ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Turki berjanji untuk membasmi sekutu tokoh Turki, Fetullah Gulen, yang berbasis di AS yang melakukan kudeta gagal pekan lalu, memperluas pembersihan tentara, polisi dan peradilan pada hari Selasa hingga ke universitas dan sekolah, badan intelijen dan otoritas keagamaan, Al Arabiya News Channel melaporkan Selasa (19/07/2016).
Sekitar 50.000 tentara, polisi, hakim, pegawai negeri dan guru telah diberhentikan atau ditahan sejak upaya kudeta, memicu ketegangan di seluruh negara berpenduduk 80 juta jiwa yang berbatasan dengan Suriah.
“Organisasi pemberontak paralel ini tidak akan lagi menjadi pion yang efektif bagi negara manapun,” kata Perdana Menteri Binali Yildirim, merujuk pada Negara paralel yang telah lama diduga pemerintah sebagai sebuah negara dalam negara yang dikendalikan oleh pengikut Fethullah Gulen.
“Kami akan menggali mereka hingga ke akar-akarnya,” katanya kepada parlemen.
Seorang juru bicara Presiden Tayyip Erdogan mengatakan pemerintah sedang menyiapkan permintaan resmi ekstradisi Gulen kepada Amerika Serikat, yang dituduh Turki mengatur pengambilalihan militer yang gagal pada hari Jumat di mana sedikitnya 232 orang tewas.
Gulen, 75 tahun, yang tinggal di pengasingan di Pennsylvania, tetapi memiliki jaringan pendukung di Turki dalam upaya kudeta.
Sebagai seorang mantan sekutu Erdogan yang berubah menjadi kritikus, ia menyatakan bahwa presiden menuduhnya sebagai alasan melakukan tindakan keras setelah akumulasi kontrol yang stabil selama berkuasa 14 tahun.
Pada hari Selasa, pihak berwenang menutup media yang dianggap mendukung Gulen dan mengatakan 15.000 orang dari kementerian pendidikan telah dipecat, juga 492 dari Departemen Direktorat Agama, 257 dari kantor perdana menteri dan 100 pejabat intelijen.
Lira melemah terhadap dolar setelah media negara TRT mengatakan semua dekan universitas telah diperintahkan untuk mengundurkan diri, mengadakan pembersihan besar-besaran setelah kudeta militer yang sukses di masa lalu.
Sebagai bukti perhatian internasional, seorang pejabat Jerman mengatakan perpecahan yang serius sedang terjadi di Turki dan ia takut pertempuran akan pecah dalam masyarakat Turki yang besar yang berada di Jerman.
“Sebuah perpecahan yang mendalam muncul di masyarakat Turki,” kata Menteri Dalam Negeri Bavaria Joachim Herrmann kepada koran Berliner Zeitung. “Bahaya eskalasi kekerasan antara pendukung Erdogan dan lawannya juga meningkat di Jerman.”
Sekutu Barat telah menyatakan solidaritas dengan pemerintah Turki atas upaya kudeta, tetapi juga khawatir tentang skala dan kecepatan respon, mendesak untuk mematuhi nilai-nilai demokrasi.
Perdana Menteri Yildirim menuduh Washington, yang mengatakan akan mempertimbangkan ekstradisi Gulen hanya jika bukti yang jelas telah tersedia, dan menyebut AS memiliki standar ganda dalam memerangi pemberontakan.
Yildirim mengatakan kementerian kehakiman telah mengirimkan berkas kepada pihak berwenang AS mengenai Gulen, yang gerakan religiusnya memadukan nilai-nilai konservatif dengan penampilan luar pro-Barat dan memiliki jaringan pendukung di Turki.

“Kami memiliki bukti lebih dari cukup, lebih dari yang Anda bisa minta, mengenai Gulen,” kata Menteri Kehakiman Bekir Bozdag kepada wartawan di luar parlemen. “Tidak perlu membuktikan upaya kudeta, semua bukti menunjukkan bahwa upaya kudeta diselenggarakan atas kehendak dan perintahnya.”
Membantah berita bahwa Turki mengalami ketidakstabilan dalam waktu lama, tentara mengatakan telah kembali menguasai kontrol secara penuh. Wakil Perdana Menteri Numan Kurtulmus membantah laporan bahwa 14 kapal angkatan laut hilang dan komandan mereka berusaha untuk membelot.
Kurtulmus juga mengatakan kepada wartawan bahwa 9.322 orang telah berada di bawah proses hukum sehubungan dengan kudeta.
Delapan tentara telah mencari suaka di negara tetangga Yunani dan Turki mengatakan mereka harus diserahkan kembali atau tidak akan membantu hubungan antara tetangga, yang telah lama tidak nyaman.
Sekitar 1.400 orang terluka saat tentara dalam tank, helikopter serang dan pesawat tempur, memberondong parlemen dan markas intelijen dan mencoba merebut bandara utama serta jembatan di Istanbul.
Tentara staf umum mengatakan akan menghukum dengan cara yang paling parah setiap anggota angkatan bersenjata yang bertanggung jawab untuk aib ini, menambahkan bahwa sebagian besar tidak ada hubungannya dengan kudeta.
“Tidak akan ada organisasi teroris klandestin yang memiliki keberanian untuk mengkhianati rakyat kita yang diberkati lagi,” kata Yildirim.
Beberapa pemimpin Barat menyatakan keprihatinan mereka bahwa Erdogan, yang mengatakan bahwa ia hampir dibunuh atau ditangkap oleh pemberontak, menggunakan kesempatan untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dan selanjutnya akan melumpuhkan perbedaan pendapat.
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Zeid Ra’ad Al Hussein, memperingatkan dengan serius pada hari Selasa mengenai penahanan hakim dan jaksa secara massal dan mendesak Turki mengizinkan pemantau independen untuk mengunjungi orang-orang yang telah ditahan.
Kementerian luar negeri mengatakan kritik terhadap tindakan pemerintah meningkatkan dukungan bagi kudeta.
Turki membatalkan hukuman mati pada tahun 2004 sebagai bagian dari upaya untuk bergabung dengan Uni Eropa, dan para pemimpin Eropa telah memperingatkan Ankara bahwa memulihkan hukuman mati akan menggelincirkan aspirasi Uni Eropa-nya.
Namun setelah terjadinya kudeta, Erdogan telah berulang kali menyerukan parlemen untuk mempertimbangkan tuntutan pendukungnya untuk menerapkan hukuman mati bagi komplotan.
Yildirim mengatakan Turki akan menghormati aturan hukum dan tidak didorong oleh balas dendam dalam menuntut terduga komplotan kudeta. Berbicara bersama pemimpin oposisi sekuler utama, Partai Rakyat Republik (CHP), ia mengatakan negara harus menghindari risiko bahwa beberapa orang mencoba untuk mengeksploitasi situasi saat ini.
“Kita perlu persatuan … dan persaudaraan sekarang,” katanya.
Partai Gerakan Nasionalis (MHP), kelompok sayap kanan dan merupakan kelompok terkecil dari tiga partai oposisi di parlemen, mengatakan akan mendukung pemerintah jika memutuskan untuk mengembalikan hukuman mati.
Lebih dari 6.000 tentara dan sekitar 1.500 lainnya telah ditahan sejak kudeta yang gagal. Sekitar 8.000 petugas polisi, termasuk di ibukota Ankara dan kota terbesar Istanbul, telah dihapus karena dicurigai memiliki hubungan dengan plot kudeta.
Sekitar 1.500 pejabat kementerian keuangan juga telah dicopot dari jabatan mereka. Cuti tahunan telah ditangguhkan bagi lebih dari tiga juta pegawai negeri sipil, sementara hampir 3.000 hakim dan jaksa juga telah dibersihkan. Sebuah pengadilan menyerahkan 26 jenderal dan laksamana dalam tahanan pada hari Senin, kata media Turki.
Para pejabat di Ankara mengatakan mantan kepala angkatan udara Akin Ozturk, yang telah muncul di tahanan dengan wajah dan lengan memar dan satu telinga diperban, adalah wakil-pemimpin kudeta. Media Turki mengatakan pada hari Senin ia menyangkal tuduhan tersebut di hadapan jaksa, mengatakan ia telah mencoba mencegah usaha kudeta.
Kudeta hancur setelah Erdogan, yang sedang berlibur dengan keluarganya di resor pantai Marmaris, menelepon program berita televisi dan menyerukan rakyatnya untuk turun ke jalan. Dia berhasil terbang ke Istanbul pada dini hari Sabtu, setelah pilot pemberontak mengincar pesawatnya dalam pandangan mereka tetapi tidak menembaknya hingga jatuh.
Ia mengatakan pada hari Senin bahwa dia mungkin telah terbunuh jika tidak meninggalkan Marmaris secepatnya dan dua pengawalnya tewas.
Pertumpahan darah tersebut mengejutkan bangsa, di mana tentara menggunakan kekuatan untuk melakukan kudeta sukses dilakukan terakhir kali lebih dari 30 tahun yang lalu.
Sejak kudeta digagalkan, Erdogan mengatakan musuh negara masih mengancam bangsa dan mendesak warga Turki untuk turun ke jalan setiap malam sampai Jumat untuk menunjukkan dukungan bagi pemerintah.
Deddy | Alarabiya | Jurnalislam