Arab Saudi Tolak Seruan Iran untuk Akhiri Serangan Yaman

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Menteri Luar Negeri Saudi mengatakan serangan udara terhadap posisi pemberontak Houthi di Yaman dimaksudkan untuk membela pemerintah yang "sah."

Arab Saudi menolak seruan Iran untuk menghentikan serangan udara pada Negara tetangga Yaman, dengan mengatakan Teheran seharusnya tidak ikut campur dalam konflik, sekarang di minggu kedua.

Berbicara pada konferensi pers di ibukota Saudi, Riyadh, Menteri Luar Negeri Saud al-Faisal mengatakan pada hari Ahad (12/04/2015) bahwa pemboman udara terhadap posisi Houthi berusaha untuk membantu pemerintah"sah."

"Bagaimana bisa Iran mengatakan pada kita untuk menghentikan pertempuran di Yaman … Kami datang ke Yaman untuk membantu otoritas yang sah, dan Iran tidak bertanggung jawab atas Yaman," kata al-Faisal dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Prancis Laurent Fabius .

Arab Saudi dan sekutu Arabnya memulai serangan udara terhadap pemberontak Houthi sekutu-Iran di Yaman pada 26 Maret untuk mencegah mereka memperluas kendali di seluruh negeri.

Pemberontak Houthi menguasai ibukota Yaman, Sanaa, pada bulan September dan pada bulan Februari menempatkan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi dalam tahanan rumah, menuntut dia untuk melakukan reformasi politik.

Sembilan negara Arab, lima di antaranya anggota enam negara Dewan Kerjasama Teluk Council (GCC), menjadi bagian dari koalisi yang dipimpin Saudi.

Sunni Arab Saudi mengkhawatirkan para pemberontak akan mengambil alih seluruh negeri dan memasukkannya ke dalam orbit Syiah Iran.

Fabius telah menyatakan dukungan untuk serangan udara yang dipimpin Saudi melawan pemberontak Houthi.

“Mengenai Yaman, kami di sini untuk menunjukkan dukungan kami, terutama politik, kepada pemerintah Saudi," katanya kepada wartawan saat ia memulai serangkaian pertemuan dengan pimpinan Saudi, termasuk Raja Salman.

Kerajaan adalah sekutu penting Perancis dan Fabius menegaskan kembali kepada tuan rumah Saudi bahwa "Perancis secara alami berada di sisi mitra regionalnya untuk pemulihan stabilitas di Yaman," rombongannya mengatakan.

Pemberontak Houthi, yang bersekutu dengan unit tentara yang setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh, telah bertempur melawan pasukan yang setia kepada Presiden Hadi, yang melarikan diri ke ibukota Saudi, Riyadh, akhir bulan lalu.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses