JAKARTA (jurnalislam.com)— Indonesia tinggal satu kekalahan lagi dari medali perak ketika Alwi Farhan memasuki lapangan pada final beregu putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Dua partai pertama sudah lepas. Jonatan Christie kalah dari Shi Yu Qi, disusul Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri yang takluk dari Liang Wei Keng/Wang Chang.
China unggul 2-0. Satu kemenangan lagi cukup untuk mengakhiri final.
Alwi menghadapi Li Shi Feng pada partai ketiga. Ia menang 23-21, 15-21, 21-16 dan membuka kembali peluang Indonesia.
Seusai pertandingan, Alwi mengatakan ingin menunjukkan bahwa pertandingan belum selesai.
“Game is not over yet,” ujarnya seperti dikutip PBSI.
Peluang itu kemudian dijaga Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin. Menghadapi He Ji Ting/Liu Yi, pasangan Indonesia sempat tertinggal 17-20 pada gim pertama sebelum membalikkan keadaan menjadi 23-21. Mereka menutup gim kedua dengan kemenangan 21-10. Skor menjadi 2-2.
Final yang beberapa puluh menit sebelumnya berada di tangan China kini harus ditentukan lewat pertandingan kelima.
Ubed dan Telepon Sebelum Bertanding
Tugas terakhir jatuh kepada Moh Zaki Ubaidillah. Pemain yang akrab disapa Ubed itu menghadapi Weng Hong Yang. Satu pertandingan akan menentukan emas atau perak bagi Indonesia.
Ubed mengaku tegang. Sebelum masuk lapangan, pemain berusia 19 tahun itu menelepon orang tuanya dan meminta doa.
“Perasaannya campur aduk, yang pasti senang karena dari awal saya sudah sempat tegang juga, sebelum main sempat telepon orang tua meminta doa,” kata Ubed, seperti dikutip PBSI.
Cerita itu menjadi salah satu sisi paling menarik dari kemenangan Indonesia.
Ubed sudah sampai pada level ketika ia dipercaya memainkan partai penentu final Asian Games. Di belakangnya ada latihan, persiapan, pengalaman bertanding dan arahan pelatih.
Namun menjelang salah satu pertandingan terpenting dalam kariernya, ia tetap mencari doa orang tuanya. Di lapangan, doa itu tidak membuat pertandingan menjadi mudah.
Weng lebih dulu memperoleh game point pada gim pertama. Ubed mengatakan ia berusaha tetap tenang. Ia kemudian membalikkan keadaan dan menang 23-21. Gim kedua ia kuasai 21-13. Indonesia menang 3-2.
Setelah tertinggal dua pertandingan, tiga kemenangan beruntun membawa Indonesia meraih emas beregu putra. PBSI mencatat hasil tersebut mengakhiri penantian 28 tahun Indonesia untuk kembali menjadi juara Asian Games di nomor ini.
Emas itu juga menjadi emas pertama kontingen Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Doa Tidak Menggantikan Ikhtiar
Kisah Ubed meminta doa orang tua mudah sekali disederhanakan menjadi cerita bahwa doa membawa kemenangan.
Padahal pertandingan itu menunjukkan sesuatu yang lebih utuh.
Ubed tetap harus berlatih untuk mendapatkan tempat di tim. Ia tetap harus menghadapi tekanan di lapangan, mengejar lawan yang lebih dahulu mendapat game point, mengendalikan permainan dan menuntaskan pertandingan. Meminta doa orang tua tidak menggantikan semua itu.
Bagi seorang Muslim, ikhtiar dan doa memang berada dalam satu jalan. Kemampuan dikerahkan semaksimal mungkin, sementara kesadaran bahwa hasil akhirnya tidak sepenuhnya berada dalam kuasa manusia tetap dijaga.
Ubed sendiri tidak menggambarkan telepon kepada orang tuanya sebagai jaminan kemenangan. Ia bahkan mengakui rasa tegang itu ada.
Yang kemudian terlihat di lapangan adalah seorang pemain muda yang mampu menjalankan tugasnya di tengah tekanan.
Bukan Emas Seorang Pemain
Kemenangan Indonesia juga akan terlalu sempit jika hanya diceritakan sebagai kisah Ubed. Ia memang mencetak angka terakhir. Tetapi kesempatan itu hanya ada karena dua pertandingan sebelumnya dimenangkan rekan-rekannya.
Alwi turun ketika Indonesia berada di ambang kekalahan dan memperkecil skor menjadi 1-2. Leo/Daniel kemudian memaksa final berlanjut ke partai kelima.
Sementara Jonatan serta Fajar/Fikri, meski gagal menyumbangkan poin pada dua pertandingan awal, tetap berada dalam tim yang sama dan mendukung rekan-rekannya dari belakang lapangan. Ubed sendiri mengatakan dukungan teman-temannya membantu mengurangi ketegangannya.
Begitulah pertandingan beregu bekerja. Pemain yang mencetak angka terakhir memang paling mudah diingat, tetapi kemenangan dibangun sejak pertandingan pertama. Indonesia pada malam itu juga tidak mempunyai jaminan akan menang ketika skor menunjukkan 0-2.
Alwi masih harus memenangkan pertandingan ketiga. Leo/Daniel harus menyelamatkan gim pertama sebelum menyamakan kedudukan. Ubed masih harus melewati tekanan pertandingan terakhir.
Semuanya baru berubah setelah masing-masing menjalankan tugasnya. Skor akhir 3-2 kemudian mencatat hasil yang sederhana tetapi sulit dicapai: Indonesia tertinggal dua pertandingan, tidak berhenti, lalu memenangkan tiga pertandingan berikutnya.
Dan sebelum angka terakhir itu diraih, seorang pemain berusia 19 tahun sempat menelepon rumah untuk meminta doa orang tuanya.