Inggris Kecam Perang Asimetris Rusia di Suriah

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Rusia terlibat dalam "perang asimetris klasik" di Suriah dengan menggunakan kekuatan militernya untuk menopang Presiden Bashar al-Assad dengan beralasan bahwa mereka menyerang militan Islamic State (IS), menteri luar negeri Inggris mengatakan pada hari Ahad, 4 Oktober 2015.

Rusia pekan lalu mulai menyerang target-target di Suriah – pertanda meningkatnya keterlibatan asing secara dramatis dalam perang Suriah yang dikritik oleh Internasional sebagai upaya untuk menopang Assad, bukan menyerang IS.

"Itu tampak seperti perang asimetris klasik Rusia – Anda mengeluarkan pesan propaganda kuat yang mengatakan Anda melakukan satu hal padahal Anda melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda, dan ketika ditantang Anda hanya menyangkalnya secara datar," kata Philip Hammond kepada Reuters di sebuah wawancara di Manchester.

Ia mengatakan bahwa Inggris telah melakukan diskusi dengan Rusia tetapi terus mendapatkan respon yang sama – bahwa Moskow beralasan menyerang militan IS di Suriah.

"Anda mencoba berbicara dengan Rusia," katanya. "Mereka hanya terus mengulangi posisi mereka – yaitu sama juga dengan menjelaskan posisi Iran."

Dia mengatakan bahwa Inggris membutuhkan "kejelasan mutlak" bahwa Assad tidak akan lagi  menjadi bagian dari masa depan Suriah.

"Saya bukan terobsesi dengan masalah itu; namun tanpa komitmen kita tidak akan pernah mendapatkan spektrum yang luas dari kelompok pejuang Suriah untuk duduk dan setuju dalam diskusi tentang masa depan Suriah," katanya.

Hammond menolak proposal yang diajukan oleh Rusia dan Iran untuk pemilu, mengatakan Suriah terletak "satu juta mil jauhnya" untuk mampu mengadakan pemungutan suara yang bebas dan adil.

"Di negara yang 250.000 warganya tewas dan 12 juta warga lainnya mengungsi, setengah dari mereka mengungsi ke luar negeri… Bagaimana Anda dapat berbicara tentang pemilihan umum yang bebas dan adil dengan kondisi seperti itu?" katanya.

Hammond mengatakan kunci untuk mengakhiri penderitaan yang disebabkan oleh perang empat tahun tersebut adalah dengan transisi perdamaian,  akan berhasil jika  Assad hanya mempertahankan kekuasaan untuk  sementara saja.

"Jika harga untuk melakukan hal itu adalah bahwa kita harus tetap menerima Assad sebagai kepala tituler negara untuk sementara waktu, apakah saya benar-benar peduli jika itu tiga hari, tiga minggu, tiga bulan atau bahkan lebih lama? Saya tidak berpikir saya peduli," katanya.

Tapi Hammond mengatakan bahwa untuk transisi seperti ini, Assad harus berjanji untuk tidak mencalonkan diri di setiap pemilu mendatang dan tidak mengendalikan militer lagi di Suriah. 

Dia menambahkan bahwa Inggris tidak ada kesepakatan dengan Moskow dan Teheran mengenai transisi tersebut.
 

Deddy | Reuters | Jurniscom

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses