SOLO (Jurnalislam.com) – Mantan Bupati kabupaten Wonogiri periode 2000 – 2010, Begug Purnomo Sidi ikut memberikan kisah kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dialaminya kepada masyarakat Soloraya di gelaran nobar dan sarasehan di halaman Masjid Nurul Iman, Kalitan, Solo Ahad (30/9/2018) malam.
Menurut mantan politisi PDIP tersebut, kekejaman PKI bukan hanya di tahun 1965, ia menceritakan peristiwa yang dialami keluarganya di tahun 1948 yang lalu saat keluarganya akan dibunuh dan dibakar rumahnya oleh PKI.
“Kekejaman PKI itu bukan hanya tahun 65, saya dulu itu tahun 48, saya satu keluarga, bapak ibu yang putranya 18, saya anak no 14, waktu itu saya dan keluarga mau dibunuh, Kemudian ternyata dari Madiun sudah dikejar di Siliwangi,” katanya mengawali kisahnya.
“Saya diselamatkan oleh 3 orang yang dulu pernah dibantu bapak H Mansujono, dikeluarkan dari pintu belakang suruh lari, ternyata rumah saya satu-satunya yang dibakar,” imbuh Begug.
Lebih lanjut, kata Begug PKI membakar seluruh rumah, kantor kecamatan hingga sekolahan dan tempat ia dan keluarganya tinggal.
“Jadi di Purwantoro di Kabupaten Wonogiri, dibumianguskan, salah satunya selain kecamatan dan sekolahan itu rumah saya, jadi 48 itu punah, setelah PKI dibubarkan tidak punya rumah, tapi dikejar kejar belanda juga,” ungkapnya.
“Dan tahun 65 itu saya termasuk salah satu komandan pasukan khusus resimen mahasura yang langsung beradapan dengan PKI yang ada di Soloraya,” paparnya.
Begug juga ikut mengapresiasi langkah panitia dalam upaya mengingatkan sejarah kepada masyarakat dengan kegiatan nobar dan sarasehan ini. Menurutnya, peristiwa kekejaman PKI terhadap umat Islam dan para Jendral tersebut dapat menjadikan pelajaran berharga bangsa Indonesia untuk selalu mewaspadai lahirnya kembali paham komunis di Indonesia.
“Alhamdulillah, makanya saya dipanggil oleh pak Purwanto untuk hadir, saya hadir, karena ini adalah lahan saya, tempat saya untuk berbakti,” tandas Begug.