Ramadhan, Bulan Memuliakan Ulama

5 Juni 2017
Ramadhan, Bulan Memuliakan Ulama

Oleh: Ahmadi Sofyan, Penulis dan Pengamat sosial

SAAT menulis catatan ini, sebetulnya saya ingin memberikan judul keras “Bunuhkan Saja Ulama-nya!!!” Sebagaimana judul catatan saya beberapa minggu yang lalu di kolom TARING (Catatan Ringan) di harian Babel Pos yang katanya sempat heboh, viral dan trending topic di medsos (media sosial) dengan judul: “Robohkan Saja Masjid-nya!!!”. Ratusan SMS, WA dan telpon masuk ke handphone saya mengomentari tulisan tersebut yang alhamdulillah hampir semuanya menyatakan dukungan walaupun ada beberapa komen yang “mengharukan”.

Tapi sebagai penulis yang berperilaku cuek, dukungan, pujian, cacian dan celaan terhadap apa yang sudah saya tulis bernilai sama, yakni “mane kenek pembace” (terserah pembaca) untuk menilai. Karena menulis bagi saya sama dengan menikmati secangkir kopi. Jangan pernah melarang saya untuk menikmati kopi, kapan pun dan dimana pun, kecuali di bulan Ramadhan seperti ini. Karena hanya Ramadhan (agama) saja yang bisa mengatur waktu saya menikmati kopi yakni saat berbuka, habis tarawih dan sampai menjelang imsyak. Begitupula dalam hal menulis!

Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupun masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Dengan demikian, pengertian ulama secara harfiyah adalah orang-orang yang memiliki ilmu. Pengertian ulama secara harfiyah adalah orang yang dengan ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah. Ulama adalah orang-orang yang menjelaskan segala apa yang dihalalkan dan diharamkan, dan mengajak kepada kebaikan serta menafikan segala bentuk kemudharatan. Karakteristik esensial ulama adalah iman, ilmu, dan amal, yang semuanya amat mendalam, berbeda dengan orang biasa, serta mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari masyarakat secara kultural.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin mengatakan: “Tradisi ulama adalah mengoreksi penguasa untuk menerapkan hukum Allah. Kerusakan masyarakat adalah akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa itu akibat kerusakan ulama.” Al-Ghazali bahkan membagi ulama dalam 2 kategori, yakni ulama akhirat dan ulama dunia (ulama su’).  Salah satu tanda ulama dunia  adalah mendekati penguasa.

Ulama adalah pewaris sifat kenabian. Karena dari ulama-lah kita bisa mengenal ilmu agama setelah Nabi tiada. Berbagai jenis kitab (buku) kita menjadi tahu berbagai tafsiran dan pemikiran-pemikiran mereka. Ulama jua yang mendirikan berbagai pesantren jauh sebelum Indonesia merdeka. Dari dari pesantren juga para ulama menggerakkan semangat perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang akhirnya bersama para pendiri negeri ini, memproklamirkan Kemerdekaan RI tepat pada tanggal 10 Ramadhan atau 17 Agustus tahun 1945.

Ini artinya kemerdekaan RI yang diraih tidak lepas dan memiliki peran penting dari para ulama yang terlahir di bumi pertiwi. Kala kemerdekaan diraih, peran ulama pun tak berhenti disitu, namun mengisi kemerdekaan, merumuskan berbagai kebutuhan sebuah negara, bahkan bersama founding fathers, para ulama seperti Kiyai Haji Agus Salim mengenalkan Indonesia sebagai sebuah negara yang beradab, mayoritas muslim dan penuh nilai-nilai tata kerama kepada dunia.

Namun, sangat kita sayangkan akhir-akhir ini, sepertinya rezim pemerintah saat ini bukan sekedar menjauhkan diri dari ulama, tapi yang lebih parah adalah banyaknya ulama yang terzholimi, bahkan para ulama yang memiliki kecintaan besar pada negeri ini. Ulama yang pancasilais yang tidak rela kekayaan negeri ini dikeruk asing. Ulama yang hidup bersama umat bukan hidup bersama penguasa. Bahkan kadangkala saya berpikir ekstrim dan memiliki keyakinan bahwa andaikata hari ini Indonesia perang dengan negara lain, saya yakin para ulama, kaum santri dan TNI adalah manusia Indonesia terdepan maju ke medan perang sebagaimana tempoe doeloe saat perebutan kemerdekaan ini.

Oleh karenanya, saat ini adalah kesempatan bagi para orangtua, guru-guru, ustadz dan ustadzah, para pemimpinan pesantren untuk menciptakan generasi muda Islam bermentalkan ulama yang istiqomah, tangguh menghadapi berbagai cuaca dan angin yang menerpa. Tak terlena dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup manja dan tak gentar menghadapi angin topan yang menerjang.

Ramadhan 1438 H, momen dimana generasi Islam harus dibekali ketangguhan mental menghadapi berbagai cobaan dan ujian hidup, bukan generasi cengeng, generasi hobi selfie dan generasi yang menganggap hidup di dunia adalah abadi. Generasi muda harus diberikan semangat cinta tanah air yang tidak boleh dibangun dengan kezholiman, berpangkat tinggi namun menzholimi, menyikut kiri kanan, menginjak yang bawah dan menjilat atasan, tanpa pandang halal haram, hanya karena demi mempertahankan dan memperoleh jabatan. Bagi mereka Surga sudah tidak dirindukan dan neraka makin tidak membuat ketakutan.

Ramadhan 1438 H, adalah momen kita memahami dengan nurani bahwa tidak semua pemimpin itu palsu, tapi saya tidak membantah kalau di era modern salah satu kepalsuan merupakan syarat utama dari prinsip kepemimpinan. Ramadhan 1438 H, adalah dimana kita memahami bahwa di negeri yang mayoritas muslim ini, bahwa apa saja yang menonjolkan Islam-nya pasti dicap primordial, tidak universal, bodoh, tidak bhinneka tunggal ika, tidak pancasilais, tidak toleransi, tidak memenuhi estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia modern. Begitulah jahilnya manusia modern.

Ramadhan 1438 H ini, kita menyadari bahwa kalau dulu di zaman Fir’aun, lelaki dibunuh. Pada zaman Fir’aun modern ini kelaki-lakian dan kejantanan (istiqomah dan keberanian) yang dibunuh. Ramadhan 1438 H ini jua, kita kembali mengaji dan mengkaji bahwa ternyata di atas fiqh ada akhlak, diatas akhlak ada taqwa dan diatas taqwa ada cinta. Ya Allah, entah dimana posisi aparat dan penguasa kami saat ini?

Ya, Ramadhan 1438 H ini, kita kembali menyadari bahwa sangatlah tidak pantas kalau kaum santri atau umat Islam mengamuk, meskipun kadang mereka tidak memiliki cara lain selain mengamuk demi menjaga harga diri dan kehormatannya. Akan datang suatu masa, dimana kaum santri hanya memiliki 2 pilihan, yakni menjadi kambing yang tersuruk-suruk ataukah menjadi harimau yang mengamuk.

Ramadhan 1438 H ini adalah momen dimana kita bertadarrus nasional melihat banyak sisi dari negeri ini bahwa kita sedang hidup di sebuah negeri dimana kejahatan dan kebodohan berkerjasama dengan teramat manis dan tersistematis. Di antara kita banyak yang mengaku pemimpin, aslinya adalah penguasa yang semena-mena. Menasehati rakyat agar hidup sederhana, sambil mulutnya mengunyah gunung, hutan, laut dan jalan tol.

Ramadhan 1438 H ini kita mendiagnosa bahwa ternyata negeri ini telah mewarisi kanker zaman, kepala buat berjalan, kaki untuk memimpin sidang. Di moment Ramadhan ini pula sepertinya Tuhan sudah saatnya memusnahkan segenap setan, sebab manusia telah pandai menciptakan setan-setan di dalam diri sendiri tanpa bantuan setan.

Ramadhan 1438 H, marilah kita lantunkan do’a: “Tuhan, tanami ladang Indonesia dengan keinsyafan Adam, ketahanan Nuh, kecerdasan Ibrahim, ketulusan Ismail, kebersahajaan Ayub, kesabaran Yunus, kelapangan Yusuf, kesungguhan Musa, kefasihan Harun, kebeningan Khidir, kesucian Isa, kematangan Muhammad SAW”

Penguasa dan aparat, cukuplah kita menjadi bangsa yang kerdil dan pengecut, janganlah lagi ditambah dengan ketidakjujuran, kemunafikan dan penzholiman terhadap ulama. Saya bukan ulama, tapi insya Allah saya mencintai ulama dan ingin bersama-sama para ulama walau hanya sekedar tukang bawa sandal sang ulama.

Salam Cinta!