Afghanistan Berlakukan Jam Malam Untuk Mengekang Kemajuan Taliban

Afghanistan Berlakukan Jam Malam Untuk Mengekang Kemajuan Taliban

AFGANISTAN(Jurnalislam.com)–Pemerintah Afghanistan telah memberlakukan jam malam di hampir semua 34 provinsi di negara itu untuk membendung meningkatnya kekerasan yang dipicu oleh serangan Taliban yang membuat gerilyawan itu memperoleh keuntungan teritorial dengan cepat.

“Untuk mengekang kekerasan dan membatasi gerakan Taliban, jam malam telah diberlakukan di 31 provinsi di seluruh negeri,” kecuali di Kabul, Panjshir dan Nangarhar, kata kementerian dalam negeri dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu (24/07/2021)

Tindakan itu akan efektif antara pukul 10 malam sampai 4 pagi waktu setempat, terang Ahmad Zia Zia, wakil juru bicara kementerian dalam negeri Afghanistan, dalam pernyataan audio terpisah kepada wartawan.

James Bays dari Al Jazeera, melaporkan dari ibukota, Kabul, mengatakan alasan jam malam itu “cukup sederhana”.

“Sudah jelas selama bertahun-tahun bahwa di bagian Afghanistan yang diperebutkan, pemerintah dapat mengendalikan banyak hal di siang hari, tetapi Taliban, sangat menguasai di malam hari.”

Taliban dengan cepat merebut wilayah itu sejak awal Mei dan merebut perlintasan perbatasan strategis, saat tentara Amerika Serikat dan NATO meninggalkan Afghanistan.

Penarikan pasukan AS-NATO sudah mencapai lebih dari 95 persen dan akan selesai dalam beberapa minggu lagi.

Pada hari Rabu, perwira tinggi militer AS Jenderal Mark Milley mengatakan pada konferensi pers Pentagon bahwa Taliban memiliki “momentum strategis” dan mengendalikan sekitar setengah pedesaan saat melaju untuk memotong pusat penduduk dari pemerintah yang didukung Barat di Kabul.

Pejuang Taliban mengancam sejumlah dari 34 ibu kota provinsi, tetapi belum merebut kendali satupun ibu kota provinsi itu dari pasukan Afghanistan.

AS, Jerman dan negara-negara lain telah meminta Taliban untuk menghentikan serangan tersebut.

Sementara itu, Taliban menegaskan tidak akan ada perdamaian di Afghanistan sampai ada pemerintahan baru yang dirundingkan di Kabul dan Presiden Ashraf Ghani digulingkan.

“Saya ingin memperjelas bahwa kami tidak percaya pada monopoli kekuasaan karena pemerintah mana pun yang (berusaha) untuk memonopoli kekuasaan di Afghanistan seperti masa lalu, bukanlah pemerintah yang berhasil,” kata juru bicara Taliban Suhail Shaheen kepada kantor berita The Associated Press, yang tampaknya termasuk menyinggung pemerintahan lima tahun Taliban sendiri.

“Jadi kami tidak ingin mengulang formula yang sama.” sambungnya.

Sementara Ghani berulang kali menegaskan bahwa dia akan tetap menjabat sebagai presiden sampai pemilihan baru yang dapat menentukan pemerintahan berikutnya.

Pada hari Jumat, Gedung Putih mengatakan Presiden AS Joe Biden telah mengesahkan hingga $ 100 juta dari dana darurat untuk memenuhi kebutuhan pengungsi “yang mendesak tidak terduga” disebabkan dari situasi di Afghanistan, termasuk untuk pemohon visa imigrasi khusus Afghanistan.

Biden juga menyetujui pelepasan layanan dan barang senilai $200 juta dari inventaris lembaga pemerintah AS untuk memenuhi kebutuhan yang sama. (Bahri)

Sumber: Al Jazeera

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X