JURNALISLAM.COM – Dengan nama Allah Yang Maha Penyayang, setelah peristiwa 9/11, Amerika masuk ke negeri kaum Muslimin dengan tentara dan jet tempur. Kedatangannya mengguncang bumi dengan Jihad dan perlawanan. Setelah pengepungan Tora Bora, ratusan Mujahidin mundur untuk membuka gerbang neraka bagi Amerika dan sekutunya: di Afghanistan, Pakistan, Irak, Yaman, Maroko dan Somalia.
Upaya Amerika untuk memadamkan api jihad dan mengepung gelombang jihad sia-sia dan menemui kegagalan. Dan setiap kali Amerika meningkatkan intervensi militer mereka, sama dengan meningkatkan pendarahan ekonomi mereka. Sampai setelah satu dekade Amerika mencapai keadaan keruntuhan ekonomi, dan tidak mampu lagi menjaga kampanye militer mereka. Jadi politisi mereka memutuskan menarik diri dari wilayah tersebut, untuk menyelamatkan sisa kekuatan Amerika.
Kemudian Obama terpilih, dan diminta untuk secepatnya meraih kembali kemenangan, bahkan jika hanya merupakan kemenangan media, sehingga mereka dapat menarik diri dari Afghanistan dan Irak dengan kepala tegak. Pemerintahan Obama mencoba untuk mencapai kemenangan militer dengan meningkatkan pasukan AS, tapi gagal. Kemudian mencoba untuk mengakhiri perang dengan mengintensifkan perang intelijen, tetapi mereka gagal lagi.
Setelah bertahun-tahun upaya intelijen akhirnya bisa menemukan Syeikh Usamah bin Laden. Mereka membunuhnya di Abbottabad. Amerika mengambil keuntungan dari kemenangan media ini untuk memulai penarikan pasukan bertahap dari Afghanistan. Mereka mempromosikan di media mereka bahwa: Al-Qaidah telah berakhir dengan kematian pendirinya Syeikh Usamah bin Laden. Namun, tahun-tahun berlalu setelah kesyahidan Syaikh Usamah, namun bahaya Al-Qaidah tidak berakhir.
Sebaliknya bahaya Al-Qaidah meningkat setelah Arab Spring. Al-Qaidah mampu menyatu dengan revolusi masyarakat, dan mulai mengarahkan mereka ke tujuan yang digariskan oleh pimpinan organisasi. Al-Qaedah mampu memanfaatkan kekacauan dalam waktu yang sangat singkat, untuk mencapai medan perang dan kemenangan moral di Libya, Yaman, Tunisia dan Suriah. Amerika menjadi bingung, mereka merasa bahwa pertempuran dengan organisasi ini tidak akan berakhir dengan mudah. Amerika harus datang dengan strategi baru untuk mengakhiri dilema besar ini selamanya.
Dilema Amerika menghadapi Al-Qaedah terletak pada kenyataan bahwa Al-Qaedah berperang dengan Barat melalui prinsip strategis “menyerang kepala ular”. Kepala ular itu adalah Amerika.
Amerika menurut Al-Qaedah bertanggung jawab mendirikan tahta tiran di negeri Muslim, dan menjadi salah satu pihak yang melindungi Israel, dan juga salah satu pihak yang mendorong plot pembentukan negara Islam. Jadi tidak mungkin membebaskan dunia Islam dari dominasi tentara salib sebelum menggulingkan tiran-tiran Amerika ini. Al Qaedah menganggap bahwa memerangi pemerintah tiran hanyalah buang-buang waktu dan buang-buang usaha.
Al-Qaedah menunda pertempuran dengan musuh lokal (pemerintah, Rawafid, sekuler) sebelum Amerika jatuh atau melemah. Al-Qaedah percaya bahwa musuh lokal hanyalah: Wayang di tangan Amerika. Amerika menggerakkan mereka sebagaimana yang mereka inginkan. Sehingga Al Qaedah beranggapan menggulingkan Amerika adalah hal yang paling penting. Oleh karena itu Amerika sangat ingin menghancurkan infrastruktur Al-Qaedah.
Barat telah mengalami tahap sejarah terburuk, sejak Perang Dunia Kedua. Karena organisasi Al-Qaedah memindahkan pertempuran dari tanah kaum muslimin ke dalam negara-negara Barat. Al-Qaedah telah demikian mampu mentransfer perusakan dan pembunuhan.
Dari jalan-jalan di Afghanistan dan Irak ke jalan-jalan Washington, London, Madrid dan Paris! Mereka mampu mentransfer teror di hati para wanita dan anak-anak Muslim ke hati wanita dan anak-anak Tentara Salib. Saat anak-anak muslim melihat pemboman hampir setiap saat, sedangkan anak-anak barat tinggal di tempat yang aman, keduanya kini mulai hidup dalam teror, pembunuhan dan pengungsian. Ini adalah strategi yang terus menerus membuat Amerika dan Eropa waspada! Sampai mereka mati-matian berusaha untuk mengubahnya dan mencoba untuk menghapus mentalitas ini dari gerakan Jihad.
Amerika Serikat, bersama dengan negara-negara Barat, mengetahui dengan pasti bahwa melanjutkan pertempuran langsung dengan Mujahidin akan menguras mereka secara ekonomi dan akan mempercepat keruntuhan mereka. Dan mereka tahu bahwa meninggalkan wilayah dan menarik mundur pasukan mereka tanpa mengalahkan organisasi Al-Qaedah, dan tanpa melenyapkan strategi Al Qaedah, juga akan meningkatkan bahaya. Dan akan membahayakan dominasi mereka di dunia Islam. Oleh karena itu mereka melihat kebutuhan yang mendesak untuk memulai strategi baru agar bisa keluar dari wilayah tersebut dengan aman.
Strategi baru AS harus mencapai tujuan yang spesifik, yaitu: menimbulkan kekacauan di negara-negara Muslim, dan memicu perang sektarian antara Sunni dan Syiah. Dan jika tidak berhasil melakukannya di negara sektarian Syiah, mereka akan memicu perang antara: gerakan-gerakan dan partai-partai Islam (1.), atau menghidupkan kembali tribalisme dan kedaerahan. Sehingga Mujahidin akan disibukkan dengan perang ini, dan mengesampingkan pemikiran menyerbu Amerika dan Barat.
Strategi ini telah berhasil di Yaman, setelah Amerika menyerahkan Yaman ke Houthi, yang membuat organisasi Al-Qaedah sibuk dengan perang melawan mereka, terlepas dari tujuan-tujuan lain yang telah mereka adopsi. Dan organisasi Al-Qaedah bertindak tepat dengan mengabaikan sektarianisme Zaidism dari pertempuran, dan fokus bertempur melawan milisi Houthi saja. Meskipun Amerika tidak akan berhenti sampai berhasil memicu perang sektarian yang akan menghabisi segala sesuatu dan semua orang, dengan mengarahkan mereka yang menargetkan rakyat Zaidi di pasar dan tempat-tempat ibadah mereka. (2.)
Tapi muncul pertanyaan: Apa hubungan antara perang Amerika dengan Al-Qaedah dan pembentukan strategi baru untuk menghadapi kasus terorisme?
Hubungannya adalah bahwa Amerika ingin menarik diri dari wilayah militer, tapi Amerika tahu bahwa keputusan untuk mundur akan menjadi bencana bagi mereka, dan bagi Israel dan Barat. Itulah mengapa perlu bagi AS untuk mengatur ulang situasi di wilayah tersebut, untuk memastikan diri dari bahaya dari Al-Qaedah sebelum penarikan pasukan militernya. Untuk mencapai tujuan ini maka perlu bagi AS untuk mencapai dua hal penting. Pertama, melibatkan Mujahidin dalam perang tak berujung dengan Syiah sehingga menyedot kekuatan dan energi mereka, dan mencegah mereka berpikir untuk menyerang Amerika atau Israel.
Kedua, meyakinkan Mujahidin Al-Qaedah dan gerakan Jihad untuk tidak kembali ke strategi lama, yaitu menyerang kepala ular. Dan untuk meyakinkan bahwa mereka membutuhkan strategi baru, yang mendukung tahap pasca-penarikan pasukan AS dari wilayah tersebut.
Agar Amerika berhasil mencapai titik pertama, yaitu memicu perang sengit dengan Syiah, maka dibutuhkan dua langkah berbahaya:
- Mengaktifkan dan mendukung Rawafid untuk mendapatkan kontrol kekuasaan di negara-negara Sunni, di mana Syiah sekte hadir, seperti Yaman dan Arab Saudi. Untuk meniru pengalaman sukses Amerika yang berhasil memicu perang sektarian di Irak setelah memberikan Rawafid kekuatan di dalamnya. (3.)
- Memerintahkan tentara bayaran Blackwater mereka melakukan pemboman ke tempat ibadah dan pasar Syiah serta tempat Syiah berkumpul, dan kemudian menuduh Mujahidin. Operasi seperti itu sudah dilakukan sebelumnya di Irak dan Pakistan.
Mereka akan berhenti menggunakan Blackwater ketika Mujahidin tertipu oleh strategi baru, sehingga tugas ini bukan diselesaikan oleh Blackwater melainkan oleh pemuda Muslim yang naif. Dan kami mencatat bahwa Amerika sudah mulai menerapkan strategi ini di Yaman, yang memberi kekuatan untuk Houthi dan berhasil melibatkan Al-Qaedah dalam perang dengan Houthi dan meyibukkan dan mengalihkan Mujahiddin dari pemikiran menyerang Amerika. Dan terlihat tanda-tanda bahwa plot untuk memicu perang sektarian di Yaman ini telah berhasil, setelah pemboman di masjid dan tempat ibadah Houthi, yang bertujuan memobilisasi sekte Zaidi di balik proyek Houthi.
Adapun langkah kedua, yaitu Amerika mencoba mengubah keyakinan para anggota Al-Qaidah dan anggota gerakan Jihad; dengan kesia-siaan strategi lama dan meyakinkan mereka akan kebutuhan untuk menggantinya dengan strategi baru; yang melayani tujuan Amerika. Ini adalah inti dimana analisis ini berputar, dan perlu untuk fokus pada semua poin yang disebutkan dalam artikel.
Apakah strategi baru Amerika yang ingin meyakinkan gerakan Jihad itu? Apakah agar dapat mencapai tujuan utamanya; yaitu penarikan pasukan dari wilayah dengan selamat? Sebelum menyebutkan strategi baru, harus jelas dulu bahwa strategi Al-Qaedah tidaklah sia-sia, tapi keluar setelah pengalaman panjang dalam melawan penjajah lokal, dan banyak usaha untuk mendirikan negara Islam. Dan terlihat jelas bagi Syaikh Usamah dan mujahidin, bahwa Amerika berdiri di depan semua proyek Islam, dengan ekonomi, militer dan kekuatan politik yang mereka miliki.
Telah ditunjukkan juga kepada mereka bahwa tidak mungkin mendirikan negara Islam independen yang memerintah dengan hukum Islam, selama Amerika memiliki kekuasaan dan uang. Buktinya adalah Amerika menggagalkan Mujahidin dalam pembentukan Imarah dan pemerintah Islam di Sudan, Aljazair, Somalia, Afghanistan dan Waziristan, Yaman dan Mali. Kemudian seluruh dunia dipimpin oleh Amerika dengan segera merencanakan perang ekonomi dan militer terhadap mereka. Proyek Islam berakhir jatuh dan Mujahidin kembali berperang gerilya lagi.
Karena itu pemimpin Al-Qaedah melihat bahwa proyek Islam tidak bisa dibangun sebelum penggulingan Amerika, dan berakhirnya kontrol Amerika atas dunia. Dan jika tidak, setiap upaya untuk membangun proyek Islam di bawah kehadiran Amerika adalah absurd dan membuang-buang usaha dan energi. Itulah mengapa Al Qaeda mengadopsi strategi yang cocok, yaitu fokus berperang dengan Amerika, dan menghancurkan kepentingan Amerika di seluruh dunia.
Al Qaeda bermaksud menguras ekonomi dan militer Amerika hingga runtuh seperti Uni Soviet di masa lalu, atau setidaknya berkurang dan mendorongnya keluar dari wilayah Mujahiddin. Strategi ini telah berhasil dan Amerika mengalami krisis ekonomi terbesar dalam sejarah. Amerika berada di sudut kehancuran, jika Allah tidak memutuskan sebaliknya, dan seluruh dunia terdampak dalam krisis ekonomi ini.
Setelah Amerika lolos dari kebangkrutan dan mengatasi krisis ekonomi dengan penuh kesulitan, Amerika tidak akan tinggal diam dan menyengat dari lubang yang sama lagi. Amerika tahu bahwa dunia tidak akan menyelamatkannya berulang kali; dunia tidak akan membantu mereka setiap saat. Oleh karena itu dimulailah rencana untuk mengubah strategi berbahaya Al-Qaedah menjadi strategi baru, yang akan mendukung tujuan AS di wilayah tersebut.
Strategi baru tersebut secara sederhana adalah: Memungkinkan pendirian negara Islam yang memerintah dengan hukum syariah dan memperluasnya di bawah telinga dan mata Amerika. (4) Sehingga mujahidin tidak perlu fokus pada upaya menjatuhkan Amerika.
Tujuan Amerika mempromosikan strategi ini:
- Meyakinkan gerakan Jihad bahwa tidak perlu berperang melawan Amerika dan Barat, tetapi fokus saja pada musuh lokal, yaitu: penguasa tiran, Rawafid, dan partai-partai Islam. (5)
- Meyakinkan Jihadis di seluruh dunia akan kebutuhan bermigrasi ke negara Islam untuk berpartisipasi dalam pembentukan pilar dan pembangunan struktur: sehingga Amerika dan Eropa akan aman dari serangan serigala tunggal.
- Penghapusan Al-Qaedah dan semua cabang-cabangnya dengan mempromosikan kegagalan strategi lama, dan ketidakmampuan melawan Amerika dibandingkan dengan strategi Negara Islam yang baru.
- Mengumpulkan Mujahid paling berbahaya dan pemuda Mujahidin terbaik di wilayah kecil dunia, untuk memudahkan Amerika memusnahkan mereka setiap saat.
Untuk melengkapi serangkaian tipuan bagi tunas-tunas gerakan Jihad, dengan menggunakan strategi baru ini, maka kelompok milik gerakan Jihad yang telah berhasil disusupi, diperbolehkan mengadopsi strategi ini dan mengizinkan mereka mencapai kemenangan di Irak dan Suriah, dan mendirikan Negara Islam di atas sumber daya minyak di wilayah tersebut. Sehingga Amerika akan dapat membiayai promosi strategi baru ini.
Strategi ini juga akan memungkinkan Amerika untuk mengontrol sejumlah besar senjata berat dan modern, untuk membangun superioritas militer, yang memungkinkan mereka untuk melawan dan mengalahkan kelompok Jihadis yang mematuhi strategi Al-Qaedah.
Saat mengkonsolidasikan strategi baru ini, sekelompok ekstremis disusupkan dalam organisasi untuk melegitimasi strategi tersebut, seolah-olah menunjukkan kepatuhan mereka terhadap akar syariat Islam. Dan mereka hanya menyoroti sejumlah konsep Syariah, yang mendukung tujuan mereka, dan konsep yang paling mereka soroti diantaranya termasuk:
- Musuh yang dekat layak mendapat prioritas dibanding musuh yang jauh.
- Melawan murtad lebih diprioritaskan disbanding melawan Tentara Salib.
- Memerangi orang-orang kafir seperti Rawafid layak mendapat prioritas dibanding melawan Tentara Salib.
- Perlunya mendirikan negara Islam dan mendirikan pilar sebelum melawan musuh eksternal di luar negeri.
- Mewajibkan untuk membawa orang di bawah bendera Khalifah dan di bawah satu pemimpin, sebelum memulai perang melawan musuh eksternal di luar negeri.
Penipuan besar ini telah beredar di banyak cabang gerakan Jihad. Sehingga banyak pemuda mulai merusak struktur Al-Qaedah dengan tangan dan lidah mereka sendiri, dan mempromosikan strategi Amerika yang terkutuk sedangkan mereka bahkan tidak menyadarinya.
Para pemuda yang malang ini tidak tahu bahwa Amerika ingin menyita pikiran Mujahidin dengan pertempuran internal yang tidak akan membawa mereka mencapai kemenangan atau kehormatan. Kemenangan Hollywood yang dicapai oleh Negara Islam saat ini, hanyalah penipuan Amerika terhadap pemuda antusias yang mudah ditipu. Setelah menyadari tujuan Amerika di wilayah tersebut, mereka akan mengobarkan perang global melawan Mujahidin di Irak dan Suriah, seperti yang mereka lakukan untuk mujahidin di Irak pada tahun 2006.
Dan seperti yang mereka lakukan di Emirat Afghanistan, Abyan (Yaman), Mali dan di Somalia sebelumnya. Dan bagi yang menyangka bahwa realitas Negara Islam saat ini berbeda dari yang lain, maka kita ingatkan dia akan invasi Amerika beberapa hari lalu terhadap jalur ladang minyak (di Raqqah) yang mengakibatkan pembunuhan Pemimpin senior Abu Sayyaf dan sejumlah komandan lapangan Irak, dan menculik istri Abu Sayaff dan memindahkannya ke sebuah penjara Amerika di Irak! Setelah itu pasukan Amerika menarik diri tanpa kerugian! Dalam hal ini terletak bukti bahwa Amerika memanfaatkan mereka untuk melaksanakan tujuan mereka, dan jika salah satu dari mereka beralih dari jalur yang digariskan, dia akan mengalami likuidasi dan penahanan.
Dan saksi untuk semua ini adalah bahwa Amerika mengangkat ISIS dengan keberhasilan strategi baru, yang akan mengarah pada penghapusan Al-Qaedah dan memicu perselisihan sektarian. Setelah Amerika berhasil mencapai tujuannya, mereka akan membakar instrumen ISIS. Sejarah akan menjadi saksi konspirasi paling keji terhadap Islam dalam sejarah modern.
- Pelaksanaan konspirasi ini dimulai di Libya, di mana ISIS mulai melawan batalyon milik partai-partai Islam, lebih keras dari bertempur dengan kekuatan Hafter.
- ISIS mulai membom masjid Zaidi di Yaman, Sanaa, menewaskan ratusan dari mereka.
- ISIS membom kuil Syiah Ali bin Abi Thalib di Al-Qadih, Qatif.
- yang mengikuti Twitter akan menemukan tentara elektronik ISIS berfokus pada pernyataan berikut: "bertahan dan meluas" dan "Strategi Al-Qaedah terbukti tidak berhasil" dan "Al-Qaedah tidak mencapai apa-apa dalam 15 tahun" dan " Strategi ISIS telah terbukti valid dan berguna". Yang menunjukkan bahwa ini adalah pesan dari layanan intelijen rahasia untuk mengkonsolidasikan strategi ini.
- Orang yang mengikuti tentara elektronik pendukung ISIS memahami bahwa mereka menghasut dan sangat menentang; para Surooris, Ikhwanul Muslimin, Al-Qaedah dan Taliban. Dan melemparkan masalah ini dengan "memaafkannya karena ketidaktahuan", dan membuatnya menjadi inti dari semua penanganan saat berhadapan dengan partai-partai Islam, untuk berkubu pada prinsip kemurtadan dan penghujatan, membuatnya mudah untuk melawan partai-partai dan menyibukkan diri dengan hal itu.
Editor : Deddy | Jurniscom
Sumber :
http://justpaste.it/lb5x