Responsive image
Responsive image
Responsive image

“Penderitaan Muslim Uighur Sudah Terjadi Sejak 2009”

“Penderitaan Muslim Uighur Sudah Terjadi Sejak 2009”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Berita tentang penderitaan Muslim Uighur telah terjadi sejak tahun 2009 dan belum diketahui oleh masyarakat di Indonesia secara luas. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh penulis buku Alazhi Perawan Xinjiang, Nuthyla Anwar dalam diskusi Kejahatan Kemanusiaan RRC atas Kaum Uighur pada Kamis (16/1/2020) di Cikini, Jakarta Pusat.

Saat itu, kata dia, dikabarkan bahwa terjadi kerusuhan di Xinjiang, kemudian dia pergi mengunjungi Xinjiang untuk melihatnya secara langsung.

“Kerusuhan sudah tidak ada, tapi bekasnya masih ada seperti rumah yang hancur, orang Uighur seperti ketakutan, saat diajak bicara ketakutan, tapi ada yang bisa diwawancara sambil sembunyi-sembunyi,” katanya saat diwawancara Jurnalislam.com di sela-sela diskusi.

Ia juga menceritakan, sejak tahun 2009 rumah-rumah milik orang Uighur dan masjid sudah dihancurkan. dan sekolah-sekolah Islam diubah menjadi sekolah Cina. Dulu belum ada kamp konsentrasi seperti sekarang yang keberadaannya mulai terungkap.

Penulis buku Alazhi Perawan Xinjiang yang diterbitkan Mizan 2012 ini mengaku, awalnya mau membuat artikel tentang Muslim Uighur. Tapi ketika kembali ke Guangzhou bertemu orang Uighur yang lari dari Xinjiang, bernama Alazhi.

“Ketika saya interview dia, kisah hidup dia, keluarga dipecah-pecah, ibu, ayah dan anak dipisahkan, kisah hidupnya saya tulis jadi novel Alazhi Perawan Xinjiang,” ujarnya.

Menurutnya, keluarga Muslim Uighur sengaja dipisah-pisahkan untuk menghilangkan keislamannya. Nuthyla juga menceritakan, tahun lalu dia berkunjung lagi ke Guangzhou untuk menemui Alazhi, namun Alazhi sudah tidak ada dan dikabarkan sudah menikah dengan pria non Muslim.

Ia menyampaikan, di Guangzhou memang orang-orang Uighur membuka restoran Muslim. Tapi mereka takut kalau diajak bicara tentang Uighur. Mereka seperti diawasi dengan ketat sehingga ketakutan.

Berdasarkan pengalaman Nuthyla di Guangzhou, orang Cina memperlakukan Muslim Uighur seperti warga kelas bawah. Warga Cina juga membenci orang Uighur, mereka menganggap orang Uighur sebagai pemberontak yang ingin memerdekakan diri.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close X