KASHMIR (Jurnalislam.com) – Empat tentara Pakistan tewas dalam serangan mortir pasukan India di sepanjang Jalur Kontrol (the Line of Control-LoC) di wilayah Kashmir yang direbutkan saat ketegangan antara dua negara tetangga bersenjata nuklir tersebut terus meningkat.
Pasukan Pakistan sedang melakukan perawatan pada jalur komunikasi di desa perbatasan Kotli saat mereka diserang pada hari Senin (15/1/2018), kata militer, lansir Aljazeera.
Setelah putaran mortir meledak, pasukan Pakistan membalas dan membunuh tiga tentara India serta melukai beberapa lainnya, katanya.
Seorang Mayor dan 3 Pasukan India Tewas dalam Baku Tembak dengan Tentara Pakistan
Namun, seorang pejabat militer India menyalahkan tentara Pakistan karena sejak awal menyerang posisi India dan mengklaim serangan balasan mereka menewaskan tujuh tentara Pakistan.
Petugas tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim karena mematuhi peraturan militer, mengatakan tentara India tidak menderita korban jiwa.
Di daerah lain di sepanjang perbatasan de facto, India mengatakan pasukannya membunuh lima pejuang dari kelompok pro-Pakistan yang mencoba masuk ke Kashmir yang dikelola India pada hari Senin.
“Kami mengizinkan mereka menyeberangi sungai dan menantang mereka. Kelima orang yang menyeberangi sungai tersebut terbunuh,” kata Mayjen Gulab Singh Rawat.
Kepala militer India, Jenderal Bipin Rawat, menuduh militer Pakistan membantu pejuang memasuki Kashmir yang dikuasai India.
“Tentara Pakistan terus berupaya membantu milisi menyelinap ke India,” kata Rawat. “Jika terpaksa maka kita dapat menggunakan tindakan lain dengan meningkatkan serangan militer.”
Pada hari Jumat, Rawat mengatakan pasukannya bersedia melakukan operasi di dalam wilayah Pakistan meski ada risikonya.
“Jika kita harus benar-benar menghadapi orang-orang Pakistan, dan sebuah tugas diberikan kepada kita, kita tidak akan mengatakan bahwa kita tidak dapat melewati perbatasan karena mereka memiliki senjata nuklir. Kita harus menghadapi gertakan nuklir mereka,” kata Rawat saat pengarahan pers.
Komentar tersebut mendapat cemoohan dari menteri luar negeri Pakistan yang menyebut pernyataan tersebut “tidak bertanggung jawab” dan sebuah “undangan untuk pertempuran nuklir.”
“Jika itu yang mereka inginkan, mereka dipersilakan untuk menguji tekad kami. Keragu-raguan akan segera dihapus,” kata Kwawja Asif di Twitter.