GAZA (jurnalislam.com)– Militer Israel pada Ahad (30/11) mengklaim telah menewaskan lebih dari 40 pejuang Hamas yang bersembunyi di jaringan terowongan bawah tanah di Rafah, Jalur Gaza, selama sepekan terakhir. Klaim tersebut memicu kekhawatiran baru atas rapuhnya gencatan senjata yang telah berlangsung tujuh pekan.
Dalam pernyataan resminya, militer Israel mengatakan pihaknya terus berupaya menghancurkan sistem terowongan di sebelah timur Rafah selama 40 hari terakhir. Hamas belum memberikan komentar atas klaim tersebut.
Sebelumnya pada Ahad pagi, militer Israel juga menyebut telah menewaskan empat anggota Hamas yang muncul dari bawah tanah di kota selatan itu pada malam sebelumnya.
Menurut berbagai laporan, puluhan pejuang Hamas diyakini terjebak di terowongan di Gaza selatan—wilayah yang hingga kini masih diduduki pasukan Israel. Kondisi ini mendorong mediator Mesir, Qatar, dan Turki untuk menegosiasikan jalur aman bagi para pejuang menuju wilayah yang dikuasai Palestina.
Hamas menolak opsi menyerahkan senjata. Pejabat senior Hamas, Husam Badran, pada Rabu sebelumnya meminta para mediator menekan Israel agar memberikan jalur aman.
“Para pejuang kami di Rafah tidak dapat menerima penyerahan diri atau menyerahkan senjata mereka kepada pendudukan,” tegas Badran.
Sementara itu, pejabat Israel menolak memberikan kompromi dan tidak bersedia menyediakan koridor aman.
𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗕𝗲𝗿𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗞𝗮𝗹𝗶 𝗗𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿
Sesuai ketentuan gencatan senjata saat ini, pasukan Israel diwajibkan mundur dari wilayah perkotaan Gaza hingga Garis Kuning. Namun para pejuang Hamas berada di terowongan yang terletak di sisi Israel dari garis tersebut.
Seorang pejabat Hamas pada Kamis mengatakan terdapat sekitar 60–80 pejuang yang terjebak di bawah Rafah.
Tindakan militer Israel tersebut dinilai semakin merusak gencatan senjata yang sudah beberapa kali dilanggar. Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober, sedikitnya 356 warga Palestina telah terbunuh dan 908 lainnya terluka akibat serangan Israel.
Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat lebih dari 500 pelanggaran gencatan senjata oleh militer Israel.
Badran menuding Israel sengaja menghambat kemajuan menuju fase kedua gencatan senjata, yang mencakup dimulainya rekonstruksi, pembentukan pemerintahan Palestina baru, serta pengerahan pasukan keamanan internasional.
𝗣𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗤𝗮𝘁𝗮𝗿
Qatar pada Sabtu memperingatkan Israel agar tidak menghalangi pelaksanaan fase kedua kesepakatan, terutama karena masih ada jenazah tawanan yang belum ditemukan di Gaza.
Hamas sebelumnya telah membebaskan seluruh 20 tawanan yang masih hidup serta semua kecuali dua dari 28 sandera yang telah meninggal. Upaya pencarian dua jenazah terakhir masih berlangsung.
“Kami tidak yakin Israel seharusnya diizinkan menghentikan implementasi kesepakatan Gaza hanya karena dua jenazah ini,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, kepada Al Araby Al Jadeed. Ia menegaskan bahwa berbagai upaya tengah dilakukan untuk “memotong segala alasan Israel”. (Bahry)
Sumber: TNA