isnanto.

Sidang yang sedianya digelar pukul 09.00 WIB molor hingga pukul 11.00 WIB. Bony Azwar dalam kesaksiannya mengaku, melaporkan terdakwa ke Polres Klaten karena melihat status Facebook milik Aji pada 19 Mei 2017. Dalam akun Facebook tersebut, kata Bony, Sudarmaji menulis dua kalimat yang menghina Islam dan menebarkan ujaran kebencian.

Kawal Kasus Penistaan Agama di Facebook, Umat Islam Sambangi PN Klaten

“Tanggal 19 Mei 2017 saya melihat screenshoot itu di salah satu grup Whatshaap, waktu itu kita mencari kebenaran info tersebut, ke grup Whatshaap lain dan akun Facebook Sudarmaji, dan sebagai seorang muslim saya dirugikan dengan kalimat tersebut,” terang Bony di hadapan Hakim.

Bony menjelaskan, Aji sudah diingatkan oleh pemilik akun lain menghapus stdalam kolom komentar di status tersebut, namun Sudarmaji menolak dan terkesan menantang umat Islam.

“Ada yang suruh menghapus postingan itu, tapi dia tidak mau dan malah bilang ‘saya rindu perang’ dan Tulisan facebook di bulan Desember postingannya terkesan melecehkan umat Islam,” papar Bony.

Saksi lain, Ajie, mengungkapkan dia melihat tulisan terdakwa di grup medsos pada tanggal 19 Mei 2017 usai pulang dari ladang. Melihat itu, dirinya kaget sebab kata-katanya tidak pantas.

Nota Keberatan Kuasa Hukum Alfian Tanjung : Dakwaan JPU Batal Demi Hukum

”Saat itu saya lihat di grup sore hari, dan di grup sudah rame, karena jelas kata-kata itu tidak ada dalam Hadist Riwayat (H.R) Bukhori dan Muslim,” papar Ajie.

Menanggapi hal tersebut, Sudarmaji tidak menyangkal keterangan para saksi. Saat ditanya majelis hakim, terdakwa lebih banyak mengangguk.

Sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli.