Setelah Konflik Al Aqsha, Ini Seruan OKI untuk Kaum Muslim di Dunia

2 Agustus 2017
Setelah Konflik Al Aqsha, Ini Seruan OKI untuk Kaum Muslim di Dunia

ANKARA (Jurnalislam.com) – Setelah menghadapi kontroversi Al-Aqsha, menteri luar negeri Turki pada hari Selasa (1/8/2017) meminta dunia Muslim untuk menunjukkan dukungannya kepada orang-orang Palestina dengan mengakui kedaulatan Palestina.

“Mari dukung jutaan warga Palestina yang dipaksa tinggal di bawah pendudukan Israel atau melarikan diri ke luar negeri dengan tindakan kita, bukan dengan kata-kata belaka,” Mevlut Cavusoglu mengatakan dalam sebuah pertemuan para menteri luar negeri Organisasi Kerjasama Islam-OKI (the Organization of Islamic Cooperation-OIC) di Istanbul, lansir Anadolu Agency.

“Kami mengundang semua orang yang meninggikan suara mereka untuk menghentikan ketidakadilan ini dan mengakui negara Palestina,” katanya.

Turki saat ini memegang jabatan presiden OKI.

“Sebuah negara Palestina merdeka sesuai perbatasan tahun 1967 harus dibentuk sesegera mungkin,” kata Cavusoglu.

Dia juga mengulangi dukungan Ankara untuk menghidupkan kembali proses perdamaian di bawah kerangka solusi dua negara – sebuah solusi perdamaian yang menyerukan sebuah Palestina yang independen bersama Israel.

“Kami semua mendukung upaya menghidupkan kembali proses perdamaian. Tapi tidak akan ada kedamaian abadi tanpa hukum dan keadilan,” tambahnya.

Diplomat terkemuka Turki itu meminta umat Islam untuk bersatu melindungi masjid suci umat Islam dan rakyat Palestina.

“Kita yang hanya diam dan tercerai berai mengasyikkan musuh-musuh Islam,” kata Cavusoglu.

“Kita harus bertindak lebih sadar untuk melindungi Masjid Al-Aqsha dan Palestina … Kita harus melanjutkan perjuangan kita secara lebih efektif di platform internasional,” tambahnya.

Cavusoglu menyambut langkah-langkah Israel untuk mengangkat detektor logam yang dipasang di sekitar kompleks masjid.

“Israel mengambil langkah ke arah yang benar, harapan kami adalah bahwa Israel akan memasuki sebuah sikap yang sepenuhnya akan mempertimbangkan kepekaan Muslim kepada Al-Aqsha mulai sekarang,” tambahnya.

Sekretaris Jenderal OKI Yousef Al-Othaimeen mengatakan bahwa pelanggaran Israel yang terus berlanjut di Yerusalem timur menempatkan tanggung jawab di pundak negara-negara anggota OKI.

Othaimeen menambahkan bahwa rakyat Palestina harus diberi perlindungan internasional yang mereka perlukan.

“Pertemuan ini sangat penting untuk koordinasi antara negara-negara anggota OKI, dalam perjuangannya melawan rencana Israel untuk merebut Al-Aqsha,” katanya.

Sebelumnya pada hari Selasa, Cavusoglu bertemu dengan Othaimeen dan Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman untuk membahas perkembangan terakhir di kompleks Al-Aqsha di Yerusalem.

Pertemuan tersebut menyusul pekan-pekan kontroversi mengenai tindakan Israel di Masjid Al-Aqsha di Yerusalem setelah baku tembak mematikan.

Militer zionis mengatakan bahwa tindakan tersebut diperlukan untuk keamanan, sementara orang-orang Palestina menyebut tindakan Israel tersebut sebagai upaya untuk menempatkan Masjid suci tersebut di bawah kendali Israel.

Mengkritik tindakan tersebut, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pekan lalu meminta umat Islam untuk protes demi melindungi Al-Aqsha.

Setelah menghadapi kutukan internasional, Israel melepas detektor pada hari Jumat.

Warga Palestina pada hari Sabtu turun ke jalan dan bergegas ke Al-Aqsha untuk merayakan pemindahan detektor. Sejumlah umat Islam dari seluruh dunia bergabung dalam perayaan di sekitar masjid dan saling menyapa.

Yerusalem dianggap suci bagi umat Islam, Yahudi dan Kristen dan Masjid Al-Aqsha merupakan situs tersuci ketiga di dunia Islam.

Kemudian, berbicara di sebuah konferensi pers bersama dengan Al-Othaimeen dan Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki setelah pertemuan luar biasa para menteri luar negeri untuk meninjau kembali situasi di Masjid Al-Aqsha, Cavusoglu mengatakan bahwa segala upaya untuk menyakiti “hak kedaulatan negara Palestina atas ibukotanya Yerusalem Timur” telah ditolak.

Dia mengatakan bahwa Al-Aqsha adalah salah satu dari tiga tempat paling suci Islam, yang secara jelas dinyatakan dalam komunike akhir OKI.

Dia mengulangi dukungan Turki untuk upaya internasional demi menghidupkan kembali proses perdamaian.

Dia menggarisbawahi ” kewajiban dunia Islam untuk berdiri di samping orang-orang Yerusalem.”

“Saya berharap bahwa krisis tersebut akan mengajarkan kepada Israel politik untuk mendengarkan suara intelektualnya yang penuh perasaan,” katanya.

Sedangkan Al-Othaimeen mengatakan bahwa dunia Muslim menyuarakan tuntutannya dalam kesatuan, yang ia sebut sebagai “kemenangan melawan Zionisme”.

“Negara-negara mayoritas Islam telah mengambil sikap yang sama untuk pertama kalinya dalam menghadapi praktik sewenang-wenang yang diberlakukan Israel pada Al-Aqsha. Situasi di Al-Aqsa menyangkut kedaulatannya, yang merupakan tanggung jawab umat Islam, bukan Israel,” katanya.

Al-Maliki mengucapkan terima kasih kepada semua negara, terutama Turki karena mendukung Palestina dan mengatakan tanpa upaya tersebut, hasil cepat tersebut tidak akan mungkin terjadi.

“Kami telah memenangkan perjuangan ini, tapi perjuangan terus berlanjut, jadi kami selalu membutuhkan dukungan,” tambahnya.