PII: Sertifikasi Penceramah Tak Masuk Akal

PII: Sertifikasi Penceramah Tak Masuk Akal

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Ketua Umum Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII), Nasrullah Larada, rencana kebijakan pemerintah melalui Kemenag mengenai penerapan sertifikasi bagi dai atau penceramah perlu ditinjau ulang. Hal ini karena soal ini perlu dipikir sangat serius karena akan berdampak kepada banyak hal lain.

“Terkait rencana Kemenag akan menerapkan sertifikasi bagi dai atau penceramah, tampak perlu ditinjau ulang bahkan dipikir secara serius. Kita semua tahu bahwa Indonesia merdeka berkat sumbangsih mayoritas para pejuang muslim yang nota bene para syuhada. Tidak masuk diakal jika kemudian para dai, asaatidz, ulama akan menghancurkan kembali apa yg telah perjuangan selama ini,” kata Nasrullah Larada, di Jakarta, Senin (7/9).

Menurutnya, dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia, tidak pernah umat Islam melakukan pemberontakan secara masal  nasional seperti yg pernah dilakukan oleh PKI. Disaat negara dalam keadaan genting, dapat dipastikan umat Islam selalu tampil paling depan menjaga NKRI. Toleransi umat Islam sudah teruji, bahkan sejak pembahasan dasar negara pun, tokoh muslim lebih banyak mengalah demi terjaganya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar Pancasila.

“Maka aneh jika saat ini tiba-tiba setiap gerakan dakwah yang dilakukan oleh umat Islam selalu dicurigai bahkan yang lebih parah di cap radikal. Sebenarnya siapa yang patut di cap radikal? Umat Islam yang menajalankan dakwahnya atau ada pihak lain yang sengaja mengambil isu itu untuk mendiskriditkan umat Islam?. Ini pertanyaan mendasar yang perlu dilakukan kajian serius,” tegasnya.

Oleh karenanya, lanjut Nasrullah, Menteri Agama patut membaca, belajar, bahkan turut bekerja sama dengan umat Islam sebelum terlalu jauh melangkah dengan adanya sertifikasi dai atau penceramah.  Apalagi bila berkaca dari sejarah kemerdekaan Bangsa Indonesia tidak bisa disamakan dengan negara-negara lain yang dalam perjuangan menuju kemerdekaannya sekedar dapat “hadiah” dari negara lain.

Sumber: republika.co.id

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X