Saudi Larang Penayangan Saluran Aljazeera di Setiap Hotel dan Tempat Wisata

Saudi Larang Penayangan Saluran Aljazeera di Setiap Hotel dan Tempat Wisata

RIYADH (Jurnalislam.com)Arab Saudi melarang penayangan saluran berita Al Jazeera bagi hotel dan fasilitas turis lainnya dan mengancam akan menghukum pelanggar dengan penutupan fasilitas dan denda hingga $ 26.000.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Jumat (9/6/2017), Komisi Saudi untuk Pariwisata dan Budaya Nasional (the Saudi Commission for Tourism and National Heritage) memerintahkan agar “semua saluran dari Al Jazeera Media Network harus dihapus” dan diganti dengan saluran yang kompatibel dengan “televisi resmi Saudi”.

“Komisi dengan ini mengulangi bahwa semua saluran Al Jazeera Network harus dihapus dari semua kamar hotel dan fasilitas wisata serta unit hunian lengkap, semuanya dan seluruhnya, termasuk dari daftar saluran TV,” kata surat kabar tersebut.

“Setiap fasilitas yang melakukan pelanggaran terhadap Surat Edaran tersebut di atas akan dikenakan sanksi hukum dan dikenakan denda sebesar SR100.000 atau pembatalan lisensi, atau keduanya.”

Sejak perselisihan diplomatik meningkat antara negara-negara Teluk dan Qatar pada hari Senin, Arab Saudi, UEA dan Bahrain mengancam akan menjatuhkan hukuman penjara yang lama dan denda bagi warga negaranya yang bersimpati dengan Qatar di media sosial.

UEA mengatakan pelanggar akan menghadapi hukuman penjara tiga hingga 15 tahun, dan denda tidak kurang dari AED 500.000 ($ 136.000).

Slogan yang mendukung Qatar telah menjadi topik utama yang dibahas di Twitter dalam bahasa Arab, yang merupakan media ekspresi yang sangat populer di dunia Arab.

Seiring dengan pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar, sebuah blokade yang dipimpin Riyadh juga diberlakukan terhadap Doha. Saudi, yang berbagi satu-satunya perbatasan darat dengan Qatar, menutup persimpangan dan menghentikan pengiriman barang ke tetangganya tersebut.

Saudi, UEA dan Bahrain juga menutup wilayah udara mereka untuk penerbangan dari dan ke Qatar, memaksa maskapai penerbangan untuk menghapus Doha dari daftar tujuan mereka.

Langkah tersebut berhasil mengalihkan ribuan penumpang dan mengakibatkan hilangnya pendapatan bagi maskapai yang terjebak dalam keretakan.

Asosiasi Aangkutan Udara Internasional memohon agar hubungan udara dipulihkan, namun permintaan mereka sejauh ini hanya disambut dengan diam.

Perselisihan antara Qatar dan negara-negara Arab meningkat setelah sebuah berita baru-baru ini dari kantor berita Qatar yang dikelola negara.

Bagikan