SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan rezim Suriah telah merebut kembali sebuah pangkalan udara militer utara yang telah diduduki oleh Islamic State (IS) sejak 2013, media pemerintah Suriah dan kelompok monitoring melaporkan, lansir Aljazeera, Selasa (10/11/2015).
"Tentara dan angkatan bersenjata membunuh sejumlah besar milisi IS dan melakukan kontak dengan pasukan pembela Bandara Kweires di pedesaan timur Aleppo ini," Syrian Arab News Agency (SANA) mengatakan pada hari Selasa.
SANA juga melaporkan bahwa pasukan pemerintah merebut kembali beberapa desa di pinggiran timur Aleppo.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris juga mengatakan bahwa pasukan rezim pemerintah yang didukung oleh pasukan bersenjata yang setia kepada Assad, Syiah Hizbullah dan serangan udara Rusia telah memecahkan pertahanan IS.

Pemerintah rezim telah meluncurkan serangan besar untuk mencapai pangkalan udara pada 16 Oktober.
IS menduduki wilayah-wilayah baru di Aleppo bulan lalu, mengintensifkan operasi di daerah.
Reporter Al Jazeera Zeina Khodr, melaporkan dari Beirut, bahwa IS dilaporkan mengirimkan bala bantuan dari Raqqa ke Aleppo.
Sebelumnya pada hari Selasa, SANA mengatakan bahwa setidaknya 24 warga sipil tewas dan 57 lainnya terluka oleh dua roket granat yang mendarat di daerah pemukiman kota pesisir Latakia, mengutip polisi setempat.
Observatorium menyebutkan 23 korban tewas adalah warga sipil, dan menambahkan bahwa setidaknya 40 lainnya terluka dalam serangan itu. Roket mendarat di dekat Teshreen University.
Latakia adalah tempat kelahiran Presiden rezim Suriah Bashar al-Assad dan telah ditargetkan oleh serangan roket beberapa kali.
Setidaknya 15 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka ketika pesawat tempur Assad menargetkan daerah pemukiman di Douma, di luar ibukota Damaskus.
Observatorium ini melaporkan bahwa helikopter pemerintah juga menjatuhkan 24 bom barel di Daraya, yang juga merupakan pinggiran kota di Damaskus.
Douma dan Ghouta Timur telah ditargetkan dan dikepung oleh rezim Assad selama sekitar tiga tahun.
Deddy | Al Jazeera | Jurniscom