Rezim Kamboja secara sistematis menargetkan Wanita Muslim Cham

Sebuah penelitian yang berfokus pada kekerasan seksual yang dilakukan oleh Khmer Merah di Kamboja pada 1970-an telah menemukan bahwa perempuan dari kelompok minoritas Muslim Cham di negara itu sengaja ditargetkan.

Penguasa dari kelompok ultra – Maois, yang merebut kekuasaan pada tahun 1975 dan mengendalikan negara selama empat tahun, menyebabkan sekitar 1,7 juta orang tewas akibat eksekusi, kelaparan dan kerja paksa. Di bawah rezim Khmer Merah, semua agama dilarang, dan tempat-tempat ibadah serta dokumen keagamaan dihancurkan.

Awalnya terdapat sekitar 200.000 Muslim Cham berabad-abad yang lalu sebelum Khmer Merah mengambil alih kekuasaan. Mereka diyakini datang ke Kamboja dari kerajaan kuno Champa –  yang sekarang adalah Vietnam. Setidaknya sepertiga dari mereka tewas selama rezim berkuasa, menurut Minority Rights Group International.

Populasi Muslim Cham yang tinggal di Kamboja saat ini adalah sekitar 400.000.

Sebuah pengadilan kejahatan perang PBB yang didukung AS di Phnom Penh saat ini sedang berusaha mengadili para pemimpin rezim yang masih hidup atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Namun, untuk tuduhan genosida yang terkait secara khusus kepada etnis minoritas Vietnam dan Cham Muslim, banyak diantara mereka telah hadir di pengadilan sebagai pihak sipil, atau saksi.

Penelitian terbaru, yang dilakukan oleh kelompok bantuan hukum lokal, Proyek Pembela Warga Kamboja (The Cambodian Defenders Project / CDP) berdasarkan wawancara dengan 105 korban dan saksi, menemukan bahwa agama sangat dicerca oleh Khmer Merah. Dan komunitas Muslim menjadi sasaran karena bahasa, kebiasaan makanan, pakaian dan doa mereka sangat berbeda.

 "Dalam lingkungan xenophobia ini, kekerasan seksual tampaknya merupakan salah satu metode yang dilakukan rezim Khmer Merah untuk menganiaya kaum minoritas," lanjut penelitian tersebut.

"Para responden melaporkan bahwa pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap perempuan Cham sudah biasa dilakukan di tempat kerja," penelitian tersebut mengatakan, mengacu pada banyaknya jumlah pekerja pada masa Khmer Merah namun gagal dalam upaya untuk menciptakan sebuah utopia agraria.

"Lebih jauh lagi, para korban Cham dibungkam oleh pelaku dengan ancaman atau diperkosa sebelum dieksekusi."

Sebuah buku terbaru oleh seorang akademisi Muslim Cham, Farina So berjudul "The Hijab of Cambodia: Memories of Cham Muslim Women After the Khmer Rouge," juga merinci kasus perempuan Cham yang dipaksa untuk menikah dengan lelaki Khmer dengan tujuan memecah-belah kelompok etnis tertentu.

Diwawancarai untuk penelitian tentang pernikahan paksa, salah seorang responden Muslim yang tidak disebutkan namanya mengatakan: "Saya dipaksa untuk membuat komitmen [untuk menikah], saya masih sangat kecil, saya berumur sekitar 10 tahun. Bagaimana saya bisa protes?"

Responden lain menambahkan bahwa setelah menikah: "Kami dimata-matai [untuk melihat] apakah kami telah melakukan hubungan seksual."

Seorang Muslim Khmer menceritakan kejadian pemerkosaan brutal seorang wanita Cham, bahwa jika seorang kader Khmer Merah "Menginginkan seorang wanita ketika ia melihat bahwa wanita tersebut sangat cantik, maka suaminya diculik kemudian dibunuh. Lalu empat orang pria berhubungan seks dengan wanita tersebut  dan dia [kemudian] dibunuh."

Dalam kisah lain lagi, seorang responden merinci bagaimana beberapa perempuan Muslim Khmer dipaksa menjadi budak seks, dipaksa untuk memberikan seks tiap malam untuk kelompok milisi muda.

"Sekitar sepuluh perempuan [Khmer dan Khmer Islam] yang cantik disimpan untuk diperkosa …. Setelah tiga sampai tujuh hari perkosaan, mereka dibunuh," katanya.

Hanya sedikit orang yang pernah mengalami kekerasan seksual di bawah rezim berbicara tentang hal itu karena takut akan adanya pembalasan dan bahkan mereka yang menyaksikan insiden tersebut berhati-hati dan tetap diam, menurut penelitian ini.

"Dia diperkosa oleh tiga orang, seorang Khmer bertanya apakah aku mengetahui wanita Cham yang tewas tersebut dan menanyakan apakah salah satunya adalah keluarga saya. Saya menjawab bahwa saya tidak kenal dia. Saat itu, jika kita mengatakan kita mengenal [korban], mereka akan membunuh kami sekaligus."

Ketika peneliti menanyakan apakah dia sebenarnya mengenal korban, responden tersebut menjawab: "Ya, dia adalah bibi saya."

Penelitian yang sebagian didanai oleh pemerintah Jerman, memang difokuskan pada kelompok minoritas – yaitu Cham, Etnis Vietnam dan kelompok lain yang dikenal sebagai Khmer Krom – tetapi penelitian tersebut juga menekankan bahwa banyak perempuan Khmer biasa lainnya yang juga mengalami penderitaan seksual yang sama di tangan Khmer Merah.

Namun, salah seorang responden Muslim mengatakan: "Mereka membenci Muslim Khmer. Mereka sepertinya merasa bahwa mereka harus memperkosa Muslim Khmer. Mereka menganiaya Muslim Khmer."

"Upaya untuk memadamkan budaya dan etnis Cham [termasuk melalui eksekusi massal] akan menciptakan lingkungan yang ideal untuk berkembangnya kekerasan seksual," kata penelitian tersebut.

Editor : Amaif  |  Sumber : Muslim World/worldbulletin

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.